Chapter 4 : Pernyataan

The Nyokers

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story By : Uchyawa Feyya

Rate : T

Genre : Family, Adventure, Romance, Fantasy.

Main Chara : Uchiha Madara, Senju Hashirama, Uchiha Izuna, Senju Tobirama.

Warning : Shounen - ai, Typo's, Tidak sesuai dengan EYD, OC, OOC, Dll.

.

.

.

Summary : Adikku, Uchiha Izuna adalah orang yang sangat aneh. Dia selalu berbicara tak jelas, selalu berkeliaran keluar hanya untuk membawa barang – barang aneh ke rumah. Sepertinya ia mengidap penyakit Chuunibyou, aku tak terlalu memusingkannya karena menurutku ia menjadi aneh karena kekurangan perhatian dari orang – orang sekitar. Aku menyesal. Seharusnya dari dulu aku harus membawanya ke psikolog karena sepertinya kegilaannya telah menular kepadaku.

Don't like, Don't read!

Happy Reading!

.

.

.

~Tempat pertarungan Hashirama Vs Madara~

"Madara, bukankah kita berteman? Apa kamu benar – benar berniat untuk membunuhku?" tanya Hashirama.

"Nii – san! Akhirnya aku diterima di Konoha High School!" "Madara Nii – Chamaa! Lihat! Tadi aku membeli sebuah manga yang menarik! Ayo, kita baca bersama!"

"Ya. Aku akan melakukannya!" kata Madara menggenggam erat Gunbai – nya.

"Kalau begitu beritahu aku alasannya!" kata Hashirama.

"Aku mendengar dari mereka bahwa kau juga adalah Nyokers. Kalau begitu kau seharusnya tahu, setiap Nyokers mempunyai kekuatan luarbiasa. Mereka bahkan sering disamakan dengan para legenda atau lebih tepatnya mereka adalah reinkarnasinya. Tapi setiap beberapa ratus tahun sekali akan ada orang yang terlempar dari dunia lain. Orang itu akan menjadi pembawa pengaruh besar di kehidupan dunia shinobi dan orang itu adalah aku, Uchiha Madara!" kata Madara.

Madara menyerang Hashirama dengan pedang di tangan kirinya. Hashirama menahan serangan Madara menggunakan pedangnya. Tapi kekuatan Madara terlalu besar sehingga Hashirama terdesak. Tiba – tiba di belakang Hashirama menjulur pohon yang ikut menyerang Madara. Madara pun menghindar dan mundur beberapa langkah.

"Hm, Senju Hashirama, semua orang percaya bahwa kau adalah shinobi terkuat. Mereka sering menyebutmu sebagai Dewa Shinobi. Itulah yang legenda katakan," kata Madara

"Sejak dari dulu para orang tua sering menamai anak mereka dengan nama – nama shinobi legendaris dengan harapan anak – anak mereka bisa tumbuh menjadi orang hebat. Tapi melakukannya ada resiko. Entah memang disengaja maupun kebetulan, anak tersebut memiliki angka harapan hidup yang sangat rendah" jelas Madara.

"Jadi memang begitu" batin Hashirama. Ia teringat adik termudanya juga diberi gelar Rama, tapi ia mati pada umur 7 tahun.

"Jadi begitu. Sejak dari awal aku juga merasa ada yang aneh denganmu. Dari awal kita bertemu, kamu berkata bahwa kamu lupa ingatan. Tapi saat aku memanggilmu Madara, kamu sama sekali tidak keberatan malahan kamu seakan terbiasa dengan panggilan itu. Menurut legenda, Madara adalah nama dari dewa api" kata Hashirama.

"Sou kah? Aku memang tidak lupa ingatan. Aku telah berbohong kepadamu. Tapi kenapa kau tahu namaku?" tanya Madara.

"Kebetulan saat itu aku habis membaca buku sejarah" kata Hashirama santai.

"Cih!"

"Lalu kenapa kamu malah melakukan hal seperti ini? Jika memang kamu adalah orang yang sehebat itu, kenapa kamu tidak berpihak pada kedamaian? Kenapa kamu malah bergabung bersama Nyokers?" tanya Hashirama.

.

.

FLASHBACK ON!

"Jikalau aku adalah orang sehebat itu, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.

"Bunuhlah Senju bersaudara!" kata Pein.

"Membunuh orang? Apa kau sudah gila?! Lagipula untuk apa aku membunuh orang yang tidak bersalah?" bentakku.

"Mereka adalah manusia pendosa!" kata Pein.

"Apa maksudmu?" tanyaku.

"Mereka adalah Nyokers," kata Pein.

Deg!

"Mereka masih sedarah dengan kami. Mereka terlahir sebagai Nyokers yang kuat. Tapi mereka malah membunuh para Nyokers. Mereka tega membunuh saudara mereka sendiri hanya karena kami memiliki kekuatan yang spesial"

"Tunggu, membunuh saudaranya sendiri? Hashi bukanlah orang seperti itu!" bantahku.

"Bukankah kau telah melihatnya? Ia tak segan – segan membunuh Zetsu" kata Pein.

Deg!

"Baiklah! Aku mengerti! Aku akan pergi mencari udara segar" ucapku hendak pergi.

"Oh, ya satu hal lagi. Sebaiknya kamu segera melakukan tugasmu" saran Pein.

"Kenapa?" tanyaku heran.

"Madara, saat ini adalah reinkarnasi tak sempurna" kata Zetsu.

"Tak sempurna?"

"Semakin lama kamu berada di dunia ini, maka semakin banyak kamu kehilangan ingatanmu sebelumnya" Jelas Zetsu.

"Apa maksudmu? Jadi apapun yang aku lakukan tak akan mengubah keadaanku?" tanyaku kesal.

"Saat seseorang berpindah dunia sepertimu, ingatannya tentang dunia terdahulunya haruslah dihapuskan agar tidak mengganggu keseimbangan dunia. Tapi jika kamu berhasil membunuh senju bersaudara, kamu bisa kembali ke duniamu tanpa kehilangan ingatan apapun" jelas Pein.

"Kamu juga harus berhati – hati karena kematianmu di dunia ini, juga berarti kematian di dunia asalmu" kata Zetsu.

FLASBACK OFF!

.

.

Aku hanya harus melakukannya, kan? Tak ada pilihan lain, bukan? Aku hanya harus membunuh para senju itu agar aku bisa kembali ke duniaku. Membunuh... membunuh...

membunuh?

Seperti... orang itu?

Hoekk...

"Madara!" teriak Hashirama kaget karena melihat Madara muntah sambil memegang perutnya.

"Me, membunuh orang lain ha, hanya demi menyelamatkan diri sendiri?" tanya Madara pada dirinya sendiri.

Nii – chama! A, aku takut! Tolong aku!

Membunuh... orang lain

Nii – san, apa yang harus kita lakukan jika terus begini... ia akan mati!

Membunuh orang lain?

Mundur kalian semua! Jika kalian mendekat kepala bocah ini akan kulubangi!

Membunuh?!

Uhuk... uhuk... hoekk!

"Madara! Apakah kamu baik – baik saja? Bertahanlah!" ucap Hashirama berusaha menopang tubuh Madara.

"Lepaskan!" kata Madara.

Hah.. hah.. hah...

Madara mulai kesulitan mengambil napas dan perlahan – lahan pandangannya mulai kabur

dan...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Madara terbangun dari tidur singkatnya. Kini ia terikat disebuah kursi dan di sekelilingnya terdapat berbagai macam benda tajam.

"Selamat datang di ruang kejujuran, Uchiha Madara"

Madara memperhatikan dengan cermat sosok di dalam bayangan tersebut.

Hashi, kah?

.

.

-Normal POV-

Madara terbangun dari pingsannya. Uh, sepertinya tadi aku pingsan. Ia berada di sebuah gua yang sangat minim cahaya. Bahkan ia harus menyipitkan mata untuk dapat melihat jelas. Hah! Aku tak menyangka akan selengah ini. Madara menatap tajam sosok yang berdiri dihadapannya.

"Hey, jangan menatapku seperti itu. Kamu menatapku seperti ingin membunuhku. Menyeramkan tahu!" kata Hashirama.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Madara menyelidik.

"Saat kamu melihat sekelilingmu kamu pasti akan tahu, bukan?" kata Hashirama.

"Sou kah? Kalau begitu kau pasti akan berusaha mendapatkan informasi dariku dengan segala cara" kata Madara.

"Yah, kurang lebih itulah hal yang diinginkan Tobirama. Tapi... mana mungkin aku akan melakukan hal sekejam itu. Madara, jika terjadi sesuatu, bicarakanlah denganku. Jikalau kamu tak mengatakan apapun aku tak akan mengerti. Aku tak bisa membaca pikiran orang lain" kata Hashirama sambil tersenyum lembut.

"Kenapa aku harus menceritakannya kepadamu? Menceritakannya kepada orang lain tak akan mengubah apapun" kata Madara.

"Tidak! Itu tidak benar! Saat kamu menceritakan masalahmu kepada orang lain, beban dihatimu akan berkurang" kata Hashirama.

"BOHONG!" bantah Madara.

"Aku akan menolongmu! Aku berjanji akan selalu ada untukmu! Itu janji seumur hidupku!" kata Hashirama sambil mencengkram pundak Madara.

"HAH? KENAPA KAU BEGITU PEDULI PADAKU?" teriak Madara kesal.

"Karena AKU MENYUKAIMU!" kata Hashirama dengan suara lantang.

Deg!

"Hah! A, apa maksudmu?!" tanya Madara dengan wajah merah. Oke, Madara sudah sering ditembak orang lain. Karena faktanya Madara cukup populer dikalangan wanita. Tapi, ini pertamakalinya ia mendapat pengakuan cinta dari seorang laki – laki.

Hashirama pun menyadari kebodohannya karena tak sengaja kelepasan bicara. Hashirama menarik napas dalam, lalu menghempaskannya.

"Benar! Aku mencintaimu!" ungkap Hashirama. Hashirama menatap mata Madara. Madara sempat terpesona dengan sorot tegas matanya beserta segala kharisma yang menguap dari tubuhnya.

"A, aku..." Madara mengalihkan pandangannya kelain tempat. Berusaha menghindari tatapan mata Hashirama.

"Aku tak akan memaksakanmu untuk membalas perasaanku ini. Tapi setidaknya percayalah padaku! Aku tak akan pernah menghianatimu! Meskipun Tobirama bahkan seluruh penduduk desa membencimu, aku akan selalu berada dipihakmu!" kata Hashirama meyakinkanku sembari melepaskan cengkraman tangannya di pundak Madara.

"Ba, baka! Kau adalah seorang pimpinan desa, terlebih lagi kau sudah bertunangan dengan gadis dari desa Uzu itu. Kenapa kamu mengatakan hal sememalukan ini kepada seorang laki – laki? Kau sudah gila, ya?" kata Madara yang masih saja belum bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Kamu sudah tahu kalau aku telah bertunangan, ya? Yah, aku bodoh bahkan aku sudah gila. Maaf, aku sudah mengatakan hal yang seegois itu. Jika sekarang kamu belum bisa menerima perasaanku, itu tidak masalah! Aku tak akan menyerah! Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku!" kata Hashirama dengan penuh keyakinan.

"Baka! Padahal kemarin malam kita baru saja bertemu dan kau sudah ja, jatuh cinta padaku?" kata Madara. Hashirama tersenyum.

"Mungkin kamu sudah melupakannya, tapi sebelumnya aku sudah pernah bertemu denganmu" kata Hashirama, pandangannya seakan menerawang masa lalu. Saat ia dan Madara bersama.

"Sou kah? Para Nyokers juga mengatakan hal yang serupa. Selama aku masih berada didunia ini, perlahan – lahan aku akan melupakan segala hal yang telah terjadi" kata Madara sedih.

"Jadi nanti mungkin kamu akan melupakan aku lagi, ya?" tanya Hashirama dengan pandangan sedih.

"Mungkin," kata Madara, "Hey, aku ingin bertanya satu hal kepadamu!"

"Ada apa?" tanya Hashirama.

"Ji, jika aku melupakanmu lagi. A, apa perasaanmu padaku tetaplah sama? Tidaklah mungkin kau akan mencintai seorang yang telah melupakanmu, kecuali jika kau ingin tersiksa seumur hidupmu" kata Madara menunduk kepala. Suraian rambut Madara menutupi sebagian wajahnya.

"Mencintai seseorang yang telah melupakanmu itu, sangatlah menyakitkan," kata Hashirama.

Deg!

"Tapi selama aku masih hidup, perasaanku ini tidak akan pernah mati. Meskipun kamu telah melupakannya, selama aku masih mengingatmu. Itu tak masalah. Aku tetap bahagia!"

"Hashi..." kata Madara senang seakan tak percaya.

.

.

.

.

.

Hening...

Tak ada salah satu insan ini yang berani angkat bicara. Setelah sekian lama akward, akhirnya Madara memulai pembicaraan.

"Ehm, lalu apa yang kau inginkan?" tanya Madara berusaha mengusir rona di pipinya agar fokus.

"Baiklah! Kenapa tadi kamu muntah dan terlihat kesakitan?" tanya Hashirama.

"Kau tidak bertanya, kenapa aku menyerangmu?" tanya Madara.

"Ya, kamu benar. Aku juga ingin menanyakan itu nanti" kata Hashirama.

"Nanti?" tanya Madara heran.

"Kesehatanmu saat ini jauh lebih penting daripada hal itu" kata Hashirama dengan senyum hangat khasnya.

Deg!

"Y, ya. Tadi aku sedikit tidak enak badan" kata Madara sedikit gugup.

Deg! Deg!

"Apa kamu mempunyai penyakit tertentu? Jikalau begitu lebih baik kamu istirahat sejenak" kata Hashirama khawatir.

Deg! Deg! Deg!

"Baka! Gara – gara si baka itu mengatakan hal aneh kepadaku, jantungku jadi berdetak tak karuan seperti ini!" batin Madara.

"Bu, bukan. Ini bukanlah suatu penyakit melainkan sebuah trauma" jelas Madara berusaha tidak terdengar gugup.

"Trauma?" tanya Hashirama heran.

"Ini traumaku sejak aku masih kecil. Aku tak suka membicarakan hal ini. Tapi karena trauma ini aku menjadi sangat anti tentang hal pembunuhan dan beberapa hal lainnya" kata Madara menjadi sedikit muram.

"Kalau kamu tak menyukai hal seperti pembunuhan, kenapa kamu berencana untuk membunuhku?" tanya Hashirama.

"Aku tak punya pilihan lain! Aku tahu hal yang kulakukan ini salah, tapi Bagaimanapun caranya aku harus kembali ke dunia asalku!" kata Madara mencengkeram erat rambutnya dan pundaknya bergetar menahan sedih.

"Memangnya apa yang mereka katakan kepadamu?" tanya Hashirama.

"Satu – satunya cara agar aku bisa kembali ke dunia asalku. Aku harus membunuh senju bersaudara" kata Madara.

"Apakah mereka memberitahu alasannya?" tanya Hashirama.

"Ya, tapi aku tidak begitu mengerti penjelasan mereka," kata Madara.

"Sou kah? Jadi kamu hanya bisa kembali jika aku mati?" kata Hashirama. Hashirama terdiam sejenak. Ia berpikir apakah ada salah satu buku yang pernah ia baca menjelaskan tentang kasus seperti Madara.

.

"Bunuhlah aku, Hashi!"

"Hah?! Apa maksudmu, Madara?" tanya Hashirama terkejut.

"Cepatlah akhiri saja! Lagipula ini adalah kekalahanku. Aku telah tertangkap dengan mudahnya oleh musuhku. Suatu kehormatan bagiku bisa mati ditanganmu" kata Madara pasrah.

"Berhentilah bersikap sok keren seperti itu, Madara! Jika aku membunuhmu disini, itu hanya akan memicu kemarahan para Nyokers dan orang – orang yang menyayangimu" kata Hashirama.

"Tidak ada lagi orang yang memiliki sikap seperti itu. Jika pun ada, mereka tidak berada di dunia yang sama denganku. Aku tak bisa lagi melihat mereka lagi, maupun menyentuhnya" kata Madara.

"Madara, apakah kamu yakin akan keputusanmu ini?" tanya Hashirama. Hashirama mengambil sebuah kunai dan mencengkram eratnya.

"Iya" kata Madara.

Hashirama semakin mendekat ke arah Madara. Kunai yang dicengkramnya menuju ke arah perut Madara. Madara menutup matanya, ia hanya bisa berharap rasa sakit ini akan segera hilang dan ia bisa bertemu kembali dengan keluarganya.

Sreeett... Srreeett..

"Apa maksudmu ini, Hashi?" tanya Madara terkejut karena perbuatan Hashirama. Ikatan tali yang melilitnya kini telah terlepas.

"Pergilah! Kamu akan kembali ke duniamu dan bertemu dengan keluargamu lagi" kata Hashirama.

"HAH? APA MAKSUDMU?! KAU MEREMEHKANKU, YA? DENGAR! AKU TAK BUTUH BELAS KASIHAN DARI ORANG LAIN!" bentak Madara. Madara mencengkram erat kerah baju Hashirama.

"Aku tak bermaksud seperti itu. Lagipula ini juga tidak bisa dikatakan kemenanganku. Kamu kalah karena kamu sedang sakit. Aku menginginkan pertarungan yang adil" jelas Hashirama.

"Cih! Baiklah. Lain kali jika kita bertarung lagi, aku pasti tak akan kalah" kata Madara beranjak pergi.

"Ya" kata Hashirama.

"Walaupun aku berharap hal itu tak akan pernah terjadi lagi. Aku... tak ingin kamu mati sia – sia seperti Kawarama dan Itama! Aku menyayangimu!" batin Hashirama.

Hashirama tiba – tiba teringat sesuatu.

Bagaimana dengan Tobirama? Pasti ia masih bertarung dengan para Nyokers. Aku harus segera menyusulnya!

.

.

.

.

.

~Tempat pertarungan Tobirama Vs Zetsu~

"Hah... hah... hah... Cih! Aku telah banya membuang waktu dan chakraku disini. Dalam keadaan seperti ini aku tak bisa mengejar si bedebah itu" kata Tobirama.

Tobirama beristirahat sejenak di bawah pohon rimbun dekat tempat pertarungannya tadi. Puluhan mayat Zetsu bertebaran disekitarnya.

Srreett.. tuk. tuk.

Sesosok pria terjatuh di dekat tempat pertempuran. Rambut hitam dengan mata berwarna merah darah.

Dia... Uchiha Izuna, kan? Sepertinya ia kelelahan dan banyak luka di tubuhnya. Ini kesempatanku! Tapi melakukannya mempertaruhkan resiko besar karena aku juga berada di kondisi yang sama dengannya.

.

.

Izuna terjatuh dari dahan pohon karena kelelahan.

Sial!

Aku kehabisan banyak chakra. Sudah kuduga membunuh mereka semua sekaligus sangatlah sulit. Aku merasakan seseorang datang!

.

.

Tobirama berlari ke arah Izuna dengan pedang. Izuna pun bangun dan kedua pedang mereka saling berhadapan.

Srring...!

"Cih, Sharingan! Tubuhku tak bisa bergerak!" batin Tobirama.

Izuna menendang perut Tobirama, lalu meninju wajahnya. Tobirama terhempas ke belakang.

Katon : Gokakyu no Jutsu

Suiton : Suiryuudan no Jutsu

Api dan air bertabrakan menimbulkan uap yang menutupi sekitar. Tobirama mempersiapkan kunainya.

Sreeett...

Kunai muncul di depan Izuna.

Srringg...!

"Serangan pembuta. Sangat malang nasib mereka yang tidak memiliki Sharingan!" batin Izuna.

"Eh?" Izuna terkejut disalah satu kunai tersebut ada semacam tanda aneh.

"Jangan – jangan ini?!" Tiba – tiba Tobirama berada di depan Izuna.

Hiraishingiri

Uhuk..

Darah segar keluar dari mulut Izuna.

"Izuna!" kata Madara yang tiba – tiba muncul. Madara menahan tubuh Izuna. Pedang yang ada digenggaman Izuna pun sudah jatuh.

"Bertahanlah! Aku pasti akan menyelamatkanmu!" kata Madara. Madara membopong tubuh Izuna dan pergi.

"Tunggu!" teriak Tobirama. Ia terjatuh, napasnya terengah – engah.

"Aku tak bisa bergerak! Aku telah kehabisan chakra. Kenapa ada Madara disini?! Apa yang terjadi dengan Ani – ja?" batin Tobirama.

.

.

.

.

.

~Tempat Madara dan Izuna~

.

.

"Nii – san, bisakah kita berhenti sebentar" kata Izuna.

"Hah?! Kenapa? Kita harus mengobati lukamu dulu. Aku yakin Pein sialan itu bisa mengobati lukamu" kata Madara terus melompati dahan pohon.

"Kumohon, berhentilah sejenak" pinta Izuna. Akhirnya Madara pun mengalah dan berhenti di dekat sebuah danau.

"Ada apa , Izuna? Aku akan menutupi lukamu dulu" kata Madara. Madara membaringkan tubuh Izuna. Ia menyobek lengan bajunya untuk membalut luka Izuna.

"Nii – san. Gomen" kata Izuna tertunduk. Madara tersenyum tipis.

"Ternyata ia dan Izuna sangatlah mirip" batin Madara.

"Untuk apa kamu minta maaf? Aku tak tahu ninjutsu medis. Jadi aku hanya bisa memberimu pertolongan pertama. Lebih baik kita segera pergi! Aku yakin si mayat (Tobirama) sialan itu pasti akan mengejar kita" kata Madara.

"Maaf, aku sudah membohongimu. Lebih tepatnya aku telah membiarkan Pein mengatakan kebohongan itu" kata Izuna.

"Kebohongan?" tanya Madara heran.

"Semuanya. Semua ini hanyalah kebohngan semata. Aku bukan otoutomu. Mereka hanya memanfaatkan kekuatanmu agar bisa membunuh senju bersaudara" kata Izuna.

"Kenapa mereka sangat ingin membunuh senju?" tanya Madara.

"Entahlah? Permusuhan ini telah ada sejak lama. Shinobi yang diberi gelar rama harus memberantas para Nyokers. Itu adalah tugas mereka," kata Izuna.

"Nii – san, tidak Uchiha Madara. Hanya ada satu cara agar kamu bisa kembali ke duniamu. Kamu harus membunuh Nyokers. Senju bersaudara juga bisa dikatakan Nyokers karena itulah Pein mengarahkanmu kepada mereka."

"Jadi, bagaimana pun caranya aku harus membunuh Hashi, ya?" kata Madara pelan. Izuna pun meletakkan sebuah kunai di tangan Madara.

"Nii – san, bunuhlah aku!"

"EH?"

"Aku jugalah seorang Nyokers. Maka dengan membunuhku kamu bisa kembali ke duniamu" kata Izuna.

"Itu tak mungkin! Aku tak akan pernah bisa membunuhmu" kata Madara.

"Dengan begitu kamu akan kembali ke duniamu. Kita hidup di dunia paralel. Dalam duniamu, kamu sedang tak sadarkan diri. Jika kamu telah menyelesaikan tugas disini, kesadaranmu akan kembali ke dunia aslimu" jelas Izuna.

"Kenapa aku harus membunuh orang lain untuk kembali ke duniaku? Kenapa aku harus mengorbankan orang lain hanya demi kepentinganku sendiri?!" tanya Madara.

"Entahlah. Yang terpenting Nii – san harus selamat!" kata Izuna tersenyum lembut.

DEG!

Izuna...

.

.

.

.

.

"Madara!" teriak Hashirama berlari menuju kesini.

Deg!

"Senju Hashirama, kah? Sepertinya pertarungan kita akan berlanjut disini. Izuna, menjauhlah!" kata Madara.

Padahal baru sebentar saja aku berhasil melarikan diri dari si mayat itu sekarang aku malah bertemu si baka ini!

Katon : Gouka Mekkyaku

Api itu memiliki jangkauan yang luas. Bahkan, api itu telah menjalar dan membakar hutan disekitar.

"Madara!"

"Hashirama!"

Mereka berdua berlari sambil memegang erat pedang, mereka saling berusaha untuk menghabisi lawan. Hashirama berhasil terhempas ke belakang.

"Ini kesempatanku!" batin Madara.

Madara mengarahkan pedangnya ke Hashirama.

Strraakk! Crroott!

"Eh?" darah segar mengalir deras dari luka yang diberikan Madara. Tapi sayangnya darah itu keluar dari tubuh yang tak ingin Madara lukai. Tubuh yang di penuhi darah ini terkulai lemas dan terjatuh.

"Ni, nii – san. Syukurlah... kamu... baik... baik...saja... hoek! Gomen" kain yang membalut luka Izuna telah menjadi merah dan tak bisa menghentikan keluarnya darah.

Treeeenggg

Tubuh Izuna bercahaya. Arwah Izuna melayang keluar dari tubuhnya.

"Izuna!"

"Nii – san! Aku benar – benar minta maaf!" kata arwah Izuna pergi menyisakan tubuhnya yang telah menjadi abu.

"Madara. Gomen. A, aku..." kata Hashirama.

"Ini salahku!"

"Madara..."

"A, adikku mati... lagi – lagi aku membunuh adikku..." kata Madara. Terlihat jelas Madara berusaha menahan isak tangisnya. Air matanya tak dapat ditahan lagi, bahunya pun bergetar.

"Tidak, Madara! Ini bukan kesalahanmu! Izuna mati karena keinginannya. Ia ingin mati agar keinginanmu terpenuhi!" kata Hashirama. Hashirama memeluk lembut si pujaan hati. Madara tidak melakukan penolakkan. Ia menenggelamkan wajahnya di bajuku.

Trreeeengg

Tubuh Madara bercahaya.

"Sepertinya aku akan pulang" kata Madara berusaha melepaskan diri. Ia mengelap sisa – sia air mata. Hashirama tak menjawab, ia menundukkan wajah dan mengeratkan pelukannya.

"Ha, hashi?" kata Madara dengan wajah memerah. Pelukannya terasa hangat dan nyaman. Ini... adalah perasaan yang sama seperti saat itu. Ketika aku bersama keluargaku...

Cup

"Hashi!" kata Madara melepaskan diri karena terkejut. Ini adalah pertama kalinya ia berciuman kepada orang lain yang bukan saudaranya. Memang ciuman itu hanya berlangsung cepat. Tapi sebagai Uchiha Madara, ia merasa sangat tersinggung. Baginya belum pernah berciuman adalah kebanggaan tersendiri. Ia berpikir tak ada satupun orang yang berhak mendapatkan ciuman darinya (Minus keluarganya). Tapi setelah bertahun – tahun ia menjaga pride – nya, ia tak menyangka first kiss nya diambil oleh laki – laki dengan sangat tidak romantisnya. Meskipun Madara berusaha mengelak bahwa sebagian kecil dirinya merasa cukup senang.

Sedikit...

"Hah. Baiklah anggap saja itu sebagai tanda perpisahan kita. Walaupun aku tidak mempunyai perasaan yang sama bodohnya denganmu" kata Madara. Madara tahu perkataannya memanglah kejam. Tapi ia akui ia tidak mencintai Hashirama. Perasaan yang ia alami hanya perasaan nyaman yang akan hilang seperti fatamorgana. Ia juga tak berniat sama sekali untuk memberikan harapan palsu. Percintaan adalah hal yang tak berguna!

"Tidak! Ini bukanlah perpisahan aku tak akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu" kata Hashirama dengan tegas.

"Hah? Apa maksudmu?" tanya Madara kesal. Apa – apaan dia ini? Hashirama tersenyum.

"Selama kita tidak mengatakan perpisahannya, maka kita pasti akan bertemu lagi" kata Hashirama.

Deg!

"Heh, yatah? Yah... terserahmu!" kata Madara seakan tak percaya.

"Mari bertaruh!" kata Hashirama.

"Heh, taruhan? Baiklah akan kulakukan. Apa hukumannya jika kalah?" kata Madara.

"Jika kau kalah, kau harus menyapaku dan berteman denganku. Lalu aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!" kata Hashirama.

"Apa – apaan itu!" teriak Madara " Jika aku menang... entahlah aku belum memikirkannya. Lagipula jika aku menang, aku tak akan bisa bertemu dan menghukummu"

"Janji, ya!" kata Hashirama mengangkat jari kelingkingnya.

"Ya" kata Madara mengaitkan jari kelingkingnya.

Srrrrriinngg!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku membuka mataku. Aku langsung mengenali tempatku berada dari bau obat yang menyengat di hidungku. Are? Ada yang menimpahku?

Izuna!

"Hoy, Izuna apa kamu baik – baik saja?" tanya Madara panik, ia menggoyangkan pundak pemuda yang tertidur lelap disampingnya.

"Engh... Nii – san?" kata pemuda itu masih setengah ngantuk. Butuh waktu beberapa detik agar otaknya dapat menyegarkan kembali mata pemuda ini. "Ehhh? Nii – san! Apa kau baik – baik saja? Apa kau terluka?"

"Baka! Aku baik – baik sa–ugh" kata Madara ketika menyadari tubuhnya terasa kaku.

"Jangan banyak bergerak dulu, Nii – san! Kamu sudah lama tak sadarkan diri. Ah! Dokter aku akan memanggil dokter. Tunggu sebentar! Aku akan segera memanggil dokter" kata Izuna terburu – buru ingin keluar ruangan.

"Hoy! Tunggu!" kata Madara.

"Kenapa?" tanya Izuna panik.

"Janganlah kamu panik! Jika kamu ingin memanggil dokter, tak perlu repot – repot pergi mencarinya. Bukannya ada tombol untuk memanggil dokter" kata Madara sambil menunjuk tombol yang ada didekatnya.

"Eh? Gomen!" kata Izuna malu merutuki kebodohannya. Tak lama setelah memencet bel, dokter datang memeriksa keadaan Madara. Ia memberi Madara obat dan pergi meninggalkan ruangan.

"Oh, ya apa Izuna selalu menungguku untuk sadar?" tanya Madara.

"Uhm... aku selalu menunggu Nii – san disini. Hehehe..." kata Izuna dengan senyum manisnya.

"Maaf merepotkanmu," kata Madara tersenyum sambil mengusap kepalanya. Senyum di wajah Izuna semakin melebar "Oh, ya kalau kamu selalu disini bagaimana dengan sekolahmu?"

Senyum di wajah Izuna langsung luntur. Ekspresi di wajahnya langsung terganti dengan wajah harap – harap cemas.

"Etto. Hm... Aku meninggalkan tempat pertarungan untuk menjaga Nii – san dari incaran para shinobi dan Nyokers! Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi! Aku telah memusnakan The Nyokers, jadi tidak ada yang bisa menganggu kita lagi. hahahahaha..." kata Izuna sambil berkacak pingang. Entah apa yang terjadi, tiba – tiba Madara seakan mendapat kekuatan untuk bangkit dari kasur rumah sakit dan menjitak kepala adik sematawayangnya ini.

"Jadi kamu bolos, hah?!" teriak Madara megunci leher adiknya dengan lengannya.

"Go, gomen, Nii – san! Habisnya Nii – san ditemukan tak sadarkan diri di hutan dekat tempat kerja Nii – san. Aku khawatir, sudah berminggu - minggu Nii – san tidak bangun – bangun juga. Jadi lebih baik aku menjaga Nii – san" kata Izuna berusaha melepaskan diri.

"Aku pingsan?" tanya Madara bingung.

"Ya. Toko di samping tempat kerjamu terjadi kebakaran dan apinya merambat ke sekitar distrik. Kebakaran ini menyebabkan cukup banyak korban, jadi hiks jadi aku... khawatir Nii – san hiks–"

"Tenanglah. Aku sekarang baik – baik saja!" kata Madara memeluk Izuna.

Hoamm...

"Entah kenapa aku merasa mengantuk" kata Madara.

"Mungkin saja dokter memberi obat tidur agar Nii – san dapat beristirahat" kata Izuna.

"Aku ingin istirahat sejenak. Izuna, kamu juga harus beristirahat!" kata Madara. Perlahan – lahan mata Madara mulai menutup. Tubuhnya naik turun mengikuti irama napasnya. Kesadarannya telah tenggelam dalam alam mimpi. Tak menyadari perubahan keadaan disekitarnya.

Izuna tersenyum. Tapi jika diperhatikan lebih jelas lagi, senyum manis yang biasanya ia pancarkan itu sirna tergantikan sebuah senyum kelam yang masih belum dapat diterjemahkan maksudnya. Tatapan matanya menajam seiring dengan perubahan bola matanya. Bola mata semerah darah dengan tiga tomoe.

"Oyasuminasai, Ani – ue"

.

.

.

.

.

-Madara's POV-

Aku beristirahat sejenak sembari memesan Coffe di cafe. Aku meluruskan kakiku di bawah meja cafe yang kutempati. Tempat ini cukup sepi dan pas untuk menenangkan diri.

Aku merasa pusing sekali!

Setelah beberapi hari menginap di rumah sakit, aku sudah dibolehkan pulang. Meskipun aku harus melakukan terapi rutin karena aku koma terlalu lama. Menyebalkan! Baru saja keluar dari rumah sakit, aku sudah mendapat banyak masalah baru. Pertama, karena toko tempatnya bekerja terbakar, aku harus mencari pekerjaan baru. Terlebih lagi uang tabunganku terkuras cukup banyak karena biaya pengobatan. Kedua, Izuna telah bolos selama berminggu – minggu, ia mendapatkan teguran dari sekolah. Untung saja sekolah masih berbaik hati untuk tidak mengeluarkannya! Meskipun alasannya karena iba mendengar bahwa keluarga satu – satunya tak sadarkan diri di rumah sakit dan tak ada yang bisa menemani.

Hah! Melelahkan!

Seandainya ada seseorang yang bisa kuajak bicara untuk menghilangkan penatku.

"Karena AKU MENYUKAIMU!"

DEG!

Baka! Aku langsung menampar kedua pipiku unutuk menyadarkan kebodohanku ini. Kenapa disaat seperti ini aku harus mengingat perkataan si baka itu!

Pfft! Aku merasa sangat bodoh karena menyukai seseorang dalam alam khayalku. Yah, tapi mau bagaimana lagi? Ia tampan, kaya, baik hati. Ia adalah tipe laki – laki , ya pengecualian untuk otak bodohnya itu. Jika aku perempuan, aku pasti tak akan menolaknya.

.

.

.

Eh?!

Kenapa aku malah berpikiran bodoh seperti itu!

Madara sadarlah! Kau laki – laki! Tak seharusnya kau membayangkan hal seperti itu!

Hah! Mungkin saja karena umurku telah memasuki waktu dimana sesorang harus mencari pasangan hidupnya karena itulah aku bermimpi ada sesorang yang nyaris sempurna menyukaiku. Tapi kenapa aku harus bermimpi ada laki – laki yang menyukaiku! Kenapa aku tak bermimpi ada seseorang wanita yang...

Yang?

Aku tak tahu. Aku straight. Aku bisa pastikan itu. Meskipun aku belum pernah pacaran. Tapi entah kenapa aku tak pernah bisa membayangkan calon istri idamanku? Setiap kali aku mendengar kata wanita, yang terbayangkan di kepalaku hanyalah ibuku dan Imoutou-ku. Aku sama sekali tak pernah berpikiran untuk mencari calon istri. Aku selalu kerja dan memikirkan Izuna. Tak ada yang lain.

Tapi saat aku koma, aku malah bermimpi sosok suami idamanku menyatakan cinta denganku! Ia mengatakannya dengan romantis, tidak seperti orang – orang sebelumnya yang pernah menembakku.

Eh?

SADARLAH UCHIHA MADARA!

Aku mengacak – ngacak rambutku dengan kasar.

Kenapa aku berpikiran bodoh seperti ini?! Ini pasti gara – gara Hashi!

Hashi...

Sekarang dimana ia?

Apa para Nyokers akan membunuhnya?

Apakah ia baik – baik saja?

Sedang apa dia sekarang?

Apa ia masih mengingatku, atau ia telah melupakanku?

Apa ia mengkhawatirkanku, atau malah mengabaikanku?

Apa perasaannya masih tetap sama?

Apa ia masih menyukaiku, atau malah membenciku?

Apa ia telah mendapatkan penggantiku?

Baka! Kenapa? Padahal aku tahu sosokmu yang kukagumi itu hanyalah halusinasiku saja! Padahal aku tahu perkataan, perilaku, bahkan keberadaanmu itu adalah sebuah kebohongan. Tapi kenapa aku tetap tak dapat melenyapkan keberadaanmu di pikiranku?

Aku merasa sangat kesal pada diriku yang tak pernah bisa berhenti memikirkanmu!

.

.

.

Aku menyeruput Latte yang kupesan dengan perlahan,berusaha mengenyahkan pikiran bodohku ini. Setelah menghabiskan minumanku, aku membayarnya ke kasir, dan beranjak pergi. Aku memutar knop pintu cafe dan menariknya. Aku meliat seseorang berdiri berhadapan denganku. Aku terkejut bukan main!

"Hashi?" ucapku kepada sosok didepanku ini. Aku lihat ia juga terkejut sama sepertiku. Lalu, ia tersenyum lembut.

Benar – benar mirip! Mata yang cerah, kulit coklat tan, serta senyum yang selalu ia sunggingkan.

"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!"

DEG!

Hashi... ternyata kamu tidak berbohong, ya? Entah kenapa aku merasa senang dan sangat bersyukur. Tak menyangka, aku sampai ikut tersenyum tipis. Sepertinya perjalanan cintaku akan terus berlanjut.

.

END

Tapi ceritanya cukup sampai disini saja. Wkwkwk…. Thanks bagi kalian yang tetap baca cerita ini sampai tamat.. terharu saya. Thanks bagi para reader and review, and see you next time!