Cast :

Luhan

Minseok

Kris

Tao

Chanyeol

Baekhyun

And others

Rate : T (merangkak ke M)

Disclaimer :

Mereka milik diri mereka sendiri, Tuhan YME, orang tua mereka, dan manjemen mereka. Gyu Cuma minjem karakternya dan hanya punya ceritanya saja.

Warning : Typo(s) bertebaran, tidak sesuai EYD, Gaje, Penistaan karakter, dll

Chapter 5

Kedua sosok namja tampan di ruangan itu saling berjabat tangan dengan senyum penuh kepuasan di wajah mereka.

"Aku harap kerja sama ini bisa berjalan baik dan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak" kata Luhan dengan senyum tipisnya

"Aku juga mengharapkannya" Kata Chanyeol terseneyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih dan rapih. "Aku rasa secangkir kopi terasa pantas setelah rapat dan perbincangan yang melelahkan ini" lanjut Chanyeol, bermaksud mengajak Luhan untuk sedikit merilekskan diri mereka di Coffee Bean.

"Kau yang traktir, Direktur Park"ucap Luhan masih dengan senyumnya.

"Baiklah, Xi Sajangnim"

Setelah rapat dan perbincangan yang melelahkan, Luhan dan Chanyeol berjalan menuju Coffe Bean seperti yang ditawarkan Chanyeol. Keduanya terlihat akrab dengan perbincangan ringan maupun rencana dan ide-ide untuk kerja sama mereka nanti.

.

.

.

.

"Hahaha….saat itu kau benar-benar lucu,Minseokie" tawa Baekhyun meledak saat dirinya mengingat kejadian lucu yang menimpa Minseok semasa sekolah SMA dulu.

"Yaa…kau juga mengalami hal yang sama denganku, Byun Baekhyun"ucap Minseok kesal karena sedari tadi hanya dirinyalah yang menjadi objek nostalgia Baekhyun.

"Hahaha…aduh perutku sampai sakit karena terlalu banyak tertawa…haha" kata Baekhyun sambil memegangi perutnya yang kram karena tertawa. "Aku memang pernah disangka sebagai seorang siswi oleh para sunbae di klub hapkido, tapi aku tidak pernah di 'tembak' oleh seorang sunbae di depan umum sepertimu. Minseokie~" lanjut Baekhyun.

"Hahh…aku benar-benar tidak mengerti dengan subae itu. Kenapa dia bisa menggapku seorang siswi dan menyatakan perasaannya padaku di tengah jam makan siang. Aku benar-benar malu saat itu… menyebalkan" Bibir Minseok terpout lucu ketika mengingat kenangan terburuknya semasa SMA.

"Lucunya Nae Minseokie" gemas Baekhyun sambil mencubit bibir Minseok yang terpout beberapa centi itu.

EHEMM

Terdengar suara dehemen yang keras

Siapakah itu ?

Tentu saja dia adalah….

Deer Sajangnim kita

Xi Luhan

Baekhyun Menoleh ke asal suara dan terpampanglah sosok namja tinggi semampai yang tengah mendeathgalre Baekhyun dengan mata rusanya yang jernih.

"S-Sajangnim" Baekhyun terbata, entah mengapa ia merasa gugup dipandangi dengan mata rusa yang seperti tengah mengintimidasinya. Lalu melepaskan cubitan tangannya di bibir Minseok sesegera mungkin.

"S-Sajangnim " kali ini Minseok yang terbata, ia kemudian segera berdiri dan membungkuk memberi hormat pada atasannya yang masih memberi deathglare ke arah Baekhyun.

" Sepertinya kalian sedang bersenang-senang?"Tanya Luhan sinis dengan pandangannya yang masih memandang Baekhyun tajam. Minseok sendiri sampai meringis meihat tatapan mata yang seakan bisa membunuh itu.

"Ngg…i-itu kami hanya mengobrol "kata baekhyun. "B-Benarkan, Minseokie?" Baekhyun melirik Minseok, mencoba meminta bantuan Minseok melalui matanya yang memelas.

"N-ne, Sajangnim! A-apakah pembicaraan tentang kerja sama kita sudah menemui kesepakatan akhir?"Minseok mencoba mengalihkan pembicaraan meskipun rasa gugup terlihat jelas dari cara bicaranya yang tergagap.

"Hmm" Hanya gumaman Luhan yang menjawab pertanyaan Minseok.

"Ngg..k-kalau begitu bagaimana kalau kita minum kopi bersama disini" tawar Minseok pada Luhan dengan senyum manisnya, berharap Luhan akan luluh dan merubah muka masamnya dengan tampang innocent menyebalkan andalannya.

"Wah kebetulan sekali! Kami juga berencana untuk minum kopi disini. Bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka saja, Sajangnim?"celetuk Chanyeol yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi tiga orang didepannya.

"Hmm" kembali hanya gumaman Luhan yang menjawab perkataan Chanyeol.

Setelah itu Chanyeol segera mengambil tempat duduk disebelah Baekhyun dan kemudian menggeser kursinya hingga berhimpitan dengan namja mungil tersebut. Sedangkan Luhan segera mendudukan tubuhnya di kursi sebelah Minseok. Tak lama kemudian serang pelayan di Coffee Bean itu menhampiri mereka dan mencatat pesanan Chanyeol dan Luhan.

"YAKK! Menjauhlah dariku! Jangan dekat-dekat!"Baekhyun berusaha mendorong tubuh besar Chanyeol yang dirasanya terlalu dekat dengannya, sedangkan Chanyeol hanya mengerucutkan bibirnya sebal namun tetap tidak menjauh dari Baekhyun.

Minseok tertawa kecil melihat Baekhyun yang misuh-misuh karena ulah Chanyeol,bahkan bibir tipisnya yang terus berkomat-kamit . Minseok yakin saat ini Baekhyun sedang menyumpah serapahi Chanyeol di dalam hatinya.

"Yaa…apa yang kau tertawakan ,huh?"kata Baekhyun yang melihat Minseok tertawa.

"Bukan apa-apa, Baekie~"kata Minseok dengan manis, ia bermaksud menggoda Baekhyun yang kini tengah kesal pada Chanyeol. Namun sepertinya Minseok tidak sadar bahwa itu justru membuat Luhan yang sudah panas menjadi mendidih ketika mendengar panggilan manis yang diberikan Minseok untuk namja manis disamping Chanyeol tersebut.

"Sepertinya hubungan kalian sangat dekat yah? Hingga kalian bisa memberikan panggilan yang sangat manis seperti itu" sindir Luhan.

"K-kami memang dekat, tapi hu-hubungan kami hanya sebatas teman baik semasa SMA. Tidak lebih! Sungguh!" Baekhyun segera memberi penjelasan singkat,padat dan jelas pada Luhan yang masih saja Mendeathglarenya.

"Teman?" Luhan menaikkan satu alisnya, ia merasa bingung dan juga kurang percaya.

"Iya! Kami hanya teman, Sajangnim. Aku dan Baekhyun adalah sahabat dekat saat SMA dulu" Kali ini Minseok yang menjawab perkataan Luhan, ia kasihan juga melihat Baekhyun yang menjadi korban kemarahan tidak jelas Luhan.

"Aku tidak tahu kalau kau punya sahabat dekat, Baekie" kata Chanyeol sambil melirik ke arah Baekhyun.

" Memangnya aku harus memberitahumu dengan siapa saja aku berteman?"kata Baekhyun ketus pasa Chanyeol.

"Aku dan Baekhyun memang dekat waktu SMA, tapi kami jarang terlihat bersama karena kesibukan masing-masing. Kami hanya bertemu saat pulang sekolah di perpustakaan atau saat klub Hapkido dan Taekwondo sedang libur. Kau tau kan kalau kedua klub itu bersaing dalam segi prestasi? Jadi kami tidak bisa secara leluasa untuk berhubungan" Jelas Minseok pada chanyeol yang sedang cemberut karena lagi-lagi di acuhkan oleh Baekhyun.

"Ahh…benar juga!"seru Chanyeol senang, ia merasa senang dengan penjelasan Minseok. Bagaimanpun juga ia pernah menjadi orang terdekat dalam hidup Baekhyun, jadi wajar saja bila ia sedikit khawatir bila ada seseorang yang dekat dengan baekhyun yang melewati batas pertemanan. "Sajangnim, mereka sepertinya memang hanya sebagai sahabat. Lagipula mereka berdua adalah uke, jadi bagaimana mungkin mereka memiliki hubungan lebih dari teman . Mereka kan butuh seme tampan seperti kita untuk 'berhubungan'" ujar Chanyeol yang melihat ekspresi Luhan yang masih dalam mode bad mood.

PLETAKK

"APPO! Kenapa kau memukulku?"Tanya Chanyeol pada Baekhyun yang dengan teganya menjitak keras kepalanya.

" Siapa suruh kau mengataiku uke,huh? Dan jika pun aku berada di posisi uke,aku tidak mungkin memilih seme sepertimu, Dobi!"kata Baekhyun kesal , sedangkan Minseok yang 'sedikit' kesal karena dikatai uke hanya diam dan membiarkan Baekhyun yang memberikan pelajaran pada namja kelebihan kalsium itu.

"Tapi itu kan kenytaannya,Baek~" ucap Chanyeol sambil mengelus kepalanya yang sakit akibat jitakan Baekhyun. "Lagipula wajar saja kan,kalau aku penasaran? Bagaimanapun juga dulu kita adalah semmpphh"

"YAKKK…jangan bicara yang aneh-aneh,Park Chanyeol!" Kata Baekhyun sembari menutup mulut Chanyeol dengan tangannya.

"Hahaha…kalian memang pasangan yang sangat serasi…benar-benar akrab"kata Luhan tiba-tiba sambil tersenyum riang, bahkan kini matanya membentuk eyesmile. Sedangkan ketiga orang di dekatnya hanya memandang Sajangnim itu dengan ekspresi berbeda. Baekhyun hanya bisa menatap Luhan dengan mulut terbuka, Chanyeol yang senyum-senyum gaje karena merasa memiliki pendukung, dan Minseok yang membulatkan matanya yang seakan berkata 'Akrab darimananya?'.

'Huft…syukurlah moodnya sudah membaik' batin Minseok , Baekhyun dan Chanyeol.

.

.

.

.

Setelah menghabiskan waktu beristirahat di Coffee Bean, Minseok dan Luhan kembali ke ruang kerja mereka. Terlihat Minseok yang sedari tadi sedang sibuk dan serius menyusun berkas-berkas maupun dokumen yang akan di serahkan kepada Luhan untuk ditandatangani ataupun di evaluasi kembali.

"Huft…akhirnya selesai juga! Sekarang tinggal ditandatangani oleh,Sajangnim"ucap Minseok, kemudian ia berjalan kea rah ruangan sang Sajangnim.

Tok

Tok

Tok

"Masuk!" terdengar suara Luhan

Minseok memasuki ruangan besar itu dan berjalan mendekati meja kerja Luhan, setelah itu ia meletakkan semua berkas dan dokumen tersebut di atas meja.

"ini berkas dan dokumen yang harus Anda lihat dan tandatangani,sajangnim"ucap Minseok sopan, sedangkan Luhan masih terlihat sibuk dengan berkas dan dokumen lainnya.

Luhan membetulkan letak kaca mat abaca berbingkai tipis miliknya dan mengambil tumpukan berkas dan dokumen yang tadi diletakkan Minseok,kemudian ia membacanya dengan teliti.

"Ckk" decakan sebal meluncur begitu saja dari mulut Luhan.

"Apa ada masalah,Sajangnim?"Tanya Minseok.

Luhan kemudian membalikan kursi yang ia duduki ke arah Minseok dan menatap kedua mata berbentuk almond tersebut. Ia melepas kaca mata bacanya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

" Satu-satunya yang bermasalah disini adalah kau, Sekretaris Kim"Kata Luhan

"Maaf, apa saya sudah melakukan kesalahan, Sajangnim?" Tanya Minseok. Ia sebetulnya merasa heran dengan sikap Luhan kali ini. Walaupun Luhan pada dasarnya selalu serius dan professional saat bekerja,namun entah mengapa Minseok merasa kalau sikap Luhan sangat berbeda.

"Sebenarnya kesalahan mu hanya satu" jawab Luhan, ia kemudian berdiri menatap Minseok.

"Apa itu, Sajangnim? Saya akan berusaha memperbaikinya" kata Minseok kalem.

PUK

"Kau tahu aku masih marah padamu loh Minseokie" kata Luhan sambil memegang kedua bahu Minseok.

"K-kalau begitu saya minta maaf,Sajangnim"kata Minseok gugup,pasalnya kini Luhan tengah memandang lurus kedalam matanya.

"Aku akan memaafkanmu,tapi dengan satu syarat"kata Luhan dengan seringai tipis yang tercetak diwajahnya.

"A-apa itu?" Tanya Minseok. 'Semoga bukan hal yang aneh, Tuhan'Batin Minseok.

"Kau…"Kata Luhan memberi jeda. Sedangkan Minseok masih menatap Luhan dengan perasaan campur aduk." Harus berbicara informal kepadaku dan hanya boleh berbicara formal saat kita sedang berhadapan dengan rekan bisnis kita" lanjut Luhan.

"Y-ye?"Minseok memastikan pendengarannya tidak salah menangkap perkataan Luhan.

"Apa kau tidak mengerti,Minseokie?"Tanya Luhan

"Ani! S-saya mengerti,tapi saya rasa itu tidak sopan, Sajangnim. Lagipula apa yang akan dikatakan karyawan yang lainnya kalau saya berbicara informal pada Anda"jawab Minseok.

"Kau tidak perlu memikirkan pendapat mereka! Anggap saja ini perintah dariku dan aku tidak menerima bantahan!"Kata Luhan tegas.

"Hahh..baiklah sa-aku akan mematuhinya,Sajangnim!"kata Minseok pasrah, ia tahu ia tidak akan bisa melawan seorang Xi Luhan.

"Baguslah~"ucap Luhan riang sabil mengacak pelan surai dark brown Minseok. Sedangkan Minseok hanya diam menunduk sambil merasakan kedua pipinya memanas atas perlakuan Luhan.

"Oh iya…ini berkas dan dokumen yang sudah aku tanda tangani"kata Luhan yang entah sejak kapan menghentikan aktifitasnya di kepala Minseok.

Minseok segera mengambil tumpukan berkas dan dokumen yang dimaksud oleh Luhan dan mengeceknya lagi serta mengurutkannya, sedangkan Luhan kini telah kembali serius melihat berkas dan dkumen yang baru diantar Minseok.

"kalau begitu s-aku permisi dulu, Sajangnim"pamit Minseok sambil membawa tumpukan berkas dan dokumen itu dengan tangan mungilnya.

"Hmm"Luhan hanya bergumam menjawab Minseok dan tetap serius pada pekerjaannya.

Minseok memandang sesaat Luhan yang tengah serius dengan pekerjaannya. Entah mengapa ia lebih suka melihat Luhan yang serius bekerja, mungkin saja karena hanya saat sedang serius bekerjalah Luhan tidak akan mengganggu Minseok. Dan setelah itu Minseok berjalan keluar dari ruangan kerja Luhan.

"Minseokie!"panggil Luhan tanpa mengalihakan matanya dari pekerjaannya. Minseok menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Luhan .

"Apa ada sesuatu yang kau pelukan,Sajangnim?" Tanya Minseok.

"Berusahalah untuk tidak memanggilku dengan embel-embel Sajangnim, cukup dengan namaku saja. Dan juga….berusahalah untuk memanggilku dengan nama panggilan yang manis seperti kau memanggil temanmu itu" kata Luhan yang masih fokus pada pekerjaannya.

"N-ne"jawab Minseok terbata, ia merasa bingung, kesal karena permintaan atasannya yang aneh danjuga merasa…berdebar.

.

.

.

.

Hari berjalan begitu cepat dan tak terasa kini sudah dua bulan lebih Minseok bekerja di EXO Group menjadi sekretaris pribadi Sajangnim perusahaan tersebut. Sebenarnya tidak ada yang berbeda atau istimewa selama beberapa waktu terakhir ini selain pekerjaan mereka yang semakin banyak dan padat.

Beberapa waktu ini pun Minseok sedang sibuk membantu Luhan menangani kerja sama yang dilakukan antara EXO Grroup dengan Perfection Lumiѐre Corp—perusahaan milik Chanyeol . Walaupun proyek itu sudah dikerjakan oleh setiap divisi yang bersangkutan, tapi tetap saja Luhan yang memegang peranan penting dalam memutuskan disetuji tidaknya ide atau saran yang diberikan setiap divisinya.

"Hahh…"

Entah sudah berapa kali Minseok menghela nafas sejak ia keluar dari ruangan Sajangnimnya. Ia sungguh merasa bosan terdampar sendirian di Cafetaria, bahkan ia sampai sadar kalu ia sudah menghabiska tiga gelas Milkshake dan dua potong Bluberry Cheese Cake. Awalnya ia merasa senang karena bisa mengistirahatkan tubuh lelahnya yang sudah seperti diinjak-injak seluruh karyawan EXO Group saat Luhan menyuruhnya untuk istirahat sebentar di Cafetrai sementara Luhan sibuk berbicara dengan seseorang di telpon, tapi kini ia merasa bosan setelah rasa lelahnya hilang. Ia menatap sekeliling Cafetaria yang sepi karena ini memang sudah lewat jam makan siang, matanya terus menelusuri setiap sudut Cafetaria sampai ia berhenti saat kedua matanya menangkap sosok yang ia kenal berjalan lunglai sambil memegang satu cup kopi dengan kondisi yang…mmm…menyedihkan(?).

"Tao-ah!"panggil Minseok sambil melambaikana tangannya. Sedangkan Tao yang menyadari panggilan Minseok segera berjalan kea rah si pemanggil dengan lunglai.

"Hai, Xiumin ge"sapa Tao lesu, kemudian ia menyesap cairan hitam pekat itu dengan hikmat.

"Omo…apa yang terjadi padamu, Baby Panda?" Tanya Minseok khawatir saat melihat Tao yang seperti terkena 5L (lemah,lelah,letih,lesu,lunglai).

"Tidak apa-apa ge. Aku hanya kelelahan karena proyek baru perusahaan kita" jawab Tao yang masih lesu,kemudian ia kembali menyesap kopinya.

"Apakah proyek kosmetik baru itu,Tao?"Tanya Minseok.

"Hmm"Gumam Tao yang masih sibuk meminum kopinya, setelah selesai Tao membuang cup tempat kopi yang terbuat dari kertas itu ke tempat sampah yang ada di samping meja mereka . bersyukurlah karena tempat sampah diletakkan disamping setiap meja sehingga Tao tidak perlu repot-repot berjalan untuk membuang sampah.

"Aku tidak menyangka kalau kau juga akan ikut mengerjakan proyek itu"kata Minseok.

"Si Tiang Listrik sialan itu yang membuatku terlibat dalam proyek ini! Padahal aku baru saja selesai menangani Grand Launching B&B Apartment…hiks" keluh Tao dengan ekspresi kesalnya yang imut.

"Omo…Uljima ne~"hibur Minseok sambil menghapus setitik air mata di sudut mata Tao.

"Tapi…hiks…Tao…hiks..lelah. Tao harus lembur beberapa hari ini. Sekarang saja Tao baru bisa istirahat, ge" curhat Tao dengan gaya manjanya.

"Cup..cup..cup...cup! Uljima Tao-ah, sekarang lebih baik kau istrahat dan makanlah yang banyak untuk memulihkan energimu. Ahhh… bagaimana kalau kali ini aku yang akan mentraktirmu?" kata Minseok sambil menepuk-nepuk ringan kepala Tao.

"Uhm..Tao tidak akan menangis! Tao mau es krim Sundae yang besar,ge~" kata Tao dengan puppy eyesnya.

"Haha… Baiklah kalau begitu aku akan membelikan es krim sundae yang besar untuk Baby Panda yang sedang kelelahan ini" ujar Minseok, setelah itu ia memangil pelayan dan memesan makanan yang diinginkan Tao.

Tak lama berselang,pesanan Tao tiba dan namja panda itu melahap es krim sundaenya dengan bersemangat, hingga sudut bibirnya kotor terkena lelehan eskrim tersebut. Minseok sendiri terkadang terkekeh kecil saat melihat wajah Tao yang imut itu.

"Jadi apa gege juga baru beristirahat?" Tanya Tao setelah ia meghabiskan eskrimnya.

"Ani! Aku sudah makan siang tadi bersama klien,tapi Sajangnim menyuruhku untuk pergi ke Cafetaria saat ia menerima panggilan telpon entah dari siapa"jawab Minseok.

"Oh begitu. Mungkin saja itu dari keluarganya"kata Tao

"Ya mungkin saja"ucap Minseok.

"Apa gege kurang tidur juga?"Tanya Tao yang melihat mata Minseok yang dihiasi sedikit lingkaran hitam.

"Sebenarnya tidak juga! Sajangnim selalu menyuruhku pulang tidak lebih dari jam 9 malam, jadi kurasa aku tidak begitu lelah."jawab Minseok.

"Waaahhh…gege enak sekali! Coba kalau Si Tiang Listrik itu seperti Sajangnim. Huuh..dia memang sangat suka menyiksaku" keluh Tao.

"Sudah…sudah..aku yakin kalau Direktur Wu hanya ingin bersikap professional. Mungkin ia menunjukmu kembali dalam proyek ini karena ia merasa kemampuan sangat bisa diandalkan!"Minseok mencoba memberi pengertian pada Tao dengan lembut.

"Mungkin gege benar" Tao mengangguk kecil menerima perkataan Minseok."Ahhh…jam berapa sekarang"Tao bangkit dari duduknya dengan panic,lalu melihat jam tangannya.

"Astaga! aku harus kembali sekarang!"Panik Tao. Kemudian setelah itu ia segera berpamitan kepada Minseok dan berlari menuju ruang kerjanya. Sedangkan Minseok hanya menggelengkan kepalanya saja—heran dengan tingkah polos nan ajaib serta manja seorang Tao yang jelas-jelas adalah namja dewasa.

.

.

.

.

Cklekk

"MInseokie!" panggil Luhan pelan, kepalanya menyembul dari balik pintu yang membatasi ruang kerjanya dan juga Minseok.

"Ne, Sajangnim! Ada apa?" Tanya Minseok yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.

Luhan mengernyit sebal karena Minseok masih saja memanggilnya dengan panggilan yang terlalu formal, namun segera ditepisnya rasa kesalnya dengan berpikir kalau Minseok masih segan berbicara informal dengannya.

"Ini sudah malam hampir jam 9 malam, tapi kenapa kau belum bersiap-siap untuk pulang?"Tanya Luhan. Kemudian ia melihat keluar jendela yang menampakkan langit malam kota Seoul yang sedikit lebih gelap daripada sebelumnya—seperti akan turun hujan.

"Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan, Sajangnim"jawab Minseok.

"Kau bisa meneruskan pekerjaan mu besok! Sekarang kau pulanglah,karena aku rasa sebentar lagi akan turun hujan" ujar Luhan sambil melangkah mendekati meja Minseok.

"Aku tidak bisa pulang begitu saja sementara Sajangnim masih sibuk di kantor" tolak Minseok. Sejak kembali dari Cafetaria ,Minseok tiba-tiba saja kepikiran dengan kondisi Tao, ia merasa ia seharusnya ia juga bekerja sama kerasnya dengan karyawan lain terutama dengan Sajangnimnya. Pikiran itu semakin menjadi saat ia tidak sengaja melihat kondisi Kris yang jauh lebih berantakan daripada Tao saat hendak memasuki lift.

Luhan tersenyum kecil, ia merasa senang dengan perhatian secara tidak langsung Minseok. Ia juga merasa senang dengan kinerja Minseok selama ini, karena Minseok selalu mengerjakan pekerjaannya dengan benar,rapi, dan tepat waktu. Dulu, sebelum Sekretaris Kang yang digantikan oleh Minseok bekerja padanya, ia sering sekali merasa kesal dengan kinerja sekretaris-sekretaris lamanya yang didominasi yeoja-yeoja seksi, menurut Luhan mereka hanya pandai berdandan tapi payah dalam menyelesaikan segala perintah Luhan yang notabenenya adalah seorang yang bekerja dengan cepat dan sempurna.

Luhan menangkup wajah Minseok dengan telapak tangannya. "Kau pulanglah sekarang ! Pekerjaanku sudah selesai. Aku akan pulang setelah kau pulang" titah Luhan lembut.

Minseok menatap Luhan dengan pandangan bingung. Ia bukannya tidak mengerti perkataan Luhan,namun mata dan pikirannya tidak sedang berfokus pada perkataan luhan, tapi ia tengah melihat lingkaran hitam dibawah mata Luhan yang sangat jelas saat ini. 'Bagaimana aku tidak bisa melihatnya selama ini? Apa karena ia selalu memakai kacamata? Sepertinya ia bekerja sangat keras' pikir Minseok.

"Seok..Minseokie!" panggil Luhan,menyadarkan Minseok dari pikirannya.

"N-ne?"

"Pulanglah! Dan ini perintah!"putus Luhan final.

"Tidak mau! Kalau mau kau mau aku pulang, maka kita harus pulang bersama!"kata Minseok kesal, karena terus saja dipaksa pulang.

Luhan menyeringai jahil. "Ahhh…aku tau ini pasti hanya akal-akalan mu saja kan, Minseokie?"

"Apa makasudmu?" Tanya Minseok kesal—kesal karena Luhan yang tadi sempat dikhawatirkannya kembali menjadi Luhan yang menyebalkan. Lihat saja seringainya itu.

"Aku tau sebenarnya kau tidak mau pulang dan ingin menungguku sehingga kita bisa pulang bersama kan?"Goda Luhan.

Ctikk—perempatan siku-siku muncul di sudut kepala Minseok.

"Yang benar saja" kesal Minseok,kini ia mencoba kembali fokus dengan pekerjaannya.

"Ayolah mengaku saja! Aku tau kau pasti sangat ingin berada satu mobil denganku ditengah malam yang hujan seperti ini,kan?"Goda Luhan semakin menjadi.

SRAKK—Minseok menaruh dengan kesal beberapa lembar kertas yang menjadi bahan pekerjaannya. Kemudian dengan perasaan sebal dan terburu-buru,ia merapikan berang-barangnya.

"Selamat malam,Sajangnim!"Minseok berdiri dan berpamitan pada Luhan dengan perasaan jengkel. Kemudian ia berjalan menuju keluar ruangan tersebut.

"hati-hati Minseokie~. Jangan merindukanku, tapi jangan lupa memimpikanku~"seru Luhan sambil melambaikan tangannya.

"Tidak akan!"seru Minseok kesal, kemudian hanya suara pintu yang ditutup keras yang mengantarkan ruangan tersebut menjadi sepi. Sedangkan Luhan masih tersenyum senang karena berhasil menggoda Baozinya, jika dipiki-pikir ia memang jarang menggoda Baozinya karena pekerjaan yang menumpuk serta proyek-proyek baru yang harus ditanganinya.

Drrtt…Drrtt…Drrtt

Luhan meraih ponselnya yang berada di saku jasnya. Ekspresi Luhan berunah menjadi serius dan cenderung menyeramkan saat melihat Caller ID si penelpon.

"Bagaimana?"Tanya Luhan to the point pada si penelpon tanpa harus repot-repot memberi salam.

"…."

"Tsk…Kenapa mencari satu orang saja kalian tidak becus,hah?"ucap Luhan dengan rasa kesal dan marah yang kental dalam nada bicaranya, raut wajahnya pun ikut mengeras.

"…."

"Aku tidak menerima alasan apapun! CEPAT TEMUKAN DIA! INI PERINTAH DAN AKU TIDAK MENERIMA KEGAGALAN LAGI!" kata Luhan dengan nada suara yang tidak bersahabat dan penekanan. Setelah itu ia memutu panggilan tersebut dengan kasar.

"Tsk…merepotkan!"gumam Luhan sembari memandang langit yang semakin menghitam karena mendung.

.

.

.

.

Tes

Tes

Tes

Rintik-rintik hujan mulai membasahi kota seoul malam itu. Gerimis itu mulai menghantarkan hawa dingin yang menusuk kulit kepada namja manis berpipi chubby yang tengah berdiri di halte.

"Brrr..mengapa dingin sekali sih?"gumam Minseok sembari merapatkan jas kerjanya. "Ish, seharusnya aku menyetop taksi saja di kantor. Huh…ini gara-gara 'dia'! padahal aku hanya mengkhawatirkannya saja"gumam Minseok kesal saat mengingat Luhan.

DEG

"eh? Tapi untuk apa aku mengkhawatirkannya?" kata Minseok saat tersadar bahwa ia sudah mengatakan…ya…mengatakan kalau dia KHAWATIR pada Luhan yang selama ini membuatnya kesal.

Tap…Tap…Tap

Minseok menoleh ke arah langkah kaki yang terdengar cepat itu, ia mendapati seorang namja tinggi berkulit tan yang keadaannya basah kuyup sudah berdiri di sampingnya.

"Haish…Dimana aku meletakkannya? Apa mungkin aku tidak membawanya?"namja tinggi itu bermonolog sembari merogoh tiap saku yang ada pada setelan jasnya yang berwarna abu-abu dan terlihat mahal itu.

"Dasar Pabbo! Aku pasti lupa membawa sapu tangan lagi!"rutuk namja itu sambil memukul kepalanya ringan.

"Ini" Minseok mengulurkan sebuah sapu tangan pada namja yang terus saj berkomat-kamit merutuki dirinya. Awalnya Minseok tidak mau begitu terlibat apalagi mencampuri urusan orang lain, tapi karena Minseok adalah seorang yang baik dan perhatian , maka ia segera menagmbil sapu tangannya yang bersih dari dalam saku jasnya saat melihat namja itu menggigil kedinginan.

"Eoh?"namja itu memandang bingung pada sapu tangan yang diulurkan Minseok padanya. Ia memang membutuhkan sapu tangan, tapi rasanya ini bukan sapu tangannya.

"Ckk, gunakan ini untuk mengeringkan wajah dan telapak tanganmu. Kau bisa kedinginan jika membiarkan air hujan itu terus menempel di wajah dan tangan mu"ujar Minseok.

"G-gamsahamnida" Ucap namja itu malu-malu.

"Ne~"balas Minseok dengan senyum ramah.

"…."pria itu hanya diam dan menunduk menyembunyikan rona merah yang sebenarnya tidak kentara di kulit tannya.

"Ahh..Bus nya datang ! Bus nya datang!" Minseok memekik senang dan tanpa sadar kakinya berjingkrak-jingkrak kecil seperti anak TK yang senang diberi permen.

Namja itu menoleh dan tersenyum kecil melihat tingakh Minseok yang menggemaskan

"Hey…apa kau juga akan naik bus ini?"Tanya Minseok pada namja di sampingnya.

"Ng…N-ne!"jawab namja itu menjawab dengan gugup.

Bus berhenti tepat di depan mereka, dan setelah itu mereka masuk ke daam bus dan mencari tempat duduk yang nyaman.

Bus melaju dengan kecepatan sedang membelah kota Seoul. Para penumpang Bus itu kebanyakan adalah pegawai kantor yang tengah tertidur karena lelah seharian bekerja, namun hal ini tidak berlaku untuk Minseok dan namja tan yang duduk disebelahnya. Namja tan itu sedari tadi hanya mencuri-curi pandang ke arah Minseok yang sedari tadi siuk dengan sebuah buku catatan kecilnya.

Beberapa menit berlalu dengan kondisi sama dimana namja tan itu mencuri pandang ke arah Minseok dan Minseok yang sibuk sendiri dengan buku catatannya, sampai akhirnya Minseok menutup buku catatannya dan menekan tombol merah yang ada di sampingnya untuk memberitahukan supir Bus bahwa ia akan berhenti di halte ini. Namja tan itu memandang Minseok dengan ekspresi yang tak terbaca,ia kelihatan sedih,senang dan bingung di saat bersamaan.

"Apa kau turun disini?"Tanya namja tan tersebut.

"Ne. Apartmentku tidak jauh dari sini"kata Minseok sambil merapikan pakaiannya dan memasukkan buku catatannya ke dalam saku dalam jasnya. Kemudian berjalan turun ke luar Bus, namun baru beberapa langkah, ia terhenti karena pertanyaan namja tan yang tadi duduk disebelahnya.

"Boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya namja tan itu.

"Tentu, Namaku Kim Minseok"jawab Minseok sambil tersenyum ramah."Kau?"Tanya balik Minseok.

"Kim Jongin"jawab namja tan tersebut dengan senyumnya yang manis.

TINN

Supir Bus membunyikan klakson untuk memberi tahu Minseok agar segera turun karena ia masih harus mengantar penumpang lain ke tempat tujuan mereka.

"Ups…sepertinya aku harus pergi sekarang! Sampai jumpa"kata Minseok,lalu segera turun dari bus setelah sebelumnya meminta maaf pada si supir bus. Kemudian Bus pun melaju ke tempat berikutnya berikutnya.

"Eoh?"namja tan itu—Kim Jongin mengambil sapu tangan yang tergeletak manis di pangkuannya. "Astaga aku lupa mengembalikannya" panic Jongin, ia kemudian segera menekan tombol merah di sampingnya dan segera turun dari bus dan untungnya hujan sudah berhenti sehingga ia tidak perlu mencari tempat berlindung.

Jongin berlari menuju halte tempat Minseok turun, berharap ia akan menemukan sosok Minseok. Dengan nafas yang tersenggal-senggal Jongin sampai di halte tersebut namun ia tidak menemukan Minseok. Beberapa detik kemudian ia menyadari kebodohannya.

"Aishh…Jongin Pabbo! Bagaiamana mungkin ia masih disini? Ia pasti sudah pulang ke rumahnya" Rutuk Jongin.

"Argghh…Dimana ini? Seharusnya aku tidak naik Bus saja dan menunggu supirku menjemputku di halte tadi. Ahh…kau benar-benar pabbo Kim Jongin." Rutuk Jongin untuk kesekian kalinya. Sebenarnya Jongin tidak sedang menuggu bus di halte, tetapi ia sedang menuggu supir untuk menjemputnya karena mobilnya tiba-tiba mengalami masalah di jalan dan ia hanya bermaksud untuk berteduh di halte. Entah apa yang membuat pikiran Jongin kosong saat itu dan memilih untuk menaiki Bus bersama namja manis bernama Kim Minseok tersebut—'mungkin karena senyum ramah Minseok?' pikir Jongin. Setelah puas merutuki kebodohannya, Jongin segera menelpon supirnya dan meminta supirnya menjemputnya.

T.B.C

Gyu Corner

Annyeong chingudeul~

Akhirnya Gyu bisa update juga. Hehehe

Maaf karena Gyu gak bisa nepatin janji Gyu buat update kilat karena situasi dan kondisi yang tidak memungkin yang dikarenakan gyu suangatttt sibuk akhir-akhir ini (Plakk). Readers sekalian mau kan maafin Gyu ^^? . Oh iya sebentar lagi ceritanya akan masuk ke inti loh. Doakan Gyu agar Gyu gak telat update lagi yah readers ^^

Nah seperti biasanya Gyu mengucapkan terima kasih untuk semua reader yang sudah menyempatkan diri untuk mereview, favourite, follow,dll. Tanpa itu semua Gyu mungkin akan lebih lama update lagi. Hehe…

Ahhh…Gyu gak akan banyak omong kali, tapi sekali lagi Gyu ucapkan terima kasih dan jangan lupa untuk tidak ragu-ragu memberi Gyu saran maupun kritikan karena itu semua akan membuat Gyu lebih baik dalam melanjutkan Fic ini,ok?

Jangan lupa Review ne~

#big hug and poppo buat semua readers 3