Setelah selesai mereka segera pergi ke kamar, tapi mereka bertemu dengan Chanyeol yang baru saja masuk kedalam asrama. Baekhyun melihat jam dinding asrama dan jarum jam menunjuk angka 23.15.

"Luhan kau duluan saja, bisa kau bawakan ini?" Luhan mengangguk

"tentu."sahutnya lalu segera mengambil snack yang berada di tangan Baekhyun dan segera masuk ke dalam kamar.

Greb...

Langkah Chanyeol terhenti ketika Baekhyun memeluknya erat dari belakang, ia ingin melepaskannya sebelum isak tangis Baekhyun mulai terdengar oleh indra pendengar nya.

"Kyungsoo aku..."

"satu minggu, waktumu hanya satu minggu. Setelah itu aku akan benar benar berkencan dengan orang lain jika kau tidak datang, aku memaafkanmu karena kau tidak mengikuti perlombaanmu dan tidak mengembalikan bukuku, tapi untuk seminggu ini aku akan bersungguh sungguh."sahut Kyungsoo cepat.

"aku anggap kau setuju, sampai bertemu minggu depan Kai." Ucap Kyungsoo karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Kai.

Kyungsoo menghapus air mata yang sedari tadi meluncur saat ia menelfon Kai, ia benar benar merindukan pria itu, ia takut jika suatu saat Kai akan memiliki kekasih sama seperti Chanyeol. Kyungsoo menundukkan kepalanya di atas meja, ia benar benar berharap jika Kai akan datang minggu depan.

LOVE ME RIGHT

.

.

.

Main cast: Sehun, Luhan, Kai, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun and other

Main pair: HunHan KaiSoo ChanBaek

Genre: Romance School life

Rate : T-M

Length: Chapter

YAOI. MPREG. Typo

.

.

.

.

Luhan keluar dari kamar bersama Baekhyun, semalam Baekhyun meluapkan semua emosinya hingga tertidur karena kelelahan menangis, Luhan pun hanya memberikan nasihat yang baik untuk Baekhyun.

"Kyungsoo!"panggil Luhan

Kyungsoo yang sedang memotong sayuran menoleh ke arah Luhan dan Baekhyun lalu tersenyum tipis.

"bisa kau jelaskan darimana kau mendapatkan mata sembab itu Baek ?"tanya Kyungsoo langsung.

"jangan membahasnya, aku tidak ingin moodku buruk di pagi hari."jawab Baekhyun tersenyum lembut, Kyungsoo pun terkekeh karena ia hafal dengan kebiasaan Baekhyun.

"apa menu pagi ini Kyung? Kenapa tidak beli di rumah makan dekat lapangan golf saja?"tanya Baekhyun lagi menghampiri Kyungsoo, di ikuti dengan Luhan yang kini mengendus aroma masakan Kyungsoo yang hampir jadi.

"hanya lauk sederhana dan juga sayur segar, aku harus menghemat uangku karena keperluanku semakin banyak."jawab Kyungsoo

"kau bisa meminjam uangku atau uang Luhan, kami pasti akan meminjamkannya Kyung."ucap Baekhyun.

"aku sudah bekerja, jadi tidak ada alasan untuk meminjam uang jika gajiku masih cukup untuk membeli keperluanku."sahut Kyungsoo

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan, ia tahu jika Kyungsoo tidak suka di kasihani.

"berhenti memasak, ikut aku dan Luhan. Kita akan sarapan di rumah makan dekat lapangan golf, aku yang bayar kali ini!" ajak Baekhyun segera menarik Kyungsoo dan Luhan.

"tunggu, aku masih menggunakan clemekku!"pekik Kyungsoo

Luhan segera menarik tali clemek yang di gunakan Kyungsoo lalu melemparnya ke arah dapur, ia tidak peduli jika clemek itu tergeletak di lantai.

"kompornya!" pekik Kyungsoo lagi

"aku sudah mematikannya, jadi jangan banyak alasan!"sahut Luhan yang kini ikut menarik tangan Kyungsoo.

.

.

"Aaarghh..."desis Luhan saat ia menabrak tubuh Sehun ketika ia membuka pintu rumah makan dengan kasar dan sedikit berlari, ia hampir saja jatuh jika Sehun tidak menahannya.

Tubuh Luhan kembali bergetar saat Sehun mendekapnya, dengan cepat Luhan memberi jarak.

"m..maaf"gugup Luhan masih bergetar, Sehun hanya menatapnya maklum.

"tidak apa, kau mau pesan apa? Duduklah, aku akan mengambil pesananmu."ucap Sehun mendudukkan Luhan pada kursi kosong di sebelahnya.

"tidak perlu, aku akan mengambilnya sendiri"sahut Luhan ingin berdiri, tapi Sehun menahannya.

"duduk saja!"perintah Sehun dan Luhan sedikit cemberut namun menurut.

"makanan sederhana saja"ucap Luhan tanpa menatap Sehun, pertanda jika ia sedang kesal.

"wah..."kagum Kyungsoo dan Baekhyun yang masih berdiri di ambang pintu menyaksikan interaksi antara Sehun dan Luhan.

"Kyungsoo...!"panggil Sehun.

Luhan sedikit melirik dan mendapati Sehun yang dengan santainya mengecup pipi tembam Kyungsoo, entah mengapa Luhan tidak suka melihatnya.

"ya! Sudah kubilang jangan lakukan ini di depan teman teman."gumam Kyungsoo sedikit bersemu, jujur saja ia masih merasa malu di perlakukan semanis itu padahal mereka hanya sebatas teman.

"aku sudah lapar, sebaiknya jika kau memang berniat mengambil pesananku cepatlah!"ketus Luhan membuat Sehun mengalihkan tatapannya.

"baiklah, kalian tidak ingin mengambil sarapan juga?"tanya Sehun.

"Kyung, aku akan duduk bersama Chanyeol."ucap Baekhyun yang kini tengah memandang Chanyeol yang duduk di sudut tanpa memesan makanan apapun dan hanya memainkan ponselnya.

"hmm...aku akan bergabung dengan Sehun dan Luhan."balas Kyungsoo.

Baekhyun segera memesan pancake favoritnya lalu duduk di depan Chanyeol, membuat Chanyeol sedikit terkejut.

"kau tidak sarapan ?" tanya Baekhyun memasang wajah manis, melupakan kejadian semalam yang membuatnya uring uringan, entah mengapa Baekhyun bisa melakukan hal memalukan ini.

"aku menunggu sarapanku" jawab Chanyeol berusaha tidak canggung dan membalas senyuman Baekhyun, ia harap Baekhyun tidak merencanakan hal apapun yang bisa membuat keduanya bertengkar lagi, karena jujur saja Chanyeol bosan.

"suapi aku"ucap Baekhyun sedikit ragu

Chanyeol terdiam sejenak, lalu mengambil alih pesanan Baekhyun. Tidak masalah bukan jika seorang kakak menyuapi adiknya? Bukankah itu hal yang wajar?

Chanyeol memberikan suapan pertama pada Bekhyun dan Baekhyun menerimanya dengan senang hati, mereka berdua saling tatap lalu tersenyum canggung.

Jauh di lubuk hati, Baekhyun menangis keras. Ia merindukan moment manis seperti ini bersama Chanyeol tanpa rasa canggung, tapi Baekhyun juga sedikit lega karena Chanyeol tidak menolaknya.

"aku merindukanmu..."ucap Baekhyun di sela sela kunyahan mulutnya.

"jangan mulai lagi Baek."guamam Chanyeol dengan nada lelah.

"aku hanya berkata jika aku merindukanmu, apa aku salah?" tanya Baekhyun santai.

Chanyeol tidak menjawab dan hanya menyuapkan pancake yang sudah ia potong pada Baekhyun.

"Chanyeol !"

Baekhyun dan Chanyeol menoleh ke arah pintu masuk, Baekhyun terkejut melihat Nana yang sudah berada di area sekolahannya sepagi ini, berbeda dengan Chanyeol yang tersenyum menyambut kedatangan Nana.

"ini sarapanmu, apa aku terlambat?" tanya Nana, Chanyeol menggeleng dan menepuk kursi di sampingnya agar Nana duduk di situ.

"sedikit terlambat, tapi tidak masalah. Menu apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"

Nana duduk disamping Chanyeol dan membuka bekal yang ia bawa.

"sarapan sehat."kekeh Nana membuat Chanyeol tersenyum, mengabaikan Baekhyun yang kini meremas kedua tangannya di bawah meja.

"aku membawa ikan segar, sayur segar dan juga buah segar. Aku rasa aku tidak perlu membawa minuman, karena kita bisa memesannya disini dan juga aku tidak suka membawa minuman dalam botol saat sarapan seperti ini." Lanjut Nana.

"bagaimana denganku Yeol?"

Chanyeol segera menatap Baekyun yang duduk di depannya.

"ahh... aku akan menyuapimu terlebih dahulu"ucap Chanyeol.

"aku akan menyuapi adik manisku dulu, nanti baru aku akan memakan masakanmu"lanjut Chanyeol menatap Nana, Nana mengangguk setuju.

"kau juga bisa mengambil apel ini Baek, apel ini sangat segar karena kemarin pembimbingku baru saja memetiknya dari kebun secara langsung."tawar Nana mengambil satu apel untuk Baekhyun.

"aku phobia apel setelah melihat snow white keracunan apel di dalam dongengnya" sahut Baekhyun asal membuat Chanyeol mengernyit. Setaunya Baekhyun tidak memiliki phobia apapun terhadap buah itu.

"benarkah? Maafkan aku, lain kali aku akan membawa buah yang lain"ucap Nana dengan nada menyesal, Baekhyun hanya mengedikkan bahunya acuh sambil menerima suapan demi suapan yang di berikan Chanyeol.

.

.

Luhan mendengus jenuh melihat Kyungsoo dan Sehun asik bernostalgia dan mengabaikan dirinya, mungkin mereka lupa jika ada Luhan disana.

Luhan menatap meja Baekhyun dan sedikit terkejut melihat Nana duduk di sana juga, Luhan bahkan tidak tau kapan wanita itu masuk.

Tapi Luhan menatap lega karena sepertinya Baekhyun tidak merasa terganggu dengan kehadiran Nana, apalagi melihat bagaimana Chanyeol dengan sabar menyuapinya.

Lagi lagi Luhan mendengus, mungkin benar jika Sehun dan Kyungsoo telah melupakan kehadirannya, Luhan segera menghabiskan sarapannya.

"aku selesai..."ucap Luhan

Luhan menghela nafas kasar saat mereka berdua masih mengacuhkannya.

"aku pergi, aku ada kelas pagi."ucap Luhan lagi dengan nada kesal

"ini kunci kamarnya" Sehun memberikan kunci kamarnya mengingat semalam Luhan tidur di kamar Baekhyun hingga kunci kamar Sehun yang bawa.

Luhan mengambilnya dengan kasar dan segera pergi, membuat Sehun dan Kyungsoo saling bertatap bingung.

"bukankah hari ini adalah hari terakhir perlombaan MMA ? Dan tentu saja kelas kita di liburkan."tanya Kyungsoo heran, Sehun mengedikkan bahunya.

"kalau begitu aku kembali ke asrama dulu Kyung, sesekali mainlah ke kamarku bukankah kau juga teman dekat Luhan?"ucap Sehun dan Kyungsoo mengangguk.

"Sehun, aku sarankan padamu. Korea tidaklah sama dengan Amerika, jadi kau bisa menjaga sikapmu bukan?"saran Kyungsoo tersenyum, Sehun terkekeh.

"akan ku coba, aku tau aku sudah keterlaluan."

Setelah mengucapkannya Sehun benar benar pergi, Sehun berlari kecil menuju kamarnya. Entah mengapa Sehun ingin tahu apa yang sedang Luhan lakukan dan mengapa Luhan berbohong mengenai kelasnya disaat kelas sedang di liburkan, ataukah Luhan lupa?

Cklek...

Sehun menemukan Luhan yang sedang berbaring di ranjangnya, ia pun segera menghampiri laki laki itu.

"hei..." Sehun duduk di tepi ranjang Luhan, Luhan membuka matanya dan menatap kesal pada Sehun.

"apa?"sahutnya ketus

"bukankah kau ada kelas pagi? Kenapa belum bersiap?" tanya Sehun santai

Luhan menggigit bibirnya dan mengalihkan tatapannya, bingung akan menjawab apa.

"mengapa berbohong ? jelas jelas hari ini semua kelas di liburkan."ucap Sehun

Luhan segera duduk dan menatap Sehun kesal.

"apa pedulimu? Aku berbohong atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu!" sahut Luhan kesal.

Sehun menganggukkan kepalanya menanggapi suara ketus Luhan.

"jujur saja Luhan, setelah 1 minggu lebih ini kita melakukan banyak hal bersama sama, aku mulai tertarik padamu. Tidakkah kau merasakan hal yang sama ?" tanya Sehun menatap Luhan.

Luhan menatap Sehun tak percaya, tatapan matanya terfokus pada Sehun. Luhan sulit membaca raut wajah Sehun karena laki laki di depannya sama sekali tidak menunjukkan emosi yang mengekspresikan kesungguhan ataupun sikap main main, kemudian Luhan mengibaskan tangannya dan menggeleng.

"aku benci permainan seperti ini, bisa kau ganti permainannya ?"tanya Luhan, ia membenarkan posisi duduknya hingga berhadapan dengan Sehun yang duduk di tepi ranjangnya.

"bagaimana jika ku katakan aku mulai jatuh cinta padamu ?"tawar Sehun

"dengar Sehun, aku tidak tahu jika ini permainan atau tidak. Jika kau ingin bermain main..."

"apa menurutmu aku terlihat seperti anak kecil yang merengek ingin bermain ?"potong Sehun.

"aku hanya sedikit bingung denganmu, aku sungguh tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, apa maksud dan tujuanmu mengatakan hal itu. Tapi satu hal yang ku tau, sejak kau hadir di kehidupanku, tidak ada hal baik yang terjadi padaku, melainkan sebaliknya. Apa yang ku miliki hilang dan semua itu karena mu, bisa saja setelah kita bersama kau akan mematahkan hatiku, benar kan ?"ucap Luhan

Sehun tersenyum, membuat Luhan sedikit terkejut. Ia pikir Sehun akan mengatakan alasan kenapa ia bisa tertarik padanya dan berusaha untuk meyakinkannya, tapi kemudian Luhan menghela nafas halus, Sehun tidak akan tertarik padanya dan Sehun hanyalah bercanda, seharusnya Luhan menyadari itu.

"cepat mandi! Sebentar lagi sekolah kita ramai, karena perlombaan akan di mulai 1 jam lagi."ucap Sehun mengusak rambut Luhan sebelum ia berdiri.

Luhan menurut dan segera masuk kedalam kamar mandi sedangkan Sehun mengambil setelan yang akan ia gunakan dan merapikan kamar mereka.

.

.

Luhan dan Sehun bediri sedikit dekat dengan ring, sesekali Luhan akan bergidik ngeri dan memalingkan wajah ke belakang ketika melihat aksi saling pukul di depannya, Luhan jadi teringat saat ibu tiri Sehun menyuruh orang untuk memukulinya dan rasanya sakit sekali.

Sehun selalu mengusap lengan Luhan dan berkata jika itu bukan sembarang memukul, mereka memiliki aturan bukan saling pukul seperti yang orang biasa lakukan.

"kenapa tiba tiba aku sangat tertarik mengikuti kelas ini..."gumam Sehun memperhatikan Nadet yang melawan siswa dari China.

Luhan mendongak menatap Sehun. " itu cocok, karena wajahmu terlihat seperti seorang gangster."

"kalau begitu, aku akan mengonfirmasinya secepat mungkin setelah perlombaan selesai."sahut Sehun.

Luhan menatap Sehun saat ponsel Sehun berdering dengan nyaring.

"siapa yang menelfon ? kenapa di matikan?" tanya Luhan penasaran.

"itu bukan telfon, tapi alarm jadwal terapi pertamamu."jawab Sehun memasukkan ponselnya, sedangkan Luhan masih menatap tidak mengerti.

"bersiaplah ke rumah sakit, sebentar lagi aku akan meminjam motor Chanyeol dan kita berangkat."ucap Sehun lalu meninggalkan area perlombaan, Luhan pun hanya mengikuti dari belakang.

"kenapa harus sekarang ? tidak bisa nanti saja ? perlombaan belum selesai dan juga kita harus memberi salam perpisahan pada sekolah dari China dan London. Meskipun tidak mengikuti terapi satu kali tidak masalah bukan ? lagi pula aku sudah putus asa mengenai cideraku, aku akan sulit menggapai mimpiku karena berenang tidaklah semudah yang kau bayangkan, mungkin juga nafasku tidak sekuat dulu karena aku jarang berolah raga, aku..." Luhan menghentikan ocehannya ketika sadar jika Sehun tengah berhenti dan menatapnya tajam.

"masih banyak siswa lain yang bisa mengucapkan salam perpisahan pada sekolah dari China dan London, dan bisakah kau berhenti mengatakan hal seperti itu ? kau sengaja membuatku terus merasa bersalah atas cideramu?" desis Sehun masih mentap tajam Luhan.

"bukan seperti itu-.. ahhh, sudahlah ! ayo cepat!" ucap Luhan dan langsung meninggalkan Sehun, jujur saja Luhan sebenarnya sangat benci dengan tatapan Sehun yang seperti itu, terlihat sangat mengerikan. Maka dari itu Luhan memilih untuk menurut dari pada mendengar desisan Sehun yang bagaikan bisa ular.

.

.

Sehun dan Luhan duduk di ruangan dokter menunggu hasil dari X-ray yang sedang di teliti oleh dokter spesialis di depannya, Luhan memainkan game dalam ponselnya karena ia sudah tidak berniat untuk menyembuhkan cideranya, berbeda dengan Sehun yang menatap serius pada dokter yang masih memperhatikan hasil X-ray di layar komputernya.

"ini tidak terlalu fatal, tapi juga tidak bisa di bilang ringan. sedikit terjadi pembengkakan pada tulang bahunya dan itu yang membuatnya kesulitan, Luhan..!"

Luhan segera mentap sang dokter saat mendengar dokter memanggilnya.

"iya dokter ?"

"coba gerakkan bahumu memutar kedepan dan belakang secara perlahan."

Luhan segera memutar bahunya dngan pelan beberapa kali hingga dokter menyuruhnya berhenti.

"apa terasa sakit?"tanya sang dokter, Luhan mnggleng kecil.

"tidak terlalu"

"coba angkat ini ke atas dan ke bawah dengan pelan"ucap sang dokter memberikan 2 tumpuk buku yang sangat tebal dan lumayan berat jika hanya di topang dengan 1 tangan.

Luhan menerima 2 buku itu dan mengangkatnya bergantian di tangan sebelah kanan dan kiri, dan Luhan sedikit mendesis.

"apa sakit?"

"hmm... ototku terasa kaku, dan bahuku menjadi berat juga panas." Sehun segera mengambil alih 2 buku tebal itu dan meletakkannya di meja dokter.

"coba ayunkan tanganmu seperti saat kau berenang."

Luhan kembali menurut dan mengayunkan tangannya, tapi belum sampai memutar Luhan segera memekik tertahan.

"arghh..."

"kau baik Lu?" tanya Sehun khawatir.

"bagaimana Luhan?"tanya sang dokter.

"sangat sakit,terasa sepeti tulangku akan bergeser atau mungkin terasa seperti akan patah, dan juga lenganku akan terasa nyeri yang berlebihan ketika aku mengangkat tanganku ke udara."jelas Luhan dan mengusap lengannya, dokter itu mengangguk.

"aku memberimu obat ini, ini adalah obat penghilang rasa sakit dan yang ini adalah vitamin. Aku tidak akan memberimu obat yang aneh aneh karena bahumu tidak separah itu, bahumu hanya butuh sedikit latihan dan lambat laun tulangnya akan kembali normal tanpa ada pembengkakan. Sebaiknya setelah meminum obat penghilang rasa sakit, kau bisa mulai berlatih untuk melemaskan otot bahumu, mungkin akan sulit, tapi lama lama kau akan terbiasa. Jika kau merasa sakit yang berlebihan kau bisa datang kesini dan aku akan memberi solusi, dan juga ingat ! obat hanya di minum 2 kali, dan juga jangan berlebihan untuk meminum vitaminnya, hanya setelah sarapan dan makan malam."jelas dokter.

"terimakasih dokter..."ucap Sehun dan Luhan bersamaan, lalu keduanya segera keluar.

.

.

Baekhyun mengikuti Chanyeol kemanapun Chanyeol berada, mengabaikan perempuan yang berstatus sebagai kekasih Chanyeol masih berada disana, bahkan menggandeng lengan Chanyeol dengan mesra.

"hahh...aku harus segera kembali karena semua temanku sudah bersiap untuk melakukan pemotetan sebuah majalah remaja, aku harus segera menyusul karena aku akan jadi icon utamanya."keluh Nana setelah membaca pesan dari temannya.

Chanyeol mengusap rambut Nana dan memberikan senyum lembut "tidak apa, jika aku ada kesempatan, aku akan menjemputmu atau hanya sekedar mengunjungimu di apartemen yang kalian sewa."ucap Chanyeol, Nana tersenyum lalu segera pergi.

Chanyeol kembali berjalan mengabaikan kehadiran Baekhyun yang sedari tadi mengikutinya, sedangkan Baekhyun mengikuti Chanyeol dengan diam.

"Chanyeol..."panggil Baekhyun pelan, Chanyeol menghentikan langkahnya dan menatap Baekhyun yang berada di samping kanannya.

Baekhyun tidak mampu mengeluarkan kata katanya ketika matanya bertemu tatap dengan mata Chanyeol, entah mengapa ia merasa jika tatapan Chanyeol berbeda, benarkah Chanyeol sudah melupakannya secepat itu ? tidak adakah bekas nama Baekhyun yang tertinggal di hati Chanyeol ?

"ada apa ?"tanya Chanyeol pada akhirnya karena Baekhyun hanya diam menatapnya.

Baekhyun segera tersenyum dan menggeleng kecil "tidak ada, hehehe..."jawab Baekhyun dengan senyum yang ia paksa agar terlihat riang.

Chanyeol hanya mengedikkan bahunya, ia tahu jika Baekhyun akan mengatakan sesuatu tapi ia ragu, terlihat jelas dari raut wajah dan tatapannya karena Baekhyun bukanlah orang yang pandai berbohong.

"Baekhyun ah...!"

Baekhyun dan Chanyeol menoleh ke asal suara, dan Baekhyun langsung berlari menubrukkan tubuhnya pada Daehyun, mengabaikan keterkejutan Daehyun atas sikapnya.

"B..Baekhyun..ada apa?" bisik Daehyun gugup, tidak ada jawaban dan Daehyun tau jika Baekhyun tengah menangis karena punggung Baekhyun bergetar samar.

Sementara Chanyeol mengernyit dengan tatapan yang sulit di artikan, ia hanya menatap Baekhyun dan Daehyun. Bertanya siapakah pria yang Baekhyun peluk ? sejauh apa hubungan mereka ? bagaimana bisa Baekhyun memeluk orang asing itu ? hingga Chanyeol tidak menyadari bahwa Baekhyun dan Daehyun sudah pergi.

.

.

"berhenti menangis Baek... ini adalah pertemuan kedua kita dan kau selalu menyambutku dengan air mata, kau begitu bahagia kan bisa bertemu denganku lagi hingga menangis ?" canda Daehyun mengusap kepala Baekhyun dengan pelan, berharap Baekhyun menghentikan tangisnya.

Tak lama Baekhyun mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya.

"maaf... aku masih belum bisa menyambutmu dengan baik, lain kali jika kita bertemu aku tidak akan menyambutmu dengan air mata."ucap Baekhyun dengan senyum yang sedikit ia paksakan.

Daehyun mengangguk lalu menunjuk awan yang terlihat sangat jelas karena mereka berada di atap, Baekhyun pun mengikuti arah jari Daehyun yang menunjuk awan indah di atasnya.

"indah sekali bukan?"gumam Daehyun

"benar"sahut Baekhyun.

"jika awannya mendung pasti tidak akan seindah itu"ucap Daehyun menatap Baekhyun

"tentu saja, awannya berubah menjadi gelap dan suram."balas Baekhyun masih menikmati pemandangan di atasnya yang seolah perlahan mengangkat bebannya.

"seperti itulah dirimu, kau terlihat sangat bersinar dan indah saat tertawa dan kau akan terlihat suram dan buruk saat kau menangis."jelas Daehyun membuat Baekhyun menatapnya.

"perumpamaan itu bukan seperti diriku, aku tidak semenyedihkan awan mendung"sangkal Baekhyun tak setuju.

"aku tahu, kau menangis pasti karena pria tadi ? dan jika aku benar dia kakak tirimu bukan ? jadi ceritamu ini semacam cinta tak sampai ?"tanya Daehyun

"aku memang menangis karena pria tadi, dan benar jika dia adalah kakak tiriku tapi ceritaku bukanlah semacam itu, cintaku terbalaskan hanya saja sekarang aku sedang...aku sedang..."Baekhyun menghentikan ocehan tak terimanya, lalu menghela nafas berat.

"aku sedang di campakkan."lanjut Baekhyun dengan suara lembut, hampir tak terdengar, matanya kembali berkaca kaca.

"bagaimana bisa dia tak mencampakkanmu jika kau selalu menunjukkan wajah mengerikanmu ini? Semua orang benci awan mendung yang suram, mereka sangat menyukai awan indah seperti sekarang. Jadi jangan salahkan kakakmu itu, wajahmu begitu suram dan dia pasti tidak suka melihatnya, cobalah untuk lebih banyak tersenyum dan membuat hal hal yang menyenangkan agar cahayamu tidak redup. Aku yakin kakakmu akan bersikap baik padamu, mungkin juga jika dia akan memperjuangkanmu."ucap Daehyun dengan begitu santai.

"aku dulu seperti itu, tapi semenjak aku mengetahui jika dia adalah kakakku dia mulai menjaga jarak denganku! Jadi dimana letak kesalahanku ? cahayaku redup karenanya, aku terlihat suram juga karenanya!" bentak Baekhyun merasa tak terima karena di salahkan, ia menganggap dirinya adalah korban tapi mengapa ia juga yang di jatuhi kesalahan ?

"dia tidak meredupkan cahayamu sama sekali. Bisa kutebak, setelah mengetahui hal itu kau pasti langsung memberontak, tidak menerima kenyataan dan menyalahkan keadaan ini pada siapapun yang bersangkutan termasuk ibumu. Dari situlah kau meredupkan cahayamu sendiri, membuat pria tadi menatapmu berbeda. Andai kau bisa lebih sabar dan bicara baik baik, mungkin pria itu tidak akan bersikap seperti itu padamu."jelas Daehyun

Baekhyun mendengus dengan wajah memerah, memalingkan wajahnya agar tak menatap wajah Daehyun.

Diam diam Baekhyun merenungi setiap perkataan Daehyun, dan ia merasa ada benarnya dengan itu tapi tetap saja ini semua bukan sepenuhnya salahnya, bukankah seharusnya Chanyeol juga sabar dengan sikapnya ? mengapa ia tidak menenangkan Baekhyun sama sekali dan mengerti akan perasaannya?.

"bagaimana bisa aku mengendalikan emosiku ketika semua orang yang kusayangi dan sangat ku percayai membohongiku? ibu kandungku, ayah tiri yang sangat kusayang dan kakak tiri yang sangat kucintai. Mereka semua tahu akan hal itu, tapi mereka merahasiakan semuanya dariku, bukankah mereka sengaja melakukan hal ini padaku ? mereka hanya mempermainkanku bukan ? aku hanyalah boneka bagi mereka."gumam Baekhyun masih tak menatap Daehyun, lagi lagi air matanya jatuh mengingat awal kerenggangan hubungannya dengan Chanyeol.

"jika kau menganggap mereka seperti itu, mengapa kau masih mengejar kakak tirimu? Bukankah seharusnya kau menjauh darinya ? dan lagi, mengapa kau masih tetap berada di sekitar ibu dan ayah tirimu ? kau senang di anggap boneka oleh mereka ?" tanya Daehyun lagi semakin menyudutkan Baekhyun.

"a..aku...terlalu menyayangi mereka."isak Baekhyun

"dengar Baek, meski kita hanya bertemu selama 2 kali aku bisa melihat seperti apa dirimu, dan aku sudah penah melihat hubungan keluarga yang sama persis seperti dirimu sebelumnya. Aku yakin mereka sangat menyayangimu, mereka tidak akan menganggapmu sebagai mainan mereka ataupun menganggapmu sebagai boneka seperti yang ada di pikiran dangkalmu. Mereka hanya terlalu menyayangimu hingga mereka takut menyakitimu, tapi inilah hasilnya, tuhan merencanakan hal lain. Cobalah menerimanya Baek, lagi pula kau tidak mungkin seperti ini terus menerus."ucap Daehyun serius, ia memegang kedua bahu Baekhyun erat, berusaha menyadarkan teman barunya.

"hiks...aku tidak bisa menerimanya...hiks..terlalu sulit"isak Baekhyun semakin keras

Daehyun menarik Baekhyun dalam pelukannya, mengusap punggung pria itu agar merasa tenang. Tidak ada maksud lain, Daehyun hanya ingin membantu teman barunya keluar dari keterpurukannya.

"jika kau ingin mempertahankannya, setidaknya gunakanlah cara yang sedikit ringan dan santai, jangan terlalu menggebu seperti yang kau lakukan, itu bukan terlihat seperti perasaan cinta yang sangat besar melainkan lebih terlihat seperti obsesi. Pria itu tidak akan nyaman dan aku yakin kaupun juga tidak nyaman dengan ini, maka dari itu ubahlah caramu, buatlah sedikit wajar."

"tapi dia sudah memiliki kekasih, dia benar benar sudah melupakanku"

"jika kau benar benar mencintainya, kau hanya perlu mendoakan yang terbaik untuk keduanya, bukankah cinta tidak harus saling memiliki ? terkadang melihat orang yang begitu kita cintai tersenyum bisa membuat kita terseyum juga. Bukankah begitu ?"

"aku tidak suka jika dia dekat dengan orang lain."

"kau terobsesi Baek"

"tidak, aku mencintainya"

"maka dari itu hentikan semua ini, jika dia memang jodohmu dia akan kembali dan meminta maaf padamu. Hey... kau sangat mempesona, pasti banyak orang yang menyukaimu baik itu laki laki atau perempuan. Masih banyak orang yang lebih baik dari kakak tirimu itu, dan kau layak mendapatkan orang yang seperti itu. Kau punya cinta yang tulus, maka dari itu kau pantas mendapatkan cinta yang tulus juga."

Baekhyun terdiam dalam pelukan Daehyun, ia memikirkan banyak hal, setiap perkataan Daehyun berhasil membuatnya sedikit bangkit, meskipun gaya bicara Daehyun yang terlihat sangat tidak sopan dan blak blakan, tapi Baekhyun menyukainya karena semua kata kata itu ada benarnya dan membangun semangatnya lagi.

Baekhyun melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya sambil menatap Daehyun "kau menyebalkan..."maki Baekhyun dengan senyum kecil.

Daehyun terkekeh dan mengusak rambut Baekhyun membuat Baekhyun mau tidak mau ikut tertawa, melupakan sejenak beban yang selama ini membuatnya pening. Berharap bebannya akan hilang bersama dengan tawa yang ia keluarkan, dan berharap agar perasaannya pada Chanyeol sedikit memudar karena ia takut jika perkataan Daehyun benar tentang ia tidak mencintai Chanyeol melainkan terobsesi padanya, dan Baekhyun takut jika itu benar benar terjadi.

.

.

"ini...terima kasih sudah meminjamkannya."ucap Sehun memberikan kunci motor pada Chanyeol yang duduk di lapangan basket, dan Chanyeol menerimanya.

"tidak masalah..."

"jadi, bagaimana ? apa aku boleh bergabung dengan kegiatanmu ?" tanya Sehun

"ketuaku sangat bersemangat ketika aku bilang jika kau akan bergabung, ia bilang ingin segera melihat putra dari presdir Wu secara langsung dan ia tidak menyangka jika kau ingin masuk dalam kelompok kami."jawab Chanyeol

"dia bahkan tau jika aku adalah anak pebisnis itu ?" tanya Sehun tak percaya.

"siapa yang kau sebut pebisnis itu ? dan tentu saja dia tahu, kau tahu perusahaan iklan terbesar milik presdir Choi ?"

"sangat tahu karena belum lama ini mereka bekerja sama dengan perusahaan ayahku, jangan bilang jika ketuamu adalah pewarisnya."

"sayangnya benar"sahut Chanyeol.

"baiklah, aku akan membeli motor sport baru lalu segera bergabung dengan kalian."ucap Sehun.

"bukankah kau sudah memiliki motor sport ? kau tidak hanya memiliki mobil saja kan ?" tanya Chanyeol penasaran

"motor sportku bukan untuk balapan seperti itu, motor sportku tidak memiliki kapasitas kecepatan yang memadai untuk di gunakan balapan, karena motor sportku hanya sebagai aksesoris saat aku keluar, untuk balapan seperti ini aku membutuhkan motor sport dengan kapasitas kecepatan yang memadai agar aku bisa mencetak garis finish."jelas Sehun, Chanyeol terkekeh medengar jawaban Sehun

"kau benar benar pandai dalam masalah menghabiskan uang ayahmu..."kekeh Chanyeol

"itu yang ku pelajari di Amerika, hanya bersenang senang dan membantu ayah untuk mengahabiskan uangnya"jelas Sehun.

"bagaimana dengan perlombaan tadi? Apa sekolah kita menang?"tanya Sehun antusias

"juara ke 3, juara pertama di raih oleh murid dari sekolah China dan dua dari London. Sedikit memalukan karena tuan rumah mendapatkan posisi ke 3 dan juga Nadet mendapat cidera pada pergelangan kakinya, peserta dari sekolah kita banyak yang mendapat cidera karena harus menggantikan posisi Kai, jika ada Kai mungkin pemain lainnya tidak akan selelah ini karena mereka hanya akan melawan sebanyak 2 ronde bukan bermain 3 sampai 4 ronde karena menggantikan posisi Kai yang kosong."jelas Chanyeol

"aku semakin ingin masuk kelas itu dan menggantikan posisi Kai, entah mengapa aku sangat antusias untuk mengikuti kelas itu."ucap Sehun

"kau berniat untuk menjadi pangeran sekolah ? pemain basket , dancer dan juga sekarang kau ingin jadi atlet MMA ? kau benar benar tau selera perempuan."sahut Chanyeol

"aku masuk ketiga kelas itu karena aku tahu perempuan akan sangat suka pria seperti itu"balas Sehun

"dan apa jadinya mereka jika tiba tiba mereka tahu jika kau juga seorang pembalap? Wah... kau akan menjadi idola para wanita setelah ini."

"ahh...aku lupa jika aku juga akan menjadi seorang pembalap, dan tentu saja karena wajah tampanku sangat membantu, wah...baru kali ini aku merasa bangga menjadi anak dari presdir Wu karena menurunkan ketampanan yang berlebih padaku"decak Sehun mengagumi dirinya sendiri, Chanyeol tertawa mendengarnya.

"astaga! Bukankah aku sedang menjalani hukuman atas cidera Luhan ? bagaimana bisa aku meminta motor sport baru jika seperti ini? Ibu akan semakin marah setelah ini, oh astaga...!"gusar Sehun mengingat hukuman yang harus ia jalani, Chanyeol tertawa semakin keras melihat Sehun yang tiba tiba kehilangan imajinasi tingginya.

.

.

Luhan tengkurap di atas ranjangnya sambil membaca komik manga koleksinya, namun kegiatannya terganggu ketika Sehun datang.

"Luhan..."

"hmm..." Luhan tetap fokus membaca komiknya membiarkan Sehun yang kini duduk di tepi ranjangnya.

"kau bisa membantuku ?" tanya Sehun

"apa yang bisa ku lakukan?" tanya Luhan balik.

"bicara pada ibuku dan bilang jika aku sudah merawatmu dengan benar, saat ini aku menginginkan sesuatu maka dari itu aku butuh maaf darinya agar aku bisa mendapatkannya."jawab Sehun

"kenapa tidak langsung meminta maaf saja ? kenapa aku juga yang harus repot ?" sungut Luhan, ia berdiri untuk meletakkan komiknya di meja belajar lalu duduk di tepi ranjang milik Sehun berhadapan dengan Sehun yang duduk di tepi ranjangnya.

"kau lupa ? disini kau yang cidera, tapi aku yang repot untuk bisa menyembuhkannya bahkan bukan aku yang membuatmu seperti itu!" balas Sehun

"aku tidak memintanya, kau sendiri yang memaksa untuk membantuku. Dan apa kau lupa ? kau sudah mengambil keperjakaanku hingga membuat bahuku kembali bengkak, lalu apa yang kau maksud dengan bukan aku yang membuatmu seperti itu?" sahut Luhan tak mau kalah

"berdiri !"ucap Sehun membuat Luhan memajukan bibirnya kesal.

"kenapa ?"tanya Luhan

"kau lupa batas yang kau buat ? jangan duduk di ranjangku ! kau sendiri yang membatasinya, batasmu hanya sampai meja ini."jawab Sehun menunjuk nakas di tengah tengah ranjang mereka.

"kau sendiri? Kau sering melewati batasnya dan duduk di ranjangku, kalau begitu kau juga harus berdiri!"sungut Luhan lagi

"aku bisa melewati batasannya karena aku sedang membantumu, lalu kau ? kau tidak membantuku sama sekali, jadi berdiri dan kau harus dapa hukuman!"ucap Sehun masih menatap Luhan yang semakin menatapnya kesal.

"ya ! hukuman apa? Aku tidak mengatakan ada hukuman jika kita melewatinya, aku hanya bilang jika kita tidak boleh melewati batasannya."elak Luhan

"bukankah setiap pelanggar harus mendapatkan hukuman?"

"ok..ok.. apa hukumanku?"kesal Luhan lalu segera berdiri dari ranjang Sehun, diam diam Sehun tersenyum tipis dan ikut berdiri.

"bicara pada ibuku dan bilang jika kau baik baik saja karena ku, dan jangan lupa bilang padanya jika dia harus memaafkanku."ucap Sehun dan segera memberikan ponsel Luhan yang sedang terhubung dengan no. Ibunya.

"kenapa harus pakai ponselku ? biayanya pasti mahal!" dengus Luhan

"jika pakai ponselku, ibuku tidak akan menjawab dan juga jangan mengeluh karena biayanya tidak semahal itu."jelas Sehun

"tapi kau..."

"hallo..." keluhan Luhan terpotong dengan suara dari telfonnya dan Sehun memberi isyarat jika telfonnya sudah terhubung

"Hallo, saya Luhan" Sehun tersenyum saat Luhan mulai menjawabnya, sementara Luhan masih menatap tajam dirinya karena kesal, jujur saja Luhan tidak tau harus bicara apa dengan ibu Sehun, tidak mungkinkan jika ia tiba tiba menyuruh ibu Sehun agar cepat memaafkan Sehun lalu menutupnya?

"Luhan ? ada apa ? bagaimana keadaanmu ? apa Sehun merawatmu dengan baik?"

"saya baik, dan tentu saja Sehun merawat saya dengan baik juga, tadi ia mengantarku ke spesialis tulang untuk mengobati cidera bahuku dan dokter bilang jika aku akan segera sembuh" Sehun semakin mengembangkan senyumnya sementara Luhan menunjukkan wajah seakan terpaksa.

"syukurlah, lalu dimana dia sekarang?" Sehun segera memberi isyarat pada Luhan agar mengatakan jika ia sedang keluar.

"Sehun baru saja keluar untuk berlatih basket."

"aku merindukan suaranya..." Luhan menatap Sehun yang kini mengalihkan tatapannya saat mendengar ucapan sang ibu, Luhan tau jika Sehun juga merindukan ibunya.

" apa anda ingin bicara dengan Sehun ? saya akan memanggilnya..." Sehun langsung menatap Luhan cemas dan menggeleng.

"tidak perlu, nanti aku akan menelfonnya" Sehun kembali memberi isyarat pada Luhan agar segera mengakhiri basa basinya dan segera mengatakan tujuannya, karena Sehun tidak ingin mendengar suara ibunya terlalu lama, ia takut menyambar ponsel Luhan untuk melampiaskan rasa rindu sekaligus rasa bersalah pada ibunya.

"sebaiknya anda segera menelfon Sehun dan segera memaafkannya, lagi pula Sehun sudah bertanggung jawab dan saya sudah baik baik saja, rasanya tidak adil jika Sehun terus menerus merasa bersalah pada anda karena saya, Sehun juga sangat merindukan anda."

Suho tidak menjawab, mereka sama sama terdiam hingga akhirnya Suho bilang jika ia ada urusan dan akan menghubunginya lagi nanti.

"sudah puas ? bahkan aku harus berbohong pada ibumu, bodohnya aku malah menurutimu" gerutu Luhan, karena tidak mendapatkan respon dari Sehun Luhan pun menatap Sehun.

Luhan mendapati Sehun yang hanya terdiam, Luhan menepuk pundak Sehun hingga Sehun menatapnya, ia memberikan senyum lembut mengabaikan tatapan datar Sehun.

"kalau kau benar benar merindukan ibumu pulanglah, dia juga merindukanmu. Aku tahu ia sangat menyayangimu hingga ia berbuat seperti ini, dan ia sudah memaafkanmu."ucap Luhan

"mau berlatih renang ?"tawar Sehun mengabaikan ucapan Luhan.

"tapi aku belum makan dan meminum obatku, lagi pula aku masih belum lapar dan malas."balas Luhan

"anggap saja ini latihan pertama, aku akan membantumu, setelah itu baru makan dan minum obat."ajak Sehun lagi

"tidak mau, dokter bilang harus makan dan minum obatnya dulu!"tolak Luhan

Tanpa persetujuan dari Luhan, Sehun segera menariknya keluar menuju area kolam renang yang letaknya di lantai paling atas, dekat dengan ruang latihan MMA.

Luhan hanya menatap tak minat pada kolam renang di depannya dengan bibir yang mengerucut, Sehun sendiri sudah berdiri di tepi kolam.

"ayolah... kita sudah berada disini, lagi pula ini juga demi kebaikanmu..."

"ckk..."decak Luhan kesal

"Luhan...!"panggil Sehun yang kini menatap Luhan tajam, membuat Luhan semakin mengerucutkan bibirnya kesal.

Dengan kesal Luhan membuka baju dan celananya lalu melemparkannya asal hanya menyisahkan boxer, dan berjalan ke arah Sehun yang masih terkejut.

"mengapa kau melepas pakaianmu juga ? kau bisa menggunakan kaosmu." Ucap Sehun.

"aku tidak mau turun dengan keadaan pakaianku basah."ketus Luhan yang masih kesal karena di paksa untuk berenang.

"kalau begitu cepat masuk dalam kolam"perintah Sehun.

Luhan segera masuk dalam kolam diikuti Sehun.

"ahhh...dingin sekali" pekik Luhan

"apa kau bisa berenang?" tanya Luhan

"tentu saja, jadi cepatlah ! tidak perlu ku ajari dari awalkan kan? Kau pasti tau bagaimana cara memulainya karena kau atlet renang."jawab Sehun

Luhan menghembuskan nafasnya pelan, ia tidak tahu bisa atau tidak melakukannya. Luhan memperbaiki posisinya dan mulai mengayunkan lengannya ke atas, tapi di detik berikutnya ia sudah menyembulkan kepalanya di atas air dan memegang lengannya sambil mengaduh sakit.

Sehun segera mendekati Luhan dan memijat bahu Luhan pelan agar rileks, lalu ia membantu Luhan untuk mengayunkan lengannya ke atas dengan pelan.

"tidak perlu terburu buru Lu, hanya lakukan dengan pelan dan sabar, aku membantumu."ucap Sehun dan mendapat anggukan dari Luhan

Luhan mencoba untuk berenang lagi dengan gerakan lambat, ia berhasil menggerakkan lengannya 4 kali namun tiba tiba ia tenggelam karena bahunya benar benar terasa sakit, Sehun segera menghampiri dan menarik Luhan.

"kau baik Lu?" tanya Sehun khawatir mengusap air yang membasahi wajah Luhan.

"ini benar benar sakit, aku tidak bisa melakukannya!" pekik Luhan frustasi dan memukuli bahunya yang semakin terasa sakit.

Sehun menahan kedua tangan Luhan agar tak lagi menyakiti bahunya sendiri dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya memijat bahu Luhan dengan pelan.

"ini adalah awal, jadi tidak heran jika terasa sangat sakit. Lama lama akan biasa, dan kau tidak boleh menyerah karena ini impianmu"

"mengapa kau sangat peduli padaku Sehun ? seharusnya kau tidak perlu seperti ini karena aku tidak masalah dengan cideraku dan aku juga sudah memaafkanmu... berhenti bersikap seperti ini karena aku lelah dan menyerah dengan cideraku, aku sudah tidak berminat untuk berenang. Aku sudah cukup senang dengan keadaan seperti ini, setidaknya tanganku tidak lumpuh dan aku tidak cacat." Ucap Luhan kesal.

Bohong, Luhan tidaklah seperti itu, Luhan ingin kembali menggapai impiannya untuk menjadi atlet renang internasional, tapi tidak dengan cara seperti ini, ia terlalu membebani Sehun.

"aku peduli padamu karena aku tertarik padamu, bukankah aku sudah mengatakannya ?"jawab Sehun membuat Luhan berdecih.

"aku merasa asing dengan Sehun yang berada di depanku saat ini, mengapa kau begitu aneh ? hentikan dan lakukan hal seperti biasa!"

"kau harus terbiasa dengan Sehun yang sekarang karena Sehun yang sekarang sangat tertarik pada Luhan." Luhan kembali berdecih.

"jangan berlebihan, aku sudah tau jika kau hanya ingin mencoba untuk menghancurkan hatiku."sahut Luhan

"maka dari itu jangan cegah aku untuk mendekatimu agar kau tau bagaimana akhirnya, aku yang menghancurkan hatimu atau justru sebaliknya."

"kau gila!" maki Luhan meski tidak dapat di pungkiri bahwa hatinya menghangat, entah mengapa ia seolah mendapat perlindungan dari ucapan Sehun, meskipun ia mencoba sekeras mungkin menolaknya.

CUP...

Sehun mengecup bibir Luhan singkat, lalu menatapnya.

"mengapa kau menciumku?" pekik Luhan kesal.

CUP...

"jangan menciumku lagi!"

CUP...

"OH SEHUN!" pekik Luhan

CUP...

"hentikan! Kau menyakitiku..." lirih Luhan menundukkan wajahnya

Sehun menarik dagu Luhan agar Luhan mau menatapnya, ia meneliti wajah Luhan yang memerah dengan mata yang berkaca kaca.

"katakan dimana aku menyakitimu..."ucap Sehun membuat satu air mata Luhan berhasil terjatuh di ikuti dengan tetesan yang lain hingga Luhan terisak kecil, dengan telaten Sehun mengusap air matanya.

"hatiku...kau menyakiti hatiku. Maka dari itu berhentilah Sehun..hiks...tetaplah jadi Sehun yang dingin, Sehun yang membenci Luhan dan Sehun yang berkata kasar pada Luhan...hiks... Sehun yang sekarang sangat asing bagiku dan itu menyakitiku!" balas Luhan dengan terisak

Sehun hanya diam membiarkan Luhan menangis di depannya sekali lagi.

"Jangan menghianati perasaanmu Lu, katakan yang sejujurnya padaku kau juga menyakitiku jika kau seperti ini!"

"aku nyaman berada di dekatmu...hiks.. aku merasa terlindungi jika bersamamu, tepat setelah kau mengatakan jika kau tertarik padaku aku mulai memperhatikanmu...hiks...sialnya aku menyadari jika kau sangat tampan...hiks aku berusaha mengelak perasaan aneh itu karena aku tau kau tidak akan bisa membuatku bahagia lebih lama...hiks... kau memperhatikanku hanya untuk semata karena hukumanmu, maka dari itu aku menghindar karena aku takut jika tiba tiba aku kehilangan perasaanmu itu setelah aku sembuh. Jadi kumohon dengan sangat Oh Sehun, berhenti bersikap baik padaku agar aku tidak berharap lebih padamu...hiks..." jelas Luhan

"aku minta maaf karena aku tidak bisa menghentikannya, dan juga jika kau nyaman bersamaku mengapa kau harus menghindar dariku ? setidaknya kau harus tetap bersamaku sebelum hari itu tiba bukan ? dan dengar, jangan menganggapku main main." Ucap Sehun lalu merengkuh tubuh mungil Luhan dalam dekapannya.

"brengsek ! Oh Sehun brengsek !" umpat Luhan memukuli punggung Sehun dengan keras lalu setelahnya ia membalas pelukan Sehun dengan sangat erat seakan Sehun akan menghilang jika ia melepaskannya.

Sehun tersenyum tipis sambil mengusap punggung Luhan dengan lembut, membuat Luhan merasa hangat di dalam dinginnya air kolam renang itu.

"aku mencintaimu dan kau pun sama, jadi jangan menolakku lagi dengan alasan apapun." Ucap Sehun, Luhan semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun untuk mencari kenyamanan.

"kita akan berlatih lagi besok"lanjut Sehun mengangkat kedua kaki Luhan untuk di lingkarkan pada pinggangnya dan ia segera membawa Luhan ke tepi.

Sehun melepas boxernya dan menggantinya dengan celana kering yang ia pakai tadi membiarkan kaos basahnya melekat pada tubuhnya, sementara Luhan memakai pakaian kering yang ia lempar asal di tepi kolam itu.

"bajumu basah, sebaiknya kita cepat turun dan mandi."ucap Luhan lalu mereka turun menuju kamarnya.

.

.

"dimana Luhan ?"tanya Heechul sedangkan Baekhyun tak menjawab

"mungkin sedang berlatih renang karena tadi aku melihatnya pergi bersama Sehun ke lantai paling atas."jawab Chanyeol

Heechul tiba tiba berkunjung ke sekolah dan dengan segala paksaan dan bujukan dari Kyungsoo akhirnya Baekhyun mau menemui Heechul dan berakhir ia berada dalam ruangan Hangeng bersama Chanyeol juga, semacam kumpulan keluarga mungkin.

"Baekhyun..."panggil Heechul namun di acuhkan

"ibu memanggilmu Baek"tegur Chanyeol

"aku mendengarnya"balas Baekhyun ketus membuat Heechul kembali merasa sakit.

"bagaimana keadaanmu ? apa kau makan dengan benar ? apa kakakmu merawatmu dengan baik ?" tanya Heechul mengabaikan rasa sakitnya

"seperti yang kau lihat keadaanku jauh dari kata baik, dan dari pada di sebut merawatku dengan baik dia lebih pantas disebut sebagai seseorang yang pandai menyakitiku" jawab Baekhyun lagi lagi dengan nada ketusnya

Chanyeol menelan ludahnya dengan susah payah ketika mendengar jawaban dari Baekhyun, sedangkan Hangeng menggeleng samar.

"melihatmu seperti ini aku tidak yakin akan melanjutkan tujuan kita berkumpul"ucap Hangeng, sedangkan Heechul hanya menunduk.

"cepat katakan agar aku bisa cepat keluar dari ruangan memuakkan ini!" sahut Baekhyun cepat.

"baiklah, sebagai keluarga kita harus mengetahui ini. Chanyeol berniat untuk bertunangan dengan Nana dua minggu lagi tepat pada saat Nana akan kembali ke China karena orang tua Nana juga akan ke Korea untuk menjemput Nana akhir bulan nanti, aku harap sebagai keluarga kita harus menghadiri acara itu bersama." jelas Hangeng

Baekhyun langsung menatap shock pada Chanyeol, ia tidak tau jika Chanyeol akan menyakitinya sejauh ini.

"kau menerimanya ?"tanya Baekhyun menatap Chanyeol, berharap jika lelaki itu menggeleng.

"aku tidak punya alasan untuk menolak, Nana kekasihku lagi pula ini keinginanku."jawab Chanyeol.

"aku tidak percaya jika kau akan menyakitiku sejauh ini Yeol, aku pikir kau mencintaiku, aku pikir kau akan memperjuangkan kita, aku pikir kau...hiks..."Baekhyun tidak melanjutkan kata katanya, ia membekap mulutnya sendiri agar tidak terisak terlalu keras.

"Baekhyun..."lirih Chanyeol meraih lengan Baekhyun, tapi Baekhyun menjauh, menolak sentuhan Chanyeol.

" mulai saat ini jangan memanggil namaku lagi, aku tidak rela jika bajingan sepertimu menyebut namaku! Dengar ! Aku Byun Baekhyun MENGAKHIRI HUBUNGAN DENGAN KELUARGA INI MULAI DETIK INI JUGA! Camkan itu!" bentak Baekhyun dengan air mata kekecewaan yang terus mengalir membasahi kedua pipinya, ia segera berdiri untuk pergi.

Tapi sebelum itu, Heechul segera berdiri untuk menarik lengan Baekhyun agar Baekhyun berbalik.

PLAK...

Satu tamparan telak Baekhyun terima dari ibu kandungnya yang selama ini menjaganya, merawatnya dengan baik dan satu satunya orang yang akan menangis ketika ia mendapat luka kecil juga merupakan orang yang tak akan pernah tega memukulnya, setidaknya tidak untuk saat ini.

Baekhyun semakin terisak keras menatap ibunya penuh kekecewaan, sedangkan Heechul menatap tangannya kosong, ia menyesal tapi ia sungguh tidak tau bagaimana cara untuk menyadarkan putra tunggalnya dan berusaha untuk menghentikan semua sikap keras kepala Baekhyun.

Hangeng segera berdiri dan meraih tubuh Baekhyun untuk menenangkannya tapi Baekhyun berontak, Chanyeol sendiri hanya berdiri kaku melihat kejadian itu. Ia sangat tahu bagaimana Heechul sangat menyayangi Baekhyun dan juga bagaimana perasaan Baekhyun yang sangat sensitif hingga ia tidak tahu harus berbuat apa.

"apa yang kau lakukan ? mengapa kau menyakitinya ?" tanya Hangeng cemas menatap Baekhyun dan Heechul bergantian.

Heechul menatap Hangeng dengan raut wajah menyesal dan bingung, karena ia sendiri tidak tahu mengapa ia sampai menampar pipi putranya.

"eomma..." lirih Baekhyun terisak, Heechul tak berani menatap anaknya karena ia merasa sangat bersalah.

"jauh jauh hari aku selalu berfikir jika eomma telah lelah merawatku hingga eomma memilih untuk menyekolahkanku disini...hiks... aku sangat berusaha menyangkal itu semua..hiks... tapi hari ini aku sudah menemukan kebenarannya..hiks...eomma sudah tidak menyayangiku...hiks...eomma membenciku..hiks...bahkan eomma menamparku..hiks..."lirih Baekhyun terisak isak.

"Baekhyun ah... bukan seperti itu, eomma sangat menyayangimu, maka dari itu eomma melakukan ini. Eomma sangat kecewa ketika kau bilang akan mengakhiri hubungan keluarga, lalu siapa putra eomma yang akan selalu bermanja pada eomma? Putra eomma yang selalu bersama eomma sejak ia lahir ? eomma hanya memilikimu sebagai keluarga kecil eomma..." ucap Heechul bergetar.

"aku lelah...hiks..."isak Baekhyun semakin keras.

Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun keluar dari ruangan, bermaksud memberi ruang untuk Heechul menenangkan pikirannya bersama ayahnya. Ia mengambil kesempatan untuk membawa Baekhyun ke lantai paling atas untuk membicarakan masalahnya karena saat ini Baekhyun terlalu lemas untuk memberontak.

Di tangga paling atas dekat dengan pintu ruangan kolam renang, mereka bertemu dengan Sehun dan Luhan yang baru keluar dari ruangan itu. Chanyeol mengernyit ketika melihat kaos Sehun basah kuyub sementara celananya kering, namun ia mengabaikannya.

"Baekhyun ah..."panggil Luhan saat melihat Baekhyun terisak di belakang Chanyeol.

"hiks...Lu..hiks..han..."balas Baekhyun tapi Chanyeol segera membawanya masuk ke ruangan khusus renang lalu menutup pintunya kasar.

"Baekhyun ah!" Luhan segera meraih tangan Baekhyun tapi terlambat karena Chanyeol sudah menutup pintunya.

"berikan mereka waktu Lu..."ucap Sehun

"tapi Baekhyun, dia terlihat sangat menyedihkan Sehun..."balas Luhan yang masih berusaha untuk membuka pintu sementara Sehun menahannya.

"Baekhyun akan baik baik saja, percayalah karena Chanyeol pasti tau bagaimana cara untuk menenangkan Baekhyun, karena Chanyeol masih memiliki perasaan yang sama pada Baekhyun." Sahut Sehun menarik Luhan agar segera turun, Luhan hanya menatap nanar pada pintu ruangan renang, ia harap Chanyeol berhenti bersikap bodoh.

Sementara di dalam ruangan renang, Chanyeol menatap Baekhyun putus asa sedangkan Baekhyun menatap Chanyeol terluka.

"sekarang katakan apa maumu ?"tanya Chanyeol lembut, mengusap air mata yang terus keluar dari mata Baekhyun.

"kau!"teriak Baekhyun frustasi.

"selain itu Baek, aku mohon..."lirih Chanyeol lelah

"tercoret dari daftar keluarga..."sahut Baekhyun ketus.

"mengapa kau seperti ini ?"tanya Chanyeol lagi, jujur ia lelah dengan semua ini.

"karena kau akan meninggalkanku Chanyeol! Karena kau akan menemukan kebahagianmu dan meninggalkanku ! hiks... tidakkah kau mengerti ? aku juga sadar jika orang tua kita sudah menikah dan itu yang membuatku gila, bagaimana bisa aku dan ibuku terikat sedemikian rupa pada keluargamu ? setiap malam kepalaku selalu terasa sakit karena selalu memikirkan hubungan kita, aku juga lelah Chanyeol sama sepertimu. Tapi kini aku sadar... kau benar benar akan membuangku, kau tidak mencintaiku lagi dan aku juga sadar bahwa selama ini hanya aku yang mencoba untuk mempertahankan hubungan kita, seharusnya aku tidak melakukannya, seharusnya aku sadar mulai awal jika kau tidak pernah mencintaiku, seharusnya..."

Ucapan Baekhyun terpotong dengan lumatan Chanyeol pada bibirnya, Baekhyun segera mendorong Chanyeol untuk menjauhinya dan melepaskan ciumannya.

"jangan lakukan ini Chanyeol! Kau semakin menyakitiku! Pergi ! pergi !" teriak Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol lalu mengusap bibirnya dengan kasar berusaha menghilangkan jejak bibir Chanyeol.

Chanyeol menjatuhkan setetes air mata sebelum berbalik meninggalkan Baekhyun yang meraung di belakangnya.

BYUR...

Tubuh Baekhyun tenggelam bersamaan dengan Chanyeol yang menutup pintu ruangan itu.

Baekhyun tidak berusaha untuk menyelamatkan diri, ia membiarkan tubuhnya tergeletak di dasar kolam, berharap setelah ini ia tidak akan membuka matanya kembali.

.

.

Luhan duduk di tepi ranjangnya sambil memeluk tubuh ibu angkatnya, ia bertemu dengan Heechul yang sedang menangis saat turun bersama Sehun tadi, lalu ia segera membawa Heechul masuk kedalam kamarnya membiarkan Heechul terisak dalam pelukannya.

"Luhan..." panggil Heechul dengan suara bergetar.

"bisakah kau membujuk Baekhyun untuk memaafkanku dan kembali padaku Luhan ? aku tidak tahu bagaimana bisa ia mendapatkan sifat sekeras itu dan memutuskan untuk meninggalkanku,katakan jika aku benar benar menyesal telah menamparnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi saat ini."

Luhan mengusap punggung Heechul untuk menenangkan, ia tidak tau harus menjawab apa karena ia tidak yakin jika Baekhyun akan mendengarkannya. Luhan baru menyadari jika Baekhyun benar benar mencintai Chanyeol dengan tulus hingga berbuat seperti ini, membuatnya ingin segera menemui Chanyeol dan membicarakan ini, karena bagaimana pun juga Baekhyun adalah saudaranya dan...mungkin Chanyeol juga saudaranya.

"aku akan berusaha eomma, jangan terlalu memikirkan ini karena akan mengganggu kesehatan eomma, dan juga jangan mengkhawatirkan Baekhyun, aku akan menjaganya dan merawatnya dengan baik."ucap Luhan, Sehun segera memberikan segelas air untuk Heechul dan Heechul menerimanya dengan tersenyum.

"terimakasih..."gumam Heechul pada Sehun dan Luhan.

"sepertinya hubungan kalian membaik"ucap Heechul mencoba untuk tersenyum.

"ya, karena sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih."

"Sehun..."tegur Luhan, ia tidak ingin terlihat bahagia sementara saudaranya sedang terluka.

"tidak apa apa Luhan, semoga hubungan kalian berjalan dengan baik dan ini..." Heechul memberikan dua amplop pada Luhan.

"berikan satu pada Baekhyun dan satu untukmu."ucap Heechul

"eomma... anda tidak perlu memberiku uang juga, aku akan memberikan semuanya pada Baekhyun."sahut Luhan merasa tak enak.

"tidak Luhan, kau juga anakku dan kau berhak mendapatkannya juga, eomma tau jika uang dari perlombaanmu sudah menipis jadi jangan menolak. Dan juga jangan lupa untuk datang di acara pertunangan Chanyeol dua minggu lagi." Ucap Heechul.

Luhan terperangah mendengar ucapan Heechul.

"pertunangan?" gumam Luhan pelan.

"benar, Chanyeol akan segera bertunangan dengan kekasihnya dua minggu lagi, jangan salah paham Lu... kami tidak menjodohkannya, Chanyeol sendiri yang begitu eomma akan pulang. Terima kasih atas waktunya Luhan dan eomma harap kau bisa membujuk Baekhyun."ucap Heechul lagi, Luhan pun mengantarkan Heechul hingga pintu keluar asrama di temani dengan Sehun.

.

.

Setelah makan malam bersama dan meminum obatnya, Luhan dan Sehun kini bersiap untuk tidur.

"Lu...kemari!"ucap Sehun menepuk ranjangnya, sedangkan ia berbaring sambil menatap Luhan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"tidak bisa, batasku hanya sampai nakas"sahut Luhan mmbuat Sehun terkekeh.

"ayolah...! bahkan sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih."keluh Sehun memiringkan tubuhnya untuk melihat Luhan yang tengah berbaring di ranjang sebelah.

"ini aneh Sehun, aku merasa canggung. Kemarin kita musuh tapi sekarang kita sudah menjalin hubungan, aku belum terbiasa."gumam Luhan yang kini menutupi wajahnya dengan selimut karena merasa sangat malu, malu pada dirinya sendiri yang bisa bisanya terpesona oleh musuhnya sendiri.

Sehun terkekeh lagi, lalu segera bangkit dari acara berbaringnya dan pindah ke ranjang Luhan dan menyibak selimutnya hingga memperlihatkan Luhan yang merona.

"Sehun apa yang kau lakukan?" pekik Luhan ketika Sehun berbaring disampingnya dan memeluknya erat.

"tidur disamping kekasih baruku ?"goda Sehun membuat kedua pipi Luhan memanas.

"S..Sehun...a..aku..masih memiliki sedikit trauma terhadap sentuhanmu, jadi jangan memelukku seperti ini"gumam Luhan yang kini bergetar.

Sehun semakin mempererat pelukannya dan menenggelamkan wajah Luhan pada dadanya, mengusap surai lembut Luhan berusaha membuat Luhan tenang.

"mulai detik ini, cobalah untuk mempercayaiku Lu. Aku janji tidak akan menyakitimu dan membiarkanmu menangis lagi, kau bisa pegang janjiku, jika aku melanggarnya kau bebas melakukan apapun, aku anggap itu hukuman untukku. Dan mulai detik ini juga jangan bersikap seolah kau kuat, tunjukkan dirimu yang sebenarnya, aku tidak masalah jika kau bersikap seperti itu di depan orang orang, tapi aku tidak terima jika kau melakukannya di depanku, aku menyukaimu apa adanya, jadi jangan khawatir. Aku akan menerima sikap aslimu, aku bersungguh sungguh."ucap Sehun masih mengusap rambut Luhan hingga tubuh Luhan berhenti bergetar.

"Sehunnie..."gumam Luhan

"apa ? kau memanggilku apa?"tanya Sehun sedikit menggoda Luhan, membuat Luhan semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun yang entah mengapa selalu membuat Luhan merasa nyaman.

"Luhanku manis sekali, aku suka."gumam Sehun mengecup puncak kepala Luhan dengan sayang.

"Sehun..."panggil Luhan yang kini menatap Sehun dengan wajah merona, Sehun tersenyum sambil membelai pipi Luhan, merasakan tekstur lembut kulit Luhan.

"mulai detik ini juga aku akan memantapkan hatiku untuk selalu mempercayaimu, aku akan berusaha tidak takut dengan sentuhanmu, jadi jangan membuatku kecawa. Kau tau ? jika aku kecewa terhadap satu hal, aku akan sulit untuk mempercayainya lagi, jadi jika kau memang sungguh sungguh mencintaiku maka kau harus berhati hati. Aku memberi penawaran terakhir untukmu..."ucap Luhan.

"apa itu ?"tantang Sehun.

"sekarang kau masih bisa memilih selagi aku belum memantapkan hatiku untuk mempercayaimu sepenuhnya. Jika kau merasa tidak sanggup menjalin hubungan denganku dengan jangka waktu yang lama katakan sekarang, jadi aku akan berusaha untuk tidak terlalu mencintaimu dan tidak terlalu mempercayaimu, tapi jika kau memang benar benar mencintaiku, aku harap kau tidak akan pernah mengecewakanku maka aku akan memperjuangkan cintamu dan aku akan berusaha untuk semakin mencintaimu setiap harinya. Bagaimana ?"tanya Luhan dengan binar mata polos, hingga membuat Sehun tertegun beberapa saat karena ini adalah pertama kalinya Sehun menatap mata Luhan yang memancarkan kepolosan, berbeda dengan tatapan biasanya.

"kurasa aku benar benar mencintaimu, jadi mulai detik ini juga kau harus mempercayaiku dan harus mencintaiku setiap harinya. Sebagai bonus, aku akan merubah penampilanku hingga kau akan semakin mencintaiku setiap harinya."jawab Sehun lalu mengecupi pipi Luhan berulang kali karena gemas, Luhan tertawa menahan geli saat Sehun terus menerus mengecupi pipinya.

"panggil aku seperti tadi..."ucap Sehun

"seperti apa?"sahut Luhan merasa pipinya kembali memanas.

"apa perlu ku contohkan?"tawar Sehun semakin membuat Luhan malu.

"Sehun..."rengek Luhan merasa Sehun senang sekali membuatnya malu.

"bahkan kau merengek padaku? Aigo...manis sekali kekasih cantikku..."gemas Sehun mencubit kedua pipi Luhan.

"Sehun...sakit, dan juga aku tampan!" kesal Luhan, namun di detik berikutnya Luhan kembali tertawa karena Sehun menggelitik perutnya dan menggodanya.

.

.

"kerjamu sangat baik Kyungsoo, aku janji akan menambahkan gajimu bulan ini." Ucap pemilik caffe tempat Kyungsoo bekerja, wajahnya menampakkan raut puas dengan cara kerja Kyungsoo yang sangat cekatan dan begitu sabar terhadap pelanggan.

"terimakasih paman, aku akan bekerja lebih keras agar paman tidak kecewa."sahut Kyungsoo dengan senyum manis.

"baiklah, sekarang istirahatlah sebentar selagi pengunjung mulai berkurang."ucap pemilik caffe tersebut, Kyungsoo mengucapkan terimakasih lalu segera masuk keruang gant, temapat yang biasa ia gunakan untuk beristirahat sebenatr.

Kyungsoo membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruangan itu sambil memejamkan matanya, ia sebenarnya sangat lelah ketika seorang pelanggan datang dan membentaknya dengan alasan tak jelas, tapi ia harus tetap tersenyum dan menelan bulat bulat hinaan yang mereka tunjukkan pada Kyungsoo, kebanyakan pelanggan yang seperti itu adalah pelanggan yang memiliki maalah pribadi dan tak tau harus meluapkannya pada siapa.

Kyungsoo membuka matanya ketika ponselnya berdering, Kyungsoo segera mengambilnya dan wajahnya tampak lebih berbinar saat mendapati nama Kai tertera pada layar ponselnya, dengan cepat Kyungsoo menjawabnya.

"Kyungsoo..."

"ada apa Kai?" tanya Kyungsoo yang saat ini merasa gugup saat mendengar Kai memanggil namanya dengan lembut.

"Kyungsoo, jangan menjalin hubungan dengan siapapun. Secepatnya aku akan kembali ke Korea, kembali padamu dan kau harus berjanji akan langsung menerimaku saat aku sudah kembali!" ucap Kai membuat jantung Kyungsoo berdetak kencang, dan pipinya memanas, bibirnya tak bisa menahan sebuah senyum yang memaksa sudut bibir Kyungsoo agar tertarik ke atas.

"tentu Kai, aku akan menunggumu kembali."

"syukurlah... apa kau sudah makan?"

"belum...aku baru saja mendapat waktu istirahat."

"kau masih bekerja ? apa masih di tempat yang sama?"

"tentu aku masih bekerja di tempat yang sama, tapi aku menambah kerja part time ku."

"jangan terlalu lelah Kyungsoo, saat aku kembali nanti kau tidak perlu bekerja lagi, aku yang akan membiayaimu."

Rasanya Kyungsoo ingin menangis keras mendengar ucapan Kai, ia tidak sanggup menahan rasa bahagianya mendengar jika Kai masih benar benar mencintainya.

"jangan berlebihan...cepatlah pulang!" Kyungsoo tersipu sendiri dengan ucapannya yang seakan menunggu suaminya pulang kerja, Kyungsoo bisa mendengar Kai tertawa kecil di sebrang sana membuat Kyungsoo semakin malu.

"aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu" ucap Kai

"aku juga, aku sangat merindukanmu."

"cepatlah makan, jangan sampai terlambat. Ketika aku kembali nanti aku ingin melihatmu sehat. Aku tutup, nanti aku akan menelfonmu lagi dan tunggu aku kembali!" ucap Kai.

Setelah meletakkan ponselnya Kyungsoo segera mengambil makanan ke dapur caffe, ia harus makan yang banyak agar ia tidak sakit dan Kai akan senang melihatnya. Kyungsoo juga segera berkerja lagi dengan wajah yang berseri setelah ia menghabiskan makanannya membuat pemilik caffe menggeleng kecil manatap Kyungsoo yang terlihat begitu bahagia.

TBC.