Previous.
Chanyeol menaiki tangga dengan lesu lalu mencoba menghubungi Kai untuk menanyakan apa Kai masih berada di lingkungan sekolah atau sudah pergi.
"ck...bahkan nomornya sudah tidak aktif, padahal baru 10 menit kurang dia keluar."decak Chanyeol.
Cklek...
Chanyeol membuka pintu kamarnya dan menatap horror pada ranjangnya.
"b..baekhyun?"panggil Chanyeol ragu.
Sedangkan yang di panggil tersenyum manis dan segera menghampiri Chanyeol, ia bahkan menutup pintu kamar Chanyeol, membuat Chanyeol semakin bingung.
"apa yang kau lakukan dengan kemeja ku Baek?"tanya Chanyeol melihat Baekhyun hanya mengenakan kemejanya yang sangat kebesaran untuk tubuh kecilnya, dan jangan lupakan paha Baekhyun yang terekspos karena Baekhyun tidak memakai celana.
"apa ada yang salah? Aku sedang menggunakan kemeja kekasihku, bukankah itu hal yang wajar Yeollie..."tanya Baekhyun dengan wajah yang di buat polos
Baekhyun mulai memeluk tubuh Chanyeol dan mengusap punggungnya dengan gerakan sensual, sebenarnya Baekhyun tidak tahu dengan apa yang akan ia lakukan, ia hanya mengikuti kata kata Kai yang mengatakan bahwa Chanyeol sangat ingin melakukan hubungan dewasa, lagi lagi Baekhyun yang polos termakan kebohongan Kai.
"apa yang kau lakukan Baek? Lepaskan kemejaku! Kau tidak pantas memakainya."ucap Chanyeol
"kau memintaku melepasnya? Sekarang?" tanya Baekhyun dan bersiap siap untuk melepaskan kemeja milik Chanyeol.
"ada apa denganmu? Kau tahu jika perbuatan ini salah! Ganti pakaianmu dan jangan bersikap seperti itu karena aku tidak tergoda sama sekali! Jangan mempermalukan dirimu sendiri Baekhyun, sadarlah disini aku berbicara sebagai kakakmu."ucap Chanyeol frustasi melihat Baekhyun yang bersikap seperti ini.
"kakakku? Jadi kau ingin kita bercinta dengan peran kakak adik ? incest? Baiklah...aku akan menjadi adikmu yang penurut dengan mendesahkan nama kakakku berulang ulang nanti"sahut Baekhyun mulai duduk di tepi ranjang.
"kau gila Baek!"desis Chanyeol lalu segera keluar dari kamarnya.
Baekhyun terdiam menatap pintu yang di tutup dengan keras oleh Chanyeol, air mata pun lolos dari mata Baekhyun dan terus menerus seakan tidak bisa berhenti, sementara wajah Baekhyun tetap datar tanpa mengeluarkan isakan sedikitpun.
"mungkin sekarang kau memandangku rendah, aku laki laki murahan yang menginginkan kakak tirinya untuk bercinta, laki laki murahan yang sudah di tolak bahkan di hina...hahaha...aku laki laki yang tidak mempunyai harga diri...hiks..."guamam Baekhyun perih.
Sementara Chanyeol mendengarnya di luar sana, Chanyeol menatap miris pada pintu yang baru saja ia tutup dengan keras.
"bagaimanapun juga kau adalah adikku, maafkan aku Byun Baekhyun..."lirih Chanyeol lalu segera naik ke kamar Sehun dan Luhan karena kamar mereka kosong.
.
.
.
.
.
.
LOVE ME RIGHT
.
.
.
Main cast: Sehun, Luhan, Kai, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun and other
Main pair: HunHan KaiSoo ChanBaek
Genre: Romance School life
Rate : T-M
Length: Chapter
YAOI. MPREG. Typo
.
.
.
.
Hari mulai gelap, Sehun dan Luhan masih berada di bawah tebing karena Luhan bilang dia masih gemetar menatap tebing itu, ia hanya takut pingsan lebih awal dan Sehun tidak mempermasalahkan itu.
"aku benar benar lapar"gumam Luhan mengusap perutnya, Sehun menatapnya.
"perutku kembung karena hanya kuisi dengan air..."lanjut Luhan.
"besok pagi kita pulang."sahut Sehun
"aku harap memang begitu."balas Luhan.
"Sehun!"
"hmm..."
"kau tidak kedinginan? Maksudku, kemejamu sedang ku pakai dan kau bertelanjang dada. Apa coatmu rusak parah ?"tanya Luhan.
"coatku robek dan itu sangat panjang karena sebelum aku jatuh coatnya tersangkut di batu. Tidak apa apa pakai saja kemejaku."jawab Sehun
"kita terjatuh setinggi apa tadi? Kau pasti tersiksa karena berat badanku"
"tidak tinggi, tinggal tiga langkah kita sudah sampai bawah, tapi berhubung lenganku tiba tiba kram jadi kita terjatuh, kau tidak terluka kan?"tanya Sehun.
"tidak, kau yang mendapatkan luka. Sehun jika kau kedinginan bilang saja, kita bergantian memakai kemeja ini." ucap Luhan, Sehun hanya mengangguk.
Keduanya kembali hening, menikmati pemandangan bintang dan bulan sambil bersandar pada tebing.
Sehun merasakan udara malam semakin menusuk dan ia melihat Luhan yang mulai terkantuk.
"Luhan..!"panggil Sehun
"ahh...apa kau kedinginan? Kita bergantian sekarang!"sahut Luhan cepat dan membuka kancing kemeja Sehun.
"tidak, jangan di lepas! Kau bia demam seperti semalam nanti"ucap Sehun.
"tapi kau kedinginan"balas Luhan.
Entah rasa benci Luhan pada Sehun meluap begitu saja mengingat bahwa Sehun selalu melindunginya selama perjalanan mereka, meskipun terkadang sikap Sehun sangat menyebalkan.
"duduklah disini!"ucap Sehun menepuk pahanya.
Luhan menatapnya terkejut, apa Sehun tidak salah bicara?
"kenapa ?tanya Luhan.
"aku kedinginan, jadi kau duduk disini agar aku tidak kedinginan."jawab Sehun.
"t..tapi.."gumam Luhan ragu.
"ahh...saku ingat! Korea sangat berbeda dengan Amerika, maaf memintamu melakukan hal seperti itu."ucap Sehun tersadar.
Luhan menghela nafas lega, mengetahui jika Sehun memintanya seperti itu karena kebiasaan orang Amerika. Luhan meruntuki pikiran bodohnya yang melayang kemana mana, ia harus menemui Kai nanti karena sudah membuat pikirannya seperti ini.
"tidak masalah, aku akan duduk disitu. Aku menghargai sikap orang Amerika, dan juga sebagai ucapan terimakasih karena kau meminjamkanku kemejamu." Sahut Luhan dan segera duduk di paha Sehun.
Luhan merasa canggung, dan ia ragu untuk menyandarkan tubuhnya pada Sehun.
"bersandarlah! Jangan sungkan, lagi pula terasa lebih hangat."ucap Sehun menyadari ke canggungan yang di rasakan Luhan.
Luhanpun menyandarkan punggungnya pada dada Sehun, tidak dapat di pungkiri, rasanya sangat nyaman, apalagi saat tangan Sehun melingkar di sekitar perutnya, Luhan tidak tahu mengapa jantungnya tiba tiba berdegup lebih kencang.
"nyaman sekali posisi ini..."gumam Sehun menyandarkan kepalanya pada dinding tebing, Luhan hanya diam.
"jadi status kita apa? Apa kita masih musuh?" tanya Luhan tiba tiba.
"hmm...terserah"jawab Sehun acuh, ia tidak mempermasalahkannya.
Luhan pun mengangguk, matanya terasa berat lagi dan ia memejamkan matanya karena tidak tahan, juga karena berada dalam pangkuan Sehun ia merasa lebih nyaman.
.
.
Baekhyun terbangun dari tidurnya, ia menatap sekeliling kamar dan tidak mendapati Chanyeol. Ia menghela nafas berat, mengetahui Chanyeol sekarang menolak untuk tidur bersama.
Baekhyun merasa kedinginan dan ia baru menyadari bahwa ia hanya memakai kemeja Chanyeol.
"astaga! Aku melupakan Luhan..."pekik Baekhyun, ia menatap jam yang masih menunjukkan pukul 3 pagi.
Baekhyun segera keluar dari kamar Chanyeol dan masuk ke kamarnya, ia mengernyit melihat Kyungsoo tidur sendirian. Dimana Kai? Apa tidur dengan Chanyeol dikamar lain?
Baekhyun tidak menghiraukannya lagi, Baekhyun segera masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnhya. Setelah itu ia memasukkan barang barang yang akan ia perlukan untuk menjemput Luhan, tak lupa juga Baekhyun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tebal.
Baekhyun membuka pintu lebih pelan karena takut mengganggu tidur Kyungsoo, ia berjalan ke arah dapur asrama untuk mengambil makanan dan minuman untuk Sehun dan Luhan.
Ia menghela nafas kecewa saat tidak ada makanan tersisah, ia hanya melihat beberapa roti tawar disana. Akhirnya Baekhyun mengambil roti itu dengan selainya juga 2 botol air putih, lalu ia segera memasukkannya ke dalam tas.
"sedang apa malam malam disini? Dan kau mau kemana membawa tas?"
Baekhyun terkejut dan segera menoleh ke arah pintu dapur, ia melihat Chanyeol yang sepertinya baru bangun tidur. Baekhyun tidak menjawab, ia hanya fokus memasukkan rotinya lalu segera keluar.
Chanyeol menahan lengan Baekhyun saat Baekhyun melewatinya, Baekhyun menatapnya tajam sementara Chanyeol hanya menatapnya datar.
"aku bertanya padamu!"desis Chanyeol.
"tidak ada alasan untuk menjawab pertanyaan orang asing sepertimu! Minggir !"ketus Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol dan segera pergi.
Chanyeol tidak bodoh, ia tahu Baekhyun akan mencari Luhan. Ia segera minum dan naik ke kamarnya untuk mengambil jaket dan tasnya lalu menyusul Baekhyun.
Baekhyun sudah memasuki hutan dengan bantuan lampu senter yang ia bawa, dari tadi ia merasa ada yang mengikutinya, dan ia tahu jika itu Chanyeol.
"berhenti mengikutiku! Kembalilah!"ucap Baekhyun tanpa menoleh ke belakang, ia hanya terus berjalan.
"ku bilang berhenti mengikutiku! Kau tidak punya alasan untuk tetap mengikutiku! Kau bukan kekasihku Park Chanyeol!" teriak Baekhyun saat ia masih merasa jika orang itu masih mengikutinya.
"aku punya alasan karena kau adikku, sebagai kakak aku akan melindungimu..."balas Chanyeol tenang, pria tinggi itu hanya mengikuti di belakang Baekhyun tak berniat untuk berjalan berdampingan karena ia tahu Baekhyun akan menolaknya.
Air mata Baekhyun menetes begitu saja mendengar ucapan Chanyeol, jadi benarkah jika sekarang dia adalah adik Chanyeol? Mengapa sulit sekali menerima status itu ? Baekhyun menangis dalam diam dan terus berjalan, ia sudah tidak peduli lagi jika Chanyeol terus mengikutinya.
.
.
Kyungsoo melakukan aktivitas paginya seperti biasa, tapi ia merasakan sebuah kejanggalan di pagi ini. Tidak ada Kai yang mengganggunya memasak, tidak ada Baekhyun yang menyapanya ,ahh...ia ingat jika Kai tidak tidur di asrama sekarang dan Baekhyun sedang dalam mood yang buruk.
"kenapa terasa sepi sekali..."gerutu Jenny
Kyungsoo mengambil duduk bersama teman temannya.
"aku dengar Baekhyun sudah putus dengan Chanyeol"ucap Dong Goo
"wahh...benarkah ? kenapa ? bukankah kemarin mereka masih baik baik saja ?"tanya Shannon terkejut.
"masalah keluarga katanya, aku tidak tahu mungkin Kyungsoo tahu."jawab Dong Goo
Yang lain langsung menatap Kyungsoo, sementara Kyungsoo menatap mereka bingung.
"apa ? aku tidak tahu apa apa mengenai hubungan mereka."ucap Kyungsoo berusaha menyembunyikan fakta berakhirnya hubungan sahabatnya.
"benarkah? Kau pasti tahu..."desak Sang Man.
"tidak, aku tidak tahu..."elak Kyungsoo tanpa menatap mereka yang meminta penjelasan.
"baiklah aku duluan, kelasku akan di mulai 5 menit lagi."sahut Nadet dengan senyum manis
Pria itu sudah memakai seragam olah raga khusus yang artinya ia akan masuk ke kelas MMA, semua tersenyum menanggapi atlet mereka.
"semangat hingga perlombaanmu!"ucap teman temannya.
"terimakasih"balas Nadet lalu segera berdiri dari tempatnya.
"kelasmu berakhir jam berapa ?"tanya Kyungsoo
"hanya 2 jam dan aku akan berganti kelas khusus bahasa Korea karena bahasa Koreaku masih tidak seberapa. Kenapa ?"balas Nadet.
"hanya bertanya."gumam Kyungsoo
Kyungsoo mulai berfikir untuk masuk kelas vokal pagi ini agar ia bisa keluar kapan saja, ia berniat menemui Kai. Ia baru ingat jika buku catatan matematikanya masih ada pada Kai dan kelas matematika akan di mulai jam 10 nanti.
Setelah makan Kyungsoo naik kelantai atas dimana kamar Kai dan Chanyeol berada, ia ingin mengantarkan sarapan untuk sahabatnya.
Tok..Tok..Tok...
Tidak ada sahutan, Kyungsoo mengetuknya lagi hingga berulang kali tapi tetap tidak ada sahutan, akhirnya Kyungsoo membuka pintu kamar itu.
Kyungsoo mengernyit bingung karena tidak mendapati Baekhyun dan Chanyeol di dalam sana, akhirnya Kyungsoo kembali ke kamarnya dan ia menyadari bahwa ransel Baekhyun tidak ada.
Baekhyun tidak mungkin pulang kerumahnya mengingat ia sedang marah pada ibunya, jadi Kyungsoo yakin jika sekarang Baekhyun sedang menjemput Luhan bersama Chanyeol.
"ternyata hubungan kalian membaik secepat itu, hanya dengan 1 malam. Hah...aku di tinggalkan mengapa Baekhyun tidak mengajakku ? jahat sekali.."gerutu Kyungsoo merasa kesal.
Kyungsoo segera bersiap untuk masuk ke kelas vokal, disana ia bertemu dengan Yesung guru vokal favoritnya.
"tidak biasanya kau datang lebih awal, dan dimana teman cerewetmu itu?" tanya Yesung yang sedang memainkan piano untuk mempersiapkan materi hari ini.
"dia sedang menjemput Luhan, makanya aku datang lebih awal karena kesepian. Bolehkah aku memainkan piano itu sebentar saem ?"
"tentu..."
.
.
"cepat dimakan, jangan bermain ponsel terus."tegur nyonya Kim-ibu Kai-
"hmm..."sahut Kai
"ini daftar sekolah terbaik di negara ini, kau bisa memilihnya lalu aku akan mendaftarkanmu secepatnya." Ucap pria tampan dan tinggi di depan Kai sambil menyesap kopi hangat.
Dia adalah Kim Woo Bin, dulu dia adalah aktor terbaik di Korea Selatan tapi setelah menikah ia memilih untuk menitih karir pada perusahaan ayahnya yang memang sudah di wariskan untuknya. Maka dari itu tak heran jika pria itu terlihat masih sangat tampan di umurnya yang sudah semakin tua, ketampanannya ia turunkan pada putra tunggalnya, Kim Jongin atau lebih akrab dengan sebutan Kim Kai.
"bolehkan aku memilihnya minggu depan ? aku masih terbawa suasana Korea, jadi aku ingin menghabiskan waktuku untuk beradaptasi dengan negara Jepang selama satu minggu kedepan."ucap Kai penuh harap.
"terserah..."jawab Woo Bin acuh.
Pria itu tidak mempermasalahkan apapun pilihan putra tunggalnya itu, ia sangat mempercayai putranya karena ia yakin jika putranya sudah dewasa, ia hanya perlu memantau dan meluruskan kesalahan putranya, tak lupa ia selalu menasehati Kai agar tidak bersahabat dengan dunia malam.
"terimakasih appa..."
Kai melanjutkan makannya, ia sedikit kehilangan nafsu makannya karena terus memikirkan Korea, terlebih Kyungsoo.
Ia sudah mencoba untuk melupakan segala hal tentang Kyungsoo sejak ia menaiki pesawat menuju Jepang, berharap perasaannya pada Kyungsoo akan ikut terbang melayang dari pikirannya, tapi itu sungguh tidak berhasil, ia sangat merindukan pria mungil bermata bulat itu.
Kai tidak terlalu akrab dengan ibunya, tapi ia sangat menyayanginya karena ibunya selalu memberi perhatian lebih tidak seperti ayahnya yang terlihat acuh. Tapi entah mengapa Kai lebih terbuka pada ayahnya, karena ayahnya akan menyetujui apa yang ia inginkan dan hanya akan meluruskan jika ke inginannya di anggap kurang baik, berbeda dengan ibunya yang akan mempermasalahkannya dan membahasnya menjadi lebih panjang.
"aku merindukanmu Kyungsoo..."gumam Kai pelan
Woo bin menatap putranya sekilas lalu kembali fokus pada laptopnya, ia hanya menemani putranya sarapan sebelum ia berangkat ke kantornya.
.
.
Suho berdiri di dekat jendela kamarnya, banyak pikiran sejak ia mengunjungi Sehun di tambah Kris harus pergi ke kantornya setelah mengantarnya pulang waktu itu hingga membuatnya menjadi sosok pendiam, para maid di rumah juga takut jika Suho akan jatuh sakit, karena jika itu terjadi tamatlah karir mereka.
Cklek...
Suho melirik sebentar ke arah pintu kamarnya dan mendapati Kris yang berdiri disana, tidak ada niat untuk menyambut, Suho justru kembali menatap keluar jendela.
Kris menghampirinya dan memeluk pinggang Suho erat, ia kecup rambut Suho berulang ulang.
"apa yang mengganggu pikiranmu? Para maid bilang jika kau susah makan"ucap Kris berusaha membalik tubuh Suho agar menatapnya.
"aku lelah..."gumam Suho menundukkan wajahnya.
Kris mengangkat dagu Suho agar menatapnya tapi Suho menolak.
"Kau kenapa?" tanya Kris lembut.
Ia menempelkan dahinya pada dahi Suho dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati mata Suho yang memerah dan sudah berkaca kaca, ia juga bisa merasakan dahi Suho panas.
"apa yang membuatmu lelah? Katakan padaku, aku akan mengurusnya"ucap Kris lagi.
Suho menjauhkan wajah mereka lalu menggeleng, ia menatap Kris dengan raut memohon.
"aku lelah hidup seperti ini, 4 tahun aku menahan rindu pada anakku, dan selama 4 tahun itu juga kau jarang bersamaku...aku kesepian Kris, rumah ini terlalu besar untuk satu orang, terlalu terang di siang hari dan terlalu gelap di malam hari. Aku pikir setelah Sehun kembali hidup kita akan membaik, tapi kenyataannya sangat pahit. Anakku tumbuh menjadi sosok yang keras kepala, aku tidak pernah melihatnya berbuat seperti itu pada orang lain, aku takut jika Sehun berubah menjadi orang yang kejam."Jelas Suho dengan suara bergetar.
Kris mendekap tubuh Suho erat, ia merasa sangat bersalah atas kejadian ini, ia tahu Suho pasti merasa sangat tertekan selama ini.
"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu jika semua ini membebani mu... katakan apa yang kau inginkan, aku akan mewujudkannya untuk menebus semua kesalahanku."ucap Kris menatap mata Suho yang sudah basah.
"Keluarkan Sehun dari sekolah itu, buat dia tinggal bersamaku dan aku mohon sempatkan waktumu untuk mengunjungiku tiap harinya...aku mohon Kris, aku merasa sangat gelisah sejak kita mengunjungi Sehun, aku merasa jika terjadi sesuatu padanya." Suho menatap Kris dengan tatapan memohon, tatapan putus asa.
"Aku akan membicarakannya dengan Sehun jika ada waktu, dan aku janji mulai sekarang aku akan menyisihkan waktuku untukmu, aku janji."Balas Kris tersenyum.
Suho langsung memeluk suaminya erat, ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Kris yang selalu memanjakannya, meskipun tidak bisa selalu bersamanya setiap hari.
"jangan menangis lagi, itu membuatku gila"ucap Kris mengusap pipi Suho lalu menautkan kedua bibir mereka, berbagi rasa cinta, rindu dan penyesalan yang mereka rasakan.
"mmphhh..." Suho melengguh saat Kris semakin merapatkan tubuh mereka, dan juga lumatan lembut yang Kris berikan untuknya.
Kris tersenyum setelah melepas tautan mereka, begitu juga dengan Suho yang wajahnya sudah memerah.
"Sudah merasa ringan dengan bebanmu?"Tanya Kris dan Suho mengangguk.
"ayo turun, maid bilang kau belum makan sejak tadi pagi dan kau harus minum obat, suhumu sedikit tinggi."Ajak Kris menarik tangan Suho.
.
.
Sehun terbangun dari tidurnya dan ia melihat posisi Luhan berpindah, Luhan sedikit memiringkan tubuhnya dan mendekap Sehun erat dengan kepala yang bersandar nyaman di dada Sehun.
Sehun menikmati pemandangan itu, menikmati wajah polos Luhan saat tidur dan harum rambut Luhan yang sangat manis padahal sudah 2 hari tidak mandi.
Sehun membelai pipi Luhan lembut, ia tidak tahu apa yang ia lakukan, ia hanya ingin membelainya.
"suhu tubuhmu naik lagi..."gumam Sehun merasakan hawa panas saat membelai pipi Luhan.
Luhan mengerjapkan matanya lalu mengusap matanya dengan gerakan lucu.
"apa aku mengganggu tidur mu?"Tanya Sehun
Luhan terkejut dan menjauhkan tubuhnya mengingat ia tengah bersandar pada Sehun.
"suhu tubuhmu naik lagi..."Ucap Sehun
"karena aku kelaparan, tubuhku lemas sekali." Balas Luhan yang kini duduk di samping Sehun.
"Jangan pingsan lagi, jika kau pingsan lagi kita tidak akan bisa pulang."
Luhan tertawa ringan
"aku heran, hubungan kita membaik di saat saat seperti ini."gumam Luhan
"Aku juga tidak tahu, aku pikir kau tidak seburuk saat pertama kali kita bertemu"Sahut Sehun.
Lalu mereka terdiam merasa canggung satu sama lain, Luhan menundukkan kepalanya yang terasa pening juga perutnya yang meronta minta di isi sejak kemarin, Sedangkan Sehun hanya diam menatap air suci di tengah sana sambil menahan rasa lapar, ia menunggu Luhan untuk kembali ke atas dan segera pulang.
"Luhan!"
Luhan dan Sehun mendongakkan kepalanya dan mendapati Baekhyun dan Chanyeol yang berdiri di atas tebing.
"Baekhyun ah..."Balas Luhan pelan karena ia merasa senang tapi juga merasa bersalah pada keluarga Baekhyun.
"tunggu disana! Aku akan turun..."pekik Baekhyun.
Baekhyun melihat tebing itu lagi dan ia bingung harus turun dengan apa, ia tidak akan bisa menuruni tebing itu tanpa pengaman, apalagi Baekhyun tidak pernah memanjat sebelumnya bahkan pohon di depan rumahnya.
"turunlah!"ucap Chanyeol yang sudah melemparkan tali ke bawah dan tak lupa ia mengikatkannya pada pohon disampingnya agar talinya bisa menahan beban.
Baekhyun menatap Chanyeol terkejut, bahkan Chanyeol lebih siap darinya. Tanpa menunggu lagi Baekhyun segera turun dengan tali itu di ikuti Chanyeol setelahnya.
Brukk...
"hah...lelah sekali" gerutu Baekhyun setelah sampai di hadapan Sehun dan Luhan.
"B..Baekhyun..."lirih Luhan dengan mata berkaca kaca.
"aku sangat mengkhawatirkanmu Luhan..."ucap Baekhyun segera memeluk Luhan erat.
"hiks...kenapa kau sangat baik padaku"isak Luhan dalam pelukan Baekhyun.
"aku yakin kalian tidak melakukannya, maafkan sikap appa...kau tetap saudaraku Luhan."
Chanyeol yang baru saja turun menatap heran pada Baekhyun dan Luhan karena mereka berdua menangis.
"mereka sedang main drama"sahut Sehun menjawab wajah bingung Chanyeol.
"makanlah! Kau pasti kelaparan"ucap Baekhyun membuka tasnya dan mengeluarkan roti dan selai yang ia bawa.
"terima kasih...aku lapar sekali, 2 hari ini aku tidak makan dan aku hanya bisa minum air itu."balas Luhan langsung mengambil roti yang di keluarkan Baekhyun dan mengoleskan selai di atasnya.
"air suci itu?"tanya Baekhyun terkejut dan Luhan mengangguk.
"tapi itu bukan air matang"gumam Baekhyun sedih
"tidak ada lagi yang bisa di minum dan juga tidak ada makanan."sahut Luhan.
"jadi...tidak ada makanan untukku?"tanya Sehun merasa di abaikan.
"ahh...ini makanlah, aku hanya membawa ini karena di dapur tidak ada makanan lagi, lagi pula aku tidak bisa memasak, maaf."sesal Baekhyun dan memberikan roti itu pada Sehun, Sehun pun langsung memakannya.
"kau tidak memberi selai di atas rotimu?"tanya Baekhyun menyodorkan selai strawberry pada Sehun.
"aku sudah dewasa, tidak ada selai dalam roti orang dewasa"jawab Sehun menolak selai yang di berikan Sehun.
"dasar pria tua..."cibir Luhan yang sudah mengambil beberapa roti lagi dan mengolesianya dengan selai Strawberry.
"kenapa kau hanya berdiri? Duduklah !"ucap Sehun yang melihat Chanyeol hanya berdiri di depannya, Chanyeol mengangguk lalu duduk di depan Sehun, dekat sekali dengan Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya diam.
"kalian berdua kenapa? Aneh sekali" tanya Luhan melihat Baekhyun dan Chanyeol yang saling diam.
"Sehun dahimu terluka!" pekik Baekhyun mengabaikan pertanyaan Luhan.
Luhan sendiri tidak mempermasalahkannya, dan lanjut makan.
Baekhyun mengeluarkan kotak P3K yang sengaja ia bawa untuk menganti sipasi.
Ia menuangkan alkohol pada kapas dan mulai membersihkan luka di dahi Sehun.
"apa sangat sakit?"tanya Baekhyun saat dahi Sehun mengernyit.
"hmm...sedikit perih"jawab Sehun.
"lukanya sedikit dalam, tapi tidak parah. Bagaimana bisa kau mendapatkan luka ini?"tanya Baekhyun lagi yang mulai meneteskan obat merah di dahi Sehun dan menutupnya dengan perban kecil.
"terjatuh dari tebing, kemungkinan seperti itu."jawab Sehun santai dan menikmati roti yang ia makan.
"apa ? Luhan, kau tidak terluka?"tanya Baekhyun khawatir.
"tidak, Sehun terluka karena menolongku"jawab Luhan
"aku tidak menolongmu, itu hanya kebetulan. Bukankah saat itu kau pingsan?"sahut Sehun.
"bahkan kau pingsan Luhan ?"pekik Baekhyun terkejut.
"aku pingsan karena pobia ketinggian, tapi manusia es itu tetap memaksaku ikut turun!"balas Luhan.
"kau sendiri yang menangis karena akan ku tinggal turun..."sahut Sehun.
"astaga... tapi hubungan kalian membaik, kemana coatmu Sehun? Bahkan Luhan sekarang memakai kemejamu."tanya Baekhyun.
"coatku rusak karena byi besar itu, aku meminjamkan kemejaku karena dia demam 2 hari ini."jawab Sehun.
"aku bukan bayi brengsek! Mengapa kau mengataiku seperti itu?"teriak Luhan tidak terima.
"Baekhyun, seharusnya kau tidak perlu membawa makanan, energinya membaik dan dia lupa siapa yang menolongnya selama d hutan ini, ckck...aku menyesal, bahkan dia sudah kembali mengumpat padaku. Kembalikan kemejaku!"decak Sehun menggelengkan kepala.
Luhan mengerucutkan bibirnya kesal dan mendekap tubhnya erat agar Sehun tidak mengambil kemejanya. Mereka bertiga terkekeh melihat tingkah Luhan.
"kenapa kau diam saja? Siapa namamu?"tanya Sehun pada Chanyeol
"Chanyeol..."
"emm... Chanyeol, berarti kau kekasih Baekhyun."ucap Sehun
Chanyeol dan Baekhyun hanya diam tak menjawab, membuat Sehun bingung.
"apa aku salah? Seingatku orang orang di sekolah bilang jika Baekhyun kekasih Chanyeol, mungkin bukan Chanyeol dirimu."gumam Sehun
"aku kakaknya"jawab Chanyeol membuat Baekhyun merasa sakit lagi.
"kakak?"tanya Luhan tak terima.
"minumlah! Setelah itu kita naik dan segera pulang."ucap Baekhyun mengabaikan topik mereka dan menyodorkan 2 botol pada Sehun dan Luhan.
"bagaimana ini? Aku takut ketinggian."gerutu Luhan saat mereka sudah bersiap untuk naik.
"naik ke punggungku lagi?"tawar Sehun
"tidak! Kau pasti lelah."tolak Luhan.
"naik ke punggung Chanyeol saja, aku akan naik lebih dulu lalu Chanyeol dan Luhan setelah itu Sehun. Bagaimana? Kalian setuju?"usul Baekhyun.
"kau tidak cemburu?"tanya Luhan menggoda Baekhyun.
"itu tidak penting sekarang Lu, baiklah...aku akan naik lebih dulu."jawab Baekhyun lalu segera naik.
"kalian berdua aneh."decak Luhan.
"cepat naik ke punggungku, kita akan segera naik. kau harus memelukku erat karena tidak ada bantuan lain."sahut Chanyeol.
Luhan mengangguk dan segera naik ke punggung Chanyeol lalu memeluknya erat.
"jangan pingsan, kau akan menyusahkannya!" pesan Sehun saat Chanyeol mulai naik.
"jika aku jatuh kau harus menangkapku!" teriak Luhan kesal
.
.
Kyungsoo berdiri di depan pintu kelas MMA, ia menunggu Kai keluar hingga ia kebosanan dan kesal karena Kai tak kunjung keluar, padahal beberapa anak lainnya sudah mulai keluar sejak tadi.
"Kyungsoo, sedang apa disini?" tanya Nadet yang baru keluar dari kelas.
"apa di dalam masih ada orang?"tanya Kyungsoo balik.
"hanya pelatih, memangnya ada apa?"tanya Nadet bingung.
"apa Kai sudah keluar? Aku menunggunya dari tadi."jawab Kyungsoo.
"Kai? Bukankah dia sudah keluar dari sekolah sejak kemarin sore?"tanya Nadet membuat Kyungsoo terkejut.
"apa? Keluar dari sekolah?"pekik Kyungsoo tak percaya.
"hmmm...kemarin sore presdir Kim mengurusnya dan Kai resmi pindah, aku tidak tahu ia melanjutkan kelasnya atau tidak."balas Nadet.
"apa kau tahu dia akan pindah ke sekolah mana? Atau alamat rumah Kai ?"tanya Kyungsoo penuh harap.
"alamat rumahnya aku tidak tahu, lagi pula mereka akan pindah ke Jepang kan, mungkin mereka sudah berangkat ke negara sebelah. Aku pergi dulu Kyungsoo, kelas bahasa Koreaku akan dimulai 20 menit lagi."jawab Nadet menepuk bahu Kyungsoo dan pergi.
Kyungsoo mematung di tempat mendengar penjelasan dari Nadet, benarkah Kai pindah ke Jepang kemarin sore?
"kau tidak perlu khawatir,mulai malam ini aku tidak akan tidur di asrama lagi...jadi Baekhyun bisa bebas keluar masuk kamarku dan juga kamar Chanyeol."
Kyungsoo baru sadar dengan ucapan Kai kemarin sore yang mengatakan jika ia tidak akan tidur di asrama lagi, jadi ini yang maksud Kai ?
Kyungsoo segera berlari menuju kamar Kai dan Chanyeol, ia tidak peduli tentang etika memasuki kamar orang, ia membuka lemari sebelah kanan dan menemukan setumpuk baju baju milik Chanyeol, lalu ia beralih pada lemari sebelah kiri.
Kyungsoo meneteskan air matanya saat melihat lemari itu kosong, ia menatap meja belajar di dekatnya yang juga kosong berbeda dengan milik Chanyeol yang di penuhi dengan buku dan alat tulis lainnya.
Kyungsoo terduduk lemas di atas ranjang milik Kai dan terisak disana, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu dengan posisi tengkurap berusaha menangkap aroma tubuh Kai yang tiba tiba sangat ia rindukan.
"Kyungsoo! Aku mohon kali ini jangan menolakku!"
"Kyungsoo, aku mohon. Aku harus mendengar jawabanmu agar aku memiliki alasan untuk bertahan."
"mengapa kau melakukan ini padaku Kai? Hiks...mengapa?"desis Kyungsoo
Ia kembali teringat ucapan Kai kemarin pagi yang meminta agar segera menerimanya, ia sadar mungkin Kai melakukan itu karena Kai berusaha untuk tetap bertahan di sekolah ini demi dirinya, tapi apa? Dia malah menolak Kai mentah mentah. Dan sekarang ini yang ia rasakan, penyesalan yang teramat.
Ini salahnya, bukan salah Kai. Ia terlalu menggantungkan perasaan Kai begitu lama, ia menyesal tidak mempercayai perasaan Kai padanya selama ini dan ia menyesal telah kehilangan pria yang amat sangat ia cintai.
Kyungsoo merogoh saku celananya dan menekan pada nomor Kai, berusaha menghubunginya, tapi yang ia terima hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang ia tuju sudah tidak aktiv lagi
"Brengsek kau Kim Kai! Hiks... mengapa kau pergi tanpa mengatakannya padaku! Hiks...bahkan kemarin sore kau membiarkanku tidak tahu mengenai kepergianmu! Kau...hiks...harus kembali brengsek! Arghhh...!"teriak Kyungsoo frustasi, ia menarik rambutnya sendiri kuat kuat dan menangis kencang dalam kamar Kai dan Chanyeol, tidak peduli jika ia telah melewatkan pelajaran vokal favoritnya, ia hanya berharap Kai kembali dan memeluknya lalu berkata jika ia tidak akan pindah.
.
.
"bukankah itu Sehun dan Luhan? Baekhyun dan Chanyeol menjemput mereka!" pekik siswa siswi yang sedang bermain golf
"benar itu meraka! Semuanya! Sehun dan Luhan kembali!" teriaksalah Dong Goo
Semuanya langsung berlari ke lapangan golf termasuk guru guru yang mendengarnya, menyambut kedatangan Sehun dan Luhan.
"kalian kembali dengan selamat.."ucap Daniel, guru bahasa Jerman mereka.
"ehmm...karena bantuan Baekhyun dan Chanyeol."jawab Luhan, ia merasa terharu karena di sambut hangat dengan teman teman dan gurunya.
"kami percaya bahwa kalian tidak akan melakukannya, mungkin pengurus asrama hanya salah paham. Mengingat hubungan kalian berdua tidak terlalu baik."ucap Shannon merasa menyesal karena kemarin ia sempat mencurigai keduanya.
"mungkin mereka berpura pura menjadi musuh di depan kita, siapa tahu jika mereka memang seperti itu jika di dalam kamar mereka."sahut Top, pria bertubuh tinggi dengan sorot mata tajam, Sehun ingat jika anak ini berada di kelas Basket bersamanya, atau dia kapten basketnya ? entahlah, Sehun tidak mau mengurusinya.
"ucapanmu menarik juga."desis Sehun melewati Top dengan sengaja menabrak bahunya kasar.
Yang lain hanya menatap mereka bingung, tapi mereka tidak mempermasalahkannya dan kembali ke tempat masing masing, Luhan membungkuk sopan saat melewati Top tapi Top memegang lengannya saat ia tepat berada disamping Top.
"bagaimana rasanya bercinta di dalam hutan? Apa sangat nikmat? Kapan kapan aku juga ingin merasakan tubuhmu, aku harap Sehun mau berbagi."bisik Top membuat Luhan marah.
"berhenti bicara omong kosong, aku sudah berusaha bersikap sesopan mungkin di hadapanmu dan jangan bicara denganku karena aku sama sekali tidak berniat untuk mengenalmu! Dan ingat! Aku bukan laki laki murahan seperti yang kau ucapkan."geram Luhan menghempaskan tangan Top kasar.
Top tertawa remeh setelah Luhan berhasil melewatinya.
"jika kau mengganggu saudaraku, aku tidak akan segan segan mengeluarkanmu dari sekolah ini. Sekolah ini tidak butuh manusia brengsek sepertimu!" ucap Baekhyun kesal, Top hanya mencibir lalu membungkuk hormat pada Baekhyun.
Baekhyun mendengus kesal mendapatkan perlakuan seperti itu, ia tahu Top baru saja menghinanya.
Chnayeol hanya berjalan melewati Top dan langsung masuk ke dalam asrama karena ia merasa sangat lelah setelah menggendong Luhan.
Chanyeol segera naik ke kamarnya dan ia cukup terkejut mendapati Kyungsoo yang terduduk di atas ranjang milik Kai, dan Kyungsoo mendongak menyadari kehadirannya.
"Kyungsoo, apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol saat menyadari raut wajah Kyungsoo yang terlihat sangat terpukul.
"Chanyeol, apa kau memiliki no. Ponsel Kai yang aktif?"Tanya Kyungsoo dengan suara bergetar.
Chanyeol tidak menjawab, Kai baru saja mengiriminya pesan.
"Chanyeol..."panggil Kyungsoo dengan tatapan memohon.
"Aku memilikinya..."Jawab Chanyeol sedikit ragu.
"boleh ku pinjam ponselmu?" Kyungsoo berjalan mendekati Chanyeol yang masih berdiri di dekat pintu yang sudah tertutup.
"untuk apa?"
"Kai...ku mohon Yeol" lirih Kyungsoo
Chanyeol merasa sangat iba melihat wajah Kyungsoo yang sekarang, setahunya Kyungsoo sangat tidak menyukai kehadiran Kai, atau mungkin Kyungsoo menyesal? Chanyeol memberikan ponselnya yang sudah ia hubungkan pada Kai.
Kyungsoo menunggu dengan sabar dan menempelkan ponsel Chanyeol pada telinga kirinya.
"ada apa yeol?kau benar benar merindukanku ya? Maaf aku baru bisa menghubungimu, aku baru saja..."
"brengsek..."desis Kyungsoo memotong pembicaraan Kai, air matanya mengalir mendengar suara Kai.
"maaf, apa baru saja kau menghinaku? Ada apa denganmu Yeol?hubunganmu dengan Baekhyun semakin buruk?" Tanya Kai terkejut
"Kembalikan buku Matematika ku Kim Kai! Mati kau jika dalam minggu ini tidak mengembalikannya! Aku tidak ingin paket, aku ingin kau sendiri datang dan memberikannya padaku, dan juga kau harus datang pada perlombaanmu! APA KAU MENGERTI KAI?" bentak Kyungsoo membuat Kai yang berada di sebrang sana terkejut, sama halnya dengan Chanyeol yang berada tepat di depan Kyungsoo.
"k..Kyungsoo?"gumam Kai tak percaya.
"ya, ini aku Kyungsoo. Kau dengar bukan? Aku akan membunuhmu jika kau tidak mengembalikan buku matematikaku dan tidak mengikuti perlombaanmu!"desis Kyungsoo tajam.
"t..tapi aku sudah keluar dari sekolah, aku..."
"aku tidak peduli!kau harus kembali!"bentak Kyungsoo sebelum memutuskan sambungan dan mengembalikan ponsel Chanyeol pada pemiliknya yang masih tercengang.
"terimakasih...maaf membuat keributan."ucap Kyungsoo dan membuka pintu kamar Chanyeol, tapi sebelumnya Chanyeol menahan lengan Kyungsoo.
"apa buku matematikamu sangat penting?"tanya Chanyeol.
"aku harus berkata apa pada Kyuhyun saem jika bukuku tidak ada? Semua catatan disana sangat penting."jawab Kyungsoo lalu segera keluar.
"Hanya ingin mengambil buku harus semarah itu? Kyungsoo benar benar menyeramkan Kai."Gumam Chanyeol bergidik ngeri.
.
.
"kau? Apa yang kau lakukan disini?"Tanya Sehun saat mendapati Jessica berada di kamarnya.
Plak...
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Sehun hingga memerah, Sehun membelalakkan matanya terkejut.
"Ya! Apa yang kau lakukan?"bentak Sehun merasa tak terima.
"Beraninya kau membentakku Oh Sehun! Kau pikir aku melakukan itu tanpa alasan? Bagaimana bisa kau melakukan hal yang tidak tidak pada roommate mu? Bagaimana jika ayahmu tahu? Bagaimana jika publik tahu? Hasil kerja keras ayahmu akan jatuh Oh Sehun! Aku tahu kau sangat membenci Kris, tapi aku tidak pernah berpikir jika kau akan melakukan tindakan sejauh ini! Kau pikir kau bisa melakukan apa saja seperti aktifitas orang Amerika hah?jawab aku Oh Sehun!" bentak Jessica kehilangan kesadaran.
Sehun sedikit menyeringai mendengar amarah Jessica, ia ingin sekali tertawa atas apa yang di katakan Jessica mengenai dirinya, jadi sedikit bermain main tidak masalah bukan?
"Karena sudah 4 tahun lamanya aku terbiasa hidup dengan pergaulan orang Amerika jadi setelah kembali ke Korea aku sedikit merindukannya, aku tidak melakukan hal lebih, hanya sedikit menyentuhnya kupikir itu bukan kejadian yang fatal"Tantang Sehun menjawab perkataan Jessica.
Jessica mulai naik darah, ia menatap Sehun dengan tatapan penuh kekesalan.
"kau tahu? Setiap kesalahan pasti ada hukuman, dan kau sudah membuat kesalahan Oh Sehun, kau tahu maksudku bukan?"
"hukuman? Kau ingin mengembalikanku lagi ke Amerika bersama kakak brengsekmu itu?"Cibir Sehun, Jessica justru menyeringai.
"Bukan kau..."ucap Jessica menatap Sehun.
"tapi ibumu, kupikir ibumu butuh hiburan. Dan mungkin itu akan membuatmu jera."lanjut Jessica.
"Sekali kau menyentuhnya, ku potong kedua tanganmu! Lagi pula kau tidak akan bisa membawa ibuku karena Ayahku akan melindunginya"desis Sehun.
"Benarkah? Dulu ayahmu sangat menyayangimu tapi pada akhirnya dia mengirimmu ke Amerika padahal pada saat itu kau masih kecil,kau tahu karena apa? Itu karena Nenekmu sangat menyukai ku dan akan mempercayai setiap kata yang keluar dari mulutku, cucu tersayangnya saja berani ia lepas, bagaimana dengan orang yang di benci seperti ibumu? Nenekmu akan sangat mendukungku."ucap Jessica masih dengan seringaiannya
Sehun tahu, neneknya sangat membenci ibunya karena ibunya laki laki yang menjadi sebuah aib besar bagi keluarga ayahnya, dan juga pernikahan ayahnya dengan Jessica adalah hal yang paling neneknya dambakan, bahkan neneknya rela melakukan apapun pada saat itu.
"Ayahku akan lebih mempercayaiku! Dasar wanita licik, menjijikkan."Maki Sehun, ia sudah membuat sifat asli Jessica keluar, dan ia sedikit menyesalinya karena bermain main dengan wanita licik di hadapannya yang menyandang status sebagai ibu tirinya.
"Kita lihat hukuman apa yang menantimu setelah menghinaku Oh Sehun"Bisik Jessica dengan seringaian yang masih bertahan di wajahnya.
"Keluar!"ucap Sehun datar.
Jessica menuruti dan segera keluar, tapi sebelum ia membuka pintu, seseorang sudah membukanya terlebih dahulu dari luar.
Keduanya sama sama terkejut dan saling tatap, Jessica memperhatikan kemeja Luhan yang ia ketahui jika kemeja itu milik Sehun karena kemeja itu adalah pemberiannya dan edisinya sangat terbatas karena kemeja itu ia beli asli dari Paris.
" jadi kau roommatenya ?"ucap Jessica pada Luhan yang masih berdiri kaku di depannya
"Murahan, laki laki rendahan dan tidak tahu malu!" desis Jessica lalu segera keluar dan dengan sengaja mendorong bahu Luhan kasar, membuat Luhan sedikit meringis sakit.
Luhan segera masuk dan langsung menangkap medali yang Sehun lemparkan padanya.
"ohh...terimakasih"ucap Luhan menetralkan rasa terkejutnya, lalu ia menatap medalinya dengan tatapan bahagia.
Sehun menutup pintu kamar mandi itu dengan kasar, membuat Luhan kembali terkejut, pasti ada masalah karena ibu tiri Sehun baru saja berkunjung dan menghinanya.
.
.
"jadi kau sudah putus dengan Chanyeol? Bagaimana bisa?"tanya Luhan terkejut, ia duduk di atas ranjang milik Baekhyun dengan Baekhyun yang duduk tepat di sampingnya.
"aku tidak tau harus bicara apa, tapi yang pasti Chanyeol adalah anak dari kepala sekolah, kau tahu? Hangeng appa bukan ayah kandungku, ibuku baru menikah dengannya tepat satu tahun yang lalu, dimana pada saat itu aku juga baru menjalani hubungan dengan Chanyeol, sialnya aku tidak tahu jika Chanyeol adalah kakakku karena Chanyeol tidak pernah datang di acara pertemuan keluarga. Menurutmu apa Chanyeol sengaja melakukan ini Luhan ? apa karena ia tidak bisa mencegah pernikahan ayahnya, dia beralih menyakitiku sebagai umpan agar eomma merasa terbebani? Aku sudah memikirkannya berulang kali hingga kepalaku pusing, tapi aku tidak menemukan jawaban sama sekali,apa lagi mengingat bahwa Chanyeol sekarang menghindari kontak fisik denganku, ia hanya akan menganggapku adik Luhan, padahal aku masih sangat mencintainya hingga aku rela bertengkar dengan eomma."jelas Baekhyun dengan tatapan kosong.
Luhan mengusap punggung Baekhyun, ia ikut merasakan sakit yang Baekhyun rasakan, ia juga belum mengenal Chanyeol lebih dalam jadi ia tidak tahu bagaimana sifat Chanyeol yang sebenarnya, dengan Baekhyun saja ia masih beradaptasi.
"jangan terlalu di pikirkan Baek, aku tahu ini sulit bagimu. Tapi percayalah, tuhan pasti sudah merencanakan ini semua dengan rapi dan menjanjikan kebahagian pada makhluk ciptaannya, kau hanya perlu menunggu kapan kebahagiaanmu datang. Sama sepertiku, aku sudah bertahun tahun menunggu kebahagiaanku hingga sekarang. Jadi kau tak perlu bersedih, ada aku disini yang sama sepertimu."ucap Luhan berhasil membuat Baekhyun sedikit menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.
Cklek...
Mereka berdua mengalihkan pandangannya pada sosok Kyungsoo yang baru saja membuka pintu, Baekhyun langsung menatap Kyungsoo aneh saat menyadari raut wajah Kyungsoo berbeda dan tampak murung.
"Kyungsoo, kau dari mana? Ada apa dengan raut wajahmu?"tanya Baekhyun khawatir, Kyungsoo langsung memeluknya erat membuat Baekhyun dan Luhan bingung.
"aku mencarimu, kau tidak ada saat aku bangun tadi. Menyebalkan sekali! Pagiku terasa sangat sepi"rajuk Kyungsoo dengan suara bergetar.
Baekhyun menjatuhkan rahangnya saat mendengar ucapan Kyungsoo, hanya itu ? tidak mungkin, Kyungsoo tidak akan sesedih ini jika ia tinggal, bahkan ia sering pulang tapi Kyungsoo tidak mempermasalahkannya.
"sebenarnya ada apa? Kau tidak bisa membohongiku Kyungsoo."ucap Baekhyun membuat tubuh Kyungsoo semakin bergetar.
Luhan menatap Baekhyun bingung dan di balas gelengan lemah dari Baekhyun, Baekhyun melepaskan pelukan Kyungsoo dan menatapnya.
"jangan menangis, ceritakan padaku ada apa ? kemarin kau menyuruhku untuk tersenyum, tapi sekarang kau malah menangis di depanku, itu tidak adil."ucap Baekhyun mengusap air mata sahabatnya.
Kyungsoo melirik Luhan sebentar lalu menatap Baekhyun lagi.
"tidak apa, Luhan bukanlah orang yang bermulut besar. Bukankah kita sahabat? Jadi Luhan juga sahabatmu karena dia saudaraku."ucap Baekhyun. Luhan hanya tersenyum kecil pada Kyungsoo merasa tak enak.
"Kai..."gumam Kyungsoo.
"Kai ? ada apa dengannya? Apa dia menyakitmu ? atau dia menggodamu hingga membuatmu kesal?" tanya Baekhyun tidak sabar.
"dia pindah...sejak kemarin sore. Bagaimana bisa dia meninggalkanku begitu saja Baek? Dia tidak mengatakan apapun atas kepergiannya padaku, mengapa Kai jahat sekali padaku? Dia meninggalkanku di saat aku mulai meletakkan hati padanya... bagaimana bisa dia sekejam itu? Bahkan dia mengganti no. Ponselnya tanpa berniat untuk menghubungiku, kupikir dia memang benar benar mencintaiku, ternyata aku salah...aku hanya mainan baginya! Ini keterlaluan Baek!"jelas Kyungsoo dengan suara bergetar menahan tangis, lalu setelahnya ia benar benar menangis di hadapan Baekhyun dan Luhan.
Baekhyun dan Luhan terkejut mendengar ucapan Kyungsoo, benarkah Kai pindah ? secepat itu?
"dia pindah kemana Kyungsoo ? apa kau tau?"tanya Baekhyun sambil mengusap punggung sahabatnya.
"hiks...aku tidak tahu, pasti...hiks...Chanyeol yang tahu...dia menghubungi Chanyeol, tapi tidak menghubungiku..."jawab Kyungsoo.
"Kyungsoo, ini bukanlah akhir dari semuanya... ini adalah awal dari perjalanan kisah cintamu, mungkin Kai memiliki alasan tapi ia tidak sempat memberitahumu, sama seperti Baekhyun. Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah berusaha, agar masalah yang kita hadapi mudah untuk di selesaikan. Tidak perlu merenunginya terlalu lama, itu akan membuang buang waktu dan percuma , karena hidup hanya sekali jadi buatlah hal hal yang membuatmu bahagia, carilah kesenangan sendiri hingga bisa melupakan masalahmu, aku yakin tuhan tidaklah lupa untuk memberikanmu sebuah kebahagiaan, aku sudah melaluinya selama bertahu tahun, bedanya bukan perasaan percintaan seperti kalian, tapi perasaan rindu pada orang tua yang bahkan aku tidak tahu siapa namanya, hidup ataukah sudah meninggal, dan bagaimana wajah mereka."ucap Luhan ikut menenangkan Kyungsoo.
Kyungsoo sedikit tertegun pada ucapan Luhan. Benar, ini bukanlah akhir dari semuanya, dan masalahnya tidaklah seberat masalah Luhan. Ia harus berterimakasih pada Luhan.
"aku sangat berterimakasih padamu Luhan, aku tidak tahu jia hidupmu bahkan jauh lebih sulit di banding dengan hidupku. Tidak salah jika Baekhyun mengangkatmu sebagai saudara hanya dalam pertemuan 1 kali, kau benar benar orang yang baik."ucap Kyungsoo mengusap air matanya, Baekhyun dan Luhan pun tersenyum.
"jadikan ini pelajaran bagimu Kyungsoo, hargailah kehadiran seseorang yang ada di dekatmu sebelum penyesalan menghantuimu. Jika suatu saat Kai kembali, kau harus lebih memperhatikannya agar ia tidak pergi lagi darimu."balas Luhan
"luhan...kita sekarang sahabatkan? Aku, kau dan juga Baekhyun."ucap Kyungsoo semangat.
"tentu, kita sahabat!" sahut Luhan dengan senyum yang mengembang, rasanya hangat sekali saat seseorang mulai mempercayaimu dan menjadikanmu sebagai seorang sahabat yang artinya adalah seseorang yang benar benar sebagai teman, orang yang berada di sampingmu baik susah ataupun senang.
.
.
"Bagaimana bisa kau memiliki motor sport itu?" tanya Sehun sebelum meneguk vodka yang sudah di campur dengan soju.
"aku seorang pembalap, pembalap liar"jawab Chanyeol dan meneguk segelas soju di depannya, ia tidak seberani Sehun untuk mencampurkannya bersama vodka.
Ya, mereka berdua sedang berada di dalam club malam besar yang jaraknya cukup jauh dari area sekolah mereka. Sehun yang memang sudah berencana pergi ke club malam untuk menghilangkan penatnya tak sengaja bertemu dengan Chanyeol di depan asrama, dan Chanyeol menawarkan untuk pergi bersama karena Chanyeol bilang ia memiliki motor dan juga ingin melepas penat, tentu saja Sehun mengiyakan karena mendapat tumpangan gratis.
"menarik..."gumam Sehun dan kembali meneguk vodkanya.
"sangat menarik memang, tapi harus pandai bersembunyi karena polisi selalu mengintai, kita mengadakan lomba di jalan Tol saat tengah malam, dan Tol bagian motor akan sangat sepi di banding dengan Tol mobil jadi sangat cocok untuk di gunakan sebagai area balap. Konsekuensinya adalah kecelakaan dan masuk penjara, itu adalah pekerjaan sampinganku. Selain di Tol kita memiliki tempat yang aman dari polisi, tapi setiap tikungannya sangat tajam, tidak sedikit diantara kami yang berakhir tragis karena kecelakaan."jelas Chanyeol yang masih terjaga, belum merasakan efek soju yang ia minum.
"apa kau sudah pernah lewat jalan itu?"tanya Sehun
"belum, tapi hampir. Hanya tinggal satu Tol lagi, aku sudah di perbolehkan untuk melewati jalanan aman polisi itu."jawab Chanyeol.
"apa ada bayarannya?"
"tentu, dan bayarannya tidak main main. 1 milyar bisa kau dapatkan jika berhasil melewati jalan itu, bahkan lebih, dan bonusnya kau bisa memilih wanita untuk kau tiduri. Wanita disana memiliki tubuh yang bagus, dan juga sangat baik di ..."tawa Chanyeol.
"kau pernah meniduri jalang disana?"
"aku hanya akan meremas dadanya dan memasukkan jari jariku pada lubang kewanitaannya, mencium bibir dan payudaranya saja sudah membuatku cukup. karena aku sudah memilik Baekhyun, jadi aku tidak akan memasukkan penisku pada wanita jalang disana."
"wahhh...mendengar ucapanmu membuatku hampir eraksi. Aku berniat ikut dengan kelompokmu, apa aku bisa di terima? Aku akan membeli motor sport baru jika kau mengiyakannya."
"kau sudah mabuknya? Kau tidak bercanda?" tanya Chanyeol terkejut.
"hmmm...aku sudah mabuk, tapi aku bercanda." Jawab Sehun yang sudah menghabiskan 3 botol vodka, tapi Sehun masih bisa menjawab pertanyaan Chanyeol dengan benar.
"kau tertarik pada uang atau jalang?"
"keduanya"jawab Sehun, ia memesan 2 botol vodka lagi di tambah dengan anggur merah.
"baiklah, akan ku perkenalkan pada ketuaku secepatnya, kau harus menerima konsekuensinya Sehun." Sehun hanya mengangguk.
"Chanyeol, kau tidak boleh terlalu mabuk, aku sudah susah untuk membuka mataku sekarang."gumam Sehun yang mulai meneguk vodkanya lagi.
"kau serius Sehun ? menghabiskan 3 botol vodka, 2 botol soju dan sekarang kau masih memesan 2 botol vodka dengan anggur merah ? wahh... jiwamu benar benar jiwa orang Amerika."decak Chanyeol kagum.
"bahkan aku sudah pernah mencicipi narkoba."desis Sehun.
"benarkah?"
"hmmm...meski hanya 1 kali. Cobalah minum vodka yeol, soju adalah minuman wanita hahaha..."tawa Sehun, diam diam Chanyeol menatap miris pada Sehun. Ia pikir ia adalah yang terburuk, tapi ternyata ada yang lebih buruk darinya.
"orang tuamu sudah tau mengenai ini?"tanya Chanyeol penasaran, ia berhenti meminum soju dan mulai mengintrogasi Sehun
"tidak, ibuku akan menangis jika tahu anaknya sudah berteman akrab dengan minuman keras dan sudah pernah mencicipi narkoba."jawab Sehun.
"kau sudah pernah meniduri seseorang di Amerika?"
"pernah sekali, saat umurku 16 tahun, tepatnya 2 tahun yang lalu dan kau tahu siapa yang kutiduri ? seorang janda yang haus belaian dan memberiku banyak uang, wahh... tiba tiba aku menginginkan hal itu lagi."ucap Sehun mengedarkan pandangannya pada lantai dansa yang terdapat banyak wanita jalang yang melambai ke arahnya.
Chanyeol yang menyadari ucapan dan arah pandang Sehun langsung menepuk bahu tegap Sehun agar menatapnya.
"kita pulang, ini sudah jam 11 malam."ucap Chanyeol, ia tidak mau menanggung resiko karena Sehun berniat untuk one night stand bersama wanita jalang.
Sehun mengangguk dan mengeluarkan lembaran won dengan jumlah banyak lalu segera keluar mendahului Chanyeol. Chanyeol menggeleng menatap lembaran won yang jumlahnya sangat lebih jika hanya untuk membayar minuman yang di pesannya dan juga Sehun, bahkan uang itu masih bisa di gunakan untuk menyewa 2 jalang. Sehun benar benar tidak memikirkan uang saat mabuk.
.
.
Luhan duduk di atas ranjangnya, sesekali ia menatap jam dinding. Ia menunggu Sehun, ada perasaan khawatir karena Sehun sudah pergi mulai sore hari dan saat ini jarum jam hampir menunjuk angka 12 malam.
Brakk...
Luhan mengalihkan pandangannya danmendapati Sehun yang membuka pintu.
"Sehun, kau dari ma..."ucapan Luhan terhenti saat ia mencium aroma minuman keras yang sangat menyengat, di tambah dengan Sehun yang berjalan dengan terhuyung.
Luhan segera membantunya dengan susah payah, karena tubuh Sehun lebih besar darinya.
"kau mabuk? Kenapa kau melakukan ini? Apa ini memang kebiasaan burukmu yang belum ku ketahui?"tanya Luhan.
Sret...
Luhan sangat terkejut saat Sehun menghimpitnya pada tembok dekat dengan lemari, punggungnya terasa sangat sakit, terlebih bagian bahunya.
"s..sehun...apa yang kau mmmphhh..."
Luhan meronta saat Sehun mencium bibirnya kasar dan semakin menghimpitnya, ia tidak bisa menahan Sehun karena kejadiannya sangatlah cepat.
"mmmpphhh...hmmhh..."
Luhan berusaha untuk melepaskannya, tapi suaranya terendam bibir Sehun yang terus menuntut untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Luhan.
Tangan Sehun mulai menurunkan celana milik Luhan, Luhan menggelengkan kepalanya kuat tapi Sehun sama sekali tidak melepaskan tautannya.
"akhhh..." jerit Luhan tertahan saat Sehun menggigit bibirnya kasar, Sehun segera memasukkan lidahnya dan menukarkan liur mereka.
"ss...sehunh...j..jangan lakukan"pinta Luhan dengan mata yang sudah berkaca kaca, ia sudah tidak bisa memberontak dari Sehun karena tubuh Sehun benar benar kuat.
Sehun tidak mempedulikannya, ia menyesap leher Luhan kuat dengan tangan yang sudah mengurut penis kecil Luhan yang masih tertidur.
"aku butuh pelampiasan... untuk hormon remajaku"ucap Sehun lalu menusukkan 3 jarinya langsung pada lubang anal Luhan, membuat Luhan menjerit kesakitan.
"Sehunhhh...sakit...hiks...akhhh..."jerit Luhan.
Rasanya luar biasa sakit hingga Luhan harus mengeluarkan air matanya, tapi Sehun tidak berhenti ia semakin menusukkan ke 3 jarinya pada lubang Luhan.
"ini akan sangan nikmat Lu...hhh..."dengan itu Sehun langsung memasukkan penis besarnya pada lubang Luhan yang masih benar benar sempit, Sehun menggeram menikmati cengkraman lubang Luhan pada penisnya, ia mengangkat 1 kaki Luhan ke pinggangnya untuk memudahkan penisnya masuk pada lubang ketat milik Luhan.
"akhhh...Sehunnhh...h..hentikan...sakit...hiks..Sehunhh..."desis Luhan, ia merasa bahwa lubangnya benar benar robek karena Sehun dan benar, darah keluar dari lubang Luhan dengan sangat banyak, bahkan menetes pada lantai, tapi Sehun malah menikmati sensasi darah itu karena membuat lubang Luhan semakin licin.
"nikmathh sekali Lu...lubangmu ketat."bisik Sehun menusukkan penisnya kasar dan berulang ulang tanpa peduli bagaimana keadaan Luhan.
"akhh...Sehunh...sakitthh..." suara Luhan hampir tak terdengar, karena benar benar merasa lelah.
Luhan tak lagi menjerit karena bibirnya sudah terasa pegal, ia beralih menggigit pundak Sehun dan mencengkram punggung Sehun kuat. Ia sudah pasrah dengan keadaannya, membiarkan tubuhnya terhentak hentak karena hujaman keras Sehun. Tubuhnya terasa sangat sakit, tak ada rasa nikmat seperti yang Sehun katakan, air matanya terus menetes hingga pandanganya menjadi buram. Kepalanya terasa sangat sakit, sama seperti tubuhnya yang di permainkan Sehun.
Hingga dobrakan pintu kamarnya membuat Luhan tersenyum lega, akhirnya ada orang yang menolongnya, setelahnya Luhan benar benar tak sadarkan diri.
"LUHAN!" Jerit Baekhyun saat mendapati Luhan yang pingsan dengan Sehun yang masih menghujam lubang Luhan yang tak berhenti mengeluarkan darah.
"Sehun lepaskan!" Baekhyun menarik tubuh Sehun agar berhenti, tapi Sehun menghempaskannya dan tetap menghujam lubang Luhan.
Baekhyun kembali berdiri dan berusaha menarik Sehun, ia memukuli punggung Sehun dengan isakan yang sangat keras.
"hiks...hentikan Sehun..hiks...dia sudah pingsan, bagaimana bisa kau tega melakukan ini! Hiks...hentikan Sehun!" teriak Baekhyun masih berusaha menghentikan kegiatan Sehun.
Brukk...
Luhan terjatuh begitu saja saat Sehun melepaskan penisnya, Sehun menatap Baekhyun yang sedang menangis di depannya.
"apa kau juga jalang yang telah ku sewa?"
Baekhyun membelalakkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Sehun, jadi Sehun menganggap Luhan sebagai jalang yang ia sewa?
Belum sempat Baekhyun memaki Sehun, tubuh Sehun langsung terjatuh di pelukan Baekhyun.
"pusing sekali..."gumam Sehun.
Baekhyun tahu jika Sehun masih dibawah pengaruh alkohol, jadi ia dengan cepat memindahkan tubuh Sehun pada ranjang, ia menatap miris penis Sehun yang di penuhi dengan darah, ia yakin jika itu adalah darah Luhan. Baekhyun menutup resleting celana Sehun lalu menghampiri Luhan yang terduduk di bawah sana.
Baekhyun memeluk Luhan erat dan menangis dengan keras, ia berniat untuk mengajak Luhan tidur di kamarnya bersama Kyungsoo, tapi ia malah mendapati kejadian yang ebnar benar mengejutkan.
Dengan hati hati Baekhyun memindahkan tubuh Luhan di atas ranjang yang bersebrangan dengan ranjang Sehun, ia menaikkan selimut tebal untuk menutupi bagian bawah Luhan. Ia kecupi kening Luhan berulang kali dengan kata maaf dan sebuah penyesalan.
"maafkan aku Luhan..hiks...aku datang terlambat...hiks..."
TBC
NEXT OR NO ?
Maaf kalo banyak typo
Tuh sikap Sehun berubah lagi T.T kasian Luhan, gimana reaksi Luhan saat bangun tidur? Kita lihat di chapter depan.
Krisho momentnya udah nyempil tuh, dan disini sikap asli Jessica terbuka. Di chapter depan bakalan di jelasin kok gimana cerita Krisho dan Jessica saat Sehun akan dikirim ke Amrika.
Disini Sehun kayaknya badboy banget ya :'( maafkan aku Sehun.
Jangan lupa review ya ^^
Maaf ya yang udah berharap moment romantis hunhan, di chapter ini belum saat nya :3
Semua couplenya pada miris kan ? kita tunggu moment romantis mereka di chap depan ^^
Buat yang masih ngira ini ff mirip drama Moorim School, di Chap 2 udah di jelasin kan ? jadi di sini tidak akan di jelasin lagi. Jangan salah paham, ceritanya gak mirip kok sama drama Moorim, Cuma aku ngambil cerita awalnya aja karena sangat menarik ^^
See you next chap!
