LET'S READ
CLUE
"Hn.. Terima kasih" balas Sasuke dan sedikit mengagetkan Tsubaki hingga dia berhenti sejenak, kemudian dia menoleh ke arah Sasuke dan
'Blush'
Rona merah di pipinya pun semakin bertambah. Bagaimana tidak, selama ini yang dia tau Sasuke tidak pernah berekspresi sedikit pun padanya dan Sona, tapi kali ini dia melihat Sasuke tersenyum, Yah walaupun hanya sedikit tapi itu terlihat tulus. Dan senyumannya tersebut merupakan senyuman yang menawan baginya. Tsubaki pun mengangguk dan kemudian melanjutkan berjalan menuju ke tempat Sona dan yang lainnya.
Sasuke nampak mengangkat bahu ketika melihat model pakaian atau seragam Akademi yang menurutnya aneh tersebut, karena selama dia di Akademi ninja pakaian semua muridnya pun bebas, tidak perlu seragam seperti ini. Sasuke pun dengan santai berjalan menuju kamarnya untuk ganti baju.
Di tempat Sona dan yang lainnya nampak sedang heboh dengan pemikiran masing-masing sampai Tsubaki datang dan jadi pusat perhatian. "Kau kenapa Tsubaki?" tanya Sona penasaran ketika melihat muka merah yang seperti terpeSona oleh sesuatu tersebut. Yang lainnya pun juga nampak penasaran dengan apa yang terjadi dengan Tsubaki tersebut.
"T-Tidak apa-apa Kaicho.." balas Tsubaki tergagap dan sedikit salah tingkah. Sona pun nampak memicingkan matanya seolah tak percaya dengan jawaban Tsubaki tersebut. Tsubaki pun nampak berkeringat dingin melihat tatapan dari sang ketua tersebut.
"Ada apa senpai? Apa budak baru itu menyakitimu?" tanya Saji seolah ingin menjadi pahlawan, sementara itu Tsubaki dan para budak Sona yang lainnya nampak menatap bosan Saji dan mengabaikannya. "Uchiha-san akan segera siap.." jelas Tsubaki mencoba membuat sang Kaicho mengalihkan pembicaraan.
"Huah, aku harap dia tampan..." kembali ucap Ruruko dengan mata berbinar sambil menunggu orang yang diharapkan segera keluar. 'Huh, dia memang terlihat culun tapi entah kenapa aku tertarik padanya..' batin Sona tersenyum sambil mengingat wajah si Uchiha terakhir tersebut.
"Lama sekali dia berganti pakaian.. seperti wanita saja" ucap budak Sona yang bernama Tsubasa Yura. Sementara itu yang lainnya juga nampak bosan menunggu budak baru Sona yang lama berganti pakaian tersebut. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya seseorang yang baru muncul.
.
.
.
"K-Kau..."
.
.
Semua yang ada di ruangan tersebut nampak diam setelah Sona mengucapkan satu kata dengan terbata tersebut sampai.
"Kyaaaaaaaa... Tuan tampan namamu siapa?"
Ucap Ruruko dengan mata berbinar + menempel mesra Sasuke. Nampak budak Sona yang lain pun ikut terpeSona dengan penampilan orang yang baru datang tersebut a.k.a Sasuke. Sedangkan Sasuke nampak biasa saja dengan tatapan datarnya, Saji jangan ditanya lagi sudah terlihat shock dengan adanya orang tampan tersebut.
"U-Uchiha S-Sasuke..." ucap Sona tergagap dengan rona merah di pipinya karena melihat wajah asli Sasuke yang tidak culun, keadaan pun semakin bertambah heboh ketika mendengar ucapan Sona.
"Uchiha Sasuke? Jadi kau keluarga baru Kaicho itu?" tanya Ruruko masih setia menempel Sasuke, sementara Sasuke nampak ber "hn" ria sambil mengangguk. Tsubaki yang dari tadi merona kini nampak merah seperti tomat. Saji pun nampak terlihat mendung di atas kepalanya melihat kenyataan budak baru Sona yang begitu tampan dan menawan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sasuke memecah keheningan melihat Sona dan para budaknya nampak diam dan menatapnya aneh. Sona pun nampak tersentak mendengar pertanyaan Sasuke tersebut dan segera kembali ke posisinya.
"Ehem.. Perkenalkan dia Uchiha Sasuke, keluarga baru kita.." jelas Sona dengan nada berwibawa walaupun terlihat masih ada rona merah di pipinya. Semua yang ada diruang tersebut pun terlihat masih menatap Sasuke dengan tatapan kagum + rona merah di pipinya, kecuali saji yang nampaknya cemberut.
"Dan Uchiha Sasuke perkenalkan mereka adalah anggota Peerage ku.." ucap Sona menjelaskan, dan memberikan kode pada anggotanya untuk memperkenalkan dirinya masing-masing.
"Tsubasa Yura, aku adalah Rook dari Sona Kaicho.. salam kenal Uchiha-san" ucap gadis dengan warna rambut biru agak kehijauan, sambil sedikit merona melihat tampilan sasu-chan (Sasuke) yang err terlihat mempeSona di mata wanita di dimensi ini.
"Namaku Tomoe Meguri... Aku adalah Knight dari Sona Kaicho, salam kenal.." tambah gadis berambut merah pudar memperkenalkan diri dengan tersenyum ke arah Sasuke.
"Momo Hanakai desu.. Bishop dari Sona kaicho salam kenal..." ucap gadis berwarna rambut silver dengan agak cepat, sepertinya dia sedikit grogi dengan pemuda yang ada di depan matanya saat ini.
"Reya Kusaka.. S-Saya juga Bishop dari Sona Kaicho.." ucap gadis berambut cokelat dengan agak terbata + rona merah di pipinya sambil menundukkan kepalanya, sepertinya ia ragu untuk menatap si pemuda yang ada di depannya yang menurutnya terlihat tampan itu.
"Ruruko Nimura dan aku adalah Pawn dari Sona Kaicho salam kenal Tuan Uchiha tampan..." ucap gadis agak kecil berambut cokelat twintail ceria sambil menempel ketat si Uchiha terakhir. Sementara yang di tempel justru memasang wajah datar bak tembok tersebut.
Dan yang terakhir "Genshirou Saji.. Pawn dari Kaicho.." ucap saji memperkenalkan diri dengan cuek, sementara para gadis langsung menatapnya tajam. 'Gleekk' saji pun hanya bisa menelan ludah melihat tatapan maut tersebut.
"Hn..." balas Sasuke singkat datar dan tanpa ekspresi membuat Sona hanya bisa memijit keningnya melihat kelakuan anggota barunya tersebut. Sementara para gadis lain nampak sedikit kaget dan kecewa dengan jawaban Sasuke tersebut. Nampak saji dengan urat-urat di kepalanya menahan amarah pada Sasuke.
"Hei, apa maksudmu dengan menjawab 'hn' tersebut brengsek..." ucap saji agak marah dengan jawaban si Uchiha terakhir tersebut. Nampak dia sudah mengepalkan tangannya ingin memukul Sasuke. Sementara Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya saja.
"Sialan kau-" 'Swush' ucapan saji berhenti ketika dia kaget melihat Sasuke dengan cepat sudah berada di sampingnya dengan merangkul bahunya dari arah depan dengan tangan kanannya. 'C-Cepat sekali...' batin saji terkagum. Nampak Sona dan para budak yang lainnya juga kaget melihat Sasuke yang santai di depan mereka semua sudah berada di samping saji.
Sasuke pun nampak mendekatkan bibirnya ke telinga saji yang masih agak shock dengan Sasuke. "Sebaiknya kau diam, atau aku bisa saja membunuhmu di sini..." ucap Sasuke dingin dengan tangan kiri yang sudah muncul percikkan listrik. Kembali Sona dan budaknya di buat kaget dengan kemampuan Sasuke yang bisa mengeluarkan listrik dari tangannya. Sementara itu saji nampak berkeringat dingin mendengar ucapan Sasuke dan juga tangan Sasuke yang sudah di lapisi listrik tersebut.
Sona yang lebih dulu sadar dari keterkejutannya segera memperingatkan Sasuke. "Sasuke hentikan! Apa kau ingin membunuh saji..." ucap Sona agak keras memperingatkan Sasuke. Sementara Sasuke nampak tak peduli namun kemudian menatap ke arah Sona dan yang lainnya. Shock kembali melanda Sona dan para budaknya melihat mata Sasuke yang mulanya hitam legam kini berganti dengan warna merah darah dengan 3 tomoe yang melingkar di dalamnya.
"Hn..." balas Sasuke dengan agak santai kemudian dengan perlahan mata Sasuke pun nampak berubah kembali menjadi hitam legam. "Bukankah ini hari pertamaku ke sekolah? Lebih baik kau segera mengantarkanku Nona.." tambah Sasuke sambil menatap ke arah Tsubaki. Sadar dari keterkejutannya tsubaki pun langsung mengangguk dan berjalan ke arah pintu, Sasuke dengan santai pun segera mengikuti tsubaki pergi keluar ruangan tersebut.
Sementara Sona dan budak yang lainnya pun masih terpaku dan terdiam di tempat. "A-Apa itu tadi Kaicho?" tanya Momo dengan wajah terkejut dan agak takut. Sama juga dengan momo Sona pun nampak kaget dengan apa yang dimiliki oleh budak barunya tersebut.
"A-Aku tidak tau... yang aku tau dia sanggup melawan petinggi malaikat jatuh sendirian" balas Sona masih dengan wajah terpaku, namun jawaban Sona justru menambah keterkejutan para budaknya, terlihat kini ruangan tersebut sepi sunyi tidak ada suara apapun. Bahkan saji yang tadi terlihat marah dan ingin menghajar Sasuke nampak pucat pasi dan kaki yang bergetar.
"Me-Melawan petinggi malaikat jatuh sendirian?" Ucap saji tak percaya dengan keringat dingin yang semakin banyak. Tampak budak Sona yang lainnya juga memikirkan hal yang sama mengenai budak baru Sona yang tak lain adalah Sasuke.
'S-Seperti apa kekuatan mu yang sesungguhnya..' batin Sona dengan pandangan yang sulit diartikan setelah melihat kemampuan Sasuke tadi. Ya, memang jika sudah menjadi iblis dia pasti akan memiliki kelebihan dari pada manusia biasa, tapi ini? Baru jelas lebih dari yang pernah dia tahu. 'Huh, seharusnya aku tidak bereaksi seperti ini, mengingat dia memang pernah bertarung dengan seorang petinggi malaikat jatuh sendirian..' batin Sona menghela nafas namun kemudian dia sedikit tersenyum. 'Kau memang unik Sasuke-kun...' batin Sona tersenyum, namun sedetik kemudian dia sedikit menegang namun kemudian wajahnya terlihat merona.
Sementara itu para budak Sona terlihat melamunkan hal tadi dengan ekspresi yang berbeda-beda ada yang menegang dan berkeringat dingin seperti saji, ada yang terlihat shock bahkan ada pula yang terlihat berbinar melihat kemampuan Sasuke tadi.
"Ehem.. lebih baik kita segera menuju kelas masing-masing.. mengingat ini sudah hampir waktunya pelajaran dimulai..." ucap Sona berwibawa dari tempat duduknya namun kemudian dia segera berdiri dan bersiap pergi menuju kelasnya. Para budaknya pun juga ikut mengekor Sona dari belakangnya.
Di Suatu Tempat
Di sebuah ruangan atau lebih tepatnya kamar, terlihat seorang pemuda yang sedang tertidur mengenakan selimut tebal. Namun tak berapa lama terlihat ada yang bergerak-gerak di bawah selimut tersebut. Sesuatu yang nampaknya terbangun dari bawah selimut tersebut, tak lama terlihat dari bawah selimut tersebut nampak sesuatu berwarna hitam, terlihat seperti helaian rambut.
"Nggh..." gumam sang pemuda ketika merasakan ada yang bergerak dari bawah selimut yang dia kenakan. Dengan agak malas dia pun mencoba membuka selimut tersebut walaupun dia sendiri masih belum 100% sadar. Dengan sekali tarikan selimut tebal itu pun berhasil menghilang dari tubuhnya dan objek yang ada dibalik selimut.
Dengan tampang malas dan datar sang pemuda pun menatap bosan objek tersebut. Tampak seorang gadis kecil dengan rambut hitam sedang memeluk tubuhnya dengan sesekali menggeliat ketika sang pemuda melakukan pergerakan. Nampak sang pemuda hanya bisa menghela nafas melihat kebiasaan si gadis yang selalu saja menyelinap masuk kamarnya untuk tidur dengannya.
"Hei... bangunlah!" perintah dari sang pemuda mencoba membangunkan si gadis. Namun malah terlihat si gadis semakin mempererat pelukannya dan seperti tak ingin berpisah dengan tubuh sang pemuda. Sang pemuda pun nampak mengkerut melihat si gadis yang tak mau bangun dan melepaskan pelukannya.
"Hoi, bangun... atau aku akan..." seru si pemuda sambil mendekatkan mulutnya ke telinga si gadis berambut hitam. 'Splash' tiba-tiba mata si gadis yang tadinya tertutup segera terbuka, tanpa ada aba-aba wajah si gadis sudah berada sekitar 5 cm dari wajah si pemuda. "Ohayo Naruto-kun.." sapa si gadis dengan wajah imut baru bangun tidur. Sementara si pemuda yang dipanggil dengan nama Naruto tersebut nampak kaget dengan reaksi dari si gadis yang tiba-tiba sudah berada 5 cm dari wajahnya.
Si gadis pun dengan santai mengalungkan kedua tangannya ke leher sang pemuda. Nampak si gadis secara perlahan mendekatkan bibirnya ke arah bibir sang pemuda. "A-Ano..." si pemuda nampak salah tingkah. "Ne, ada apa? Bukankah ini waktunya ciuman bangun tidur?'' balas si gadis nampak cuek dan semakin mendekatkan bibirnya. Sementara nampak sang pemuda sudah terpojokan.
'Braaakk!'
"Ohayo Naru-kun.. waktunya..." omongan seorang gadis lain yang tiba-tiba masuk kamar sang pemuda dengan menjebol pintu yang tidak dikunci dan menghentikan aktivitas 2 orang yang sedang berada di ranjang. "Kyaaaa... Ap-apa yang sedang kau lakukan Ophis-chan?" jerit dan tanya sang gadis yang baru datang kepada si gadis yang akan melakukan aktivitas ciuman paginya kepada sang pemuda tersebut.
"Cih.." gumam Ophis ketika aktivitas paginya diganggu oleh gadis yang baru datang. "Te-tenanglah dulu kuroka, ini hanya salah paham.." ucap sang pemuda a.k.a Naruto mencoba menenangkan kuroka dan memberikan penjelasan. "Ke-kenapa kalian berdua 1 ranjang da-da-dan be-berpelukan..." seru kuroka nampak dengan muka memerah kesal dan malu. "I-ini hanya salah paham.." balas Naruto memberi penjelasan. Sementara ophis nampak tersenyum mengejek kepada kuroka dan semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Naruto.
"Salahkah jika pasangan suami istri tidur bersama?" tanya ophis tersenyum mengejek kepada kuroka. Kuroka pun nampak semakin kesal dengan ucapan ophis tersebut. "A-apa kau bilang?" tanya kuroka nampak marah. "A-Ano kalian berdua hentikan... ini hanya salah paham.." ucap Naruto mulai melerai pertengkaran yang akan terjadi di kamarnya tersebut. "Ophis bisakah kau menghentikan ini semua.." pinta Naruto kepada ophis yang masih memeluknya. Sementara ophis nampak cuek dengan permintaan Naruto.
Kuroka pun nampak sudah tidak bisa membendung kemarahannya. "D-Dasar Dorobo Neko (Kucing garong/orang ketiga)" ucap kuroka mengejek ophis yang tidak tau malu. Sementara ophis hanya menatapnya datar dan mengejek. "Dorobo Neko? Bukankah kau sendiri seekor Neko (kucing)?" sindir ophis balas mengejek. "A-Apa.. ku-kurang ajar.." balas kuroka semakin panas dengan pernyataan ophis yang juga ada benarnya.
Sementara Naruto yang merasa situasi semakin memanas pun segera mengambil inisiatif. "tidak ada cara lain.." gumam Naruto. Naruto pun bersiap memusatkan cakra nya. Sementara ophis dan kuroka yang masih saling menatap tajam dan nampak muncul percikan listrik di antara tatapan mata mereka. Tidak sadar kalau Naruto sudah bersiap melakukan sesuatu.
'Swush'
Kilatan kuning di dekapan ophis menandakan hilangnya Naruto dan mengalihkan perhatian mereka berdua. "Apa?" kaget ophis melihat orang yang ada di dekapannya menghilang. "kemana Naruto-kun?'" tanya kuroka yang juga melihat Naruto sudah tidak ada. "Dasar pengganggu.." ejek ophis setelah gara-gara datangnya kuroka rencananya jadi gagal. "Apa? Dasar gadis kecil Hentai.." balas kuroka tak mau kalah. Dan begitulah seterusnya mereka berdua saling melemparkan ejekan satu sama lain.
Sementara itu Naruto yang berada dibalik tembok dekat pintu masuk kamar hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan 2 gadis yang ada di kamarnya. Nampaknya pagi hari yang diharapkan Naruto akan tenang dan damai tidak bisa terwujud dengan hadirnya 2 gadis penghancur pagi harinya itu.
Kuoh Akademi
Matahari kian terik menyinari seisi bumi. Di sebuah halaman belakang bangunan atau lebih tepatnya sekolah terdapat seorang pemuda berambut hitam berwajah tampan tapi cuek a.k.a Sasuke sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku, sebuah buku tentang dunia yang baru didatanginya ini.
'Ternyata begitu banyak perbedaan dunia ini dengan dunia ku' batin Sasuke nampak sedikit pusing dengan banyaknya pengetahuan baru yang dia dapatkan dari dunia barunya. 'Kenapa si bodoh itu harus terjebak ke dunia ini juga..' batin Sasuke sedikit kesal dengan teman baiknya yang dibilang bodoh tersebut. Tampak Sasuke pun menghela nafas dengan situasi yang harus dia alami saat ini.
Sementara tak jauh dari tempatnya berteduh dan membaca nampak ada 2 orang yang memperhatikannya. 2 orang gadis yang sudah dia kenal yaitu Sona dan tsubaki, yang nampak asik mematai Sasuke. Nampak Sona dengan pipi merona melihat wajah tampan Sasuke yang damai saat membaca buku yang ada di tangannya. 'Dia benar-benar tampan..' batin Sona. "Ano Kaicho, kenapa kita harus mematainya?" tanya tsubaki nampak bingung dengan perintah sang ketua. "Haa Hee, Apa?.. aku hanya takut dia berkhianat dari kita.." jawab Sona kaget, kelabakan dan salah tingkah dengan wajah merah malu. 'Kelihatan sekali bohongnya..' batin tsubaki agak sweatdrop mendengar jawaban dan tingkah ketuanya. 'Tapi kalau dilihat dia memang tampan, pantas kaicho suka terhadapnya, hmm dia lelaki idaman wanita... Eh, apa yang aku pikirkan? Mungkinkah aku..' batin tsubaki yang juga ikut memerah wajahnya setelah memperhatikan Sasuke dari jauh.
Sementara itu Sasuke yang diawasi nampak cuek dan sudah tau jika Sona dan tsubaki berada tak jauh darinya. 'Mereka berdua apakah tidak ada pekerjaan selain mengintip orang yang sedang membaca..' batin Sasuke agak sedikit risih terus diawasi dari tadi. "Yah, terserahlah... mungkin itu sudah pekerjaan mereka' lanjut Sasuke cuek dan terus membaca buku yang dia pegang.
Hari pertama Sasuke bersekolah pun akhirnya berlalu dengan sedikit pengetahuan baru di pikirannya. Nampak kini Sasuke sedang berjalan di lorong sekolah dan bermaksud untuk kembali ke ruang osis, tapi entah kenapa sepertinya dia malah nyasar kearah bangunan tua yang berada di lingkup sekolah tersebut.
'Rumah itu nampak sedikit menarik..' batin Sasuke terus melangkahkan kakinya ke arah rumah/bangunan tua tersebut. Semakin dekat dengan rumah tersebut Sasuke seperti merasakan aura yang sama seperti Sona dan peerage nya. 'Sebenarnya tempat apa ini? Mungkinkah tempat perkumpulan iblis?' tanya Sasuke dalam hati dengan bersikap waspada ketika semakin dekat dengan bangunan.
Sementara itu di dalam ruangan nampak semua anggota peerage Rias sedang duduk dan berbincang. "Setelah kau mencampakannya sekarang kau menyesal Rias?" tanya seorang gadis berambut hitam dikuncir kepada seorang gadis berambut merah atau Rias. Nampak Rias terdiam dengan wajah sendu. Sementara itu 2 gadis dan 2 pemuda yang lain hanya bisa diam melihat hal tersebut. "A-Ano... Akeno-san tenanglah" ucap gadis berambut pirang mencoba menengahi.
Sementara itu dari balik tembok Sasuke nampak terkejut dan tak habis pikir ternyata mereka sedang berbicara tentang percintaan. 'Tak kusangka ternyata iblis juga punya rasa cinta..' batin Sasuke agak sweatdrop. 'Lebih baik aku pergi saja..' lanjutnya tapi baru akan melangkahkan kaki pergi Sasuke kembali mendengar kata-kata yang membuatnya tertarik.
"Setelah kau mencampakannya sekarang kau menangis seperti bayi, inikah sikapmu yang sebenarnya Rias, hah?" ucap Akeno semakin jengkel terhadap sang ketua, ya walaupun ketua tapi Akeno tidak lagi memanggilnya dengan sebutan "Bucho" lagi seperti dulu. Sementara Rias yang disindir Akeno tetap diam dengan wajah semakin sendu seperti akan menangis. "Cukup! Akeno-san.. itu bukan salah Bucho.. lagipula itu salah si kumis kucing itu sendiri yang berkhianat pada Bucho.." bentak dan balas seorang pemuda berambut cokelat dengan gaya rambut Captain Tsubasa. Akeno nampak terkejut ketika melihat Issei membantu Rias langsung menatap tajam Issei. "Tau apa kau Issei.. kau tidak tau apa kejadian yang sebenarnya.." balas Akeno juga marah membentak Issei. Yang lain pun nampak bingung dan lebih memilih diam.
Rias pun nampak sudah menitikan air mata, tidak bisa menahannya lagi. Sakit sedih bersalah itulah yang dapat dia rasakan saat ini, ingin meminta maaf dan memulainya kembali tapi dia sudah tidak tau di mana pemuda yang ia sakiti.
"Kenapa kau justru membela pemuda pirang yang tidak kita ketahui asal usulnya itu Akeno-san?" tanya Issei masih tetap marah terhadap kelakuan Akeno yang menurutnya melebihi batas itu. Nampak Akeno sedikit tersentak dengan pernyataan Issei namun dia kembali ke mode on (marah) lagi. "Tau apa kau Issei tentang kehidupan Menma-san? Bahkan kau tidak tau apa yang dia rasakan, perjuangan yang dia lakukan untuk Bucho tercinta mu itu, Cih.." balas Akeno dengan semakin meningkatkan intonasi suaranya.
Sasuke yang dari tadi dengan cermat mendengarkan percakapan itu nampak terkejut. 'Pirang, kumis kucing?' batin Sasuke dengan tanda tanya besar di kepalanya. Dia terus menguping semua pembicaraan yang terjadi di ruangan tersebut tanpa diketaui yang ada di dalam. "Tapi kenapa nama yang mereka sebut Menma?" gumam Sasuke sambil berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi saat Naruto terdampar di dimensi ini. Jelas nama Naruto dan Menma berbeda jauh tapi ciri-ciri yang disebutkan laki-laki di dalam a.k.a Issei tadi menunjukan bahwa itu ciri-ciri Naruto.
Nampak lama kelamaan Sasuke pun mulai memahami kemungkinan yang terjadi pada Naruto saat terdampar di dunia ini. "Jangan-jangan dia.." gumam Sasuke dengan mata melebar. Dia pun kembali melanjutkan mendengarkan percakapan tadi.
Di dalam ruangan nampak keadaan semakin memanas dan semakin mencekam. Rias pun nampak masih diam terisak, sementara Akeno dan Issei sudah berada dalam mode siap tempur. "Apa yang kau sukai dari seorang pengkhianat Akeno-san?'' tanya Issei pada Akeno. "Dia hanya pemuda yang tidak tau di untung, berkhianat pada kita dan pada Bucho.." tambah Issei semakin menambah suasana panas. "Diam kau Iss..."
'Blaaarr'
Kata-kata Akeno terhenti ketika terjadi ledakan tau lebih tepatnya penghancuran pintu masuk ke ruangan tersebut. 'Slash' tiba-tiba muncul tangan biru besar yang langsung menangkap tubuh Issei. "Aarrgh.." jerit Issei saat di tangkap tangan raksasa biru dengan keras. Sementara yang lain langsung ke mode waspada. Bahkan Rias pun sudah berdiri di dekat Akeno.
.
TBC
.
.
Semoga Fic ketiga saya ini lebih greget dari Fic saya yang sebelumnya.
Yosh, jika ada kata/jurus/nama/kekuatan atau apapun itu yang salah saya mohon maaf, itu karena keterbatasan pengetahuan dari saya...
Gomenasai, dan terima kasih..
