Previous

"Appa...apa yang sedang terjadi?"Tanya Baekhyun, tapi Hangeng tidak mempedulikannya.

"Kalian bisa melihat hutan di depan sana?"Tanya Hangeng menunjuk Hutan yang menyatu dengan ujung lapangan golf, Sehun dan Luhan mengangguk.

"Pergi dan temukan air suci di dalam sana, basuh tubuh kalian dengan air itu lalu bawa air itu kepadaku! Jika di antara kalian ada yang berhasil, aku tidak akan melaporkan kepada wali kalian dan tidak mengeluarkan kalian dari sekolah ini atas pencemaran nama baik sekolah. Apa kalian mengerti?"

Sehun dan Luhan hanya diam, memikirkan apa yang akan mereka lakukan di hutan itu.

"Di dalam hutan itu hanya ada 1 aliran air dan itu adalah air suci yang harus kalian bawa. Cepat berangkat sebelum matahari terbenam sepenuhnya."Ucap Hanggeng.

"Bolehkah saya mengambil baju terlebih dahulu kepala sekolah?"tanya Luhan tak berani menatap Hangeng secara langsung.

"berangkatlah dengan keadaan kalian yang seperti itu!"Ucap Hanggeng.

"Appa...! Apa yang appa lakukan? Bukankah hutan itu berbahaya?dan juga Luhan harus memakai pakaiannya!"Rengek Baekhyun.

"Sehun!Luhan! Kalian menunggu apa?"Tanya Hangeng, merekapun mengangguk lalu segera berjalan menjauh.

"Appa...!"Teriak Baekhyun.

"Kau bahkan membela orang asing itu dari pada aku?"Tanya Hangeng membuat Baekhyun terdiam, Hanggeng pun segera masuk.

Semua murid dan guru yang ada di luar sana merasa iba dengan Sehun dan Luhan, mereka takut jika keduanya tidak bisa kembali.

.

.

.

LOVE ME RIGHT

.

.

.

Main cast: Sehun, Luhan, Kai, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun and other

Main pair: HunHan KaiSoo ChanBaek

Genre: Romance School life

Rate : T-M

Length: Chapter

YAOI. MRPEG. Typo

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan berjalan mengikuti Sehun yang berada di depan, ia memeluk tubuhnya sendiri karena hawa dingin yang ia rasakan. Mereka berjalan tak tentu arah tanpa sepenggal kata, membiarkan keheningan yang semakin membuat Luhan kedinginan.

"Sehun...!" panggil Luhan pada akhirnya.

Sehun menoleh kebelakang tanpa menjawab panggilan Luhan.

"aku tahu kita musuh, tapi tidak bisakah kau meminjamkan coat mu padaku ? kau kan sudah memakai kemeja, sedangkan aku ? aku..."

"karena kita musuh, jadi aku tidak bisa meminjamkannya padamu, cepat jalan ! jangan banyak merengek."potong Sehun lalu segera berjalan lagi tanpa mempedulikan Luhan yang mengerucutkan bibirnya kesal.

Lagi lagi mereka berjalan dengan keadaan hening, Luhan mendesis kecil merasakan dingin angin malam yang menyapa kulitnya dan juga keadaan yang sangat gelap.

"Sehun...!" panggil Luhan lagi, tapi Sehun tak menyahut dan terus berjalan.

Luhan tau Sehun mendengarnya, hanya saja laki laki berwajah datar itu mengabaikannya.

"kau bawa ponsel ? di sini gelap sekali...kau tau kan di hutan pasti banyak binatang buas, bagaimana jika tiba tiba ada serigala di depan kita ? kita butuh pencahayaan meski itu hanya dari ponsel."ucap Luhan.

Sehun berhenti dan berbalik, Luhan pun ikut berhenti berusaha menatap Sehun di minimnya cahaya bulan.

PLUKK...

Luhan segera menangkap ponsel yang di lemparkan Sehun, ia segera mengaktifkan cahaya senter dari ponsel Sehun lalu kembali berjalan di belakang Sehun.

Luhan bernyanyi kecil sambil mengarahkan senternya di kanan kiri dan depannya untuk mengusir ketakutannya dan juga dinginnya angin malam, berulang kali Luhan menepuk lengan kanan kirinya dan menggerutu kecil karena serangga menggigit badan polosnya.

Sehun sesekali melirik kebelakang dan mendapati Luhan yang menggerutu kesal sambil memukuli lengannya lalu lanjut bernyanyi lagi, tidak bisa di pungkiri bahwa Sehun merasa sedikit kasihan melihat Luhan, tapi ego mendominasinya.

Tiba tiba tatapan mereka bertemu dan Luhan menatap Sehun bingung.

"apa?" tanya Luhan merasa di tatap

"kau berisik !"jawab Sehun lalu kembali berjalan.

Tak lama terdengar keluhan panjang Luhan.

"Sehun !" Sehun menoleh.

"ponselmu mati."

"ya sudah." Ucap Sehun lalu mengambil ponselnya dari tangan Luhan dan lanjut berjalan.

"Sehun..!"

"apa lagi sekarang?"tanya Sehun jengah mendengar Luhan terus menerus memanggil namanya untuk alasan yang tidak penting.

"aku lapar..."

"tidak ada makanan."

"kalau begitu kita istirahat, aku tidak bisa berjalan dengan keadaan kelaparan dan gelap seperti ini."

Sehun menghela nafas sebentar lalu mengedarkan pandangannya, dan ia menemukan pohon besar tak jauh dari tempatnya berdiri.

"kita istirahat disana."tunjuk Sehun pada pohon besar itu, Luhan pun mengangguk.

Sehun duduk menyandar pada batang pohon besar itu dan Luhan mengikutinya.

"kenapa duduk di sampingku ? kau takut ?"tanya Sehun menatap Luhan yang ikut menyandar di sampingnya.

"tidak ada pohon besar lagi, dan aku tidak mau menyandar di batu itu nanti punggungku bertambah sakit."sahut Luhan lalu membekap tubuhnya dengan kedua lengannya dan mulai memejamkan matanya.

Sehun bisa melihat wajah damai Luhan saat memejamkan matanya, dan ia melirik ke arah bahu Luhan. Ia menatap khawatir karena sore tadi ia sempat mendorong Luhan hingga punggung Luhan membentur meja belajarnya, ia tahu pasti rasanya sakit sekali.

"kau sudah tidur?" tanya Sehun, tapi Luhan tak menyahut.

Sehunpun menggoyangkan lengan Luhan pelan, tapi Luhan tetap tak bergeming. Akhirnya Sehun pun ikut memejamkan matanya di samping Luhan.

.

.

Sehun mengernyit di tengah tidurnya, udara sangat dingin bahkan saat ia sudah mengenakan kemeja dan coat, Sehun juga merasa terganggu dengan suara berisik di sampingnya, akhirnya Sehun membuka matanya dan mendapati Luhan yang menggigil kedinginan.

"hei..Luhan !" panggil Sehun sambil menggoyangkan lengan Luhan, Luhan tak menjawab, Luhan semakin mempererat lengannya agar tak merasa dingin.

"ssstttt...dingin..."desis Luhan, Sehun bisa melihat bibir Luhan yang mulai memucat berkat sinar bulan yang tepat berada di atas mereka.

Sehun menyentuh dahi Luhan dan ia terkejut karena suhunya sangat panas, berbeda dengan lengan Luhan yang terasa sangat dingin. Sehun bingung harus melakukan apa, akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan Luhan.

"Luhan...! Lu... Luhan...!"panggil Sehun berusaha membangukan Luhan, tapi Luhan malah mendesis dingin dengan suara yang terdengar sepeti sebuah rengekan, tunggu ! rengekan ?

Sehun menatap wajah Luhan yang mengernyit dan bergerak tak nyaman, akhirnya ia memutuskan untuk mendekap tubuh dingin Luhan dan mengarahkan coat besarnya untuk menutupi tubuh Luhan juga, Sehun juga sedikit bergeser agar lebih dekat dengan Luhan dan coatnya muat untuk membungus tubuh mungil Luhan.

Sehun memperhatikan wajah Luhan yang kini bersandar nyaman di dadanya, tangan Sehun juga mengeratkan coatnya agar tetap menutupi tubuh mereka berdua.

"brengsek kecil menyusahkan."gumam Sehun lalu mengecek kembali suhu tubuh Luhan sebelum kembali tidur.

.

.

"apa Luhan baik baik saja ? bagaimana jika Sehun meninggalkannya sendirian di hutan ? ahh...bagaimana ini!"gerutu Baekhyun sambil menatap jendela.

"Sehun tidak akan meninggalkan Luhan Baek, Sehun sebenarnya adalah anak yang baik meskipun terkadang sikapnya begitu menyebalkan"sahut Kyungsoo, sebenarnya ia juga sama khawatirnya dengan Baekhyun.

"apa mereka tidur dengan nyaman ? ahh...pasti Luhan kedinginan, aku harap Sehun meminjamkan coatnya untuk Luhan."gumam Baekhyun mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

"sehun pasti meminjamkannya, aku yakin Sehun akan menjaga Luhan sekalipun hubungan mereka sangat buruk."ucap Kyungsoo pelan lalu ikut berbaring di atas ranjangnya.

"aku ingin menjemput mereka besok Kyung."

"kita pikirkan besok Baek, kita harus tidur. Tidak ada gunanya kita memikirkan hal yang tidak tidak pada mereka jika pada akhirnya kita hanya akan berbaring di ranjang ini."putus Kyungsoo, mereka pun mulai memejamkan matanya.

.

.

Luhan mengernyit ketika merasa tubuhnya terasa sedikit hangat, ia juga bisa mencium bau maskulin di sekitarnya. Tapi Luhan tidak mau membuka matanya karena merasa nyaman, Luhan semakin melesakkan kepalannya dan tangannya memeluk bantang pohon yang kini berubah sangat nyaman di pelukannya.

Batang pohon Luhan ? yang kau peluk bukanlah sebuah batang pohon keras seperti yang kau sandari semalam tapi tubuh atletis Sehun.

Sehun sendiri hanya terkekeh pelan melihat Luhan yang semakin merapatkan tubuhnya, Sehun hanya terlalu malas untuk membangunkan Luhan dan Sehun menikmati udara pagi di hutan ini.

Tak lama Luhan menggeliat tak nyaman dan Sehun menatapnya datar, tapi tak lama Luhan segera membuka mata dan memberontak dalam pelukan Sehun.

"hwaa...gatal sekali!" teriak Luhan dan segera berdiri sambil mengusap punggungnya dengan susah payah.

Sehun pun segera berdiri ketika menyadari banyak semut di tempat yang sempat Luhan duduki tadi, Luhan dengan tidak sengaja merusak sarang semut itu di tengah tengah nyamannya dalam pelukan Sehun.

"hwa... gatal sekali Sehun ! bagaimana ini ? bahuku semakin sakit !" gelisah Luhan, matanya berkaca kaca sambil menatap Sehun dengan tatapan frustasi.

Sehun segera membalik tubuh Luhan lalu menghilangkan semut yang berada di punggung telanjang Luhan, ia bisa melihat memar di bahu kanan dan kiri Luhan juga bercak merah akibat gigitan semut tadi.

"sudah hilang."ucap Sehun datar dan Luhan menghela nafas lega.

Lalu ia menatap Sehun kesal.

"mengapa kau memelukku tadi? Ini semua salahmu, jika saja kau tidak memelukku mungkin aku tidak akan di gigit semut sialan itu!" maki Luhan kesal.

"memelukmu ? yang benar saja, semalam kau terus saja merengek meminta agar aku memelukmu, aku sudah menolak tapi dengan tidak tahu malunya kau malah memaksaku."sahut Sehun membuat wajah Luhan memerah, Sehun tersenyum tipis setelah berhasil mengerjai Luhan.

"b..benarkah?" tanya Luhan tak yakin, ia merasa sangat konyol sekarang dan jelas sangat malu, bahkan untuk sekedar menatap Sehun.

"hmm... kau bahkan memelukku erat semalam, sepertinya kau menyukai tubuhku"jawab Sehun semakin gencar menggoda Luhan.

"hah..? t..tidak mungkin!"sahut Luhan, Sehun hanya terkekeh lalu melepaskan coatnya.

"s..sehun ! apa yang akan kau lakukan ?"tanya Luhan gugup, Sehun menatapnya sekilas lalu melanjutkan untuk membuka coatnya.

"membuka coatku.."jawab Sehun santai

"j..jangan macam macam Sehun! Aku akan membencimu setelah ini!" pekik Luhan saat Sehun sudah melepas coat dan menatap ke arahnya.

"bukankah sebelumnya kita memang saling benci Luhan ? jadi tidak masalah..."balas Sehun menyeringai.

"s..sehun berhenti ! aku akan benar benar membencimu!" teriak Luhan panik saat Sehun mendekat padanya.

Luhan menahan nafasnya saat Sehun menundukkan tubuhnya agar sejajar dengannya dengan tatapan dalam membuatnya semakin gugup, Sehun terkekeh setelahnya lalu menyampirkan coatnya di bahu Luhan.

"apa yang kau harapkan dariku? Kau benar benar menyukai tubuhku ya hingga berpikiran liar ?"ejek Sehun, wajah Luhan pun semakin memerah.

"brengsek kau oh Sehun ! aku tidak berpikiran liar brengsek!" maki Luhan

"semalam kau demam jadi aku meminjamkan coatku sekarang, sebenarnya aku ingin membiarkanmu mati beku tapi karena aku takut hantu jadi aku memilih untuk meminjamkan coatku dari pada kau hantui..."cibir Sehun lalu berjalan menjauh.

"sekalipun aku hantu aku tidak akan mau menghantui orang sepertimu brengsek! Paling tidak aku akan langsung membunuhmu!" sahut Luhan sambil memakai coat besar Sehun dan segera mengikuti langkah Sehun.

"kau membunuhku agar bisa menyentuh tubuhku bukan ?"

"sialan kau!" pekik Luhan dan segera memukul kepala Sehun dengan keras.

.

.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang hanya menatap kearah hutan dari diding kaca rumah makan di lapangan golf, bahkan Baekhyun sama sekali tidak menyentuh pancake yang di pesan Chanyeol untuknya.

"apa kau baik baik saja?"tanya Chanyeol menarik dagu Baekhyun agar menatapnya, Baekhyun menggeleng lemah.

"aku rasa Luhan sedang lapar sekarang, dia pasi kedinginan."jawab Baekhyun.

"makanlah! Kau sendiri yang memaksaku untuk memesankanmu pancake ini, aku akan kecewa jika kau tidak memakannya."ucap Chanyeol, Baekhyun tersenyum tipis.

"hmm..aku akan memaknannya, jadi jangan kecewa padaku!"sahut Baekhyun cepat lalu segera memakannya membuat Chanyeol tersenyum gemas, tapi di detik berikutnya Baekhyun mengunyah pancake itu dengan lemah.

"ada apa lagi? Apa rasanya tidak enak? Ahh...yang strawberry sudah habis tadi."ucap Chanyeol, ia ingat jika Baekhyun sangat menyukai pancake strawberry tapi ia malah memesan rasa lain.

"tidak apa, aku suka."jawab Baekhyun lesu.

"kau kenapa?"tanya Chanyeol cemas

"aku kehilangan selera makanku"

"bagaimana bisa? Kekasihku sangat suka makan, bahkan tubuhnya semakin berat saat terakhir kali aku menggendongnya, tidak mungkin jika sekarang tidak nafsu makan."sahut Chanyeol sedikit menggoda Baekhyun.

"Luhan, dia pasti tidak bisa sarapan. Di hutan tidak ada apa apa yeol..."lirih Baekhyun.

Chanyeol menghela nafas lalu mengusak rambut kekasih mungilnya, ia mengusap pipi Baekhyun lembut dan memberikan senyum terbaiknya.

"kau harus makan, Kyungsoo bilang kau ingin menjemput mereka. Jadi, kau harus makan yang banyak agar bisa cepat bertemu dengan mereka dan membawakan mereka makanan agar mereka tidak kelaparan, apa kekasihku mengerti ?"jelas Chanyeol, Baekhyun kembali menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, Chanyeol selalu bisa memperbaiki moodnya dengan cepat.

"kau benar, aku harus makan yang banayk!" semangat Baekhyun dan mulai melahap pancake nya, Chanyeol tersenyum lega melihatnya.

"ahh..yeollie!"panggil Baekhyun tiba tiba, Chanyeol menatapnya menunggu kelanjutan yang akan ia katakan.

"pesankan aku nasi juga, aku harus makan banyak!"lanjut Baekhyun.

"kau yakin? Kau bilang ingin diet dan tidak mau makan nasi di saat sarapan."tanya Chanyeol merasa heran.

"tidak apa untuk hari ini, karena aku ingin segera menemukan Luhan!"semangat Baekhyun dengan senyum tipis.

"ok.." Chanyeol melangkah pergi untuk memesan.

"buah juga yeollie..."teriak Baekhyun, Chnayeol mengacungkan ibu jarinya untuk menjawab

.

.

"Kyungsoo!" panggil Kai.

Kyungsoo berhenti dan menatap Kai yang berlari ke arahnya.

"Kyungsoo! Aku mohon kali ini jangan menolakku!" ucap Kai tiba tiba dengan nafas memburu.

"jika kau hanya ingin bicara omong kosong maaf, aku tidak bisa."sahut Kyungsoo dan mulai melangkah untuk pergi, Kai mengikutinya.

"Kyungsoo, aku mohon. Aku harus mendengar jawabanmu agar aku memiliki alasan untuk bertahan."mohon Kai.

Kyungsoo berhenti dan menatap Kai tajam, ia kesal sekali menatap wajah memohon Kai.

"aku menolakmu jika harus menjadi alasan bagimu!"ketus Kyungsoo lalu kembali berjalan.

"Kyungsoo, aku tahu kau pasti berfikir jika.."

"berhenti Kai! Aku muak ! berhenti menggangguku ! kau hanya beban bagiku !" bentak Kyungsoo lalu segera berlari menjauhi Kai.

Kai tertawa hambar setelah kepergian Kyungsoo dan hanya menatap punggung Kyungsoo dengan tatapan kosong.

"maaf jika aku selalu menjadi beban bagimu! Aku janji kau tidak akan merasakannya lagi!" teriak Kai berharap Kyungsoo mendengarnya.

.

.

"hah...aku merinding" ucap Baekhyun bergidik ngeri.

"entahlah, dia bodoh."sahut Kyungsoo malas, ia baru saja menceritakan kejadiannya bersama Kai tadi pada Baekhyun.

"tapi...mengapa kau tidak menerimanya saja Kyung ? apa karena Sehun ?" tanya Baekhyun.

"bukan karena Sehun, Sehun hanya masa laluku. Sebenarnya aku sangat mencintainya Baek, tapi aku tidak mau jika dia hanya ingin menjadikanku sebagai alasan. Dengan begitu dia akan mudah memutuskanku setelah aku semakin jatuh cinta padanya, aku tidak mau itu terjadi."jawab Kyungsoo.

"Kai sangat bodoh! Memangnya dia akan pergi kemana hingga berbicara seperti itu padamu ? ahh...mungkin dia takut mati karena seminggu lagi dia akan lomba sebagai atlet MMA hahaha..."tawa Baekhyun.

"lalu mengapa sebelum sebelumnya kau sangat sulit untuk menerima Kai? Aku pikir dia benar benar mencintaimu Kyung"tanya Baekhyun lagi penasaran.

"aku sengaja menahan diriku agar tidak dengan cepat menerimanya."jawab Kyungsoo

"apa karena kau takut di cap murahan?"tanya Baekhyun merasa tersindir.

"bukan, aku hanya ingin memastikan seberapa besar usahanya untuk mendapatkanku, dengan begitu ketika kami resmi memiliki hubungan khusus, dia tidak akan dengan mudah meninggalkanku mengingat perjuangannya saat mengejarku."jelas Kyungsoo.

"dasar...! aku harap Kai menyerah." gerutu Baekhyun.

Kyungsoo terkekeh melihat Baekhyun merasa tersinggung karena dulu Baekhyun langsung menerima Chanyeol saat Chanyeol mengatakan perasaannya pada Baekhyun.

"hai sayang..."sapa Chanyeol mengecup pipi kiri Baekhyun dari belakang.

Baekhyun menoleh sedikit dan tersenyum senang.

"yeollie...Kyungsoo menyindirku dari tadi !"adu Baekhyun dengan wajah cemberut.

"oh astaga...mati aku"cibir Kyungsoo mendramatisir kegiatan Baekhyun, Chanyeol hanya terkekeh.

"oh..Kai!" panggil Chanyeol saat melihat Kai menaiki tangga.

"hmm...hai yeol."balas Kai cuek, Chanyeol mengernyit heran sementara Kyungsoo menatap kecewa.

"bahkan kau dengan mudah menghindariku,ahh... tentu saja mudah bagimu, apa yang kau harapkan Kyungsoo?" gumam Kyungsoo dalam hati

"Chanyeol !"

Chanyeol , Baekhyun dan Kyungsoo segera menoleh ke asal suara.

"eomma !" pekik Baekhyun terkejut.

"kau mengenal ibuku?" tanya Baekhyun penuh selidik, Chanyeol hanya diam menelan ludahnya dengan susah payah.

"ahh...aku tidak tahu jika kau juga bersekolah disini, ku pikir kau tetap menetap di China. Ayahmu tidak pernah bercerita"ucap Heechul.

Baekhyun dan Kyungsoo mengernyit, kecuali Chanyeol dan Kai yang masih berada di tengah tangga.

"eomma mengenal yeollie ?"tanya Baekhyun tak suka.

"tentu, dia kakakmu...anak dari ayahmu yang tidak pernah mau mendatangi acara keluarga, aku tidak menyangka harus bertemu dengannya disini. Ternyata kau sangat dekat dengan kakakmu."jawab Heechul senang.

Baekhyun menatap Heechul tidak percaya, ia menatap Chanyeol dan ibunya bergantian.

"tidak mungkin..."gumam Baekhyun.

"apanya yang tidak mungkin ? baiklah...eomma akan ke ruangan appa kalian, brani beraninya dia menghukum Luhan seperti itu!"sahut Heechul lalu segera melenggang menaiki tangga.

Kai membungkkan badannya sopan saat Heechul berjalan ke arahnya, dan Heechul memberikan senyum.

"jadi...kau anak tiri kepala sekolah ? dan Chanyeol adalah kakakmu ?"tanya Kyungsoo terkejut.

Baekhyun menatap Chanyeol tajam dengan wajah memerah menahan kesal.

"bisa kau jelaskan ini Chanyeol ? kau tidak sedang bersandiwara bersama ibuku? JAWAB AKU CHANYEOL!" Teriak Baekhyun frustasi.

Chanyeol hanya menatap Baekhyun nanar dan mengangguk kecil.

"semuanya benar Baek, kau harus terima kenyataan sekarang"jawab Chanyeol pelan.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, menatap Chanyeol dengan tatapan penuh kekecewaan, matanya sudah berkaca kaca.

"kau selalu berhasil membuat kejutan Chanyeol! Tapi aku tidak akan terkejut dengan ini ! bahkan margamu bukan Tan ! kau Park Chanyeol BUKAN Tan Chanyeol !"tekan Baekhyun menolak status saudara di antara mereka.

"bagaimana denganmu ? kau Byun Baekhyun bukan Tan Baekhyun."balas Chanyeol.

"itu karena marga ayah kandungku! Sedangkan Kau ?"bentak Baekhyun.

"aku memutuskan untuk memakai marga ibuku setelah dia meninggal, dan ayah mengijinkaku."ucap Chanyeol tenang.

Baekhyun menghela nafas kasar, ia menunduk dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.

"maafkan aku Baek...semuanya jelas sekarang, jadi maukah kau berhenti menjadi egois demi orang tua kita hmm?" bujuk Chanyeol lembut, ia menyentuh pundak bergetar kekasihnya. lebih tepatnya adik sekarang.

Baekhyun menepis tangan Chanyeol kasar dan menatap Chanyeol nyalang.

"apa maksudmu berhenti menjadi egois ? siapa yang kau sebut orang tua kita ? siapa Park Chanyeol? Coba jelaskan padaku ! kau bukan kakakku ! kau kekasihku ! aku tidak akan membiarkan hubungan kita berubah ! SEDIKITPUN TIDAK!" teriak Baekhyun, beruntung di ruangan itu sepi karena yang lain sedang sibuk dengan kegiatan masing masing dan juga fasilitas ruangan yang kedap suara, hingga tidak menimbulkan banyak perhatian.

"Baekhyun ! aku tau ini sulit, aku sudah memikirkan ini sejak lama. Apa kau tahu ? setiap ayah memanggilku dia hanya memintaku agar segera memutuskanmu! Hubungan kita terlarang Baek, mengertilah...orang tua kita sudah menikah!"bentak Chanyeol terbawa emosi, jujur saja Chanyeol tidak ingin mengakhiri hubungan mereka karena Chanyeol begitu mencintai pria mungil yang sedang menangis di depannya.

"bahkan sekarang kau membentakku yeol..."lirih Baekhyun dengan suara bergetar lalu segera berlari menuju kamarnya.

"a..aku benar benar terkejut"gumam Kyungsoo yang masih berada di tempat, menyaksikan rahasia Chanyeol yang selama ini di tutupi bersama Kai.

Chanyeol menatap kearah tangga dimana Kai tersenyum sambil mengacungkan kedua ibu jarinya pertanda menyemangati Chanyeol, Chanyeol tersenyum tipis untuk membalasnya.

.

.

"coba jelaskan padaku mengapa kau menghukum Luhan seperti itu!" ucap Heechul ketus pada Hangeng.

"dia mempermalukanku! Dia melakukan hal yang tidak tidak bersama anak dari presdir Wu di kamar mereka dan pengurus asrama memergokinya. Bahkan aku baru saja meresmikan jika dia anakku pada semua guru."jelas Hangeng memijiat pelipisnya.

"bagaimana jika pengurus asrama hanya salah lihat ? kau tahu kan jika Sehun dan Luhan adalah musuh ? mereka tidak akan melakukannya !"kesal Heechul.

"salah lihat ? apa salah lihat jika pengurus itu melihat Luhan tanpa mengenakan pakaian berada di atas Sehun dan mereka berciuman ? bahkan Luhan masuk keruanganku tanpa memakai pakaian, jadi bisa kau cari alasan lagi untuk membela orang asing itu?"tanya Hangeng mulai kesal.

"tidak mungkin, Luhan tidak akan seperti itu"gumam Heechul

"berhenti memikirkan mereka, mereka akan segera kembali."ucap Hangeng.

"aku melihat Chanyeol tadi, mengapa kau tidak bilang jika Chanyeol sekolah disini?"

"kau sudah melihatnya ?"

"hmm... dia sudah sangat dekat dengan Baekhyun aku rasa. Tapi Baekhyun terlihat marah ketika aku memanggil Chanyeol, mungkin dia tidak suka melihatku berbicara dengan teman temannya hehehe..."ucap Heechul lagi.

"asal kau tahu, mereka adalah sepasang kekasih." Sahut Hangeng tenang

"siapa? Baekhyun dan Chanyeol?" tanya Heechul terkejut

"hmmm... sudah 1 tahun lamanya"jawab Hangeng membuat Heechul semakin terkejut.

"kau membiarkannya?"

"tentu saja tidak, aku selalu berbicara dengan Chanyeol tetang hubungan mereka, tapi Chanyeol butuh waktu karena Baekhyun tidak tahu jika Chanyeol adalah kakaknya."jelas Hangeng.

"dia sudah tahu, aku memberi tahunya tadi. Aku harus menemuai putra kecilku..."ucap Heechul lalu segera pergi.

Hangeng hanya menggeleng pelan melihat tingkah istrinya.

"aku harap mereka baik baik saja"gumam Hangeng. Entah itu untuk Sehun dan Luhan atau Chanyeol dan Baekhyun tau mungkin untuk keduanya.

.

.

"sepertinya tidak ada jalan lain..."ucap Sehun tiba tiba sambil menatap Luhan

Luhan berhenti di belakang Sehun dengan raut bingung.

"maksudmu ?"tanya Luhan

"kita berada di atas tebing, dan airnya ada di bawah... tidak ada jalan lain selain menuruni tebing"jelas Sehun.

"seberapa tinggi ? apa sangat tinggi ?" tanya Luhan penasaran

"lumayan, kau lihat saja sendiri !"jawab Sehun

Luhan berjalan melewati Sehun dan melihat seberapa tinggi tebing yang ia pijaki.

"Aaaaa...!"

"ada apa?" tanya Sehun datar meskipun terdengar sedikit cemas.

"t..tinggi sekali..."jawab Luhan tergagap dengan mata yang tidak bisa fokus.

"apa maksudmu ? itu tidak terlalu tinggi!" ucap Sehun menghampiri Luhan yang masih gemetar di sana tak berani bergerak.

"tidak ! kita cari jalan lain saja" sahut Luhan saat Sehun sudah berada di depannya.

"cari jalan lain apa? Kau tidak lihat air itu di kelilingi tebing ?" tanya Sehun sedikit jengkel.

"a..aku takut ketinggian Sehun!"jawab Luhan bergetar

"jangan kau bilang kau phobia ?"tanya Sehun was was

"sayangnya benar sekali" jawab Luhan ketakutan

"hah...kau tunggu saja disini, aku akan turun dan mengambil airnya"ucap Sehun sambil memperhatikan tebing yang akan ia lewati.

Meskipun tidak terlalu tinggi, tapi sangat sulit jika tidak menggunakan alat bantu dan pengaman.

"tidak! Aku tidak mau disini sendirian!" pekik Luhan menahan lengan Sehun

"lalu kita harus bagaimana ? jika kau tidak mau pergilah! Cari jalan lain yang menurutmu masuk akal untuk turun tanpa melewati tebing ! aku tidak peduli padamu! Aku hanya ingin segera kembali dan tidur dengan nyaman di atas ranjang!"bentak Sehun menghempaskan tangan Luhan hingga tubuh Luhan yang memang sudah melemas terduduk di atas tanah.

Sehun sudah bersiap untuk turun sebelum suara yang Luhan timbulkan membuatnya menghela nafas kasar, ia berbalik menatap Luhan yang menyembunyikan wajahnya di antara lututnya dengan suara isakan yang terdengar jelas.

"sekarang apalagi?" desis Sehun pelan lalu menghampiri Luhan.

"berdiri!" perintah Sehun menendang sepatu Luhan pelan, tapi Luhan tidak bergeming.

"Luhan !"bentak Sehun dan menarik lengan Luhan paksa agar berdiri.

Luhan berdiri tepat di depan Sehun dengan wajah yang sudah di banjiri air mata.

"mengapa kau menarikku ? kau bilang kau tidak peduli padaku ! pergi ! biarkan aku disini sendirian di mangsa binatang buas! Pergi!" bentak Luhan yang masih terisak, ia berusaha melepaskan cengkraman Sehun di lengannya

Sehun ingin sekali tertawa kencang melihat Luhan yang sekarang jika saja keadaannya tepat, Luhan yang sekarang sangat berbeda dengan Luhan yang biasanya. Biasanya Luhan akan memperlihatkan sisi keras kepala dan sikap yang sangat berani di depannya, tapi sekarang Sehun sedikit tahu sifat Luhan yang sebenarnya penakut, manja, memiliki phobia dan sangat butuh perhatian, meskipun sikap keras kepalanya tidak berubah.

"lepaskan coatnya!" ucap Sehun mengabaikan gerutuan Luhan.

"selain ingin meninggalkanku kau juga berniat membiarkanku disini tanpa pakaian? Hiks... kau sangat berniat untuk membuatku menjadi santapan anjing liar ? hiks...kenapa kau tega sekali Sehun..."isak Luhan semakin keras

Sehun tidak mempedulikan isakan memilukan dari bibir Luhan, ia membuka coatnya yang di pakai Luhan sedangkan Luhan terlihat pasrah dan menangis semakin keras.

"naiklah ke punggungku, kau ikut turun bersamaku."ucap Sehun setelah membuka coat yang di pakai Luhan.

Luhan menatap Sehun bingung masih dengan air mata yang perlahan keluar tanpa bisa di cegah.

"tidak mau, aku takut!"sahut Luhan menggelengkan kepalanya lucu.

"aku janji kita akan selamat, jadi naiklah..."ucap Sehun yang sudah berjongkok di bawah Luhan

Luhan menatap ragu punggung Sehun, ia tak yakin bisa menuruni tebing dengan selamat, apalagi tanpa pengaman.

"mengapa kau melepas coatnya ? tubuhku terasa panas tersengat matahari"tanya Luhan merasa aneh.

"coat ini besar dan memiliki tali pinggang yang sedikit panjang, aku pikir ini bisa mengikatmu di punggungku selama kita menuruni tebing. Dan ini, pakai kemejaku!"jelas Sehun dan memberikan kemeja putihnya yang sudah ia lepas pada Luhan.

Luhan menerimanya dengan ragu dan memakainya, lalu dia segera naik ke punggung Sehun membiarkan Sehun melilitkan coat besar itu di sekitar tubuhnya dan tubuh Sehun.

Setelah merasa erat dan memastikan jika coat itu tidak lepas dengan mudah, Sehun segera berdiri sambil menahan berat badan Luhan di punggungnya.

"pegangan yang erat Lu, kau hanya perlu memejamkan mata dan membantuku sedikit nanti, jangan membayangkan hal yang tidak tidak agar phobiamu bisa sedikit teratasi, karena bagaimanapun juga ini pengalaman pertamaku menuruni tebing tanpa pengaman."ucap Sehun sebelum benar benar menuruni tebing dengan Luhan berada di punggungnya. Sehun bisa merasakan tubuh Luhan bergetar karena takut.

Sehun menghela nafas pelan lalu mengambil posisi untuk menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi itu, lalu Sehun pun benar benar turun. Ia membalik badannya menghadap tebing agar lebih mudah untuk merangkak dengan bantuan batu yang menonjol, sedangkan Luhan, ia merasakan jika kakinya tidak menapak apa apa dan itu membuat badannya lebih gemetar ketakutan.

"s..Sehun...k...kau yakin kita tidak akan mati disini?" tanya Luhan bergetar, ia tidak mau membuka matanya dan memeluk Sehun erat agar tidak terjatuh.

"entahlah.."jawab Sehun tak yakin karena otot tangannya mulai terasa kaku karena menahan berat badannya dan berat badan Luhan.

"S...Sehunnn..."rengek Luhan meminta kepastian, ia benar benar takut sekarang.

"kau hanya perlu membantuku dan tidak pingsan agar kita bisa selamat sampai bawah! Jika kau pingsan, aku tidak yakin bisa menahan berat tubuhmu."ucap Sehun, Luhan mengangguk.

"pegang ini dan tahan !"lanjut Sehun mengarahkan tangan kanan Luhan memegang tonjolan batu di depannya.

Luhan memegangnya dengan kuat sementara Sehun mencari tonjolan batu lain di sisi kanan kirinya, mereka terus melakukan itu hingga Luhan benar benar berada di atas ketakutannya membuat Sehun semakin panik.

"Luhan ! kumohon tetaplah kuat !"ucap Sehun saat ia merasa pegangan Luhan mulai mengendur.

"a..aku...tt..takut..sehunn..."jawab Luhan terputus putus.

Sehun dapat merasakan nafas Luhan yang semakin panas menerpa lehernya, dan juga keringan dingin Luhan yang terus menetes di bahu telanjangnya.

"ok...kau tidak perlu membantuku menahan tonjolan batu lagi, tapi kau harus janji tetap kuat dan berpegangan erat padaku, apa kau mengerti Luhan?"ucap Sehun ketakutan.

"hhaahh..."hanya helaan nafas lemah yang Luhan keluarkan untuk menjawab Sehun.

"Luhan!" panggil Sehun panik

"hmmm..."gumam Luhan mengeratkan pelukannya pada leher Sehun.

"bagus, tetaplah seperti itu hmm?"ucap Sehun lalu segera melanjutkan kegiatannya dengan cepat karena takut Luhan akan pingsan di tengah tebing.

Sehun terus berusaha, mengabaikan keringat yang mengguyur badannya dan membuat kulitnya memerah karena sinar matahari yang menusuk. Perlahan Sehun merasakan bebannya semakin berat dan Sehunpun melirik sedikit ke belakang untuk melihat Luhan.

"Luhan!"panggil Sehun

"hmm..."gumam Luhan pelan, sangat pelan.

"kau masih bertahankan?"tanya Sehun lagi, kali ini ia merasakan coat yang ia ikat di antara tubuhnya dan tubuh Luhan mengendur karena Luhan mulai menumpukan berat badannya pada Sehun sepenuhnya.

Ia tau jika coat ini tidak akan bertahan lama, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.

"Luhan!" panggil Sehun sedikit keras.

Tapi Luhan tidak menyahut sama sekali, Sehun menghela nafas kasar menyadari bahw Luhan benar benar pingsan. Ia melirik kebawah memastikan seberapa jauh ia akan turun.

"hahhh..." Sehun menghela nafas lega mengetahui bahwa posisinya sudah dekat dengan air suci itu.

"aku harap kau bertahan hingga kita sampai..."gumam Sehun pada coatnya yang mulai mengendur.

.

.

"tenanglah Baekhyun...jangan seperi ini"ucap Kyungsoo menenangkan Baekhyun yang terus menangis di pelukannya.

"katakan jika Chanyeol bukan kakakku Kyungsoo...hiks...sakit sekali"isak Baekhyun mencengram punggung Kyungsoo erat.

"hmmm...Chanyeol bukan kakakmu, dia kekasihmu"ucap Kyungsoo mengusap punggung Baekhyun yang bergetar.

"kyungsoo...hiks...aku mencintai Chanyeol, sangat mencintainya...hiks...bagaimana bisa dia mengatakannya dengan mudah...hiks...menurutmu apa dia masih mencintaiku? Hiks...dia jahat sekali padaku!"adu Baekhyun menatap Kyungso dengan mata yang sembab dengan buliran air mata yang menggenang di pelupuknya.

Sungguh Kyungsoo ingin menangis melihat keadaan Baekhyun si ceria menjadi seperti ini, ia kembali memeluk Baekhyun erat.

"dia sangat mencintaimu, kau harus yakin hmm..."ucap Kyungsoo, mesipun ia tidak tahu apakah Chanyeol masih mencintai Baekhyun.

Heechul mendengar semuanya, ia sudah berdiri di depan kamar anaknya dari tadi. Ia merasa sangat buruk tidak memberi tahu Baekhyun lebih awal jika nama kakaknya adalah Chanyeol, ia tidak bisa berbuat apa apa sekarang karena ia sudah menikah dengan Hangeng yang artinya Baekhyun sudah resmi menjadi adik tiri Chanyeol.

"eomma..."panggil Baekhyun saat Heechul masuk kedalam kamarnya.

Heechul duduk di sebelah kiri Baekhyun lalu memeluk anaknya, sedangkan Kyungsoo menggeser sedikit posisi duduknya.

"eomma sudah tahu hubunganmu dengan Chanyeol sayang..."ucap Heechul membuat Baekhyun semakin terisak.

"andai kau menunjukkan kekasihmu lebih awal, mungkin tidak akan sesakit ini..."lanjut Heechul lagi mengusap punggung anaknya yang bergetar hebat dengan isakan yang keras.

"eomma...apa yang harus kulakukan ? hiks...apa yang harus eomma lakukan ? mengapa kita seperti ini eomma hiks..."tangis Baekhyun menatap ibunya sendu

Heechul mengusap air mata Baekhyun penuh kasih sayang, ia mengecupi wajah anaknya yang sedang menangis.

"maafkan aku...tapi aku tidak bisa berbuat apa apa selain memisahkan hubungan kalian, kau tau kan jika eomma sudah menikah dengan ayah Chanyeol ? ku mohon mengertilah sayang..." ucap Heechul lembut.

"eomma! Hiks... aku sangat mencintai Chanyeol eomma...aku tidak bisa melakukan itu! Hiks...mengapa aku harus mengerti eomma jika eomma tidak bisa mengerti perasaanku!"teriak Baekhyun putus asa, ia memukuli lengan ibunya sambil menangis keras.

"Baekhyun..kau tidak boleh seperti itu, dia ibumu..."ucap Kyungsoo menahan tangan Baekhyun yang ingin memukul Heechul lagi.

"baekhyun ah... kalian tidak akan berpisah, bukankah Chanyeol itu kakakmu yang berarti dia adalah keluarga dekatmu, kau masih bisa dekat dengan Chanyeol..kami tidak akan membatasi kalian"ucap Heechul sedih melihat Baekhyun menangis seperti sekarang.

"bagaimana bisa aku bersikap seperti itu? Hiks..apa eomma mengijinkanku untuk mencium kakakku sediri ? hah..? kalau seperti itu aku akan melakukannya! Hiks..aku akan memanggilnya hyung lalu aku akan menciumnya kapanpun aku mau!" bentak Baekhyun tidak sabar.

"Baekhyun ah..."panggil Heechul sedih

"eomma tidak akan tahu sedalam apa aku mencintai Chanyeol...hiks hingga rasanya aku ingin mati jika berpisah dengannya...hiks...eomma! aku tidak bisa melihat Chanyeol bersama orang lain..hiks..tidak bisa!"

"Baekhyun..tenangkan dirimu, kau berdosa jika melawan ibumu"ucap Kyungsoo menenagkan Baekhyun yang hilang kendali.

"apa peduliku tentang dosa jika kebahagiaanku sudah di renggut seperti ini oleh orang tuaku sendiri? Hiks...coba jelaskan padaku Do Kyungsoo!" bentak Baekhyun.

"maafkan aku Baek, aku hanya tidak ingin kau seperti ini..maafkan aku"ucap Kyungsoo memeluk Baekhyun.

"aku membencimu eomma! Sangat membencimu! Kau tahu aku ingin menjemput appa sekarang juga! Pergi ! jangan menemuiku lagi!"teriak Baekhyun dalam dekapan Kyungsoo.

"Baekhyun..."lirih Heechul dengan mata berkaca kaca

Kyungsoo memberi isyarat pada Heechul agar meninggalkan kamar karena ia tidak tega melihat wajah terluka Heechul saat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Baekhyun, Heechul mengangguk lalu segera keluar.

"Baekhyun...tenanglah.."ucap Kyungsoo lagi

"hiks...aku membenci ibuku Kyungsoo! Aku hanya ingin Chanyeol...hiks...bagaimana ini ...?"isak Baekhyun semakin menjadi, kehadiran Heechul tidak membuatnya semakin baik, justru membuat amarahnya malambung.

"aku tidak mau melihat Chanyeol menganggapku sebagai adik dan mencintai orang lain Kyungsoo...hiks...aku tidak mau!"

"aku tahu perasaanmu..."

"apa kau mau membantuku Kyungsoo...untuk malam ini saja"ucap Baekhyun menatap Kyungsoo penuh harap.

"hmm...tentu, apa yang bisa ku bantu untuk sahabat baikku..."sahut Kyungsoo tersenyum manis sambil mengusap air mata Baekhyun yang membasahi pipi Baekhyun membuat Baekhyun tersenyum tipis.

"aku ingin tidur dengan Chanyeol malam ini, jadi bisakah kau tidur dengan Kai disini? Aku mohon"pinta Baekhyun.

Kyungsoo menatap ragu pada Baekhyun mengingat kejadian tadi pagi bersama Kai yang tidak begitu baik, tapi akhirnya Kyungsoo mengangguk demi sahabatnya.

"tentu saja, apapun untuk Baekhyunku..."jawab Kyungsoo

"tapi ada syaratnya"ucap Kyungsoo lagi

"apa?"

"kau harus tersenyum sekarang. Kau tidak boleh menangis...aku sangat sedih melihatmu menangis seperti itu"

"ehmmm...aku tidak akan menangis."jawab Baekhyun mantap mengusap kasar air matanya dan tersenyum pada Kyungsoo

"itu baru sahabatku dan satu lagi, kau tidak boleh membentak ibumu seperti tadi lagi, itu bukan perbuatan yang baik Baek..."

"entahlah...aku tidak bisa mengendalikan diri jika emosi, eomma tidak pernah menolak apa yang ku inginkan...tapi sekarang ia menolaknya, aku sakit hati!"jawab Baekhyun murung.

"baiklah baiklah...jangan bahas itu lagi, ayo kita keluar! Kita bersenang senang di kelas vocal karena sekarang kelas itu pasti sepi, dan kita membeli beberapa makanan untuk dibawa kesana !"ajak Kyungsoo semangat.

.

.

Chanyeol hanya memperhatikan sahabatnya yang sedang sibuk mengemas barang, sebenarnya Chanyeol bertanya tanya mengapa sahabatnya itu terlihat sangat sibuk. Awalnya ia berpikir jika Kai akan mengikuti lomba MMA dalam beberapa hari ini, tapi seingatnya perlombaan akan di adakan 1 minggu lagi.

"apa jadwal perlombaanmu di majukan?" tanya Chanyeol

"tidak"jawab Kai singkat.

Chanyeol mengernyit, ini bukan sikap Kai. Kai tidak akan meresponnya seperti ini sekalipun mereka terlibat dalam masalah, dan seingatnya akhir akhir ini ia tidak bertengkar dengan sahabatnya itu, bahkan tadi mereka masih saling memberi semangat.

"ada apa denganmu? Kau merahasiakan sesuatu? Dan tunggu! Mengapa kau mengemasi seluruh barangmu? Kau akan pergi?"tanya Chanyeol beruntun ketika menyadari bahwa Kai tidak hanya mengemasi barang barang kecil yang biasa di bawanya saat pergi lomba MMA di luar kota, melainkan semua pakaiannya pun sudah Kai keluarkan dari lemari.

Kai terdiam sejenak dan duduk di tepi ranjangnya, ia menatap seluruh barang yang telah ia kemas dalam koper dan tasnya.

"aku akan pergi Yeol..."gumam Kai pelan.

"apa?" tanya Chanyeol merasa kurang jelas dengan gumaman Kai.

"aku akan pergi ke Jepang berama orang tuaku"jawab Kai sambil menatap sahabatnya dengan senyum getir.

"kau bercanda? Kau tidak mengatakan apapun padaku beberapa hari yang lalu dan sekarang kau bilang akan pergi ke Jepang ? kau bermain rahasia denganku? Ini tidak adil, aku selalu menceritakan apapun padamu."ucap Chanyeol tidak terima.

"aku baru mengetahuinya tadi pagi, jadi tidak ada kesempatan untuk bercerita padamu. Anggap saja ini dadakan, akupun terkejut."sahut Kai mulai mengemasi barangnya yang lain.

"berapa lama?"tanya Chanyeol mulai membantu Kai memasukkan barang barangnya dalam tas.

"aku...mungkin aku menetap disana."jawab Kai ragu

"menetap? Bagaimana dengan sekolahmu ? perlombaanmu yang tinggal menunggu hari ? kau melepas kelas dance dan gelar MMA mu begitu saja? Kau sudah berjuang selama 1 tahun disini dan sekarang kau baru memulai semuanya, apa kau rela melepas impianmu hanya karena orang tuamu akan pindah ke Jepang? Tidak mauk akal sekali Kim Kai!"ucap Chanyeol menggeleng tak percaya.

"itulah yang kupikirkan beberapa jam lalu, haruskah aku mengikuti kedua orang tuaku? Tapi aku tidak punya pilihan lain, aku anak tunggal dan ibuku tidak akan pernah melepaskanku begitu saja. Sekolah disini saja membuatnya begitu khawatir, apalagi meninggalkanku dengan jarak negara? Mungkin ibuku hari ini sangat senang karena aku akan meninggalkan kelas MMA yang begitu ibu benci dan tinggal bersamanya. Awalnya aku ingin egois untuk tetap memilih menetap disini, tapi mengingat bahwa usia tidak bisa di tebak dan takdir kematian tidak bisa di elak membuatku memilih bersama kedua orang tuaku, karena aku takut tidak bisa membahagiakan mereka selagi mereka masih hidup. Bukankah ini sangat lucu Yeol? Pikiranku masih kekanakan sekali bukan ?"jelas Kai dengan senyum getir, jauh di lubuk hatinya, Kai tidak ingin meninggalkan sekolah yang ia tempati selama 1 tahun lebih ini.

"hmm...sangat lucu hingga aku tidak bisa tertawa"sahut Chanyeol tanpa menatap Kai, ia hanya memasukkan barang barang sahabatnya dalam diam.

"lalu bagaimana dengan Kyungsoo?"tanya Chanyeol

Kai merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menghela nafas, sementara Chanyeol hanya memperhatikannya menunggu jawaban.

"dia selalu menolakku bukan? Aku sudah mengatakannya lagi tadi pagi tapi dia menolakku, bahkan mungkin sekarang ia membenciku. Seandainya tadi pagi dia menerimaku, maka aku akan mempertimbangkan kepergianku. Berhubung Kyungsoo menolakku lagi, aku memilih untuk menyerah. Untuk apa aku memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak mau melihat sekeras apa perjuanganku untuknya ? Itu akan sia sia saja dan menghabiskan banyak waktu. Aku akan mencari seseorang yang dapat ku kejar di Jepang, mungkin orang Korea bukan jodohku, lagi pula ibuku benci gay hahaha..."jawab Kai dengan tertawa hambar.

"kau benar benar akan melepas Kyungsoo?"tanya Chanyeol memastikan

"jawabannya iya, jika Kyungsoo akan bahagia tanpa kehadiranku yang menurutnya pengganggu."jawab Kai.

"kau benar benar mencintainya ya?" tanya Chanyeol lagi merasa prihatin dengan sahabatnya, Kai tertawa kecil lalu duduk menatap Chanyeol.

"jangan urusi masalah percintaanku, pikirkan saja masalah hubunganmu dengan Baekhyun yang lebih rumit itu"jawab Kai menepuk bahu Chanyeol.

"aku berusaha tidak memikirkannya agar tidak terasa sesak, aku juga sama sepertimu. Menyerah demi kebahagiaan orang tua, lagipula aku tidak akan kehilangannya, dia akan menjadi adikku yang tentu saja harus kujaga."ucap Chanyeol mantap.

"baiklah...kita lupakan sebentar masalah kita, ayo ke caffe! Aku yang bayar kali ini! Sebelum orang tuaku menjemput."ucap Kai semangat, dan Chanyeol menyetujuinya.

.

.

Luhan mengerjapkan matanya dan kepalanya terasa pening, ia mencoba bangun dan menyadari bahwa ia berada di atas tubuh tengkurap Sehun. Dengan cepat Luhan beralih agar Sehun bisa bernafas dengan lega dan cepat bangun.

"Sehun!" Panggil Luhan menggoncangkan tubuh Sehun yang masih tengkurap, tapi Luhan tidak mendapatkan respon apapun.

Akhirnya Luhan membalik tubuh Sehun dengan susah payah, Luhan membelalakkan matanya tak percaya melihat wajah Sehun di penuhi dengan darah yang mulai mengering dengan luka di dahinya. Luhan menatap takut pada tebing di belakangnya membayangkan jika tadi mereka berdua terjatuh dari atas sana hingga membuat Sehun terluka, Luhan juga menyadari bahwa coat Sehun sudah tidak terikat dengan benar saat ia bangun tadi.

"Sehun..!" panggil Luhan lagi mulai takut, ia mengguncangkan tubuh Sehun sedikit keras, berharap jika Sehun akan segera bangun.

"Sehun...hiks...jangan mati!" ucap Luhan bergetar saat tubuh Sehun tidak meresponnya sama sekali.

"hwaaa...Sehun!"tangis Luhan pecah saat lagi lagi Sehun tidak meresponnya, ia takut Sehun mati dan menghantuinya nanti, Luhan juga takut tidak bisa pulang karena sekarang ia berada di bawah tebing bersama mayat Sehun.

Luhan terus menangis dengan keras seakan mengadu pada hutan dan tebing di belakngnya jika bukan dia yang menyebabkan kematian Sehun, Luhan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya dengan sangat lama hingga tidak menyadari bahwa Sehun mulai menggerakkan badannya.

Sehun mengerjapkan matanya kala mendengar suara tangisan seseorang yang sangat dekat dengannya, ia melihat Luhan yang menyembunyikan wajahnya sambil menangis keras di sampingnya.

Sehun berusaha bangun dan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, Sehun menyentuh bahu Luhan yang bergetar saat ia sudah berhasil duduk.

"Luhan...kau kenapa?"tanya Sehun heran, karena saat ia bangun ia malah mendapati Luhan yang menangis keras.

Luhan mengangkat wajahnya yang basah dengan hidung memerah, ia menatap Sehun tidak percaya.

"Sehun...! kau masih hidup?"tanya Luhan membuat Sehun semakin bingung, ia jadi berpikir jika Luhan sakit.

"t..tentu saja."jawab Sehun sedikit bingung.

"hwaaaa...aku pikir kau mati...hiks... darahmu begitu banyak...hiks...aku takut!" tangis Luhan memeluk Sehun erat, ia lega bahwa Sehun belum mati seperti pikiran konyolnya.

Sehun memperbaiki posisi mereka agar terasa lebih nyaman, dan berakhir dengan Luhan yang berada di pangkuan Sehun sambil memeluknya dengan tangis yang masih belum redah.

Sebenarnya Sehun sangat pusing mendengar tangisan Luhan yang begitu keras, tapi Sehun memilih diam dan mengusap punggung Luhan agar Luhan segera tenang.

Perlahan Luhan sudah mulai tenang, Luhan menyadari posisinya yang berada di pangkuan Sehun, Luhan juga menyadari bahwa ia memeluk tubuh Sehun yang tidak memakai pakaian. Memikirkannya membuat Luhan malu, dan Luhan merasa pipinya memanas.

"sudah baikan?"tanya Sehun mendapati Luhan yang sudah terdiam, hanya beberapa isakan saja yang masih terdengar.

Luhan benar benar malu sekarang, ia tidak tahu harus melakukan apa.

"Sehun.."panggil Luhan pelan

"hmm..."respon Sehun pendek.

"kau bau."ucap Luhan lalu segera berpindah dari pangkuan Sehun.

"tentu saja, aku belum mandi hari ini"jawab Sehun santai

Luhan yang sudah duduk disamping Sehun hanya mengangguk kecil, sungguh sebenarnya Sehun tidak bau, bahkan Luhan dapat mencium aroma maskulin dari tubuh Sehun tadi, Luhan hanya menjadikannya sebagai alasan.

"apa dahimu sangat sakit?"tanya Luhan

"dahiku?"tanya Sehun bali sambil memegang dahi sebelah kanannya.

"dahi sebelah kiri."ucap Luhan memberi tahu.

"ahh...pantas saja terasa sakit."balas Sehun sambil mengusap dahinya.

"ikut aku!"

Luhan menarik Sehun agar mengikutinya, sementara Sehun hanya mengikuti tanpa banyak tanya. Kemudian keduanya berjongkok di samping air yang mereka sebut air suci itu. Luhan membersihkan darah kering di sekitar wajah Sehun dengan air itu, sementara Sehun hanya diam memperhatikan wajah Luhan yang serius membersihkan wajahnya.

"apa sakit?"tanya Luhan saat ia mengusap dahi Sehun yang terluka.

"sedikit."jawab Sehun

Luhanpun melanjutkan kegiatannya dengan lembut, takut jika Sehun merasa kesakitan.

"luhan yang sekarang terlihat sangat cantik."ucap Sehun sambil menatap wajah Luhan yang menurutnya bersinar.

"Sehun yang diam dan tidak berkata kasar juga sangat tampan."balas Luhan, lalu keduanya terkekeh menyadari perkataan mereka yang konyol.

Sehun menangkup air dengan kedua tangannya lalu meminumnya, Luhan pun mengikuti karena merasa tenggorokannya sangat kering.

"aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kau harus janji untuk menjawab pertanyaanku dengan jujur."ucap Sehun saat keduannya sudah bersandar pada tebing.

"apa pertanyaanmu."balas Luhan

"apa yang terjadi padamu setelah perlombaan ? mengapa kau terlihat begitu marah? Apa kau tidak suka jika medalimu di sentuh orang lain?"tanya Sehun

Luhan diam sebentar, lalu menatap Sehun.

"apa aku harus menjawabnya?" tanya Luhan ragu

"tentu saja, kau sudah janji tadi."

FLASHBACK

Luhan tersenyum cerah sambil memegang medalinya erat, ia sangat bahagia karena pada akhirnya ia mendapatkan medali yang sangat ia harapkan. Luhan segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian basahnya, ia melihat senior dan juniornya disana.

Luhan menyapa mereka dengan sangat ramah,bahkan ini pertama kalinya Luhan bersikap seperti ini.

"kau terlihat sangat bahagia Luhan"ucap salah satu seniornya.

"tentu saja sunbae, aku mendapatkan medali yang sangat ku impikan."jawab Luhan mulai membuka loker untuk mengambil pakaian keringnya.

Sret...

"s..sunbae"panggil Luhan takut saat salah satu seniornya menghimpitnya.

"kau tahu Luhan seberapa lama aku mendambakan tubuhmu ketika meliuk di dalam air? Kau terlihat sangat sexy, bahkan aku sempat berpikir jika kau adalah mermaid yang terdampar, begitu indah."

"s..sunbae...apa yang kau lakukan?"Luhan memberontak ketika seniornya mulai mendekatkan wajahnya ingin mencium lehernya, bahkan yang lain hanya diam seolah disana tidak ada kejadian apa apa.

Luhan sangat panik dan meminta bantuan, tapi yang lain tidak mempedulikan, malah sebagian dari juniornya memilih pergi dari pada menolongnya, Luhan sungguh ingin menangis. Saat tangan seniornya mulai meremas pantatnya, Luhan dengan sekuat tenaga mendorong seniornya, ia memukuli beberapa seniornya yang menahan dirinya dan tetap ingin menyentuhnya hingga manajer membuka pintu mendapi Luhan sedang memukul salah satu Seniornya.

"Luhan! Apa yang kau lakukan?" teriak manajer.

"manajer, Luhan sangat mengerikan! Kami hanya ingin memegang medalinya, tapi dia malah memukul kami seperti itu...aku tidak tahu ada apa dengannya."adu salah satu senior membuat ludah Luhan terasa keluh hanya untuk menyangkal.

"ikut aku!"desis manajer mentap Luhan tajam, sedangkan seniornya hanya menatapnya remeh.

FLASHBACK OFF.

"Apa mereka berhasil mencium lehermu ?"tanya Sehun

"tidak, karena aku berontak. Aku sudah menjawabnya dengan jujur, jadi apa yang ingin kau katakan?"ucap Luhan

"medalimu ada padaku, kau menjatuhkannya saat aku menahanmu setelah kau berbicara dengan manajermu."

"b..benarkah?"tanya Luhan tak percaya

"hmm...sekarang ada di dalam lemari pakaianku di asrama, aku akan memberikannya setelah kita kembali."jawab Sehun.

"Sehun.."

"hm..."

"aku minta maaf telah menuduh orang tuamu saat itu"

"tidak masalah jika kau berjanji tidak akan mengulanginya."

"aku janji!"

"Sehun..." panggil Luhan lagi

"hm..."

"apa aku boleh tanya sesuatu? Jika kau tidak ingin menjawab tidak apa apa."

"tentang laki laki yang kusebut ibu kemarin?"tebak Sehun dan Luhan mengangguk

"ini rahasia, aku akan mengatakannya jika kau berjanji tidak akan membahasnya dengan siapapun."ucap Sehun

"hidupmu di penuhi dengan janji ya? Di film horror, orang yang banyak janji akan cepat mati."sahut Luhan ngeri.

"aku butuh kepastian, maka dari itu aku membuat janji. Kau tahu? Orang yang tidak memiliki kepastian akan lebih cepat mati dari pada orang yang membuat janji."balas Sehun membuat Luhan membelalakkan matanya, Sehun terkekeh kecil.

"aku janji!"sahut Luhan cepat.

"dia ibuku, laki laki yang datang bersama ayahku adalah ibu kandungku. Dan wanita yang mencacimu di ruang kepala sekolah itu istri ke 2 ayahku, kau tahu bukan seorang pebisnis seperti ayahku sangat di incar kecacatannya agar mudah di jatuhkan oleh publik ? Maka dari itu ayahku menikahi perempuan itu saat media mulai menyorotku, ayahku menikahinya diam diam dan mengatakan pada publik jika mereka sudah menikah sejak lama dan menghasilkanku yang pada saat itu sudah berusia 12 tahun. Bahkan ayahku berani memalsukan tanggal menikah mereka, aku sangat marah dan mengancam akan mengatakannya pada publik jika mereka menyakiti ibuku, tapi karena aku masih kecil, wanita itu meminta agar ayahku mengirimkanku ke Amerika dengan alasan agar media tidak terlalu menyorotku."jelas Sehun.

"apa ayahmu menyakiti ibumu?"tanya Luhan

"tidak, ayahku sangat mencintai ibuku dan ayahku membenci istri keduanya."

"lalu, apa yang membuatmu benci pada ayahmu?"

"aku kecewa karena ia memisahkanku dengan ibuku, aku juga kecewa saat melihat ibuku menangis di tengah upacara pernikahan ke2 ayahku. Aku merasa bersalah karena membencinya, jadi aku mau memanggil istri ke2nya dengan sebutan ibu hanya jika di depan publik, menurutku itu sudah impas."

"lalu apa status ibumu saat media mulai menyorot ibu kandungmu?"

"media tidak pernah menyorotnya, karena selama ini ibuku selalu berada di dalam rumah, itupun bukan rumah utama di Seoul karena rumah utama di tempati istri kedua ayahku yang berstatus istri satu satunya di depan publik. Pernah sekali media menanyakan siapa ibuku saat mereka berdua pergi makan malam untuk merayakan hari pernikahan mereka yang ke 15 tahun, tapi ayahku bilang jika ibuku hanya teman lamanya. Sejak saat itu, ibuku memilih diam di rumah bahkan untuk merayakan hari pernikahan mereka."jelas Sehun.

"dan juga aku minta maaf karena telah menghina orang tuamu."lanjut Sehun.

"tidak masalah, karena aku pun tidak tahu seperti apa wajah orang tuaku, aku hanya yakin jika aku pasti memilikinya. Kau harus bersyukur bisa melihat mereka, dan kau harus bersyukur karena mereka menyayangimu termasuk ibu tirimu."ucap Luhan tersenyum tulus.

.

.

"hati hati, jangan lupa menghubungiku jika sudah sampai di Jepang. Kau harus merindukanku !"ucap Chanyeol menatap tak rela pada sahabatnya yang tersenyum tipis.

Setelah mereka kembali dari caffe, mereka di kejutkan dengan bodyguard Kai yang sudah mengepak barang barangnya di dalam mobil, mereka bilang jika orang tua Kai sudah menunggu di dalam mobil.

"aku akan menghubungimu dan akan merindukanmu, jangan khawatir"kekeh Kai, meskipun Kai sendiri merasa berat untuk meninggalkan sekolah ini dan juga teman temannya.

"kau harus kembali! Kau tidak boleh menetap!" ucap Chanyeol memberi peringatan.

"aku akan mencari alasan untuk kembali, sampai berjumpa lagi yeol..."balas Kai lalu keluar dari asrama.

"Kai...!"

Kai menoleh ke samping kiri dan mendapati Kyungsoo yang berlari ke arahnya dari lapangan golf, Kai mulai berpikir bahwa Kyungsoo sangat terlambat untuk mencegahnya pergi karena barangnya sudah masuk kedalam mobil.

"kau sudah membaca pesanku?"tanya Kyungsoo dengan nafas memburu, Kai menatapnya bingung.

"kumohon...aku tahu jika kita tidak dalam hubungan yang baik, tapi.."

""sebentar.."potong Kai dan membuka pesan di ponselnya.

From : my Kyungsoo

Kai, aku tahu kita dalam keadaan yang tidak baik

Tapi bisakah kau membantu Baekhyun?

Untuk malam ini saja kau bertukar kamar dengan Baekhyun

Karena Baekhyun ingin tidur bersama Chanyeol, aku harap

Kau mengerti.

Kai menghela nafas kecewa, tidak sesuai harapannya. Ia pikir Kyungsoo sudah tahu jika ia akan pergi ke Jepang dan Kyungsoo datang untuk mencegahnya, tapi ternyata itu hanya sebuah harapan.

"kau tidak perlu khawatir,mulai malam ini aku tidak akan tidur di asrama lagi...jadi Baekhyun bisa bebas keluar masuk kamarku dan juga kamar Chanyeol."ucap Kai dingin.

"benarkah ? terimakasih Kai"sahut Kyungsoo senang dan langsung berlari kedalam asrama.

"bahkan kau sangat bahagia mendengar jika aku tidak lagi tidur di asrama. Hahh... sudahlah, memangnya apa yang kuharapkan dari Kyungsoo? Selamat tinggal cinta pertamaku"gumam Kai getir lalu segera melepas kartu ponselnya dan membuangnya sembarangan. Ia menghafal nomor telfon Chanyeol, jadi ia tidak perlu khawatir setelah membeli kartu di Jepang nanti. Kai pun segera keluar dari area sekolah, karena ia yakin orang tuanya pasti sudah mengatakan kepada kepala sekolah atas kepindahannya.

.

Chanyeol menaiki tangga dengan lesu lalu mencoba menghubungi Kai untuk menanyakan apa Kai masih berada di lingkungan sekolah atau sudah pergi.

"ck...bahkan nomornya sudah tidak aktif, padahal baru 10 menit kurang dia keluar."decak Chanyeol.

Cklek...

Chanyeol membuka pintu kamarnya dan menatap horror pada ranjangnya.

"b..baekhyun?"panggil Chanyeol ragu.

Sedangkan yang di panggil tersenyum manis dan segera menghampiri Chanyeol, ia bahkan menutup pintu kamar Chanyeol, membuat Chanyeol semakin bingung.

"apa yang kau lakukan dengan kemeja ku Baek?"tanya Chanyeol melihat Baekhyun hanya mengenakan kemejanya yang sangat kebesaran untuk tubuh kecilnya, dan jangan lupakan paha Baekhyun yang terekspos karena Baekhyun tidak memakai celana.

"apa ada yang salah? Aku sedang menggunakan kemeja kekasihku, bukankah itu hal yang wajar Yeollie..."tanya Baekhyun dengan wajah yang di buat polos

Baekhyun mulai memeluk tubuh Chanyeol dan mengusap punggungnya dengan gerakan sensual, sebenarnya Baekhyun tidak tahu dengan apa yang akan ia lakukan, ia hanya mengikuti kata kata Kai yang mengatakan bahwa Chanyeol sangat ingin melakukan hubungan dewasa, lagi lagi Baekhyun yang polos termakan kebohongan Kai.

"apa yang kau lakukan Baek? Lepaskan kemejaku! Kau tidak pantas memakainya."ucap Chanyeol

"kau memintaku melepasnya? Sekarang?" tanya Baekhyun dan bersiap siap untuk melepaskan kemeja milik Chanyeol.

"ada apa denganmu? Kau tahu jika perbuatan ini salah! Ganti pakaianmu dan jangan bersikap seperti itu karena aku tidak tergoda sama sekali! Jangan mempermalukan dirimu sendiri Baekhyun, sadarlah disini aku berbicara sebagai kakakmu."ucap Chanyeol frustasi melihat Baekhyun yang bersikap seperti ini.

"kakakku? Jadi kau ingin kita bercinta dengan peran kakak adik ? incest? Baiklah...aku akan menjadi adikmu yang penurut dengan mendesahkan nama kakakku berulang ulang nanti"sahut Baekhyun mulai duduk di tepi ranjang.

"kau gila Baek!"desis Chanyeol lalu segera keluar dari kamarnya.

Baekhyun terdiam menatap pintu yang di tutup dengan keras oleh Chanyeol, air mata pun lolos dari mata Baekhyun dan terus menerus seakan tidak bisa berhenti, sementara wajah Baekhyun tetap datar tanpa mengeluarkan isakan sedikitpun.

"mungkin sekarang kau memandangku rendah, aku laki laki murahan yang menginginkan kakak tirinya untuk bercinta, laki laki murahan yang sudah di tolak bahkan di hina...hahaha...aku laki laki yang tidak mempunyai harga diri...hiks..."guamam Baekhyun perih.

Sementara Chanyeol mendengarnya di luar sana, Chanyeol menatap miris pada pintu yang baru saja ia tutup dengan keras.

"bagaimanapun juga kau adalah adikku, maafkan aku Byun Baekhyun..."lirih Chanyeol lalu segera naik ke kamar Sehun dan Luhan karena kamar mereka kosong.

TBC

Maaf banget postnya lama, mungkin udah pada banyak yang lupa sama cerita ini. Tapi gak papa, dan terimakasih buat yang udah review, ngefollow bahkan memfavoritkan ff ini, terima kasih banyak.

Untuk yang tanya bagaimana cerita orang tua Luhan, di cerita ini gak akan di bahas sedikitpun. Karena disini karakter Luhan emang di buat gak pernah ngerasain bagaimana kasih sayang orang tua sejak kecil dan bagaimana wajah orang tuanya, anggap aja Luhan udah di telantarkan sejak masih kecil, nanti di chapter depan bakal di bahas mengenai masa lalu Luhan kok.

Dan buat yang minta Krisho moment, maaf di chapter ini gak di bahas sama sekali karena menurutku nanti keluarnya gak tepat, mungkin di chapter depan Krisho momentnya bakal keluar hehehe...tunggu aja.

Buat Chanbaek shipper, maaf ya nistain Chanyeol hehe.. Chanyeol gak benci kok sama Baekhyun, malah Chanyeol cinta banget sama si Baekhyun, tapi berhubung dia pingin ngebahagiain ayahnya jadi ia memilih untuk nyerah... lihat di chapter depan bagaimana kelanjutan hubungan Chanbaeknya

Dan juga buat Kaisoo shipper jangan sedih ya Kai nya di bawa pergi hehe

Hunhan momennya udah muncul tuh, dan sikap asli Luhan udah muncul di depan Sehun, berdoa aja biar sikap Luhan tetep kayak gitu di Chapter depan.

Nantikan moment mengejutkan di chapter depan!

Jangan lupa review ya^^ karena itu sangat membantu kelangsungan cerita, jadi aku bisa tahu pendapat para reader, kalau readernya seneng kan enak yang mau ngelanjutin ceritanya^^

MAAF KALO BANYAK TYPO T.T

Sekali lagi terimakasih buat para reader dan yang udah sempetin review^^