Precious Love
Lumin
Author : Kyugyu
Rate T, BL
Happy Reading~
Chapter 12
"YAKK! Sudah aku bilang jangan mengangguku saat sedang memasak!" Pekik namja manis itu kesal. Ia—Minseok—merasa jengkel setengah mati pada Sajangnimnya yang terus menerus memeluk dan menciumi dirinya dari belakang.
"Kau tidak usah mempedulikanku, Minseokie. Aku hanya akan diam memeluk dan menciummu seperti ini. Bukankah ini sangat romantis?" kata Luhan yang kini tengah mengendusi tengkuk Minseok.
'Dasar menyebalkan' batin Minseok
DUGH
"Argh, Appo!" Luhan meringis kesakitan saat Minseok menyikut perutnya dengan keras. Pelukannya terlepas dari tubuhnya dan berbalik memeluk perutnya sendiri yang berdenyut sakit.
"Rasakan!" Ucap Minseok dengan sadisnya, kemudian namja manis itu kembali meneruskan acara memasaknya.
"Kau tega sekali padaku~!" rajuk Luhan yang saat ini sudah mendudukan dirinya di sebuah bangku di depan mini bar kamar hotelnya.
"Habis kau menyebalkan sekali. Kau yang menyuruhku untuk memasak makan siang untukmu, tapi kau justru terus saja menggangguku" kata Minseok sebal.
" Aku hanya merindukanmu, Baozi" Ucap Luhan. " Dan kau terlihat seksi saat sedang memasak" Goda Luhan.
Minseok merona mendengar ucapan Luhan. Entah mengapa setelah mereka berdua saling mengungkapan isi hatinya, ia menjadi sangat sensitif dengan rayuan Luhan. 'kendalikan dirimu, Kim Minseok!' Batin Minseok.
"Tapi tidak seharusnya kau melakukan itu! Dapur adalah tempat yang berbahaya, bagaimana jika aku tidak sengaja melukaimu saat sedang memotong bahan makanan atau kau terkena cipratan minyak panas,eoh?" ceramah Minseok. Ia memang harus memberi pengertian pada Luhan yang sifatnya sebelas dua belas dengan anak TK jika namja rusa itu tengah berada dalam mode menyebalkan.
" Aku rela terluka dan merasa sakit asalkan kau yang melukai dan menyakiti ku, baby~" Gombal Luhan.
Minseok menghentikan kegiatan memasaknya, kemudian ia membalikan tubuhnya dan mendelik tajam pada Luhan. " Jangan bicara macam-macam! Kau terdengar seperti masokis!" omel Minseok dengan pisau dapur yang berkilat tajam dan mengacung ke arah Luhan.
"M-mian" Jawab Luhan takut. Sungguh, ia benar-benar tidak mau berurusan dengan Minseok yang tengah berada dalam mode crazy baozi, karena bisa dipastikan Minseok yang biasanya sabar akan berubah menjadi namja galak melebihi yeoja yang sedang PMS.
Setelah memarahi Luhan, Minseok kembali fokus untuk melanjutkan acara memasakanya. Ia dengan telaten mengolah semua bahan makanan yang ia dapat di kulkas kecil kamar Luhan menjadi makanan yang enak.
"Minseokie, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Luhan.
"Tentu saja" jawab Minseok tanpa menoleh ke arah Luhan. Ia kini tengah sibuk mencampur bumbu ke dalam masakannya.
Luhan terdiam sejenak, seolah tengah mencari kata yang tepat untuk mengatakan pertanyaannya. "Bagaimana Sehun memberitahumu? Maksudku adalah kau kan bilang bahwa kau tahu semuanya dari Sehun,jadi bagaimana kau bisa membuat Sehun menceritakan semuanya?" tanya Luhan. Hatinya berdegub cepat. Kalau boleh jujur ia sama sekali tidak ingin membahas masalah ini lagi, karena bukan hanya dirinya yang terluka tapi minseok pun akan terluka.
Minseok mematikan kompor, lalu menata hasil masakannya ke dalam mangkuk dan piring. Ia berjalan ke arah meja mini bar tersebut dan meletakan makanan tersebut tepat di depan Luhan yang menatapnya dengan tatapan menuntut jawaban.
"Makanlah dulu. Aku akan menceritakan semuanya sehabis kau makan" ujar Minseok yang ditanggapi anggukan oleh Luhan.
.
.
"Jja, sekarang ceritakan semuanya" kata Luhan. Namja rusa itu sudah menyelesaikan makan sianya dan meminum obat yang Minseok dapat dari kotak P3K.
"Tapi kau harus janji tidak akan memotong kata-kataku, arra" kata Minseok.
"Ne,arraseo"kata Luhan sambil mengangguk malas.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Sehun di taman dekat dengan apartemen ku. Saat itu aku melihat Sehun yang tertidur di bangku taman dengan tubuh yang sangat dingin. Kemudian, aku membawanya ke rumah sakit dan membawanya pulang ke apartemen karena—"
"kenapa kau membawanya pulang kerumahmu?" tanya Luhan dengan nada cemburu.
"Yaa! Sudah ku bilang jangan memotong kata-kataku" kata Minseok sebal.
"Arra..arra" ucap Luhan malas. Ia cemburu karena Sehun sudah pernah ke tempat tinggal Minseok bahkan tidur seatap dengan namja pujaannya, sementara ia belum pernah ke tempat tinggal kekasihnya itu.
"Aku membawa Sehun ke apartemen ku karena ia menolak dengan keras saat aku hendak menghubungimu. Aku tentu saja tidak bisa meninggalkannya sendirian di rumah sakit dengan kondisi seperti itu. Setelah itu membawanya pulang dan merawatnya, kemudian karena aku bertanya padanya maka ia menjawab semuanya dan menceritakan tentang masa lalumu" jelas Minseok.
"Terakhir kali kita bertemu kau terlihat sangat marah padaku. Apa kau marah karena hal itu?" tanya Luhan.
"Ne, aku benar-benar kekanakan waktu itu. Seharusnya aku bisa berpikir jernih dan menerima semuanya, tapi aku justru marah karena karena aku bukanlah yang pertama untukmu" Jawab Minseok. Kepala namja manis itu tertunduk menyembunyikan wajah sendunya. Ia sangat menyesali sikap bodohnya itu.
Luhan tersenyum ia berdiri dan menghampiri Minseok yang tengah menunduk, kemudian ia memluk namja manis itu dari belakang dan memberi kecupan-kecupan ringan di tengkuk dan pipi Minseok. "Aku sangat mencintaimu, minseokie. Meskipun kau bukan yang pertama untukku, tapi percayalah bahwa kau adalah yang terakhir di dalam hidupku" ucap Luhan penuh perasaan.
Minseok membalikan tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Luhan, kedua mata almondnya berkaca-kaca. Kedua tangan rampingnya melingkari pinggang Luhan dan menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih. "Aku juga sangat mencintaimu. Maafkan aku karena sering menyakitimu" kata Minseok.
Luhan melepaskan namja manisnya dari pelukannya, kemudian ia menangkup wajah bulat itu dengan kedua tangannya. Manik rusanya mengunci mata almond yang sangat dikaguminya itu, lalu secara perlahan Luhan mengeliminasi jarak diantara mereka berdua.
"Jangan bertengkar lagi. Aku sangat mencintaimu dan aku ingin kau terus percaya serta berada terus disisiku apapun yang terjadi"ucap Luhan.
.
.
.
Seharusnya hari ini menjadi hari yang tenang dan indah bagi Oh Sehun. Ia berencana mencari udara segar dengan mengunjungi cafe langganannya semasa sekolah dulu untuk menghilangkan rasa penat atas masalahnya, apalagi Minseok memberitahu uang simpanan namja manis tersebut untuk digunakan Sehun selama Minseok menata hati (?). Ya.. seharusnya begitu sampai tiba-tiba sesosok makhluk hitam—menurut Sehun—muncul dihadapannya dan kita sebut saja makhluk hitam itu Jongin—merusak harinya.
" Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Jongin yang risih dengan tatapan Sehun.
" Kenapa kau duduk disini dan mengangguku?" alih-alih menjawab pertanyaan Jongin, Sehun justru bertanya balik dengan nada suara yang sarat dengan ketidaksukaannya atas eksistensi namja di depannya.
" Apa kau tidak lihat kalau semua meja di tempat ini sudah penuh? Lagipula kenapa kau begitu ketus denganku? Bukankah kita teman semasa sekolah?" kata Jongin.
'Teman apanya?' batin Sehun.
"Kau kan bisa berbagi meja dengan orang lain. Aku sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu" kata Sehun.
" Ish kau ini cerewet sekali seperti yeoja saja" cibir Jongin.
"A-apa kau bilang? Yak kau—"
"Sudahlah Sehun, biarkan aku duduk disini. Kalau perlu aku akan membayar pesananmu sebagai biaya berbagi tempat duduk"potong Jongin. Sungguh ia lelah sekali jika harus berdebat dengan Oh Sehun si mulut pedas.
"Terserah, tapi jangan coba-coba mengangguku!" ucap Sehun penuh penekanan, sementara jongin hanya mengangkat bahu tidak peduli.
Sehun menyesap coklat panas yang dipesannya, ia melirik jongin yang kini rengah sibuk dengan ponsel pintarnya, entah apa yang sedang dilakukan namja tan itu. 'paling-paling ia sedang melihat koleksi gambar porno miliknya' batin Sehun.
"Kenapa kau terus memperhatikan aku seperti itu?" tanya jongin yang sukses membuat Sehun tersedak minumannya.
"Si-siapa yang memperhatikanmu? Percaya diri sekali " Kata Sehun.
Jongin mengalihkan perhatiannya dari ponsel miliknya dan menatap Sehun yang kini berwajah masam.
" Tsk.. aku tau aku memang tampan dan seksi, jadi wajar saja kalau kau terpesona padaku" Ucap Jongin dengan seringai menyebalkan.
Sehun menatap Jongin datar, ia heran bagaimana makhluk hitam dekil sepertinya merasa tampan seperti dewa-dewa yunani. " Setahuku namja TAMPAN dan SEKSI tidak akan mencoba mencuri ciuman dari seorang namja manis dan di tinggalkan namja manis incarannya tersebut di sebuah cafe sendirian" Kata Sehun penuh penekanan.
"K-kau... darimana kau tahu?" tanya Jongin terbata. Ia malu aib nya sebagai namja penakluk hati setiap orang itu diketahui oleh Sehun.
"Mungkin pukulan dari kekasih namja manis itu membuatmu tidak sadar jika aku ada di cafe yang baru buka beberapa hari lalu" jawab Sehun. " Jika menurut para yeoja dan namja kegatelan yang ada di sekitarmu menganggap kau adalah seorang casanova , namun bagiku kau tidak lebih dari penjahat kelamin yang senang memasukan benda di selangkanganmu kedalam lubang mereka" lanjut Sehun pedas.
"K-kau—"
Sehun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jongin yang kesal atas perkataannya dan tagihan coklat panas miliknya. Ia terkikik geli melihat wajah Jongin yang merah padam karena kesal.
'Rasakan!' batin Sehun
.
.
.
Hari ini ada yang berbeda dari kantor EXO Group. Semua hal terasa nampak indah dan pekerjaan sebanyak apapun terasa mudah. Perubahan ini disebabkan oleh atasan tertinggi mereka, tidak lain dan tidak bukan ialah Xi Luhan. Namja bermata rusa itu sudah membuat dahi para karyawan mengernyit bingung karena Sajangnim mereka itu terus melempar senyum dan sapaan kepada karyawan yang ia jumpai. Tak hanya itu saja, Luhan juga menggunakan speaker di pusat informasi untuk mengumumkan pemberian bonus tambahan pada pengambilan gaji berikutnya untuk semua karyawan EXO Group yang tentunya disambut teriakan suka cita seluruh karyawan di setiap divisi dan membuat direktur keuangan harus merombak lagi laporan anggaran keuangan bulanan yang sudah dibuat karena ulah namja itu.
Sementara itu, si pembuat kehebohan sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menandatangani beberapa dokumen yang terbengkalai karena absennya dan mendengarkan kekasih manisnya membacakan agenda kegiatannya hari itu.
"Apa tidak apa-apa jika kau melakukan itu?" tanya Minseok yang baru selesai membacakan agenda untuk Luhan.
"Apa yang kau maksud adalah pemberian bonus untuk para karyawan?" tanya balik Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan dokumen.
"Iya. Aku hanya merasa apa itu tindakan yang benar dan berdampak baik bagi perusahaan?" kata Minseok sambil merapikan dokumen yang sudah ditandatangani oleh Luha n.
Luhan menghentikan kegiatan menandatangani dokumennya dan menarik tangan Minseok dengan lembut untuk menghampirinya, kemudian ia memundurkan kursi kerjanya dan mendudukan Minseok di pangkuannya—dengan sedikit paksaan tentunya.
"Ish...Jangan seperti ini! Bagaimana jika ada yang masuk dan melihat?" Kata Minseok risih, sementara Luhan hanya bergumam tidak jelas dan mennyusupkan kepalanya di ceruk leher Minseok.
"Tidak ada yang akan masuk, para karyawan saat ini pasti sedang sibuk bekerja"kata Luhan, ia sangat menikmati aroma tubuh Minseok yang menenangkan. "Soal aku yang memberi bonus pada karyawan kurasa itu wajar saja, sayang" lanjut Luhan sambil mengelus lengan Minseok dengan lembut.
Belaian tangan Luhan yang lembut membuat Minseok merasa nyaman dan rileks. Namja manis itu menyerah dan menyandarkan kepalanya di dada Luhan dan menikmati kecupan kecil yang diberi Luhan di kepalanya.
"Aku memberi bonus pada karyawan karena mereka sudah sangat bekerja keras akhir-akhir ini. Mereka bahkan rela lembur untuk menyelamatkan produk kita yang di plagiat, lagipula keuntungan kita sangat besar dari penjualan produk baru, jadi tidak masalah jika perusahaan memberi bonus atas kerja keras mereka" Jelas Luhan.
"Mmm.. kau benar. Mereka pasti sangat senang" Kata Minseok. Kemudian, namja manis itu menoleh ke belakang dan menarik tengkuk Luhan lalu mendaratkan kecupan manis di bibir tipis itu yang disambut hangat si pemilik bibir. Sampai...
"OMONA!"—sebuah suara melengking menghentikan moment romantis mereka.
"Yak Baekie, sudah ku bilang ketuk dulu pintunya" kemudian disusul suara dari namja jangkung yang berdiri di belakang namja manis yang berteriak.
Pipi Minseok merona dengan hebat, bahkan mungkin sekarang ia sudah seperti kepiting rebus. Dengan segera ia melompat dari pangkuan Luhan dan merapikan penampilannya lalu memberi salam pada Baekhyun dan Chanyeol. Sementara itu Luhan hanya merengut sebal karena momen romantis mereka terganggu.
"Kenapa sih selalu aku yang memergoki kalian saat sedang melakukan hal mesum?" ucap Baekhyun sebal, kemudian namja cantik itu mendudukan dirinya di sofa. Sementara itu, Chanyeol sibuk membungkukan badannya untuk memita maaf atas ketidaksopanan kekasih mungilnya itu. Well, kedua namja beda tinggi badan ini sudah resmi merajut kembali kisah asmara mereka.
"Ish, jaga bicaramu itu!" kata Minseok sebal, sedangkan Baekhyun hanya memutar matanya malas.
Luhan bangkit dari kursi kebesarannya dan kemudian menghampiri Minseok yang tengah merenggut sebal pada sahabatnya.
"Minseok-ah, bisakah kau membawakan minum untuk tamu kita?" ucap Luhan yang langsung diangguki oleh Minseok.
" Kalau begitu apa yang ingin Chanyeol-sshi minum?" tanya Minseok pada Chanyeol yang kini sudah merebahkan tubuh besarnya di sofa.
" Aku kopi saja" jawab Chanyeol sambil tersenyum.
"Hei , aku jus strawberi!" Kata Baekhyun dengan nada kesal karena merasa tidak dianggap oleh Minseok.
"Aku sudah tahu Byunbaek" ucap Minseok, kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah itu tubuh mungil Minseok menghilang di balik pintu dan suasana ruangan itu menjadi sunyi. Hanya terdengar helaan nafas dan suara berkas-berkas yang sedang dibaca baik oleh Luhan dan Chanyeol. Sementara seorang namja mungil di samping Chanyeol hanya memperhatikan luhan dengan tatapan menyelidik.
"Jika ada yang ingin Baekhyun-sshi katakan, maka katakan saja" Ucap Luhan yang kurang nyaman dengan tatapan Baekhyun.
Baekhyun tersentak, namun sedetik kemudian kembali menatap Luhan dengan tatapan serius. "Sebenarnya apa hubunganmu dengan Minseok?" tanya Baekhyun.
" Aku rasa, aku tidak meiliki kewajiban untuk memberitahu Baekhyun-sshi soal kehidupan pribadiku" Kata Luhan santai.
Baekhyun merenggut kesal, " Kau memang tidak punya kewajiban untuk memberitahuku urusan pribadimu, tapi orang yang tadi duduk di pangkuanmu itu adalah sahabat ku, Neo Saekkia!" ucap Baekhyun marah.
"Baek, tenanglah" bujuk Chanyeol untuk menenangkan sang kekasih dengan meraih tangan Baekhyun, namun ditepis oleh dengan kasar oleh sang kekasih.
"Jika kau hanya ingin bermain-main lebih baik cari orang lain saja! Jangan coba-coba mempermainkan sahabatku!"peringat Baekhyun.
Luhan mengeryit tidak suka, kemudian berkata " Aku tidak pernah mempermainkan perasaan Minseok! Apa yang kau lihat adalah apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Aku mecintainya dan begitupun dengan Minseok. Perasaanku padanya, bukanlah hal yang harus kaou ragukan. Aku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Minseok adalah hal terakhir di dunia ini yang ingin ku sakiti" Ia tidak marah dengan Baekhyun, karena ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh namja mungil itu hanya sebuah bentuk kekahawatiran semata.
"lebih baik kau pegang kata-katamu itu, karena jika aku melihat Minseok menangis karenamu maka akulah orang pertama yang akan memberimu pelajaran" Ucap Baekhyun.
Setelah pertengkaran kecil itu suasana kembali hening seperti semula. Baekhyun dan Luhan kembali pada kegiatan mereka sebelumnya, sementara Chanyeol hanya melirik kedua orang tersebut untuk memastika tidak akan ada pertengkaran lagi.
Cklekk
"Eoh, kenapa sepi sekali?" tanya Minseok
Minseok berjalan memasuki ruangan tersebut dengan membawa nampan berisi minuman untuk para tamu Sajangnimnya. Ia meletakkan minuman tersebut di atas meja dan kemudian berdiri di dekat Luhan.
"Duduklah!" Kata Luhan. Ia tidak ingin kekasihnya terus berdiri sepanjang pertemuan ini.
"Eoh, tapi—"
"Duduk saja! Lagian kau seperti pelayan restoran jika berdiri sambil mendekap nampan seperti itu" ucap Bekhyun.
"Yak! Dasar menyebalkan!" pekik Minseok kesal.
"Baekhyun-sshi benar, kemari dan duduklah" perintah Luhan.
.
.
.
Pertemua antara Chanyeol dan Luhan berjalan lancar dan mereka sepakat untuk melakukan kerja sama pada proyek selanjutnya. Setelah mengantarkan tamu mereka sampai ke depan lift, atasan dan bawahan tersebut terlihat tengah bersantai menikmati senja. Luhan bersandar di atas sofa dengan Minseok yang berada di pelukannya.
"Ada apa, hmm?" Tanya Minseok. Ia merasa Luhan agak aneh karena sedari tadi namja rusa itu hanya diam sambil menciumi puncak kepanya.
"Tidak ada apa-apa" jawab Luhan.
Minseok berbalik menghadap Luhan, kemudian meraih rahang namja itu agar menghadap ke arahnya. Dengan lembut Minseok mendaratkan sebuah kecupan di bibir kekasihnya.
"Aku tau ada yang tidak beres denganmu" ucap Minseok.
"Percayalah tidak ada apa-apa! Semua berjalan baik. Aku hanya ingin seperti ini bersamu—menikamati sore sambil memelukmu" kata Luhan lalu memberikan kecupan di bibir Minseok.
Luhan membawa kepala Minseok agar bersandar di dadanya, kemudian tangannya mengelus punggung sempit Minseok. " Minseok kau tahu bahwa aku mencintaimu, kan?" tanya Luhan.
"Tentu saja aku tahu. Aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu dan mengerti betapa besarnya cinta Xi Luhan kepada Kim Minseok" jawab Minseok.
"Ya kau benar" ucap Luhan sambil menatap langit sore di luar sana.
T.B.C
Gyu Corner
Tes..Tes...
Annyeong readers, mungkin sudah lama sekali ff ini tidak di update dan mungkin readers kecewa karen Gyu lagi-lagi PHP, tapi apa boleh buat karena Gyu punya kehidupan lain di luar dunia ff. Gyu minta maaf sebanyak-bayaknya bagi readers yang sudah lama nungguin ff ini update... Jeongmal Mianheyo~
