-.-.-.-.-.-.- Welcome -.-.-.-.-.-.-
Kick Or Kiss
Kim Jongin / Oh Sehun
Warning : Boys Love, bahasa amburadul, absurd namun sok-sok melucu padahal garing, chara-chara yang sedikit miring, kata-kata yang tidak EYD, gaje, alay, lebay, SEKALI LAGI INI YAOI, BL, GAY, KALAU KAGAK SUKA SILAHKAN KLIK BACK. SI 2 PANGERAN JONGIN DAN SEHUN JANGAN DIBASH DAN COUPLE YANG LAIN JUGA, KALAU MAU NGASIH BAHASA PELANGI CUKUP KE SAYA AJA. OKE DEAL, SIIP , FINE OKEH.
(Inner Jongin)
(Inner Sehun)
TERIMAKASIH BANYAK, SUDAH MEREVIEW READER-SAN.
SILAHKAN DISANTAP
-.-.-.-.-.-.- Reader sekalian -.-.-.-.-.-.-.
.-.-.-. -.-.-.-.-.-.
Tahun ajaran baru sudah dimulai dan para senior sibuk mengurusi para bocah-bocah ingusan yang berbondong dari berbagai Negara yang mendapat card Secret alias undangan resmi yang di sebarkan oleh sekolahannya
Beberapa perubahan terjadi, Donghae saem menjadi sosok yang mendapatkan tittle guru tersadis selama masa ujian semester berlangsung—terlebih materi yang dipegangnya adalah Fisika sukses menambah haters dari para murid-murid bebal fans club 'Kita benci Pelajarannya, Bukan Gurunya' terdengar aneh, namanya juga anak-anak SMA terlebih isinya hampir sebagian para gadis montok yang bersiap untuk memasuki kepuberan –jadi maklumi saja. Oh, Jangan lupakan Kyuhyun saem bertranformasi menjadi Satan sungguhan dengan 1000 soal matematikanya yang berhasil menyedot beberapa jumlah anak mengibarkan bendera putih, Kyuhyun dengan obsesinya pada matematika. Dan dari semua guru tidak ada lagi yang bersikap berlebihan seperti yang dilakukan kedua orang diatas bisa dibilang guru-guru lain tampak normal-normal saja—bahkan Heechul saem dan Sungmin yang notabene Sosok guru tegaspun woles-woles saja.
Sehun masih betah dengan sifat acuh tak acuhnya dan Jongin malah bertransformasi menjadi si –mentor dingin yang benar-benar dingin setara dengan makhluk yang paling dingin di kutub utara. Apa itu ya? Entahlah sehun masa bodoh. Sejak saat itu Sehun memberi julukan baru untuk sang mentor—Mentor berkepala sepanas lahar berwajah sedatar seluncuran es—hah? kepanjangan Suka-suka Sehun dong.
Bahu tersentak karena terganggu melamunkan julukan lebih pendek karena yang tadi kepanjangan—terputus karena objeknya menegur, Songong.
"Heh! Bocah —pecundang!"seruan sadistic menggeletik tangan untuk meninju wajah yang ganteng itu membuat Sehun menahan diri dengan beralih wajahnya jadi serata aspal tak terbaca—maksudnya. Jongin menaikan alis senyum remeh menguar menyebalkan.
"Iya, Jongin saem."Kekehan kemenangan dikumandangan Jongin. Sedikit ngeri juga kenapa Sehun mendadak jadi penurut begitu –belakangan ini usai Ujian Semester. Ternyata si Dingin Jongin hanya imajinasi entah kenapa kok Sehun merasa adem-ayem , lha kok?
Oh, mengenai hubungan mentor—murid –antara keduanya masih berlanjut Kok. Tenang saja, bahkan kedua manusia yang bagai minyak bensin dan air comberan itu makin lengket-lengket saja— (baca : saling adu bacot terus semakin menjadi). Bahkan para guru angkat tangan—dua biang trouble itu sudah jadi bahan gossip disana-sini. Membumbung tinggi seperti asap kebakaran, hangus tapi menarik untuk terus dibicarakan bahkan terdengar gossip melenceng 2 sejoli yang jika dilihat dari sisi mata manusia waras, bagai 2 manusia bebuyutan yang Mau-mau saja disuruh berantem itu kalau pendapat manusia awam ya. Beda lagi kalau yang menilik itu statusnya cakep-cakep tapi berotak Fujoshi dengan isi berbagai macam Seme –Uke ternotis apik dikepala para gadis berbody aduhai itu –menganggap 2 hubungan manusia mentor dan murid itu ada 'anu-anunya' yaah, kalau kau sama-sama fujoshi pasti paham. Di Iyakan saja, supaya cepat selesai.
"Jangan bersantai karena ujian semester lalu kau dapat nilai Lumayan. Ingat ya, kau masih dibawahku! Aku peringat jawara dan kau Cuma bayang-bayang diposisi ke- 3 masih kalah dengan sahabatmu Sendiri Si Do Kyungsoo itu, Jangan menyombongkan hidungmu saja yang mancung!"nasehat Jongin bagai bapak-bapak berjenggot yang bijak dengan rumbai-rumbai putih menunjukan usianya yang tak lagi muda, setidaknya itulah yang menjadi imajinasi Sehun kala memandangan barang sedetik wajah Jongin.
Wajah berubah mengeruh kala menyadari ada nada menyindir disana. Hidung tinggi, mancung –memang begitu kenyataanya—"Yah masih mending hidung saya mancung menjulang, daripada situ. Tenggelam menjulang kedalam"
"APA?!"
Sehun menggeleng sigap memasang muka seinnocent pantat bayi baru lahir, kendati menjawab bentakan Jongin Ia memilih menyibukan diri untuk mengerjakan soal kali ini—Biologi dengan 55 soal plus soal essai harus selesai dalam waktu 1 jam, membuat Sehun tercekik bagai sapi gembala, belum mulai belajar sudah dicekoki berpuluh-puluh soal yang kentara masih asing seperti tulisan alien. Intinya pagi hari awal semester dikelas 3 tak membahagiakan sama sekali –terkutuklah Jongin dengan segala kesempurnaanya.
"Sudah selesai?"Kalau saja yang beratnya itu Jongin dengan senang hati, Ia akan menjawab. 'Dasar om-om, matamu dimana? Didengkul, tidak lihat seujung ulat keket katapun belum mencuat' tetapi urung ketika suara itu ternyata dimiliki oleh Sahabatnya Kyungsoo.
"Belum, Soo. Gue bingung, materi dari si Mentor itu seolah niat banget ngebuat gue mati perlahan-lahan."
"Bilang aja, Kau tak mampu bocah—pemalas."pungkas Jongin, sembari terlihat menikmati daging ayam yang terlihat menggiurkan Didalam sebuah rantang berukuran sedang, umumnya sering disebut bento tetapi ini sedikit berbeda karena hanya berisi daging ayam berbau remah-remah renyah guring, Sehun berdecih padahal itu dikirimkan Ibunya seharusnya Ia yang menikmati ayam lezat itu tetapi sial sang ibu mendengar kasak-kusuk mentor sableng itu dan mengucapkan terimakasih karena berkat si mentor nilai Sehun yang selalu dihiasi tinta merah menjadi sangat-sangat baik—jadi serantang daging ayam itu dikirim khusus untuk Jongin –duh kenapa isi kepala Sehun jadi berputar-putar gini.
"Cerewet 'Ah. Kyung bantu gue Please. Mau gue mati kehabisan nafas karena kepalaku gue panas ngelihat bahasa alien ginipun sampai bumi kiamat, gunung meletus, tanah ber—"kata-kata hiperbolis dan absurd terhenti kala Kyungsoo memberi tatapan datar tak beremosi tertuju khusus untuknya maka kali itu lagi ia berdehem menjernihkan suara kinyis-kinyis manjanya menjadi biasa-biasa saja.
"Ajarin gue Soo."
"Ok."Jawab Kyungsoo simple dan irit. Sebenarnya mereka beda kelas, tapi memang Dasar Kyungsoo males beradaptasi dengan teman-teman barunya di ruang 3-2, bukan bermaksud sombong tetapi sehari lalu ada murid asing tak diundang yang menyeruak menjadi salah satu anak baru dan seharian itu juga ia diteror dengan keab—
"Hoi! Soo?"
—surdan orang itu membuat Kyungsoo trauma. Mumpung si biang traumanya belum menunjukan wajah konyol bak badut ganteng—jadi Kyungsoo mengungsi barang sebentar di kelas Sehun yang sialnya harus satu kelas dengan mentor sejatinya.
"Oke, kita mulai dari Essainya saja dulu."
"Arraseo!"tanggap Sehun semangat, matanya berbinar-binar riang ada kegembiraan disana. Mengabaikan keberadaannya yang diabaikan—Jongin memilih duduk diseberang dan mengamati bagaimana wajah si anak didiknya—yang bisa dibilang bodoh kalau tidak yah Aho kalau dalam bahasa Ibunya. Sesekali alisnya mengernyit atau terkekeh pelan melihat bagaimana wajah seputih salju itu berekspresi dari satu ke hal lainnya –Jongin tak pernah tau bahwa memperhatikan wajah Sehun akan terasa semenarik ini – Hell, Jongin benarkan posisi kepalamu.
.
Kaihun
.
Pipi Sehun yang disebelah kiri mendadak gatal-gatal, iritasi akan sesuatu atau tepatnya merespon sesuatu lebih tepatnya seseorang yang selang menit berlalu terus menatapnya tanpa berkedip entah karena makanannya habis atau karena tak punya kerjaan lagi. Sebentar dia menoleh, mata memicing sinis." APA LIHAT-LIHAT?"Sentak Sehun ganas.
Do Kyungsoo, elus dada-dada datarnya –mulai deh perkara 2 pasangan sejati tak sadar situasi dan tempat ini' pikirnya lelah hati, mau memisahkan keduanya ya tidak mungkin. Diteriaki memakai speaker yah paling-paling Cuma ditengok sebentar lalu berlanjut adu gulat –dengan cara mereka tentu saja ah intinya 2 pasangan itu punya dunia mereka sendiri. Seperti diplanet lain, tanpa penghuni, tanpa –pusing ah, mending Kyungsoo pulang ke habitatnya saja.
Dibentak seperti itu Jongin geram, wibawanya sebagai seorang mentor dipertaruhkan disini kalau Ia tidak bertindak. Murid-murid lainnya memasang telinga setelah berusaha keras untuk mengacuhkan kedua manusia yang sudah sering adu mulut dan kalau beruntung tidak ada barang-barang yang hancur –kekepoan anak-anak itu sudah melunjak sudah ada juru kamera jeprat-jepret bikin 2 objek utama jadi risih dan membentak kompak.
"HEH! PAPARAZZI, MINTA DIMUTILASI HAH!"
Lalu disambung koor'an majestis bagai paduan suara halleluya digereja mengiringi kekompakan 2 manusia bebuyutan mungkin dibawah sampai keliang kubur jadi benalu.
"DASAR MURID TAK TAHU DI UNTUNG!"rupanya paduan suara yang entah datang dari mana itu diacuhkan mentah-mentah oleh keduanya. Jongin kembali menyurut urat-urat menonjol memapang diri menghiasi jidat seputih salju itu –jidat Sehun.
"ELU AJA YANG NGGAK BECUS NGAJARIN GUE!"
"BILANG SEKALI LAGI!"
"OGAH! DIULANGIN JUGA TELINGA ELU KAGAK BISA DENGER!"
"AKU TIDAK TULI BOCAH INGUSAN!"
"GANTI KACAMATA SANA!"
"APA?"
" ELU KAGAK NGELIHAT HIDUNG MANCUNG GUE KAGAK INGUSAN!"
"YA LIHATLAH, DASAR AHO!"
"LIHAT DIRI SENDIRI, ELAP TUH ILER YANG NETES KESANA KEMARI, MUNCRAT BIKIN BANJIR TAU GAK!"
Dan diakhiri dengan serangan dari kedua belah pihak, Sehun memiting leher Jongin dan Jongin yang sibuk mengusik kaki kokoh Sehun agar tumbang.
Jepret
Rupanya si juru kamera masih On dan terus menjepret 2 manusia itu dari berbagai sudut.
Jeprat
Kali ini posisi yang membuat para fujo dirundung gemetar histeris eruofia, Jongin diatas menduduki perut Sehun. Kepalan tangan secoklat madu itu memberi tinjuan telak kanan kiri kanan kiri terus begitu, bikin sisi kelakian Sehun yang bersisa? Tak Terima dan pasrah begitu saja Jadi Ia berkelit membanting tubuh Jongin menjadi dibawahnya.
Jepret
Teriakan semakin keras membahana disiarkan seperti 'Kyaaa! UKE SEJATI! HAHAHA! HUUU SEME LEMBEK! TIDAK BERGUNA! , Jongin tertohok Uke Sejati apanya? Sehun saja menyerangnya dengan jambakan—baca JAMBAKAN saja, coba pikir dari mana sejatinya.
DUGH
Oh, kalau hidungnya nyeri dan mengalirkan bau amis bolehlah Ukenya itu –tunggu dulu, Jongin bilang apa tadi?
Ukenya, ukenya, ukenya, UKENYA. A-APA AKU BARU SAJA MENGAKUI KA-KA—TIDAAAAK!
Setelahnya Jongin lari kocar-kacir, menuai tatapan aneh dari pihak Sehun walau sempat dongkol karena didorong tiba-tiba hingga pantatnya membentur sisi meja. Riuh tepuk tangan menggema dengan bangga Sehun mengangkat tangannya seolah menjadi pemenang dalam adu gulat dengan sang mentor.
Plak!
"Auw, Kyungsoo saja tak pernah memu—"mulut Sehun mingkem mendadak, setelah melihat siapa yang berdiri disamping tubuhnya dan tersangka yang menggeplak bokong sexynya. Heechul Saem. Mundur 3 langkah, Sehun mengangkat tangannya ke udara kali ini berpose seolah tahanan yang bersalah –please deh, mata Heechul saem kenapa bisa semengerikan basilik sih.
"Aduh, Kyuhyun saem. Jangan mencubit pinggang saya."itu suara Jongin, berdiri disisi kirinya. Adu tatapan tajampun tak terelakan sampai teguran sedingin dementor menyalak buluk kuduk mereka untuk berhenti saling tatap.
"Hukuman kalian nanti sore. Bersihkan Lapangan sepak bola dari dedaunan dan Toilet dilantai 3."
Keduanya mengangguk cepat tak membantah. Heechul sempat tertegun sebentar tapi toh dia acuh saja lalu berlalu begitu saja di ikuti oleh Kyuhyun yang lagi-lagi mencubit pinggang Jongin sepedas sambal caberawit.
"PERIH SAEM!"Seru Jongin murka.
"Hah?"Kyuhyun mengangkat alis berpura-pura tak mengerti.
"ahaha—tidak Kok! Saya tadi ditendang oleh Oh Sehun—shiit."
Yang dituduh tak terima, lalu menyatakan tuduhan Jongin menjadi realisi membuat yang punya kaki memekik. "SAKIT BOCAH!"
"RASAKAN! SALAH MU SENDIRI MENJADIKAN KU TUMBAL!"
"ITU COCOK! UNTUK ANAK SEPERTIMU PECUNDANG—PARASITISME—TAK BERG..—"
"LAKUKAN HUKUMAN KALIAN SEKARANG JUGA!"
Dan pertengkaran yang cukup menggemparkan itu selesai dengan tak epic sama sekali. Kooran kecewa dari para pemandu sorak menggema sampai teriakan 4 oktaf dari Si Satan jejadian menginterupsi dan membuat para pemandu sorak berlari tunggang-langgang bagai Semut tersiram minyak panas.
Amburadul tak beraturan, si pelaku tertawa saja tuh malah menonton kepanikan semerewutan itu dengan mimic tenang –setenang kelabu.
Sedangkan si pasangan sejati, sibuk bertengkar dengan nada berbisik-bisik dibelakang Heechul Saem.
"Heh!"teguran itu menghentikan keduanya dalam adu bacot sesi bisik-bisik menjadi adu sikut atau tendangan kaki samar-samar.
.
.
.
Kedua manusia yang masih adu sikut itu mendadak terhenti kala melihat pemandangan yang ada didepan mereka. Sehun menegak ludah dan Jongin menggaruk tengkuknya keheranan tak sengaja masing-masih kedua mata 2 alien itu bersibobrok dan adu –melotot paling lamapun tak terelakan.
1 detik
2 detik
3 detik
Jduag!
"Auw!"seru keduanya serentak ketika Heechul yang sempat mereka lupakan keberadaannya membenturkan jidat mereka dengan tenaga gorilla, mata yang berkilat-kilat membuat 2 insan itu menunduk diam.
"Kau membuatku kecewa Jongin."tukas Heechul memijat kepalanya yang mendadak pening,"—Dan kau Sehun, ini sudah entah yang ke berapa kali kau terkena detensi."
2 insan itu mengangguk dalam diam, Heechul saem tak tertegun lagi teringat masa lalu dan Ia tak mau terkecoh. "Nah, sekarang bersihkan lapangan sepakbola dari dedauan gugur itu. Dan renungkan kesalahan kalian."ucap Heechul saem lembut, yang malah bikin keduanya merinding seram.
Tanpa kata-kata lagi dan lagi keduanya mengangguk-ngangguk nurut. Merasa selesai akhirnya Heechul saem meninggalkan 2 alien perusuh itu untuk membersihkan lapangan sepakbola yang luasnya tak manusiawi.
"Ini gara-gara kau"tuding Jongin, menyebalkan. Wajahnya mengkeruh jengkel bertolak belakang dengan Sehun yang menunduk bosan. Jongin menoleh sebentar sedikit heran juga si manusia tengik itu tak merespon. Kelelahankah?
"Diamlah, Mentor tengik. Aku sedang malas meladeni tingkah kekanakanmu."
Sial. Jongin menyesal merasa keheranan ketika mendengar suara menyebalkan itu terlontar dari si tengik ini. Gusar dia lebih memilih masuk ke gudang yang kebetulan ada disebelah kiri mereka dibalik pintu yang tertutup, usai mengambil peralatan Sapu segera saja Ia segera menuju lapangan bersiap menyapu dedaunan yang kering, tersebar hampir ke seluruh penjuru lapangan –Shock, itulah yang pertama kali Jongin rasakan –manusia se jenius Jongin harus membersihkan lapangan seluas samudera ini, ini seperti mimpi buruk.
Jduag!
"Hei!"teriak Jongin kaget, saat merasakan tengkorak kepala bagian belakangannya berbenturan dengan apa –botol liquid yang berisi pembersih lantai. Mata Jongin bergerilya antara geli dan emosi."Heh! Aho, kau pikir bisa membersihkan dedaunan Sialan dengan pembersih lantai. Kau me—"
"Jangan berterima kasih, Sir. Aku sedang berbalik hati memberi mu obat yang ku yakini 100 % ampuh untuk menghilangkan otakmu yang jenius itu!"
Jongin mendengus"aku memang jenius, bocah!"Jongin mendadak terhenti dari acara sapu-menyapu serampangannya. "Kau bilang apa tadi?"Tanya Jongin sekali lagi, disertai mimic tak jelas.
"Apanya?"Sehun balik beratnya tak mengerti.
"Menghilangkan otakmu yang jenius, hmmph –Hell, Hun. Kau mengakui kalau aku jenius ya? Hahaha."
Detik itu juga Sehun ingin mengubur diri, malu bukan main. Keceplosan "I-iya saking jeniusnya ingin ku congkel dan ku jadikan makanan untuk Buaya peliharaan Baek-hyung!"tandas Sehun buru-buru, tak rela membiarkan Jongin berbahagia karena pujian –jujurnya. Dan apa Sehun tak salah dengar tadi, Si Mentor tengik itu menyebut ujung namanya?
Dug dug dug' jantungnya berpacu cepat terasa seperti diinjak oleh puluhan kuda. What the Heck!
"Aho!"bentak Jongin sebal, padahal dia senang karena untuk pertama kalinya Sehun mau jujur akan sesuatu tentangnya walau dinyatakan dengan cara yang aneh.
Wooosh, tiba-tiba angin kencang menerbangkan hasil sapuan Kim Jongin. Membuatnya menggerutu sebal, mata mendelik menyerapah benci kepada sembilu angin yang pada dasarnya Cuma numpang lewat.
"Heh, Bocah!"
Seru Jongin heran sendiri kenapa Sehun sejak tadi mematung bak patung porselein diseberangnya, "Heh, Bakagaki!"
Yang diteriaki tetap tidak menoleh, Jongin mulai sebal diacuhkan oleh Anak didiknya. Jonginkan bukan pohon, dibantingnya sapu tak berdosa itu dan mendekati Sehun yang terpekur bak pohon tua yang terlihat dikerubungi rayap –duh, abaikan imajinasi aneh milik Jongin.
Pluk!
Jongin menyentuh bahu Sehun, membalikan tubuh itu dan Ia terperangah ngeri.
.
Bye-bye SAMPAI JUMPA DI CHAPTER 5.
Review, buddy. Yang Ikhlas aja deh. Hmm…hmmm
