LOVE ME RIGHT

.

.

.

Main cast: Sehun, Luhan, Kai, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun and other

Main pair: HunHan KaiSoo ChanBaek

Genre: Romance School life

Rate : T-M

Length: Chapter

YAOI. MPREG. Typo

.

.

.

.

Kai segera meletakkan ponselnya saat mendengar pintu kamarnya terbuka, ia mendapati sang ayah berdiri disana.

"Jadi pria itu yang menjadi alasanmu untuk kembali ke Seoul ?" tanya Woobin, Kai tersenyum canggung.

"Maafkan aku ayah."

"Tidak, bukan salahmu. Aku akan segera mengurus kepulanganmu dan mencabut surat pindahmu."

"Terimakasih ayah, lalu bagaimana dengan ibu ?"tanya Kai cemas.

"Tidak perlu memikirkan ibumu, ayah bisa mengurusnya. Kau sudah besar, kau berhak menentukan pilihanmu. Ayah percaya padamu, dan kau harus bisa menjaga kepercayaan ayah." Woobin menepuk bahu anaknya yang masih duduk di ranjangnya.

Kai bangkit dan memeluk ayahnya dengan erat, senyumnya tidak lepas barang sedetik pun, ia merasa sangat beruntung memiliki ayah seperti Woobin, ayah yang sangat mengerti dirinya.

"Wahh...sejak kapan kalian mau melakukan hal seperti ini? Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat kalian seakrab ini."

Suara nyonya Kim membuat ayah dan anak itu melepaskan pelukannya dan menatap ke arahnya.

"Dan lihat ! apa yang membuatmu tersenyum seperti itu ?" tunjuk nyonya Kim pada putranya yang bahkan masih tersenyum bahagia.

Kai tidak menjawab, ia memilih untuk memeluk ibunya.

"Aku akan kembali ke Seoul, maafkan aku ibu."

Nyonya Kim segera melepas pelukan anaknya dan menatap terkejut, seakan ia meminta penjelasan.

"Biarkan ia memilih apa yang ingin ia jalani, ia sudah dewasa. Lagi pula ia tidak terbiasa dengan kehidupan di Jepang." Woobin menyahut, menjawab raut bingung istrinya.

"Dia akan terbiasa, ia hanya masih beradaptasi. Aku tidak setuju, Kai harus tinggal bersama kita !"

Kai menatap ayahnya khawatir, sedangkan ayahnya hanya menghela nafas.

"Dia tidak akan bahagia disini, semua temannya berada di Seoul."

"Dia bisa mencari teman baru disini." Elak nyonya Kim keras kepala.

"Dia belum menguasai semua bahasa Jepang."

"Bahasa ? bahkan Kai yang mengajariku bahasa Jepang, Kai sangat mengenal bahasa Jepang melebihi dirimu karena ia tumbuh di negara ini selama 5 tahun. Alasan macam apa lagi yang akan kau berikan padaku ? apapun alasannya Kai akan tetap tinggal bersama kita!"

"Ibu, ayah benar. Aku tidak akan bahagia disini, teman dan bahasa yang kugunakan berbeda disini dan itu terasa aneh untukku. Aku lebih lama tinggal di Seoul di banding Jepang. Aku mohon ibu, bisakan ibu mempercayai putra ibu ?" ucap Kai memohon.

"Bagaimana bisa kau tidak akan bahagia disini sementara disini kau berkumpul dengan orang tuamu ?"

"Aku sudah memesan tiket penerbangan ke Seoul, dan besok Kai akan berangkat."

Ucapan Woobin membuat Kai dan ibunya terkejut.

"Benarkah ?" tanya keduanya dengan ekspresi yang berbeda, Kai dengan raut bahagianya dan ibunya yang terlihat sangat terkejut.

"Ya, Kai harus segera berkemas karena besok pagi ia harus berangkat."jawab Woobin sambil membawa istrinya keluar.

"Tidak, Kai akan tetap disini. Dimana tiketnya ? aku akan membakarnya, persetan dengan uang, aku tidak peduli seberapa mahal tiket yang kau beli."

"Aku kepala keluarga disini, aku berhak memutuskan apapun mengenai putraku. Dia pewaris tunggalku, dan aku percaya padanya bahwa ia tidak akan pernah mengecewakanku. Jadi bisakah kau menghargai keputusanku sebagai kepala rumah tangga ?"

Nyonya Kim terdiam, jika suaminya sudah berkata tegas itu artinya tidak ada bantahan lagi kecuali kau ingin melihat seperti apa kemarahan tuan Kim saat ada yang membantahnya, sekalipun itu anak dan istrinya.

"Kau begitu tega melepaskan anakmu sendiri di negara yang berbeda dengan kita." Ucap nyonya Kim dengan nada kecewanya lalu segera beranjak dari kamar Kai.

"Ayah akan memesan tiket untukmu, jadi cepatlah berkemas."

"Jadi ayah belum membeli tiketnya?" tanya Kai tak percaya

"Aku terpaksa mengatakan itu agar ibumu segera menyetujuinya, aku akan memesankanmu tiket dengan keberangkatan pagi, jadi setelah berkemas cepatlah tidur agar tak kesiangan." Kai mengangguk patuh dan megucapkan termakasih pada ayahnya berulang ulang, membuat Woobin terkekeh lalu segera meninggalkan anaknya.

.

.

Sehun mengerutkan keningnya saat ponselnya berdering berkali kali, ia menggeram samar merasa kesal paginya terganggu, ia melirik Luhan yang tidur membelakanginya sebentar lalu mengambil ponselnya.

"Nadet ?"

Sehun segera membangunkan Luhan, ia juga segera menghubungi salah satu pengawal ayahnya untuk mengirimkan mobil di depan asramanya, ia tidak peduli jika ayah atau ibunya akan semakin marah padanya setelah ini.

Wajah keduanya menampilkan raut kecemasan yang luar biasa, terlebih Luhan yang terlihat sangat pucat, bahkan pelipisnya terus mengeluarkan keringat dingin. Ia hanya diam tak menyahut ketika Sehun berbicara dengannya, membuat Sehun semakin khawatir.

"Sehun ! apa kau sibuk ? maaf mengganggumu, tapi bisakah kau datang di Hanguk hospital sekarang ? semalam aku menemukan tubuh Baekhyun yang terapung di ruang berenang, aku segera membawanya ke rumah sakit tanpa memberitahu siapapun karena aku sangat cemas. Ia dinyatakan kritis dan saat ini dia belum juga sadar, aku menghubungi semuanya tapi mereka tidak ada yang mempedulikan panggilanku termasuk Chanyeol. Aku bingung harus menghubungi siapa lagi, dan akhirnya aku menghubungimu. Jadi bisakah kau datang Sehun ? kumohon, sebentar lagi aku harus menghadiri rapat bersama pelatih mengenai kemenangan sekolah dan perlombaan yang akan datang."

Mereka berdua segera menekan tombol lantai 04 dimana Baekhyun dirawat, mereka menemukan Nadet yang berdiri dengan cemas di depan pintu ruangan Baekhyun.

"Bagaimana keadaan Baekhyun ? apa sangat parah ? cepat katakan padaku Nadet !" Sehun mengusap lengan Luhan untuk menenangkan.

"Dokter bilang Baekhyun sedang mengalami masa kritis, dokter juga mengatakan jika saja aku terlambat membawanya kesini nyawanya tidak akan terselamatkan. Paru parunya banyak kemasukan air, dan itu yang membuatnya kritis setelah dokter mencoba untuk mengeluarkan air dalam Paru parunya. Kalian tau seberapa panik aku ketika menemukan tubuhnya terapung disana?"

FLASHBACK

Nadet baru saja keluar dari ruangan MMA, ia melihat Chanyeol baru saja keluar dari ruang berenang dan menutup pintunya dengan raut wajah yang sangat kacau dan setelahnya ia bisa mendengar suara air kolam seperti kejatuhan benda dengan sangat keras.

Nadet tak mempedulikannya dan bersantai disana sambil meminum air mineralnya, karena ia merasa lelah harus latihan selama 4 jam. Setelah puas ia beranjak dari sana, ia masih sedikit penasaran dengan suara yang ia dengar dari ruang berenang, terlebih setelah ia melihat raut wajah Chanyeol tadi.

Akhirnya Nadet memutuskan untuk membuka pintu ruangan itu, dan ia hampir saja berteriak saat melihat tubuh yang terapung di atas air dengan posisi tengkurap.

Dengan segala keberaniannya, Nadet melangkah masuk dan segera melompat dalam kolam untuk menyelamatkan orang itu. Setelah membawanya ke tepi kolam Nadet kembali di kejutkan dengan wajah orang yang baru saja ia selamatkan, putra si kepala sekolah, Baekhyun.

Nadet merasa Baekhyun tak bernafas, dengan panik ia memompa dada Baekhyun dan memberinya nafas buatan berkali kali. Nadet sempat menggeram frustasi karena Baekhyun tidak segera memuntahkan air dalam paru parunya, namun ia sedikit lega ketika Baekhyun terbatuk dan mengeluarkan sedikit air dari mulutnya.

Nadet segera membawa tubuh Baekhyun ke rumah sakit saat ia merasa Baekhyun kembali tak mengeluarkan nafasnya secara normal, ia sangat khawatir hingga tak kepikiran untuk memberitahu teman temannya ataupun kepala sekolah.

FLASBACK OFF

" Kalian berdua boleh masuk untuk melihat keadaan Baekhyun." Ucap Nadet, Luhan segera mengucapkan terimakasih pada Nadet dan segera masuk di ikuti Sehun dan Nadet di belakangnya.

Kaki Luhan terasa seperti tak memiliki tulang saat melihat Baekhyun terbaring lemah disana dengan selang yang berada di kedua lubang hidungnya, Baekhyun pasti sangat tersiksa dengan keadaannya hingga berbuat seperti ini.

Luhan meraih jemari Baekhyun yang tidak di infus dan mengelusnya dengan lembut, ia menangis melihat keadaan seseorang yang sudah menyelamatkannya dulu dan juga satu satunya orang yang mau menganggapnya sebagai saudara seperti ini.

"Baekhyun.. kau harus cepat sadar, kau tidak boleh berada di tempat ini. Seharusnya sekarang kau berada di kelas dan belajar, bukan tidur di tempat seperti ini. Mengapa wajahmu sangat pucat ? hiks..." Luhan terus menangis, ia tidak tega melihat Baekhyun seperti ini, ia yakin Baekhyun pasti sangat tertekan hingga seperti ini.

"Apa kita harus menelfon kepala sekolah, ibu Baekhyun, Kyungsoo atau mungkin Chanyeol ?" tanya Nadet, membuat Luhan menoleh.

"Sebenarnya kita harus menghubungi ibunya, tapi mengingat keduanya sedang dalam masalah, sebaiknya jangan." Jawab Sehun yang kini duduk di sisi kaki kanan Baekhyun.

"Tapi Sehun, Baekhyun membutuhkan ibunya, dan ibu Baekhyun berhak tau." Ucap Luhan

"Sebaiknya kita menghubungi Kyungsoo, aku yakin dia sependapat denganku. Baekhyun tidak akan suka melihat ibunya berada di sini dengan mata sembab ketika ia sadar nanti, ia juga tidak akan suka ketika melihat Chanyeol datang, dan kepala sekolah pasti akan merasa terbebani dengan keadaan Baekhyun di tengah2 kesibukannya. Tidak perlu khawatir dengan biaya pengobatannya, aku bisa membantu, ibuku juga pasti tidak akan keberatan untuk berpura pura menjadi wali Baekhyun." Jelas Sehun, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Nadet dengar dari mulut Sehun.

Akhirnya Luhan dan Nadet mengangguk setuju, lalu Nadet segera berpamitan untuk pergi karena ia sudah terlambat.

Setelah kepergian Nadet, Sehun segera delivery untuk sarapan mereka, Luhan juga sudah menghubungi Kyungsoo, mungkin sebentar lagi ia akan datang.

Clek...

"Luhan !" panggil Kyungsoo.

"Bagaimana keadaan Baekhyun ?"

"Dokter bilang kita harus menunggu Baekhyun sadar, lalu dokter akan memeriksanya lagi, dia kritis Kyungsoo." Jawab Luhan dengan mata berkaca kaca.

Kyungsoo segera duduk disamping Luhan.

"Aku sangat terkejut saat kau menelfonku Lu, aku tidak menyangka Baekhyun akan seperti ini."gumam Kyungsoo, ia merasa sangat khawatir pada sahabatnya.

Sehun segera membuka pintu saat mendengar suara ketukan, ia segera mengambil makanan yang ia pesan dan membayarnya.

"Ayo kita makan, kalian tidak ingin menemui Baekhyun dalam keadaan sakit juga kan?" ucap Sehun.

"Aku sudah makan."sahut Kyungsoo.

"Makanlah sedikit kyung, atau aku akan menciummu!"

"Sehun!" dua pekikan Sehun dapat dari Luhan dan Kyungsoo.

Luhan mengerucutkan bibirnya kesal, sementara Kyungsoo menatap Luhan menyesal dan menatap Sehun tajam. Sementara Sehun hanya terkekeh.

"Apa kalian sudah mengikat hubungan kalian ?"tanya Kyungsoo ragu saat melihat Luhan masih merengut.

"Ya, rusa itu milikku."jawab Sehun

"Selamat untuk kalian berdua, kalian memang terlihat sangat cocok." Ucap Kyungsoo dengan senyum manisnya.

"Kenapa hanya cemberut ? cepat sarapan! Apa menunya tidak cocok ?" tanya Sehun pada Luhan yang masih kesal.

"Aku cemburu Sehun ! tidakkah kau mengerti ?" kesal Luhan.

"Oh, Astaga! Kekasihku cemburu." Ucap Sehun beracting terkejut.

"Ishh..."gerutu Luhan, ia melipat kedua tangannya di atas dada dan mengerutkan dahinya pertanda jika ia benar benar kesal sekarang.

"Baiklah baiklah, maafkan aku sayang. Apa yang membuatmu marah hingga seperti ini ?" tanya Sehun menatap Luhan lembut.

"Sudah berapa kali aku melihatmu mencium Kyungsoo, dan sekarang kau ingin menciumnya lagi ? Di depanku setelah kita resmi menjadi sepasang kekasih ? Apa kau bercanda Sehun ?" pekik Luhan tertahan karena tidak ingin membuat Baekhyun terganggu.

Kyungsoo membuka sedikit mulutnya pertanda takjub, baru kali ini ia melihat Luhan bersikap semanja ini, dan baru kali ini juga ia melihat Sehun dengan mudah memperlihatkan rasa pedulinya.

"Kau jangan iri!" sahut Luhan membuat Kyungsoo terkekeh, tak lama Luhan pun ikut tersenyum ketika menyadari tingkah konyolnya.

"Baiklah! Ayo kita makan, dan Kyungsoo kau juga harus memakannya!" ucap Sehun membuat Kyungsoo mengeluh.

"Apa Chanyeol tahu mengenai ini ?"tanya Kyungsoo

"Sepertinya tidak, aku menunggumu untuk memberi keputusan." Jawab Luhan.

"Aku ?" tunjuk Kyungsoo tak percaya.

"Karna kau yang lebih dulu mengenal Baekhyun, aku pikir kau akan tahu yang terbaik untuknya."ucap Luhan, Kyungsoo mengangguk paham.

"Baekhyun tipe orang yang tidak suka di kasihani, mengingat hubungan keluarganya dan Chanyeol tidak baik, sebaiknya kita sembunyikan keadaan Baekhyun sebisa mungkin. Baekhyun akan merasa bahwa keluarganya memandangnya dengan tatapan menyesal, kasihan atau ekspresi apapun itu seolah mereka baru saja mengerti perasaannya, dan Baekhyun akan membenci itu. Ia tidak ingin keluarganya bersikap seperti itu di saat ia dalam keadaan yang menyedihkan."jelas Kyungsoo, Luhan dan Sehun mengangguk setuju.

"Kita lihat bagaimana keadaan Baekhyun setelah sadar nanti, jika keadaannya memungkinkan kita hubungi keluarganya."lanjut Kyungsoo.

Sehun membuka ponselnya saat merasa ponsel dalam sakunya bergetar.

From : PARK CHANYEOL

Siwon hyung bilang kau boleh datang nanti malam, kalau kau tidak keberatan pakai saja motor lamamu lagi pula malam ini hanya perlombaan motor kecil kecilan karena yang menantang adalah bocah amatir dari SMA 'A' sampai jumpa di Tol arah selatan jam 00.00 kami menunggumu disana.

"Mungkin kau tidak akan bisa datang setelah mengetahui ini" gumam Sehun membuat Luhan dan Kyungsoo menoleh.

"Apa yang tidak mungkin?" tanya Luhan.

"Bukan apa apa." Jawab Sehun dengan sedikit senyum

"Jangan membohongiku!" gerutu Luhan

"Tidak. Sepertinya nanti malam kau harus tidur sendirian, mungkin Kyungsoo bisa menemanimu. Nanti malam aku akan mengikuti balap motor pertamaku, jadi mungkin aku akan pulang besok pagi."ucap Sehun membuat Luhan merengut tak setuju.

"Itu sudah kurencanakan sebelum kita menjalin hubungan sayang, aku tidak mungkin menghindar karena ini adalah awal yang kupilih, aku ingin menjadi seorang pembalap motor." Jelas Sehun, Luhan menghela nafas.

"Disana pasti banyak perempuan berbadan sexy dengan busana minim."gumam Luhan, Sehun mengusap rambut Luhan gemas.

"Aku janji tidak akan tergoda oleh mereka sayang."

"Siapa yang tau..."

"Kau bisa bertanya pada Chanyeol, karena Chanyeol juga akan ada disana."

"Kalian berdua sama, dan aku yakin Chanyeol sudah pernah tergoda dengan wanita disana, sudah terlihat dari sikapnya yang memperlakukan Baekhyun seperti ini." Sahut Luhan semakin kesal.

"Sayang aku mohon, bukankah kau sudah berjanji untuk tetap mempercayaiku ? dan kau harus percaya bahwa aku tak akan menghianatimu, ayolah ! hubungan kita baru di mulai semalam dan kini kau sudah merajuk padaku ?"

"Terserahmu saja Oh Sehun ! berangkat saja nanti, lagi pula kau sudah tahu jika aku akan tetap mempercayaimu." Gerutu Luhan dengan bibir mengerucut sebal.

Sehun segera mencium pipi Luhan gemas "Terimakasih sayang."

Kyungsoo memutar bola matanya malas, ayolah ! apa mereka berdua melupakan kehadirannya?

.

.

Kai berdiri di depan gerbang sekolahnya dengan raut wajah bahagia, ia tidak sabar untuk menemui Kyungsoo dan memeluknya – sebenarnya ia ingin menciumnya juga, tapi Kai tidak seberani itu karena ini adalah langkah awalnya, ia hanya tak ingin di cap mesum oleh Kyungsoo-.

Chanyeol yang baru saja mengirim pesan pada Sehun mengerutkan keningnya melihat seseorang yang kini berjalan menuju asrama, ia dapat melihatnya karena ia sedang berada di balkon kamarnya yang terletak di lantai 2.

"Kai ?" gumam Chanyeol.

Setelah memastika objeknya Chanyeol segera turun untuk menyambut kedatangan sahabatnya, ia butuh Kai untuk menceritakan keadaannya.

"Kai !" panggil Chanyeol saat ia sudah menuruni tangga dan mendapati Kai yang baru saja masuk.

"Wahh... aku tidak tau jika orang pertama yang menyambutku adalah kau."gurau Kai, lalu memeluk tubuh sahabatnya yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Akhirnya kau kembali, bagaimana bisa secepat ini ? bagaimana dengan ibumu ? alasan apa yang kau buat ?" tanya Chanyeol antusias.

"Nanti saja menjawabnya, dimana yang lain ? mengapa sepi sekali ?"

"Kyungsoo maksudmu ?"

"Ya, dia termasuk." Jawab Kai terkekeh.

"Setauku dia tadi masuk kelas musik."

"Benarkah ? aku akan kesana kalau begitu." Ucap Kia lalu beranjak pergi.

"Oh Astaga!" geram Chanyeol memukul kepala sahabatnya.

"Bagaimana bisa kau lebih memilih untuk menyambut si mungil yang bahkan tidak pernah mempedulikanmu dari pada sahabatmu sendiri ?" lanjut Chanyeol, Kai meledakkan tawanya merasa berhasil membuat Chanyel kesal.

"Kau hanya tidak tahu bagaimana hubungan kita" cibir Kai.

"Kau juga tidak tahu bukan bagaimana hubunganku yang sekarang?"ucap Chanyeol dengan sedikit senyum getir, membuat Kai seketika tersadar.

"Ahh benar, bagaimana hubunganmu dengan Baekhyun ?" tanya Kai antusias, melupakan barang barangnya yang masih berada dalam mobilnya.

"Kau tidak akan percaya ini..." raut wajah Chanyeol seketika berubah sendu, membuat Kai semakin penasaran.

"Kai ! benarkah itu dirimu ?"

Chanyeol yang baru saja akan membuka mulutnya harus kembali mengatupkannya saat melihat beberapa temannya datang dari arah berlawanan, sepertinya kelas baru saja selesai dan Chanyeol melewatkan semua mata pelajarannya dalam sehari, anggap saja ia tengah membolos hari ini.

Kai tersenyum menyambut pelukan yang teman temannya berikan padanya.

"Kau tahu ? karenamu sekolah kita tidak berada di nomor 1 ! andai kau tidak pergi saat itu mungkin bulan depan sekolah kita akan masuk perlombaan internasional resmi."

"Apa yang membuatmu meninggalkan sekolah ini ?"

"Kai, guru dance kita sudah berganti. Gurunya lebih baik, kau tahu dance yang ia ajarkan sangat luar biasa kau akan menyesal telah melewatkan beberapa ajarannya."

"Bagaimana suasana negara Jepang ? apa sama seperti Korea ?"

"Apa kau punya teman disana ?"

"Bisakah kau mengajariku bahasa Jepang ? aku yakin kau bisa bahasa Jepang dengan sangat baik."

Semua pertanyaan yang keluar dari teman temannya membuat Kai terkejut.

"Aku sedang malas menjawab pertanyaan kalian, bagaimana ini?" ucap Kai dengan nada bergurau membuat yang lain tertawa dan mengejek satu sama lain, kecuali Chanyeol yang mencibir kelakuan Kai.

Kai melihat semua teman temannya dan ia merasa aneh, ia tidak menemukan Kyungsoo, Luhan, Baekhyun dan juga Sehun. Ahh, mungkin Sehun sedang sibuk dengan dunianya sendiri, pikirnya.

"Ngomong ngomong, dimana Kyungsoo dan yang lain ? aku tidak melihat mereka." Tanya Kai membuat Chanyeol mengedarkan pandangannya, dan ia baru menyadari bahwa ke 3 sahabat itu tidak ada disana, mungkinkah Kyungsoo dan Luhan sedang menenangkan Baekhyun di kamarnya ? apa Baekhyun benar benar tidak bisa melepaskannya hingga kehilangan moodnya dan kembali tidak masuk kelas ? berbagai pikiran hinggap di kepala Chanyeol, mulai dari hal baik hingga hal yang paling buruk.

"Bukankah Kyungsoo pergi ke rumah sakit di tengah tengah kelas musik ?" sahut Shannon, membuat Kai terkejut.

"Kyungsoo kerumah sakit ? apa dia terlihat pucat tadi pagi ? siapa yang mengantarnya ? apa Baekhyun dan Luhan ?" tanya Kai cemas, ia berjanji setelah ini akan memberhentikan Kyungsoo dari tempat kerjanya agar tidak kelelahan dan berakhir sakit seperti yang ada di pikirannya saat ini.

"Tidak, dia tidak terlihat pucat sedikitpun." Jawab Shannon.

"Mungkin dia sedang menjenguk Baekhyun, pasti Luhan sudah menghubunginya." Sahut Nadet membuat Chanyeol menatapnya tajam penuh curiga, dia tidak salah dengar kan ?

"Baekhyun ?" ulang Chanyeol memastikan.

Nadet yang baru saja menyadari bahwa ada Chanyeol disana hanya menatap ragu, ia lupa jika Chanyeol tidak boleh tau tentang ini, Nadet menyesali perkataannya barusan, seharusnya ia tidak perlu sok menyahut ucapan Shannon.

"Nadet, aku bertanya padamu !"

"Ya, semalam...a..aku tidak sengaja melihat tubuh Baekhyun terapung di ruang berenang lantai atas, aku segera membawanya ke rumah sakit karena aku sangat panik saat ia tidak bernafas dengan normal, aku..."

"Kau tidak berniat meminta bantuan yang lain ? KAU TIDAK MEMBERITAHUKU ?" bentak Chanyeol kalap, ia mencengkram kerah baju Nadet dengan kasar, membuat yang lainnya takut, sedangkan Kai masih terkejut. Sebenarnya apa yang telah terjadi di sekolah ini sejak ia tinggalkan, seingatnya ia baru meninggalkan sekolah ini sebentar, namun sepertinya banyak kejadian yang ia lewatkan.

"AKU SUDAH MENGHUBUNGI SEMUANYA, TAPI KALIAN MENGABAIKANKU ! COBA CEK PONSELMU BERAPA BANYAK PANGGILAN TAK TERJAWAB DARIKU ? SEHARUSNYA KAU BERTERIMAKASIH PADAKU KARENA AKU DENGAN CEPAT MEMBAWA BAKHYUN KERUMAH SAKIT ! APA KAU TAHU SEBERAPA PANIKNYA AKU KETIKA DOKTER BILANG BAHWA MUNGKIN NYAWA BAEKHYUN TAK TERSELAMATKAN JIKA SAJA AKU TERLAMBAT MEMBAWANYA KERUMAH SAKIT ? APA KAU TAHU PARK CHANYEOL ? DAN BAGAIMANA DENGANMU YANG MALAH MENINGGALKANNYA DISANA ? KAU PIKIR AKU TIDAK MELIHATMU KELUAR DARI RUANGAN ITU ? SEINGATKU SUARA TERJATUHNYA BAEKHYUN DALAM KOLAM SANGATLAH KERAS, AKU YAKIN KAU BISA MENDENGARNYA JUGA KECUALI JIKA KAU TULI !" Nadet berteriak bak orang kesurupan.

Nadet mendorong tubuh besar Chanyeol dengan kasar, jangan lupa jika Nadet adalah pemain MMA hingga dengan mudah ia mendorong tubuh basar Chanyeol.

Perlahan amarah Chanyeol menguap di udara saat mendengar triakan Nadet yang di tujukan padanya.

Ya, ia melihat banyaknya panggilan tak terjawab di ponselnya dari Nadet namun ia abaikan, dan sebenarnya semalam ia juga mendengar suara itu, tapi Chanyeol berpikir bahwa ia salah dengar dan memilih untuk mengabaikannya karena perasaannya sedang kalut saat itu.

Chanyeol baru saja tersadar dari lamunannya saat Kai menariknya keluar, beruntung Kai tadi datang menggunakan mobilnya karena ia berniat untuk mengajak Kyungsoo berkencan malam ini, tapi sepertinya rencananya akan gagal.

Mereka berdua saling diam dalam mobil dengan Kai yang mengemudi dan Chaneyol yang memilih diam menatap kosong pada jalanan yang mereka lewati.

"Jadi ?" tanya Kai membuka percakapan, karena jujur saja ia masih bingung dengan keadaan ini.

"Aku akan bertunangan dengan kekasih baruku akhir bulan, Baekhyun marah dan keadaan keluarga kami menjadi kacau, aku mengajak Baekhyun di ruang itu karena ku pikir ruangan itu akan sepi di jam malam. Setelah sedikit berdebat, Baekhyun menolak semua hal yang menyangkut diriku, ia bahkan tidak mau namanya terucap dari mulutku dan ia mengusap bibirnya dengan jijik ketika aku menciumnya, ia menyuruhku pergi dan aku menurutinya, lalu aku tidak tahu kelanjutannya hingga Baekhyun menenggelamkan dirinya di ruangan itu." Jelas Chanyeol dengan nada datar dan tatapan kosong.

Kai mengerti dengan ucapan Chanyeol, tapi ia sedikit bingung karena Chanyeol tidak menceritakan detailnya. Chanyeol akan bertunangan dengan kekasih barunya ? artinya mereka benar benar sudah putus ? dan siapa kekasih baru Chanyeol ? ia tahu pasti kejadiannya sangat rumit dan fatal hingga Baekhyun berbuat nekat seperti itu, lagi pula ada apa dengan Chanyeol hingga tiba tiba ia akan betunangan.

Kai baru saja akan menanyakan hal itu jika saja Chanyeol tak menyahut lebih dulu.

"Aku tidak di jodohkan, itu keinginanku. Tapi Kai, bisakah kau tidak membahasnya sekarang atau aku akan menggila." Ucapan Chanyeol cukup membuat Kai paham bahwa sahabatnya tengah terguncang sekarang, ia memilih diam mengiakan permintaan Chanyeol untuk tidak membahasnya, ia yakin jika sudah waktunya Chanyeol akan bercerita padanya.

.

.

"Kyungsoo ! Sehun ! Baekhyun sudah sadar !" pekik Luhan girang.

Kyungsoo dan Sehun yang sedang mengobrol tentang bagaimana kehidupan Sehun di Amerika, segera menghampiri Luhan.

Baekhyun mengedarkan pandangannya dari Luhan, Kyungsoo dan Sehun secara bergantian.

"Baekhyun ! syukurlah kau sudah sadar, apa yang kau rasakan saat ini ?" tanya Kyungsoo semangat.

Baekhyun yang masih mengumpulkan kesadarannya, menjawab dengan suara yang sangat pelan dan serak.

"Pusing" gumamnya masih menatap ketiga temannya.

Clek...

"Baekhyun !"

Ke 4 orang di dalam segera mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang kini berjalan ke arah mereka, Luhan dan Kyungsoo menatap khawatir mengenai reaksi apa yang akan Baekhyun berikan saat melihat Chanyeol.

Chanyeol menggeser Luhan tanpa menatapnya, ia segera menggenggam jari jari lentik Baekhyun. Menatap Baekhyun dengan tatapan khawatir yang berlebihan, sedangkan Baekhyun menatapnya tak berkedip.

"Bagaimana bisa kau berada disini ? apa yang terjadi padamu ?" tanya Chanyeol cemas.

"Sebenarnya kalian siapa ? dimana keluargaku ?"

Deg !

"B..Baek..." Chanyeol melepas genggaman tangannya, menatap Baekhyun dengan tatapan tak percaya, begitu juga dengan ketiga temannya yang sangat terkejut.

"Mengapa kau meninggalkanku ? kau tahu ? aku masuk kamar orang tadi !"

"Kai ?" gumam Kyungsoo tak percaya, benarkah orang yang kini berjalan ke arahnya adalah Kai ?

"Bagaimana keadaan Baekhyun ?" tanya Kai yang kini sudah memeluk Kyungsoo.

"Mengapa kalian berkumpul di ruanganku ? mungkinkah kalian semua temanku ? Apa yang terjadi padaku ?" ucapan Baekhyun menyadarkan Kai bahwa keadaannya tidak baik, Kai melepas pelukannya pada Kyungsoo dan beralih di samping Chanyeol, ia bisa melihat raut wajah Chanyeol yang terpukul.

"Baekhyun, kau tidak mengingat kami ?" tanya Kai, Baekhyun menggeleng pelan.

"Sedikitpun ?" tanyanya Luhan memastikan, dan Baekhyun tetap menggeleng.

"Tapi..." semuanya menunggu kelanjutan ucapan Baekhyun dengan antusias, sementara Baekhyun memberi tatapan ragu lalu menatap Chanyeol membuat Chanyeol berdebar, sangat takut dengan kata apa yang akan keluar dari mulut mungil itu.

"Mengapa rasanya sakit sekali ketika aku melihat orang ini ? sepertinya aku sedang memendam emosi, tapi entah itu apa aku tidak mengingatnya. Maafkan aku telah menatapmu seperti itu." Lanjut Baekhyun lalu mengalihkan tatapannya pada yang lain.

Chanyeol merasa mendapatkan pukulan yang sangat kuat tepat di dadanya, rasanya sesak sekali ketika Baekhyun mengatakan itu, sebisa mungkin ia menahan air matanya hingga wajahnya memerah.

"Dia kakakmu Baekhyun.." ucap Luhan membuat yang lain terkejut, kecuali Sehun.

"Benarkah ?" Luhan mengangguk.

"Dan kami sahabatmu, Sehun ! bisakah kau panggilkan dokter ?" lanjut Luhan, Sehunpun segera keluar tanpa membantah.

Mereka menunggu di luar ruangan Baekhyun, sementara dokter memeriksa keadaan Baekhyun.

"Mengapa kau mengatakan itu Luhan ?" tanya Kyungsoo

"Lalu aku harus berkata seperti apa ? mengatakan bahwa Chanyeol adalah kekasihnya sementara Chanyeol akan segera bertunangan. Itu akan menyakiti perasaannya, sekarang ia sangatlah merasa tenang karena semua beban pikirannya terlupakan, lagi pula aku tidak berbohong padanya, Chanyeol memang kakaknya tidak lebih." Tekan Luhan di akhie kalimat, bermaksud untuk menyindir Chanyeol.

Chanyeol tidak berkutik, ia sadar bahwa semua ini memang salahnya.

"Sehun ah..." Sehun mengalihkan pandangannya pada orang yang memanggilnya.

"Ibu..." ya, Sehun sudah menghubungi ibunya untuk menjadi wali Baekhyun, ia memohon pada ibunya melupakan renggangnya hubungan mereka.

"Luhan, bagaimana keadaanmu ? apa kau sudah baik ?" tanya Suho menangkup pipi Luhan, membuat Luhan tersenyum.

"Saya baik baik saja berkat bantuan anda dan putra anda." Jawab Luhan sopan.

"Syukurlah jika anak itu mengurusmu dengan baik."

Sehun menghampiri ibunya dan memeluknya erat.

"Maafkan aku bu, jangan marah lagi, aku sudah bertanggung jawab." Gumam Sehun

Kai dan yang lain terkejut kecuali Luhan, karena ia tidak tahu jika Sehun bisa bersikap seperti ini di depan ibunya. Dan apa ? laki laki itu ibu Sehun ?Ya, hanya Luhan yang tau, bahkan Kyungsoo pun baru mengetahuinya.

"Ibu memaafkanmu." Suho mengusap punggung tegap anaknya.

"Siapa wali dari pasien Byun Baekhyun ?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan Baekhyun.

"Saya ayahnya." Ucap Suho, tidak lucu bukan jika ia mengatakan bahwa ia ibu Baekhyun ?

"Dia mengalami lupa ingatan singkat, karena saat ia mencelakai dirinya sendiri ia sedang terguncang membuat saraf ingatannya sedikit terganggu... beberapa hari kedepan ingatannya akan segera pulih." Jelas dokter membuat semuanya bernafas lega.

"Bisakah anda ke ruangan saya, untuk membayar asuransi pengobatan anak anda." Suho mengangguk.

"Ibu akan segera pulang, Ibu tidak bisa keluar dengan lama tanpa persetujuan ayahmu." Ucap Suho.

"Baiklah, ibu perkenalkan dia Luhan kekasihku saat ini."

"Apa ?" tanya Suho terkejut, sebenarnya yang lain juga terkejut kecuali Kyungsoo tentu saja.

"Nanti aku akan mengunjungi ibu di rumah, maaf karena aku menyuruh pengawal ayah untuk mengirimkan mobil untukku, ibu cepatlah bayar asuransi Baekhyun !" ucap Sehun sambil mendorong Suho menjauh, mengabaikan keterkejutan Suho.

.

.

"Hyung..." panggil Baekhyun, membuat Chanyeol harus menelan ludahnya setiap kali Baekhyun memanggilnya seperti itu, ya dari tadi Baekhyun selalu memanggil Chanyeol dengan sebutan Hyung.

"Ada apa ? kau butuh apa sayang ?" tanya Chanyeol sambil mengusap kepala Baekhyun dan memaksakan senyum lembutnya pada adiknya

Baekhyun tersenyum meraih tangan kakaknya yang mengusap kepalanya dengan lembut, menggenggamnya dan mengusakkan pipinya pada lengan Chanyeol.

"Tidak ada, aku hanya ingin melakukan ini, terasa sangat nyaman hehe..." ucap Baekhyun dengan senyum manisnya, sekali lagi Chanyeol merasa tertampar dengan sikap Baekhyun.

"Cepatlah sembuh adik manis..." gumam Chanyeol mengecup dahi Baekhyun sedikit lama.

"Sepertinya hyung sangat menyayangiku, hyung memanggilku dengan sayang dan memperlakukanku dengan sangat baik."

"Tentu saja hyung menyayangimu, siapa yang tidak gemas memiliki adik yang sangat manis sepertimu hmm ?"

"Hyung sangat tampan, jika Chanyeol hyung bukanlah hyungku, aku mau menjadi kekasih hyung, aku akan berusaha untuk mendapatkan hyung, apa hyung keberatan ?" pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol membeku, begitu juga dengan teman temannya yang duduk di sofa dalam ruangan Baekhyun. Mereka merasa iba pada Chanyeol dan Baekhyun.

"Hyung keberatan ?" tanya Baekhyun lagi, Chanyeol tersenyum mengecup dahi Baekhyun lagi.

"Sebaiknya Baekkie harus segera beristirahat agar cepat sembuh!"ucap Chanyeol.

"Tapi Chanyeol hyung harus menemani Baekkie." Chanyeol mengangguk lalu mengusap kepala Baekhyun lagi, sementara Baekhyun memejamkan matanya.

Setelah Baekhyun tertidur, Chanyeol bergabung bersama teman temannya. Mereka menatap raut wajah Chanyeol seakan tak memiliki arah.

"Tidak perlu menyesalinya Chanyeol, semuanya sudah terjadi. Dan ingat, kau yang memulainya jadi kau juga yang harus mengakhirinya dan menerima segala resikonya. Aku tidak ada kata kata manis untuk menghiburmu saat ini karena jujur saja aku masih sangat kesal dengan sikapmu." Ucap Luhan kembali menyadarkan Chanyeol.

"Aku setuju dengan Luhan, dan ini sepertinya impas ahh belum, rasa sakit Baekhyun pasti lebih dari ini. Kau harus tau yeol, seberapa terpukulnya Baekhyun saat kau berpura pura sudah tidak mempedulikannya lagi, dan aku rasa ini karma untukmu." Sambung Kyungsoo, Chanyeol hanya diam merasa ucapan kedua temannya sangatlah benar.

"Kau lega bukan sekarang Baekhyun sudah menganggapmu sebagai kakak tidak lebih, bukankah kau sangat menginginkan saat saat seperti ini ?" ucap Luhan lagi.

"Sudahlah, kalian berdua tidak perlu menghakimi Chanyeol seperti ini, Chanyeol sedang tertekan dan jangan membuatnya semakin tertekan." Sahut Sehun merasa kekasih dan juga temannya terlalu memojokkan Chanyeol.

"Mereka benar, aku seharusnya tidak perlu bersikap seperti ini karena ini adalah kesalahanku, aku bahkan tidak berhak untuk menyesal."gumam Chanyeol.

"Ayolah, aku baru saja sampai dan kalian malah berduka ?" sahut Kai mencairkan suasana yang masih terasa kaku.

"Jadi sejak kapan kalian menjadi sepasang kekasih ? terakhir kuingat kalian berdua adalah musuh." Tanya Kai pada Sehun dan Luhan.

"Haruskah kau tahu ?" Kai mendecih mendengar jawaban Sehun.

"Dia masuk kekelas MMA untuk menggantikanmu, dan ia sudah terdaftar" ucap Chanyeol

"Sehun ? aku rasa kau harus memulai dari awal, karena aku sudah kembali dan akan mempertahankan tempatku, lagi pula kau perlu latihan lebih, kau tidak sebanding denganku." Balas Kai dengan seringaiannya, membuat emosi Sehun menguap.

Bughhh ...

"SEHUN !"

"KAI !"

Pekik Luhan dan Kyungsoo tertahan, lagi lagi karena Baekhyun sedang tidur.

Kai memegang rahangnya yang terasa nyeri, lalu menatap Sehun nyalang.

"Bagaimana ? pukulanku lumayan bukan ?" ucap Sehun sambil membenarkan pakaiannya lalu beranjak pergi, tak lupa ia memberikan tatapan remehnya pada Kai.

"Kau baik baik saja ?" tanya Kyungsoo khawatir, Luhan yang merasa bersalah pada temannya segera berlari mengejar Sehun setelah mengucapkan kata maaf untuk Kai.

"Astaga, apa kalian tidak bisa akrab sedikit?" gumam Chanyeol lelah, ia menyandarkan punggungnya pada sofa.

.

.

"Sehun !" panggil Luhan, namun Sehun mengabaikannya dan tetap melangkah tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

Luhan merasa kesal dengan sikap Sehun, apa ini sifat Sehun yang sebenarnya ? begitu menyebalkan !

"Sehun ! kau keterlaluan !" teriak Luhan di koridor rumah sakit, membuat beberapa orang menatapnya kesal karena mengganggu.

Luhan tetap mengikuti Sehun hingga di parkiran, Sehun segera masuk dalam mobil dan menyalakan mesinnya tanpa peduli pada panggilan Luhan.

Luhan segera membuka pintu mobil Sehun dan duduk di sampingnya dengan tatapan tajam.

"Cepat jalankan mobilnya dengan kecepatan penuh!" perintah Luhan dengan tatapan tajam.

"Apa maksudmu ?" kesal Sehun.

"Kau tidak mendengarku ? biarkan aku memberi contoh padamu !" Luhan segera menginjak kaki kanan Sehun dengan keras menyebabkan mobilnya melaju dan menabrak pembatas besi dengan sangat keras, mungkin mobil bagian depan Sehun sudah rusak saat ini.

"Apa yang kau lakukan ?" bentak Sehun

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan pada Kai ? tidakkah kau sangat keterlaluan Sehun ? apa yang membuatmu memukulnya ?" teriak Luhan

"Mengapa kau berada disini ? duduk saja disana menemani Baekhyun karena aku tidak akan pulang malam ini."

"Apakah ini sikapmu yang sebenarnya Oh Sehun ? kasar dan sangat arogan ?"

"Kau menyesal menerimaku ?"

Luhan mengatupkan bibirnya saat Sehun menatapnya tajam dengan wajah memerah karena emosi, sungguh Luhan benci jika Sehun menatapnya seperti itu.

"Mengapa kau berbeda Sehun ? hiks... aku seperti tidak mengenalmu." Tangisan Luhan pecah.

Sehun menghela nafas berat lalu mengusap wajahnya kasar, ia baru saja melakukan kesalahan. Sehun sangatlah benci ketika seseorang menganggapnya rendah dan meragukan kemampuannya, dia memiliki sifat yang sangat buruk, ingat bahwa Sehun pernah memiliki masa lalu yang kelam hingga menimbulkan sikap seperti ini, jangan lupa juga jika Sehun tumbuh di lingkungan yang sangat keras.

"Aku tidaklah berbeda Luhan, inilah aku. Bukankah kau sudah mengenalku dan mengerti akan diriku ? bahkan kita bertemu dengan saling bermusuhan, harusnya kau tidak terkejut dengan sikapku yang seperti ini. Dan ingat , aku benci ketika seseorang merendahkanku, jadi berhentilah menangis, kau sudah dewasa." Ucap Sehun dengan nada yang lebih rileks, mengontrol emosinya.

Luhan masih terisak, ia pikir Sehun akan menenangkannya seperti layaknya sepasang kekasih normal lainnya lalu meminta maaf, tapi nyatanya Sehun tetaplah Sehun, lelaki itu tidak akan mau merendahkan harga dirinya dengan kata maaf.

"Ya, harusnya aku tidak terkejut dengan sikapmu yang menghajar temanku, karena kaupun tidak akan ragu untuk menghajarku." Gumam Luhan mengusap air matanya lalu segera keluar dari mobil Sehun.

Sehun mengerang dalam mobilnya, ia harus memahami perasaan Luhan. Tentu saja Luhan akan berfikir seperti itu, karena pertemuannya dengan Sehunpun tidaklah baik, mereka sering bertengkar bahkan pernah saling pukul.

"Kau harus menerimaku apa adanya, seperti yang kulakukan padamu apapun yang terjadi Luhan." Desis Sehun.

.

.

Chanyeol menuntun Baekhyun masuk dalam asrama, dan teman temannya menyambut dengan baik. Semalam Chanyeol tidak datang pada acara motornya karena ia harus menemani Baekhyun.

"Mereka semua teman baikmu." Bisik Chanyeol melihat ekspresi bingung Baekhyun.

"Mengapa kita tinggal di tempat seperti ini hyung ? apa kita tidak memiliki orang tua ?" gumam Baekhyun ragu.

"Baekhyun, bagaimana kabarmu ?" tanya Nadet.

"Aku baik." Jawab Baekhyun dengan senyum manisnya.

"Syukurlah, kau baik Baekhyun."

"Baekhyun harus istirahat sekarang, jadi mohon pengertiannya."ucap Chanyeol, membuat yang lainnya kembali masuk ke kelas mereka masing masing.

"Baekhyun ! Chanyeol ! kalian darimana ? dari kemarin aku tidak melihat kalian, bahkan kalian absen dari kelas." Itu Hanggeng yang menatap Baekhyun sedikit aneh, karena Baekhyun menatapnya dengan tatapan bingung, namun Hangeng memakluminya karena mungkin Baekhyun masih memendam emosi akibat kejadian kemarin.

"Dia ayah kita Baek." Bisik Chanyeol sedikit ragu.

"Ayah ?" ulang Baekhyun menatap Chanyeol untuk memastikan.

"Ya, kau harus menyapanya dengan baik. Jangan bilang jika kau dari rumah sakit, apa kau mengerti ?" ucap Chanyeol, Baekhyun menatap Hangeng ragu, ia masih merasa aneh dan bingung. Apa ia harus mempercayai Chanyeol ?

"Ada apa dengan kalian ?"tanya Hangeng semakin curiga melihat kedua anaknya saling berbisik.

Chanyeol menyenggol lengan Baekhyun, agar Baekhyun segera bertindak.

"Ayah !" panggil Baekhyun seriang mungkin lalu memeluk Hangeng, tentu saja membuat Hangeng sangat terkejut.

"Mengapa tiba tiba seperti ini hmm ?" tanya Hangeng masih merasa aneh dari sikap Baekhyun.

"Hanya merindukanmu ayah." Jawab Baekhyun masih memeluk Hangeng.

Hangeng masih terheran dengan sikap Baekhyun lalu menatap Chanyeol meminta penjelasan, Chanyeol hanya mengedikkan bahunya acuh.

"Kau sudah baikan Baekhyun ? kenapa kemarin tidak masuk kelas ? kau pergi kemana?" tanya Hangeng menangkup kedua pipi Baekhyun, Baekhyun melirik Chanyeol sebentar, ia bingung harus menjawab apa.

"A..aku pergi bersama Chanyeol hyung." Jawab Baekhyun pada akhirnya.

"Sebaiknya Baekhyun harus pergi ke kamarnya, cepatlah !" perintah Chanyeol

"Kamar ?" tanya Baekhyun, Chanyeol mengisyaratkan kamar paling pojok, beruntung kamar Baekhyun berada di lantai satu.

"Masuklah !" printah Chanyeol lagi menunjuk kamar itu.

Meskipun Baekhyun bingung, ia dengan cepat menangkap kode dari kakaknya, Baekhyun pun segera masuk ke ruangan itu.

"Kalian bisa akrab ? secepat itu ?" tanya Hangeng masih tidak percaya, Chanyeol mengangguk.

"Dia bahkan mau memanggilmu hyung ? astaga, ada apa dengan Baekhyun ?"

"Bukankah anda harus senang dengan keadaan ini ?" sahut Chanyeol tak mengalihkan pandangannya dari pintu kamar Baekhyun yang tertutup.

"Aku hanya terlalu terkejut Chanyeol, bagaimana caramu meyakinkannya ?" tanya Hangeng masih tak percaya.

"Itu urusanku." Jawab Chanyeol acuh, lalu beranjak untuk menaiki tangga kamarnya.

"Tadi pagi Nana datang mencarimu, mungkin nanti sore ia akan kembali." Ucap Hangeng membuat Chanyeol berhenti.

"Nana ?"

"Ya, dia bilang akan datang lagi nanti sore." Jawab Hangeng lalu keluar.

Chanyeol diam di tengah tangga, ia memikirkan bagaimana jika Baekhyun nanti melihat Nana.

"Apa tidak masalah ? Baekhyun sedang lupa ingatan." Gumam Chanyeol.

.

.

"Luhan berhenti menangis, seharusnya saat kau menerimanya kau harus memikirkan sikapnya juga. Kau tahu jika hubungan kalian awalnya memang tidaklah baik, dan harusnya kau juga sadar bahwa Sehun tinggal di Amerika dengan jangka waktu yang lumayan lama, Sehun benar seharusnya kau tidak perlu terkejut dengan sikapnya yang seperti itu." Ucap Kyungsoo menenangkan Luhan. Mereka sedang berada di pinggir danau dekat lapangan golf.

"Tetap saja Kyungsoo, harusnya ia juga sadar kekasihnya itu orang mana dan lingkungan kita berbeda, ia benar benar tidak menghargaiku Kyungsoo. Dia bilang, dia akan menerimaku apa adanya tapi apa yang ia lakukan padaku ? dia bahkan tidak mau mendengarkanku, dari pada menenangkanku dia malah memberikanku tatapan tajamnya." Adu Luhan, mengusap air matanya.

"Jadi kau menyesal menerimanya ?" tanya Kai, yang dari tadi mendengarkan percakapan Luhan dan Kyungsoo.

Luhan tidak menjawab, ia hanya terisak.

"Kalau begitu, putuskan saja dia. Lagi pula apa yang kau harapkan dari laki laki arogan dan tak memiliki perasaan sepertinya, kau harusnya ingat jika dia pernah memukulmu dan menghinamu, dia bisa saja mengulanginya." Lanjut Kai.

Luhan terisak semakin keras, membuat Kyungsoo menatap Kai kesal.

"Jangan dengarkan Kai Lu, jika kau benar benar mencintainya kau harus belajar menerima sikapnya, aku yakin Sehun akan luluh dengan sendirinya. Aku tahu Sehun juga mencintaimu, kalian hanya sedang beradaptasi dengan perasaan kalian berdua." Ucap Kyungsoo berusaha menenangkan Luhan.

Sungguh menghadapi Luhan dengan sikap aslinya sangatlah sulit dari pada sikap Luhan yang dulu. Ya, Luhan menunjukkan sikap aslinya pada semuanya sekarang, tidak ada lagi Luhan yang sok kuat dan berani berbicara kasar, kini Luhan adalah Luhan yang suka mengeluh, sangat sensitif dengan sikap menggemaskan.

Luhan mengusap air matanya lalu mengucapkan terima kasih pada Kyungsoo, ia segera berdiri meninggalkan Kyungsoo dan Kai disana.

"Hah... akhirnya tidak ada pengganggu lagi."gumam Kai, membuat Kyungsoo mengernyit.

"Kau menganggap temanku pengganggu ? bahkan ia membelamu hingga bertengkar dengan Sehun." Ucap Kyungsoo tidak suka.

"Kyungsoo, kau belum menyambutku dengan baik. Apa kau tidak suka jika aku kembali ?" tanya Kai dengan raut wajah yang di buat sesedih mungkin.

Kyungsoo terkekeh lalu memeluk Kai dari samping, menyandarkan dagunya pada pundak Kai.

"Aku sangat merindukanmu Kai, dan aku sangat senang kau sudah kembali. Kembali padaku..." Lirih Kyungsoo di ujung kalimatnya, ia merasa malu mengatakan itu.

Kai tersenyum lalu ia menangkup pipi tembam Kyungsoo.

"Kau sudah berjanji akan menerimaku saat aku sudah kembali, dan aku harus memastikannya sekarang." Ucap Kai membuat Kyungsoo memerah.

"Memastikan bagaimana ?" tanya Kyungsoo pelan

"Memastikan bahwa sekarang kau milikku." Jawab Kai

"Ya, aku milikmu. Aku harap kau akan menerimaku dengan baik, dan tidak akan meninggalkanku." Ucap Kyungsoo membuat Kai melebarkan senyumannya.

"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, akan ku pastikan kau tidak akan bernasip sama dengan kedua temanmu."

"Sepertinya kau bahagia sekali melihat kedua temanku menderita." Sindir Kyungsoo.

"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya meyakinkanmu bahwa aku akan memperjuangakanmu."

"Lalu bagaimana dengan ibumu ? kudengar ibumu benci gay."

"Sekarang jangan memikirkan itu dulu, aku yang akan mengurusnya nanti. Kau tenang saja ok ? kau harus percaya padaku."

Kyungsoo mengangguk, mempercayakan semuanya pada Kai.

.

.

Sehun masuk dalam kamarnya dan mendapati Luhan yang sedang duduk di meja belajarnya sambil membaca komik favoritnya, Sehun berjalan mendekati Luhan.

"Sedang membaca apa ?" tanya Sehun berbasa basi.

"Kau bisa lihat judulnya." Jawab Luhan ketus, oh sepertinya rusamu masih marah Sehun.

Sehunpun menggantungkan jaketnya lalu masuk dalam kamar mandi.

Luhan mendecih, ia pikir Sehun akan menanyakan mengapa ia berbicara ketus seperti itu, namun Luhan harus kembali ingat bahwa Sehun tetaplah Sehun, membuat Luhan semakin kesal saja.

Saat Sehun keluar dari kamar mandi, Luhan segera menutup komiknya dan menatap Sehun datar.

"Aku lapar !"

"Kalau begitu makan saja, aku sudah makan di rumah ibuku tadi." Ucap Sehun sambil mengusak rambut basahnya dengan handuk, Luhan mendengus tak percaya lalu segera berdiri.

"Baiklah aku akan makan sendiri." Tekan Luhan di akhir kalimatnya.

Sehun terkekeh lalu menarik tangan Luhan yang akan membuka knop pintu, ia peluk tubuh mungil itu yang terus meronta.

"Ya ! lepaskan aku, aku lapar dan aku akan makan sendiri !" kesal Luhan.

"Maafkan aku.." ucap Sehun membuat rontaan Luhan melemah.

"Aku tahu aku sangat kasar, dan aku menyesal telah memperlakukanmu dengan sangat buruk semalam, apa kekasihku yang manis memaafkanku sekarang ?" lanjut Sehun

Luhan melepaskan pelukannya pada Sehun dan menatapnya kesal, Luhan memukul bahu Sehun.

"Kau jahat sekali, bahkan padaku ! aku sangat kesal padamu ! bagaimana bisa kau mengabaikanku dan membiarkanku tidur sendirian semalam ? dan sekarang kau menyuruhku untuk makan sendirian ?" geram Luhan.

"Maaf, aku hanya bercanda. Ayo kita makan bersama, aku harus memastikan jika kekasihku makan dengan baik." Ucap Sehun lalu menghujani bibir Luhan dengan kecupan kecupan ringan.

Wajah Luhan memerah lalu segera memeluk Sehun.

"Aku mencintaimu, aku harap kau tidak akan mengecawakanku Oh Sehunku yang sangat tampan. Aku sangat sedih melihatmu seperti semalam." Gumam Luhan.

"Maafkan aku sayang, aku akan berusaha menjaga sikapku di depanmu, ayo kita makan sekarang !" Sehun mengecup pucuk kepala Luhan sebelum membawa kekasihnya keluar.

.

.

Baekhyun terus menatap perempuan yang kini duduk di depannya, lebih tepatnya di depan Chanyeol. Entah mengapa Baekhyun merasa tidak senang melihat wanita itu, apa karena wanita itu kini sedang tertawa bersama kakaknya ?

" Baekhyun, mengapa kau tidak memakan makananmu ? apa kau menginginkan menu lain ?" tanya Chanyeol, Baekhyun segera mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang berada di sampingnya.

"Tidak, aku menyukainya."jawab Baekhyun, Chanyeol pun mengangguk.

"Hyung..." panggil Baekhyun pelan

"Ada apa ? kau ingin pesan lagi ?"

"Dia siapa hyung ?" tanya Baekhyun masih menatap wanita yang duduk di depan kakaknya.

Chanyeol diam sejenak, apa ia harus menjawab dengan jujur ? lagi pula Baekhyun sedang lupa ingatan bukan ?

"Dia tunangan Hyung Baek, perkenalkan namanya Nana." Jawab Chanyeol, membuat Baekhyun mengernyit tak suka.

"Tunangan ? hyung sudah bertunangan ?" tanya Baekhyun.

"Ya, mengapa kau terkejut ? kau sudah mengetahuinya sebelum kau kehilangan ingatanmu, akhir bulan nanti kami bertunangan dan kau menyetujui ajakan ayah untuk menghadirinya." Ucap Chanyeol, sedikit berbohong juga tidak masalah kan ?

"Benarkah ? tapi mengapa sekarang aku merasa aneh hyung ? ada apa denganku ?" Chanyeol tercekat, apa Baekhyun sesakit itu bahkan perasaan bencinya masih terbawa sekalipun ia sedang lupa ingatan ? Nana menunduk menyesal, ia sudah tau jika Baekhyun sedang lupa ingatan, Chanyeol memberitahunya lewat pesan tadi.

"Apa mungkin efek hilangnya ingatanmu ?" Jawab Chanyeol, berusaha setenang mungkin, Baekhyun mengedikkan bahunya pertanda ia tidak tahu.

Baekhyun mengernyitkan dahinya saat merasakan pusing di kepalanya, ia mengalihkan rasa pusingnya dengan melahap makanannya dengan perlahan.

Tiba tiba Baekhyun mengingat sesuatu, tapi ia tidak mengerti apa maksud ingatan itu. Ia hanya ingat ketika Chanyeol bersama wanita itu lalu ia yang menangis di pelukan seorang laki laki –ia tidak ingat siapa laki laki itu- sungguh Baekhyun tidak tahu ingatan macam apa itu, apa itu ingatan yang baik atau buruk untuknya. Tapi tiba tiba Baekhyun merasa takut jika ingatan itu ternyata ingatan buruk.

Baekhyun meletakkan sendoknya lalu dengan cepat memeluk lengan Chanyeol yang berada di sampingnya, tentu itu membuat Chanyeol terkejut.

"Hey, Baekhyun ada apa ? apa yang terjadi ?" tanya Chanyeol cemas saat merasa punggung adiknya bergetar, bahkan ia dapat merasakan lengannya basah.

Chanyeol membawa tubuh Baekhyun berdiri lalu memeluknya, mengusap punggungnya agar adiknya tenang, membuat teman temannya yang sedang berada di rumah makan dekat lapangan golf itu menatap mereka berdua heran, termasuk Nana.

Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada dada Chanyeol dan memeluk kakaknya erat, membuat Chanyeol semakin cemas.

"Baekhyun katakan pada hyung, apa yang terjadi ? mengapa kau tiba tiba menangis hm ? apa kau pusing ? apa kau memerlukan sesuatu yang lain, tolong katakan pada hyung!"tanya Chanyeol semakin cemas saat isakan Baekhyun mulai terdengar, mungkin yang lain juga bisa mendengarnya sekarang.

"A..Aku..tta..takut Hyung..." lirih Baekhyun masih memeluk kakaknya erat.

Ya, Baekhyun tiba tiba merasa dadanya sakit setelah mengingat ingatan kecil itu, ia merasakan ketakutan yang luar biasa mengenai kakaknya, ia memiliki perasaan yang takut akan ditinggalkan kakaknya setelah ini. Ia takut saat ia sudah bisa mengingat semuanya maka semuanya berubah, ia takut kakaknya akan menjauhinya.

"Apa yang membuatmu takut sayang ? hyung ada disini." Ucap Chanyeol masih mengusap punggung Baekhyun.

"Aku ingin bersama hyung saat ini, hyung..." isak Baekhyun, ia menghentak hentakkan kakinya dengan kesal.

Chanyeol menatap Nana menyesal, Nana yang taupun hanya mengangguk dan bergumam memberi semangat pada Chanyeol lalu berpamitan pergi.

"Baiklah, adik manis hyung akan bersama dengan hyung saat ini. Jadi apakah Baekhyunie yang manis mau berhenti menangis sekarang ?" ucap Chanyeol dengan selembut mungkin, Baekhyun berhenti menghentakkan kakinya.

Chanyeol melepaskan pelukannya saat merasa pelukan Baekhyun melemah, ia menangkup kedua pipi chubby Baekhyun lalu mengusap air matanya, ia memberikan kecupan ringan pada dahi dan kedua pipi Baekhyun.

"Jangan menangis lagi hm, hyung tidak suka melihat adik manis hyung menangis seperti tadi. Apa yang membuat Baekhyun menangis seperti tadi hm ?" baekhyun menggeleng pelan.

"Jangan tinggalkan aku hyung, hyung harus janji."

Chanyeol terdiam, apakah Baekhyun barusaja mengingat ingatannya ?

"Hyung janji, apa Baekhyun mengingat sesuatu ?" tanya Chanyeol berusaha tenang, Baekhyun mengangguk.

"Aku melihat hyung bersama wanita tadi, lalu tiba tiba aku mengingat saat aku menangis di pelukan orang lain, aku tidak ingat siapa laki laki yang ku peluk. Aku tidak tau itu ingatan baik atau buruk. Sebenarnya bagaimana hubungan kita hyung ? mengapa aku merasa aneh saat menatap hyung dan wanita itu ? aku juga merasa aneh saat menatap ayah kita."jelas Baekhyun.

"Hubungan kita normal, layaknya kakak adik pada umumnya. Kau harus meminum obatmu, berhenti memikirkan hal yang berat, apa adik hyung mengerti ?" maafkan aku Baekhyun- lanjut Chanyeol dalam hati.

Setelah Baekhyun mengangguk, Chanyeol membawa Baekhyun keluar dari rumah makan menuju asrama.

Setelah kepergian Chanyeol dan Baekhyun, rumah makan itu menjadi sedikit ramai akibat semua murid yang sedang makan di sana membicarakan Chanyeol dan Baekhyun seperti,

"Adik ? apakah Baekhyun dan Chanyeol ternyata saudara hingga mereka memutuskan hubungan mereka ?"

"Bisa juga, marga Baekhyun berbeda dengan marga kepala sekolah,sebenarnya Chanyeol juga, tapi siapa tahu ?"

"Apa kepala sekolah menikah 2 kali dan anak dari istri pertama itu Chanyeol, dan Baekhyun dari istri kedua ?"

"Aku tidak tahu jika kepala sekolah orang yang seperti itu."

"Aku kasihan sekali dengan Baekhyun, Chanyeol memanfaatkan keadaan Baekhyun yang lupa ingatan, bahkan Chanyeol membawa kekasih barunya di depan Baekhyun."

"Aku yakin Baekhyun menangis karena ia sedikit mengingat ingatan buruknya saat melihat wanita itu"

"Aku harap Chanyeol segera mengakhiri ini, aku tida tega makhluk setulus dan semanis Baekhyun di perlakukan seperti itu."

Kira kira seperti itulah percaan mereka mengenai Chanyeol dan Baekhyun.

.

.

Dua hari berlalu, setiap malam Sehun menghadiri acara motornya, ngomong ngomong Sehun sudah memiliki motor baru, itu lah yang membuat Sehun sangat bersemangat menghadiri acara motornya bahkan ia harus meninggalkan Luhan setelah Luhan tidur.

Sedangkan Chanyeol, pemuda itu tidak pernah menghadiri acara motornya dan membiarkan Sehun berangkat sendirian, ia sibuk mengurus Baekhyun yang tidak mau jauh darinya.

Kini Chanyeol sedang duduk di halaman sekolahnya yang begitu luas bersama Nana, mereka membicarakan sesuatu yang menurut mereka sangat serius.

"Aku merasa bahwa diriku sangat jahat yeol." Gumam wanita itu

"Kumohon Nana, ini jalan terbaik. Kita saling mencintai" sahut Chanyeol frustasi, pemuda itu mengacak rambutnya kasar hingga berantakan, sedangkan Nana hanya menatap iba.

"Tidak, kau tidak mencintaiku. Kau mencintai adik tirimu, begitu juga denganku, aku tidak mencintaimu. Berhenti membohongi diri sendiri, kau tidak hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi kau juga menyakiti Baekhyun. Begitu juga denganku, aku tidak mau menikah dengan orang yang hanya menikahiku karena terpaksa." Jelas Nana

"Nana..." Chanyeol menatap wanita cantik itu dengan wajah memohon.

"Chanyeol ah... jika kau benar benar mencintainya kau tidak perlu melakukan hal seperti ini, kau harus memperjuangkannya."

"Lalu harus kuperjuangkan seperti apa lagi ? orang tua kita sudah menikah, aku tidak punya pilihan selain seperti ini."

"Kita hentikan semua ini yeol, kita bukan sepasang kekasih yang sesungguhnya, kita hanya berakting di depan Baekhyun. Aku mohon sebelum terlambat."

"Tidak Nana, aku akan melamarmu saat orang tuamu datang akhir bulan nanti, aku janji akan mencintaimu dengan tulus, bukankah cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, kau juga harus belajar mencintaiku !" Nana menghela nafas.

"Terserahmu saja tuan keras kepala, aku hanya mengikuti permainanmu saja, lagi pula mendapat suami sepertimu tidak buruk juga." Ucap Nana lalu terkekeh, Chanyeol pun tersenyum.

"Jadi kalian hanya berpura pura ?"

"Oh..Astaga !" pekik Nana, Chanyeo sebenarnya juga terkejut tapi ia sembunyikan dengan tampang datarnya.

"Sejak kapan kau mendengarkan pembicaraan kami ?" tanya Chanyeol ketus.

"Mungkin dari awal ? Aku tidak tahu jika kau memilih cara yang murahan Chanyeol." Cibir Kai lalu duduk di samping Chanyeol.

"Bukan urusanmu"

"Jadi kau berpura pura selama ini dan membohongi Baekhyun ?"

"Tidak sepenuhnya, karena akhir bulan nanti aku akan benar benar melamarnya." Ucap Chanyeol, Kai dapat melihat keraguan dari tatapan mata Chanyeol, dan Kai hanya menggeleng samar.

"Dia temanmu?" bisik Nana, Chanyeol mengangguk.

"Kenalkan aku padanya, sepertinya aku tertarik pada temanmu hehe.." bisik Nana lagi membuat Chanyeol menatapnya terkejut.

"Benarkah ?" tanya Chanyeol membuat Kai bingung, sedangkan Nana mengangguk antusias.

"Kumohon Chanyeol, aku akan membantumu jika kau mau." Ucap Nana

"Astaga..."Chanyeol memijat pelipisnya dan menghela nafas berat.

"Ada apa ?" tanya Kai yang masih bingung.

"Tidak ada." Jawab Chanyeol singkat membuat Nana berdecak kesal.

"Aku pergi, besok aku akan kesini lagi!" ucapnya ketus, wanita itu segera berdiri.

"Namaku Nana, icon model utama majalah remaja." Lanjut Nana mengulurkan tangannya pada Kai, memang sudah dasarnya Kai seorang play boy jadi ia menyambut uluran tangan Nana dan memberikan senyum manis sebagai bonusnya.

"Aku Kai, dancer dan pemain MMA di sekolah ini." Balas Kai masih dengan senyumnya.

"Aku akan kembali besok, sampai jumpa Kai."

Setelah kepergian Nana, Chanyeol memberikan tatapan malasnya pada Kai.

"Sepertinya Kyungsoo harus tau." Gumam Chnayeol membuat Kai melebarkan matanya.

"Ya ! apa apaan kau? Aku hanya bercanda dan berusaha menunjukkan kesan yang baik pada orang yang baru kutemui." Sahut Kai tidak terima.

.

.

Baekhyun menatap datar pada dua orang yang duduk di halaman sekolah, itu Chanyeol dan Nana, Baekhyun bisa melihatnya karena saat ini ia sedang berada di atap sekolah bersama Luhan, karena Kyungsoo masih bekerja.

Sedikit demi sedikit ingatannya mulai kembali saat melihat hyung dan kekasihnya itu, dan ia merasa aneh ketika menatap mereka berdua.

Baekhyun mengingat ketika ia bertengkar di ruangan ayahnya mengenai pertunangan Chanyeol, Baekhyun mengernyit ingatan macam apa itu ?

Hyungnya bilang jika ia menyetujui ajakan ayahnya untuk menghadiri acara pertunangan kakaknya, tapi apa arti dalam ingatannya ? ia justru menangis meraung karena ayahnya membahas tentang itu.

Baekhyun memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing saat ia berusaha mengingat tentang ingatannya, sebenarnya hubungan macam apa yang ia jalani bersama kakaknya ? mengapa di ingatannya ia sangat membenci sentuhan kakaknya sedangkan sekarang ia sangat bermanja pada kakaknya dan kakaknya bilang jika hubungan mereka baik baik saja?

Luhan yang baru saja bertukar pesan dengan Sehun menatap Baekhyun bingung, ia menepuk pundak Baekhyun.

"Baekhyun, ada apa ?" tanya Luhan sedikit khawatir

Baekhyun menatap Luhan dengan tatapan bingungnya, ia menatap mata Luhan lama, meyakinkan dirinya sendiri jika Luhan bukanlah pembohong.

"Baekhyun.." panggil Luhan pelan saat Baekhyun hanya menatapnya dengan tatapan penuh sedilik.

"Luhan..." panggil Baekhyun

"Ada apa Baek ?"

"Luhan, kau pasti tahu bagaimana kehidupanku sebelum aku melupakan ingatanku kan ? aku mohon ceritakan yang sebenarnya padaku.."

"Ma..maksudmu yang seperti apa Baek ?" tanya Luhan gugup, ia tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti apa yang di maksud Baekhyun, ia hanya bingung apa yang harus ia jelaskan pada Baekhyun, ia takut Baekhyun kembali terguncang karena ingatannya.

"Hubunganku dengan keluargaku, aku mengingat saat aku menangis di ruangan ayahku, dan dapat ku pastikan itu bukanlah keadaan yang baik. Aku mohon Luhan, aku yakin kau orang yang baik." Mohon Baekhyun, Luhan hanya menatap Baekhyun nanar. Sungguh ia bingung harus berbuat seperti apa, apakah ia harus mengatakan yang sesungguhnya pada Baekhyun.

"Akhhh..." pekik Baekhyun saat kepalanya terasa sakit, ia jatuh terduduk di bawah Luhan sambil memegangi kepalanya.

Luhan sangat panik, ia berjongkok di depan Baekhyun.

"Baekhyun, ada apa denganmu ? Baekhyun !" panggil Luhan panik.

Baekhyun berusaha meraih bahu Luhan, dan Luhan dengan cepat mendekatkan dirinya pada Baekhyun.

Baekhyun mencengkram kedua bahu Luhan dan menyandarkan kepalanya di antara ceruk leher Luhan, Luhan mengernyit menahan rasa sakit pada bagian bahunya tapi ia tidak berusaha menyingkirkan tangan Baekhyun, ia membiarkan Baekhyun melakukan itu.

"Baekhyun..." suara Luhan terdengar bergetar karena panik dan takut, di atap tidak ada orang lain selain mereka, jadi Luhan tidak bisa meminta bantuan pada siapapun. Ia hanya mengusap punggung dan kepala Baekhyun agar Baekhyun segera tenang.

"Aarghh..." teriak Baekhyun putus asa, ingatannya terus memaksa berputar di otaknya, membuat Baekhyun mengerang kesakitan.

"Baekhyun, berhentilah ! jangan memaksakan dirimu untuk mengingatnya, suatu hari ingatanmu akan pulih, kumohon jangan lakukan ini Baekhyun." Luhan benar benar panik saat dirasa tubuh Baekhyun bergetar, sepertinya anak itu sedang menangis, entah karena rasa sakit di kepalanya atau karena ingatannya.

"Baekhyun berhentilah ! aku janji akan mengatakkan padamu." Ucap Luhan lagi.

Tubuh Baekhyun melemah, tangannya terkulai disisi tubuh Luhan, tapi ia membiarkan kepalanya bersandar pada ceruk leher Luhan, ia menangis hebat, membiarkan Luhan mengusap punggung dan kepalanya, mendekapnya dengan erat, karena Baekhyun membutuhkan ini.

"Apa yang kau ingat ? jangan memaksakan diri Baek" gumam Luhan masih mendekap tubuh bergetar Baekhyun, mengabaikan lehernya basah karena air mata Baekhyun.

"Semuanya Luhan ! Aku mengingat semuanya...hiks... aku tidak yakin dengan semua ingatanku...hiks... Chanyeol hyung tidak mungkin seperti itu...hiks...Luhan, katakan padaku jika Chanyeol hyung bukanlah kekasihku...hiks...katakan Luhan !" Luhan terpaku mendengar ucapan Baekhyun, ia kembali bingung harus mengatakan apa, ini terlalu cepat untuk Baekhyun mengingat semuanya.

"Dia hyungmu Baek. Ya, dia bukan kekasihmu" ucap Luhan pada akhirnya, Luhan tidak sepenuhnya berbohong, bukankah mereka berdua memang sudah putus ?

"Hiks...aku bingung harus percaya pada siapa sekarang, aku sangat bingung Luhan...hiks... ingatanku sangat berbeda dengan apa yang kalian katakan padaku...hiks..." isak Baekhyun.

Aku ingat dimana saat aku sedang bahagia bersama Chanyeol, kami saling mencium satu sama lain. Apakah itu wajar untuk dilakukan bagi saudara ? aku ingat dimana saat aku menangis di bahu laki laki lain, dia Daehyun aku mengingat namanya sekarang , aku ingat saat aku menceritakan keluh kesahku padanya, tentang hubunganku dengan Chanyeol yang renggang. Aku ingat saat pertama kali aku melihat wanita itu bersama Chanyeol dan Chanyeol mengatakan jika itu kekasih barunya, aku juga ingat saat aku bertengkar di ruangan ayahku mengenai pertunangannya, dan aku juga mengingat, dimana kami bertengkar di ruang berenang lantai atas hingga aku menenggelamkan diriku disana. Aku mengingat semuanya, tapi aku menolaknya, aku menolak mengingat semuanya karena... karena aku takut kehilangan kasih sayang Chanyeol.- Baekhyun

Setelah Baekhyun sedikit tenang, Luhan membawa Baekhyun turun ke kamarnya. Luhan mengajak Baekhyun tidur di kamarnya karena Sehun tidak akan pulang lagi malam ini, dan juga Kai yang memaksa ingin tidur bersama Kyungsoo.

.

.

Kyungsoo yang baru saja pulang dari kerjanya segera mandi dan mengganti pakaiannya, sedangkan Kai sedang asik dengan game dalam ponselnya.

Cklek

"Mau kemana lagi ?" tanya Kai saat melihat Kyungsoo membuka pintu kamarnya.

"Aku ingin melihat Baekhyun dan Luhan." Jawabnya.

"Mereka sudah tidur, lihatlah ini sudah tengah malam."

"Aku hanya ingin memastikan jika kedua sahabatku tidur dengan baik."

Kyungsoo segera keluar, Kai hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pria pujaannya.

Cklek

Kyungsoo membuka pintu kamar Luhan, ia melihat Luhan dan Chanyeol berbincang sedangkan Baekhyun sudah terlelap sambil memeluk pinggang Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Chanyeol yang duduk di sampingnya.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan disini ?" tanya Kyungsoo berjalan ke arah ranjang yang di tempati Baekhyun.

"Baekhyun memintaku untuk menemaninya hingga tertidur." Jawab Chanyeol, Kyungsoo mengangguk.

"Kenapa kau belum tidur Lu ?" tanya Kyungsoo lagi.

"Aku menunggu hingga Chanyeol keluar." Jawab Luhan.

Chanyeol melepaskan pelukan Baekhyun dengan perlahan, dan merapikan selimut Baekhyun lalu ia segera berdiri.

"Kalau begitu aku akan keluar, ini sudah larut malam." Ucap Chanyeol.

"Chanyeol.." panggil Luhan membuat Chanyeol menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Aku mohon, perlakukan Baekhyun dengan baik. Ia sangat bergantung padamu, kumohon jadilah hyung yang baik untuk Baekhyun. Jangan kecewakan Baekhyun, dan jangan menyakiti Baekhyun lagi. Aku mohon padamu." Ucap Luhan membuat Chanyeol terdiam sebentar, sebelum mengangguk lalu keluar.

"Ada apa Lu ?" tanya Kyungsoo merasa ada yang aneh.

"Baekhyun, dia sudah mengingat semuanya. Aku tidak memberi tahu Chanyeol karena kupikir jika aku memberitahu Chanyeol, Chanyeol akan merasa canggung lagi dengan Baekhyun. Dan sepertinya Baekhyun sendiri tengah menolak kenyataan yang sudah ia ingat semuanya, jadi biarkan mereka seperti ini, semua keputusan ada di tangan Baekhyun, aku tidak berhak memaksanya untuk melepaskan Chanyeol." Jelas Luhan

Kyungsoo menatap Baekhyun sendu, jujur saja jika dia yang berada di posisi seperti Baekhyun, itu pasti sangat sulit.

"Kalau begitu aku kembali ke kamarku Lu, cepatlah tidur." Ucap Kyungsoo lalu segera keluar.

"Bagaimana ? apa temanmu sudah tidur dengan baik ?" tanya Kai saat Kyungsoo memasuki kamarnya.

"Ya, mereka tidur dengan baik" jawab Kyungsoo.

Kai mengisyaratkan agar Kyungsoo segera berbaring di sampingnya, dan Kyungsoo menurut, Kai segera mendekap hangat tubuh mungil itu.

"Selamat malam sayang" gumam Kai.

Kyungsoo tersenyum tipis dan memeluk Kai lebih erat, sebenarnya Kyungsoo masih memikirkan Baekhyun besok pagi, apa yang akan di lakukan besok ? seperti apa Baekhyun bersikap di depan Chanyeol ? apa Baekhyun kembali terluka ? atau Baekhyun mulai menikmati keadaannya yang menganggap Chanyeol sebagai kakaknya ?

.

.

[03.45]

Hari masih sangat gelap, tapi keadaan masih sangatlah ramai.

Sehun membuka helm Shoei barunya, helm produksi Jepang yang merupakan helm termahal di dunia setelah Arai dan Nolan. Ia turun dari motornya yang juga masih sangat baru, semua menatap Sehun dengan tatapan kagum dan memuja, terlebih wanita bayaran disana yang berharap di pilih Sehun.

Bagaimana tidak ? Sehun mengendarai motor BMW S1000RR, salah satu motor tercepat di dunia, kecepatannya mencapai 329km/jam. Tak heran jika Sehun mencapai garis finish lebih cepat 20 menit dari yang lain.

"Kau menang 3 kali berturut turut, kau berhak memilih wanita yang berdiri disana, tenang saja semua wanita disana gratis, uangmu tidak akan berkurang karena aku sudah membayar semua wanita itu. Uangmu akan segera kami transfer." Ucap Siwon menepuk bahu Sehun dengan bangga, Sehun hanya menyeringai sambil menatap beberapa wanita yang menatapnya dengan tatapan memuja.

Tidak bisa di pungkiri jika hormon Sehun mulai naik ke permukaan saat melihat beberapa wanita disana yang hanya mengenakan bikini dengan warna yang kontras dengan tubuh mereka masing masing, jangan lupa juga jika Sehun sudah pernah melakukannya di Amerika.

Sehun menghampiri wanita berambut panjang dengan bikini berwarna hitam, wanita itu memiliki dada yang paling baik di antara semuanya, Sehun sungguh pintar dalam memilih, dan juga wajah wanita itu lumayan juga.

"Kau tidak kedinginan memakai bikini di malam hari seperti ini ?" tanya Sehun sambil memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah, membuat yang lain memekik tertahan.

"Aku sangat kedinginan tuan, dan aku butuh kehangatan jika tuan tidak keberatan." Jawab wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun.

Cpkhh...

Hilang akal sehat Sehun, ia menghianati janjinya bersama Luhan bahwa ia tidak akan tergoda dengan wanita yang ada disana, namun nyatanya Sehun kini tak menolak saat wanita itu melumat bibirnya, bahkan tangan Sehun mulai meraba dada wanita bayaran itu untuk merespon kegiatannya.

TBC.

Maaf banget updatenya lama, kayaknya chapter ini gak ada feelnya, sebenenya gua gak PD mau post, tapi mau gimana lagi ?

Thanks a lot buat kalian semua yang masih ngefav, ngefollow & yang ngereview juga.

See you next Chap, I love you all :*

Mind to review ?