Previous.

"LUHAN!" Jerit Baekhyun saat mendapati Luhan yang pingsan dengan Sehun yang masih menghujam lubang Luhan yang tak berhenti mengeluarkan darah.

"Sehun lepaskan!" Baekhyun menarik tubuh Sehun agar berhenti, tapi Sehun menghempaskannya dan tetap menghujam lubang Luhan.

Baekhyun kembali berdiri dan berusaha menarik Sehun, ia memukuli punggung Sehun dengan isakan yang sangat keras.

"hiks...hentikan Sehun..hiks...dia sudah pingsan, bagaimana bisa kau tega melakukan ini! Hiks...hentikan Sehun!" teriak Baekhyun masih berusaha menghentikan kegiatan Sehun.

Brukk...

Luhan terjatuh begitu saja saat Sehun melepaskan penisnya, Sehun menatap Baekhyun yang sedang menangis di depannya.

"apa kau juga jalang yang telah ku sewa?"

Baekhyun membelalakkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Sehun, jadi Sehun menganggap Luhan sebagai jalang yang ia sewa?

Belum sempat Baekhyun memaki Sehun, tubuh Sehun langsung terjatuh di pelukan Baekhyun.

"pusing sekali..."gumam Sehun.

Baekhyun tahu jika Sehun masih dibawah pengaruh alkohol, jadi ia dengan cepat memindahkan tubuh Sehun pada ranjang, ia menatap miris penis Sehun yang di penuhi dengan darah, ia yakin jika itu adalah darah Luhan. Baekhyun menutup resleting celana Sehun lalu menghampiri Luhan yang terduduk di bawah sana.

Baekhyun memeluk Luhan erat dan menangis dengan keras, ia berniat untuk mengajak Luhan tidur di kamarnya bersama Kyungsoo, tapi ia malah mendapati kejadian yang ebnar benar mengejutkan.

Dengan hati hati Baekhyun memindahkan tubuh Luhan di atas ranjang yang bersebrangan dengan ranjang Sehun, ia menaikkan selimut tebal untuk menutupi bagian bawah Luhan. Ia kecupi kening Luhan berulang kali dengan kata maaf dan sebuah penyesalan.

"maafkan aku Luhan..hiks...aku datang terlambat...hiks..."

.

.

.

.

.

.

LOVE ME RIGHT

.

.

.

Main cast: Sehun, Luhan, Kai, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun and other

Main pair: HunHan KaiSoo ChanBaek

Genre: Romance School life

Rate : T-M

Length: Chapter

YAOI. MPREG. Typo

.

.

.

.

Sehun terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa seperti berputar dan ia segera masuk kedalam kamar mandi. Sehun membuka seluruh pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar efek vodka dan rasa pusingnya cepat mereda, Sehun menatap penisnya aneh karena terdapat darah kering disana, ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam karena kejantanannya tidaklah sakit.

Sehun mempercepat acara mandinya setelah menyadari sesuatu, ia segera keluar dan berharap jika itu hanya halusinasinya saja. Sehun menatap Luhan yang tidur tanpa pergerakan, ia menatap leher Luhan dan mendapati bercak merah disana.

Sehun semakin bergetar takut jika apa yang baru saja ia ingat itu benar adanya, dengan ragu Sehun membuka selimut tebal yang menutupi bagian bawah Luhan, seketika Sehun terbatuk dan merasa mual secara bersamaan. Jadi itu bukan hanya halusinasinya saja? Jadi benar jika ia telah meniduri Luhan.

"hiks...hentikan Sehun..hiks...dia sudah pingsan, bagaimana bisa kau tega melakukan ini! Hiks...hentikan Sehun!"

Tiba tiba sekelebat triakan Baekhyun semalam menyadarkannya, ia menatap miris tubuh Luhan. Sehun menutupi tubuh Luhan lagi dengan selimut dan ia segera keluar dengan wajah yang masih shock.

.

.

Kai berdiri di balkon kamarnya, menikmati udara Jepang di pagi hari. Sejak kemarin ia selalu memikirkan ucapan Kyungsoo, dan itu membuatnya sulit untuk tidur, terlihat dari munculnya kantung mata di wajah tampannya.

"sepenting itukah buku ini di banding dengan perasaanku?" gumam Kai menatap buku catatan milik Kyungsoo, ia membolak balik lembar demi lembar buku itu, mencermati tulisan Kyungsoo yang sangat rapi.

"ini tidak adil Kyung, aku hanya memiliki buku ini sebagai kenangan darimu, tapi kau bahkan tak mengijinkannya. Kau ingin mengambilnya dariku, bukan hanya buku ini, tapi perasaanku juga kau ambil."lanjut Kai.

"sayang, sedang apa disitu? Tidak ingin jalan jalan ? atau sekedar melihat kompleks kita ?"

Kai menatap ibunya yang tiba tiba masuk ke dalam kamarnya dan berjalan menghampirinya.

"ahh...kau belajar?"tanya ibunya terkejut.

Kai menatap buku itu sebentar lalu tersenyum ke arah ibunya.

"emm...untuk persiapan sekolahku nanti."jawab Kai

"tulisanmu jadi serapi ini ? sejak kapan?"

Kai hanya membiarkan ibunya mengambil buku itu dan menatap tak percaya serta mebolak balik tiap lembarnya.

"Kyungsoo?" Kai terkejut ketika ibunya menyebut nama Kyungsoo dan menatapnya curiga.

"terdengar seperti nama laki laki, dia temanmu atau orang yang kau sukai?"

Kai di buat gugup dengan pertanyaan ibunya sendiri, juga tatapan ibunya yang terlihat sangat curiga.

"di..dia temanku...hehehe mana mungkin aku menyukai laki laki"jawab Kai kikuk.

"aku harap memang itu jawabannya, kau tau bukan jika ibu benci gay. Itu menjijikkan..."ucap ibunya membuat hati Kai terasa seperti di hujam besi panas.

Kai hanya tersenyum pada ibunya dan mengambil buku milik Kyungsoo.

"eomma, keluarlah...aku sudah besar, dan aku butuh privasi, aku akan mandi." Ucap Kai meletakkan buku Kyungsoo di meja belajarnya lalu membuka kaos yang ia pakai.

"emmm...baiklah, tubuhmu semakin bagus, lain kali ajaklah ayahmu berolahraga juga."

Kai hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah memastikan ibunya sudah keluar dari kamarnya.

.

.

Kyungsoo mengerjapkan matanya dan bergerak risih, ia meraskan seseorang telah memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Perlahan Kyungsoo melepaskan pelukan orang itu dan berbalik, ia mendapati wajah Baekhyun yang tertidur dengan jejak air mata yang mengering.

Kyungsoo mengernyit, tidak biasanya Baekhyun tidur dengan memeluknya seperti tadi dan juga Baekhyun sepertinya baru saja menangis, mungkin semalam ia mimpi buruk? Atau bertengkar dengan Chanyeol lagi?

"Baek...bangunlah, sudah pagi."Kyungsoo menepuk pantat Baekhyun pelan.

Baekhyun menggeliat kecil lalu mengerjapkan matanya yang terasa berat, ia menatap Kyungsoo yang berada di sampingnya menatapnya bingung.

"kau menangis semalam? Mimpi buruk?" tanya Kyungsoo

Baekhyun segera duduk dengan tergesa, lalu menatap Kyungsoo panik.

"Luhan... aku harus kesana!"

Baekhyun segera bangkit dari ranjang Kyungsoo dan masuk ke dalam kamar mandi, menggosok giginya dan membasuh wajahnya di ikuti Kyungsoo yang masih terlihat kebingungan.

"sebenarnya ada apa Baek? Luhan kenapa?"tanya Kyungsoo yang kini mengikuti langkah lebar Baekhyun menaiki tangga, bahkan Baekhyun mengabaikan Chanyeol yang membuka pintu kamar saat mereka melewati kamar Chanyeol.

Baekhyun membuka pintu kamar Luhan dan mendapati Luhan yang masih dalam posisi yang sama seperti semalam, bedanya kini Luhan sedang menatap kosong pada langit langit kamar.

"Luhan...kau sudah bangun?"tanya Baekhyun berbasa basi.

Ia duduk di tepi ranjang Luhan dan mengusap rambut Luhan, Luhan hanya menatapnya sebentar lalu kembali menatap ke arah langit langit kamar, satu tetes air mata lolos dari mata Luhan setelah menatap Baekhyun. Hal itu membuat Baekhyun semakin sedih, Kyungsoo sendiri belum memahami keadaan, ia hanya menatap sekeliling kamar Luhan dan tidak menemukan hal aneh selain Sehun yang sudah bangun dan darah di lantai dekat lemari. Tunggu ! darah ?

Kyungsoo menatap Baekhyun dan Luhan bergantian, ia ingin menanyakan sesuatu tapi ia urungkan setelah melihat keadaan keduanya yang saling diam.

"apa yang kau rasakan Luhan?"tanya Baekhyun bergetar.

Luhan tak kunjung menjawab, tapi Baekhyun dengan sabar menunggunya.

"sakit..."jawab Luhan dengan pelan, lebih terdengar seperti sebuah bisikan.

"semuanya sakit...hatiku juga sakit"lanjut Luhan, air matanya semakin banyak keluar hingga bantal yang ia gunakan sedikit basah.

Baekhyun mengusapnya dengan lembut, mengabaikan air matanya sendiri yang ikut mengalir melihat keadaan Luhan.

"tubuhku...tidak bisa kugerakkan Baek, apa aku lumpuh?"tanya Luhan masih dengan volume suara pelan. Baekhyun langsung memeluk Luhan, ia tidak bisa menahan air matanya setiap mendengar keluhan yang keluar dari mulut Luhan.

"sebenarnya apa yang terjadi ? aku sungguh tidak mengerti"gumam Kyungsoo pelan, takut membuat kedua sahabatnya tidak nyaman.

Baekhyun melepaskan pelukannya dan menyibak selimut yang menutupi tubuh Luhan, membuat Kyungsoo terkejut hingga reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Kyungsoo, bisa kau ambilkan kotak P3K?"

Kyungsoo segera membuka nakas di kamar Luhan dan mengambil kotak P3K lalu ia serahkan pada Baekhyun.

Dengan lembut Baekhyun membersihkan darah kering dan sisa cairan putih milik Sehun di paha bagian dalam Luhan menggunakan cairan alkohol, itu membuat Luhan berdesis karena terasa sangat perih.

"jangan lihat aku Kyung, aku malu"cicit Luhan karena ia tidak memakai celana, Kyungsoo hanya mengangguk dan mengalihkan tatapannya meskipun ia masih sangat penasaran.

apakah Luhan disetubuhi seseorang? Siapa yang melakukannya ? tidak mungkin Sehun bukan ? berbagai pertanyaan muncul secara otomatis di pikiran Kyungsoo.

Setelah selesai, Baekhyun kembali menutupi bagian bawah Luhan dengan selimut.

"apa kau benar benar tidak bisa bergerak?"tanya Baekhyun, Luhan menggeleng.

"sangat sakit Baek..."desis Luhan.

"siapa yang melakukannya Luhan?"tanya Kyungsoo yang kini menatap khawatir pada Luhan, Luhan hanya diam saja dan mengalihkan pandangannya. Mengingat siapa yang melakukannya dan bagaimana orang itu melakukannya membuat Luhan merasa mual, beruntung saat ia membuka mata kamarnya sudah sepi.

'brengsek' maki Luhan dalam hati

"Sehun"ucap Baekhyun membuat Kyungsoo mengernyit.

"Sehun yang melakukannya, laki laki brengsek!"ulang Baekhyun membuat Kyungsoo kembali terkejut.

Sungguh, pagi ini penuh kejutan. Benarkah Sehun yang melakukannya? Sebesar itu kelakuan tidak pantas orang Amerika yang melekat pada diri Sehun ?

"aku akan mengambilkan sarapan untuk kita, dan aku akan menelfon dokter Zang, Kyungsoo tolong temani Luhan, membolos satu hari lagi tidak apa apa kan?"ucap Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk.

"maafkan temanku Luhan, itu memang menyakitkan bagimu. Aku akan mencoba untuk bicara dengannya nanti."ucap Kyungsoo menenangkan.

"tidak perlu Kyungsoo, aku muak! Bahkan untuk menyebut namanya saja membuatku mual, aku tidak ingin melihat wajah brengseknya lagi."gumam Luhan, Kyungsoo mengangguk mengerti.

.

.

Sehun memijakkan kakinya di depan pintu rumahnya setelah pagi pagi sekali ia membangunkan Chanyeol hanya untuk meminjam motor, para maid disana tampak menyambut Sehun hangat dan segera membukakan pintu, mereka juga bilang jika orang tuanya sedang sarapan di ruang makan, tanpa sepatah kata lagi, Sehun langsung menuju ke tempat dimana orang tuanya berada.

"Sehun ah..."panggil Suho terkejut mendapati putranya datang.

Sehun langsung memeluknya erat masih dengan posisinya yang duduk, akhirnya Suho berdiri untuk menyamankan posisi mereka dan ia membalas pelukan Sehun dengan sayang.

"ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa pulang sepagi ini? Kau tidak sekolah? Dan mengapa dahimu terluka?"tanya Suho mulai cemas menatap perban kecil di pelipis anaknya, Sehun hanya diam dan memeluknya semakin erat.

Suho mengusap punggung tegap anaknya dengan lembut, ia menatap Kris yang masih duduk di tempatnya dengan raut bingung.

"Sehun..."panggil Suho lagi.

"aku hanya merindukanmu eomma..."ucap Sehun membuat Suho menghela nafas lega, tapi Suho masih merasakan kejanggalan dengan sikap Sehun, namun ia hanya diam.

Setelahnya Sehun melepas pelukan mereka, dan menatap ibunya dengan Senyuman simpul, lalu ia beralih menatap ayahnya yang masih duduk memperhatikannya.

"appa..."panggil Sehun kembali membuat Kris merasa aneh, karena Sehun sangat jarang memanggilnya seperti itu.

"aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."lanjut Sehun mengatakan tujuannya. Kris mengangguk dan segera bangkit dari duduknya.

"sebenarnya ada apa Sehun?"tanya Suho kembali cemas.

"eomma tunggu disini sebentar, aku ingin membicarakan sesuatu bersama appa, mengenai sekolahku."jawab Sehun, ia mengecup pipi Suho lalu segera mengikuti langkah ayahnya, meninggalkan Suho yang masih begitu khawatir.

"jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Kris saat mereka sudah berada dalam ruangan khusus milik Kris yang biasa ia gunakan untuk lembur.

"semalam aku pergi ke club malam, dan aku mabuk berat."ucap Sehun menatap Kris.

Kris hanya diam menanti kelanjutannya, pria itu menebak nebak apa yang membuat putra tunggalnya masuk club malam dan apa kejadian selanjutnya setelah ia mabuk.

"lalu?"pancing Kris karena Sehun tak kunjung melanjutkan perkataannya.

Sehun mengalihkan tatapannya dari mata Kris dan menunduk, membuat Kris semakin berpikiran hal buruk mengenai putranya. Kris menghampiri Sehun dan menepuk bahunya.

"apa yang terjadi?"tanya Kris, Sehun menatapnya lagi dengan tatapan yang sulit ia artikan.

"aku meniduri roommateku hingga ia pingsan"ucap Sehun.

"Luhan?"

Itu bukan suara Kris maupun Sehun, itu adalah suara Suho yang kini berdiri kaku di depan pintu, pria itu sengaja mengikuti Sehun karena ia merasa ada yang aneh dengan sikap Sehun.

"eo..eomma..."panggil Sehun terkejut, begitu juga Kris, ia terkejut dengan perkataan anaknya dan juga kehadiran Suho di ruangannya.

"sejak kapan eomma berada disitu?"tanya Sehun

"sejak kau baru masuk ruangan ini, jadi bisa kau jelaskan apa maksud dari perkataanmu Sehun?"tanya Suho yang kini mendekati putra tunggalnya dengan tatapan kecewa.

"eomma...a..aku bisa jelaskan"ucap Sehun gugup

Plakk...

Tamparan keras Sehun dapatkan dari ibunya yang kini menatapnya kecewa dengan air mata yang terus menetes, Sehun hanya diam karena ia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini.

"kau bahkan sudah berani masuk dunia malam, minuman apa saja yang sudah kau minum Oh Sehun? Soju ? anggur merah ? atau bahkan vodka ?minuman mana yang pernah kau minum? Atau kau bahkan sudah meminum semuanya?"tanya Suho dengan wajah memerah.

Sehun tidak bisa berbuat apa apa lagi selain mengangguk mengiyakan, ia sangat menyesal membuat ibunya kecewa padanya seperti ini.

"semuanya, dalam semalam"jawab Sehun pelan.

Plakk...

Satu tamparan lagi Sehun dapatkan dari ibunya, tubuhnya tiba tiba saja bergetar mendengar tangisan dari ibunya, Sehun tidak menyangka bahwa ibunya akan mengetahui kebusukannya secepat ini.

"sayang tenanglah! Kau akan menyesal jika melakukan itu pada Sehun, tolong bicara dengan baik baik."ucap Kris menahan Suho yang akan memberikan tamparan ketiga pada pipi Sehun yang sudah memerah.

"ini salahmu! Mengapa kau mengirimnya ke Amerika 4 tahun lalu? Lihatlah sekarang anak satu satunya yang kita miliki menjadi seperti apa? Bahkan dia melakukan pelecehan terhadap teman sekamarnya, dan dia bilang apa tadi? Pingsan? Dia menyetubuhi Luhan hingga Luhan pingsan! APA KAU TIDAK BISA LIHAT JIKA ANAKMU SUDAH BERUBAH MENJADI MANIAK?"teriak Suho memukuli dada Kris dengan keras, melampiaskan semua kekecewaanya pada pria yang berstatus sebagai suaminya.

Suho sangatlah ingin memiliki anak yang tampan, memiliki kepribadian yang baik dan juga pintar, bukan seperti Sehun yang sekarang. Dulu ia memang memiliki Sehun yang seperti itu, tapi itu dulu sebelum kejadian 4 tahun lalu merubah segalanya, dan Suho tidak bisa untuk menahan rasa kekecewaannya, ternyata ini jawaban dari semua firasat buruknya beberapa hari lalu?

"eomma...maafkan aku, aku benar benar menyesal."ucap Sehun memeluk ibunya erat, Suho memberontak, menolak pelukan dari anaknya.

Suho mencengkram kerah kemeja yang Sehun pakai dengan tatapan tajam, membuat Sehun benar benar kehilangan kata kata, sungguh Suho terlihat menakutkan jika sedang marah seperti ini.

"bawa aku pada Luhan sekarang!" desis Suho lalu mendorong tubuh Sehun kasar. Sehun membelalakan matanya, ia belum siap menemui Luhan.

"kau tidak mendengarku?"bentak Suho lagi.

"t..tapi..."

"SEKARANG OH SEHUN!" triak Suho kalap, Kris langsung menahan istrinya yang sedang emosi, ia menatap Sehun dan memberi isyarat agar Sehun melakukannya.

Dengan berat hati Sehun mengangguk dan segera keluar di ikuti Suho dan Kris, Sehun sengaja mengendarai motornya dengan pelan , di belakangnya ada mobil Kris yang mengikuti dengan Suho yang menatap datar pada jalanan.

.

.

"bagaimana dokter Zang?"tanya Baekhyun.

"analnya mendapat luka yang parah namun tidak fatal, aku memberikan gel ini agar lukanya cepat mengering, dan 1 botol obat penghilang rasa sakit agar tubuh Luhan bisa di gerakkan tanpa merasa kesakitan lagi."jelas dokter Zang.

"terimakasih dokter, tapi anda berjanji bukan jika anda tidak akan bilang pada eomma dan appa?"ucap Baekhyun, doter Zang tersenyum manis dan mengangguk.

"hmmm...aku tahu, aku turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Luhan, aku harap Luhan tidak terlalu memikirkan hal ini agar kesehatan fisiknya terjaga."balas dokter Zang membelai pipi Luhan lembut.

"dan aku memiliki satu kabar lagi, entah itu buruk atau tidak..."ucap dokter Zang ragu.

"apa itu?"tanya Kyungsoo penasaran.

"cidera di bahu Luhan tidak bisa sembuh sesuai dengan perkiraan awal, karena sepertinya terlalu banyak gerakan pada bahunya, menyebabkan bahunya kembali bengkak. Tapi aku yakin itu bisa sembuh, sementara ini kau harus istirahat total Lu, paling tidak 3 hari."ucap dokter Zang.

"jadi, berapa biayanya?"tanya Baekhyun, dokter Zang tersenyum.

"karena Baekki sangat baik dan penurut, aku berikan gratis untuk pengobatan ini"jawab dokter Zang, Baekhyun memeluk dokter pribadi keluarganya itu erat dan mengatakan terimakasih berulang ulang membuat dokter Zang terkekeh.

"kalau begitu aku harus pulang, di rumah sakit aku juga menangani bagian VIP"

Setelahnya dokter Zang benar benar keluar, Baekhyun mengambil semangkuk bubur untuk Luhan.

"makanlah!"ucap Baekhyun menyuapi Luhan yang masih berbaring.

"aku tidaklah sakit parah Baek, aku tidak perlu memakan bubur"gumam Luhan, tapi Luhan tetap menerima suapan demi suapan yang Baekhyun berikan.

"aku sangat tersiksa harus berbaring disini dalam waktu yang lama, pantatku terasa sangat panas setiap kali aku melakukan sedikit pergerakan, dan itu sangat menyiksa."adu Luhan dengan raut wajah kesal, ia benar benar tersiksa dengan keadaannya sekarang.

Baekhyun dan Kyungsoo menatapnya iba, mereka berdua menyesal membiarkan Luhan mendapatkan kejadian seperti ini, tapi apa boleh buat? Semuanya sudah terjadi.

"bisakah kalian memberiku sedikit waktu ? aku ingin sendiri..."ucap Luhan dan tersenyum lembut pada kedua sahabatnya.

"tapi, bagaimana dengan makananmu? Kau masih memakan 2 suap"tanya Baekhyun khawatir.

"letakkan saja di nakas, aku akan memakannya sendiri, jangan khawatir aku akan baik baik saja, jika ada sesuatu aku akan segera menghubungi kalian."jawab Luhan, Kyungsoo dan Baekhyun hanya diam menatap Luhan.

"aku janji! Ku mohon..."ulang Luhan lagi dengan nada yang ia buat seceria mungkin. Kyungsoo dan Baekhyun pun mengangguk.

"segera telfon kami jika kau butuh sesuatu"ucap Kyungsoo, Luhan tersenyum lembut.

Setelah kedua sahabatnya keluar dan menutup pintu, Luhan memejamkan matanya sejenak. Ia mencoba mengangkat satu kakinya tapi lagi lagi pantatnya terasa sangat panas dan perih, Luhan tidak bisa membayangkan seperti apa lubangnya sekarang hingga terasa sakit seperti ini.

"akhh..."desis Luhan merasa pantatnya kembali panas saat ia menggerakkan tubuhnya, ia merasa pegal harus dalam posisi yang sama dalam beberapa jam yang lalu.

"sialan...brengsek!"maki Luhan mengingat perbuatan Sehun semalam.

.

.

"oohhh...bukannya itu Sehun ?"tunjuk Kyungsoo pada Sehun yang baru saja memasuki asrama, Baekhyun mengepalkan tangannya dan hendak menghampiri Sehun lalu menghajarnya. Tapi ia urungkan keinginannya untuk menghajar Sehun saat ia melihat Presdir Wu bersama seorang laki laki bertubuh lebih kecil masuk ke dalam asrama dan mengikuti langkah Sehun.

"mungkinkah mereka akan menemui Luhan?"gumam Kyungsoo memperhatikan Sehun dan presdir Wu yang menaiki tangga menuju kamar Sehun dan Luhan.

"siapa laki laki itu? Apa dia saudara Sehun? Atau sepupu presdir Wu?"gumam Kyungsoo lagi masih merasa penasaran karena dulu saat ia masih berteman dekat dengan Sehun ia tidak pernah tahu menahu tentang laki laki itu, Baekhyun mengedikkan bahunya acuh.

"aku harap mereka menyelesaikan masalah ini, dan aku harap Sehun bertanggung jawab atas kejadian Luhan. Jika tidak, aku akan benar benar menuntutnya atas kejadian ini!"desis Baekhyun lalu segera masuk kedalam kamarnya, Kyungsoo pun mengikuti.

"Kyungsoo!" Kyungsoo berbalik dan mendapati Yesung berdiri di belakangnya.

"kau tidak mengikuti kelasku, kau membolos?"tanya Yesung membuat Kyungsoo gugup dan tersenyum kaku.

"hehe...maaf saem, aku ada sedikit urusan, besok aku akan mengikuti kelasmu ditambah dengan jam tambahan."jawab Kyungsoo dengan senyum kikuk.

"kau masih bekerja Kyungsoo?"tanya Yesung, membuat Kyungsoo seketika ingat akan pekerjaannya.

"ahh...aku ada jam kerja sekarang! Permisi Saem, aku harus bekerja!"ucap Kyungsoo panik.

Kyungsoo segera masuk kedalam kamarnya dan bersiap siap untuk bekerja, ia ingat bahwa sudah 3/4 hari ini ia tidak bekerja, ia terlalu larut dalam masalahnya. Kyungsoo hanya bisa berdoa agar ia tidak di pecat, dan Kyungsoo memikirkan banyak alasan selama perjalanan menuju tempat kerjanya yang lumayan jauh dari area sekolah.

.

.

Sehun menatap gugup pada pintu kamarnya yang tertutup, ia membayangkan bagaimana reaksi Luhan saat ia masuk. Keadaan asrama lantai 3 tempat kamar Sehun memang sangat sepi jika di jam Sekolah, jadi Suho tidak khawatir teman Sehun akan menanyai prihal dirinya yang tentu saja asing bagi teman teman Sehun.

"kau hanya akan diam disini? Cepat masuk dan temui Luhan! Kau harus bertanggung jawab atas kelakuanmu!"ketus Suho menatap Sehun tajam.

Sehun menatap ibunya sebentar, lalu segera membuka pintu kamarnya.

Luhan yang sedari tadi menatap kosong pada langit langit kamar beralih menatapnya, membuat Sehun lebih gugup karena menyadari tatapan terluka dan kebencian yang Luhan tunjukkan untuknya.

"kau sudah bangun Luhan?"tanya Sehun berbasa basi, ia mendekati Luhan yang memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, menolak untuk menatapnya.

"kenapa jika aku sudah bangun? Kau akan menyetubuhiku lagi hingga pingsan?"jawab Luhan dengan nada dingin.

"maaf soal kejadian semalam, aku benar benar tidak sadar, aku di bawah pengaruh minuman keras saat menyentuhmu. Aku tahu kau akan sulit memaafkanku, tapi aku pikir tidak ada salahnya untuk meminta maaf padamu."ucap Sehun santai, seolah kejadian semalam hanya sebuah masalah kecil yang tidak perlu di besar besarkan.

Luhan meneteskan air matanya mendengar jawaban dari Sehun, Sehun benar benar brengsek.

"pergi..."desis Luhan masih memalingkan wajahnya, ia benar benar tidak ingin melihat wajah Sehun.

"kau harus memaafkanku, lalu aku akan pergi."balas Sehun dengan tenang.

"AKU BILANG PEGI BRENGSEK!" Luhan meraih gelas yang berada di atas nakas lalu melemparkannya pada Sehun.

Sehun mendesis kecil saat gelas itu tepat mengenai pelipisnya yang di perban dengan keras, lalu pecah karena terhempas kelantai. Hal itu membuat Suho yang berdiri di depan kamar segera masuk, di ikuti dengan Kris di belakangnya.

"aku hanya ingin meminta maaf, setelah itu aku akan pergi."ucap Sehun mengabaikan pelipisnya yang terasa nyeri.

"aku tidak butuh permintaan maafmu! Aku hanya ingin kau pergi! Apa kau tidak mengerti ucapanku brengsek?"teriak Luhan menatap Sehun tajam.

"bodoh!"

Luhan menatap Suho nyalang, saat pria itu mengatainya bodoh.

"kau datang hanya untuk menghinaku? Aku akui aku memang bodoh hingga laki laki brengsek seperti putramu dapat menyetubuhi ku! Apa kau puas setelah menghinaku? Dendam apa yang keluargamu miliki padaku hingga memperlakukanku seburuk ini? Hiks...lakukan semuanya sekarang! Bunuh aku..hiks...jika kalian...hiks...mau! lagipula tidak ada..hiks...gunanya aku berada di dunia ini! Semua orang membenciku...hiks...tidak ada satupun keluarga asli yang menganggapku...hiks...bahkan aku tidak tahu siapa mereka...Arghhhh!"teriak Luhan frustasi karena ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena pantatnya akan terasa sangat sakit.

Sehun merasakan sebuah getaran kecil pada hatinya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Luhan, ia tidak menyangka hidup Luhan di penuhi dengan kepalsuan. Senyum palsu, tawa palsu, sikap palsu, dan semuanya palsu. Tiba tiba sebuah rasa penyesalan terlintas begitu saja di pikiran Sehun.

"kau benar benar laki laki bodoh..."ucap Suho menghampiri Luhan yang terisak keras di atas ranjang.

"seharusnya kau meminta pertanggung jawaban pada laki laki brengsek yang telah menyetubuhimu, Seharusnya kau menghukum laki laki brengsek yang telah membuatmu terluka, bukan menyuruhnya untuk pergi! Mengapa kau sangat bodoh membiarkan laki laki brengsek sepertinya pergi setelah ia melecehkanmu ? katakan sesuatu Luhan! Apa kau benar benar bodoh?"lanjut Suho yang kini duduk di tepi ranjang Luhan.

Tidak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis Luhan yang semakin keras di dalam ruangan itu. Suho meraih bahu Luhan lembut, membantunya untuk duduk, tapi erangan Luhan membuatnya urung.

"sakit...hiks..."bisik Luhan yang kembali merasakan panas di area pantatnya.

Suho memeluk tubuh Luhan yang masih berbaring, pria itu ikut meneteskan air matanya melihat keadaan Luhan, ia kecup pelipis Luhan berulang ulang, sementara Luhan hanya diam masih dengan isakannya yang tak kunjung mereda.

"maafkan keluargaku, kau pantas membenci keluargaku, tapi aku mohon maafkan Sehun. Aku tahu itu sulit bagimu, tapi aku tidak bisa untuk tidak meminta hal ini. Sehun adalah anakku, anak kandungku. Mungkin kau tidak akan percaya, tapi inilah kenyataannya. Aku sebagai ibunya menyesal telah membiarkannya melakukan hal buruk padamu. Sehun adalah anakku yang manis, tapi ia berubah karena ia tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya di saat umurnya menginjak 12 tahun, hingga ia memiliki sikap yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku sangat kecewa melihatnya tumbuh seperti itu Luhan tapi aku lebih kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa merawatnya dengan benar, maka dari itu aku mohon padamu, izinkan Sehun bertanggung jawab atas kejadian ini hingga kau benar benar sehat, setelah itu kau bebas untuk menjauhinya atapun membencinya. Aku hanya meminta itu Luhan, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi putraku tumbuh menjadi pribadi yang sangat buruk, dan aku tidak ingin mempunyai putra yang tidak bisa bertanggung jawab, aku mohon Luhan."

Sehun lagi lagi merasakan hatinya bergetar mendengar ucapan yang kali ini keluar dari mulut ibunya, sekecewa itukah Suho padanya? Seburuk itukah sikapnya hingga membuat ibu yang sangat ia sayangi ikut terluka akibat perbuatannya? Bahkan ibunya membongkar rahasianya sendiri pada Luhan, meskipun sebelumnya ia sudah menceritakannya pada Luhan.

Luhan memandang wajah Suho, ia merasa sedikit iba melihat raut wajah pria yang berstatus sebagai ibu kandung Sehun. Tapi ia tidak bisa untuk memaafkan Sehun dengan mudah, menyebut namanya saja membuat Luhan mual.

"akan ku pikirkan..."gumam Luhan datar, lalu memalingkan wajahnya lagi.

Suho menarik ujung bibirnya, ia tahu Luhan adalah orang baik.

"terima kasih Luhan..."ucap Suho berbinar, membuat Kris yang sedari tadi hanya menyaksikan, diam diam menghela nafas lega.

"kau hanya akan berdiri disitu? Cepat ambil mangkuk itu dan bantu Luhan menghabiskan buburnya!"ketus Suho menatap Sehun tajam, membuat Sehun sedikit terkejut.

Sehun segera mengambil mengkuk di atas nakas, dan Suho berdiri untuk memberikan tempat pada Sehun.

"tidak perlu berlebihan, aku bisa menghabiskannya sendiri!"ucap Luhan.

"dengan keadaan berbaring? Buburnya akan tumpah. Bukankah kau sudah menyetujuinya Luhan?"tanya Suho

"aku hanya bilang, jika aku akan memikirkannya."jawab Luhan masih memalingkan wajahnya.

Tak ada jawaban lagi, membuat Luhan merasa sedikit tidak enak. Ia menatap Suho yang kini menatapnya memohon.

"baiklah, anda bisa keluar sekarang!"ucap Luhan membuat Suho kembali tersenyum

"sekali lagi, terimakasih Luhan." Luhan hanya mengangguk.

Setelah orang tua Sehun benar benar sudah keluar, Sehun segera duduk di tepi ranjang Luhan.

"minggir, orang tuamu sudah pergi! Tidak perlu bersandiwara lagi, aku bisa memakannya sendiri."desis Luhan mengambil mangkuk yang Sehun pegang tanpa menatap Sehun.

"aku akan membantumu, sebagai permintaan maaf."ucap Sehun.

"aku sudah bilang pada ibumu jika aku sudah memaafkanmu, jadi pergilah!"sahut Luhan dengan nada dingin.

Tak ada pilihan lain, Sehun akhirnya berdiri dan beralih ke arah ranjangnya sendiri untuk memperhatikan Luhan.

Luhan berusaha memasukkan sesuap bubur pada mulutnya, tapi bubur itu malah terjatuh di area lehernya, membuat Sehun langsung mengambil mangkuk dan sendok yang di pegang Luhan.

"sudah kubilang, aku akan membantumu, kenapa kau keras kepala sekali?"ucap Sehun sedikit kesal, ia mengambil tisu dan membersihkan bubur yang mengenai leher Luhan, ia dapat melihat bercak merah yang masih sedikit terlihat di area leher Luhan, dan itu membuatnya kembali menyesal.

"mengapa kau lakukan semua ini padaku Sehun?"ucap Luhan, Sehun hanya diam menyuapkan 1 sedok bubur ke mulut Luhan.

"kupikir kita bisa menjadi teman, tapi ternyata..." Luhan tidak melanjutkan ucapannya karena bibirnya bergetar hebat, satu air mata lolos lagi dari mata rusa milik Luhan.

"kau cengeng..."ucap Sehun dan menyuapkan 1 sedok lagi, tapi Luhan memalingkan wajahnya menolak suapan dari Sehun.

"pantatku terasa sangat sakit, tubuhku terasa sangat pegal dan juga...bahuku, bahuku mulai membengkak lagi, aku kehilangan semuanya Sehun. Tubuhku, impianku, rasa percaya diriku semuanya hilang karenamu, kau masih bisa menganggapku cengeng setelah apa yang kau lakukan padaku?"Luhan menatap Sehun dengan tatapan kecewa karena perkataan Sehun.

Sehun hanya diam memperhatikan Luhan yang masih menangis, membiarkan Luhan meluapkan semuanya melalui air matanya.

"ini adalah air mata terakhir yang kulihat darimu, aku tidak ingin kau menangisi masalah ini terus menerus. Pegang janjiku, aku akan membantumu meraih mimpimu, aku akan mengantarkanmu berobat untuk bahumu, dan membantumu agar menjadi seorang atlet renang lagi, tapi aku minta maaf soal tubuhmu, aku tidak bisa mengembalikan keperjakaanmu karena itu hal yang sangat tidak mungkin. Dengan syarat jangan menolak bantuan dariku, dan semuanya akan kembali."ucap Sehun menghapus air mata Luhan yang seakan tak ada hentinya.

Sehun meletakkan mangkuk bubur itu keatas nakas lalu meraih bahu Luhan, ia memaksa Luhan untuk duduk mengabaikan desisan sakit yang selalu Luhan lontarkan setiap pergerakannya.

"sakit...Sehun...hiks..."isak Luhan saat Sehun berusaha untuk membuatnya duduk, tapi Sehun tidak mempedulikannya hingga Luhan hanya diam dan terisak karena tubuhnya terasa sangat sakit dan kepalanya semakin pusing.

"tubuhmu akan kehilangan fungsi jika kau hanya akan berbaring di atas ranjang, dan tentu saja akan terasa semakin sakit. Maaf telah membuatmu seperti ini, ini semua terjadi di luar kendaliku."ucap Sehun yang memperbaiki letak bantal di balik punggung Luhan agar Luhan merasa nyaman.

"percayalah, aku benar benar menyesal. Sekarang berhenti menangis dan habiskan bubur ini!"lanjut Sehun mulai menyuapkan 1 sendok lagi.

Luhan hanya diam dan menerima suapan demi suapan yang Sehun berikan untuknya, Luhan antara percaya dan tidak pada Sehun karena wajah laki laki itu kelewat datar, hingga ia sulit menemukan kesungguhan dari raut wajah Sehun.

Setelah makan dan meminum obatnya, Sehun membersihkan kamar mereka sedangkan Luhan hanya memperhatikannya.

Cklek...

"kalian berdua di panggil kepala sekolah..."ucap Dong goo, Sehun mengangguk.

"aku yang akan pergi, kau tidur saja. Aku akan mengatakan jika kau sakit." Setelah mengatakan itu Sehun segera mengambil botol yang ia simpan di bawah ranjangnya-berisi air suci yang mereka dapatkan saat di hutan- karena ia tahu pasti kepala sekolah mencari mereka untuk air ini.

.

.

"kudengar dia sudah tahu semuanya."ucap kepala sekolah pada pria tinggi yang duduk di depannya.

"itu benar."

"lalu hubungan kalian?" tanya Hangeng membuat Chanyeol menghela nafas.

"kami sudah berakahir, tapi..."

"tapi apa?"tanya Hangeng saat Chanyeol menggantung kalimatnya terlalu lama.

"Baekhyun tidak bisa menerimanya, dia menolak bertemu eomma, menolak berbicara denganku saat aku menganggapnya adik, dan juga tidak mau bertemu denganmu. Apa yang harus kulakukan? Ini benar benar menyiksa."jawab Chanyeol mengusap wajahnya kasar karena terlalu lelah memikirkan hubungannya yang rumit dan berbelit belit.

"mungkin jika kau memiliki hubungan dengan orang lain membuat Baekhyun lambat laun akan menerima kenyataan jika kalian memang saudara, bukan sepasang kekasih lagi."usul Hangeng.

"atau malah membuatnya berbuat nekat ? semuanya bisa saja terjadi appa!"sahut Chanyeol

"jika itu terjadi, kau harus mengatakan pada Baekhyun bahwa Baekhyun masih bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik darimu, appa dan eomma juga akan membantumu. Lagi pula Baekhyun sudah besar, jadi ia akan cepat mengerti dengan hubungan ini."ucap Hangeng

Chanyeol terdiam sesaat, mengatakan pada Baekhyun bahwa Baekhyun bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya? Memikirkan itu saja membuat Chanyeol merasa sesak.

"di sekolah ini tidak ada yang menarik perhatianku kecuali Baekhyun."jujur Chanyeol.

"kau ingat Nana ? gadis cantik yang dulu sangat kau sukai, dia semakin cantik saat ini, beberapa hari lalu dia menelfonku dan mengatakan jika ia kini berada di Korea untuk tugas magangnya selama 1 bulan, mungkin kau bisa menemuinya, aku yakin kau akan kembali menyukainya karena dia benar benar cantik."ucap Hangeng membuat Chanyeol sedikit terkejut.

"Nana?"

"hmm...Nana teman kecilmu dulu di Cina."

Tok...tok...tok...

"masuklah!"

Pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Sehun yang kini berjalan mendekat.

"duduklah!" Sehunpun duduk di sebelah Chanyeol.

"ada apa kepala sekolah?"tanya Sehun.

"dimana Luhan?"tanya Hangeng.

"dia sedang sakit, bahunya bengkak karena kita terjatuh dari tebing saat mengambil air ini."jawab Sehun tanpa keraguan dan memberikan 1 botol air suci pada Hangeng.

"apa kalian sudah mendapat pengobatan?"

"tentu, kami langsung pergi ke UKS asrama."

"hmmm...baiklah, selamat atas kedatangan kalian dan ini..."ucap Hangeng mengembalikan botol yang tadi diberikan Sehun, membuat Sehun mengernyit bingung.

"aku tidak butuh air itu, buang saja atau kau siramkan pada tumbuhan di depan halaman agar tumbuhannya semakin subur." Ucap Hangeng santai, membuat Sehun menatapnya tak percaya.

"anda menyuruh kami berdua mengambil air ini dengan keadaan hampir sekarat, dan kini anda menyuruhku untuk membuang air ini? Sungguh sulit di percaya, aku keluar!" desis Sehun tajam lalu segera pergi setelah meraih botol itu dengan kasar, Chanyeol hanya tersenyum tipis mendengar Sehun menyindir ayahnya.

Sehun berjalan dengan raut wajah datarnya yang semakin terlihat tajam, membuat beberapa teman temannya yang lewat menjadi takut, bahkan Dong goo yang akan menyapanya urung karena menyadari raut wajah Sehun yang tak bersahabat.

.

.

Terlihat dua orang berbeda kelamin ini saling tatap di dalam caffeebay, lalu mereka tersenyum canggung.

"aku tidak menyangka kau masih mengingatku Chan..."kekeh gadis cantik itu, Chanyeol tersenyum simpul.

Ayahnya benar, Nana tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik. Kulitnya yang sangat putih, tubuh tinggi jenjangnya bak seorang model dengan perutnya yang langsing dan ramping, dan wajahnya yang tak perlu di ragukan lagi, terlihat sangat cantik.

"aku juga tidak menyangka jika kau terlihat lebih cantik di bandingkan 5 tahun lalu."sahut Chanyeol dan tersenyum dengan tampan.

"wahhh...jangan bilang jika kau masih menyukaiku dobi! Kau juga, aku terkejut melihatmu tadi, kau sangat tinggi dan juga semakin tampan, aku pikir aku salah orang tadi"sahut Nana dan tertawa kecil, tak lama pesanan mereka datang.

"kau masih mengingat minuman favoritku ? kau tidak bisa melupakanku ya? Jangan bilang jika kau masih belum pernah memiliki kekasih karena masih menyukaiku?" goda Nana, ia hanya tidak ingin merasa canggung, karena bagaimanapun juga ini pertemuan pertama mereka setelah 5 tahun lalu.

Chanyeol lagi lagi tersenyum, ucapan ayahnya tidak ada salahnya, mencoba tidak apa apa bukan? Lagi pula ia sedikit tertarik lagi dengan Nana, kecantikan wanita itu membuat Chanyeol kembali kemasa lalu.

"apa kau tidak pernah memiliki perasaan yang sama Nana?"tanya Chanyeol, Nana menyesap Vanilla late nya lalu menatap Chanyeol.

"dulu tidak, tapi jika sekarang boleh juga. Aku tidak akan malu menggandengmu di depan teman temanku nanti hehehe..."jawab Nana masih dengan senyumannya.

"kalau begitu ayo jalan jalan seharian bersamaku, genggam tanganku di depan teman temanmu."ucap Chanyeol sedikit terkekeh karena ucapannya sendiri.

Nana hanya mencibir, lalu tertawa.

"boleh juga, lagi pula aku masih merindukan dobiku ini..."sahut Nana, Chanyeol tersenyum mendengar Nana memanggilnya dengan panggilan kecilnya dulu.

"ayah bilang kau kesini untuk magang selama 1 bulan, magang untuk apa?"tanya Chanyeol setelah menyesap Americano nya.

"aku kan sekolah model, tentu saja aku akan magang disini selama 1 bulan untuk menjadi model. Jika aku berhasil membuat beberapa perusahaan entertaiment besar melirikku, aku akan segera debut menjadi model yang sesungguhnya. Bukankah aku hebat?"jawab Nana dengan nada bangga, Chanyeol mengacungkan 2 ibu jarinya.

"kau sangat hebat, makanya kau terlihat semakin cantik, ternyata profesimu sebagai seorang model, kau pasti banyak perawatan."

"tentu, aku hampir menghabiskan uang 5 juta hanya untuk merawat kuku tangan setiap minggunya, belum lagi kuku kaki dan perawatan tubuhku, wahh...aku benar benar menghabiskan banyak uang untuk ini. Kau carilah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang jika ingin menikahiku." gurau Nana.

"tentu saja, aku akan menjadi pria terkaya lalu menikahimu!"sahut Chanyeol.

Keduanya tertawa karena percakapan konyol mereka.

"jadi hari ini kita jalan jalan?"tanya Chanyeol, Nana mengangguk setuju.

"lagi pula teman temanku sedang tidur di apartemen yang kami sewa."jawab Nana menyetujui.

.

.

Satu minggu pun terlewati, sekolah menjadi sangat ramai karena hari ini adalah hari dimana perlombaan MMA yang tempatnya terjadwal di sekolahan mereka sendiri. Tentu saja itu tidak membuat pihak sekolah panik, karena di sekolah itu sudah mempunyai tempat khusus perlombaan MMA yang terbilang cukup besar.

Kyungsoo berdiri di depan gerbang sekolahnya memperhatikan setiap orang yang masuk kedalam sekolahan mereka bersama Baekhyun disampingnya.

"sudah kubilang, Kai tidak akan datang Kyung."ucap Baekhyun.

Kyungsoo hanya diam dan terus memperhatikan setiap orang yang masuk, ia yakin jika Kai akan datang karena ini perlombaan besar tingkat sekolah yang melibatkan sekolah dari negara China dan London.

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapan mereka, membuat degup jantung Kyungsoo semakin keras, ia mengantisipasi jika yang berada di dalam mobil hitam itu adalah Kai.

Tapi perkiraannya salah, saat pintu mobil itu terbuka, mereka berdua hanya mendapati wanita cantik yang kini melangkahkan kaki jenjang di area sekolah. Mata mereka berdua mengikuti setiap langkah wanita itu.

"wahh...siapa dia?"kagum Kyungsoo

"entahlah...kupikir dia murid sekolah luar, atau murid dari sekolah Cina? Tapi tubuhnya tinggi seperti orang London, wajahnya juga terlihat sedikit seperti itu, mungkin keturunan dari negara campuran." Sambung Baekhyun masih memperhatikan wanita itu.

Baekhyun dapat melihat Chanyeol dan ayahnya yang baru saja keluar di depan pintu masuk sekolah, dan betapa terkejutnya ia ketika Chanyeol memeluk wanita itu dengan senyum yang mengembang, ia juga melihat Hangeng berkomunikasi dengan wanita itu.

Baekhyun masih menatap interaksi antara Chanyeol, Hangeng dan wanita itu, ia mengira ngira ada hubungan apa di antara ketiganya, hingga tatapan matanya bertemu dengan sorot tajam Chanyeol.

"Baekhyun ah...!" panggil Chanyeol melambaikan tangannya, tapi Baekhyun memalingkan wajahnya dan kembali menatap orang orang yang terlihat asing mulai memasuki area sekolahannya.

"Chanyeol memanggilmu Baek."ucap Kyungsoo.

"aku tidak mau jika ia mengenalkanku dengan pacar barunya"sahut Baekhyun cepat, pria mungil itu hanya menatap kosong pada keramaian di area sekolahnya.

.

.

"kau tidak ingin melihat perlombaan MMA?"tanya Sehun

"aku benci perkelahian."jawab Luhan yang kini duduk di meja belajarnya sambil membaca komik anime koleksinya.

Keadaan Luhan mulai membaik, pantatnya tidak lagi terasa sakit, dan bahunya tidak membengkak seperti 3 hari lalu, tapi ia masih merasa sedikit nyeri jika ada yang menyentuhnya. Selama 1 minggu Sehun selalu memperhatikan Luhan, mengikuti kelas yang sama dengan Luhan, mengambilkan Luhan makan dan membantu Luhan dengan alasan ingin bertanggung jawab hingga Luhan mendapatkan kembali kehidupannya yang dulu.

5 hari yang lalu juga, Baekhyun sempat memaki Sehun ini dan itu juga membuat keributan di kamar mereka, tapi Luhan mengatakan jika Sehun sudah meminta maaf, akhirnya Baekhyun pun berhenti memakinya, meskipun ia masih menyimpan rasa kesal pada Sehun.

"itu bukan perkelahian Luhan, ayo ! kau tidak bosan berdiam diri di kamar terus?"ajak Sehun lagi menutup komik yang sedang di baca Luhan.

"kau terlalu banyak ikut campur dalam urusanku Oh Sehun!"desis Luhan menatap sebal ke arah Sehun.

Sehun hanya mengedikkan bahunya acuh lalu menarik tangan Luhan agar laki laki itu ikut keluar.

Sekolah menjadi semakin ramai, bahkan di lorong asramanya yang biasanya sepi kini di penuhi banyak orang yang berbicara dengan bahasa asing dan juga wajah mereka yang asing bagi keduanya.

Sehun memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana yang ia pakai, dan berjalan dengan gagahnya di samping Luhan.

Luhan sendiri hanya mengerucutkan bibirnya kesal karena ia masih mengenakan kaos putih berlengan pendek dengan celana denim ¾ dan jangan lupakan rambut Luhan yang masih terikat, sangat menggemaskan. Luhan mengikat rambutnya seperti itu karena ia merasa rambut bagian depan mulai memanjang dan itu mengganggunya untuk membaca, jadi ia ikat saja menjadi apple hair, tapi dengan tidak sopannya Sehun menariknya keluar. Berbeda dengan Sehun yang sudah rapi dengan kemeja biru tua yang ia lipat hingga siku dengan celana jins dan juga rambut blonde nya ia naikkan sementara rambut hitam tipis di sisi kanan dan kiri terpotong dengan sangat rapi, membuat penampilan Sehun terlihat sangat keren meskipun hanya memakai baju santai.

Banyak pasang mata yang tertuju pada mereka saat mereka berdua berjalan di sepanjang koridor yang ramai, membuat Luhan semakin ciut karena penampilan konyolnya, ia memegang rambut yang ia ikat, Luhan ingin melepasnya tapi jika ia lepas, rambutnya akan terlihat lebih berantakan karena ia tidak membawa sisir rambut.

"excuse me..."ucap seorang wanita yang berada di depan mereka, dari wajahnya sudah terlihat jika wanita itu adalah orang London, dan juga pakaian serba pendek yang digunakan wanita itu.

"i'm sorry, but i and my friends is very curious about this. What's your name? I'm Jessie."ucap wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. Mungkin Luhan mengira wanita itu bertingkah tidak sopan dengan gayanya, tapi bagi Sehun itu hal biasa karena di Amerika juga seperti itu.

"i'm Sehun and he Luhan, nice to meet you Jessie."jawab Sehun lalu segera melewati wanita itu di ikuti dengan Luhan.

"wait a minute..."cegah wanita yang bernama Jessie itu membuat Sehun dan Luhan kembali menghentikan langkahnya.

"you two a twins? I mean the face and name looks like Sehun and Luhan."ucap wanita itu lagi membuat Sehun dan Luhan sedikit terkejut, meskipun Luhan tidak terlalu lancar berbahasa inggris, tapi ia mengerti maksud wanita itu.

"you must be his younger brother ? you're so adorable, look at your hair hehehe...how old are you brother cute?"tanya wanita itu pada Luhan, membuat Luhan dengan otomatis memegang lengan kemeja Sehun dan menatap Sehun dengan tatapan bingung yang menggemaskan, membuat wanita di depannya segera menarik pipi Luhan karena gemas.

Sehun sedikit terkekeh menatap Luhan yang menatapnya seperti itu.

"he is 15th years old. We got to go, bye Jessie" ucap Sehun lalu segera pergi dengan Luhan yang masih memegang lengan kemejanya.

"kau bilang aku umur berapa? Umur 15 tahun? Yang benar saja Sehun!" pekik Luhan tak terima, Sehun terkekeh lagi.

"memangnya dengan wajahmu yang seperti itu aku harus menjawab umur berapa jika tidak 15 tahun? Bahkan dia membicarakan rambutmu haha..."tawa Sehun membuat Luhan semakin kesal dan mencubit lengannya.

"ini semua salahmu!" pekik Luhan berjalan meninggalkan Sehun, Sehun hanya mengikutinya dari belakang.

.

.

Baekhyun segera masuk kedalam gedung sekolah dimana tempat perlombaan dilaksanakan, Kyungsoo bilang ia akan ke dapur karena ia harus membantu menyiapkan hidangan untuk para guru sekolah luar, dan juga mengatur konsumsi untuk semua siswa siswi yang berada dalam gedung sekolah ini, jadi ia berjalan sendirian di tengah ramainya gedung sekolah.

"kau Baekhyun?"tebak seorang wanita berpakaian super pendek dengan style yang sangat keren, membuatnya terlihat seperti seorang idol.

Baekhyun menatap wanita itu bingung, lalu ia teringat jika wanita itu adalah wanita yang kedatangannya di sambut Chanyeol dan ayahnya, juga wanita yang mendapatkan sebuah pelukan dari Chanyeol. Baekhyun memasang wajah datar pada wanita di depannya yang tersenyum, semakin terlihat cantik dan Baekhyun muak menyadari hal itu.

"jadi benar kau Baekhyun adik tiri Chanyeol? Wahh... kau sangat manis."ucap wanita itu lagi mencubit pipi Baekhyun gemas, tapi Baekhyun menepisnya kasar.

"Nana..!"panggil Chanyeol, Nana melambaikan tangannya dan tersenyum.

Baekhyun menatap Chanyeol tajam saat laki laki tinggi itu berjalan ke arahnya.

"ternyata kau disini sayang..."ucap Chanyeol mengusap lembut rambut panjang milik Nana, dan jangan lupakan senyum manisnya yang membuat Baekhyun semakin sesak.

Nana terkekeh, lalu menatap Baekhyun.

"adikmu benar benar sangat manis Dobi..."ucap Nana dengan nada yang begitu ceria, mengabaikan wajah Baekhyun yang terlihat memerah menahan marah, ia masih punya rasa malu untuk tidak manangis di tengah keramaian. Dan apa tadi itu panggilan sayang untuk Chanyeol?

"dia memang sangat manis, sikapnya juga sangat manis. Aku benar benar menyayangi adik tiriku."sahut Chanyeol menatap Baekhyun dengan senyum manis, tapi Baekhyun membalasnya dengan tatapan tajam.

"Baekhyunie... perkenalkan namaku Nana, aku kekasih dari kakakmu. Kau tahu ? kakakmu benar benar orang yang sangat setia, bahkan ia menungguku hingga 5 tahun, kau sangat beruntung memiliki kakak sepertinya."ucap Nana memegang lengan Baekhyun.

"jika benar dia laki laki yang setia, dia tidak akan menduakanmu selama 1 tahun lebih!"desis Baekhyun masih menatap Chanyeol tajam lalu meninggalkan Chanyeol dan juga Nana.

Nana menatap Chanyeol bingung, tapi Chanyeol menggeleng dan tersenyum seolah mengatakan jika itu bukan apa apa.

.

.

Baekhyun berjalan dengan tergesa gesa untuk naik ke atap sekolah yang menurutnya akan sangat sepi karena yang lain akan sangat sibuk menonton perlombaan MMA. Ia menahan air matanya saat menaiki tangga menuju atap Sekolah.

Ia membuka atap sekolah dengan kasar dan segera berlari ketengah, tapi ia malah menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh. Aneh, ia yang menabrak tapi ia sendiri yang terjatuh.

"maafkan aku... apa kau terluka?"tanya orang itu.

Baekhyun tetap terduduk dibawah, ia sudah menangis karena sudah tidak tahan dengan emosinya membuat laki laki yang ia tabrak bingung.

"kau terluka?"tanya laki laki itu lagi, Baekhyun menggeleng sebagai jawaban.

Baekhyun tetap terisak, mengabaikan jika laki laki yang ia tabrak akan menganggapnya aneh. Sementara laki laki itu berdiri di depan Baekhyun dan memperhatikannya, laki laki itu bisa melihat jika Baekhyun menangis karena masalah keluarganya, anggap saja laki laki itu mempunyai indra ke6.

"jangan menangis, lagi pula nanti masalahnya juga lebih berat."ucap laki laki itu enteng.

Baekhyun langsung menatapnya nyalang masih dengan air mata yang terus mengalir.

"wahh...eyelinermu bagus sekali? Bahkan saat kau menangis eyelinermu tidak luntur."ucap laki laki itu yang kini sudah berjongkok di depan Baekhyun memperhatikan mata Baekhyun. Sementara Baekhyun menatap laki laki di depannya aneh.

"apa merek eyelinermu? Eyelinerku mudah luntur jika aku berkeringat dan aku sangat kesal, tapi eyelinermu tetap utuh meskipun kau menangis."tanya laki laki itu penasaran.

Baekhyun menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya, lalu menatap laki laki di depannya.

"akhirnya berhenti juga, jangan menangis."ucap laki laki itu tersenyum pada Baekhyun.

"aku Jung Daehyun, kau?"lanjut laki laki yang kita ketahui bernama Daehyun.

"Byun Baekhyun."jawab Baekhyun pelan.

"wahh... nama kita hampir mirip! Baekhyun Daehyun, hanya berbeda 'Baek' dan 'Dae' saja. Dan kita sama sama suka eyeliner, apa aku benar?" tanya Daehyun

Baekhyun sedikit tersenyum, ia pikir laki laki bernama Daehyun itu cukup menyenangkan, ia bahkan lupa dengan masalah hubungan Chanyeol, dia dan juga Nana.

"kau sekolah dimana?"tanya Baekhyun.

"kau tau pegunungan Moorim ? di daerah situ sekolahku, Moorim School."jawab Daehyun.

"tidak terlalu jauh dari sini."gumam Baekhyun.

"tentu, kita bisa bertemu lagi nanti"sahut Daehyun dengan senyum lebarnya.

"hah?" Baekhyun sedikit terkejut, tapi Daehyun malah tertawa.

"kita kan teman, sesekali kita bertemu lagi tidak masalah bukan? Tenang saja, aku laki laki yang baik."ucap Daehyun, Baekhyun pun tersenyum.

"aku semakin curiga..."sambung Baekhyun lalu mereka berdua tertawa.

"jadi kau menangis karena masalah keluarga?"tanya Daehyun membuat Baekhyun sedikit terkejut.

"bagaimana bisa kau tahu?"tanya Baekhyun

"aku bisa melihatnya dari raut wajah dan tatapan matamu"jawab Daehyun , tapi Baekhyun masih menatapnya seperti kurang puas dengan jawaban Daehyun

"aku masuk ke kelas psikolog, jika kau ingin tau."lanjut Daehyun, akhirnya Baekhyun mengangguk mengerti.

"pantas saja, kau bisa melihatnya. Aku harus hati hati."ucap Baekhyun membuat Daehyun terkekeh.

"mau ku temani hingga perlombaan selesai?"tawar Daehyun, Baekhyun mengangguk setuju.

"jika tidak merepotkanmu."balas Baekhyun dengan senyum manis.

.

.

Seharian ini Sehun dan Luhan terus bersama, meskipun mereka jarang sekali berbicara satu sama lain, tapi mereka tetap pergi bersama. Alasannya karena Baekhyun tidak ada dan Kyungsoo yang sibuk di dapur, akhirnya Luhan memilih untuk mengikuti Sehun karena laki laki itu tidak akan membiarkan Luhan berdiam diri di kamar seharian di saat sekolah mereka sedang mengadakan lomba besar, Sehun bilang ia harus berbaur dengan lingkungan sekitarnya.

Luhan tersentak kala tangan Sehun merangkulnya sambil berjalan ke arah kamar mereka, dengan pelan Luhan melepaskannya karena tubuhnya sedikit bergetar takut.

"aku masih memiliki trauma dengan sentuhanmu."ucap Luhan membuat Sehun sadar.

Sehun hanya mengangguk dan berjalan di samping Luhan dengan keadaan hening, perlombaan sudah selesai dan akan di lanjutkan esok hari, jadi asrama mulai sedikit sepi karena siswa siswi sekolah lain sudah kembali ke tempat penginapan mereka.

"Luhan!" panggil Baekhyun dari bawah tangga.

Luhan menatapnya dan Baekhyun segera berlari ke arahnya.

"pelan pelan Baek!"tegur Luhan karena Baekhyun berlari untuk menaiki tangga.

"hehe...malam ini tidur denganku ya? Kyungsoo bilang ia akan kerja sampai larut karena ia sudah membolos selama 4 hari, aku tidak tahu ia akan pulang jam berapa."ucap Baekhyun, Luhan langsung mengangguk setuju.

"aku akan tidur di kamar Baekhyun." Sehun mengangguk

"terserah kau saja."sahut Sehun acuh lalu segera meninggalkan Baekhyun dan Luhan yang bersorak senang dan langsung menuruni tangga dengan semangat.

"ayo bawa makanan sebanyak banyaknya, kita akan menonton film yang baru ku download nanti!"ucap Baekhyun semangat dan mengambil beberapa snack di dapur asrama, sementara Luhan mengambil beberapa kotak susu dan 2 botol air dingin.

"sepertinya ini snack milik Shannon, aku akan bilang padanya besok"gumam Baekhyun dan mengambil snack milik temannya.

Setelah selesai mereka segera pergi ke kamar, tapi mereka bertemu dengan Chanyeol yang baru saja masuk kedalam asrama. Baekhyun melihat jam dinding asrama dan jarum jam menunjuk angka 23.15.

"Luhan kau duluan saja, bisa kau bawakan ini?" Luhan mengangguk

"tentu."sahutnya lalu segera mengambil snack yang berada di tangan Baekhyun dan segera masuk ke dalam kamar.

"kau dari mana?"tanya Baekhyun langsung saat Chanyeol akan melewatinya.

"kau belum tidur? Ini sudah malam, tidurlah! Kau terlihat sangat lelah."ucap Chanyeol mengabaikan pertanyaan Baekhyun.

"aku akan segera tidur jika kau menjawab pertanyaanku, kau dari mana? Kenapa baru datang? Ini sudah larut malam, dan kau tidak sedang bekerja part time."jawab Baekhyun dengan beberapa pertanyaan lain yang muncul.

Chanyeol menghela nafas berat lalu membelai pipi Baekhyun yang terlihat sedikit tirus beberapa hari ini.

"ini sudah sangat malam, kita bicarakan besok. Selamat malam adik manisku..."ucap Chanyeol lalu tersenyum sebelum meninggalkan Baekhyun.

Greb...

Langkah Chanyeol terhenti ketika Baekhyun memeluknya erat dari belakang, ia ingin melepaskannya sebelum isak tangis Baekhyun mulai terdengar oleh indra pendengar nya.

"kau pergi bersama wanita itu...hiks...dan kau baru saja mengantarkannya pulang...hiks...apa aku benar Chanyeol?"tanya Baekhyun di sela sela isakannya.

"hmmm...aku baru saja mengantarnya pulang."jawab Chanyeol sambil melepas pelukan dari Baekyun, ia berbalik menatap wajah Baekhyun yang lagi lagi menunjukkan raut wajah terluka padanya.

"aku tidak masalah jika kau duakan yeol, asal kau tidak memberikan seluruh perhatianmu padanya dan mengabaikanku...hiks...aku teriksa dengan perasaan ini."ucap Baekhyun memohon.

"Baekhyun, tolong dengarkan aku. Hubungan kita sudah berakhir dan aku sudah mencintai orang lain, begitu juga denganmu, kau harus mencintai orang lain sama seperti yang kulakukan. Kita saudara dan kita tidak bisa menjalin hubungan seperti itu lagi, aku mohon mengertilah, tidakkah kau sudah cukup dewasa untuk memahami semua ini?" Chanyeol mengatakannya dengan nada yang sangat lembut, takut jika ia akan melukai si mungil yang masih menangis di depannya, walau kenyataannya ia memang sudah menyakiti pria yang masih di cintainya itu.

"tidak bisakah kau memperjuangkan hubungan kita yeol? Jangan berkata jika kita sudah putus, karena aku tidak pernah mengatakan iya."

"harus kuperjuangkan seperti apa lagi Baek? Coba katakan padaku? Ayahku terlihat sangat bahagia ketika bersama ibumu, aku tidak pernah melihat kebahagiaannya lagi setelah ibuku meninggal dunia, dan sekarang...bisakah aku merebut kebahagiaannya setelah ia dengan berbesar hati merawatku seorang diri dan berusaha membuatku bahagia di atas penderitaannya? Dan juga apa kau tega melihat ibumu merasa tertekan seperti sekarang karena kau mendiaminya bahkan kau tidak mau bertemu dengannya ?"tanya Chanyeol dengan nada yang begitu frustasi, tidak bisakah Baekhyun memahami semua ini?

"mereka sudah tua dan akan segera mati, aku tidak mau mengalah pada orang yang sudah tua seperi mereka, kini giliranku untuk mendapatkan kebahagian karena mereka sudah mendapatkannya saat mereka masih muda!"sahut Baekhyun ketus dengan wajah memerah.

"BYUN BAEKHYUN!" bentak Chanyeol membuat Baekhyun sedikit tersentak dan menatap Chanyeol takut takut karena pria itu sedang menatapnya tajam.

"mereka orang tuamu! Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu? Kau menyumpahi mereka agar segera mati ? mengapa kau sangat egois ? tidak puaskah kau dengan status kita yang sekarang ? aku tidak jauh darimu, aku akan selalu ada disampingmu karena aku adalah kakakmu! Tidak bisakah kau menerimanya Baek? Bagaimana bisa kau kehilangan akal sehatmu hanya karena masalah ini?"

"kau yang membuatku seperti ini..hiks... karenamu untuk pertama kalinya aku bisa membenci ibuku, karenamu juga aku bisa kehilangan akal sehatku. Lalu aku harus bagaimana? Kau yang membuatku seperti ini yeol... apa kau juga tidak bisa melihat seberapa besar cintaku yang ku berikan seluruhnya padamu? Kau tahu? Aku benar benar ingin membunuh gadis itu saat ia mengatakan bahwa dia adalah kekasihmu, tidakkah kau bangga padaku karena aku bisa menahan diriku untuk tidak melakukannya?" Baekhyun semakin terisak, ia tidak tahu mengapa dirinya menjadi begitu egois, ia sudah terjatuh terlalu dalam pada cinta yang Chanyeol tawarkan untuknya hingga ia tidak tau bagaimana cara untuk kembali ke permukaan.

Perlahan tubuh Baekhyun terduduk di bawah masih dengan isakannya yang semakin keras, Chanyeol hanya menelan ludahnya susah payah karena sebenarnya ia sedang menahan diri untuk tidak memeluk tubuh rapuh Baekhyun dalam dekapannya dan mencium bibirnya agar tidak lagi terisak, ia meraskan sakit pada hatinya, sama seperti yang Baekhyun rasakan hanya saja ia pandai menutupinya tidak seperti Baekhyun yang memang selalu terbuka.

"pergilah yeol... pergilah yang jauh, kemanapun asal tidak berada dalam jangkauanku...hiks... jangan menghubungiku, jangan berusaha menanyakan kabarku karena aku juga akan melakukan hal yang sama...hiks... aku akan mencoba mengerti dan menerima semua ini, asal kau tak lagi muncul di hadapanku."gumam Baekhyun masih terduduk di bawah Chanyeol, Chanyeol menahan nafasnya saat mendengar permintaan Baekhyun. Tidak bisa, ia tidak bisa meninggalkan Baekhyun.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, meskipun ia tahu jika Baekhyun tidak bisa melihatnya.

"aku tidak mau!" tolak Chanyeol mentah mentah.

"kalau begitu aku yang akan pergi, jika kau tidak bisa pergi maka aku yang akan pergi. Aku tidak bisa terus tersiksa dengan perasaan ini, aku tidak bisa menahan perasaanku saat melihatmu, jadi kumohon...jika kau tidak bisa bersamaku maka biarkan kita berpisah seutuhnya, seperti Chanyeol dan Baekhyun yang tak saling mengenal satu sama lain." Baekhyun mendongak menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.

Chanyeol berjongkok dihadapan Baekhyun, lalu segera menarik dagu Baekhyun dan melumat bibir Baekhyun dengan kasar. Ia tidak peduli jika ini masih berada di lingkungan asrama dan akan ada orang yang melihat mereka, Chanyeol tak peduli.

Baekhyun bisa merasakan tetesan air mata Chanyeol yang terjatuh pada pipinya, ia tahu jika Chanyeol masih mencintainya. Baekhyun mulai membalas lumatan Chanyeol dengan tangannya yang mencengkram baju bagian depan Chanyeol erat, ia juga tidak peduli jika ada yang melihat mereka.

Sedangkan di atas sana Hangeng terpaku melihat kejadian itu, ia melihat semuanya dari awal. Mulai dari Luhan yang mengambil alih snack yang di bawa Baekhyun hingga Chanyeol yang melumat bibir Baekhyun di bawah sana. Ia juga dapat mendengar setiap perkataan yang meluncur pada bibir keduanya karena asrama sangatlah sepi, dan ia merasa bersalah atas kejadian ini.

.

.

Kyungsoo membersihkan kedai tempatnya bekerja, karena selama 4 hari kedepan ia yang di tugaskan untuk menutup kedainya. Setelah mengepel lantai kedai, Kyungsoo terduduk di salah satu kursi.

Ia menatap jam dinding yang sudah menunjuk arah 00.45 , ia menatap ponselnya menimbang nimbang apa yang harus ia lakukan.

Akhirnya Kyungsoo memilih untuk menghubungi Kai, karena jujur saja Kyungsoo sangat ingin menghubungi pria tan itu sejak pagi tadi setelah ia meminta no. Ponsel Kai pada Chanyeol. Kyungsoo tidak peduli jika Kai tidak mengangkatnya, karena ini sudah terlalu larut dan mungkin Kai juga sudah tertidur.

"halo..."

Kyungsoo sedikit terkejut saat Kai menjawabnya, dari nada bicaranya, Kyungsoo bisa tau jika Kai baru saja terbangun dari tidurnya.

"hmmm...apa aku mengganggu tidurmu?"tanya Kyungsoo lebih lembut di banding dengan saat ia meminjam ponsel milik Chanyeol.

"Kyungsoo?"

"ya, ini nomor ponselku dan kau harus menyimpannya."ucap Kyungsoo.

Hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka berdua hanya diam, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

Namun Kai merasa ada sesuatu dan samar samar ia mendengar Kyungsoo yang sedang menarik ingusnya agar tak keluar.

"apa di Korea udaranya sangat dingin ? kau flu ?"tanya Kai pada akhirnya, tapi tak mendapat jawaban dari Kyungsoo, hingga beberapa detik Kyungsoo mulai membuka suaranya.

"kembalilah Kai..."bisik Kyungsoo dengan suara bergetar.

"Kyungsoo..."

"kumohon...aku tidak tahu apa artinya ini, tapi aku benar benar merindukanmu. Pagiku terasa sepi karena tidak ada kau yang selalu menggangguku, dan aku bosan karena tidak ada orang yang bisa kumarahi selain dirimu. Cepat kembali dan aku akan memarahimu...dan juga aku akan menghargai setiap detik kehadiranmu."ucapan Kyungsoo semakin pelan di bagian akhir.

"aku benar benar sudah pindah Kyungsoo"

"aku akan berkecan dengan orang lain jika kau tidak segera kembali!"

"Kyungsoo aku..."

"satu minggu, waktumu hanya satu minggu. Setelah itu aku akan benar benar berkencan dengan orang lain jika kau tidak datang, aku memaafkanmu karena kau tidak mengikuti perlombaanmu dan tidak mengembalikan bukuku, tapi untuk seminggu ini aku akan bersungguh sungguh."sahut Kyungsoo cepat.

"aku anggap kau setuju, sampai bertemu minggu depan Kai." Ucap Kyungsoo karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Kai.

Kyungsoo menghapus air mata yang sedari tadi meluncur saat ia menelfon Kai, ia benar benar merindukan pria itu, ia takut jika suatu saat Kai akan memiliki kekasih sama seperti Chanyeol. Kyungsoo menundukkan kepalanya di atas meja, ia benar benar berharap jika Kai akan datang minggu depan.

TBC

Terimakasih buat semua reviewnya ^^aku baca semua review dari kalian dan itu buat aku senyum senyum sendiri :3 / seriusan/

Meliarisky7: iya kasian mereka, aku sendiri juga gak tega ngetiknya :3 semoga mereka bener bener bersatu. Terimakasih buat reviewnya ^^

Luluhunhun : Sehun emang jahat, beraninya nyakitin Luhan /Sehun : Lu yang ngetik pliss/ kkkk BTW makasih reviewnya, dan ini udah di lanjut.

Daebaektaeluv : Suho udah tau tuh kkkk...makasih udah review, dan selamat membaca chap6 ^^

Bijin YJS : jangan benci Sehun T.T Sehun hanya menjalani peran /plakk/ makasih udah review ^^

Vietrona Chan : tuh Sehunnya udah minta maaf ke Luhan :3makasih udah review

Chenma : jangan kutuk Sehun nanti Luhan gak ada pasangannya kkkk... Kris udah tau kok kebusukan Jessica makanya dia benci sama Jessica, di Chap depan bakal di jelasin lagi tentang masa lalu mereka, Suho sayang sama Luhan gak ya ?kkkk... makasih udah review, selamat membaca di chap 6 ini. ^^

Serine Oh :pasti nanti ada saatnya dimana hunhan tebar moment manis mereka hehe..makasih udah review.

JungHunHan : aku juga seneng sama peran Sehun yang kek gini kkkk...makasih buat reviewnya ^^

Hunhan731 :salam kenal juga ^^ sehun kan gengnya trio bangsat hehehe makanya sikap dia kayak gitu. Kita sama, aku juga suka sama drama itu ^^ makasih udah review ya..

Mr albino : kan dia maboknya gak aturan, makanya kayak gitu kkkk... makasih buat reviewnya, ini udah di next ^^

Yayahunnie : semoga Chanbaek bisa mempertahankan hubungannya, saya akan cari cara untuk menyatukan mereka kkkkk...makasih buat reviewnya ^^

Double Kim : Sehun udah tanggung jawab tuh kkk...makasih buat reviewnya ini udah di next ^^

: nanti mereka bakal bahagia kok^^ makasih udah review...

.58 :nantikan kisah hunhan di next Chapter^^ makasih buat reviewnya

Restikadena : makasih udah bilang ff ini keren :3 /malu/ makasih buat reviewnya dan moment Chanbaeknya bakal bertebaran di setiap Chapternya^^

Terimakasih banyak buat :

Cb614hard ship | OH7 | ohseXiLu | AmeliaOh 21 |Arifahohse |

See you next Chap ^^ semoga kalian menikmati setiap chapternya ^^