Precious Love

Cast :

Luhan X Minseok

And other Cast

Warning :

Typo bertebaran, EYD berantakan, BL,dll

Disclaimer :

Saya hanya punya ceritanya saja, sedangkan para cast milik Tuhan YME, orang tua, diri mereka sendiri, agensi, dan fans

Annyeong ~. Masih adakah yang ingat dengan FF abal ini?. Sebelumnya Gyu mau ngucapin maaf sebesar-besarnya kepada para reader karena sudah hiatus tanpa pemberitahuan. Sebenernya Gyu udah lama pengen update Precious Love , tapi ternyata takdir mengatakan lain (#PLAKK), Ok... Gyu agak lebay, tapi serius deh tahun ini bener-bener jadi tahun kelabu buat Gyu karena setelah Kris pergi Luhan dan Tao juga pergi dari EXO dan ini yang bikin Gyu kena writeblocker karena inspirasi hilang dan menguap gitu aja. Selain itu karena Gyu saat itu masih berstatus MABA , jadi Gyu agak syok dengan kehidupan kampus dan akhirnya jatuh sakit berkali-kali T_T . Tapi setelah ini Gyu akan berusaha untuk tetap update secepatnya 2 minggu sekali atau sebulan sekali. Oh iya adakah reader yang perlu kontak Gyu untuk mengingatkan deadline? Tolong kasih pendapat kalian apakah Gyu harus berbagi kontak dengan para reader yang setia dan baik hati (#puppy eyes bareng Baekhyun)

Selamat membaca

Chapter 8

Suasana di kantor EXO group sedikit berbeda dari beberapa waktu yang lalu. Para karyawan masih tetap sibuk seperti biasanya, namun kini tampang stress dan lelah sudah tidak begitu kentara di wajah mereka. Kenapa begitu? Itu karena produk baru mereka sukses dipasaran dan terima kasih kepada otak encer sang Sajangnim serta jiwa iblis sang Direktur Marketing mereka yang benar-benar membalas perbuatan perusahaan plagiat tersebut hingga produk bajakan itu kalah pamor dari produk EXO Group.

.

.

Tampak seorang namja bermata rusa dan bertampang innocent itu menatap penuh tanya pada namja jangkung berambut dirty blonde dihadapannya.

"Apa kau yakin?"namja bermata rusa itu a.k.a Luhan bertanya penuh dengan rasa tak percaya.

"Aku sudah menyelidikinya sampai keakarnnya. Kebocoran tentang produk baru itu tidak dilakukan oleh para karyawan disini ,tapi oleh orang luar yang mencuri data kita dengan cara meng-hack sistem komputer utama EXO Group" jawab Kris panjang lebar.

"Aku mengerti soal itu kris, tapi—" Luhan memijat pelipisnya yang berdenyut pusing saat melihat laporan dari Kris. "Apa kau yakin 'Dia' pelakunya?"

"Bagian IT kita sudah menyelidikinya! Memang sangat sulit, namun pada akhirnya mereka menemukan si pelaku dan mau tidak mau kau harus menerima kenyataan bahwa 'Dia ' pelakunya" ucap Kris santai, seolah-olah apa yang dibicarakan bukanlah masalah yang besar.

"Tapi—"

"Apa kau meragukanku?" tanya Kris sebelum Luhan kembali mencoba menyangkal fakta yang ada.

"Oh Kris, kau tahu dengan pasti kalau aku sangat percaya dengan kinerjamu bukan? Tapi—hanya saja untuk apa 'Dia' melakukan semua ini? Orang-orang ku bahkan belum berhasil menemukannya" ucap Luhan frustasi.

"ku akui 'Dia' memang menyebalkan dan kali ini 'dia' sudah keterlaluan" Kris menatap tajam Luhan. "kau harus berbicara padanya dan menghukumnya, Luhan" ucap Kris dengan nada serius.

"Aku memang benar-benar akan menghabisinya" tekad Luhan yang terlihat gusar dengan si pelaku. "Apa kau punya ide untuk memancingnya keluar tanpa aku harus repot-repot memancingnya?" tanya Luhan.

Untuk sejenak Kris terdiam, namun kemudian seringai tipis menghiasi namja tampan tersebut . "Everyone needs money, as well as with him. You know what i mean ,right?"

"Of course, and this time that little bastard will receive his punishment" ucap Luhan penuh penekanan.

.

.

.

Hari ini namja imut yang mengaku dirinya manly ini tampak berbeda. Sebenarnya ia masih semanis hari-hari sebelumnya dan seramah seperti sebelumnya, namun entah mengapa ia nampak seperti zombi yang tersesat di kantor EXO Group.

Namja manis itu a.k.a Kim Minseok berjalan lesu dengan kantung mata di bawah mata almond nya. Dalam hati Minseok merutuki sahabat cerewetnya—Baekhyun yang tanpa permisi datang ke apartmentnya dan mengadakan pesta dadakan hingga dini hari tadi. Yang membuat Minseok kesal adalah kenyataan bahwa ia hanya dijadikan 'tong sampah' oleh Baekhyun.

Flashback on

"Hey Bacon, sudah berhenti! Kau sudah mabuk" bujuk Minseok pada Baekhyun yang masih saja menenggak soju yang entah sudah gelas keberapa.

"ckckck...aku ...hik...tidak...hik..ma..hik...buk, Minseokie~. Kekeke" ucap Baekhyun dengan nada sing a song.

" Yakk! Kalau kau mau mabuk sebaiknya jangan di rumah orang lain" ucao Minseok mulai kesal.

"kau..hik...sama saja..hik...dengan..hik...si Dobi...berengsek itu! Tidak ada yang menginginkanku" kata Baekhyun. Wajahnya yang biasa ceria dan bersemangat itu berubah sendu.

Minseok yang memang pada dasarnya memang baik hati menjadi tidak tega. Kemudian ia menghampiri Baekhyun dan merangkulnya.

"Memang apa lagi yang dilakukan oleh Chanyeol kepada mu?" tanya Minseok lembut, mencoba untuk membuat Baekhyun nyaman.

"JANGAN SEBUT NAMA SI IDIOT KUADRAT BERENGSEK ITU!" bentak Baekhyun .

'sabar Minseok' batin Minseok merana. "arraseo...lalu aku harus memanggilnya apa,hmm?" tanya Minseok dengan kelembutan yang sama.

"Panggil saja dia Dobi, Idiot atau apapun hal buruk yang kau tahu untuknya" ucap Baekhyun lirih.

"Ok, jadi apa yang dilakukan..mmm...si Dobi itu padamu?" tanya Minseok setelah menimbang nama sebutan apa yang lebih sopan untuk Chanyeol.

"Dia bilang ia mencintaiku—"

"Dia bilang ia menyesal karena menyakitiku—"

"Dia juga bilang ia ingin kembali bersamaku dan memulai semua dari awal, tapi—"

"Tapi kenapa dia justru hiks melakukan kesalahan yang sama hiks" ucap Baekhyun yang kini mulai meneteskan airmata.

Minseok hanya diam dan membiarkan Baekhyun menumpahkan isi hatinya.

"Hiks...kenapa ia justru...hiks... 'bermain' dengan yeoja lain saat...hiks... ia mengatakan ingin kembali padaku hiks...ini tidak adil...hiks...kenapa...hiks...aku yang selalu menderita...hiks" Baekhyun terisak dan beberapa menit kemudian ia jatuh tertidur dengan Minseok sebagai sandarannya.

" Kadang aku sebal dengan sikap mu yang seenaknya, tapi melihatmu menangis seperti ini...membuatku ingin mematahkan hidung si Idiot itu" ucap Minseok yang merasa sedih dan kesal pada orang yang membuat sahabatnya menderita.

Kemudian Minseok membopong tubuh Baekhyun ke dalam kamarnya dan menidurkan tubuh yang sama mungilnya itu ke atas kasur miliknya.

"Jalja Baek"

Flashback off

"Padahal aku sudah berbaik hati menjadi tempat curhatnya, tapi bukannya berterima kasih ia justru mengomel karena bangun kesiangan dan lupa tentang yang tadi malam. Ugh dasar...menyebalkan" gumam Minseok, bibir mungilnya mencebil hingga membuat para seme gemas ingin mengigitnya.

Minseok berjalan sambil menundukan kepalanya, ia merasa malas dan tidak bergairah untuk masuk kerja hari ini. Kalau boleh ia ingin sekali membolos hari ini tapi ia tidak mau mempermalukan orang tuanya karena perilakunya tersebut.

DUK

"Aww, appo!" keluh Minseok sambil mengelus dahinya yang terbentur saat hendak memasuki ruangannya.

"Ckck...kenapa pagi-pagi seperti ini nae Minseokie sudah seagresif ini ,hmm?" terdengar suara yang menyebalakn yang sangat familiar di telinga Minseok.

"Anyeong Sajangnim" sapa Minseok lesu, kemudian ia berlalu meninggalkan Luhan yang bingung menatapnya.

Minseok duduk dikursinya dan menyalakan laptopnya, kemudian ia membuka buku agenda yang selalu terselip manis disaku dalam jasnya.

"Hari ini pun sangat padat" gumam Minseok sambil menandai pertemuan-pertemuan penting yang akan dihadiri Luhan.

"Ehem"

Minseok menoleh ke asal suara deheman tersebut. " Eoh Sajangnim! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Minseok .

Luhan memperhatikan Minseok dengan seksama, mencari apa yang salah dengan Baozinya.

Wajah imut –cek

Pipi bulat—cek

Bibir tipis yang basah – cek

"Ah!" Seru Luhan, kemudian dengan gerakan cepat ia menangkup wajah minseok dan memperhatikan Minseok lebih dekat.

"Kenapa kau berubah menjadi seperti kekasihnya Kris?" tanya Luhan sambil terus menatap wajah mungil Minseok.

"Apa maksud mu Sajangnim?" Tanya Minseok bingung.

"kenapa kau memiliki mata panda seperti Tao? Apa itu trend terbaru? Kau seperti orang yang sakit keras jika seperti ini" kata Luhan mendramatisir keadaan.

"Aku hanya kurang tidur Sajangnim. Semalam teman ku menginap di apartmenku dan membuatku baru bisa tidur dini hari tadi" jelas Minseok.

"Teman? Apartmen? Apa yang kau lakukan bersama temanmu itu, Kim Minseok?" Aura Luhan berubah menjadi suram dan nada bicaranya terdengar sangan dingin.

Minseok menyadari jika Luhan tengah dalam mode cemburunya..ehh...tunggu dulu...bukankah rasa cemburu seperti ini biasanya hanya dimiliki sepasang kekasih? Tapi bukankah ia dan Luhan bukan..ani..tepatnya belum menjadi kekasih? Memikirkan kata kekasih yang dikaitkan dengan Luhan membuat Minseok merasa malu dan menimbulkan rona merah di pipi putihnya yang semakin membuat namja dihadapannya berpikir yang iya-iya.

"Kenapa wajahmu memerah seperti itu Minseokie? Apa kau telah—"

"Bukan seperti itu" potong Minseok cepat. "Teman yang kumaksud itu Byun Baekhyun. Kemarin ia datang ke apartmenku karena ingin merayakan kesuksesan launching produk baru kita"jelas Minseok cepat.

"lalu kenapa kau jadi blushing seperti itu?" tanya Luhan yang emosinya sedikit mereda karena penjelasan Minseok.

"Itu...itu karena ..mmm...aku teringat...mmm...lift" ucap Minseok pelan. "A-aku permisi ke toilet sebentar ,Sajangnim" setelah itu Minseok melesat cepat meninggalkan Luhan yang masih mencerna kata-kata Minseok.

"Lift? Lift? AHH...aku tahu" seru Luhan senang. "Ckckck...uri Minseokie sangat pemalu,eoh?" goda Luhan.

"Apa mungkin ia menerima pernyataan cintaku itu?" kata Luhan tersenyum tampan.

.

.

"Aisshh...kau bodoh Kim Minseok!" ucap minseok yang terus merutuki dirinya sendiri di salah satu bilik toilet.

Setelah kabur dari Luhan Minseok memilih untuk menenangkan diri (baca:bersembunyi) di toilet. Wajah Minseok sudah memerah karena malu dan jantungnya pun berdetak sangat kencang. Kalau boleh jujur, ia memang merasa canggung untuk berhadapan dengan Luhan jika dalam kondisi santai dan lengang dari pekerjaan. Minseok lebih memilih untuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang bisa mengalihkan perasaan aneh yang membuatnya salah tingkah, dibanding harus berduaan dengan Luhan tanpa melakukan apapun.

"Hahh...aku harus segera kembali" ujarnya sembari melihat jam tangannya. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya Minseok keluar dari toilet dan menuju ke ruangannya—bersiap menghadapi Luhan yang seratus persen akan menganggunya hari ini.

.

.

"Nae sarang, kenapa kau lama sekali eoh?" tanya Luhan dengan senyum gajenya.

Minseok hanya mendengus mendengar perkataan Luhan yang kini terdengar sangat menyebalkan. Namja manis itu berusaha mengabaikan Luhan yang berdiri dengan pose bak model di depan pintu yang memisahkan ruangan mereka. Minseok kemudian mulai menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang membuat Luhan jengah melihatnya.

Luhan berjalan menghampiri Minseok dengan wajah cemberut. Namja berwajah tampan dan feminim itu kemudian mendudukan dirinya di atas meja kerja Minseok.

"Kenapa kau mengacuhkan ku,eoh?" tanya Luhan dengan gaya merajuknya.

"Ani! Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Sajangnim" jawab Minseok tanpa mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang sebenarnya tidak penting itu.

"Aku tahu kau sekarang sedang malu" ucap Luhan dengan nada sing a song yang menyebalkan.

"Untuk apa aku merasa seperti itu?" jawab Minseok sebal. Bibirnya mencebil imut.

Luhan terkekeh melihat perilaku Minseok, kemudian ia memutuskan untuk berdiri dan beranjak menuju samping Minseok.

GREPP

Luhan merangkul Minseok dari samping, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Minseok dan berkata " Tsundere" ledek Luhan.

CTAKK—perempatan siku-siku muncul di dahi Minseok.

"Aku bukan orang yang tsundere!"elak Minseok

"Benarkah? Lalu kenapa kau masih menghindari ku dan bersikap dingin padaku? Padahal hati mu telah jatuh untuk ku!" pancing Luhan yang kini telah menyerukkan kepalnya ke leher Minseok.

"Sok tahu sekali" ketus Minseok yang justru mendatangkan kekehan dari namja rusa tersebut.

"You cant lie to me,Babe! I know you want me as much as i want you!" bisik Luhan dengan nada yang seduktif, kemudian tanpa aba-aba ia mengulum daun telingan Minseok dengan lembut.

"Ngg...akhh..ku..timmhhhdakhh..nghh seperti itu!" ucap Minseok sambil menhan sensai geli yang diakibatkan oleh perbuatan Luhan.

Sreett—Luhan mengalihkan pandangan Minseok ke arahnya

"Saranghae...Jeongmal Saranghae" ucap Luhan kemudian ia mencium bibir mungil Minseok dan melumatnya sebentar.

"Mulai sekarang kau adalah namjachingu ku! Dan aku tidak menerima penolakan" Kata Luhan penuh penekanan, kemudain namja itu berlalu meninggalkan Minseok yang masih mematung.

1 detik

2 detik

3 detik

BRAAKK

"DASAR NAMJA SIALAN!" pekik Minseok sambil melempar sebuah buku ke pintu ruangan Luhan, sedangkan Luhan hanya terkikik geli karena berhasil mengerjai Minseok.

.

.

.

.

Minseok sebenarnya hanya namja biasa yang menyukai ketenangan dalam hidupnya. Ia tidak suka membesar-besarkan dan memperpanjang masalah sehingga ia menjadi orang yang gampang memaafkan orang lain—bukti nyatanya adalah kesabarannya menghadapi Byun Baekhyun. Namun, sungguh untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa sudah kehabisan kesabaran dalam menghadapi makhluk Tuhan paling ababil bernama Xi Luhan. Setelah kejadian memalukan beberapa waktu yang lalu, sikap Luhan menjadi lebih sangat menyabalkan daripada biasanya. Luhan kini lebih cerewet mengenai dirinya dan lebih overposesif tentunya.

"Arghh... kenapa dia menyebalkan sekali sih?" gerutu Minseok sambil mengacak rambutnya.

CKLEK

"Xiu ge, Gwaechanayo?" Tanya Tao sambil memasuki ruangan Minseok.

"Eoh? Sejak kapan kau ada disini?" Minseok menjawab pertanyaan Tao dengan pertanyaan lain.

"Baru saja. Apa Sajangnim ada di ruangannya?" Tanya Tao

"Ne, beliau ada kau ada perlu dengannya?" Tanya Minseok.

"Begitulah, Kris ge memintaku melaporkan hasil penjualan produk baru kepada Sajangnim karena Kris ge sedang sibuk berdebat dengan bagian keuangan" jelas Tao.

"Kalau begitu masuklah" Ujar Minseok.

Tao mengangguk dan memasuki ruangan Luhan setelah sebelumnya mengetuk pintu. Minseok kembali berusaha untuk fokus pada pekerjaannya meskipun tingkah menyebalkan Luhan seringkali berkelebat dipikirannya.

Tap

Tap

Tap

Suara langkah kaki yang dihentak kuat terdengar di ruangan tersebut,membuat Minseok menghentikan aktifitasnya dan menatap ke sosok namja tinggi dan berkulit putih dihadapannya.

"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Tanya Minseok

Namja putih itu menatap Minseok dengan intens,memperhatiakn setiap detail yanga ada pada wajah Minseok dan sukses membuat Minseok merasa risih. Setelah beberapa detik menatap Minseok, namja putih itu mengalihkan pandangannya sambil mendengus.

"Dasar gendut" ucap namja putih itu dengan datar.

"Y-ye? "Minseok berusaha memastikan apa yang baru saja ia dengar. Ia yakin kalau ia tidak memiliki masalah pendengaran dan benar jika namja di hadapannya ini baru saja mengatakan kalau ia GENDUT. For a god damn sake Minseok tidak suka jika dikatakan gendut .

"Maaf ta—"

"Tuan! Anda tidak boleh masuk keruangan tanpa ijin" seru Minseok saat melihat namja yang baru saja mengatakan ia gendut hampir meraih handle pintu ruangan Luhan saat ia mencoba memprotes ejekan namja putih itu.

"siapa kau berani melarangku? Aku ingin bertemu dengan Lulu" kata namja itu sambil memandang datar Minseok.

"Tapi Anda harus membuat janji atau mendapatkan ijin dari Sajangnim dulu, Tuan" ucap Minseok sabar.

Namja itu berbalik dan melangkah mendekati Minseok. " Aku tidak perlu ijin untuk menemui namja sialan yang berada di ruangan itu!" ucap namja dengan nada tinggi sambil menunjuk ruangan Luhan.

" Tapi—"

"Apa yang sedang terjadi disini? kenapa ribut sekali?" sebuah suara menginterupsi perdebatan dua namja didepannya.

"S-sajangnim—"

"Lulu!" pekik namja putih tersebut.

Lulu atau Luhan itu memandang jengah namja putih tersebut ,kemudian dengan isyarat tangan menyuruh namja putih itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Minseok hanya menatap heran punggung Luhan yang menghilang di balik pintu. ' Apa hubungan Luhan dengan namja menyebalkan itu?' batin Minseok.

"ge...xiu ge!"

"N-ne..a-ada apa Tao?"

" Gege kenapa?"

"Gwaechana, aku hanya penasaran dengan namja tadi. Apa kau tahu siapa namja tadi?"

"Ani! Aku tidak pernah melihat namja itu di kantor selama aku bekerja disini"

"..."Minseok hanya diam , tenggelam dalam pikirannya sendiri.

.

.

.

"APA KAU YANG SUDAH MEMBLOKIR SEMUA KARTU KREDIT DAN ATM MILIKKU?"

Luhan menutup telingannya sesaat setelah namja didepannya bertanya...mmm...mungkin lebih tepat disebut berteriak dan untung saja ruangannya dirancang kedap suara sehingga suara yang memekakan telinga itu terdengar karyawan yang lain.

"Kalau iya memangnya kenapa? Sahut Luhan dengan nada malas.

"Kenapa kau melakukannya ? apa kau ingin membuatku mati kelaparan, hah!?" Tuduh namja putih itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Luhan, sedangkan yang ditunjuk hanya memandang datar si pelaku.

"Lalu apa kau pikir ulahmu yang membobol data perusahaan dan menjualnya pada perusahaan lain tidak menyebabkan ribuan karyawan Exo group mati kelaparan,hah?" tanya Luhan dengan nada dingin dan menusuk.

"..." Namja di depan Luhan itu hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.

"Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu, Oh Sehun. Kenapa kau selalu saja membuat masalah,hah!?"

Namja bernama Sehun itu menunduk setelah mendenar kata-kata Luhan. Kedua tangannya mengepal erat di kedua pahanya.

"Benar...bagimu aku hanya pembuat masalah saja bukan?"lirih Sehun. "Kalau begitu mulai sekarang berhentilah mengurusi si pembuat masalah sepertiku dan kau tidak perlu lagi peduli tentang apapun yang terjadi padaku" lanjut sehun.

Dengan langkah yang pasti Sehun beranjak pergi meninggalkan kantor Luhan tanpa menoleh ke arah Luhan degan pandangan yang sulit diartikan.

.

.

Minseok menatap kepergian namja pucat itu dengan rasa ingin tahu, namun melihat aura suram yang menguar dari tubuh tinggi itu membuat Minseok mengurungkan niatnya untuk sekedar bertanya atau menyapa.

"Ish...apa yang kupikirkan? Sebaiknya aku segera mengantarkan dokumen ini pada Sajangnim" gumam Minseok.

Namja manis itu berjalan menuju ruangan Luhan dan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan pemilik Exo Group tersebut. Namun, kebingungan menerpa Minseok ketika melihat Sajangnimnya yang biasanya menyebalkan kini tertunduk lesu di sofa .

"Nim...Sajangnim!"

Luhan tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Minseok, namja rusa itu dapat melihat bahwa sekretarisnya memandangnya dengan raut cemas.

"Ne , ada apa Minseokie?" tanya Luhan.

"Aku ingin menyerahkan dokumen ini kepada mu untuk ditanda tangani" jawab Minseok. "Apa anda baik-baik saja?" tanyaa Minseok saat menaruh dokumen tersebut di atas meja kerja Luhan.

Luhan tersenyum, kemudian ia berjalan menuju tempat Minseok berdiri. Kedua lengan Luhan dengan pasti membawa tubuh mungil Minseok ke dalam pelukannya dan menjadikan bahu Minseok sebagai sandaran kepalanya.

"Aku bersyukur kau ada disini" bisik Luhan. Namja itu semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma menenagkan tubuh Minseok.

"Ada apa,hmm?" tnya Minseok lembut. Tangan minseok bergerak secara reflek membelai kepala Luhan .

"ani eopseo" bisik Luhan sambil terus memeluk Minseok—mencoba menghilangkan beban di hatinya. Sedangkan Minseok hanya diam sambil mengelus surai lembut Luhan dan berusaha tidak membuat namja itu nyaman.

T.B.C