Tittle : Precious Love

Author : KyuGyu

Cast : Xi Luhan

Kim Minseok (Xiumin)

And others

Disclaimer : Mereka milik Tuhan YME, Diri mereka sendiri, keluarga mereka, agensi mereka, dan

Fans mereka. Gyu Cuma punya ceritanya aja .

Rate : T/M

Warning : EYD yang tidak sesuai, BL, Typo yang bertebaran,dll.

Chapter 6

"Ahh…bahkan sapu tangan ini menyimpan wangi parfumnya"

Seorang namja berkulit tan tengah berguling-guling di atas kasur king size nya sambil menghirup wangi harum yang menyeruak penciumannya dari sebuah sapu tangan. Namja itu—Kim Jongin sejak sampai di apartmen mewahnya dan mandi, hanya berbaring dan berguling-guling sambil mencium atau lebih tepatnya mengendus sebuah sapu tangan seorang namja manis yang ia temui di halte.

"Apa aku bisa bertemu dengannya lagi yah?"Jongin memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan penuh harap.

"Aku memang bukan gay. Aku tidak tertarik pada seorang namja, tapi selama ini aku juga cuma 'bermain-main' dengan semua yeoja yang aku kenal. Tapi aku rela menjadi seorang gay jika pasangan ku adalah namja manis seperti….mmm…Mi..Min…Minseok…ya Kim Minseok. Hahh…Liat saja tubuhnya yang mungil, wajahnya yang bulat dan putih bersih, mata besar yang berbentuk almond dan bibir tipis nan merah penggoda iman itu, juga jangan lupakan pinggang yang ramping serta butt nya yang seksi dan terlihat padat itu" monolog Jongin dengan segala pikirannya tentang sosok Minseok, bahkan ia tidak menyadari bahwa wajahnya sudah dalam mode mesum saat menyebutkan ciri-ciri tubuh Minseok.

"Aishh… Kim Jongin, apa yang kau pikirkan?"ucap Jongin frustasi, ia mengacak kasar rambutnya agar pikiran yang 'iya-iya' tentang Minseok lenyap. "Aku harus bisa bertemu lagi dengannya dan jika beruntung aku bisa memilikinya"tekad Jongin.

Well…hati-hatilah Xi Luhan, karena Gyu sepertinya akan mempersulit bersatunya Lumin (Plakkk# digampar bolak-balik sama readers). Hehehe…

.

.

.

.

Dua orang namja yang berstatuskan atasan dan bawahan itu berjalan cepat menuju ruangan yang ditempati orang-orang yang bekerja di bagian marketing dengan ekspresi berbeda. Sang Sajangnim berjalan dengan raut wajah yang kurang bersahabat, sementara sang Sekretaris berjalan dengan wajah yang dihiasi senyum kecil untuk membalas salam maupun sapaan para karyawan yang mereka jumpai dalam perjalanan.

BRAKK—pintu ruangan itu di buka kasar oleh Luhan, membuat semua orang yang melihatnya memandangnya ngeri.. Sajangnim mereka terlihat mengerikan saat ini.

"Apa Direktur Wu ada di ruangannya?"Tanya Luhan dengan nada kesal pada sekretaris Direktur bagian marketing itu.

"N-ne, Sajangnim"jawab sekretaris seksi itu gugup.

Tanpa babibu lagi Luhan langsung memasuki ruangan tersebut diikuti Minseok dan mendapati Direktur Wu atau Kris dalam keadaan kacau.

"Aku tahu apa tujuanmu datang kemari" ucap kris yang menyadari kedatangan Luhan. Bagaimana Kris bisa tahu? Tentu saja karena siapa lagi orang yang berani membuka pintu ruangan bagian Marketing dengan kasar dan masuk ke ruangannya tanpa memberikan salam atau meminta izin.

"Baguslah kalau kau sudah tahu, karena aku membutuhkan penjelasan tentang apa yang ada di majalah ini"kata Luhan, kemudian dengan mudahnya ia melemparkan majalah digenggamannya ke meja Kris.

"Ada yang membocorkan rencana peluncuran produk baru"ucap Kris tanpa melihat majalah yang dilemparkan Luhan. Sedangkan Luhan mengernyitkan dahinya dan memandang Kris tajam.

"Kami sedang menyelidikinya dan sekarang sedang dilakukan pemeriksaan CCTV juga penginterogasian terhadap karyawan"lanjut Kris

"Aku harap dalam 24 jam kau sudah membawa pelakunya ke ruanganku!" Titah Luhan

"Ne!"jawab Kris .

Setelah itu Luhan pergi meninggalkan ruangan Kris tanpa berkata apapun lagi, diikuti oleh Minseok yang masih dengan sopannya memberi salam pada Kris. Sedangkan Kris hanya bisa memijit pelipisnya yang berdenyut sakit akibat masalah yang terjadi.

.

.

.

.

Luhan terlihat uring-uringan sepanjang waktu. Terjadi banyak masalah yang cukup besar di kantor dan masalah tentang peluncuran kosmetik baru adalah puncak kekesalan Luhan. Sebagai seorang Sajangnim ia merasa bahwa semua masalah adalah tanggung jawabnya sebagai pimpinan tertinggi di perusahaannya dan pertanggung jawabannya akan ditanyakan oleh para rekan bisnisnya—inilah yang membuat Luhan pusing karena jujur…ia malas meladeni orang-orang yang tahunya mau untung saja.

Minseok hanya diam sedari tadi, ia tak berani mendekati Luhan karena aura suram yang dikeluarkan namja pecinta rusa itu. Minseok masih ingat saat menerima telpon dari Baekhyun tentang majalah katalog belanja yang memuat produk kosmetik baru dan produk itu menyamai produk mereka yang bahkan baru akan di launching dua hari lagi. Mendengar hal ini, Minseok segera meminjam majalah tersebut pada karyawan yeoja yang ia ketahui sering membaca majalah itu, setelah itu ia mengabarkan berita ini pada Luhan yang baru saja tiba di kantor. Ia tidak menyangka kabar yang ia dapat dari Baekhyun adalah sebuah masalah besar yang menyulut emosi Luhan ketingkat paling atas.

"Eotteokhe? Padahal berkas ini harus ditandatanganinya sekarang, tapi ia pasti akan marah-marah"Minseok menggigit bibirnya cemas, ia merasa takut untuk memasuki ruang kerja Luhan saat ini.

"Tapi bagaimana pun juga ini sangat penting dan deadlinenya jatuh esok hari"gumam Minseok.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Minseok memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kerja Luhan dan menyerahkan berkas tersebut.

"Sajangnim, ini berkas kerja sama Apollo Inc yang baru saja dikirim lewat fax oleh perusahaan tersebut" ujar Minseok pelan.

"Taruh saja di atas meja ku. Akan ku tandatangani nanti"kata Luhan dengan nada suara yang masih tidak bersahabat. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya dan mungkin juga…pikirannya.

"Tapi Sa—"

"KU BILANG TARUH SAJA DI MEJA KU! APA KAU TIDAK MENGERTI?" bentak Luhan kasar

Minseok tersentak kaget mendengar bentakan Luhan padanya. Ia memang sudah mengantisipasi kejadian seperti ini akan terjadi, tapi rasanya memang sedikit sakit mendengar Luhan membentak dirinya karena Luhan tidak pernah membentaknya sekasar ini selama hampir tiga bulan ia bekerja disini.

"M-minseokie. A-aku tidak sengaja"ucap Luhan setelah sadar bahwa dirinya telah membentak Minseok. Luhan segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju Minseok yang masih mematung karena shock.

GREPP—tangan-tangan Luhan membawa Minseok dalam pelukannya.

"Mianhae" ucap Luhan penuh penyesalan. Ia benar-benar menyesal karena sudah melampiaskan emosinya pada Minseok, bahkan rasa bersalah kian menjadi saat dirasanya tubuh Minseok yang sedikit bergetar karena takut.

Minseok melepaskan pelukan Luhan, bukan karena takut ataupun marah pada namja itu, hanya saja Minseok takut jika nanti ada karyawan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Luhan dan salah paham karena melihat Luhan memeluknya.

"Ne~. Aku tidak apa-apa, Sajangnim"Ucap Minseok dengan senyum lembut. Ia cukup mengerti keadaan Luhan saat ini dan ia tidak ingin Luhan merasa terlalu bersalah padanya.

"Tapi….aku sudah membentakmu dengan kasar tadi. Aku merasa sangat tidak enak padamu,Minseokie"ucap Luhan,kini matanya memandang lurus dan mengunci kedua manik indah Minseok.

Minseok tersenyum, kemudian ia membimbing Luhan untuk kembali duduk di kursinya. Setelah itu, ia membereskan beberapa berkas dan dokumen yang berantakan dimeja Luhan dan menumpuknya sesuai urutan yang ia tahu.

"Nah sudah rapih! Tunggulah disini,Sajangnim! Dan beristirahatlah sebentar!"kata Minseok setengah memerintah, kemudian ia melangkah keluar ruangan.

"Kau mau kemana, Minseokie?"Tanya Luhan menghentikan langkah Minseok.

Minseok menoleh. "Tunggu saja!"katanya sambil tersenyum.

.

.

.

.

"Hmm…harumnya~" ucap Minseok sembari menghirup aroma khas yang dikeluarkan cairan kental berwarna hitam pekat yang berada dalam teko kaca.

Setelah insiden pembentakan (?) dirinya oleh Luhan, Minseok memang berinisiatif untuk membuatkan Luhan segelas kopi. Hal ini dilakukannya karena ia merasa kasihan pada Luhan yang terlihat sangat kelelahan, bahkan Minseok yakin bahwa Luhan tidak memiliki cukup waktu untuk tidur saat ia meihat lingkaran hitam yang semakin kentara di mata rusa Luhan.

"Apa Anda memerlukan bantuan,Sekretaris Kim?" Tanya seorang OG(Office Girl) sembari masuk ke dalam pantry

"Ani, aku sudah selesai. Gamsahamnida karena telah membantuku menemukan alat penyeduh kopi manual ini (bayangin aja eps. EXO Showtime waktu Minseok bikin kopi ne~^^) mmm…Yuna-sshi" Jawab Minseok sambil melirik nametag OG yang tadi membantunya.

"Itu sudah menjadi tugasku" ucap OG tersebut sambil tersenyum. "Tapi kenapa Anda lebih memilih untuk menyeduk kopi dengan alat yang merepotkan itu? Padahal kan akan lebih mudah jika Anda menggunakan mesin kopi itu" Kata OG yang hanya menatap kagum Minseok saat membuat kopi.

"Entahlah, aku hanya merasa kalau kopi yang dibuat dengan cara seperti ini jauh lebih enak. Sebenarnya aku tidak menyangka kalau pantry memiliki alat ini dan terima kasih karena kau sudah menemukannya" Ucap Minseok dengan senyuman manisnya. Kemudian ia memindahkan kopi yang dibuatnya kedalam cangkir lalu diletakannya di atas baki.

"Ng..ngg…itu bukan masalah. Aku sudah mengatakan kalau itu tugasku, lagipula aku senang membantu Anda. Kalau soal alat itu, aku hanya ingat jika alat itu pernah digunakan untuk membuat kopi saat perusahaan bekerja sama dengan perusahaan Italia" OG itu terlihat gugup saat menjawab perkataan Minseok yang disertai senyuman manis.

"Italia?" Minseok mengeryit bingung.

"Atasan ku bilang kalau orang Italia sangat menyukai kopi dan saat itu Sajangnim yang dulu memerintahkan pada bagian pantry untuk membuat kopi dengan cara manual seperti yang tadi Sekretaris Kim lakukan"Jelas OG tersebut saat melihat raut kebingungan Minseok.

"Oh begitu rupanya" Minseok mengangguk kecil."Oh iya apa kau membawa pesananku?"Tanya Minseok.

"Ne" Jawab OG tersebut sambil menunjukkan kantong plastic putih ditangannya. "Ini" kemudian ia memberikan kantong palstik itu pada Minseok.

"Ahhhh~ Gamsahamnida" seru Minseok senang.

"Cheonma" jawab OG tersebut sambil tersenyum.

Setelah itu Minseok berpamitan kepada OG tersebut dan kembali ke ruangannya dengan membawa kopi yang ia buat di tangan serta kantung plastic putih yang tergantung di pergelangan tangannya.

.

.

.

.

CKLEKK

"YAKK! Apa yang kukatakan tentang beristirahat eoh? Apa kau tidak mendengarkan semua yang ku katakan padamu,hah?" Seru Minseok kesal. Bagaimana tidak? Lihat saja Luhan yang kini tengah sibuk kembali dengan pekerjaannya dan membuat meja yang sudah dirapihkan Minseok menjadi berantakan lagi.

"M-Minseok-ah...K-kau sudah kembali?"Tanya Luhan tergagap—merasa takut dengan aura pembunuh Minseok. Awalnya ia memang ingin beristirahat seperti apa yang minseok katakana padanya, namun karena bosan Ia memutuskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sembari menunggu Minseok kembali.

Minseok berjalan menuju satu set sofa dan meja yang berada di tengah ruangan sang Sajangnim, kemudian ia meletakan semua bawaannya di atas meja dan menatanya dengan hati-hati. Setelah selesai dengan urusannya, Minseok memutar tubuhnya ke arah Luhan dan menatap namja itu dengan deathglare yang lebih pantas disebut cuteglare andalannya.

"Kau cepat kemari!"titah Minseok dengan wajah kesal.

Luhan hanya mengangguk dan berjalan ke tempat Minseok berdiri, ia sungguh tidak mau mencari gara-gara dengan Minseok yang sedang dalam mode 'crazy Baozi' terlebih ia masih merasa bersalah sehingga ia tidak mampu menolak kata-kata Minseok.

"sekarang duduk!"titah Minseok, sedangkan Luhan hanya menurut dengan tampang innocentnya.

Luhan melirik kopi dan strawberry cake yang tertata rapi di atas meja kaca, ia melirik bingung ke arah Minseok yang kini juga duduk dengan posisi berhadapan dengannya.

"Saat ini anggap saja kita sedang diluar jam kerja dan anggap saja kita bukan atasan dan bawahan tapi teman,ok?"kata Minseok sambil tersenyum, kemudian ia meletakan sebuah garpu kecil di samping cake milik Luhan.

"Apa kau melakukan semua ini untuk ku?" Tanya Luhan—matanya menatap lurus ke dalam mata Minseok.

"Tentu saja!"jawab Minseok masih dengan senyumannya.

"Kenapa?"Tanya Luhan. "Maksudku…kau tahu kan kalau aku sering mengganggumu, jadi kupikir kau pasti membenciku" lanjut Luhan.

Minseok memandang Luhan, lalu tersenyum. "Aku tidak pernah bilang kalu aku membencimu. Hanya saja…terkadang sifat kekanakanku muncul saat seseorang menggodaku dan membuatku kesal, tapi aku tidak pernah memasukkan hal itu ke dalam hati" ucap Minseok lembut. "Dan….aku melakukan ini karena aku rasa kau pasti sangat lelah dan pusing dengan semua yang masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Kau tahu? Kau terlihat mengerikan beberapa hari ini" sambung Minseok dengan senyuman.

"Hahaha…benarkah aku terlihat menyeramkan?"Tanya Luhan sembari tertawa lepas, tubuhnya sedikit lebih rileks.

"…."Minseok hanya mengangguk lucu.

"Aku pasti sudah membuat semua karyawan disini takut,tapi… jujur beberapa masalah yang muncul memang benar-benar merepotkan dan mengancam perusahaan kita. Aku hanya merasa lelah mencari jalan keluarnya dan….. aku menyesal karena aku sudah melampiaskan rasa kesalku pada orang-orang disekitarku" kata Luhan dengan raut wajah yang penuh rasa lelah dan penyesalan.

"Itu pasti karena kau terlalu membebankan semua masalah dipundakmu. Memang sudah kewajibanmu untuk membuat perusahaan tetap dalam keadaan stabil dan semua proyek berjalan lancar, tapi kau juga harus ingat kalau kau memiliki bawahan dan karyawan yang siap membantumu, jadi…..jangan selalu menanggung semuanya sendiri…karena… jika kau seperti itu….aku…merasa tidak berguna sebagai sekretarismu"kata Minseok, manik almondnya memandang lurus ke manik rusa milik Luhan—menguncinya dan menyakinkan pemiliknya pada setiap perkataan Minseok

Luhan terdiam dan kemudian sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, ia membawa telapak tangannya ke puncak kepala Minseok dan mengusap lembut surai honey brown Minseok yang membuat pemiliknya menunduk malu.

"Gomawo~. Aku tidak tahu apa jadinya jika aku tidak memilikimu disisiku. Aku pasti sudah membuat banyak kesalahan dan membuat para karyawan membenciku"ucap Luhan dengan tulus.

"S-sajangnim"Lirih Minseok, kepalanya semakin menunduk dalam untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar ke kedua pipi chubbynya.

"Jja…ayo kita makan~"ucap Luhan riang ,kemudian ia mengambil garpu kecil disamping cakenya dan mulai memakan cake tersebut.

Minseok memegang dada kirinya, ia bingung tapi merasa nyaman dengan desiran halus dan hangat yang menyebar ke dadanya saat melihat wajah Luhan yang sekarang terlihat lebih hidup saat ini, kemudian ia mengikuti jejak Luhan untuk memakan cake yang ia beli.

. . . . . .

Sruppp

Luhan menyesap kopi yang ada di cangkirnya dengan pelan, berusaha untuk menikmati aroma dan rasa yang membuat kantuknya hilang.

TEK—kemudian ia meletakkan cangkir kopi tersebut kembali ke meja.

"Rasanya berbeda. Apa pantry mengganti merk kopi yang kita pakai?"Tanya Luhan pada Minseok yang masih asyik dengan strawberry cake yang ia makan sedikit demi sedikit dan ia kunyah secara perlahan. Luhan rasa Minseok benar-benar menyukai cake tersebut dan tidak ingin makanan manis itu cepat habis.

"Sebenarnya tidak juga. Aku menggunakan bubuk kopi yang sama hanya saja aku membuatnya dengan cara yang berbeda" jawab Minseok tanpa mengalihkan pandangannya dari cake miliknya.

"Berbeda ? maksudmu?"Tanya Luhan.

"Aku sulit untuk menjelaskannya, mmmm…mungkin dengan cara barista membuat kopi. Kau mengerti kan?"jawab Minseok lalu kembali menguyah cakenya dengan khusyuk (?), bahkan kini ia terlihat seperti seekor hamster yang manis dengan pipi yang menggembung lucu .

"Ya, aku menger—"

SREETT

DEG

Minseok berhenti menguyah saat dirasanya sebuah ibu jari yang dingin menyentuh sudut bibirnya dan kini matanya manatap Luhan yang juga tengah melihat kea rah bibirnya.

"Ada krim di sudut bibirmu"Kata Luhan dengan wajah innocentnya, tak tahukah ia bahwa perbuatannya membuat jantung Minseok memompa darah lebih cepat dari biasanya?

"G-gomawo"ucap Minseok, ia sendiri sebenarnya tidak yakin untuk apa ia mengucapkan terima kasih, mungkin saja karena Minseok mulai menikmati sikap Luhan yang lembut dan hangat saat ini.

"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?"Tanya Minseok, mencoba mengalihkan keadaan dengan sebuah perbincangan.

"Apa yang akan kita lakukan?"Luhan mengulang kalimat Minseok sambil mengernyit bingung, namun sedetik kemudian senyum penuh arti terukir dibibir tipisnya. Sedetik kemudian, Luhan berdiri dan berjalan menuju sofa yang diduduki oleh Minseok, lalu mendudukan dirinya disamping Minseok.

PUK—Luhan melingkarkan tangannya yang ramping itu ke bahu Minseok.

"Y-Yakk…a-apa yang kau lakukan?" Tanya Minseok gugup.

"kau kan tadi bertanya aa yang akan kita lakukan"kata Luhan dengan senyum penuh arti. "Jadi bagaimana kalau kita bersenang-senang saja, hmm?" bisik Luhan seduktif di telinga Minseok.

"…."mata Minseok berkedip lucu saat memproses kata-kata Luhan, bahkan ia tidak menyadari jika Luhan kini sudah menyerukkan kepalanya di perpotongan leher Minseok—menghirup dalam aroma tubuh Minseok yang menenangkan.

1 detik

2 detik

3 detik

PLAKK

DUAGH

BRUKK

BRAKK

"YAKK! Dasar namja MESUMMM" Pekik Minseok karena kesal.

Setelah mempraktekan beberapa teknik dan jurus Taekwondo pada Luhan yang kini terbaring dengan tak elitnya dilantai. Minseok begegas keluar dengan langkah kaki yang dihentak keras karena kesal.

"Aigo…Nae Minseokie memang daebak. Aku jadi semakin menginginkannya,hahaha "ucap Luhan. " sshh..tapi ini benar-benar sakit" lanjut Luhan sambil meringis sakit karena luka disudut bibirnya. (hadeuh Lulu appa tidak lihat situasi sih -_-"). Kemudian ia bangkit dan bergegas menyusul Minsek yang teah menghilang dengan cepat dari pandangannya.

.

.

.

.

Minseok berjalan keluar dengan kesal, sesekali ia menghentakan kakinya dengan keras saat ia teringat ulah Luhan diruangan namja rusa tersebut. Bibir mungilnya terus berkomat-kamit dan menimbulkan kesan imut bagi setiap karyawan yang tak sengaja berpapasan dengan sekretaris pemilik EXO group tersebut.

Langkah dari kaki mungilnya menuntunnya menuju sebuah lift. Disana, Minek menyandarkan tubuh mungilnya pada dinding di samping pintu lift tersebut. Kepala Minseok menunduk dan menyembunyikan dua manik almondnya yang tengah meneranwang jauh.

"Ish…menyebalkan." Gumam Minseok, terlihat rona merah yang menjalar ke seluruh pipi chubbynya.

Semua memori kebersamaannya bersama Luhan berputar bagai sebuah film dikepalanya, dimulai dari pertemuannya dengan Luhan di XOXO Department Store hingga hari-hari yang dihabiskan untuk bekerja bersama Luhan. Minseok tidak memungkiri bahwa Luhan tidak hanya membuatnya kesal tapi juga memberikan hal-hal manis yang membuat jantungnya berdetak kencang.

'Mungkinkah ia telah jatuh cinta?'

"Pabbo Minseok! Tidak mungkin…tidak mungkin" Minseok merutuki dirinya sendiri dengan sesekali menggelengkan kepalanya . Tangan kanannya meremas dadanya, dimana jantunganya tersimpan aman dengan detaknya yang cepat namun terasa menyenangkan—menyebarkan rasa menggelitik ke perutnya.

"Neo…Gwaechana?"

Minseok tersentak mendengar suara yang familiar di telinganya. Kepalanya mendongak dan menemukan Luhan yang tengah menatapnya dengan mata rusanya yang jernih.

.

.

Luhan mengejar Minseok yang sudah hilang entah kemana. Ia berlari mencari Minseok hingga langkah kakinya membawanya ke sebuah lorong dimana terletak beberapa ruang rapat yang sepi. Senyum Luhan mengembang tak kala manik rusanya menangkap siluet seseorang yang sangat ia kenali.

Dengan perlahan ia melangkah mendekati Minseok yang nampak tengah bersandar pada dinding samping pintu lift dengan kepala yang menunduk.

"Neo…Gwaechana?"Tanya Luhan khawatir.

Luhan dapat melihat wajah Minseok yang perlahan mendongak menghadapnya. Kedua pipi Minseok yang memerah dengan mata almondnya yang menatapnya dengan pandangan polos, membuat Luhan secara perlahan menyentuh kedua pipi chubby tersebut dengan jari-jarinya dan membelainya lembut.

Bagai kehilangan kesadaran dan akal sehatnya, Minseok hanya diam dan menikmati setiap sentuhan Luhan. Bahkan Minseok hanya mampu memejamkan matanya ketika secara perlahan Luhan mendekatkan wajahnya ea rah Minseok dan mengeliminasi jarak dia antara mereka.

Minseok dapat merasakan bagaimana bibir mungilnya bersentuhan dengan bibir tipis milik Luhan. Ia juga dapat merasakan saat Tubuh ramping nan kokoh milik Luhan semakin merapat ke tubuhnya dan memenjarakan tubuh mungilnya diantara dinding dan tubuh sang Sajangnim.

"Nnhh.." Minsseok melenguh ketika bibir tipis Luhan melumat bibir atas dan bawahnya secara bergantian.

Jika Minseok merasa kehilangan kesadarannya saat ini, maka Luha justru merasa sangat senang saat ini. Bagaimana tidak ? Minseok kini berada dalam kungkungannya dan jangan lupakan bahwa Minseok yang biasanya bersikap tsundere itu kini tidak menolak ciumannya.

Luhan melumat kedua belah bibir Minseok secara bergantian, lidahnya mulai berani menjilat bibir Minseok seolah meminta siempunya membuka akses bagi Luhan menginvasi rongga hangat milik Minseok.

"Mmpphh" Desah Minseok tertahan ketika Luhan menyusupkan tangannya ke dalam jas dan kemeja Minseok danmengelus punggung sempitnya.

"Akh.." Minseok membuka mulutnya ketika ia merasakan Luhan menggigit bibirnya dan sedetik kemudian dapat Minseok rasakan lidah hangat Luhan menyusuri rongga hangat miliknya.

"Mppckkk…nhhh…mppcck.."

"mmpphhh…nhhh.."

"Mppcckk..mmphh….nhh"

PLOP

Luhan melepaskan tautan bibirnya dengan Minseok, terlihat benang saliva yang menghubungkan keduanya. Ditatapnya wajah Minseok yang bersemu merah dengan nafas yang tersenggal-senggal dan mata yang menatapnya sayu.

Luhan menempelkan keningnya ke kening Minseok dan membawa tubuh Minseok ke dalam pelukannya.

"Minseok-ah" ucap Luhan dengan suara paraunya.

"…."Minseok hanya menatap Luhan dengan matanya yang sayu.

"Mungkin dimatamu aku hanyalah orang yang cuma bisa membuat mu kesal, tapi kau juga harus tahu kalau hanya akulah orang yang memperhatikan dan memikirkanmu sepanjang waktu"

"…."

"Minseok-ah ….saranghae"

T.B.C

Gyu Corner

Annyeong Chingudeul…..^^

Masih adakah yang nungguin FF yang ditinggal galau oleh Gyu ini ?

Hahaha…Mianhae Chingu~. Gyu baru jadi MABA nih, jadi Gyu lagi sibuk-sibuknya sama urusan ngampus hehe (# digampar Readers).

Sebenernya Gyu udah mau ngelanjutin ff ini dari minggu kemarin ,tapi Inspirasi Gyu menguap entah kemana setelah denger berita atau rumor keluarnya Lulu Appa dari EXO T_T. Nah…selesai bergalau-galau ria, akhirnya Gyu memutuskan untuk melanjutkan ff ini.

Oh iya seperti biasa Gyu ucapkan Gomawo untuk semua reader yang sudah setia baca ff ini dan ngasih review ke Gyu, karena review para reader yang membuat Gyu bangkit dan melanjutkan ff ini. Untuk semua fans Lulu Appa, kita doakan yang terbaik untuk idol kita satu itu dan semoga EXO tidak terpisah-pisah lagi dan semoga mereka bisa kembali ber-12 lagi.# amin.

Review Juseyo~

#Big Hug and Popo for All My readers