"Sehun—Oi—Hei Oh Sehun!"seruan tanpa henti yang mengusik telinga membuat sang empu menggeliat tak nyaman, hanya sekedar menggeliat saja tak menggumam apalagi membuka mata, dengkurannya bahkan tak terdengar—Sehun tidur seperti orang yang tak bernyawa. Sementara Kyungsoo wajahnya setengah pucat, mata bulatnya menatap takut-takut kearah kusen pintu yang terbuka. Ada sesosok wajah yang lumayan familier—dia Kim Jongin memandangnya dengan tatapan datar sedater tembok selempeng aspal sudah berpakaian rapi siap berangkat begitu juga dengan Kyungsoo.

Lagi Kyungsoo mengguncang bahu Sehun sekuat yang Ia bisa, ini sudah lewat Jam 8 dan sebentar lagi kelas dimulai. Rupanya tindakan kecil itu disadari Si Jongin, tutor special khusus Oh Sehun—begitulah Kyungsoo menyebutnya tentu saja didalam hati kalau sampai didengar habislah sudah Ia dibantai Oh Sehun.

"Kyungsoo-sshi, silahkan Anda berangkat. Biar aku saja yang membangun manusia setengah kebo ini."mau tak mau Kyungsoo menutup mulutnya menahan tawa—geli. Sadar Jongin menatapnya heran buru-buru Kyungsoo mengiyakan saja permintaan Jongin toh dia masih ingin hidup hari ini pelajaran Heechul saem—si Ratu eh ralat Raja galak itu mengajar jadi Ia langsung bergegas saja merasa untung karena disuruh berangkat duluan.

Manakala Kyungsoo telah bergegas pergi, dengan wajah lempeng Jongin mendekati ranjang tidur dimana Sehun terlelap diatasnya. Mata hitamnya memicing memperhatikan setiap detail wajah Sehun, bibirnya tersenyum miring—menyeringai.

"sebaiknya aku apakan bocah madesu(masa depan suram) ini. Ditendang hingga jidatnya membentur lantaikah, ku siram air es seember kah—aah jangan itu kurang jahat, aha—"berhore sejenak, pelan-pelan Jongin memanggul tubuh itu dibahu kokohnya sehati-hati mungkin agar pemuda itu tak terbangun atau terganggu barang sedikitpun, Ia berjalan menuju pintu kamar mandi, memutar knop pintu lalu membuka dan tanpa basa-basi atau berpikir ulang, dengan bangganya Jongin memasukan tubuh itu kedalam bath ub yang terisi penuh dengan air—bekas Kyungsoo mandi terbukti dari sisa busa yang masih terlihat.

Dan pada akhirnya Sehun langsung membuka mata dengan bonus berkecipak tak jelas seperti orang yang tenggelam sembari berteriak."HELEP—MAMA—HELEP AKU TENGGELAM—BANJIR WOI BAN—HIEEEE! KAU SI JEPANG—KUSOO!"

"Morning, Kebo"tandas Jongin Innocent tak merasa bersalah atas apa yang baru saja Ia lakukan sudah begitu menyebut Sehun dengan Kebo. Sementara Sehun masih berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan nyawanya yang tertinggal di dunia mimpi, kebingungan seperti orang linglung, mengumpat tanpa akhir hingga ketika tak sengaja matanya melihat sebuah botol shampoo, otaknya mendadak lancar seperti seluncuran, bibirnya tersenyum sok diseram-seramkan.

Lalu—…

Duak!

Melempar sebotol shampoo itu tepat mengenai tengkuk Jongin yang bersiap pergi tanpa meminta maaf. Langkah Jongin terhenti berbalik arah Ia mendatangi Sehun memberi tatapan menusuk dan mengancam tak luput Ia memungut botol shampoo membuka penghalangnya kemudian mengeluarkan cairan kebiruan itu berlebih diatas telapak tangan kirinya, Ia berlari lalu mengusap cairan itu diwajah Sehun yang punya wajah berteriak tanpa sempat mengelak—hingga bahasa kebun binatang keluar, warna-warni bak pelangi.

"oi—sialan. Mataku perih—aargh aku akan buta, buta. Aaargh awas kau Jepang—kusoo."gelagapan Sehun keluar dari bathub walau beberapa kali harus tercebur terus menerus didalam bathub karena licin—ternyata kebiasan Kyungsoo terlalu banyak menuangkan sabun mandi didalam bath ub membuatnya celaka seperti sekarang—awas Kau Kyungsoo'pikir Sehun penuh dendam.

"air—air, siapapun dimana wastafelnya—perih sialan."umpat Sehun, dengan kepayahan akhirnya Ia sampai didepan wastaafel memutar kran dan mulai membersihkan wajah dan juga matanya yang terasa perih akibat shampoo tadi. Ia juga bodoh kenapa harus kalah adu otot dengan si Jepang-kusoo itu.

Ketika matanya kembali normal, tubuh Sehun melonjak terkejut sendiri kala melihat kedua matanya yang merah—menyeramkan'koornya ngeri.

"dasar aneh."ejek Seseorang—ternyata Jongin, Sehun pikir pemuda itu sudah kabur sejak tadi.

"Kau sialan, pergi sana. Terimakasih berkat kau mimpi indahku dengan Minabi-chan(disamarkan pemirsa) hancur seperti serpihan kaca—dasar penganggu."cerocos Sehun semangat, puas sekali ketika wajah itu memandang kearah lain.

"kau itu sudah idiot—pecundang—ditambah bertindak parasitisme—dikali pervert, menurut ramalanku kau akan berakhir menjadi gelandangan dengan baju bekas compang-camping menyedihkan. Hmm..hmm aku yakin sekali."tandas Jongin bangga, matanya terpejam, tangan didagu Ia bersikap bak detektif handal yang tengah memecahkan kasus rumit—jujur saja itu membuat Sehun ingin menonjok wajah yang sialnya ganteng itu kalau begini Ia jadi merasa tersaingi.

"kau itu sudah sok pintar—pengganggu—ditambah bertindak sok keren—dikali munafik, menurut ramalan ku kau akan berakhir menjadi perjaka tua yang akan terdampar di rumah sakit jiwa. Hmm..hmm aku yakin sekali."pungkas Sehun memutarbalikan kata-kata Jongin dengan wajah menang, Jongin berdecak sebal sesaat Ia melirik jam tangannya dan sebentar lagi jarum pendek akan mengarah ke jam 9. Aah, mereka sudah terlambat 30 menit—rasanya Ia harus memikirkan alasan agar mereka tak dihukum jika sampai dikelas atau sebaiknya Ia mengirim pesan kepada Heechul saem dengan alasan Ia akan telah memulai untuk menjadi tutor Si Kebo ini dan mengajar Sehun diperpustakaan. Itu alasan yang masuk akal, oke dia akan mengirim pesan itu saja.

"hoi—kambing congek. Kau mendengar tidak? Atau telingamu sudah tidak berfungsi dengan baik."

"dasar tidak berguna."tertohok. Sehun geram sekali, tangannya bergerak-gerak ambigu di udara bersiap kalau tidak mencekik leher Jongin yah paling-paling mencakar wajahnya.

"cepat mandi!"perintah Jongin tiba-tiba sembari melangkah keluar bersiap menutup pintu kamar mandi itu. Tetapi, Sehun menyela."kau pikir kau itu siapa, seenaknya saja memerintahku!"ucap Sehun tak terima.

"kau—kau itu—calon gelandangan."

Tepat ketika pintu itu tertutup, suara benda yang menubruk pintu menyemarakan suara umpatan Sehun yang menyusul.

"sialan, aargh. Manusia pengganggu. Ular bunting, Elang bertanduk, mata iblis.."dan seterusnya.

Disclaimer: Cerita ini hanya fiksi dan dibuat karena mencoba memberi hiburan bagi para reader. Para karakter didalam ini milik Tuhan, orang tua sekedar meminjam nama saja.

Warning(s): Gak suka Gay, Yaoi atau Boys Love. Jangan baca! WARNING! BUNG. KLIK BACK! BUNG! PERINGATAN KERAS!

Main Pair : Kim Jongin / Oh Sehun

Thanks untuk para reader yang sudah mampir dan terimakasih yang sudah mereview, rasa senangku tak terkira. Merasa dihargai adalah salah satu yang saya rasakan ketika bisa mendapatkan review dari kalian. Seriously, Thank you so much.

"Matematika. 80."

"Biologi. 47."

"Bahasa Inggris dan Korea, setara. 57."

"Fisika. 56—sudah cukup kau memang perlu bimbingan 24 jam dariku."

Teriak Jongin mendadak kepalanya pusing sekali, merasa frustasi melihat nilai Sehun yang jauh dari harapannya. Usai melihat satu persatu kertas lembar jawaban itu Ia menyimpulkan Sehun bagus dimatematikan hasil yang tak terduga, tetapi nilai yang lainnya sangat mengecewakan padahal tes yang Ia berikan sesuai dengan kurikulum SMA pada umumnya.

Sehun tidak bodoh hanya sedang, tetapi Ya ampun rasa malasnya itu diatas segala-galanya. Kau tau baru juga duduk 10 menit diruang perpustakaan anak ini sudah terlelap, bukan pura-pura tapi benar-benar terlelap. Jongin sempat kepayahan membangunkannya, diteriaki, disiram pakai air dan segala macam cara. Ketika Ia lelah dan sudah kehabisan ide rupanya suara lemahnya sudah cukup membuat anak itu terbangun. Dongkol setengah mati.

"Oi, mata empat."seru Sehun, tubuhnya sudah tegap diantara jemari kanannya sudah tersemat pulpen. Wajahnya terlihat lebih bersemangat berbeda dengan yang tadi. Kok, Jongin jadi waspada ya?

"Kim Jongin. Pecundang—sshi. Untuk kau panggil aku dengan sebutan Jongin saem, Master Jongin atau apalah sesukamu saja. Asal masih dalam konteks sopan ya ingat loh sopan."

"Mulai saja pelajarannya, Mata empat."bingung menanggapi habisnya ekspresi Sehun sedatar tembok.

Jongin mendengus, merasa tolol menjelaskan hal tadi. Jongin lebih memilih memulai misinya yang pertama, yakni membuat nilai Oh Sehun lebih baik.

"Baik dimulai dari rumus-rumus Fisika. Catat dulu dari halaman 47 hingga 50."

Sehun tercengang, buru-buru Ia mengambil buku tebal itu dan membolak-balikan halaman yang harus Ia catat. Matanya memicing."Kau berniat membunuhku 'ya?"Tanya sinis. Jongin menggeleng-geleng.

"Jangan berlebihan pecundang-sshi. Itu sedikit."pungkas Jongin sembari sibuk membaca sebuah Komik ditangan kirinya. Sesekali tertawa, ataupun tersenyum-senyum geli. Jujur saja Sehun sedikit malu karena Ia sedikit mendengar beberapa bisikan para siswa yang melihat tingkah laku Jongin. Sebodohlah, "Oi, Mata empat. Kalau aku menyelesaikan ini dalam 30 menit Aku bisa istirahatkan."

"Ku beri 10 menit."jeda sejenak Jongin melirik jam tangan hitam dipergelangan kirinya, dan merasa detik dan menitnya sudah pas Ia berseru tertahan masih cukup sadar ini diperpustakan dimana privasi atau sifat berisik adalah haram. "Mulai sekarang."lalu ia kembali sibuk membaca Komiknya dengan khidmat.

"Kau pikir aku mesin, mana bisa menyelesaikan catatan sebanyak ini dalam waktu 10 menit. Dasar guru—gadungan—mata empat."

"masih menawar? 5 menit kalau begitu."jawab Jongin masih mendengar walau seluruh mata dan batinnya hanya tertuju kepada bacaan Komiknya.

"—ahaha, aku becanda kok. Iya deh Iya Jongin-kun sensei saya selesaikan dalam waktu 10 menit. Tapi, setelah itu saya boleh istirahatkan?"

"ku ubah jadi 3 me—"

"aiiiish, iya-iya-iyaaa. Aku mulai nih. Tapi aku lap—"

"Tidak ada catatan diperbolehkan memakan sesuatu jika belum menyelesaikan apa yang ku tugaskan. Itu Absolute. Apalagi jenis manusia seperti mu seorang pemalas—parasitisme—pecundang"jeda lagi, Ia menatap Sehun cukup lama." 3 paket lengkap dan sempurna untuk ku jadikan santapan. Lihat saja kalau ujian yang diadakan beberapa bulan lagi nilai mu masih dicintai oleh tinta warna merah. Ku pastikan perut mu akan kenyang memakan 1000 soal Biologi. "

"Idih, ogah banget. Elu pikir gue apaan?"

Was wes wos. Bisik-bisik terdengar bagai gumaman lebah, biang gosip diujung sana mulai berkomentar dari A-Z. Bikin Sehun dongkol.

...

"Si sehun, anak songong itu keluar juga."
"Iya sedikit merinding juga melihat dia sok formal begitu. Hiii, bikin merinding."

"benar-benar, aku sempat shock loh dia bisa bicara begitu. Siapa sih Si cowok ganteng aneh itu, kok bisa bikin Sehun yang notabene murid paling kurang ajar bis—"

Dan beberapa bisikan itu dihentikan oleh teriakan si penjaga perpus. Sehun tersenyum puas.

...

5 menit terlewat, bahkan catatan itu masih setengah atau bahkan belum 1/4nya.

Tubuh Sehun sudah tak tahan duduk lama-lama, Mata yang memicing, bibir yang terus menggerutu, goretan abstrak diatas kertas, decakan berulang-ulang hingga diakhiri bantingan buku yang dilakukan oleh Jongin.

"hei, Master Loser. Belajar dengan tenang atau ku kurung kau disini tanpa makan siang ataupun makan malam. Kau mau matikan—mati."bentak Jongin lalu kembali sibuk membaca komiknya.

Sehun sendiri dibentak begitu malah makin menjadi dan sedikit sebal bukannya turun peringkat kenapa julukannya makin meningkat jadi Master Loser begitu, dosa apa sih Sehun dimasa lalu harus punya tutor yang sebegini galaknya, kali ini kakinya berbunyi berdecit aneh akibat gesekan sepatunya dengan lantai keramik yang kasat.

Dahi Jongin mengkerut bahkan bertambah beberapa dibanding sebelumnya, bibir yang bergemeletuk dengan mengumpulkan keping-keping kesabaran yang entah Ia pungut darimana Ia menutup Komiknya dan menaruhnya diatas meja. Bibirnya bergerak. Wajahnya selempeng aspal. "Oh Sehun—chan kau minta ku sodomi ya?"pertanyaan itu terbilang santai dan terlihat tak serius tetapi efek yang ditimbulkan cukup fantastis—mendadak Sehun terlihat berkonsentrasi mencatat rumus-rumus rumit yang diperintahkan Jongin untuk ditulis sebagai catatan dibukunya—tentang Fisika.

Dalam waktu kurang dari 30 menit atau tepatnya 10 menit, Sehun memberikan catatan yang Ia tulis dengan rapi kepada Jongin usai diperiksa dan Jongin melihat Jongin tak mengomel membuat Sehun sedikit lega. Ia ingin melaksanakan rencananya yang Ia susun sembari mencatat kata perkata laknat itu.

Dimulai dari memasang wajah memelas disertai Senyuman manis—bagi para gadis alias fans Sehun tetapi ini Jongin sudah pasti senyuman itu tak mempan.

"apa aku boleh istirahat Jongin-kun?"bolehlah suaranya mendadak lembut dan manja tetapi taulah didalam hati Sehun menyumpahi Jongin tanpa henti.

"mati saja Kau Master Loser, dan jangan panggil namaku ditambahi embel-embel –kun namaku jadi aneh saat kau yang menyebutnya."

Padahal tadi aku sempat memanggilnya begitu ditambah sensei sih diekornya'pikir Sehun dongkol.

Kesal karena rencana pura-pura manisnya gagal Sehun memilih untuk membaringkan wajahnya diatas meja sembari terus bergumam 'Jongin-kun' berulang-ulang dengan beberapa kata yang mengekor dibelakang sebagai pemanis.

Alis menukik. Satu kerutan muncul. Sibakan kertas pertama pada buku Fisikan.

"Jongin-kun kejam."

2 kerutan muncul. Sibakan kertas kedua.

"Jongin-kun pelit."

3 kerutan muncul. Sibakan kertas ketiga.

"Jongin-kun sialan, brengsek, pabbo, idiot, baka, tutor kampret, benalu, peru—"

Gerutuan tanpa henti itu mendadak macet seolah berkarat, Sehun merasakan hawa mencekam dan bau darah mengerikan—well maaf Sehun berlebihan tapi tidak juga kok apalagi kalau Kau melihat bagaimana ekspresi Jongin saat ini, kalau begini Sehun jadi ingat monster hijau yang berasal dari amerika—sosok monster yang mengamuk hanya menggunakan celana robek tanpa tahu malu dilihat oleh masyarakat lu—…

Pikiran kurang ajar Sehun tentang Mister Hu*l*k mendadak terhenti kala, rambutnya ditarik paksa tanpa sempat Ia mengelak.

"aaaargh! Rambutku! Oi, sakit! Sakit!"pekik Sehun merasa ngeri.

"Rasakan! Rasakan!"koor Jongin kesenangan hingga suara bocah yang merupakan anak si penjaga perpus menyela pertengkaran sepihak itu.

"Iih, dasar om-om kejam mata empat. Kau apakan kakakku yang cantik ini!"teriak bocah itu , Ia menaiki kursi lalu dengan wajah menantangnya menggigit tangan Jongin tanpa ampun hingga si pemilik tangan gantian memekik. Jongin juga merasa aneh kenapa tidak menghindar, Ia sempat tertegun melihat wajah Taeoh yang entah kenapa mengingatkannya pada seserorang.

"uuoooh, tanganku! Oi, bocah tengil! Sakit! Oi sakit!"

Walau sedikit bingung antara senang atau sedih karena dipuji cantik, toh Sehun senang-senang saja malah berterimakasih kepada bocah yang akrab dengannya sejak 4 bulan lalu itu"bagus Taeoh, anak pintar. Gigit saja, terus! Ia begitu, hahaha rasakan kau Master—"

"KELUAR KALIAN."

Raung si penjaga perpus sekaligus Ibu dari anak kecil tengil tadi. Jongin dan Sehun sama merinding dan mengangguk kompak dengan tubuh mengigil mereka terburu-buru membereskan segala bentuk alat tulis, lalu pergi dari situ dengan langkah seribu.

Hiii, Monster beneran kalau yang tadi. Levelnya diatas rata-rata.

Tadi, itu apa? Ya ampun aku baru tau ada saja Ibu-ibu yang segalak Mama.

...

Hai-hai, yang lagi baca. Bagaimana ini masih dinikmatikan fanfiction ini. Tehehe, ah ada cameo alias tamu special alias tamu diundang alias anak uhukKaihunuhuk alias—STOOOP, Capek ah nulisnya/bilangajamales/ maafkan daku karena membawa-bawa si imut, manis unyu-unyu Taeoh, sepertinya dia hanya sebagai pemanis dikala Kaihun bertengkar, atau Kalau author punya uang lebih sebanyak dedaunan Akan menjadikan Taeoh actor resmi—mungkin saja saya tidak janji, usut punya usut bayaran Taeoh lumayan mahal. Hm, hm, hm.

1 : Silahkan kalau berkenan untuk review. Sekedar ngetik next, atau update cepat deeelel sudah cukup kok. Hehe

12 : nah, kalau bisa kasih saran couple mana lagi yang menjadi peramai suasana SMA ini.

123 : harap ditunggu chapter ke- 3. Maaf kalau garing. Maaf pointless lagi. Maaf saya hidup, maaf saya punya ide absurd, maaf dan maaf/capek ah.

1234 : bye-bye Reader, or Siders, or Visitor, or Viewer. Salam hangat dari saya San Kim.

...

Bonus

"Kau sialan, pergi sana. Terimakasih berkat kau mimpi indahku dengan Minabi-chan hancur seperti serpihan kaca—dasar penganggu."cerocos Sehun semangat, puas sekali ketika wajah itu memandang kearah lain.

Sialan kenapa dia memakai piyama berwarna putih dan transparan begitu. Aduhduh, si ituku bangunkan.. Putih mulus, bibir memerah segar, rambu—KUSOO.

Dan dengan usaha mati-matian Ia berusaha menidurkan 'anunya' Diatas tempat tidur milik Sehun. Jangan Tanya bagaimana Jongin membuatnya tidur, rahasia kantor tjamban.

Next to chapter 3. JRENGJRENGJRENG