Disclaimer: Cerita ini hanya fiksi dan dibuat karena mencoba memberi hiburan bagi para reader. Para karakter didalam ini milik Tuhan, orang tua sekedar meminjam nama saja.

Warning(s): Gak suka Gay, Yaoi atau Boys Love. Jangan baca! WARNING! BUNG.

Main Pair : Kim Jongin / Oh Sehun

1

2

3

Started!

Brak!

Pintu tak berdosa menampar dinding, Kyungsoo dan Suho disampingnya sama-sama bernafas tak santai. Lari dari lantai 1 ke lantai 4 dengan menggunakan tangga bukanlah hal sepele.

"Loh, Jongin!"yang punya nama menoleh dengan wajah suram, sempat membuat Kyungsoo berjengit kaget. Dikarenakan kondisi Jongin ituloh seperti gelandangan, berasa aneh saja pada dasarnya Jongin tak pernah berpenampilan sekucel kucing jantan yang selalu pulang dengan perut bunting –eh seperti ada yang salah? Duh, Kyungsoo salah fokus.

"Ada apa Kyungsoo-sshi?"tanya Jongin setengah malas, ia masih di posisi sama seperti sebelumnya yang Kyungsoo lihat. Nah, lalu suara gedebuk mengerikan tadi itu apa?

"Heh, Kyungie~"

"Ku pikir kau ingin euumm—"kyungsoo sempat menggaruk lehernya yang gatal-gatal karena keringat."—bunuh diri."

Alis Jongin naik sebelah, nampak air mukanya yang ingin tertawa tapi ditelan kembali"Bunuh diri, the hell. Kyungsoo-sshi, daripada aku bunuh diri lebih baik ku habiskan waktu untuk mengajar Sehun sampai ke liang lahat, memandang wajah frustasi Sehun lebih menyenangkan daripada mengakhiri hidup yang jelas-jelas bukan gayaku sekali!"jawab Jongin spontan diakhiri geleng-geleng kepala dan kembali menumpu wajahnya dengan lutut kanan yang tertekuk sebagai tumpuan –Kyungsoo merasa tengah melihat Jongin dalam mode galau atau mungkin itu yang sedang terjadi dengan Jongin –entahlah Kyungsoo malas berargumen jadi sekalian saja dia bertanya daripada mati penasaran.

"Kau marahan dengan Sehun ya' Jongin?"

Dengusan geli, "Marahan, kau pikir kami ini sepasang kekasih dasar otak udang!"mendadak Jongin bangkit dari posisi menggalaunya lalu mendekati Kyungsoo yang detik itu juga memasang pose bertahan siap menangkis segala serangan Jongin dalam bentuk apapun –sadar kalau pertanyaannya memang tergolong ambigu.

"Eeh, mau apa kau kadal buntung?!"

Jongin Mundur selangkah, guna mengelus dada. "Sejak kapan kau ada disini!"tanyanya judes.

"Sejak tadi dasar mata empat!"Suhopun membalas tak kalah judes.

"APA KAU BILANG!"nada suara Jongin meninggi, hidungnya mengembang dan mengempis. Please deh, tidak tahukah mereka Jongin ini sedang beristirahat sambil bernostalgia tentang masa-masa berat yang dilaluinya selama mengajar Sehun si murid songong itu.

"MATA EMPAT!"ulang Suho lebih lantang sembari menusuk hidung Jongin 3 kali. Kontan saja Jongin menarik tangan itu dan mulai menjambak rambut hitam milik Suho.

Kyungsoo mengusap mukanya yang berpeluh merasa geli sekali melihat adu gulat kedua belah pihak dengan saling jambak –ini perkelahian paling memalukan yang pernah Ia lihat, menyingkap lengan kemejanya kemudian mendekati dua manusia yang sama-sama ganteng dan juga memiliki karakter yang cepat panas. Mendekat perlahan-lahan, memegang sisi bagian belakang kedua manusia yang sedang mode adu gulat tersebut dan selanjutnya membenturkan dua kepala itu dengan tenaga tanpa tedeng aling-aling.

Jduak!

"Kuso!"umpat Jongin sambil mengelus-ngelus jidatnya yang nyeri begitu juga dengan Suho yang langsung memprotes tindakan Kyungsoo saat itu juga."Dammit, Kyungie~. Sakit tau! Kalau aku jadi manusia pikun, lupa cara memegang sendok, lupa cara membaca, lupa mengingat wajah imut kamu, lupa mengingat bibir sexy kamu, dan parahnya aku lupa mengingat senyuman manismu bagaimana? Huh! Bagaimana?!"

"Memangnya aku peduli, kalau bisa rasanya ingin ku cabuti rambut kalian satu-satu biar botak sekalian!"dumel Kyungsoo sempat dag dig dug saat Suho menyebut senyumannya yang kata manusia Itik itu terlihat manis, berdehem sebentar lalu beralih menuju pinggiran gedung ingin melihat suara apa yang ia dengar sebelumnya bersama Suho beberapa menit yang lalu.

Matanya menyipit kesal."Rupanya hanya batu-bata. Chk, pihak sekolah ceroboh sekali sisa batu-batu yang bertumpuk begini kenapa tidak di pindahkan sih! Dan kau Jongin, apa kau sinting melempar batu-bata itu kebawah. Bagaimana kalau ada orang disana dan langsung mati ditempat kau mau tanggung jawab!"papar Kyungsoo berapi-api.

"Yah dikubur lah, repot sekali pikiranmu. Beri uang, bereskan!"

"Beri uang kepalamu, nyawa orang itu Cuma satu idiot! Kau pikir tinggal mengambil di rumah nenekmu?"

"Sebodohlah, aku ingin ke kamar. Kalau mau kejar-kejaran sana pergi jauh-jauh. Mengganggu kedamaianku saja! Cih!"

Seminggu kemudian...

Jongin itu tampan, Iya benar. Sangat malah, Sehun tidak peduli ini hanya matanya yang buram atau apa? Ia tidak peduli, pokoknya dia jatuh hati dengan pemuda berdarah campuran (Jepang X Korea) itu sejak Ia sah menjadi tutor pribadinya, meski pada awalnya Ia mengakui kesal setengah mati karena di serapahi sewaktu mereka pertama kali bersitatap.

"Hoi! Sehun, kembalikan kacamataku!"seru Kyungsoo dari seberang meja yang berposisi disamping tempat duduknya dan menyerobot ganas kacamata yang sebelumnya bertengger di hidungnya. Oh, pantas saja tadi pandangannya buram. Ia terkekeh sendiri, merasa geli dan aneh. Cinta itu memang bisa membuat orang merasa, apa menggebu-gebu atau semacamnya. Ah, yang pasti Sehun merasa senang akan perasaan menggelitik ini.

Tapi, semua rasa menggelitik itu buyar seperti serpihan debu-debu sialan yang menerpa sudut hidungnya.

Setelah sebulan berstatus Guru dan Murid, pandangan Sehun berubah. Jongin itu brengsek kuadrat dan playboy bercap ayam.

.

"Eh, Ada yang baru pulang dari alam kubur nih!"

Tuhkan, baru saja di pikirkan'tutur Sehun dongkol bukan main dalam pikirannya.

Was wes wos~

Ini di perpustakan dan perkataan Jongin yang terang-terangan tanpa mau repot-repot berbisik, sudah cukup membuat perhatian orang-orang di sana tertuju kearah mereka.

"Iya, terimakasih Jongin-kun untuk sambutannya. Kau baik sekali "Jawab Sehun tersenyum lebar hingga matanya menyipit lucu. Tapi, kenapa Jongin mendadak menggigil. Kyungsoo meneguk ludah dan reflek menggeser kursinya sejauh 5 meter. Anak-anak lain sudah siap sedia memasang kamera mereka masing-masing, sepertinya rindu sekali dengan pertengkaran guru-murid yang serupa dengan alien (dari sisi manapun berlebihan, contohnya ganteng dan sebagainya) itu.

"Hahaha, Kau baru sadar aku ini baik. Tapi, Hun-(pe)cun(dang) Tidak usah senyum-senyum, memang seindah apa sih alam kubur itu sampai kau tersenyum layaknya orang idiot?"wajah itu tampan, dan Sehun sangat bernafsu untuk mencakarnya.

Sumpah, Ia lupa sangat lupa siapa sih yang seminggu lalu mengantarkannya ke rumah sakit, dengan wajah panik dan suara serapahan konyol bahkan samar-samar Ia bisa mendengar komentar Jongin tentang tubuhnya yang kurus, cih dasar Tutor kampret.

Apakah itu alien yang menyamar menjadi manusia bernama Jongin? entahlah baiknya Ia akan mencari tahu mulai sekarang!

Krieet!

Dengan gerakan santai Sehun bangkit dari kursinya hingga menimbulkan bunyi ngilu. "Oi, Guru hentai, byuntae tulen. Mau tahu bagaimana alam kubur, sini ikut gue su—"

Woosh!

Jongin menghilang detik itu juga eh—tidak kok dia hanya lari secepat kilat. Firasatnya tidak salah, Sehun mulai masuk dalam mode murid kurang di hajar lagi. "HOI! GURU BYEONTAE! JANGAN KABUR KAU!"

Dag dug dag kedebuk!

"UWAAAA, PINGGANGKU!"

Jongin kaget, dan merutuk pelan Ia menengok ke arah Sehun yang beberapa senti lagi siap mencekik lehernya terhenti bak patung, oh hampir saja wajah gantengnya hancur lebur lagi. Di saat seperti ini ada untungnya juga menabrak Heechul Saem dengan bonus hingga si Heechul terduduk tak elit didepannya."KIM JONGIN!"

'Mampus'Teriak Jongin dalam hati ngeri, tidak ada untungnya pokoknya tidak untungnya.

.

.

.

"Tatap mata saya Jongin, jangan tatap piip-nya Sehun!"tuduh Heechul saem asal-asalan ketika mendapati Jongin memperhatikan ke arah bawah Sehun.

"Apa? Saem salah paham saya tidak sedang me—"

"Bohong, jujur saja kau manusia pervert!"Sehun malah bersemangat menambahi mencari segala kekacauan untuk mentornya itu, biar kapok sudah bikin Sehun dongkol.

"Apa katamu bocah!"bentak Heechul saem namun rupanya hal itu tidak di respon oleh sang pemilik nama.

"KIM JONGIN!"

"SIAP KAPTEN!"

"LARI 25 KALI KELILING LAPANGAN!"

Entah kenapa Jongin merasakan de ja vu.

"Loh kok, tapi Heechul saem say—"

"Dasar playboy cap ayam!"lagi-lagi Sehun mengimbuhi dan dengan berani memotong ucapan Jongin untuk ke sekian kali.

Jongin melongo heran tatapan matanya berkata 'anak ini minta di anu-anu' dan Sehun menangkap tatapan itu dengan baik, alhasil wajahnya makin mengeruh suram membuat Jongin berjengit dari tempat duduknya.

Berlebihan, tidak kawan anggap saja Jongin sadar kalau dirinya salah jadi yah jika reaksi dia sekaget itu wajar saja kan? Ya kan?! Maksa.

Heechul saem curiga, matanya memicing tajam dan teliti."Kalian?"

"Ya?"Jongin duduk anteng lagi dan menyahuti suara Heechul saem yang berhasil membuat ekspresi wajah Sehun yang muram menjadi sedikit kalem.

"Sudah—"

"hmm?"kali ini Sehun mengimbuhi gemas juga mendengar suara guru cantik bin anggunnya itu bermain kata-kata.

"Making out!"

"FAKK"Kedua pasangan yang setengah jadi (untuk jadi pasangan) itu facepalm bersamaan.

"Fix, kalian berdua saya hukum didalam ruangan saya selama 2 jam. Done, bye-bye alien couple."ucap Heechul saem santai dan melangkah ringan ke arah pintu lalu tanpa lupa memutar knop kunci hingga terdengar 'cklek' yang mencekam bagi kedua manusia yang kini tengah saling pandang dalam keheningan yang berubah horror.

.

30 menit terlewat.

"Hey, Kim Jongin"

"Aku.."

"..."

"Ingin..."

"y-y-ya?"gugup Jongin, merutuk dalam hati kenapa dia jadi gemetaran begini, di detik ini posisi wajah Sehun dekat sekali dengan wajah Jongin, tinggal sekali dorong tinggal lumat-lumat saja, fakk terlalu vulgar –maafkan authornya yah, dia sedikit me—diam Sehun/sorry/.

Jongin menukikan alis, bertanya-tanya entah kenapa Sehun sedikit berbeda dari biasanya. "Ada apa Sehun, kau sedang sembelit wajahmu berkeringat dan hell—SEHUN!"Sehun tepar dan terjatuh dipangkuannya.

Puk! Puk!

Jongin dengan panik menepuk wajah Sehun, "kenapa sih, kau lembek sekali sedikit-sedikit pingsan, sedikit-sedikit mimisan, bikin aku jantungan tahu tidak. Pintar sekali membuat aku khawatir seperti orang sinting. Ck! Dan aku ini sedang ngomong apa sih?"

Hening sesaat. Wajah Jongin merah sempurna."Aakh, ya sudahlah."koornya linglung lebih memilih membombong tubuh itu membawanya ke sofa, membaringkan dengan kalem tanpa pikir panjang membiarkan paha berototnya menjadi tumpuan kepala Sehun. "Tidur saja, sorry tidak bisa membawamu ke UKS. Pintunya terkunci"sadar Ia seperti orang bodoh karena mengobrol sendiri maka Jongin pun memutuskan untuk menyusul Sehun ke dunia mimpi.

.

.

.

"Myeonki-ya?"

"hnggh.."sahut Suho malas, matanya beralih dari buku bacaannya ke arah Kyungsoo dengan mata setengah mengantuk. Mereka sedang di perpus setelah insiden yang tidak asing lagi di matanya yaitu pertengkaran antara alien couple (Kaihun) mendadak saja Kyungsoo mendatangi dirinya dan dengan wajah poker duduk kalem di seberang meja tepat didepannya, Kyungsoo mendadak mau ngomong duluan padahal di hari biasanya Ia harus berlaku seperti kucing perusuh agar bisa menarik perhatian Kyungsoo.

"Tidak jadi deh."

"Oh."

"Uhh, Sial."Kyungsoo tiba-tiba berdiri dan meninggalkan Suho yang terjatuh tidur. "Dia ini—"geram Kyungsoo tidak jadi pergi dan kembali mendudukan dirinya."HEH! MONYET GANTENG!"

"Hah—eh ya apa?"

"BUAHAHAHAHA!"

"Ada apa sih, sayang?"

"sayang –sayang –kepalamu –peang?"

Alis Suho menukik,"hah, bahasa macam apa itu?"tanya Suho, Kyungsoo mendengus cuek Ia kembali menyibukan diri dengan buku Biologi yang ia pinjam sejak 2 jam lalu.

"Myeonkie, menurutmu bagaimana hubugan sahabatku dengan mentornya itu?"tanya Kyungsoo lagi-lagi diluar kebiasaannya membuat Suho jadi tertarik untuk menegakkan punggung juga telinganya yang melemas karena malas.

"Menurutku kan?"

Kyungsoo mengangguk cepat, Ia tampak sabar menunggu Suho untuk berbicara.

"Mana aku tahu, kenal mereka saja baru semester ini!"pungkasnya masa bodoh menuai kedutan didahi milik Kyungsoo yang tertutup helai poni.

"Menyesal aku bertanya dengan monyet sepertimu."balas Kyungsoo sinis, wajahnya sengak campuran antara jengkel dan juga maklum –seharusnya dia sudah menduga jawaban simple dan cuek seperti itulah yang akan diberikan oleh Suho, lagipula memang benar sih Suho kan baru mengenal dua orang itu baru semester ini.

"Iya –iya, aku hanya jadi monyet untukmu saja. Karena, kenyataanya aku ini ganteng?!"ucap Suho pede, Kyungsoo menggeleng saja capek menanggapi Suho yang pasti tak pernah habis membuatnya terheran-heran.

"Kau tidak lapar?"

"Tidak."tanggap Kyungsoo kembali sibuk dengan bukunya kali ini –Matematika.

"Ayo makan!"paksa Suho sembari menarik buku itu dari hadapan Kyungsoo yang tentu saja sipemilik mendelik tak rela.

"Duh, kembalikan. Aku tidak lapar, kau saja yang makan sendiri sana!"usir Kyungsoo kedua tangannya sibuk merebut Buku Matematikanya yang diangkat tinggi-tinggi oleh Suho padahal tinggi mereka tak berbeda jauh tapi tetap saja itu membuatnya kesulitan.

"Aku maunya denganmu, ayolah?"kali ini Suho tidak memaksa dengan cara kasar namun sebaliknya Ia memberi tatapan memohon yang benar-benar membuat Kyungsoo menjadi tidak tega –mengalah Ia pun mengangguk tak minat dan tersenyum tak sadar ketika melihat Suho yang bersorak berisik hingga penghuni lain di perpustakaan menegurnya dengan sindiran.

"Ckck."decak Kyungsoo geli,"sudahlah, pergi sekarang atau aku berubah pikiran!"ancam Kyungsoo ketika melihat Suho yang mulai panas karena mendapat sindirian dari murid lainnya yang terganggu karena suara berisik Suho.

"Ok! Ok! Jangan main ancam dong, tidak lucu!"dumel Suho, gantian jemarinya yang menarik Kyungsoo buru-buru takut sekali Kyungsoo benar-benar berubah pikiran.

"Salah sendiri."Balas Kyungsoo, pasrah saat jemari hangat itu membawanya dengan jeda langkah terburu menuju kantin yang pastilah penuh apalagi jam istirahat begini.

.

.

.

.

"uungh.."

Sejam berlalu kelopak mata yang menutupi manik coklat madu milik Sehun akhirnya terbuka, matanya yang masih kabur samar melihat wajah yang tak asing baginya lagi –dalam diamnya Ia menatap wajah yang tertunduk membuatnya leluasa menatap wajah tampan itu.

"Kau –"jemari Sehun terangkat, menyelusuri setiap inchi lekuk wajah Jongin. Ia begitu terhanyut dengan wajah tenang milik Jongin namun dimoment sunyi itu memori-memori liar tentang pertengkaran keduanya terlintas mampu merubah mood baiknya menjadi jengkel dan tanpa ampun menampar wajah itu dengan jemarinya yang sejak tadi menelusuri wajah itu.

Plak!

"Huwaaa!"

Bugh!

"THE HECK!"umpat Sehun merasakan tubuhnya terhempas keatas keramik karena Jongin tiba-tiba berdiri setelah Ia mendaratkan tamparan yang tak begitu keras diwajah tampan itu.

"E –eh, kau tidak apa-apa?"seru Jongin, kaget melihat Sehun yang terjatuh karena ulahnya yang terkejut saat merasakan pukulan yang cukup keras mendarat di pipi kirinya –tunggu dulu, tadi itu pukulankan waduh jangan bilang ini ulah Sehun.

Mata hitamnya melebar ekspresi berubah menggurui, "Enak, maka nya jangan menjahili orang yang berusaha tidur nyaman padahal berada satu ruangan dengan musuh yang sialnya juga berstatus anak didikan ku!"tandas Jongin, walau mulutnya tak berhenti mengomel toh lengan kanannya menggendong Sehun ala brydal membuat Sehun menjadi gelagapan karena terkejut dan sekaligus malu.

"HEI! HEI! TURUNKAN AKU!"jerit Sehun ala gadis kampret, mampu sekali membangkitkan nafsu terpendam milik Jongin untuk menutup mulut berisik itu dengan bibirnya sendiri.

Ingatkan Jongin untuk merendam kepalanya di leburan es batu, karena sudah berapa kali Ia sudah berpikiran mesum selama setengah harian ini.

"Ya ampun Sehun, jangan bergerak!"protes Jongin ketika merasakan tangan Sehun yang bergerak liar mengenai leher, mencolok hidungnya atau tak sengaja menusuk matanya hingga mengakibat matanya perih karena itu.

Bruk!

Kesal, Jongin langsung menjatuhkan tubuh Sehun diatas Sofa. Jongin sendiri memilih berdiri sibuk menutup mata kirinya yang sedikit sakit karena terkena telunjuk Sehun."Ishh.. ini menyedihkan."gerutu Jongin saat merasakan air mataa mengalir dari sudut matanya, ini cukup perih.

"uugh, kepalaku."'

Perhatian Jongin terambil lagi oleh Sehun yang menggeliat gelisah diatas Sofa, "Kau kenapa lagi, Hun. Episodemu datang lagikah?"tanya Jongin panik, ingatannya tentang ucapan sang dokter yang mengatakan bahwa Sehun mengidap Bipolar disorder menarik relung batinnya untuk berbaikan dengan Sehun, hal itu juga yang membuat dirinya menggalau tak jelas diatas atap kemarin –sedih bisa jadi, Sehun itu muridnya mana mungkin Ia bisa tenang saja melihat anak didiknya yang menjadi tanggung jawabnya Ia abaikan –tidak bisa, Ia tak setega itu, tak peduli walau seberapa buruk Sehun mengatainya dengan berbagai julukan.

Sehun tetaplah Sehun, si murid menyebalkan dengan segala ketulusan dihatinya.

"aku pura-pura saja, kok."ucap Sehun merubah posisi tubuhnya dan menatap penuh kepada Jongin menyelami mata hitam legam itu cukup lama.

"Jangan begitu, itu tidak bagus dan bukanlah hal yang bisa dijadikan lelucon."nasehat Jongin balas menatap Sehun dengan tak kalah lama.

"kau membuatku heran?"tandas Sehun tak nyambung.

"apanya?"

"Kau, aku sepertinya ja –ja –"

Brak!

"Hosh.. hosh, Sehun!"

"Loh, Baek-hyung!"

"Kau baik-baik saja saeng?"tanya Baekhyun, manik terangnya berpendar khawatir tak luput menatap sinis ke arah Jongin yang mengurut alis karena bingung –ada apa dengan tatapan itu, kenapa tajam sekali?

"Ayo keluar, jangan berlama-lama satu ruangan dengan si mesum ini!"Sehun menurut.

Jongin mengusap wajah, Ia memikirkan ucapan Sehun yang belum selesai tadi perlahan tangan kanannya terangkat, pacuan jantungnya begitu cepat,"aku benar-benar sudah jatuh 'huh?"gumamnya mengusap kasar air mata yang menganak sungai disudut matanya, "akhirnya aku tahu bagaimana menyayangi seseorang lagi, hahaha."bibirnya bergetar menyedihkan, Ia cengkram helaian rambutnya terlihat seperti orang frustasi tapi tak ada yang tahu bagaimana bahagianya Jongin –seorang Kim Jongin, pembunuh berdarah dingin jatuh cinta –lukanya sembuh, mungkinkah Ia berharap ini bukan mimpi.

"Luhan, aku jatuh cinta lagi. Tidak apa-apa bukan, kau terlalu lama pergi sayang~ bolehkan aku membuka hatiku untuk yang lain."lirih Jongin meraup liontin dan menatap sendu kearah photo berukuran kecil yang tersemat didalam liontin tersebut yang menampakan wajah seorang pemuda bermanik bening dengan senyuman lebar yang begitu memukau, di elusnya sisi wajah sosok itu. Sosok terkasih yang sudah pergi jauh meninggalkannya sendirian dibumi.

.

.

.

Hai, saya kembali masih ada yang mengingat fanfiction ini?

Ingin meminta maaf, semaaf-maafnya. Masih bersedia review.

Lanjut ke chapter selanjutnya. Ciao.