-.-.-.-.-.-.- Welcome -.-.-.-.-.-.-

Kick Or Kiss

Kim Jongin / Oh Sehun

Warning : Boys Love, bahasa amburadul, absurd namun sok-sok melucu padahal garing, chara-chara yang sedikit miring, kata-kata yang tidak EYD, gaje, alay, lebay, SEKALI LAGI INI YAOI, BL, GAY, KALAU KAGAK SUKA SILAHKAN KLIK BACK. SI 2 PANGERAN JONGIN DAN SEHUN JANGAN DIBASH DAN COUPLE YANG LAIN JUGA, KALAU MAU NGASIH BAHASA PELANGI CUKUP KE SAYA AJA. OKE DEAL, SIIP , FINE OKEH.

(Inner Jongin)

(Inner Sehun)

TERIMAKASIH BANYAK, SUDAH MEREVIEW READER-SAN.

SILAHKAN DISANTAP

-.-.-.-.-.-.- Reader sekalian -.-.-.-.-.-.-.

.-.-.-. -.-.-.-.-.-.

Sekali dua kali, Jongin terperangah ngeri. "Hun, kau mimisan?"seru Jongin kaget, dicengkramnya tangan Sehun dan diseretnya menuju ke –ruang kesehatan tentu saja. Yang ditarik menolak keras, sibuk menengadahkan wajahnya agar darah tak terus menetes lebih banyak –but tetap saja darahnya yang memerah segar terus mengalir menganak sungai dari kedua lubang hidungnya –shit ini benar-benar tidak nyaman.

"Lepasin gue! Lepasin gue!"ronta Sehun gusar, risih kala merasakan telapak tangan Jongin yang hangat mengirim tremos panas keseluruh tubuhnya –itu sungguh sangat menganggu.

Jongin berdecak, wajahnya mengkeruh tak suka karena penolakan Sehun ditambah logat gue—elunya Si Sehun datang lagi. Diakan sedang khawatir –si bocah tengil ini'gerutu Jongin tak habis pikir akan tingkah laku Sehun yang tetap saja bersikap menyebalkan disaat kondisinya jelas tak baik-baik saja.

Sibuk menetralkan kedua lubang hidungnya dengan menggunakan ujung lengan kemejanya, dirasakannya kerah kemejanya ditarik paksa membuat Ia memekik ngeri kala merasakan lehernya tercekik."Hei! Kampret, elu pikir gue anjing, hah!?"bentak Sehun sebal, saat dirinya ditarik dengan tak berperikerahaan. Jongin mendengus.

"Cerewet, makanya tidak usah menolak. Sudah untung aku bersikap peduli dan bukannya meninggalkanmu pingsan karena kehabisan darah!"sungut Jongin, masih terus menarik kerah Sehun sepanjang jalan membuat sang empu berteriak sakit.

"Sakit—sakit—sakiiit! Lagian ini Cuma mimisan gak akan bikin gue mati semudah itu kali!"tekan Sehun tak henti-henti, hingga Jongin menyerah lalu memojokan Sehun didinding terdekat –tepatnya pagar sekolah, mereka sedang berada dilapangan yang lokasinya berada diluar sekolah.

"ma-mau apa Lu? Sial."Sehun merutukinya yang mendadak gagap saat merasakan hembusan nafas Jongin yang memburu menerpa hidungnya –well, tinggal diberi sedikit dorongan saja mereka pasti akan ber—hah! Sehun tak kuat mengatakannya –itu terlalu mengerikan.

"Diam saja dan jangan berteriak."

"a-apa?"

"Berani berteriak, Keluargamu mati."

Sehun menggelengkan kepalanya sesekali matanya memicing berusaha mengusir suara-suara aneh yang tiba-tiba menyerang kepalanya terasa familier dan –Mendadak tubuh Sehun terpaku kaku, matanya berpendar kosong, seolah nyawanya berada ditempat lain, gemetar aneh menyerang seluruh inchi tubuhnya, kedua telapak tangannya terangkat mencengkram kepalanya erat-erat seolah rasa sakit tak tertahankan menguar dari isi kepalanya.

"keluargamu mati, mati, ma—"

AAARGH. Ini sakit. Aku tidak kuat, mengerikan. Sakit. Sakit. Aku ingin mati. Niisan. Eomma, Appa –hiks.

Jongin merasa aneh, alis matanya terangkat kebingungan. Dipegangnya bahu Sehun dengan kuat mengguncangnya tanpa henti sembari berteriak –Sehun sadarlah—terus-menerus seperti sebuah mantera. Mata yang selalu berbinar cerah dan kekanakan itu menghilang tergantikan dengan binar kosong dan kengerian –"Hei, Hun. Kau tidak apa-apa?"tanya Jongin hati-hati, Ia berhenti mengguncang bahu Sehun dan beralih menepuk pipi kirinya dengan cukup pelan. "Sadarlah, Bakahun. Oi! Oi!"

"—gi.."

"Huh?"

"Per-.."

"Apa, aku tidak mendengar suaramu?"

"Pergi! BAJINGAN!"

Tubuh Jongin terlonjak mendengar suara Sehun yang penuh emosi. Mata itu memberinya tatapan kebencian dan kemarahan, Jongin memilih mundur satu langkah mencoba memahami situasi –hngh, Jongin sadar sekali, Sehun menaruh rasa benci dibandingkan rasa –manis lainnya, tetapi Ia tidak tahu kalau kedua rasa –benci dan marah—itu sebegini kuatnya membuat Jongin merinding tak menyangka, hati-hati Ia mendekati sosok Sehun yang seperti orang lain.

"Hei, Sehun. Kau—kau baik-baik saja?"tanya Jongin perlahan-lahan, bergerak seringan daun kearah Sehun tak ingin membuat pergerakan mengejutkan yang membuat Sehun ketakutan atau lebih parahnya mengajaknya adu tinju seperti biasa sebenarnya Jongin senang-senang saja–tetapi, melihat kondisi Sehun yang terus saja mimisan bahkan lebih deras dibanding tadi—jadi Jongin mengalah dan meminimalisir rasa emosinya yang –egois.

"Ini aku, Hun. Aku Kim Jongin. Mentor yang sering kau panggil tengik—bagamegane—orang yang kau berikan julukan baru setiap harinya! Lha, kok pingsan?"

Bruk!

Dan Jongin merasa bersyukur tubuh itu lunglai dan terbaring tak berdaya diatas rerumputan juga dedaunan kering. "Duh, Aku bersyukur sih kau pingsan. Tapi, denyut nadimu melemah!"tutur Jongin merasa lelah dan mulai khawatir kala merasakan denyut nadi Sehun yang hampir tak berdenyut. Tanpa berpikir meminta izin pada pihak sekolah Ia segera menghubungi supir pribadi milik keluarganya –dan tanpa kerepotan ia membopong tubuh yang tingginya sejajar dengan dirinya itu ala brydal –mengejutkan tubuh itu ringan. "Aku terkadang heran, mau-mau saja adu gulat dengan manusia kerempeng sepertimu. Chk—chk."gumam Jongin sempat-sempatnya menggerutu ambigu dikala nyawa Sehun diambang batas—yah, namanya juga Kim Jongin bersikap acuh tak acuh dalam hal genting adalah salah satu ciri khasnya.

Dalam kurun waktu 10 menit mobil milik keluarganya terparkir diluar pagar dan untung saja mereka berada diluar jadi dengan mudah Jongin melewati pos satpam lalu membawa tubuh Sehun dalam pangkuannya dan segera memerintahkan sang supir untuk segera ke rumah sakit. "Ayo, berangkat. Untung saja rumah ku dekat dengan sekolahanku. Bagaimana kabar Papa dan Mama?"tanya Jongin ramah, sambil memastikan tubuh Sehun senyaman mungkin didalam pangkuannya Ia duduk nyaman dikursi belakang –memeluk erat tubuh itu dengan penuh perhatian. Si supir yang merasa ditanyai yang tak diketahui namanya itu karena tidak pakai –nametag—dan karena Jongin lupa namanya jadi panggil saja si –supir A. Dan sebentar kenapa Jongin tidak merasa asing dengan corak desain dari kursi ini dan segala warna didalam mobil itu.

"Mereka baik-baik saja, Nak Jongin."Jawab si supir A sekenanya. Jongin mengangguk-ngangguk saja tidak keberatan dipanggil Nak –entah mengapa suaranya lumayan Ia ingat tetapi ya sudahlah, kondisi Sehun lebih penting. "Pak euumh—"

Si supir A, mengurut alisnya kedalam "Nama saya Bukan Pak Euumh—nak Jongin."jelas si supir nada suaranya jelas sedikit tak terima. Jongin tertawa canggung merasa malu ketahuan sekali tak mengingat nama si supir A.

"Hahaha, itu saya—ba-baga—errgh-"

Si supir A, pasrah saja lalu mengalah."Nama saya Kim E-u-n-h-y-u-k!"dan diakhiri dengan seringai sok sangar padahal jatuhnya ya cauhuknuhuktik.

"Kim EeuuunHYUK! HUWAAA, EUNHYUK-NIISAN! HIEE!"

SI supir A—eh ternyata Kim Eunhyuk kakak sah dari Kim Jongin sedarah dan sepenanggungan tengah mendelik dari kaca spion yang berada atas sebelah kirinya. Memberi perlototan sebal kepada Jongin –ya terkadang pelupanya itu sangat mengerikan –berbelas tahun mereka tinggal bersama, seatap dan satu dot yang sama –keterlaluan sekali sampai lupa dengan dirinya.

"Dasar bocah cunguk. Kau anu-anu ya bocah lelaki unyu-unyu itu! Huh?!"tandas Eunhyuk matanya memicing ekspresi wajahnya mengintimidasi –serong kekiri hampir saja mereka ditabrak oleh Bajaj –untung saja Eunhyuk gesit kalau tidak mana elit, mobil bagusnya masuk selokan karena ditabrak bajaj –nehi-nehi lah.

Jongin menggeleng cepat, wajahnya memandang –Niisan kandungnya ngeri."Aku tidak melakukan yang anu-anu kok –Niisan? Dia hanya pi—" jeda sebentar. Jongin panik seketika denyut nadi Sehun semakin melemah, nafasnya memburu cepat dan panas –the hell, ada apa sih dengan kesehatan anak ini?

"Oi, nanti saja kau menghajarku. Nyawa anak ini dalam bahaya –Niisan kau kan detektif yang lagi tersohor bisa gawat reputasimu hancur gara-gara membunuh bocah malang ini!"ucap Jongin –seperti biasa memanfaatkan Sehun untuk keselamatannya sendiri meski yah dia memang setulus hati ingin menyelamatkan Sehun lah.

"Iya deh Iya! Awas saja kau nanti!"tandas Eunhyuk merasa panas karena profesinya disangkut-pautkan secara tidak langsung bocah yang tidak bisa dipercaya adalah adik sedarahnya sedang mengancamnya. "Dasar tukang perintah, tuan provokator sialan!"gerutu Eunhyuk.

"Cecunguk tanned skin!"

Kerutan didahi pertama. Eunhyuk banting stir kekanan, kemudian Lurus.

"Mata empat, nerd sok jenius dan paling sadis sedunia!"

Kerutan kedua. Sekitar 157 m, Eunhyuk banting stir kekiri ketika melihat lampu hijau menyala.

"Adik paling kejam seantero jagat raya!"

Kerutan ketiga. Lagi-lagi Eunhyuk banting stir dengan kecepatan tak manusiawi bikin Jongin Pening.

"Jajaran orang pervert set—"

" –Niisan."koor Jongin penuh penekanan auranya menguar berwarna merah kehitaman. Eunhyuk ternganga. Dilihatnya dari kaca spion Jongin tidak sedang memandangnya dengan mata kemarahan tetapi sebaliknya raut sedih dan cemas berlebih terpatri diwajah yang biasanya songong itu –dan hal yang terduga tatapan –keramat bagi Eunhyuk –terarah kepada si Pemilik kulit seputih susu yang terbaring tak sadarkan diri didada bidang adiknya yang terkenal kejam –termasuk menurutnya sendiri.

Menghela nafas sejenak, Ia menekan pedal gas dan memercepat laju mobilnya lebih tepatnya mobil pribadinya sendiri.

"Kalau kau mati dan seenaknya bertamasya ke neraka tanpa mengajakku. Ku sumpahi kau tercelup ke api paling panas disana dan menjadi daging asap paling tidak enak sejagat raya!"ancam Jongin sadis, entahlah anggap saja itu cara Jogin untuk menunjukan rasa khawatirnya setidaknya itulah kesimpulan dari pihak ketiga untuk saat ini si Kim Eunhyuk.

"Kita sudah sampai."tandas Eunyuk tenang, Ia keluar dari mobil dan buru-buru membukakan pintu untuk sang adik biarlah untuk sehari ini Ia menjadi supir dadakan –apasih yang tidak untuk adiknya tersayang tapi garis miring jahatnya.

"Arigatou –Niisan."Eunhyuk mengangguk saja, Ia mengikuti Jongin dibelakang melangkah cepat secepat Jongin berlari dan berteriak histeris mencari sesosok berjas putih yang siap sedia untuk menangani Oh Sehun –bersyukurlah ada salah satu dokter yang kebetulan sedang berkeliaran disana dan menyambut ketegangan Kim Jongin dengan tenang.

"Tenang, tenang Dokter Han akan segera menanganinya. Anda ikuti saya untuk melakukan administrasi."Jongin menyangga tubuhnya dengan memegangi dinding, peluh membanjiri wajah dan seluruh badannya –Ia tidak tahu Ia sebegini paniknya dan bisa setenang ini kala Sehun sudah berada diatas salah satu bangsal yang baru saja dibawa oleh salah satu perawat lalu membawa tubuh tak berdaya itu ke dalam salah satu kamar.

"Tuan, tuan?"Jongin menoleh dan menganggukan kepalanya mengekor dibelakang si perawat bermaksud untuk melakukan administrasi atau check in.

Dari ujung lorong berdirilah Kakak sulungnya, melambaikan tangan dan tersemat senyum lebar diwajahnya. Gummy smile milik Kakak sulungnya selalu menjadi yang terbaik dan sukses membuat rasa paniknya menguar –sepertinya ada yang terlupa, Oh God—Eun-Niisan kan ingin menghajarku setelah sampai rumah sakit.

Sejengkal lagi Ia akan sampai dihadapan sang kakak, sadar akan situasi dan janjinya yang kepalang terucap Ia memilih bersiap kabur tetapi sialnya kerah kemeja putih miliknya ditarik, bisa Ia rasakan kakak sulungnya itu dengan mudah memutar tubuhnya mengarah kepada si sulung. Hal yang jauh dari bayangan tengah terjadi sebuah rasa hangat yang menghilang darinya selama 3 tahun kini Ia rasakan kembali –hhh, Ia tidak tau begitu rindu sekali dengan pelukan penuh kasih yang semirip dengan sang Okaasan.

"Tidak apa-apa Jongin. Dia pasti akan baik-baik saja, dia akan hidup! Jadi, jangan cengeng. Chk-chk-chk, kau sama sekali tidak berubah!"ejek Eunhyuk mendorong tubuh tinggi sang adik lalu berbalik.

"Mau kemana –Niisan?"

"Ke Kafeteria, tenang saja aku sudah membayar uang check in. Miss. Hyomin Tolong bawa saja adik saya ke ruang istirahat, kalau diperlukan beri dia asupan vitamin."

"Baik, Tuan Kim."sahut si perawat membungkuk sopan kepada Eunhyuk dan menggiring Jongin menuju keruang rawat biasa melaksanakan perintah yang diberikan oleh Kim. Eunhyuk hanya menanggapi dengan anggukan lalu berlalu menghilang dari pintu utama Rumah sakit yang sudah menjadi langganannya ketika Ia terluka saat melakukan pekerjaannya –jadi jangan heran kalau si perawat yang kebetulan perawat yang selalu merawatnya sangat mengenalnya.

.

"Hai, Do Kyungie~"nada suara yang berdendang genit menusuk-nusuk pendengaran Kyungsoo yang mendadak konslet terbukti dari langkahnya yang asal nyelonong saja berpura-pura tak menyadari keberadaan seseorang yang jelas-jelas terbaring ganjen diatas lantai berkeramik disepanjang koridor asrama.

"Kyungie~ kejaam. Kok, aku dicuekin!"seru si cowok berkulit segar yang kini sudah berada disamping Kyungsoo menyamakan langkah dengan si pemuda bermata bulat bening itu.

"Kyu—"

"Eny—"

"Ngiee~"

"Enya—"

"makin bertambah umur kok makin cantik saja sih."

"Per—"

"Kyungie~ please be my girlfriend!"

Sudah habislah kesabaran Do Kyungsoo, mata bulatnya makin bulat saat mendelik."ENYAHLAH!"Teriak Kyungsoo membahana, jengah sekali karena Si murid baru tahun ini yang ia beri julukan badut uhukgantenguhuk –dan sialnya satu kelas dengannya.

Bukannya marah Si Kim Junmyeon begitulah pemilik nama dari si kulit segar itu, atau si Junmyeon lebih suka dipanggil Suho yang Kyungsoo tahu memiliki arti malaikat –For God Sake, dilihat dari ujung ke ujung si penguntit ini jauh dari sosok berwajah malaikat, tingkah lakunya bahkan tak mendekati lebih mirip orang maniak yang gila akan perhatian dari orang-orang sekitar. Kyungsoo sebal setengah mati, selintas berpikir Kyungsoo sekarang paham bagaimana apa yang setiap harinya Sehun rasakan ketika berada satu tempat dengan mentor itu—Ia jadi prihatin. Ah, benar Ia juga harus prihatin dengan kondisi dirinya sendiri mulai sekarang –ngomong-ngomong Ia tak melihat Sahabat sejatinya itu, apa sedang sibuk adu gulat, atau sibuk menangis darah karena harus mengerjakan puluhan soal tak manusiawi untuk ukuran anak SMA dan jujur saja Kyungsoo bahkan semakin prihatin saja jika mengingat kegiatan belajar yang tergolong keras yang dialami si sahabat karibnya.

"Kyungiee~"

Oh, Kyungsoo karena sibuk berpikir sampai lupa si Penguntit ini masih ada disampingnya menatap dirinya dengan tatapan heran dan bertanya-tanya –wow Kyungsoo baru tahu wajah yang selalu bereksresi menyebalkan setiap detiknya bisa berekspresi sebodoh itu.

Kyungsoo mendengus, memilih untuk mempercepat laju kakinya. Membuat si Myeon-ki yang apabila Ia pelesetkan menjadi Monkey terlalu memaksa ya sudahlah biarkan saja toh Sehun tertawa terpingkal-pingkal ketika Ia memberitahukan julukan khusus ini kepada si sobat karibnya.

"Kyungiee~"

"Hm."balas Kyungsoo tak minat. Sedangkan kelereng hitam kecoklatannya sibuk berkelana, mencari sosok familier disekelilingnya, banyak anak berlalu-lalang diseberang asrama, bermain atau sekedar membaca buku, memang pada dasarnya lokasi antara seberang asrama dan gedung belajar memang dijadikan tempat bersantai oleh anak-anak. Kyungsoo terkadang juga seperti itu jika Sehun sedang lengang.

"Kau mencari si Honey Bee Ya?"celetuk Suho mendadak membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya lalu memberi tatapan penuh kepada sosok yang lebih tinggi beberapa cm darinya itu penasaran.

"Honey Bee, Lebah Madu? Maksudmu Sehun?"

"Iya, Kyungiee~"jawab Suho, jangan berpikir aneh-aneh Suara Suho memang berdendang genit tetapi Kyungsoo, percayalah Ia sangat sadar Wajah Suho jauh sekali dari ekspresi menjijikan dan itulah mengapa Ia tetap membiarkan si penguntit ini tepat berada disampingnya beberapa hari belakangan ini.

"Jadi apa kau tau?"

"euumh.."jeda sejenak, Suho terlihat berpikir. Kyungsoo menanti dengan harap-harap cemas dan ketika bibir itu terbuka Ia menanti dengan sabar.

"Mana aku, Kau pikir Aku Induknya! Huh!?"Jawab Suho menyebalkan, wajahnya kembali songong lalu melengos begitu saja meninggalkan wajah Kyungsoo yang berubah merah –murka.

"MYEON-KI! PABBO-YA!"

"COME TO ME AND PLEASE BE MY GIRLFRIEND BEB!"

"MENGGELIKAN! AMIT-AMIT TUJUH TURUNAN!"

Dan berakhir dua sejoli itu berlari kejar-kejaran di sepanjang koridor yang masihlah disesaki oleh anak-anak yang berlalu lalang. Alhasil tak sedikit yang menjadi korban tabrak lari yang disebabkan oleh keduanya. Suho si cuek bebek, berbeda dengan Kyungsoo yang akan berhenti lalu meminta maaf hingga siluet Suho berkali-kali Ia hampir kehilangan.

.

Sorry, kondisi Sehun gak memungkin buat ada tambahan bonus. Hahaha #ditaboked, lanjut ke Chapter 6.