Makasih banyak buat yang udah baca, fav & follow, dan review fanfic ini \(^o^)/
Saya juga minta maaf karena di chapter sebelumnya gk sempet bales review
Balasan Review :
# Febri : Reaksi Izuna? Hohoho... kalau itu tunggu chapter selanjutnya. Thanks udah review ^^
# Teddy – chan : Iya, Teddy – chan. Aku memang payah untuk nulis word panjang. Hiks. Izuna sedih karena dia nggak sengaja udah bikin Madara sedih. Maaf kalau masih kurang jelas penjelasannya. Lain kali saya akan lebih berusaha (」゜ロ゜)」
# Unknow Name : Iyatah? Thanks! Maaf kalau saya jarang update. Saya masih pelajar jadi banyak tugas menumpuk yang harus saya kerjakan. Tapi saya juga akan berusaha biar bisa update teratur. Terima kasih telah review!
#Gustin : Maaf. Wordnya kedikitan ^^; Ok. Chapter ini wordnya udh lebih banyak dibandingkan kemaren. Thanks udah Review!
# You : Aduh.. maaf kayaknya agk susah utk update kilat T_T . Tapi saya akan berusaha (=^_^=)
.
.
.
.
.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan, Nii – san?" ucap si Uchiha.
Nii – san?!
"Aku tak menyangka ternyata kamu berada disini juga, Izuna. Dasar bodoh! Jika itu kamu yang mengatakannya, aku pasti akan percaya" ucap Madara tersenyum lembut sembari mendekat ke arahnya.
Ma, Madara tersenyum? Apa maksud semua ini?
"Uchiha Madara, kini kamu telah terlahir kembali" ucap Uchiha itu.
.
.
.
Chapter 3 : Shinjitsu (Kebenaran)!
The Nyokers
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story By : Uchyawa Feyya
Rate : T
Genre : Family, Adventure, Romance, Fantasy.
Main Chara : Uchiha Madara, Senju Hashirama, Uchiha Izuna, Senju Tobirama.
Warning : Shounen - ai, Typo's, Tidak sesuai dengan EYD, OC, OOC, Dll.
.
.
Summary : Adikku, Uchiha Izuna adalah orang yang sangat aneh. Dia selalu berbicara tak jelas, selalu berkeliaran keluar hanya untuk membawa barang – barang aneh ke rumah. Sepertinya ia mengidap penyakit Chuunibyou, aku tak terlalu memusingkannya karena menurutku ia menjadi aneh karena kekurangan perhatian dari orang – orang sekitar. Aku menyesal. Seharusnya dari dulu aku harus membawanya ke psikolog karena sepertinya kegilaannya telah menular kepadaku.
Don't like, Don't read!
Happy Reading!
.
.
-Hashirama's POV-
Uh.. Kepalaku sakit. Mengapa aku sudah ada di ruanganku? Hal terakhir yang kuingat adalah ketika uchiha itu membawa Madara. Tiba – tiba rasa sakit di kepalaku semakin menjadi – jadi. Apakah itu semua hanyalah mimpi? Tapi itu tidak mungkin! Aku merasa semua itu sangatlah jelas. Daripada aku berpikir tak jelas, lebih baik aku menemuinya!
Sudah berhari – hari aku berkeliling desa untuk mencari tahu keberadaan Madara, tapi hasilnya tetap saja nihil. Aku sudah bertanya kepada semua shinobi yang kutemui tapi jawaban mereka semua sama saja.
.
"Maaf Hashirama – Dono, saya tidak mengetahuinya"
"Saya meminta maaf Hokage – sama, saya belum pernah melihat seseorang seperti dia"
"Madara? Saya minta maaf, saya belum pernah mendengar namanya"
"Saya minta maaf Hashirama –sama, saya tidak mengenalnya"
.
Hah... ini aneh sekali! Padahal aku yakin beberapa orang yang kutemui tadi pernah bertemu Madara! Tapi kenapa mereka tidak mengingatnya? Bahkan para penjaga di kediamanku juga tidak mengetahui Madara. Padahal selama ini Madara tinggal di rumahku! Entah kenapa aku merasa seperti semua orang telah melupakannya.
Aku kelelahan, lebih baik aku bersantai sejenak di bawah rimbunan pohon. Udaranya sejuk! Syukurlah cuacanya indah! Rasanya sudah sejak lama aku tidak menikmati kehangatan ini. Ketika beristirahat, biasanya aku bersandar di pepohonan yang rimbun. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku bermalas – malasan seperti, tapi entah kenapa aku merasa seperti sudah sangat lama aku tidak menikmatinya. Mungkin sejak Madara datang, aku menjadi sibuk.
"Madara, dia hilang ingatan..., kan? Apa mungkin ia berbohong?" Tanyaku kepada diriku sendiri.
Sreeekk...
"Ternyata kamu ada disini, Ani – ja" kata Tobirama tiba – tiba datang dengan wajah kesal.
"I, iya. Ada apa?" ucapku berusaha tidak menyinggung perasaan Tobirama yang sedang Bad mood.
"Disaat pekerjaan menumpuk, kamu malah bermalas – malasan disini? Jangan bilang kamu kelelahan karena menemani dia?!" kata Tobirama dengan wajah sangat kesal.
"Dia? Ma, maksudmu Madara? Kamu ingat dia?" tanyaku terkejut sekaligus senang.
"Madara? Jadi namanya Madara? Nama yang cukup menyeramkan. Tentu saja aku mengingatnya. Kamu berpikir aku sudah pikun?" kata Tobirama tersinggung.
"Jadi kamu memang mengingatnya..." ucapku dengan suara pelan.
"Iya. Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Tobirama menyelidik.
"Ti, tidak. Bu, bukan apa – apa. Haha.. Oh,ya aku ada tugas, kan? Aku harus cepat – cepat menyelesaikannya. Aku pergi dulu ya!" ucapku canggung berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Pasti telah terjadi sesuatu, kan?!" kata Tobirama menahanku dengan wajah yang sangat... menyeramkan.
"I, iya. Sebenarnya ada hal aneh yang telah terjadi" ucapku berusaha menjelaskan.
"Aneh? Apa maksudnya? Jelaskan secara lengkap!" perintah Tobirama.
Aku menjelaskan semua hal yang terjadi kepada Tobirama.
"Apa kau yakin Nyokers yang kau temui itu adalah seorang uchiha?" tanya Tobirama memastikan.
"Ya. Kedua bola matanya berwarna merah darah dengan pola sharingan" ucapku.
Apakah Madara jugalah seorang uchiha? Aku memang sudah mengantisipasi jika ia adalah seorang Nyokers, tapi aku tidak menyangka bahwa ia seorang uchiha...
"Baiklah. Yang terpenting kita harus mencari informasi sebanyaknya tentang Nyokers. Aku juga menerima laporan bahwa Nyokers melakukan pergerakan. Ani – ja, jika kau bertemu mereka lagi... Janganlah ragu untuk membunuhnya!" kata Tobirama dengan wajah serius.
"Ia. Aku mengerti!"
"Aku akan mengumumkan para penduduk untuk selalu waspada. Ani – ja juga segeralah kembali ke desa. Kau adalah pimpinan desa. Para Nyokers pasti akan menyerangmu. Malam kemarin hanyalah keberuntunganlah yang membuatmu dapat kembali dengan selamat. Tapi kali ini, mereka tidak akan memberi kesempatan. Kau mengerti, Ani – ja?" kata Tobirama.
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawabanku. Tobirama pun langsung melesat pergi.
.
.
.
.
.
~Malam hari~
.
.
Hoam... aku ngantuk sekali! Sampai saat ini aku belum menerima laporan tentang pergerakan musuh. Lebih baik aku pergi ke sungai untuk mencuci muka dan menikmati udara segar!
Tek...Tek.. Pluk.
Suara? Darimana,kah asalnya?Padahal aku sama sekali tidak merasakan kehadiran makhluk hidup. Aku pun bergegas menuju ke asal suara. Aku terkejut bukan main! Aku melihat Madara sedang melempar batu. Tapi untuk apa ia melakukannya?
"Sial! Kali ini aku pasti akan sampai ke seberang sana!" kata Madara. Madara melempar batu itu ke seberang sungai dengan sekuat tenaga. Sayangnya batu itu tenggelam sebelum sampai ke seberang sana.
Aku pun mengambil sebuah batu dan melemparnya. Batu itu pun sampai ke seberang sungai.
"Arahkan sedikit lebih tinggi dari arah yang kau tuju, itu triknya" ucapku.
"Aku tahu itu! Aku akan menyampai ke seberang sana jika aku melemparnya dengan sekuat tenaga!" kata Madara. Ia pun langsung menatapku dengan penuh menyelidik.
Sial! Tadinya aku hanya berniat mengawasinya saja, tapi kenapa tubuhku bergerak dengan sendirinya?!
"Ano... Etto...,"
"Lagipula kau siapa?" tanya Madara.
Are? Kenapa Madara menanyakan hal seperti itu? Apakah Madara melupakanku? Atau ia sedang berbohong?
"Saat ini aku hanyalah rivalmu (baca:musuhmu) dalam melempar batu (baca:perang). Meskipun batuku telah sampai ke seberang sana (baca:kamu telah melupakannya)" ucapku sambil tersenyum.
"Aku bertanya siapa kau?!" kata Madara terlihat kesal.
"Namaku Hashi. Aku tidak bisa memberitahukanmu nama belakangku"
"Hm.. Hashi, kah? Baiklah. Lihat saja! Aku pasti akan berhasil!" kata Madara melempar batu itu, tapi hasilnya sama saja. Batu itu tetap tenggelam sebelum sampai ke seberang.
Pfft... aku berusaha menahan tawa.
"Jangan tertawa!" kata Madara dengan wajah merah menahan malu.
Ekspresinya yang seperti itulah yang membuatku tak bisa menahan tawa dan malah tertawa lepas.
"Hahahahaha... ternyata kamu sangat payah dalam hal seperti ini!" ucapku memegang perutku yang sakit karena terlalu lama tertawa.
Tanpa aku sadari aku terhanyut dalam obrolan ringan kami.
"Oh, ya Madara, kenapa kau ada disini?" tanyaku.
"Eh, aku sudah menyebutkan namaku, ya?" tanya Madara.
Sial! Aku kelepasan berbicara!
"I, iya tadi, kan kamu telah mengatakannya. Haha" ucapku disertai dengan tawa canggung.
"Ada apa denganmu? Aneh sekali," kata Madara heran, "Yah aku hanya jalan – jalan saja. Bagaimana denganmu?"
"Sama sepertimu. Tapi bedanya, aku saat ini sedang memikirkan seseorang (Baca:Madara)" ucapku.
"Kekasihmu?" kata Madara dengan polosnya.
"Bu, bukan!" sanggahku.
Uh, yang kumaksud itu kau Madara!
"Apa dia orang yang sangat berharga bagimu?" tanya Madara.
"Eh? Entahlah. Mungkin... ia adalah orang yang sangat berharga bagiku" ucapku tersenyum.
"Sepertinya sudah saatnya aku kembali. Aku terlalu lama berada disini" kata Madara.
"Pergi kemana?" tanyaku.
"Kalau hal itu aku tidak dapat menjawabnya. Sampai jumpa!" kata Madara segera pergi ke arah hutan. Hutan itu... adalah tempat para Nyokers berada. Aku pun kembali ke rumahku. Mengingat jam kerjaku telah selesai dari tadi.
Hah, aku ini bodoh sekali. Semua bukti menyebutkan jika Madara adalah seorang Nyokers. Tapi kenapa? Kenapa sampai saat ini aku masih tidak percaya jika Madara adalah Nyokers. Aku pun terus memikirkan Madara sampai terbuai dalam alam khayal.
.
.
.
.
.
~Beberapa hari kemudian~
"Hashirama – sama, ada berita penting!" kata seorang shinobi.
"Apa yang sedang terjadi?" tanyaku.
"Ada penyusup menyerang desa!" kata shinobi tersebut.
"Apa?!" ucapku terkejut. Aku pun berlari menuju ke tempat kejadian.
Api... Aku melihat kobaran api menari – nari membentuk sebuah angin puyuh. Kebakaran, kah? Tapi ada yang aneh dengan api ini! Ini pastilah sebuah jutsu! Api ini sangatlah panas, sangatlah terpancar jelas bahwa pengguna jutsu ini sangat membenci warga desa. Tapi disaat bersamaan aku merasa api ini sangat menusuk jiwa, seakan – akan semua kesedihannya ikut meluap bersamaan amarahnya.
"Eh, Madara?" ucapku sangat terkejut. Kulihat ia menoleh ke arahku dengan tatapan kosong.
Madara... apakah selama ini kamu selalu menyembunyikan kesedihanmu seorang diri?
"Ani – ja!"
Aku merasa sangat bodoh karena aku hanya memandangmu sebagai orang yang keras kepala. Aku...
Tung...
"Ani – ja!"
"Eh?"
"Ani - ja! Sadarlah!" teriak Tobirama.
"I, iya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ittai" ucapku kesakitan. Aku melihat lengan kananku terkena luka bakar. Aneh! Seingatku api itu tidak menyentuhku sama sekali!
"Ani – ja, apa kamu sudah lupa? Ia adalah Uchiha, spesialis genjutsu. Ia menggunakan genjutsu bersamaan dengan katon no jutsu. Siapapun yang berada di dekat sana pasti akan terkena genjutsu. Saat terkena genjutsu kelima panca indra akan mati rasa. Kamu tidak akan sadar jika kamu dilahap kobaran api" jelas Tobirama.
"Menggunakan ninjutsu bersamaan dengan genjutsu itu tidaklah mudah! Diperlukan kemampuan khusus untuk mengontrol keduanya secara bersamaan. Madara baru sebentar tinggal bersama Nyokers, tapi ia bisa mengontrol jutsu ini dengan baik. Clan Uchiha memanglah sangat mengerikan!" jelasku pada Tobirama.
"Ani – ja, hati – hati diatasmu!" kata Tobirama. Hashirama melompat ke belakang menghindari serangan.
Jboooom...
"Melesetkah?" kata si pelaku penyerangan. Aku memperhatikan dengan detil si pelaku penyerangan.
"Kau... adalah Uchiha yang membawa pergi Madara itu, kan? Uchiha Izuna" ucapku.
"Ow, Senju bersaudara. Tak kusangka kalian akan langsung turun tangan menghadapi kami" kata Izuna.
"Kata – kata yang bodoh! Siapapun yang berani menyerang desa harus diberi hukuman setimpal! Bukankah menghukum orang – orang seperti kalian adalah tugas kami? Sebagai shinobi yang diberi gelar rama" kata Tobirama.
"Daripada kita adu berbicara lebih baik kita buktikan dengan jutsu kita? Bagaimana Hunter – kun?" kata Izuna dengan senyum palsunya.
"Ani – ja, aku akan mengatasi bedebah satu ini. Kau hadapi Uchiha Madara!" kata Tobirama dengan penekanan pada kata Uchiha.
"Iya" ucapku.
"Hoy, kalian meremehkan kami, kah? Dengan sengajanya membocorkan strategi kalian?" kata Izuna dengan sombong.
"Baiklah. Mari kita mulai saja"
"Katon : Gokakyu no jutsu" kata Izuna, lalu bola api besar keluar dari mulutnya.
"Suiton : Suijinheki" kata Tobirama dan butir – butir air disekitarnya membentuk dinding air yang kokoh untuk menghadang serangan Izuna.
"Hm, Katon : Housen tsumabeni" kata Izuna lalu keluar banyak bola api kecil dari mulutnya.
"Setiap elemen chakra mempunyai kelebihan dan kelemahannya tersendiri, contoh Katon. Ia lebih unggul dalam berhadapan dengan futon, tapi lebih lemah dari suiton. Dengan kata lain, Katon no jutsu miliknya tak akan ada apa – apanya dari suiton no jutsu milikku" batin Tobirama menyeringai.
"Eh?" kata Tobirama terkejut. Didalam abut tiba – tiba ada beberapa shuriken api menuju ke arahnya. Tobirama pun langsung pergi menjauh dari tempatnya.
Sial!
Treng...
Sebuah shuriken hampir saja melukai Tobirama jika ia tidak dilindungi baju baja.
"Aku tak menyangka kamu dapat lolosan dari seranganku. Ternyata kamu cukup hebat juga, ya? Aku senang ternyata kamu lebih hebat dari yang aku kira. Pertarungan ini pastilah akan lebih menarik!" kata Izuna dengan sombongnya.
Uchiha Izuna... Orang itu lebih hebat dari laporan data yang selama ini telah kami kumpulkan. Menurut hasil laporan, ia adalah seorang ahli genjutsu. Aku tak menyangka kemampuan ninjutsunya diatas rata – rata. Selain dari kemampuan mengendalikan beberapa jutsu secara bersamaan, ia juga memiliki otak yang cerdik untuk menyusun rencana.
Ia sengaja menggunakan Katon : Gokakyu miliknya agar memaksa tobirama mengeluarkan Suijinheki. Saat mengeluarkan Suijinheki, air akan membentuk dinding yang membuat pengguna jutsu tidak dapat mengetahui pasti lokasi target. Meskipun begitu, Tobirama adalah ninja sensor. Ia dapat mengetahui musuh melalui chakra dan hal itu dapat menutupi kelemahan Suijinheki. Tapi pemuda itu mengeluarkan shuriken bersamaan dengan jurus apinya.
Ia adalah lawan yang sangat tangguh. Mungkin Tobirama akan kesulitan melawannya seorang diri.
Tobirama dan Izuna bertarung menjauhi aku dan Madara. Aku harus segera menolong Tobirama! Tapi sebaiknya terlebih dulu aku... Aku melihat Madara masih saja diam membatu disana.
"Ma, madara...
Sreeeett...
Tetesan darah segar mulai keluar dari pipi kananku karena goresan yang dihasilkan dari shuriken Madara.
"Begitukah? Jadi ini jawabanmu? Aku akan mulai bertarung dengan serius. Kali ini tak akan mudah untuk menggoresku yang kedua kalinya" ucapku serius dan memulai pertarungan.
- End Hashirama's POV-
.
.
.
.
.
~Tempat Tobirama Vs Izuna~
.
.
Di tengah – tengah pertarungan mereka yang sengit. Tiba – tiba keluar Zetsu putih dari dalam tanah.
"Yo, Izuna!" kata Zetsu.
"Zetsu, kah?" kata Izuna.
"Biarkanlah aku menangani pertarungan disini. Kau cepatlah berkumpul dengan para Nyokers lainnya!" kata Zetsu.
"Bagaimana dengan Nii – san? Mungkin saat ini ia sedang kesulitan, lawannya adalah Senju Hashirama, pimpinan dari Desa Konohagakure" kata Izuna.
"Tenang saja. Walaupun lawannya adalah Senju Hashirama, Uchiha Madara tidak akan kalah. Bagaimanapun juga ia adalah sosok legenda dari Nyokers" kata Zetsu.
"Legenda?" kata Tobirama dengan heran.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku serahkan pertarungan disini padamu, Zetsu!" kata Izuna menjauh pergi.
"Hai...!" kata Zetsu sambai melambaikan tangan dengan santainya.
"Tunggu!" kata Tobirama ingin mencegah Izuna.
"Eit, akulah lawanmu berikutnya, Senju Tobirama!" kata Zetsu.
"Baiklah. Aku akan menghabisimu terlebih dahulu baru aku akan membunuhnya" kata Tobirama memegang pedangnya.
"Hmmm, sayang sekali! Sepertinya kau tak akan bisa melakukannya" kata Zetsu dan tiba – tiba puluhan Zetsu datang dari bawah tanah.
"Sial! Meskipun lemah, jumlah mereka terlalu banyak! Pertarungan ini akanlah memakan waktu lama. Aku harus segera menyusul Uchiha itu agar tidak kehilangan jejaknya. Tapi, aku juga khawatir kepada Ani – ja. Apa yang mereka maksud dengan sosok legenda? Uchiha Madara, sepertinya selama ini ia hanyalah memata – matai kami. Awas saja Ani – ja! Jika aku bertemu kau lagi, aku akan memukulmu karena telah seenaknya mengizinkan Madara memasuki Konoha!" batin Tobirama dengan hawa membunuh.
.
.
.
~Tempat pertarungan Hashirama Vs Madara~
"Brrrt..! Tiba – tiba saja tubuhku terasa menggigil! Aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi?" batin Hashirama.
.
.
.
.
.
~Di sebuah Mansion tua ditengah hutan yang lebat~
.
.
"Kau terlambat, Uchiha Izuna!" kata Hidan.
"Kami telah lelah menunggumu" kata Sasori.
"Aku sudah berusaha secepat mungkin datang kesini. Lagipula Zetsu datang terlambat!" kata Izuna.
"Bagaimana keadaan disana?" tanya Pein.
"Tak terduga. Senju bersaudara langsung turun tangan pada pertarungan kami" kata Izuna.
"Senju Hashirama, kah? Aku yakin harga kepalanya sangat mahal. Aku akan ikut turun tangan dalam pertarungan ini" kata Kakuzu.
"Berhenti, Kakuzu! Dengan kemampuanmu saat ini kau tak akan mampu menghadapinya seorang diri. Lebih baik kita menggunakan rencana Mugen Tsukuyomi!" perintah Pein.
"Mugen Tsukuyomi?" tanya Izuna.
"Rencana Mugen Tsukuyomi adalah rencana pemusnahan shinobi secara massal. Madara akan memanggil juubi dan mengaktifkan mugen tsukuyomi" kata Konan.
"Tunggu! Ia baru saja terlahir kembali. Jika ia melakukannya dalam keadaannya yang sekarang, ia akan...," kata Izuna "Lagipula jika kita ingin melakukan pemusnahan massal. Kita bisa menggunakan teknik ledakkan milik Deidara!"
"Akhirnya kamu mengakui seni tertinggiku, hmm!" kata Deidara.
"Tidak! Ledakkan Deidara menggunakan Doton, jika musuh menggunakan Raiton, ledakannya tak akan berarti apapun. " kata Sasori.
"Hoy!"kata Deidara tersinggung.
"Tujuan sebenarnya dari rencana Mugen Tsukuyomi adalah perbudakkan. Dengan menggunakan genjutsu terkuat, semua manusia akan digiring ke dunia mimpi dan hanyalah Uchiha Madara lah yang bisa melakukan jutsu ini" jelas Konan.
"Ini adalah kesempatan emas bagi kita. Kenapa kamu sangat keberatan dengan rencana ini? Ataukah..
kau tidak tega membiarkan saudara palsumu mati?" tanya Itachi.
Deg!
"Aku tak menyangka seorang Uchiha Izuna yang terkenal kejam dapat bertingkah naif seperti ini. Didalam siklus kehidupan hiu. Saat mereka masih dalam kandungan, mereka saling membunuh saudara sendiri untuk bertahan hidup. Clan Uchiha sudah sangat lama menerapkan cara hidup hiu. Kau telah mengotori nama keluargamu" kata Kisame.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku hanya khawatir dalam kondisi yang sekarang ia akan mati terlebih dahulu sebelum rencana kita berhasil. Jika itu terjadi, aku jugalah yang akan menanggung akibatnya" kata Izuna dengan tegas.
"Kami akan menunggu laporanmu disini. Kau sampaikan hasil keputusan ini pada Uchiha Madara!" perintah Pein.
"Aku akan segera mempersiapkan diri" kata Izuna pergi.
.
.
.
.
.
-Izuna's POV-
.
.
FLASHBACK ON!
"Sebentar lagi kita akan dapat menyebarkan rasa sakit kepada seluruh dunia!" kata Pein.
"Apa maksudmu, Pein?" tanya Sasori.
"Dalam beberapa ratus tahun, akan ada seseorang yang terlempar ke dunianya kesini. Orang yang terlempar ke dunia ini akan menjadi utusan dari langit. Aku menerima laporan dari Zetsu, orang itu saat ini ada di Desa Konoha" jelas Pein.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Deidara.
"Kita akan membuatnya bergabung dengan kita dan memanfaatkannya untuk menghancurkan dunia!" kata Pein.
"Membunuh semua shinobi yang tak berguna sepertinya menarik juga! Jadi dia siapa?" tanya Hidan.
"Uchiha Madara" kata Pein.
Deg!
Aku dan Itachi sangat terkejut.
"Ia adalah dewa api. Kakak tertua dari Izuna dan leluhur dari Itachi. Cukup mengejutkan, bukan?" kata Pein.
"Tapi menurut legenda Uchiha Madara sangatlah kuat! Legenda mengatakan ia sebanding, tidak bahkan lebih kuat dari Senju Hashirama! Bagaimana caranya kita dapat mengendalikannya?" tanya Itachi.
"Kita mempunyai Izuna. Jadi hal ini dapat diatasi" kata Pein.
"Apa maksudmu?" tanyaku heran.
"Memang benar legenda mengatakan bahwa Uchiha Madara sangatlah kuat. Ia sering menghancurkan bumi. Sungguh kekuatan yang sangat mengerikan. Tapi ia juga memiliki kelemahan" jelas Konan.
"Kelemahan?" kata mereka terkejut (minus Konan dan Pein).
"Ia sangat menyayangi adiknya. Legenda mengatakan ia menghancurkan bumi karena kematian adiknya, Uchiha Izuna. Dengan kata lain, kita akan membuatnya beranggapan Izuna adalah adiknya. Ia pasti akan menuruti permintaanmu, Izuna. Peranmu dalam rencana ini sangatlah besar" kata Pein.
"Aku mengerti! Aku akan mengajarkan arti balas dendam yang sebenarnya kepada para shinobi itu" ucapku.
FLASHBACK OFF!
.
.
Bisa dikatakan rencana kami sukses besar. Uchiha Madara dengan mudahnya berpihak pada kami. Tapi...
"Izuna, kamu tak apa – apa?"
"Izuna, saatnya makan malam!"
"Janganlah pulang larut malam, Izuna!"
Cih! Kenapa kata – katanya selalu tergiang jelas di kepalaku. Selama ini aku sudah membunuh banyak orang, tapi kenapa? Kenapa aku merasa sangat kesal dan...
tak rela?
"Kau tidak tega membiarkan saudara palsumu mati?"
Deg!
Tidak! Bukan berarti aku tak tega melihatnya terbunuh!
Hanya saja... ia...
Benar! Apa yang dikatakan Itachi benar! Aku akan melakukan hal yang seharusnya dilakukan.
Aku segera mempersiapkan peralatanku.
.
"Aku akan berangkat" ucapku.
"Baiklah. Aku mengandalkanmu, Izuna!" kata Pein.
Hm..
Crraaasssshh...
Sebuah pedang menancap tepat di jantung Pein menebus tubuhnya. Darah terus mengalir keluar tubuhnya.
"Apa maksudmu, Izuna? Hoek..." kata Pein darah segar mengalir dari jantung dan mulutnya. Aku menarik pedangku keatas yang membuat sebuah sayatan besar di tubuh Pein. Pein pun mati.
"Sudah kuduga kau akan melakukan penghianatan pada kami" kata Itachi.
Para Nyokers datang mengepungiku.
Cih, jumlah mereka terlalu banyak! Ini akan sangat menyulitkan. Aku harus segera mengalahkan mereka dan memberitahukan hal sebenarnya kepada Nii – san! Kuharap Nii – san baik – baik saja!
.
.
.
.
.
To be Continued
.
Maaf kalau gantung...
Semoga aja masih ada yang mau baca ff saya ini (´□`。)
Maaf kalau masih banyak Typo dan Thanks ya utk yang udh memberi review. Semoga aja gak bosen baca ff saya ini. Wkwkw...
Saya juga minta maaf karena update saat bulan Ramadhan and see you next time!
Jangan lupa Review, yaaa!
- Uchyawa Feyya
