Anyeong Gyu datang bawa chapter 2
Cast :
Xi Luhan
Kim Minseok
And others (muncul sesuai kebutuhan)
Rate : T (merangkak ke M)
Warning : Typo(s) bertebaran, aturan penulisan yang acak-cakan, tidak sesuai EYD dll.
Chapter 2
'EXO Group' gumam Minseok, entah sudah berapa kali ia melafalkan dan mencocokan nama gedung pencakar langit yang ada didepannya dengan nama perusahaan yang ada di kartu nama pemberian Tao beberapa waktu yang lalu. Minseok Nampak ragu memasuki gedung tersebut mengingat ia tidak menyangka kalau ia akan bekerja di sebuah perusahaan besar atau yang lebih tepatnya sangat besar seperti yang ia lihat sekarang ini. Tao yang beberapa waktu lalu mengunjunginya saat ia sedang frustasi mencari kerja, menawarinya pekerjaan di tempatnya bekerja, lalu ia menerima kartu nama pemberian Tao dan beberapa hari kemudia dia mengirim surat lamaran kerja melalui Tao setelah berpikir berhari-hari . Awalnya Minseok mengira kalau perusahaan tempat Tao bekerja hanya perusahaan biasa dan bukannya perusahaan sebesar EXO Group yang memiliki banyak anak perusahaan di berbagai bidang.
'Drrt…Drrt…Drrt'
Saat tengah bergulat dengan pikirannya, ponsel Minseok berbunyi dan hal ini sontak membuat uri Minseok kembali ke dunia nyata (?).
"Halo?"Minseok menjawab panggilan tersebut tanpa melihat caller ID si penelpon
"Gege dimana sekarang?" Tanya sipenelpon
"Aku sudah sampai di depan kantor mu Tao-ah"jawab Minseok malas pada penelpon yang ternyata Tao
"Kalau begitu cepat masuk dan jangan hanya melamun di depan kantor saja"suara Tao terdengar khawatir dan kesal disaat yang bersamaan.
'Kenapa ia tahu aku sedang melamun'batin Minseok.
"Dan jangan bertanya bagaimana aku bisa tahu kalau gege sedang melamun di depan kantor dan sekali lagi cepat masuk sekarang juga"kata Tao yang kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Minseok menatap ponselnya kesal, b ukan kesal dengan benda itu tapi kesal dengan si penelpon yang seenaknya memutuskan panggilan seenaknya.
Drrt –sebuah sms
'Gege cepat masuk ke kantor jangan melamun. SEKARANG!"
"Ckk, dia itu peramal atau apa sih? Kenapa juga ia tahu aku sedang melamun"gumam Minseok.
Setelah menarik nafas berkali-kali guna menetralkan detak jantungnya dan menghilangkan kecemasannya, akhirnya Minseok memasuki gedung EXO Group. Setelah masuk, Minseok diantar oleh resepsionis yang ternyata sudah diperintahkan oleh Tao untuk mengantarnya ke sebuah ruangan.
.
.
.
Di sebuah ruangan yang luas terlihat panda (#plak. Huhuhu di tampar readers lagi T_T) maksud Gyu adalah Tao tengah mondar-mandir seperti setrikaan, tak ketinggalan bibir tipisnya yang terus melantunkan gerutuan-gerutuan yang terkesan imut bagi orang lain yang ada di ruangan itu.
" Baby sudahlah, jangan terus mondar-mandir seperti setrika seperti itu"kata Kris yang merasa lelah melihat kekasihnya.
Tao berhenti dan memandang Kris tajam, "aku ini sedang panik dan kesal saat ini! Lagi pula kenapa Xiumin ge sampai belum tiba disini"kata Tao ketus
"Mungkin saja dia tersesat"jawab Kris asal. Jujur ia sudah lelah dan jengah mengahdapi kekasihnya ini. Bayangkan saja jika sejak pertama kali menginjakan kaki di kantor pagi ini, Tao terus saja menanyakan Xiumin a.k.a Minseok dan mendumel (?) tidak jelas pada Kris yang tidak tahu apa-apa.
"Tidak mungkin Xiumin ge tersesat. Aku sudah menyuruh seorang petugas resepsionis untuk mengantarnya ke ruangan ini. Lagipula aku tidak enak pada Luhan ge"kata Tao sambil melirik seoarang namja yang sedang asyik bermain rubik dibangkunya, sepertinya namja ini tidak begitu perduli dengan apa yang dikatakan Tao.
"Kau tidak perlu merasa tidak enak pada pasti mengerti, benar kan Luhan?"kata Kris sambil melihat kearah Luhan.
"…."tidak ada respon atau jawaban sama sekali dari namja bernama Luhan tersebut. Luhan masih asyik dengan rubiknya, sesekali alisnya bertaut saat ia sedang berusaha menyamakan warna rubik tersebut.
"LUHAN!"panggil Kris dengan nada tinggi
"w-wae?" Tanya Luhan tergagap, sepertinya ia baru kembali dari dunia rubiknya berkat panggilan kris
"jadi kau tidak mendengarkan apa yang kami bicarakan,eoh?kata Kris kesal
"ng...i-itu a-aku—"
"ugh…Luhan ge pasti tidak mendengarkan apa yang dari tadi aku ucapkan"Tao merenggut sebal, bibir tipisnya terpout lucu dan itu merupakan undangan bagi Kris untuk melakukan sesuatu.
'Cup' Kris mengecup bibir yang sedari tadi mengomel dan menggerutu tanpa henti.
"YAK!"Tao langsung memukuli lengan Kris. Huh bisa-bisanya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Dasar Duizhang. Luhan hanya bisa memutar bola matanya bosan.
'Cklek'
Ketiga pasang mata itu melihat kearah pintu yang terbuka dan menampilakan sesosok namja manis nan mungil tengah berdiri dengan ekpresi cengoknya (#plak). Salah satu pemilik mata mengenali sesosok itu dan langsung menerjangnya dengan pelukan maut.
"Xiumin ge, akhirnya kau sampai juga. Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, aku juga berpikir kau tidak jadi bekerja disini karena trauma dengan pelecehan atau jangan-jangan terjadi sesuatu padamu diperjalanan dan blablablablabla"Tao mengoceh tanpa henti.
"Tao-ah sudah, berhentilah"ucap Minseok lembut—Minseok pening mendengar ocehan Tao.
Tanpa mereka berdua sadari sepasang mata lain tengah menatapnya dengan pandangan takjub dan terpesona. Sesosok namja yang sedari tadi hanya fokus pada rubiknya kini merasa seakan dunianya berhenti saat melihat sosok mungil yang tengah kerepotan menenangkan Tao kerena panic attacknya.
"Ehem…"Kris berdehem guna menghentikan adegan drama yang terjadi di depannya
Tao segera melepaskan pelukannya dan menghentikan rengekan manjanya pada Minseok. Kemudian Tao menarik lengan Minseok dan membawa tubuh Minseok mendekati Kris.
"Kris ge, kenalkan ini Xiumin ge" Tao memperkenalakan Kris pada Minseok. Kris memang tau tentang Minseok dari cerita Tao tapi ia tidak tidak pernah tau atau lebih tepatnya tidak pernah mau tahu bagaimana sosok asli seorang Minseok saat Tao menawarinya untuk melihat foto Minseok.
"Anyeonghaseo… Kim Minseok Imnida banggapseumnida" Minseok memperkenalkan dirinya dan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kris, dan langsung dijabat oleh kris.
"Aku Wu Yi Fan , tapi kau bisa memanggilku Kris. Aku kira namamu Xiumin"
Mereka berdua melepaskan jabatan tangannya
"Namaku Kim Minseok dan xiumin atau lebih tepatnya Tan Xiumin adalah nama Cina ku karena appa ku adalah orang Cina"
Kris menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti, pantas saja saat ia membantu Luhan mencari sekretaris baru ia merasa bingung saat Tao menyuruhnya membaca surat lamaran kerja yang katanya milik Xiumin namun yang tertera di Map itu adalah nama 'Kim Minseok'.
"Oh iya, mari aku kenalkan dengan atasanmu disini"kata Kris. Kemudian Pria yang memiliki tinggi kelewat batas itu menggeser tubuhnya dan menampilkan sesosok namja yang kini tengah tersenyum gaje.
MInseok membelalakan matanya saat ia melihat sosok itu. Ia masih ingat siapa namja itu, tidak salah orang itu adalah namja yang Minseok temui di XOXO Department Store, namja yang berebut baju dan menyentuh pipi chubbynya. Ya….tidak salah lagi dia pasti namja yang juga mengatai dirinya adalah seorang yeoja karena Minseok masih ingat dengan senyuman gaje milik namja itu yang sudah membuatnya bergidik ngeri dan merinding disko disaat yang bersamaan.
"Minseok-shi ! tidak apa-apa kan aku memanggilmu Minseok?"Tanya Kris
"…."Minseok hanya mengangguk
"baiklah, yang ada dihadapanmu adalah atasan barumu namanya adalah Xi LuHan"jelas Kris. Kemudian Kris menarik tangan Tao untuk meninggalkan ruangan itu bersamanya. Sedangkan Minseok masih terpaku pada sosok yang terus menatapnya dengan tersenyum-senyum gaje,bahkan ia tidak menyadari jika dua sejoli Kris dan Tao hendak keluar dari ruangan itu.
"Oh ya satu lagi Minseok-shi"Kata Kris sebelum keluar ruangan itu.
Minseok menoleh kea rah Kris dan melihat Kris dan Tao yang sudah berada di ambang pintu.
"Atasanmu adalah Sajangnim di perusahaan ini, jadi lakukan pekerjaanmu dengan baik"lanjut Kris. Minseok segera melirik sebuah papan yang terbuat dari kaca yang bertuliskan jabatan dan nama atasan barunya, setitik keringat dingin pun menetes di kening Minseok.
"Fighting"Tao menyemangati Minseok sebelum pintu ruangan itu tertutup
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki terdengar mendekati Minseok. Namja itu a.k.a Luhan dengan pasti membawa tubuh tinggi semampainya mendekati Minseok. Sedang yang dituju hanya diam membatu di tempat, Minseok sudah tidak tahu harus berbuat apa, feelingnya mengatakan bahwa pekerjaannya ini akan 'sangat' berat.
"Jadi namamu Kim Minseok dan kau seorang namja,hm?" Tanya Luhan
"N-ne Sajangnim"jawab Minseok gugup
"Nama yang indah" puji Luhan. Perlahan tapi pasti keduan tangan luhan mulai mendekati tubuh Minseok dan…
Grepp—Luhan memeluk Minseok dan sontak membuat uri Minseok terkejut . ini memang bukan pelecehan pertamanya, tapi tetap saja ia merasa terkejut dan kesal. Ingin rasanya ia menonjok wajah orang yang kini memeluknya ,namun ia sadar jika mencari masalah dengan pimpinan EXO Group sama saja dengan bunuh diri.
"Ayo kita bekerja sama dengan baik, Minseokie"ujar Luhan riang
'Huweeee!umma eottokhe ' batin Minseok miris
.
.
.
.
"Baozi…Baozi! Hey apa kau mendengar ku?"Tanya Luhan sambil terus menusuk-nusuk pipi chubby Minsseok dengan jarinya.
'Sabar Kim Minseok. Sabar'batin Minseok
"Baozi ayo jawab aku"Luhan mulai meningkatkan invasi tangannya dengan memeluk Minseok dari belakang .
"Aku sedang sibuk memeriksa hasil rapat tadi, Sajangnim" kata Minseok dengan kekesalan yang susah payah ia tahan. Sedangkan Luhan hanya merenggut lucu mendengar penolakan dari orang yang dua minggu ini menjadi Sekretarisnya.
Ya… Tanpa terasa sudah dua minggu Minseok menjadi skretaris Luhan dan selama itu pula ada saja kelakuan Luhan yang membuat MInseok kesal. Mulai dari memegang-megang bagian tubuhnya (tapi masih dalam batas normal loh.. ! jangan pikir yang macam-macam dulu yah, karena semua ada waktunya hehe~ ) dan panggilan 'Baozi' atau semua panggilan sayang yang luhan berikan. Jika reader bertanya kenapa Minseok tidak menolak semua perlakuan Luhan, maka jawabannya Minseok sangat ingin menolaknya ,tapi setiap kali ia menolak pelukan atau panggilan 'sayang' dari luhan ia akan teringat kejadian di hari ketiganya bekerja. Saat itu Minseok menolak dengan tegas apa yang Luhan lakukan padanya dan berujung pada marahnya Luhan pada Minseok dan menyebabkan sekujur tubuh Minseok sakit. Eh..eh..eh jangan salah paham dulu yah! Luhan memang bikin badan Minseok sakit tapi bukan karena Luhan mukulin Minseok karena ini bukan adegan KDRK (kekerasan dalam ruang kerja), tapi karena Luhan yang berubah jadi seperti rusa liar yang tidak bisa diam. Banyangkan saja, hari itu Luhan yang sedang dalam mode marah terus mengacuhkan uri Minseok dan membuat jadwal kerjanya lebih padat dari yang sudah Minseok susun. Alhasil…. Uri Minseok harus mengikuti Sajangnimnya kesana-sini sampai malam hari. Poor Minseokie
"Ayolah, berhenti saja dulu! Lebih baik kita makan siang dulu"bujuk Luhan yang semakin bergelayut manja pada Minseok.
"HAHH" Minseok menghela nafasnya, mencoba menstabilkan emosinya yang sudah sampai ubun-ubun.
"Saya harus menyelesaikan laporan ini Sajangnim. Jika laporan ini tidak selesai bagaimana anda bisa memutuskan kesepakatan untuk bekerja sama dengan perushaan tersebut"Minseok mencoba memberi pengertian pada Luhan. Yang ditanggapi dengan dengusan sebal sang Sajangnim.
"Ayolah Minseokie Nae Sarang~. Aku kan tahu jalannya rapat tadi pagi, jadi aku juga sudah memikirkan mengenai kesepakatan kerja sama itu. Ayo kita makan siang dulu, aku sudah suaangaaat lapar"kata Luhan, kemudian ia memutar kursi kerja Minseok sehingga menghadap kearahnya dan menangkup keduan wajah Minseok dengan telapak tangannya . "Ne…ne…ne~"rayu Luhan dengan puppy eyes attacknya.
Minseok memandang iritasi pada Luhan. 'Nae Sarang? Cih, dia pikir aku pacarnya? ' Batin Minseok sebal dengan panggilan Luhan. Namun Minseok yang lemah dengan yang namanya aegyo,akhirnya memutuskan untuk menuruti kemauan Luhan sang Sajangnim.
"Baiklah"ucap Minseok pasrah
"Yey….ayo kita makan" seru Luhan senang dan segera menuntun (baca:menyeret) Minseok menuju Cafetaria yang ada di lantai dasar gedung tersebut.
At Cafetaria
"Kenapa anda tidak makan,Sajangnim?"Tanya Minseok heran. Ia benar-benar tidak mengerti dengan tingkah laku atasannya ini. Bukannya tadi yang memaksa dirinya makan siang dan menyeretnya ke Cafetaria lalu memutuskan duduk di meja yang sama adalah atasannya,tapi kenapa sekarang Sajangnimnya hanya duduk dan terus-terusan menatapnya.
"Tidak apa-apa. Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan,apalagi saat pipimu menggembung karena makanan , itu membuatmu semakin manis,Minseokie~" Jawab Luhan.
"Itu bukan sebuah alasan untuk tidak makan siang,Sajangnim. Lagipula anda sudah memesan makan siang anda, jika anda tidak memakannya itu artinya anda sudah menyia-nyiakan makanan dan itu ber-do-sa" kata Minseok. Ia sedikit kesal dengan jawaban aneh Luhan,bahkan ia tidak sadar sudah mengomeli Luhan seperti ia mengomeli anak TK (tapi kelakuan Luhan memang kayak anak TK sih ^^).
"Kalau kau ingin aku makan,maka kau harus menyuapiku, baby"ucap Luhan.
"Tapi anda kan bisa makan sendiri dengan kedua tangan anda"tolak Minseok.
"Tapi kedua tanganku lelah. Kau kan tahu sendiri kalau tadi aku menyalami para client kita tadi pagi. Ayolah…suapi aku ne~" Luhan tetap membujuk Minseok dengan alasan yang tak kalah aneh dan menyebalkan untuk Minseok.
'cih…dia menyebalkan sekali! Masa bersalaman saja sudah membuatnya lelah'batin Minseok. "Ani!"tolak Minseok tegas. Wah…uri Minseok sudah mengeluarkan kata kramat itu,ia sudah menolak permintaan Luhan sang Sajangnim dan …..
"Wae~?"Luhan merengek dengan suara yang cukup keras. Ia bahkan tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang mulai menaruh perhatian pada percakapan atasan dan bawahan itu.
"karena anda memiliki dua tangan yang masih berfungsi dan anda adalah namja dewasa yang tidak perlu untuk DISUAPI saat makan"jelas Minseok dengan tegas menekankan kata 'disuapi'.
"Ugh…kau pelit sekali sih." Luhan merenggut
"Biar saja"Jawab Minseok cuek dan melanjutkan makannya dengan lahap, sangat keberatan permintaan Luhan untuk menyuapi Luhan. Awalnya jujur Minseok khawatir juga jika Luhan tidak makan,ia takut kalau Luhan akan sakit Maag. Apakah uri Minseok sudah mulai memperdulikan Luhan? Jawabannya adalah TIDAK,satu-satunya yang menyebabkan Minseok mengkhawatirkan Luhan adalah karena jika Luhan sakit maka Minseok sendiri yang akan repot (-_-"). 'Sehat saja sudah menyebalkan apalagi sakit'begitu pikir Minseok.
Luhan sebal karena keinginannya tidak dituruti oleh Minseok. Jujur saja ia sangat lapar, apalagi melihat Minseok yang makan dengan lahap entah mengapa membuat Luhan merasa makanan itu sangat enak dan memperparah aksi cacing-cacing yang tengah berdemo diperutnya. Ia juga sengaja tidak menyentuh makanannya untuk menarik perhatian Minseok dan berharap Minseok mau menyuapinya. Otaknya kini tengah memikirkan cara agar Baozi-nya mau menyuapinya.
TING—Luhan mendapatkan ide
"Minseok-ah, apa jadwalku setelah ini?"Tanya Luhan dengan nada serius. Minseok segera menghentikan makannya dan membuka buku agenda yang selalu ia simpan di saku dalam jasnya.
"Anda ada rapat dua kali lagi,Sajangnim. Yang pertama dengan Western Youth Company di restoran Al'Dente pada pukul 15.00 untuk membahas kerja sama ekspor dan impor,lalu yang kedua dengan Infinite contruction di Paradise Hotel pada pukul 20.00 untuk membahas kerja sama pembangunan Resort keluarga di Jeju" Minseok membacakan jadwal Luhan yang tertulis di agendanya.
"Begitu yah! Sebenarnya aku ingin menambahkan beberapa jadwal lagi,mungkin aku ingin memajukan beberapa rapat lagi. Bagaimana…sekretaris Kim? Bisakah kita melakukannya?"kata Luhan dengan senyum evilnya.
"…."Minseok diam dan tak menjawab apa-apa. Ia sedang berpikir apalagi yang akan dilakukan Sajangnimnya kali ini. Pertama , Luhan berbicara dengan nada serius kepadanya dan Minseok ingat kalau Luhan hanya akan berbicara serius saat menghadapi para client, sedangkan saat bersamanya Luhan akan berubah menjadi sosok manja nan menyebalkan. Kedua, ia memanggil Minseok dengan panggilan formal tanpa embel-embel panggilan sayang. Dan yang ketiga, hal yang membuat Minseok berfirasat buruk adalah saat Luhan menanyakan jadwal kerjanya.
"Bagaimana?"Tanya Luhan lagi dan menyadarkan Minseok dari pikirannya.
"E-eh..itu..mmm…bagaimana yah? Ah…lebih baik kita makan dulu saja, ne? lagipula tidak baik jika Sajangnim menghadiri rapat dengan perut kosong. S-sini biar saya suapi " Kata Minseok dengan berat hati. Ia tahu kemana arah pembicaraan sang Sajangnim dan tentu saja ia tidak mau berakhir mengenaskan dengan tidur di depan pintu apartmentnya karena kelelahan.
"kalau begitu…aaaaa"Luhan membuka mulutnya lebar.
Dengan berat hati dan wajah setengah merengut,Minseok mulai menyuapi Luhan. Ia kesal karena harus tunduk apada akal-akalan Sajangnimnya.
"seharusnya…nyam…kau…nyam menyuapiku dari tadi…nyam"kata luhan sambil menguyah makanannya.
"ayo buka mulutmu lagi"perintah Minseok kesal. Benarkan? Ini adalah akal-akalan Sajangnimnya saja. 'lihat saja! Aku balas dia'batin Minseok
"Tapi..nyam…mulutku…nyam masih pe—"
Hap—makanan itu masuk ke dalam mulut penuh Luhan
"Kita masih ada rapat setelah ini,Sajangnim"kata MInseok sembari memasukan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut Luhan.
"Min, tunggu du—"
Hap—lagi-lagi makanan itu memotong kata-kata Luhan
"ayo makan yang banyak, Sajangnim"
"Ta—"
Hap—Minseok tidak memberikan kesempatan Luhan bicara. Bahkan pipi Luhan sudah menggemung terisi penuh makanan
" Cepat habiskan!Tidak baik jika kita telat, Sanjangnim" MInseok tersenyum ,namun bukan senyuman manisnya,tapi senyuman srigala berbulu domba (?) yang menurun dari ummanya Kim Heechul. 'kkk,rasakan kau! Dasar boss menyebalkan' Minseok terkekeh nista dalam hati, bahkan ia tidak menghiraukan tatapan horror para penghuni Cafetaria yang seakan mengatakan 'berani sekali dia'.
Begitulah makan siang mereka, Minseok yang menyuapi Luhan tanpa memperdulikan mulut Luhan yangmasih penuh dan Luhan yang hanya mampu melahap bulat-bulat makanan yang diberikan MInseok. Poor Luhanie.
.
.
.
.
At Kim mansion
"Chullie-ah…gwechana?"Tanya a.k.a Kim Hangeng pada sosok namja cantik yang berdiri di balkon kamarnya.
"Ne…aku hanya sedang memikirkan uri Minseok" Jawab Heechul.
Hangeng tersenyum. Ia tahu walaupun sang istri memiliki sifat keras kepala dan kelakuan evil,tapi dibalik semua itu istrinya memiliki hati yang lembut. Hangeng bahkan masih mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Heechul. Sikap cuek dan sadisnya justru membuat hati seorang Hangeng luluh,bahkan ia rela melepaskan marga keluarganya demi bisa menikahi seorang Kim Heechul.
"Seokie pasti baik-baik saja! Aku yakin ia pasti berhasil dengan pekerjannya kali ini"ucap Hangeng lembut. Ia merangkul tubuh sang istri dan mengecup puncak kepalanya.
"Aku sedang tidak memikirkan pekerjaannya"kata Heechul yang sedang mencari kenyamanan dan kehangatan di pelukan suaminya.
"Lalu apa yang kau pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan namja seperti apa yang cocok dengan uri Minseok. Aku yakin ia akan segera berhenti dari pekerjaannya"
"Y-ye?"Hangeng memastikan apa yang di dengarnya.
"Kau tahu,Hanie?Minseok pasti akan segera menelponku dan menangis meraung-raung seperti biasa setiap kali ia berhenti bekerja dan saat itu terjadi aku akan langsung menyeretnya ke gereja dan menikahkannya dengan namja pilihanku,kkkk"kata Heechul yang tengah menceritakan rencana evilnya pada sang suami
"…."Hangeng diam, ia lebih memilih untuk tidak meladeni perkataan istrinya kali ini. 'Ya Tuhan…lindungilah putraku'batin Hangeng. Pasangan 'suami istri' ini pun menghabiskan malam mereka dengan berpelukan dan menikmati langit sore.
.
.
.
.
"Terima kasih untuk hari ini. Saya harap perusahaan kita dapat bekerja sama dengan baik"ucap Luhan sembari berjabat tangan dengan seorang namja paruh baya.
"Saya harap juga demikian. Kalau begitu saya pamit dulu, sampai berjumpa lagi"Ucap namja paruh baya yang ternyata utusan Western Youth Company.
Namja paruh baya itu kemudian hendak berpamitan dengan Minseok,namun saat melihat keadaan Minseok ia terdiam dan memandangi wajah damai Minseok—ya Minseok tertidur dalam keadaan duduk. Sepertinya rapat yang sangat a lot membuat uri Minseok mengantuk.
"Biarkan saja! Ia terlalu lelah hari ini"ucap Luhan yang menyadari tatapan clientnya. Ia sedikit tidak suka saat clientnya memandangi Minseok dengan sedemikian rupa.
"Anda benar-benar atasan yang baik dan pengertian"ucap Namja paruh baya itu,kemudian ia pergi meninggalkan ruangan VIP di restoran tersebut setelah mengucapkan terima kasih untuk kesekian kali pada Luhan.
Luhan menarik kursinya mendekati Minseok dan mendudukan dirinya disana. Ia memandangi wajah damai Minseok. Sebersit perasaan bersalah muncul dihatinya, ia mengingat bagaimana ia menyuruh Minseok menyusun ulang bahan rapat setelah makan siang tadi (ugh…Luhanie balas dendam,eoh?)
"Mianhe"ucap Luhan sambil menatap teduh wajah Minseok.
"Aku sudah membuatmu sangat lelah hari ini…ani…tapi sejak dua minggu lalu aku sudah membuatmu sangat lelah. Lelah dengan pekerjaan yang kuberikan dan juga kelakuanku"Luhan mulai bermonolog.
Luhan memberanikan diri menyentuh tangan Minseok dan menggenggamnya dengan lembut dan hati-hati agar Minseok tidak terganggu dan bangun.
"Kau tahu? Aku tak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya ingin selalu dekat denganmu dan memastikan kau tetap ada pada jangkauan mataku."
Cup—ia mengecup tangan Minseok
Luhan menuntun tangannya yang masih bebas menuju wajah Minseok. Dengan sangat lembut ia menyusuri wajah mulus Minseok dengan telunjuknya. Mulai dari mata,hidup, lalu bibir mungil Minseok. "Salah mu karena memiliki ekspresi yang sangat lucu dan manis saat sedang kesal, sehingga membuatku senang menggodamu"
SREAK—Luhan bangkit dari duduknya
"Pasti sangat tidak nyaman tidur dengan posisi begini" ucap Luhan sebelum ia mengangkat tubuh Minseok ke dalam gendongannya dan membawa Minseok menuju sofa panjang di sudut ruangan tersebut dengan gendongan ala Bridal Style. Kemudian Luhan membaringkan tubuh Minseok dengan lembut dan hati-hati,memperlakukan Minseok layaknya boneka porselen yang mudah pecah.
"masih ada waktu tiga jam lagi sebelum rapat nanti malam"ucapnya
Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Minseok, bermaksud mengeliminasi jarak diantara mereka dan saat bibir mereka hambir bersentuhan….
"Ani! Ini curang namanya"ucap Luhan dan mengarahkan bibirnya ketempat lain.
CUP—Luhan mengecup pipi chubby Minseok
"Tapi jika pipi tidak masalah bukan?"ucap Luhan riang. Kemudian ia beranjak menjauhi Minseok dan meninggalkan ruangan tersebut,membiarkan Minseok tidur dengan tenang dan nyaman.
T.B.C
Gyu Corner
Huwaaa ^^ akhirnya Gyu bisa update kilat juga. Hmmm sebenernya kemarin Gyu mau publish dua chapter sekaligus tapi berhubung ide buat chapter dua rada ngadat di otaknya Gyu,jadi Gyu tunda dulu. Oh iya sekarang Gyu mau bales para readers yang sudah ngasih review untuk Fic pertama Gyu.
Ok Lets Go….
White Gulliver : Waduh Gyu tersanjung sekali kalau fic gyu dibilang keren. Hmm..tahan 3 bulan gakyah? Ikutin ceritanya terus ne~
Lee seokie : sipppp…Gyu bakal berusaha lanjutin fic ini sampai
Tikakang (guest) : Ini sudah lanjut ^^
XiuMinseok : Gyu memang berencana buat bikin fin ini jadi rate M tapi pelan-pelan asal sampai saja ne~
Yunjou : Makasih Gyu dibilang lucu. Hmmm sebenernya banyakan selipan-selipan itu karena Gyu excited banget di fic pertama Gyu ^^. Oh iya terima kasih banget sudah ngingetin Gyu tentang huruf besar sesuadah tanda kutip, Gyu lupa soal itu hehehe.
EXO GALAXY : Tenang aku lanjutin kok.
Shintalang: wohooo aku sudah lanjut chingu…
heeliezelfpetalz: terima kasih fic Gyu dibilang bagus. Gyu usahin biar bisa update kilat terus ne~
frozenxius : iya dia memang Luhan. Minseok memang menggoda ..
xhlm (guest) : ini sudah Update ^^
Buat semua readers yang sudah baca dan review Fic Gyu, Gomawo ne~
Jangan sungkan ngasih kritik atau saran sama Gyu, supaya Gyu bisa memperbaiki Fic ini jadi semakin bagus dan menarik lagi.
Jangan lupa Review ne ~
# Big Hug and popo untuk semua ^^
