Precious Love

Cast :

Luhan X Minseok

And other Cast

Warning :

Typo bertebaran, EYD berantakan, BL,dll

Disclaimer :

Saya hanya punya ceritanya saja, sedangkan para cast milik Tuhan YME, orang tua, diri mereka sendiri, agensi, dan fans

Chapter 9

Minseok berjalan semakin cepat saat udara dingin semakin berhembus kencang. Seoul sudah berada dalam penghujung musim gugur dimana daun-daun telah berguguran dan menghiasi trotoar jalan dengan warna orange kecoklatan yang cantik. Hari ini Minseok memutuskan untuk berhenti di daerah pertokoan dekat dengan apartment miliknya untuk berbelanja kebutuhan mingguan.

Pikiran Minseok melayang pada kejadian beberapa jam lalu saat Luhan memeluknya dan bersandar padanya untuk waktu yang lama. Jika boleh jujur, Minseok sangat ingin bertanya pada Luhan tentang namja pucat yang ditemuinya tadi di kantor, namun melihat kondisi Luhan saat itu membuat Minseok mengurungkan niatnya.

"Padahal ia bisa berbicara denganku untuk meringankan bebannya" gumam Minseok

Langkah kaki Minseok berhenti di sebuah supermarket yang cukup besar. Dengan segera Minseok memasuki supermarket yang pasti memiliki penghangat ruangan tersebut sambil merogoh daftar belanjaan yang ia simpan di saku jasnya.

"Ahh...selamat! disini hangat sekali" ucap Minseok senang, kemudian ia mengambil troli untuk memulai acara belanjanya.

Minseok membaca daftar belanjaannya sambil mendorong troli, dengan pasti Minseok mulai berkeliling supermarket tersebut dan mengambil barang yang ia butuhkan. Namja manis itu nampak sangat lihai dalam memilih barang belanjaannya, terkadang Minseok mencium dan memeriksa barang yang dibelinya masih segar atau tidak.

"Aww!"

Minseok sontak mengangkat kepalanya saat mendengar pekikan seorang namja dan kedua matanya membulat saat menyadari bahwa troli belanjannya telah menabrak bahkan melindas kaki namja yang berada disebelahnya.

"Omo! Gwaechana?" Minseok segera menghampiri namja tersebut dan mengelus kakinya seperti berusaha menghilangkan rasa sakitnya.

"Minseok-sshi?" panggil namja tersebut dengan ragu. Sedangkan Minseok yang merasa dipanggil melihat namja tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala dan berusaha mengenali namja didepannya, namun tak sedikitpun ia mengingat namja itu, terlebih dengan kaca mata hitam dan pakaian kasual yang digunakan namja tersebut.

Melihat kebingungan Minseok, namja itu melepas kacamatanya dan mengeluarkan saputangan yang terlihat familiar dimata Minseok. " Aku Kim Jongin! Kita bertemu di halte bus saat hari hujan beberapa waktu yang lalu" ucap namja bernama Jongin itu .

Bibir minseok membentuk bulatan kecil yang terlihat imut saat mengingat Jongin. "Ah aku ingat! Kalau tidak salah kau orang yang basah kuyup karena kehujanan itu kan? Dan aku sungguh minta maaf karena menabrak mu dengan troli" ucap Minseok penuh dengan penyesalan.

"Gwaechana! Sakitnya tidak seberapa dibanding rasa senang karena dapat bertemu lagi dengan mu Minseok-sshi" Kata Jongin dengan sedikit gombalan.

.

.

.

Entah bagaimana caranya dan rayuan macam apa yang Jongin berikan hingga ia dapat membuat Minseok duduk bersamanya di sebuah Cafe setelah acara belanja mereka selesai. Jongin nampak memperhatikan Minseok yang tengah sibuk dengan buku agenda di tangannya saat menunggu pesanan mereka.

"Jadi apa pekerjaan mu , Minseok-sshi?" tanya Jongin memulai percakapn.

Minseok menutup buku agendanya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas. " Aku seorang Sekretaris. Kalau Jongin-sshi bekerja sebagai apa?" Jawab Minseok.

"Pantas saja kau selalu sibuk dengan buku agenda mu setiap kali kita bertemu. Aku bekerja di Kim Corp. Ngomong-ngomong bisakah kita tidak menggunakan embel-embel sshi? Aku merasa tidak nyaman jika berbicara dmenggunakan panggilan formal dengan orang yang seumuran denganku" Kata Jongin.

" Baiklah jika itu bisa membuat Jongin-sshi...maksud ku kau merasa nyaman" ucap Minseok sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian pelayan mengantar pesanan mereka. Pelayan tersebut meletakkan secangkir latte untuk Minseok dan hot chocolate untuk Jongin. "silahkan dinikmati" kata pelayan tersebut sebelum meninggalkan meja jongin dan Minseok.

Jongin menikmati pemandangan indah di depannya sambil menyeruput minumannya. Di depannya kini, nampak Minseok yang terlihat sangat imut saat meminum minuman yang terbuat dari kopi dan cream tersebut.

"Apa kau sangat menyukai kopi?" Tanya Jongin tanpa mengaihkan pandangannya dari wajah Minseok terutama dari bibir tipis minseok yang merah dan basah.

"Ne~. Aku sangat menyukainya! " jawab Minseok riang. Ia memang terkenal sebagai coffee holic dan dulu semasa sekolah ia pernah berkeinginan menjadi seorang barista.

"Manis~" ucap Jongin tanpa sadar.

"Eung? Apa maksudmu Jongin-ah?" tanya Minseok bingung.

"M-maksudku...a-aku suka minuman yang manis! Ya minuman yang manis" jelas Jongin dengan gugup. Dalam hati ia merutuki mulutnya yang tanpa sadar memuji Minseok.

"Oh arraseo! Aku juga suka minuman yang manis, tapi aku tidak meminumnya sesering kopi" kata Minseok tanpa curiga dan kembali sibuk dengan latte miliknya.

Jongin tidak dapat menahan senyumnya dan sesekali ia menggigit bibir bawahnya untuk meredakan rasa gemas saat melihat tingkah laku Minseok. Dalam hati, ingin sekali rasanya ia mengulum dan mengigit bibir tipis berwarna merah muda di depannya, tapi tidak mungkin ia lakukan mengingat ia dan Minseok baru mengenal.

'Aku pasti akan mendapatkanmu, love!" tekad Jongin dalam hati.

.

.

.

.

Luhan termenung sendiri di kantornya, pikiran dan hatinya seolah tidak berada dalam tubuhnya. Sudah beberapa hari ini Luhan merasa tidak tenang dan ini disebabkan oleh namja pucat bernama Oh Sehun.

" Apa yang harus aku lakukan,eoh? Kenapa dia mirip sekali denganmu? keras kepala dan tidak pernah mau menunggu?" kata Luhan sembari menatap sebuah foto seorang yeoja cantik yang disimpannya dalam laci meja kerjanya.

Tok..Tok..Tok

Luhan segera memasukkan kembali foto tersebut ke dalam laci secara terburu-buru dan berpura-pura sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya sebelum mempersilahkan orang yang mengetuk ruangannya masuk.

"Sajangnim, sudah waktunya makan siang! Apa anda mau makan siang di luar atau mau aku pesankan makanan?" Ucap sekretaris Luhan —Minseok.

Luhan tersenyum, kemudian berkata " Pergilah makan siang duluan, Minseokie~. Aku masih harus mengerjakan beberapa dokumen lagi, dan jika kau tidak keberatan aku minta tolong buatkan aku teh".

"B-baiklah" Ucap Minseok—terselip kekecewaan dalam suara Minseok.

.

.

Minseok berjalan lesu menuju pantry. Seberapa keras ia meyakini dirinya bahwa ia tidak kecewa, namun hati kecilnya tetap mengatakan bahwa dirinya kecewa karena Luhan tidak menemaninya makan siang. Sebenarnya, Minseok sudah merasa bahwa Luhan berubah beberapa hari terakhir—Luhan lebih banyak melamun dan mengabaikannya dalam artian tidak menganggunya lagi.

Namja berpipi chubby itu mengambil cangkir teh dan mulai membuat teh. Pikirannya berputar-putar seperti air teh yang kini tengah diaduknya. ' sebenarnya kau kenapa, Sajangnim bodoh?' batin Minseok.

"Minseok-sshi, apa yang sedang anda lakukan?" tanya Yuna (OG yang ada di chap 6).

Kesadaran Minseok kembali dan menatap seorang yeoja yang cukup dekat dengannya karena sering ia mintai tolong.

"Ahh..ada Yuna-sshi rupanya! Mmm...aku sedang membuat teh untuk Sajangnim" jawab Minseok sembari menunjuk cangkir berisi cairan berwarna coklat tersebut.

"Begitu rupanya! Tapi sedari tadi aku justru melihat Minseok-sshi melamun sambil mengaduk teh terus-menerus" kata Yuna yang memang sedari tadi memperhatikan Minseok dari pintu pantry.

Minseok terdiam . 'Bahkan dia membuatku melamun seperti orang bodoh' rutuk Minseok.

" Mianhae, Minseok-sshi! Tidak seharusnya aku mengatakan hal yang tidak sopan seperti itu!" Yuna membungkuk dan meminta maaf saat dirasanya bahwa sikapnya tidak sopan.

"A-ani! Jangan seperti itu. Aku tidak merasa tersinggung sama sekali. Aku hanya sedang banyak pikiran saja" Minseok berujar cepat untuk mengklarifikasi kesalah pahaman yang ada.

"Benarkah? Aku merasa tidak enak jika ternyata kata-kata ku sudah membuat Minseok-sshi tidak nyaman" kata Yuna sambil memainkan jemarinya—terlihat gugup.

"Aku sungguh tidak merasa tersinggung. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah" Minseok menyentuh pundak office girl tersebut sambil tersebut.

"Ahh...Mianhae tapi aku harus segera mengantar teh ini untuk Sajangnim" lanjut Minseok. Setelah itu, Minseok bergegas menuju ruangan Luhan sebelum namja rusa itu berbuat sesuatu yang aneh.

.

.

.

Tok..Tok..Tok

"Sajangnim!" Minseok mengetuk pintu ruangan Luhan untuk meminta izin memasuki ruangan tersebut, namun setelah menunggu beberapa waktu ia tidak mendengar suara Luhan dari dalam ruangan tersebut.

Minseok membuka pintu tersebut secara perlahan dan mengintip keadaan ruangan Luhan dari celah pintu. Saat dirasanya ruangan tersebut kosong, Minseok melangkahkan kakinya menuju meja kerja Luhan dan meletakkan cangkir teh yang ia buat di ruang kosong meja tersebut.

"Tsk...kenapa ia berantakan sekali sih?!" Minseok menggerutu melihat meja kerja Luhan yang tidak serapi biasanya. Banyak dokumen dan file maupun map yang tidak tersusun rapi. Namja manis itu kemudian mulai merapikan meja kerja Luhan.

"Eoh...apa ini?" Minseok membuka laci meja dan menarik sebuh kertas yang terjepit di laci tersebut. Mata minseok membulat saat melihat bahwa kertas yang dipeganggnya merupakan sebuah foto seorang yeoja yang sangat cantik.

"Cantik sekali" gumam Minseok. Ia kemudian membalik foto tersebut dan menemukan sebuah tulisan yang membuat jantungMinseok seakan dihantam oleh pedang tak kasat mata.

"My Beloved One" Minseok mengeja tulisan tersebut dengan suara yang terdengar lirih. Tanpa diperintah, air mata Minseok sudah menggenang di pelupuk mata dan siap menetes kapan saja.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya suara yang tak asing lagi—Luhan.

Tanpa diduga sebelum Minseok menjawab pertanyaan Luhan, namja rusa tersebut menghampirinya dengan tergesa dan merebut foto ditangan Minseok dengan kasar.

"Darimana kau mendapatkan foto ini?"tanya Luhan dengan tajam sambil mengguncang bahu Minseok dengan tidak sabaran.

"A-aku tidak sengaja me-melihat foto itu s-saat merapikan meja mu, Sajangnim" cicit Minseok.

"Siapa yang memberi mu izin untuk merapikan meja ku? Dan seharusnya kau tidak menyentuh barang milikku seenaknya! Sekarang lebih baik kau keluar!" Ucap Luhan penuh emosi.

"T-tapi—"

"KUBILANG KELUAR! KKA!" Bentak Luhan.

Minseok yang diperlakukan seperti itu berlari meninggalkan ruangan Luhan. Kemudian, ia bergegas merapikan barang-barangnya dan segera menuju lift untuk meninggalkan kantor. Di dalam Lift Minseok terisak pelan, entah mengapa perlakuan kasar Luhan menorehkan sakit yang lebih dalam dibandingkan saat ia dilecehkan oleh atasannya terdahulu.

"Xiumin-ge, eodiseo?" Tanya Tao yang tak sengaja berpapasan dengan Minseok. Namun sayang jangankan membalas pertanyaan Tao, namja berpipi chubby itu pun bahkan sama sekali tidak menoleh.

.

.

.

Minseok membuka pintu apartemennya dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Tubuhnya meringkuk dengan kepala yang dibenamkan di kedua lututnya. Hanya terdengar isakan lirih dan nafas yang tersenggal.

"Hiks...kenapa dia...hiks... seperti itu? Aku..hiks...kan hanya...hiks mera..hiks..pikan.. mejanya seperti biasa" isak Minseok

"Lagipula..hiks..siapa yeoja di foto itu...hiks?"

Semakin lama suara isakan Minseok semakin lemah seiring dengan matanya yang mulai terasa berat, hingga tanpa sadar Minseok tertidur dengan mata sembab dan pipi yang berlinang air mata.

.

.

"Kris-ge!" panggil Tao saat melihat namjachingunya keluar dari lift.

"Waeyo baby panda?" tanya Kris yang meihat gelagat aneh Tao.

"Mmm...apa Lu-ge dan Xiumin-ge bertengkar?" tanya Tao yang sukses membuat Kris menatap heran padanya.

"Aku tidak tahu soal itu. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Tadi aku melihat Xiumin-ge tergesa-gesa meninggalkan kantor dan saat aku panggil ia tidak menjawabku, bahkan ia sama sekali tidak menoleh" jelas Tao dengan nada khawatir.

Kris tersenyum dan mengusap kepala Tao. " Jangan Khawatir! Mungkin saja Minseok ada keperluan darurat dan bukannya sedang bertengkar dengan Luhan" Kata Kris menenangkan.

"Bagaimana aku tidak khawatir? Aku lah orang yang sudah menyarankan dan memasukkan Xiumin-ge untuk bekerja di Exo Group, jadi aku merasa takut jika ternyata aku sudah melakukan hal yang salah" Kata Tao dengan mata yang berkaca-kaca. Oh...Tao memang terkenal sebagai crying baby.

"Uljima~. Aku akan mananyakan hal ini pada Luhan, jadi berhentilah merasa khawatir ne! Semua akan baik-baik saja!" Ucap Kris sambil menghapus air mata kekasihnya.

.

.

Luhan tengah termenung untuk kesekian kalinya saat Kris masuk ke dalam ruangan orang nomor satu di Exo Group. Namja blasteran itu berjalan mendekati Luhan dan berdecak kesal karena kehadirannya tidak dihiraukan oleh si empunya ruangan.

"Ekhem...Sepertinya Exo Group akan bangkrut jika pemimpinya terus-terusan melamun seperti ini!" Kata Kris sinis.

Luhan tersentak dan langsung mengangkat kepalanya untuk melihat si sumber suara.

"Oh Kris, ada apa kau kemari?Apa ada masalah?" tanya Luhan yang nampak seperti orang linglung.

" Satu-satunya yang bermasalah disini adalah kau, Xi Luhan!" Kata Kris.

"Sebenarnya ada apa? Katakan padaku sekarang karena aku tidak sedang ingin bermain-main!" Ucap Luhan kesal karena kata-kata sinis dari Kris.

"Apa kau sedang bertengkar dengan sekretarismu itu?" tanya Kris to the point.

Luhan mengernyitkan dahinya bingung sebelum ia mencerna pertanyaan dari sahabat seperjuangannya itu.

"ASTAGA! Apa yang sudah aku lakukan?" Luhan bangkit dari duduknya dan berteriak histeris. Ia kemudian segera keluar dari ruangannya untuk menemui sang sekretaris, namun sayang tempat duduk itu kosong bahkan di meja kerjanya pun hanya terdapat dokumen yang searusnya ia periksa dan bukannya barang-barang milik namja manis nya.

"Jika kau mencari Minseok, maka kau terlambat karena ia sudah meninggalkan kantor beberapa waktu yang lalu" Intrupsi Kris yang tengah berdiri di ambang pintu.

Luhan menagacak dan meremas surainya dengan frustasi. "Arghhh sebenarnya apa yang sudah aku lakukan?" erangnya kesal.

Kris menghampiri Luhan dan menepuk pundak atasannya. "Lebih baik hari ini kau pulang cepat dan ikut aku minum. Sepertinya apa yang ada di hati dan pikiranmu harus dikeluarkan" Kata Kris sebelum berlalu meninggalkan sahabatnya itu.

.

.

.

Minseok bangun dengan perasaan yang lebih baik. Ia menggeliat dan melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena tidur di tempat sempit semacam sofa. Ia melepaskan jas yang terasa tidak nyaman ditubuhnya, kemudian ia mengambil ponselnya di dalam tas kerja.

Ia melihat layar ponselnya yang menampilkan beberapa missed call dari Tao dan pesan dari Jongin..mmm Jongin? Ah ya Minseok dan Jongin sudah bertukar nomor telepon dan beberapa akun SNS.

Minseok baru saja akan mengabari Tao dan membaca pesan Jongin saat ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk.

"Yeobseo"

"Apa kau baik-baik saja, Minseok?" tanya si penelpon.

"Aku baik-baik saja jongin-ah" jawab Minseok senormal mungkin, meski suaranya terdengar serak. "ada apa kau menelpon?" lanjut Minseok.

" Tadinya aku ingin mengajak mu bertemu, tapi sepertinya kau sedang sakit. Suara mu terdengar serak" kata Jongin terdengar cemas.

" Ani! Aku baik-baik saja! Memang kau ingin mengajak bertemu dimana?"

"Tidak usah memaksakan diri! Mungkin lain kali saja kita bertemu. Lebih baik kau beristirahat saja karena dari suara mu saja aku sudah tahu kalau sedang tidak baik" Minseok merasa tidak enak hati saat mendengar nada penuh kekecewaan dalam suara Jongin.

"Mianhae Jongin-ah, aku berhutang maaf padamu" ucap Minseok penuh sesal, sedangkan Jongin hanya terkekeh kecil di seberang telepon.

"Baiklah, mungkin kau harus mentraktirku makan malam di lain waktu"

"Arra...sekali lagi aku sangat menyesal dan aku juga merasa tidak enak padamu"

"Tidak perlu dipikirkan! Jja...pergilah istirahat! Annyeong, Minseok-ah~"

"Ne, Annyeong Jongin-ah"

Setelah itu Minseok memutuskan sambungan telepon dan kembali berbaring di sofa. Kedua mata almondnya menatap langit-langit dan mulai memikirkan apa yang harus dilakukannya besok, karena jujur saja Minseok merasa enggan untuk pergi bekerja.

.

.

.

Hari cukup cerah, namun tidak untuk namja bernama Xi Luhan. Sebenarnya pagi ini, ia sudah berusaha untuk bangun dan pergi ke kantor lebih awal agar dapat menemui sekretaris manisnya walaupun kepalanya terasa berat karena efek minum bersama Kris tadi malam. Namun, sesampainya ia dikantor ia hanya mendapati bahwa meja kerja Minseok kosong dan disusul oleh pemberitahuan bahwa Minseok mengambil cuti selama beberapa hari karena alasan keluarga yang diyakini Luhan adalah sebuah kebohongan.

Luhan berusaha menghubungi Minseok tapi hanya nona operator yang selalu menjawab panggilannya. Ia juga sudah berusaha menanyakan Minseok pada Tao dan berujung pada 'penganiayaan' yang dilakukan oleh kekasih Kris itu. Dan kini, Luhan berakhir di kantornya tanpa melakukan apapun.

Tok..tok..tok

"Masuk" kata Luhan lesu

Dari balik pintu muncul sesosok namja jangkung bermata bulat—Chanyeol.

"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat" Kata Chanyeol .

Luhan menegakkan posisi tubuhnya dan menatap rekan bisnisnya itu. "Maafkan aku Direktur Park. Silahkan duduk!"

Chanyeol duduk di kursi tepat di depan meja kerja Luhan dan mengeluarkan sebuah map untuk diberikan kepada Luhan. " Maaf aku tidak memberitahumu soal kedatanganku. Aku sudah berusaha menghubungi Minseok-sshi tapi sayangnya selalu gagal" ucap Chanyeol.

Luhan tersenyum miris, " Tidak apa-apa! Kebetulan Minseok sedang ambil cuti, jadi mungkin ia tidak bisa dihubungi untuk beberapa waktu" .

Chanyeol bukanlah orang bodoh atau remaja SMA yang masih labil, ia dapat menangkap kesedihan dan kekecewaan dalam suara serta sorot mata Luhan saat membicarakan Minseok, namun ia masih memiliki kesadaran untuk tidak mencampuri urusan pribadi rekan bisnisnya itu

"Jadi...produk kita berhasil menempati peringkat pertama dengan respon pasar yang baik?!. Ini bagus dan kita bisa mengembangkan produk ini lebih jauh lagi! " Kata Luhan sambil membaca kertas laporan di dalam map.

"Begitulah~. Kami juga merencanakan untuk melakukan kerjasama yang lebih jauh lagi dengan Exo Group untuk kedepannya, tapi tentunya kita harus melakukan riset pasar dan merancang produk yang diminati oleh masyarakat"Kata Chanyeol.

"Iya kau benar! Kita harus melakukan semua itu untuk bisa menguasai pasar" Luhan tersenyum kemudian menaruh map tersebut di mejanya. "Tidak biasanya kau datang sendirian direktur Park, dimana Byun Baekhyun-sshi?" sambung Luhan untuk memulai percakapan.

Wajah Chanyeol berubah muram dan cemberut. " Beberapa waktu ini ia menjaga jarak denganku dan mengambil alih pekerjaan di luar kota karena ia tahu aku tidak bisa meninggalkan Seoul untuk mencarinya" Adu Chanyeol dengan bibir mengerucut dan membuat Luhan meringis melihat aegyo yang berasal dari namja bertubuh tinggi dan atletis itu.

"Sepertinya ada sepasang ke kasih yang sedang bertengkar~" Goda Luhan.

"Tsk, tidak sadar diri eoh? Bukannya kau juga sedang bertengkar dengan skretarismu itu ? aku bisa melihatnya dari wajahmu!" balas Chanyeol.

Senyum di wajah Luhan seketika itu menghilang, perasaannya kembali tak tenang dan ia merasa jantungnya seakan diremas ketika mengingat bagaimana emosionalnya ia kemarin. " Kami bukan sepasang kekasih" ucap Luhan pahit, ia tersenyum getir saat mengingat bahwa ia dan Minseok memanglah belum memiliki hubungan dan status yang jelas.

Chanyeol tersenyum maklum, ia mengerti bagaimana rasanya ada di posisi Luhan saat ini. " Aku yakin Minseok-sshi juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Hanya saja masih ada dinding pembatas yang menghalangi kalian berdua untuk jujur satu sama lain dan bersatu" ucapnya.

"Ya mungkin kau benar, tapi jujur saja aku merasa bahwa smakin lama aku justru membuat orang yang kucintai menjauh dariku. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat Minseok percaya bahwa aku sungguh mencintainya dan membuatnya menerima diriku apa adanya" kata Luhan menumpahkan seluruh isi hatinya.

"Baekhyun dan Minseok memiliki sifat yang tidak jauh beda, dan untuk mendapatkan hati mereka kita memang harus memberikan dan mempertaruhkan segala yang kita miliki. Aku yakin kita pasti akan mendapatkan mereka seutuhnya jika kita terus mencurahkan cinta kita pada mereka" Kata Chanyeol, ia berusaha menyemangati serta menghibur Luhan dan mungkin juga dirinya yang selama ini tidak digubris oleh pujaan hatinya.

Luhan tersenyum, ia berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Chanyeol memang benar. Ia bertekad untuk memperbaiki dan memulai kembali hubungannya dengan Minseok, karena ia sadar bahwa sesuatu yang berharga harus didapatkan dengan memberikan semua yang ia miliki. His precious love—Minseok.

.

.

.

Jika ada hal yang paling memalukan dan kekanakan yang pernah dilakukan Minseok ,itu sudah pasti adalah sikapnya yang memilih untuk menghindar dari Luhan dan membiarkan perasaannya , ia merasa jika ia menemui Luhan sekarang maka dapat dipastikan semua masalah yang ada hanya akan berakhir dengan amarah.

Setelah menghela nafas dan berpikir berkali-kali, maka Minseok memutuskan untuk menelpon teman barunya—Jongin—untuk melunasi hutang makan malamnya. Ia dan Jongin mengobrol cukup lama untuk menentukan dimana mereka akan makan malam dan jika boleh jujur Minseok merasa bebannya sedikit berkurang saat mengobrol dengan Jongin yang pada dasarnya adalah orang yang humoris.

"Apa aku terlambat?" Kata Jongin sedetik setelah ia mendudukan dirinya di kursi yang menghadap Minseok.

"Aniyo, aku yang datang terlalu cepat" ucap Minseok sambil tersenyum.

"Aku senang saat kau menelponku dan mengajakku untuk makan malam. Aku pikir kau tidak serius dengan ucapanmu yang ingin mentraktirku makan malam" Ucap Jongin.

Minseok merengut sebal mendengar kata-kata Jongin. " Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku, Jongin-ah".

"Hahaha...Aigo kau sangat imut sekali Minseok-ah" Ucap Jongin sambil menjawil pipi Minseok.

"Ish..Appo!" keluh Minseok sambil mengelus pipinya yang memerah.

"Jadi apa kau sudah sembuh? Kemarin suaramu bahkan terdengar sangat serak" tanya Jongin sambil menggenggan tangan Minseok penuh perhatian.

"Oh..i-itu..a-aku sudah merasa lebih baik sekarang" jawab Minseok gugup.

"Syukurlah kalau begitu~" kata Jongin sambil tersenyum dan jangan lupakan tangannya yang kini tengah mengelus jemari lentuk Minseok.

Setelah itu, makan malam mereka dialalui oleh obrolan ringan dan candaan dari jongin. Jika dari jauh Jongin dan Minseok nampak seperti sepasang kekasih yang sangat serasi, tanpa menyadari bahwa sepasang mata indah bak mata rusa itu tengah memandang mereka denga tatapan yang sulit diartikan.

.

.

Minseok berjalan santai menuju apartemennya. Sebenarnya Minseok tidak perlu berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya karena Jongin sebenarnya sudah menawrkan bahkan mungkin memaksa untuk mengantar Minseok pulang, tapi namja manis tersebut menolaknya dengan alasan bahwa ia akan menemui teman yang lain setelah makan malam mereka.

Minseok melewati taman yang berada di dekat komplek apartemennya. Ia menelusuri pemandangan yang ada di taman tersebut, terkadang Minseok akan tersenyum saat melihat beberapa anak bermain dan memakan ubi bakar di udara yang dingin. Sesekali ia mngernyit heran saat melihat pasangan muda-mudi bermadu kasih di tempat remang-remang atau seorang yang tidur di taman seperti orang mati...ehh..seperti orang mati?.

Sadar dengan pemikirannya Minseok memberanikan diri menghampiri orang tersebut . dalam hati ia bertanya bagaimana seseorang bisa tidur dengan hanya menggunakan pakaian tipis dan syal yang menutupi wajahnya?.

"Tuan bangunlah! Udara disini sangat dingin, lebih baik anda tidur di rumah saja!" Minseok mencoba membangunkan orang atau sebut saja namja yang tertidur itu, namun sayang minseok tidak mendapat respon apapun.

Dengan menarik nafas dalam-dalam, Minseok kemudian menyibakkan syal yang menutupi wajah namja tersebut dan matanya membulat saat melihat bahwa namja itu adalah namja yang dikenalnya.

Namja itu...

Adalah...

T.B.C

Gyu Corner

Annyeong Yeorobun~~

Akhirnya Gyu bisa update walu sudah lebih dari dua minggu, tapi setidaknya belum melewati waktu satu bulan ^^. FF ini Gyu ketik disela-sela waktu luang dengan pengerjaan yang super ngebut ,jadi harap maklum kalo banyak typos bertebaran dimana-mana.

Gyu juga mau ngucapin banyak-banyak terima kasih sama readers yang masih tetap setia nunggu FF ini T_T . Karena jujur review para readers yang bikin Gyu semangat dan secara gak langsung saran dan kritik para readers juga berperan dalam menentuka alur cerita FF ini. Jeongmal gomawo~~ (Bow 90 derajat).

Nah sekarang balas-balas review ^^. Lets go~

Kikirizky26 : Wah terima kasih sudah review ^^. Gyu juga xiuhan shipper, jd memang terkadang suka sedih kalo liat ff lumin musnah diperadaban fanfiction(?).

Cokelat : terima kasih sudah review~. Gyu juga pengennya bisa update kilat tapi apa boleh buat kalo urusannya sama tugas kuliah, maka FF jadi yang nomor dua (#Plakk). Hehehe ditunggu aja yang cokelat-sshi ^^.

Hanna Julmhifa T : terima kasih sudah review, gpp kalo hampir lupa cerita asal jangan lupa kalo ff ini ada ^^. Sehun siapa? Bakal ketauan kok di chap selanjutnya atau dua chap selanjutnya, ditunggu saja yah .

XM : Terima kasih sudah review^^ . Minseok memang dibuat agak tsundere disini kkk. Mohon dukungannya yah biar tetap bisa lanjut.

Secretvin137 : hubungan Luhan dan Sehun akan ketauan di chap berikutnya atau dua chap berikutnya. Terima kasih sudah review^^.

Milkbubble : Sebentar lagi juga bersatu, Cuma sepertinya harus ada konflik sedikit yah biar seru dan panas (#Plakk) hehehe... terima kasih sudah review~.

Kuroshinjubaozi : terima kasih sudah review dan tetap setia menunggu FF yang sudah lumutan ini. Mohon dukungannya agar ff ini tetap lanjut^^. Diusahakan panjang, tapi gak janji :P.

[xiuga] [mikikaminhae][geniaaa][crimxson][firda-xmin][hamsterxiumin][minnie][uminbaozi][deermymarch90][sukha1312] / Mianhae karena Gyu gak bisa bales review kalian di chap kemarin, tapi kalian semua dan semua readers yang sudah review sangat luar biasa. Jeongmal gomawo atas dukungannya.

Ok sekian Gyu corner kali ini, untuk readers yang review di chap sebelumnya Gyu mohon maaf jika ada yang terlewat. Untuk kontak mungkin lebih baik kalian PM Gyu kalau sudah mendekati deadline satu bulan, karena Gyu tipe orang yang jarang megang HP atau buka SNS ^^

p.s : untuk fallin for you segera menyusul dan baru 60% masa pengerjaan.

R n R Juseyo~~~

Big Hug and popo buat semua 3