Precious Love
Lumin
Author : Kyugyu
Rate T, BL
Happy Reading~
Chapter 11
BUGGHH
"Brengsek!"
.
.
"Akh!"
"Astaga! Jongin!"
Minseok membuka matanya saat mendengar erangan kesakitan Jongin. Ia melihat Jongin yang tengah memegangi pipinya yang sepertinya habis terkena pukulan. Rasa khawatirnya semakin besar saat melihat sudut bibir Jongin yang mengeluarkan darah.
"Sebenarnya apa masalahmu, sialan?!" hardik Jongin. Sungguh ia merasa sangat marah, bukanya merasakan kelembutan bibir Minseok, ia justru merasakan sakit di pipinya dari bogem mentah seorang namja di depannya.
Minseok menoleh ke arah seseorang yang ditatap tajam oleh Jongin. Matanya membulat dan jantungnya berdebar cepat saat melihat seseorang yang sangat ia kenal.
"Luhan" bisik Minseok. Ia terkejut mendapati sajangnimnya ada di cafe ini. Namun, tidak hanya Minseok saja yang terkejut, Sehun yang berdiri beberapa meter dari mereka pun terkejut. Namja albino yang hendak menghentikan aksi modus nan mesum jongin sekaan membeku di tempat ketika melihat Luhan yang tiba-tiba muncul dan menghajar Jongin.
"Berani sekali kau menyentuh milikku" ucap Luhan penuh amarah.
"Khe, siapa yang kau maksud dengan milikmu?" kata Jongin sembari mengelap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya.
"Tentu saja dia! Dasar BAJINGAN!" kata Luhan dengan suara tinggi sambil menunjuk Minseok.
Sementara itu Minseok nampak panik melihat pertengkaran dua orang di depannya ini. Ia juga mulai risih dan malu saat semua pengunjung cafe melihat dan berbisik-bisik ke arah mereka.
"Siapa yang bilang Minseok milikmu? Dia tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia memiliki seorang kekasih" Kata Jongin meremehkan.
"KAU—"
"HENTIKAN!"pekik Minseok menghalangi Luhan yang bersiap untuk melayangkan pukulan kedua ke arah Jongin.
"Sajangnim, hentikan! Justru Andalah yang bersikap seperti seorang bajingan yang berengsek disini" ucap Minseok dingin. Ia menatap sinis pada Luhan yang membeku di tempatnya.
"Apa maksudmu Minseok? Apa kau tidak tahu apa yang akan dilakukan namja ini padamu,hah?!" Kata Luhan masih dengan emosi yang menguasai dirinya.
"Memang apa yang akan dilakukan Jongin padaku? Dan aku rasa apapun yang dilakukan oleh Jongin dan diriku tidak ada hubungannya denganmu!" ucap Minseok pedas. Jka Minseok marah memang bicaranya kan sepedas ummanya si ratu tega.
"Tapi aku tidak suka jika kau bersama dengan namja lain dan aku—"
"BERHENTILAH BERTINGKAH SEOLAH AKU ADALAH MILIKMU! AKU MUAK DAN HARUS KAU INGAT AKU BUKAN MILIKMU! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA!AKU MEMBENCIMU!"pekik Minseok penuh emosi dan penekanan
"Geure, kau benar, aku bukan siapa-siapa" ucap Luhan dengan tatapan terluka, kemudian namja itu berjalan cepat meninggalkan Minseok yang terdiam.
"Aku tidak tahu apa masalah kalian? Tapi tadi kau sudah keterlaluan! Luhan hanya melindungimu dari namja mesum yang berusaha mencuri ciumanmu" Ucap kris menggunakan bahasa mandarin. Ia sengaja berbicara dalam bahasa mandarin karena ia tahu pasti Minseok mengerti dan ia tidak ingin namja yang ditonjok Luhan tadi tahu.
Minseok terdiam dan sejujurnya sejak ia melihat tatapan penuh luka Luhan, rasa amarahnya yang menggebu-gebu sirna berganti rasa bersalah. Minseok menyentuh dadanya dan merasakannya berdenyut nyeri.
"Sudah aku katakan untuk bertanya pada Luhan, tapi kau justru lebih memilih berdiam diri dengan segala pikiran negatifmu. Aku jadi menyesal telah menceritakan masa lalu Luhan padamu" Kini Sehun yang telah berdiri di depan Minseok berkata dengan nada datarnya dan kemudian berlalu mengikuti jejak Luhan dan Kris.
"Minseok-ah—"
"Mianhae Jongin-ah, sepertinya aku harus pergi sekarang"
Minseok segera mengambil tas dan mantelnya kemudian berjalan meninggalkan Jongin tanpa menoleh ke arah namja tan itu. Sementara itu Jongin hanya mampu memandang punggung Minseok yang menjauh sambil menggeram kesal.
.
.
.
Air mata itu turun dengan seenaknya, mengalir membasahi pipi Minseok. Ia menundukkan kepalanya agar orang-orang tidak melihat ia sedang menangis dalam diam. Ia merasa beruntung karena ia bukan tipe orang yang menangis meraung-raung seperti sahabatnya Baekhyun.
Ia butuh tempat untuk menenangkan diri. Ia tidak mungkin pulang ke rumah karena disana pasti ada Sehun dan Minseok tidak ingin membuat Sehun tidak nyaman hingga memutuskan pergi dengan kondisi tubuh yang belum pulih. Ia masih melihat wajah Sehun yang pucat di cafe tadi.
Ia meraih ponselnya dan mencari sebuah kontak seseorang yang pasti dapat membuat dirinya tenang dan memberi solusi untuk masalahnya.
"Eomma..hiks"
.
.
"Ada apa,hmm" Tanya Heechul lembut sambil membelai kepala puteranya yang kini tengah menangis di pelukannya.
Awalnya Heechul ingin memarahi puteranya yang jarang menelpon, namun saat mendengar suara isakan putera semata wayangnya, ia merasa bahwa anak yang dilahirkannya itu tengah membutuhkan pelukan bukan omelan.
Hati Heechul yang notabenenya adalah seorang ibu berdenyut sakit melihat anaknya menangis tersedu-sedu. Ia yakin puteranya menangis bukan karena masalah pekerjaaan atau di pecat. Jika itu karena pekerjaan, maka minseok hanya akan marah-marah dan menangis sebentar karena kesal, kemudian anaknya itu akan diam dan kembali ceria dengan semangat baru.
Heechul melepaskan pelukannya terhadap sang anak dan menangkup kedua pipi chubbynya yang memerah. "kau terlihat jelek jika seperti ini" Kata Heechul.
Cup...Cup
"Berhentilah mengeluarkan air mata! Kau membuat uri Minseokie terlihat jelek" kata Heechul setelah mengecup kedua kelopak mata Minseok.
"Sekarang ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini?" tanya Heechul lembut.
"Eomma, aku...aku...hiks...aku sepertinya...hiks...sudah berbuat salah... ..hiks..sakit eomma" ucap Minseok sambil memukul-mukul dadanya.
"Aigo baby~, berhenti, jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini! Ceritakanlah pada eomma apa yang terjadi padamu sayang" ucap Heechul.
Minseok menarik nafas dan menghembuskannya berulang-ulang untuk menstabilkan emosinya dan menghentikan tangisannya. Kemudian, dengan tatapa ragu ia melihat ke arah sang eomma yang masih menatapnya penuh perhatian.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Minseok melihat langsung ke manik sang eomma dan mulai bercerita. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, mulai dari awal pertemuannya dengan Luhan, pekerjaannya, dan masa lalu Luhan yang tanpa disadarinya menjadi pemicu masalah ini.
Sedangkan si pendengar—Heechul, tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat mendengar cerita puteranya. Ia terkejut dan tidak pernah menyangka bahwa puteranya yang sangat sulit untuk jatuh cinta ini ternyata harus mengalami cinta pertama yang menyedihkan seperti ini. Ia tidak tahu apakah ia harus marah dan memberi pelajaran pada atasan Minseok ataukah ia harus memukul kepala anaknya dan menyadarkannya dari sikap tsundere warisannya.
"Dengar!" Heechul angkat suara. Ia meraih dan menangkup wajah Minseok yang kembali dibasahi air mata.
" Apa kau mencintainya?" tanya Heechul yang dijawab anggukan lemah Minseok.
"Lalu apa masalahnya? Bukankah dia juga sudah mengatakan perasaannya padamu? Dan dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu !. Minseokie baby, kau harus mengerti bahwa semua orang pasti memiliki masa lalu dan tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengungkapkan masa lalunya kepada orang terdekatnya. Mungkin Lu...Lu...mmm...Lu..Ah ..Luhan..ya Luhan! Memiliki alasan tersendiri mengapa ia tidak mengatakan statusnya padamu " Jelas Heechul mencoba memberi pengertian pada puteranya.
"Coba kau bayangkan Minseokie, Apa mungkin Luhan menceritakan masa lalu yang bisa eomma katakan sebagai luka masa lalunya kepadamu yang merupakan seseorang yang dicintainya,hmm? Eomma rasa ia akan berpikir ribuan kali untuk melakukannya mengingat sifat mu yang seperti ini. Yeoja yang pernah dinikahi oleh Luhan saat ini hanyalah sebuah masa lalu namja itu. Ia bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi bukan berarti kau harus menuntut Luhan untuk melupakannya. Ia pernah menjadi bagian dari Luhan dan seharusnya kau mampu menerima Luhan apa adanya" nasihat Heechul
"Hiks..eomma..bagimana ini? Luhan pasti sangat marah padaku...hiks..ia pasti tidak mau bertemu lagi denganku...hiks" tangis Minseok kembali pecah saat mengingat ekspresi Luhan yang penuh luka saat menatapnya.
"Ia mungkin akan marah padamu, tapi jika ia benar-benar mencintaimu, ia pasti akan memafkan kesalahanmu. Sekarang istirahatlah dan pikirkanlah cara untuk meminta maaf padanya dengan pikiran yang jernih. Kau harus secepatnya menyelesaikan masalah kalian jika kau tidak ingin kehilangannya!" Kata Heechul. Kemudian, dengan lembut ia menuntun tubuh mungil puteranya untuk tidur dipangkuannya. Ia membelai lembut rambut puteranya dan menyanyikan lulabi yang sering ia nyanyikan untuk Minseok sewaktu kecil. Belaian itu berhenti saat dirasanya tubuh Minseok yang melemas dengan nafas teratur –Minseok tertidur.
"Eoh apa yang terjadi padanya?"
"Omona! Kau mengagetkanku, yeobo!" pekik Heechul dengan suara pelan saat mendengar suara berat sang suami yang kini tenga berdiri disampingnya. Heechul memindahkan kepala puteranya dengan perlahan dari pangkuannya dan mengganjal kepala Minseok dengan bantal kecil yang ada di sofa.
Namja cantik itu berjalan ke arah suaminya dan mengecup bibirnya sebelum mengambil tas kerja yang berada di genggaman sang suami. Ia berlalu ke kamarnya untuk menaruh tas kerja sang suami.
"Ada apa dengannya?" tanya Hangeng lagi saat melihat Heechul yang keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur. Namja tampan itu merebahkan tubuh lelahnya di sofa yang berhadapan dengan sofa tempat Minseok tidur.
"Hanya masalah percintaan. Sepertinya uri Minseokie mengalami cinta pertama yang cukup rumit. Oh iya...tidak biasanya kau pulang cepat" Jawab Heechul sambil membawa cangkir keramik berisi teh yang sangat disukai sang suami.
TEK—Heechul meletakkan cangkir tersebut di atas meja.
"Minumlah dulu! Nanti aku ceritakan" ucap Heechul. Ia membantu melepas jas dan dasi yang digunakan suaminya.
"Perasaanku tidak enak, karena itu aku langsung pulang setelah pekerjaanku selesai" kata Hangeng,melirik puteranya yang tertidur. Kemudian ia meneguk cairan beraroma khas itu. "Kau bilang masalah percintaan? Apa minseok di tolak orang yang disukainya?" Tanya Hangeng.
"Minseok hanya salah paham pada orang disukainya. Ini adalah pengalaman dan perasaan baru untuknya, jadi wajar jika ia tidak mampu mengendalikan emosinya." Jawab Heechul.
Hangeng menatap wajah putera manisnya, ia sedih saat melihat jejak air mata di pipi lembut itu. " Aku selalu berharap ia mendapatkan semua hal yang membahagiakan di hidupnya. Aku selalu berdoa agar ia menemukan seseorang yang mampu mencintai dan menerima putera kita apa adanya. Aku tidak ingin ia merasakan kesulitan yang kita hadapi dulu" ucap Hangeng dengan nada getir. Ia mengingat jelas perjuangan cintanya bersama Heechul yang penuh rintangan dan luka.
" Nado" ucap Heechul sambil memeluk erat lengan suaminya.
.
.
.
ia mencengkaram kemejanya tepat di bagian dada. Jantungnya berdetak cepat tak karuan, membuatnya sulit bernafas. Minseok tahu bahwa cepat atau lambat ia harus menghadapi ini. Ia juga sudah bertekad untuk menyelesaikan masalahnya hari ini setelah berpikir selama tiga hari tiga malam. Akan tetapi, ia tidak menyangka jika rasanya akan seperti ini. Minseok merasa dirinya seperti terdakwa kasus pembunuhan atau selebriti yang terkena skandal video porno. Ia malu dan takut untuk mengangkat wajahnya dan menemui orang-orang di kantor EXO Group.
Dengan menguatkan tekadnya, ia mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung megah itu. Ia mengembangkan senyum terbaik untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Membalas sapaan beberapa karyawan yang mengenalnya dengan ramah sambil terus berjalan menuju ruangannya.
"Xiu-ge!"
Minseok menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Matanya menangkap sosok Tao dan kekasihnya—Kris. Oh Tuhan...jika boleh jujur Minseok belum siap untuk bertemu dengan namja blasteran itu. Ia sangat yakin bahwa Kris tentu marah padanya.
"Oh..Hai Tao" sapa Minseok lemah.
"Apa masa cuti mu sudah selesai? Kenapa lama sekali cutinya? Apa masalah keluargamu sangat besar?Aku sangat khawatir padamu! Kalau ada yang bisa aku bantu katakan saja,ok" Serbu Tao dengan wajah khawatirnya yang cute. Sementara itu, Kris hanya memandang Minseok datar.
"Ah..i-itu sudah tidak apa-apa sekarang. Maaf membuatmu khawatir" Kata Minseok menenangkan kekhawatiran Tao.
"Oh iya aku harus segera ke ruangan Sajangnim sekarang. Sampai jumpa lagi Tao, Direktur Wu" ucap Minseok buru-buru karena rasa tidak nyaman dengan tatapan tak bersahabat Kris padanya. Ia segera berlari menuju lift tanpa mengindahkan teriakan Tao di belakangnya.
Cklek
Minseok mengintip kedalam sebelum benar-benar masuk ke ruangan tempat ia bekerja. Setelah memastikan dirinya benar-benar siap , ia melangkah masuk dan berjalan menuju meja kerjanya. Namun, ia mendapati mejanya dalam keadaan sama seperti saat ia terakhir menggunakan ruangan itu.
Setelah menaruh tasnya, Minseok berjalan menuju ruangan Luhan. Ia melihat ruang kantor itu dalam keadaan sepi. 'mungkin Luhan belum datang' pikir Minseok. Ia melangkah ke meja Luhan dan menyentuhnya. Rasa rindu itu tiba-tiba menyeruak menghimpit dadanya. Ia rindu Luhan, benar-benar merindukan namja itu.
.
.
Minseok memandangi jam dinding dengan gelisah. Ini sudah lewat dua jam sejak jam kerja dimulai, tapi batang hidung Luhan masih belum nampak. Ia resah dan takut jika Luhan sengaja menghindarinya. Bisa saja kan jika Kris memberitahu Luhan bahwa ia datang ke kantor, kemudian namja rusa itu memutuskan untuk tidak datang.
"Hiks" Minseok menangis. Bukan karena sedih atau marah, tapi karena rindu yang ia tahan selama berhari-hari menyesakkan dadanya. Ia rindu luhan dan berada di ruangan ini tanpa kehadiran Luhan membuatnya sakit.
"Kris!"
Dengan tergesa Minseok menghapus air matanya dan berjalan cepat menuju ruangan Kris. Ia harus menemui namja itu. Ia yakin, bahkan sangat yakin bahwa Kris tahu dimana Luhan. Jika pun nanti Kris menolak memberitahunya, setidaknya ia dapat mengetahui keadaan Luhan. Sungguh ia menyesal mengapa baru sekarang ia berani untuk menghadapi Luhan. Kenapa tidak dari dua atau tiga hari yang lalu ia menemui Luhan. Ia takut. Sangat takut jika Luhan memutuskan untuk memilih menyerah terhadapnya dan meninggalkannya.
BRAKK
Minseok membuka pintu ruangan bertuliskan Marketing Director dengan kasar hingga membuat namja berambut pirang yang tengah menandatangani dokumen hampir terjengkang karena kaget.
"Dimana Sajangnim?" Tanya Minseok to the point. Ia kalut , bahkan hanya untuk sekedar memperhatikan tatakrama.
Kris melepas kacamata minusnya dan menatap Minseok yang berdiri dengan nafas tersenggal. Alis tebalnya bertaut bingung melihat penampilan sekretaris luhan yang berantakan—bukan berantakan dari segi penampilan tapi dari wajah dan perasaannya.
"Untuk apa kau menanyakannya? Dan Kenapa aku harus memberitahukan itu padamu?" bukan menjawab Kris justru balik bertanya. Oh mungkin...jika kekasihnya tahu ia memperlakukan temannya seperti ini, bisa dipastikan ia tidak akan dibiarkan menyentuh kekasihnya selama satu minggu.
"Aku harus menemuinya. Aku harus bicara padanya dan mengatakan semuanya sebelum terlambat" ucap Minseok memelas.
Kris berdecak sinis. "Luhan sedang tidak ingin diganggu siapapun saat ini! Lagipula apapun yang kau katakan kurasa Luhan sudah tidak ingin mendengarnya lagi. Jadi lebih baik kau—"
"Aku mencintainya" lirih Minseok dengan air mata yang sudah menggenang di matanya.
"Aku mencintainya. Tidak apa jika ia tidak peduli tentang semua ini, tapi setidaknya aku sudah mengatakannya. Aku mohon~" kata Minseok memohon. Tidak dipedulikannya lagi air mata yang mengalir bebas membasahi pipi putihnya.
Melihat Minseok yang nampak hancur didepannya membuat Kris tidak tega. Ia mengambil sebuah note dan menuliskan sesuatu di atasnya. Kemudian, namja tinggi itu berdiri dan berjalan ke arah Minseok yang menunduk menyembunyikan air matanya.
"Uljima" ucap Kris dengan nada yang lebih bersahabat. " Tao akan membunuhku jika ia melihatku yang membuatmu menangis" lanjutnya. Ia menepuk bahu Minseok dan membuat namja manis itu mengankat kepalanya menatap kris.
"Ini" Kris menyodorkan sebuah kertas note kepada Minseok yang ditanggapi dengan tatapan bingung namja manis itu. " Itu alamat Luhan. Ia ada di rumahnya sekarang. Selesaikanlah masalah kalian sekarang!" lanjut Kris.
Minseok tersenyum, kemudian ia memeluk Kris dan berkata. "Terima kasih Kris..Terima kasih" bisik Minseok. Sedangkan Kris yang mendapat perlakuan tersebut hanya tersenyum kemudian menepuk pelan punggung Minseok.
Minseok melepaskan pelukannya dan bergegas menuju alamat yang diberikan Kris, namun sebelumnya ia harus mengambil tasnya terlebih dahulu.
"Aku bangga padamu, Ge" Ucap Tao yang muncul dari balik pintu setelah Minseok keluar.
"T-Tao sejak kapan kau disana?" tanya Kris gugup.
Sementara Tao hanya berjalan ke arah Kris dengan senyum lebar dan memberikan kecupan di bibir sang kekasih. Ia memeluk Kris dan menenggelamkan kepalanya di dada sang kekasih.
"Terima kasih sudah membantu Xiu-ge. Kau memang yang terbaik" ucap Tao tulus. Sementara Kris hanya tersenyum sambil memeluk erat kekasih manjanya.
"Sama-sama. Sudah sepantasnya Luhan mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya"
.
.
.
Minseok menatap sekali lagi ke alamat yang diberikan Kris. Bukankah Kris memberinya alamat Luhan tinggal, tapi kenapa yang dihadapannya justru hotel bintang lima dan bukanya apartment atau rumah. Namun, ia tidak mau memusingkan hal itu, bisa saja kan Luhan tinggal di hotel karena bingung untuk menghabiskan uangnya itu? Lagipula sepertinya hotel ini masih satu grup dengan EXO Group. Dengan berani Ia melangkah memasuki hotel dan menuju meja resepsionis.
"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?" kata resepsionis itu dengan ramah.
"A-aku ingin bertemu dengan Xi Luhan Sajangnim" kata Minseok gugup.
Resepsionis itu menatap curiga ke arah Minseok sebelum berkata. "Maaf, tapi ada urusan apa Anda ingin menemui Xi Sajangnim?"
"Ah! Tunggu sebentar" kata Minseok kemudian ia membuka tasnya dan mengambil semacam kartu yang sebenarnya berfungsi sebagai ID Card pegawai di EXO Group. " Ini. Aku adalah Sekretaris Xi Sajangnim dan aku baru kembali setelah cuti. Aku tidak menemukan Sajangnim di kantor,padahal ada dokumen yang harus ditandatangani oleh beliau" jelas Minseok sambil menyodorkan ID Card tersebut pada si resepsionis.
"Mohon tunggu sebentar" kata resepsionis itu, kemudian ia memeriksa ID Card Minseok dan melakukan sesuatu dengan sebuah komputer di bawah meja resepsionis. Perlu diketahui bahwa pegawai EXO Group telah terkomputerisasi datanya dan data tersebut dapat di cek di setiap cabang bisnis EXO group untuk memastikan keamanan perusahaan dan pegawainya.
"Kim Minseok-ssi, Xi Sajangnim menempati kamar president suit room di lantai 20. Maaf untuk ketidaknyamanan ini" ucap resepsionis itu sambil mengembalikan ID Card Minseok dan memberikan master Key berbentuk kartu. Kemudian ia membungkukan badannya untuk meminta maaf dan pengertian dari sikapnya.
"Tidak apa-apa, ini sudah merupakan prosedur keamanan,jadi aku sama sekali tidak keberatan maupun tersinggung"jawab Minseok.
"Silahkan menggunakan lift khusus staff, kemudian setelah sampai di lantai dua puluh Anda harus berjalan ke arah kiri , Kamar Xi Sajangnim adalah kamar dengan nomor 2001" kata resepsionis menerangkan arah yang harus Minseok tuju.
.
.
"aku harus berani" gumam Minseok. Kemudian ia menggesekan master key itu ke sebuah alat disamping pintu kamar Luhan. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi bip dan pintu terbuka.
Minseok melihat ke seluruh kamar mewah itu. Suasananya nampak sepi terlebih dengan lampu yang dimatikan dan tirai yang ditutup. Kaki pendeknya melangkah perlahan menyusuri ruangan tersebut untuk menemukan Luhan, namun tidak ada.
'apa mungkin disana?' batin Minseok saat melihat sebuah pintu.
Dengan hati-hati Minseok membuka pintu tersebut dan melangkah masuk. Ruangan tersebut sama gelapnya dengan ruangan sebelumnya dan ternyata ruangan tersebut adalah sebuah kamar. Jantung Minseok berdegup kencang saat melihat sebuah gundukan di atas kasur yang tertutupi selimut. Dengan pasti langkah kecilnya mendekati kasur berukuran king size itu.
"Astaga!" pekik Minseok tertahan saat melihat kepala Luhan yang menyembul dari balik selimut. Namun, yang lebih mengejutkan Minseok adalah wajah Luhan yang pucat dan keringat dingin yang terus mengalir di pelipisnya. Luhan sakit.
"Sajangnim" Panggil Minseok pelan. Kemudian ia duduk di sisi ranjang tempat Luhan berbaring.
"Ngghh...Nugu?" lirih Luhan yang terbangun karena panggilan dan gerakan di ranjangnya. Ia tidak mengenali siapa yang tengah duduk di sampingnya karena kepalanya yang sangat pusing hingga mengganggu fokus pengelihatannya.
"Ini aku, Kim Minseok"jawab Minseok pelan. Jujur keberanian yang kumpulkan tadi seolah menguap. Ia takut Luhan menolaknya.
"Minseokie...Akhh" Luhan mengerang sakit saat berusaha untuk mendudukan dirinya.
"Jangan memasksakan diri!" kata Minseok, namun ditanggapi gelengan oleh Luhan.
"Aku tidak apa-apa" kata Luhan sambil menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
"Apa yang membuatmu kemari?" tanya Luhan.
"Aku ingin menemui mu dan menyelesaikan semua masalah kita" jawab Minseok sambil menatap mata rusa di depannya, kemudian suasana berubah menjadi hening. Tidak ada satupun diantara mereka berdua yang membuka suara hingga akhirnya Luhan menghela nafas panjang dan berkata...
"Aku mengerti. Seharusnya aku sadar kalau kau selama ini pasti terganggu karena sikapku. Kau benar kalau aku sudah bertindak seperti seorang bajingan. Seharusnya aku tidak memaksakan diriku kepadamu. Kamu bebas memilih siapaun orang yang kau sukai. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku akan menjauhi mu . Aku akan menjaga jarak darimu. Aku juga akan—"
CUP
"Sudah puas bicaranya?" kata Minseok sebal. Ia sebal dengan Luhan yang terus bicara seenaknya tanpa mendengarkan penjelasannya. Kemudian dengan sangat sadar ia mengecup bibir Luhan untuk menghentikan ocehannya.
"A-apa maksudnya ini?" tanya Luhan bingung.
Minseok menatap lurus Luhan. Tangannya kemudian menggenggam erat tangan Luhan dan dengan tegas ia berkata. "Aku Kim Minseok, mengaku bahwa aku sangat mencintai Sajangnim pabbo ku, Xi Luhan"
"Minseok-ah kau sedang tidak bercanda atau mabuk kan? Bukankah kau bilang kau membenciku saat itu?!"
Tatapan Minseok berubah sendu, kemudian ia menunduk tak berani menatap Luhan.
"Aku memang bodoh! Aku juga terlalu egois dan keras kepala karena tidak mau mengakui perasaanku yang sesungguhnya padamu. Hanya karena kau pernah menikah dan menyimpan masa lalu mu dengan yeoja lain, aku marah dan mengatakan hal yang menyakitkan padamu—"
"Darimana kau tahu soal itu?"potong Luhan yang terkejut karena Minseok tahu masa lalunya.
"Oh Sehun"Jawab Minseok. " Ia memberitahu semuanya. Tapi seharusnya aku tidak kekanakan seperti ini. Semua orang memiliki masa lalu dan berhak menyimpannya, tapi saat itu aku sangat takut. Aku hiks...sangat takut jika...hiks...menyukaiku hanya karena aku mirip mendiang istrimu hiks. Aku..hiks...takut cinta untuk ku adalah kepalsuan dan pelarianmu saja...hiks"sambung Minseok sambil terisak.
Luhan yang melihat minseok terisak , kemudian merengkuh tubuh namja manis itu ke dalam pelukannya. Ia membelai lembut helaian rambut Minseok dan menenangkan namja manis tersebut.
"Uljima~. Kenapa akhir-akhir ini kau menjadi cengeng seperti ini,eoh?" ucap Luhan menenangkan Minseok.
"Sebenarnya jika harus ada yang disalahkan, maka akulah orangnya" Kata Luhan, tatapan matany berubah namja dipelukannya sudah menhentikan isakannya dan mendongakan kepalanya menatap Luhan.
Minseok menggeleng, "Tidak, kau tidak salah! Aku lah yang selalu menyakiti dan menggantung perasaanmu. Aku tidak pernah mau jujur pada perasaanku sendiri, bahkan aku justru marah saat mengetahui bahwa aku bukanlah yang pertama untukmu. Aku sangat egois ,bukan?"
Luhan tersenyum dan mengecup kening Minseok, kemudian ia menarik tubuh Minseok agar ikut berbaring bersamanya dan menyandarkan kepala Minseok di dadanya.
"Jika boleh jujur aku takut untuk mendekatimu, karena setiap orang yang kucintai pasti menderita karena diriku" kata Luhan. " Kau pasti sudah tahu tentang Oh Sohee,bukan?" tanya Luhan yang diangguki oleh Minseok.
"Apa kau menyukaiku karena aku mirip dengannya?" tanya Minseok
"kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Kau adalah kau, dan perasaanku padamu tidak ada hubungannya dengan kemiripan kalian terlepas dari status Sohee yang merupakan mantan istriku" Jawab Luhan sambil tersenyum kecil.
"Lalu kenapa kau begitu marah saat aku melihat foto Oh Sohee?" tanya Minseok . wajahnya merenggut lucu karena cemburu.
"Karena aku tidak siap untuk menceritakan semuanya kepadamu, Minseokie. Aku takut kau akan membenci dan menjauhiku" jawab Luhan, terpancar kesedihan di matanya.
"Kenapa aku harus membencimu? Apa karena Oh Sohee yang mati bunuh diri?"
Luhan tidak langsung menjawab, ia justru mengeratkan pelukannya pada Minseok. " Pasti Sehun sudah menceritakan tentang pernikahanku dan kematian Sohee, kan?"Minseok mengangguk mendengar pertanyaan Luhan, kemudian ia mendengar nafas berat yang berhembus dari mulut namja itu.
"Sohee memang tidak menyalahkan siapa pun untuk tindakan nekatnya itu, tapi aku selalu merasa bersalah kepadanya. Pernikahan kami tidak direstui oleh keluargaku, dan aku pun tidak buta untuk melihat ketidaksukaan nenek dan ibuku kepada Sohee. Di dalam keluargaku, mungkin hanya ayahku saja yang tidak menentang ataupun menolak pernikahanku, ia cenderung diam dan tidak ingin ikut campur. Beberapa hari setelah hari pernikahan, aku dan Sohee memutuskan untuk kembali ke Cina dan tinggal di mansion keluargaku. Aku pikir itu adalah langkah yang baik untuk membuat Sohee diterima , namun sayangnya itu justru membuat Sohee semakin menderita—" Luhan memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa sakit yang menyeruak bersamaan dengan kenangan buruk yang berputar di kepalanya.
" Suatu hari aku melihat Sohee yang diperlakukan seperti seorang pelayan oleh nenek juga ibuku , dan tentu saja hatiku sakit melihatnya yang hanya mampu diam menerima semua perlakuan buruk itu. Karena tidak ingin lagi melihatnya menderita, aku memutuskan untuk bekerja keras di perusahaan dan mulai merintis bisnis baru agar kami dapat terbebas dari keluargaku. Semakin hari aku semakin sibuk di kantor bahkan jarang sekali pulang, tapi aku tetap menelpon Sohee setiap hari untuk menanyakan kabarnya. Semua berjalan dengan lancar menurutku, tapi aku lengah karena tidak mengwasi nenek dan ibuku yang ternyata juga mengusik keluarga Sohee. Ayah Sohee meninggal terkena serangan jantung karena di PHK atas tuduhan penggelapan dana perusahaan , tidak lama kemudian ibunya menyusul ayahnya meninggal. Kejadian itu membuat Sohee mengalami depresi berat, ia berusaha mengatakan bahwa nenek dan ibuku adalah penyebab kematian orang tuanya—"
"Tapi kau tidak percaya!" Potong Minseok saat ingat cerita Sehun.
"Saat itu aku tidak memiliki bukti apapun untuk menyudutkan nenek dan ibuku!. Mereka berdua adalah orang yang cerdik dan memiliki banyak koneksi, jika aku asal menuduh maka Sohee lah yang akan menanggung akibatnya. Aku hanya bisa berdiam dan meminta Sohee tetap bersamaku sembari aku menyelidiki keterlibatan nenek dan ibuku" Bantah Luhan dengan nada yang cukup tinggi, membuat namja dipelukannya menegang.
"Mianhae" Ucap Luhan saat dirasa namja dipelukannya ketakutan.
"Semuanya semakin buruk hingga Sohee memutuskan untuk bunuh diri. Ia meminum semua obat penenang hingga mengalami overdosis. Dan lebih teganya lagi ia hanya meninggalkan sebuah surat yang berisikan permintaan maafnya padaku dan permohonannya agar aku bersedia menjaga dan menjadi wali Sehun" Suara Luhan terdengar parau, mungkin jika tidak ada Minseok di dekatnya maka Luhan sudah dipastikan akan menangis.
"Kau bilang saat itu kau tidak dapat membuktikan keterlibatan ibu dan nenekmu atas penderitaan Sohee dan keluarganya, lalu bagaimana kau bisa mengetahui kebenarannya?" selidik Minseok. Ia ingin Luhan menceritakan semuanya secara detil agar tidak akan ada lagi kesalapahaman yang timbul diantara mereka.
"Nenek ku yang menceritakannya" Jawab Luhan dengan tatapan kosong.
" Bukankah beliau membenci Sohee? Kenapa dia justru memberitahumu?" tanya Minseok tidak mengerti.
"Beberapa bulan setelah Sohee meninggal, nenekku sakit keras. Dokter mengatakan bahwa nenekku mengalami kebocoran jantung dan penyempitan pembuluh darah di jantungnya. Beliau seringkali keluar masuk rumah sakit untuk melakukan pengobatan dan operasi, tapi hasilnya nihil. Suatu malam aku yang sedang berjaga di depan kamar inap nenekku terkejut saat mendengar teriakan nenekku. Tubuhnya gemetar dan mulutnya terus saja melantunkan permintaan maaf. Setelah itu ia menangis di depanku dan menceritakan semuanya" jelas Luhan.
"Kau pasti sangat marah dan terluka saat itu. Pasti berat menerima kenyataan bahwa orang terdekatmulah yang menyakiti pasangan hidupmu" ucap Minseok. Tangannya mengusap lembut tangan Luhan yang memeluknya, mencoba mengalirkan rasa nyaman di tubuh yang menegang karena menahan emosi.
"Ya aku memang sangat marah! Tapi aku sadar bahwa aku tidak bisa mengembalikan keadaan seperti sebelumnya dan mengulang waktu. Bagiku Sohee hanya bagian masa lalu ku yang menempati tempat tersendiri di hatiku" Kata Luhan. Kemudian ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Minseok. " Dan dihadapanku saat ini adalah masa depanku. Aku pernah kehilangan cinta yang begitu berharga di hidupku, jadi aku mohon padamu Minseokie...jangan membuatku merasakannya lagi. Aku mohon..." pinta Luhan.
"Tentu, Sajangnim" Ucap Minseok. Kemudian ia mengecup bibir tipis Luhan, menyampaikan kesungguhannya melalui kecupan-kecupan kecil tanpa nafsu di dalamnya.
'Saranghae Minseokie'
'Nado Saranghae, My Deer'
T.B.C
Read and Review
Juseyo
Kritik dan Saran di terima ^^
