"Ada apa, Yachi-san?" Koushi Sugawara sebetulnya tidak bisa dibilang sebagai seorang lelaki yang peka juga. Hanya saja salah satu dari duo manajer timnya itu memasang tampang kesulitan seakan tengah menahan keluarnya sisa-sisa pencernaan semenjak tim mulai latihan. Ia juga beberapa kali terdengar menghela napas panjang.

Mungkin ada masalah dengan kekasih barunya dan sayangnya Sugawara merasa bertanggung jawab karena ia yang meminta tolong Nagisa agar keduanya jadian—ah ya, anak-anak Karasuno sepakat kalau mereka pura-pura tidak tahu kejadian kemarin malam.

"Tadi aku bertemu dengan ketua klub drama," Hitoka Yachi mulai berkisah, "Ia bilang klub drama hendak membuat film untuk dikirimkan sebagai entry lomba film pendek."

"Lalu?" Sugawara sempat dengar kalau Yachi pernah bergabung dengan klub drama. Mungkin klub drama butuh perannya kembali dan Yachi bingung harus membagi waktunya bagaimana?

"Mereka memintaku untuk mencari seseorang dari klub voli yang tinggi dan kekar berotot, dan bisa berakting," Yachi mengakhiri kisahnya, "Tapi yang kekar dan tinggi berotot hanya Daichi-san dan Azumane-san."

"Dan mereka tidak bisa berakting. Jelas," akhirnya Sugawara tahu masalah pelik apa yang mendera juniornya itu. Sugawara dan Yachi menghela napas berbarengan. Di samping mereka, Nagisa tidak berkomentar apa-apa, ia sibuk membuka-buka buku merah mudanya yang semalam disampul dengan sampul buku normal agar tidak terlihat mencurigakan.

"Mungkin kita bisa pakai Pelatih Ukai?" Yachi menggeleng, menolak saran dari Sugawara.

"Pemerannya harus anak SMA. Sekali lihat pun akan ketahuan kalau Pelatih Ukai bukan anak SMA," Yachi menyandarkan tubuhnya di tembok.

"Yah, memang sih…" tiba-tiba Sugawara teringat akan tamu mereka yang sedang dalam perjalanan untuk latihan bersama. Mungkin tidak ada salahnya latihannya dimulai sore hari. Toh kunjungan mereka juga dimaksudkan sebagai sebuah kejutan, hanya saja salah satunya memberitahu Sugawara sewaktu mereka bertemu untuk membantu Sugawara memutuskan apakah ia akan menelepon mak comblangnya atau tidak, "Aku ada ide!" Sugawara mengeluarkan ponselnya.

Yachi menatap seniornya, penasaran. Sementara Nagisa sepertinya sudah selesai dengan buku kesayangannya, "Biar aku tanyakan mereka sudah sampai mana," Sugawara mencari kontak rekannya yang satu itu.

.

.

Love Note's Next Page: Karasuno High Schoolbelong to Arleinne Karale

Assassination Classroom belong to Yuusei Matsui

Haikyuu! belong to Haruchi Furudate

The Author does not take any financial benefits from this story. This story only exists purely for entertainment

An Entry for January's Sari Roti Event

A Semi-Canon, possibly out of character, lot of typos, full of dramatic and unrealistic love scene story with straight pair

Read at your own risk

.

.

"Hei, Keponakannya Suga!" kapten tim Karasuno, Daichi Sawamura, mengalihkan fokus Nagisa yang sedang memberikan laporan singkat ke Bitch-sensei dan Koro-sensei via grup chat, "Kalau Suga kembali tolong bilang aku pergi sebentar dengan Michimiya," pria berambut cepak itu menunjuk ke arah pintu tempat sesosok gadis mengintip dari luar pintu. Rambut cokelatnya pendek dan manik cokelatnya berbinar penuh semangat. Pipinya yang terbilang bulat berhiaskan rona merah muda.

"Baik, Sawamura-senpai," Nagisa tersenyum sopan. Nagisa mulai mengambil kesimpulan kalau anak-anak Karasuno tidak terlalu hebat dalam menghapal nama karena semua orang memanggilnya dengan 'Keponakannya Suga-san' biarpun malam sebelumnya mereka sudah tahu identitas asli Nagisa—atau mungkin mereka hanya senang memanggilnya dengan 'Keponakan Suga-san'.

Omong-omong misi satunya lagi dari Sugawara-senpai adalah menyatukan Sawamura-senpai dan Michimiya-senpai yang sekarang keduanya hendak pergi entah kemana. Sejujurnya Nagisa belum ada ide bagaimana mau menyatukan mereka. Tapi tadi ia mendapat pesan dari Karma kalau ia mau tahu apakah buku mereka bisa membunuh seseorang.

Hmmmmm… menurut Nagisa hal itu terlalu riskan. Tapi di group chat mereka berempat, Kayano berkomentar terkadang kematian membuat cinta semakin berkembang. Dan sampai detik ini juga Isogai belum mengatakan apa-apa. Sepertinya sibuk dengan pekerjaannya. Nagisa akhirnya mengambil pena dan buku keramat mereka.

'Ada Pembunuhan. Yui Michimiya dan Daichi Sawamura masuk ke TKP tanpa sengaja. Ternyata sudah ada orang yang melaporkan ke polisi dan ketika polisinya datang, mereka menemukan Yui Michimiya dan Daichi Sawamura di lokasi TKP langsung mencurigai keduanya. Keduanya kemudian diamankan di sebuah ruangan. Disana, mereka bertemu dengan pengacara mereka dan menjelaskan semuanya. Kemudian keduanya pergi ke lokasi kejadian mengikuti pengacara mereka yang melihat jalannya penyelidikan. Akhirnya setelah penyelidikan, terbukti bahwa Yui Michimiya dan Daichi Sugawara tidak bersalah. Keduanya dipulangnya. Di jalan, Yui Michimiya mengucapkan terima kasih segaligus mengungkapkan isi hatinya."


Nagisa sudah mengirimkan pesan ke Suga-senpai sebelum ia mulai mengikuti Sawamura-senpai dan Michimiya-senpai, "Maaf sekali, Daichi aku jadi mengganggu latihanmu," suara soprano sang gadis memasuki gendang telinga Nagisa.

"Tidak masalah, Michimiya. Lagipula aku yang lupa mengembalikan kuncinya kepadamu," Sawamura-senpai berujar. Langkah kaki mereka berdua terbilang cepat untuk sepasang sejoli yang seharusnya berlama-lama untuk menikmati waktu berduaan, "Kapan kalian akan berkumpul memilih kapten yang baru?"

"Ah," suara mereka mulai terdengar samar-samar karena Nagisa kesulitan mengimbangi keduanya—bukannya Nagisa tidak bisa berjalan dengan tempo yang cepat, hanya saja semakin jauh ia dari lapangan dalam ruangan tim voli, semakin jarang tempat untuk bersembunyi dan Nagisa tidak bisa ketahuan. Nagisa mempercepat langkahnya dan memutuskan untuk memanjat pohon saja karena deretan pohon di Karasuno tidak begitu jauh beda dengan yang ada di hutannya, "…sudah minggu kemarin. Jadi resminya aku sudah bukan kapten lagi. Tapi aku belum memberikan kunci ruangan klub dan lapangan, dan lain sebagainya jadi yaah…."

"Kurasa kau adalah kapten yang hebat, Michimiya," Sawamura-senpai menyeringai, Nagisa tidak yakin karena ia berada di atas pohon tapi sepertinya wajah Michimiya-senpai tersipu malu, "Eh, loh?" Sawamura-senpai menatap gagang pintu yang terbuka.

"Kok tidak terkunci?" Michimiya-senpai tampak kebingungan. Nagisa akhirnya menemukan tempat persempunyian yang bagus, yang membuatnya tidak terlalu mencolok tapi juga tidak akan terlalu mencurigakan dan mengundang tanya misalnya ada yang memergokinya disana. Ia mengintip dari jendela, mengamati kedua sejoli itu masuk ke dalam ruangan yang gelap. Sawamura-senpai meraba-raba tembok di dekatnya.

Ketika lampu menyala, jeritan Michimiya-senpai memekakkan gendang telinga.

Berbaring di tengah lapangan voli, sesosok manusia yang bersimbang darah dengan kepala yang berputar pada sudut tidak wajar dan mulut yang menganga mengeluarkan darah. Bau anyir bahkan sampai masuk ke hidung Nagisa.

Pembuluh Nagisa rasanya seperti dialiri oleh es. Jadi buku itu benar-benar membunuh orang demi skenario yang Nagisa buat? Nagisa sudah memastikan kalau Sawamura-senpai dan Michimiya-senpai tidak akan dijadikan tersangka. Hanya saja, rasanya… agak berlebihan.

"Oya?" sesosok… pria tiba-tiba muncul dari pintu yang ditinggalkan terbuka. Sawamura-senpai dan Michimiya-senpai berbalik dan memandangi lelaki berseragam biru gelap itu masuk ke dalam. Seorang polisi. Topinya tidak ia kenakan. Rambut hitamnya terbilang panjang, menjuntai nyaris mendekati dagunya. Ada beberapa helai yang menuntupi mata kanannya membuat Nagisa bertanya-tanya apakah dalam jajaran polisi tidak ada aturan mengenai rambut? "Ada mayat sungguhan."

"Aku kan sudah bilang!" sosok tinggi menjulang itu berdiri dibelakang sang polisi. Rambut keperakannya yang berdiri semua kontras dengan kaos hitam dan celana panjang merah yang ia kenakan.

"Oho ho! Mayat!" sesosok polisi lain masuk ke dalam ruangan. Ia juga berambut keperakan, namun tampaknya rambut keperakannya itu adalah hasil yang indah dari produk bernama cat rambut karena akar rambutnya yang berwarna hitam terlihat, "Dan kalian berdua! Apa yang kalian lakukan disini?"

Polisi berambut putih itu menunjuk ke arah Michimiya-senpai yang memang posisinya lebih dekat ke mayat dibandingkan dengan Sawamura-senpai. Tapi Sawamura-senpai menghalangi polisi itu dan meletakkan tubuhnya di depan Michimiya-senpai, melindungi gadis itu seluruhnya, "Kami hanya ingin mengambil peralatan untuk latihan voli."

"Heee?" polisi yang satunya lagi bertanya dengan seringai miringnya yang menurut Nagisa menyebalkan. Matanya yang berwarna hazel—yang sekilas mengingatkan Nagisa pada kucing—menyipit tajam menatap kedua sejoli itu, "Mengambil peralatan untuk latihan voli atau mengambil barang bukti pembunuhan?"

"Ti-tidak kok!" Michimiya-senpai mulai panik sekarang. Bagaimanapun juga, dilihat dari sisi pandang sang polisi jelas kedudukan mereka tidak baik.

"Oho?" pria berambut putih itu melangkah mendekati Sawamura-senpai. Kalau dilihat-lihat sebetulnya tinggi mereka tidak terlalu jauh berbeda. Tapi sorot manik keemasannya yang dingin dan penuh curiga terasa membekukan, "Kalian mau melakukan pembelaan? Katakan saja di depan hakim."

Polisi rambut hitam memborgol tangan Sawamura-senpai yang terpaku di tempat sementara polisi yang berambut putih memborgol tangan Michimiya-senpai yang tampaknya sibuk memutar otak agar keduanya bisa keluar dari situasi ini, "Aku minta pengacara!" Michimiya-senpai tiba-tiba berseru ketika keduanya digiring keluar dari ruangan. Kedua polisi saling berpandangan sebelum mengangguk. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengatakan sesuatu. Keempatnya semakin menjauh dan Nagisa semakin panik.

Ia setengah berlari sambil menelepon Sugawara-senpai. Dan kebetulan saja ia melihat kepala pemuda itu yang berambut abu hendak memasuki lapangan dalam ruangan tim mereka, "Suga-senpai! Suga-senpai!" Nagisa kehabisan napas, "Sawamura-senpai dan Michimiya-senpai ditangkap polisi."

"Ha?" Nagisa menarik tangan seniornya yang terpaku di tempat itu.


Nagisa tidak yakin kemana kedua polisi itu membawa kedua rekan Suga-senpai tapi semoga tidak ke kantor polisi. Ternyata mereka dibawa ke ruangan klub, satu-satunya yang terbuka di gedung seni—menurut Suga-senpai. Keduanya berhadapan dengan seorang lelaki berambut hitam, modelnya menantang gravitasi dan berdiri semua biarpun helaiannya ada yang mengeriting di ujungnya. Nagisa sangat ingin mengomentari model rambutnya yang aneh dan setelan jasnya yang terlihat murahan—Guru Olahraganya selalu memakai setelan jas dari desainer ternama dan Bitch-sensei seringkali menunjukkan jenis-jenis jas yang mahal jadi Nagisa tahu mana yang murahan—tapi tidak jadi karena masalah pelik yang tengah mereka hadapi.

Nagisa menoleh ke arah Suga-senpai yang awalnya tegang, sekarang justru merileks bahkan ia berusaha menahan tawa, "Aku ingin tahu alibi kalian. Apa yang kalian lakukan sekitar pukul 12.10-12.15?" manik birunya menatap tajam kapten tim voli laki-laki dan mantan kapten tim voli perempuan Karasuno itu.

"Kami dari lapangan indoor A berniat ke lapangan indoor B untuk mengambil beberapa hal," Sawamura-senpai menerangkan, "Sepertinya waktu itu kami masih di jalan. Aku tidak lihat jam."

Tiba-tiba pengacara mereka berdiri dan memukul meja—namun anehnya wajahnya tetap datar saja dan Suga-senpai semakin kesulitan menahan tawanya, "Aku butuh yang lebih bagus dari itu kalau kau mau bebas dari penjara, Anak Muda."

Nagisa bisa membuktikan alibi mereka, "Bukankah kita seharusnya membantu?"

Suga-senpai masih menyumpal mulutnya dengan kepalan tangannya, membuat wajahnya memerah parah dan dahinya berkeringat. Ia menggeleng menjawab pertanyaan Nagisa. Sebagai seorang anak SMP yang baik, ia tidak mempertanyakan perilaku kliennya itu. Mencurigakan? Ya. Aneh? Ya. Tidak biasa? Iya juga sih. Tapi Nagisa juga bingung mau bertanya apa kepada Suga-san.

"Sebelum itu aku selalu bersama anak-anak tim voli di lapangan. Kau bisa menanyai mereka," pengacara berambut hitam ikal itu melirik jam tangannya.

"Aku akan menanyai mereka nanti," ia berdiri dan meninggalkan Sawamura-senpai dan Michimiya-senpai saling berhatatapan dengan penuh tanya. Sang Pengacara keluar ruangan dan Michimiya-senpai mengikutinya dari belakang.

"Eh, Pak Pengacara?" pengacara itu menoleh dan memandangi Michimiya-senpai dengan sorot tajam, seolah ia tidak senang diganggu. Atau tidak senang dipanggil Pak Pengacara, "Kami boleh ikut Bapak?"

Tidak ada jawaban dan rupanya kedua sejoli itu menganggap bahwa minimnya jawaban berarti ya. Mereka mengikuti Pak Pengacara. Nagisa dan Suga-senpai mengikuti ketiganya. Rupanya langkah kaki mereka membawa keduanya kembali ke tempat kejadian perkara.


"Sepertinya pelakunya berambut pirang, eh?" polisi berambut putih-hitam-keabuan itu memegang pinset yang mencapit sehelai rambut pendek berwarna pirang. Nagisa tidak yakin, tapi dimatanya apa yang dicapit oleh pinset polisi itu ia rasa adalah ijuk.

"Oya?" polisi yang satunya lagi ikut memegang piset, namun warna ijuk yang dicapitnya berbeda, "Kurasa pelakunya berambut hitam."

"Nah kan!" Michimiya-sepai meninju pengacara mereka dan berjengit kesakitan. Sepertinya untuk ukuran perempuan, tinjunya lumayan sakit. Tapi bagaimanapun juga ia adalah pemain voli. Pasti sekali atau dua kali ia pernah memukul bola voli secara keras, disengaja ataupun tidak, "Bukan kami kan pelakunya."

"Kami tidak yakin," Pak Pengacara masih mengelus lengan atasnya yang menjadi sasaran Michimiya-senpai barusan, "Kami masih harus melakukan uji DNA."

Apa yang mau dilihat dari DNA ijuk? Debu?

Nagisa berdeham, "Aku saksi kalau keduanya tidak bersalah," Nagisa memulai sambil berusaha agar tidak gemetar dibawah tatapan semua orang yang ada di ruangan—sudah diberitahu kalau tatapan dua orang polisi itu menakutkan? Belum? Bayangkan seekor kucing hitam pembawa sial yang menatapmu sambil mengutukmu sial tujuh turunan dan seekor burung hantu putih yang nemplok di pohon dan mengejekmu karena kau ketakutan dalam perjalanan pulang ke rumah. Sudah kebayang? Nah, tambahkan dengan tatapan paling tidak suka yang dilemparkan oleh Pak Pengacara seolah ia adalah ayahmu dan kau anaknya yang gagal karena kau hanya mendapatkan nilai 99.99 untuk mata pelajaran matematika—termasuk Suga-senpai yang kebingungan, "Salah seorang anggota klub voli memintaku untuk mengikuti Sawamura-senpai dan mengambilkan tiang net di lapangan yang mereka tuju. Aku selalu bersama mereka sejak mereka pergi dari lapangan tempat latihan hingga tiba disini."

Yah, setidaknya Nagisa tidak berbohong mengenai keseluruhan ceritanya.

Kedua polisi dan Pak Pengacara saling berpandangan, "Yah, berarti klienku sudah terbukti tidak bersalah kan?"

Namun mata hazel milik polisi berambut hitam menyipit. Ia melangkah mendekati Nagisa dan membungkuk, menjajarkan wajahnya dengan Nagisa, "Kau yakin, Bocah?"

Auranya sangat mengintimidasi—tinggi badannya pun mengintimidasi, sejujurnya—apalagi ketika ia menyipitkan matanya seperti itu. alisnya berkedut tidak suka dan seringainya melebar, menampakkan dua gigi taring yang ukurannya sedikit lebih panjang dari ukuran taring manusia pada umumnya, "Ya. Aku yakin," Nagisa sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa tetap berdiri tegak tanpa gemetar.

Kemudian sebuah suara entah darimana datangnya berkata, "Lalu, siapakah pelakunya? Apakah benar dua sejoli itu tidak bersalah?" diikuti dengan suara lain yang berseru, "CUT!" kemudian tepuk tangan yang meriah dari bagian dalam ruangan.

Polisi berambut hitam di hadapan Nagisa menyeringai senang. Ia kembali berdiri tegak dan menyapukan rambutnya ke kepala. Rambut hitamnya yang awalnya menempel dengan kepala kini berdiri semua, terkecuali helaian-helaian yang menutupi mata kanannya. Polisi yang satunya lagi juga sibuk menata rambutnya, hingga surai putih-hitam-abunya kini berdiri semua—yang mengingatkan Nagisa pada hewan yang mereka amati beberapa minggu yang lalu, burung hantu bertanduk.

Akhirnya Suga-senpai tertawa terbahak-bahak sambil memeluk perutnya dan membungkuk. Pak Pengacara—berlawanan dengan dua polisi lainnya—menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum menyapukan tangannya ke atas rambutnya dan membuatnya jatuh dan menempel pada kepala. Helaian yang ikal hampir menyentuh telinganya. Ia membuka jas murahannya dan melonggarkan dasinya.

Michima-senpai dan Sawamura-senpai hanya bisa melongo di tengah lapangan. Kebingungan. Tidak paham apa yang terjadi sebenarnya, sama seperti Nagisa.

"Kerja yang bagus, teman-teman!" suara-suara misterius itu akhirnya menampakkan dirinya satu per satu, "Kita lanjut ke bagian investigasi!"

"Aye," anak-anak Klub Teater Karasuno—Nagisa bisa melihat dari jaket hitam yang mereka kenakan—dengan penuh semangat membawa peralatan mereka. Sesekali beberapa orang menepuk bahu kedua Pak Polisi dan Pak Pengacara.

"Oho ho, Kapten Karasuno!" polisi berambut putih-hitam-abu itu menyapa Sawamura-senpai.

"Oya oya, aku tidak percaya kau tidak mengenali kami, Kapten Karasuno," polisi yang berambut hitam ikut menepuk bahu Sawamura-senpai.

Sawamura-senpai tersenyum lebar. Sangat lebar. Matanya sampai menyipit saking lebarnya senyuman yang menghiasi wajahnya. Alisnya berkedut tidak senang, "Mana mungkin aku mengenali kalian kan, Bodoh!?" serunya sambil meninju lengan atas Polisi 1 dan Polisi 2.


Nagisa sendiri sejujurnya tidak begitu paham. Tapi ternyata, anak-anak klub drama sedang melakukan apa yang disebut dengan 'impromptu film' dimana hanya beberapa pemain yang mendapatkan briefing sementara yang lainnya clueless untuk dimasukkan sebagai entry ke dalam suatu lomba.

Kebetulan, pemain yang clueless itu adalah Sawamura-senpai dan Michimiya-senpai, orang pertama yang masuk ke 'tempat kejadian perkara'. Dua orang polisi yang berambut aneh itu adalah kapten tim voli dari sekolah lain yang niatnya akan melakukan pertandingan persahabatan. Tapi Suga-senpai meminta tolong mereka karena Yachi-senpai dimintai tolong oleh ketua klub drama. Kalau tidak salah nama mereka adalah Tetsuro Kuroo—yang mengingatkan Nagisa pada 'kakak kembar beda orang tua' miliknya di Seirin High School karena ejaan namanya yang lumayan mirip—dan Koutarou Bokuto. Pak Pengacara ternyata bernama Keiji Akaashi dan pemuda tinggi berambut perak yang mengantarkan kedua polisi bernama Lev Haiba.

Setelah Sawamura-senpai memarahi Suga-senpai, kedua pemeran polisi dan ketua klub drama, ia pergi untuk mengantarkan Michimiya-senpai pulang sementara rekannya yang lain masih latihan di lapangan bersama empat orang tamu mereka.

Nagisa sendiri pergi mengikuti Sawamura-senpai bersama dengan Suga-senpai yang masih terus mengelus-elus lengan atasnya yang tidak hanya ditinju oleh Sawamura-senpai, tapi juga oleh Michimiya-senpai. Nagisa dan Suga-senpai bersembunyi di semak-semak yang cukup jauh dari kedua sejoli itu. nagisa bisa saja melakukan parkour tapi ia tidak yakin Suga-senpai bisa mengikuti. Pembicaraan kedua kapten tim itu tidak terdengar dan Nagisa bisa merasakan kalau Suga-senpai gatal ingin mendengar percakapan mereka.

Mereka mengendap-endap mendekat, "…terima kasih banyak," Nagisa dan Suga-senpai saling bertatapan. Tampaknya kedua remaja itu sudah tiba di lokasi tujuan.

"Tidak masalah," Sawamura-senpai sedikit menunduk dan menggaruk tengkuknya, "Aku seharusnya berterima kasih. Omong-omong maafkan kelakuan anak-anak tadi."

Dengan wajah yang tersipu-sipu, Michimiya-senpai tertawa pelan, "Tidak masalah, Daichi! Kadang anak-anak timku lebih merepotkan dibandingkan mereka."

Sawamura-senpai berjalan menjauh dan melambai. Michimiya-senpai membalas lambaian tangan sang kapten. Wajahnya dampak ragu sejenak sebelum akhirnya ia setengah berteriak, "DAISUKI!"

Di samping Nagisa, Suga-senpai hampir kejang-kejang. Nagisa sendiri tidak percaya ternyata Michimiya-senpai seberani itu, "A-AH MAKSUDKU DAICHI! A-AKU BERMAKSUD MEMANGGIL NAMAMU!" dengan wajah memerah dan kedua tangan yang gemetaran, gadis berambut cokelat pendek itu menggelengkan kepala dan mengibaskan kedua tangan di depan dadanya.

Sawamura-senpai, hanya menatap, dengan wajah yang ikut memerah dan bibir yang terkulum untuk menahan senyumannya untuk terkembang—sepertinya—ia menundukkan kepala dalam-dalam, menggaruk tengkuknya lalu menutupi bagian bawah wajahnya dengan tangannya, "A-AKU SEBETULNYA INGIN BERTANYA KAU MAU MAKAN MALAM DULU ATAU TIDAK, AHAHAHA," Michimiya-senpai menggaruk tengkuknya. Ia tidak menatap pagar rumahnya yang dicat putih, sepertinya terlalu malu untuk menatap Sawamura-senpai yang berjalan mendekat ke arahnya.

Mereka berdua bertatapan. Dengan rona pipi berwarna merah muda yang dominan, "Daisuki, Yui," ujar Sawamura-senpai sebelum mencium dahi gadis itu.

Disamping Nagisa, Suga-senpai menggeliat di atas tanah.

.

.

To the Last Page

.

.

Curhatan Arleinne:

Sejujurnya adegan si Michimiya salah manggil Daichi dari Daisuki itu ada di dalam mimpi Aru. Trus pas Aru bangun tidur pikirannya langsung, 'WTF gue mimpiin plot! Cheesy sih tapi boleh juga.' Awalnya gak terpikir bakalan dipakai dalam waktu dekat, tapi karena mau nulis ini dan kasihan sama Nagisa yang mulai kehabisan ide buat bikin skenario(?) jadi yha….

Niatnya mau buat penutup seri ini yang niatnya dikasih judul Last Page. Semoga Last Page ini masih sesuai dengan rencana *nyilang tangan*

Ada saran, kritikan, masukan? Ada keluhan, curhatan, kisah yang ingin diungkapkan? Silakan isi kotak review-nya, Teman-Teman Sekalian. Sampai jumpa di Last Page!