Title : Kick Or Kiss

Main Pair : Kim Jongin and Kim (Oh) Sehun XD

Other Pair : Kim Junmyeon a.k.a Suho or Myeon-ki and Do Kyungsoo

Penulisan : agak ruwet, ambigay, ti(y)po-ex.

.

.

.

Enjoy this...

.

Apa kabar, mong-ngomong?

.

Masih inget ffn ini?

.

Smoga inget...ngehahaha *ngarep*

.

.

.

Tiinggalkan jejak dgn menekan REVIEW 'ya!

.

3

2

1

.

Saat itu Jongin hendak membuka pintu sembari mengusap air mata yang entah kapan telah menggenang setelah kepergian Sehun bersama Kakak sulungnya -Baekhyun, tak lama juga pintu ruangan Heechul Saem mendadak terbuka dan memunculkan sosok Kyungsoo disana. Mimik wajahnya tampak ragu-ragu.

"Ada apa, Kyungsoo-sshi?"

"Ini, I-itu ta-ta-tad –"

"Santai saja, Kyungsoo. Aku tidak menggigit kok."sela Jongin mencairkan suasana yang mendadak tegang hingga akhirnya dia memanggil Kyungsoo tanpa embel-embel formal agar pemuda didepannya ini tak merasa berhadapan dengan orang tua.

Kyungsoo tersenyum sumringah, Jongin terkekeh sepertinya Kyungsoo menjadi gagap begitu karena panggilan formalnya barusan.

"Baekhyun-hyung tadi memintaku untuk mengatakan ini kepadamu."Sambung Kyungsoo suaranya terdengar lebih ringan meski ujung bajunya sebagian pelampiasan guna menghilangkan kegugupan. "Dia bilang agar Kau datang ke rumah sakit un –"ucapan Kyungsoo terpotong saat tiba-tiba Jongin melewatinya dengan raut wajah tegang dan kekhawatiran yang besar disana.

Kyungsoo mengela nafas cepat dan menahan langkah terburu Jongin dengan kata-kata selanjutnya "— Jongin jangan berpikir tidak-tidak. Sehun baik-baik saja, hanya saja Kau diminta datang ke rumah Sakit Baekho besok pagi karena hari ini Sehun tak bisa dijenguk."

Jongin berbalik dan menatap penuh tuntutan disorot mata hitamnya."Dia bilang begitu setelah membuatku kha-kh –hhhk!"Jongin menelan ucapannya kembali, Kyungsoo jadi prihatin wajah Jongin tidak pernah sefrustasi ini saat menghadapi kekolotan sahabatnya yang memang bengal sejati itu –si Sehun.

"Saranku Jongin, Jangan menolak perintah dari Baekhyun-hyung jika kau memang peduli dengan Sehun. Kau tau Baekhyun pernah hampir kehilangan Sehun dan itu membuatnya menjadi kakak yang sangat protektif. Apa kau tidak sadar?"

Jongin menggeleng, Ia benar-benar tidak tahu masa lalu Sehun, apa makanan kesukaan Sehun, apa yang paling di inginkan Sehun, Jongin tidak tahu, bahkan Jongin baru menyadari bagaimana isi hatinya sebegini sesak jika melihat wajah pucat Sehun. Tidak ada jawaban lain selain bahwa dirinya telah 'Jatuh hati' kepada pemuda berkulit seputih creamy itu.

Ia mengacak rambut hitamnya melampiaskan rasa frustasi yang menyerangnya secara mendadak. "Sialan."mata hitam Jongin melirik Kyungsoo kemudian, pemuda itu berusaha tersenyum namun gagal malah senyum menyedihkan terpampang disana lalu dengan susah payah jemarinya terulur kearah Kyungsoo lalu menepuk bahu Kyungsoo 3 kali. "Terimakasih, Kyungsoo. Aku permisi dulu."

Kyungsoo menganggguk dalam diam. Ia segera keluar dari ruangan Heechul saem tanpa lupa menutup pintu

.

Jongin berjalan cepat menuju kamar asramanya, dia ingin mandi saja mencoba meringankan kepalanya yang terasa pusing. Biarlah hari ini dia bolos, toh dia disini bukan siswa sungguhan hanya bersifat sementara jika dikeluarkan pun tak masalah itu juga hak Kepala Sekolah. Matanya beberapa kali menangkap wajah penuh tanya dari murid-murid yang berpapasan dengannya, bagaimana tidak bingung kemana-kemana dia selalu dengan Sehun, bertengkar dengan Sehun, ah terlalu banyak Sehun didalam hidupnya.

Sumpah, Sehun kalau kau pergi aku akan mengejarmu sampai kemanapun'janji Jongin.

Sampai dikamarnya Jongin segera merogoh kunci kamarnya dari kantong celana dan segera memasukan ke lubang kunci namun aneh saat dia memutar kunci tak ada bunyi 'klik' seperti seharusnya, itu membuatnya was-was dia tahu ini Asrama tak mungkin ada maling, perampok atau semacamnya tapi tidak ada salahnyakan dia berhati-hati. Dia tinggal dikamar ini sendirian. Perlahan-lahan ditutupnya pintu kamarnya, mencari saklar didekat pinggir pintu lalu menekan tombol itu setelah menemukannya.

'JENG!

"SETAN SUSU! SETAN SUSU!"

"APA-APAAN!"

Jongin tergagap, saat kamarnya diterangi lampu disana diatas ranjang tidurnya tepatnya dipojok kiri teronggoklah manusia beriris coklat madu dengan sorot kekanakan tengah mendudukan diri dengan wajah termenung seolah menunggu sesuatu –mungkin menunggunya karena ini kamar Jongin.

Setan Susu itu adalah Sehun, iya Byun Sehun –manusia tengil itu, kok?

"Bu-bukannya kau ada dirumah sakit Baekho?"tanya Jongin hati-hati mendekati sosok itu, jujur saja dia masih tak yakin itu memang Sehun atau hanya halusinasinya belaka.

Sehun mengangguk lalu menoleh dengan ekspresi terheran, akan langkah Jongin yang mirip maling berjingkat-jingkat seperti kangguru, lucu sekali?

Sehun terkekeh, tangan kirinya melambai meminta kepada Jongin agar duduk disebelahnya.

Sehun yakin Jongin tengah merasa aneh sekarang, dia juga bertanya-tanya kepada dirinya sendiri setelah mati-matian meminta Baekhyun agar tak membawanya pergi dan pindah sekolah dari sini, Sehun langsung berlari ke kamar Jongin tentu saja meminta paksa kunci cadangan kamar Jongin pada Kyuhyun –saem.

Dia sadar sekali, sadar akan sesuatu yang membelit hatinya.

Jongin memasang wajah ragu tapi toh dia menuruti permintaan Sehun. Agak menjaga jarak namun cukup dekat bagi keduanya saling menatap dalam manik mata mereka masing-masing. "Jongin?"panggil Sehun dengan suara paling lembut yang pernah Jongin dengar.

Ada apa ini?

"Ya?"

"Cinta itu apa menurutmu?"

Hati Jongin tersentuh ketar-ketir menjawab pertanyaan itu, baginya Cinta itu ya 'Luhan'. Tapi, itu dulu...

"Cinta itu rasa peduli?"

"Pendek sekali, pikir yang bener. Elu jeniuskan, masa Cuma segitu doang pemikiran Lu!"

Anak ini!

Kok, jadi tengil lagi!

"Kaukan bertanya, menurutku Cinta itu apa. Yah, menurutku Cinta itu rasa peduli!"tegas Jongin, terpancing dengan nada Sehun yang menjurus kearah kasar dan ngelunjak lagi.

"Yah, dimodifikasi sedikitlah. Dasar pemalas!"

"Kok, kau nyolot gitu sih? Memangnya menurutmu cinta itu apa? Tidak usah mengataiku pemalas kalau kau juga pemalas, dasar tidak tahu diri!"

Sehun berpikir lalu matanya membulat lucu, "cinta itu seks."

Plak!

"kok, aku dipukul!"protes Sehun saat kepalanya dikeplak seenak jidat oleh Jongin yang kini tengah cengar-cengir persis seperti Onta arab yang sering dia temui ditaman safari.

"Pemikiranmu bahkan lebih parah dariku, Hun."

"Ehehe, kau belum mandi?"Tanyanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

Jongin memiting leher Sehun, anak ini kapan sih bisa serius, "Hun, jangan ganti topik seenak perut!"

Sehun meringis kesakitan, kedua tangannya balik menjambak hitam Jongin begitu keras dan hasil perbuatannya adalah bibir Jongin malah mendarat diujung pelipisnya, kontan saja Jongin melepaskan pitingannya dan kedua orang itu sama-sama saling dorong, "Apa yang kau lakukan, Oh Sehun bakayaro!"Rutuk Jongin misuh-misuh, salah tingkah. Jongin jujur saja -dia gugup setengah hidup, aaah ada apa sih dengannya hari ini.

"Kok tegang sekali sih, Jongin-kun. Itu kan ciuman tak disengaja!"Goda Sehun, memanfaatkan kegugupan Jongin untuk menyudutkan pemuda berkulit tan itu. Biarlah Sehun iseng sebentar, biasanyakan Sehun terus yang di bully dengan ribuan mater –jahanam. Sekali-sekali durhaka sedikitlah.

"Iya, memang tidak sengaja tapi bibirku merasa ternodai gara-gara menyentuh pelipismu yang bau apek itu!"

Sehun sukses cemberut, apa katanya tadi –pelipisku APEK!

"Hidungmu perlu dibenahi supaya bisa mencium aroma dengan lebih baik, dasar hidung setengah jadi!"hina Sehun kurang ajar.

Jonginkan jadi sakit hati –begini-begini semasa dia SMA dulu, banyak gadis yang mengantri loh, cih dasar bocah bau tengik'umpat Jongin, heboh menyumpah dalam inner abu-abunya.

Buru-buru Jongin mengambil handuk dan segera masuk kedalam mandi, benar-benar tak mempedulikan suara tawa tertahan Oh Sehun diatas ranjang tidurnya. Apa yang lucu sih, dasar aneh'pikir Jongin heran.

"Awas saja kau nanti!"Seru Jongin, galak.

"PFFT -AHAHAHA!"Dan pecahlah suara tawa Sehun yang ditahannya sejak tadi.

.

Sepeninggalan Jongin –pemuda berkulit susu segar itu, terbaring dengan wajah bengong penuh tanyanya. Kepalanya sesekali menggeleng atau mengangguk pelan lalu remaja tanggung tingkat akhir yang di titisi sedikit kegantengan karena terlalu banyak ditetesi gula dan alih-alih tampan wajahnya menjurus begitu manis, sosok itu membawa tubuhnya berguling-guling diatas ranjang –Jongin- yang lebarnya bahkan tak sampai 2 meter alhasil akibat kecerobohan sendiri tubuhnya terjatuh keatas turbin lantai dan serapahan pelan itu terurai kembali.

"Aduduh, pantat ku."

Disaat Sehun sibuk menggerutu kesakitan, beralih sejenak bagaimana kondisi si pria berkulit tan didalam kamar mandi yang bahkan jam sudah terhitung 120 menit lamanya, jelas mencurigakan ini antara Jongin tengah pup atau ketiduran.

Bug'

Oh, rupanya Jongin tidak ketiduran apalagi pup, malahan si pria ganteng yang image dewasanya jatuh ketitik paling rendah karena ulah Oh Sehun –si remaja kampret yang selalu membuat Jongin uring-uringan seperti Ibu-ibu hamil yang tidak dituruti keinginannya- kini tengah meninju dinding, tubuhnya sudah berganti baju yang menandakan ritual mandinya telah selesai.

Walaupun tubuhnya sudah beraroma mentol yang maskulin tak juga ekspresi Jongin cerah. Merasa seperti orang bodoh marah-marah tak jelas didalam kamar mandi dengan hati terpaksa dia masuk kedalam kamar dan malah menemukan Sehun sudah memejamkan dengan nyamannya.

Semakin acak adulah ekspresi si ganteng itu.

Cemas... tubuh bergetar dingin.. dan banyak lagi.

Istilah lainnya sih...itu –eukh, tebak saja sendiri. Jongin tak punya muka mengatakan secara frontal –mesum setengah mateng begini dia masih punya urat malu kok.

.

Besok paginya...

Hari minggu, pukul 8 pagi.

Dikamar asrama Kim Jongin.

...

Sehun terbangun cukup pagi sekitar setengah 7 pagi, rekor terbaik bangun paginya yang biasanya selalu jam 8 lewat hampir-hampir terlambat atau bahkan super telat. Dia tidak menemukan Jongin dimanapun, diregangkan tubuhnya dan menguap lebar tanpa canggung –matanya terbuka agak lebar dan berjengit sendiri melihat pantulan dirinya sendiri pada cermin yang kebetulan tertempel di dinding tepat didepannya.

"Woah, aku seksi sekali."gumam Sehun bangga, dia membuka satu kancing baju sekolahnya paling atas lalu berpose semature mungkin didepan cermin full body itu dengan wajah sensual. Sampai dia menyadari sesuatu berwarna merah –seperti habis dikerok- tak lebar juga tak kecil, tak gatal tapi berbekas. Alisnya menukik tajam, menyadari sesuatu yang janggal. "Hei –hei, aku ingat sekali tidak ada bercak merah dileher ku"gumam Sehun heran.

Cklek'

Pintu kamar itu terbuka dan memunculkan sosok Jongin yang telah rapi dengan baju gantengnya yang super santai tapi tetap stylish. Sehun makin dibuat terheran-heran, matanya membola sejenak. "Hei, Jongin kau mau kencan?"tanya Sehun ada suara berkelenyar tak rela disana.

Kenapa kau kepo sekali'pikir Sehun.

"Aku ingin jalan-jalan."jawab Jongin mendekati Sehun dan mendudukan diri ditepian ranjang sembari menarik selimut hangatnya yang langsung ditarik posesif oleh Sehun.

"Jalan-jalan?"

"Iya."

Sehun manggut-manggut paham."Oh."

Jongin sudah yakin sekali tanggapan anak ini hanya gumaman tak peduli begitu, "Denganmu."

"Oh –EH APA? KAU SERIUS!"

Jongin bahkan tak heran kalau Sehun sekarang berteriak ambigu sambil berlari tak jelas keliling kamar asramanya.

Setelah numpang tidur semalaman dikamar Jongin, tiba-tiba saja pemuda berkulit Tan itu mengajak Sehun pergi keluar pagi ini, Sehun senang sih tapi dia sanksi pemuda type seperti Jongin mau mengajaknya jalan-jalan ke mall, taman bermain atau dinner romantis ala novel roman yang sering Sehun dengar dari Kakaknya Baekhyun yang penggemar novel juga aktor yang memang sering berperan tentang hal-hal berbau romansa bersama –partnernya Si Chanyeol juga beberapa aktor tampan lainnya. Paling juga ujung-ujungnya bertandang ke perpustakaan kota semalam suntuk dan Sehun akan mati kebosanan.

"Iya, tengil."

Sehun menghentikan lari-lariaan tak jelasnya dan berdiri dengan wajah merengut meski dibilang setelah pembicaraan mereka kemarin pagi membuat hubungan mereka lebih baik tetapi tetap saja Jongin begitu enggan menyebut namanya, memangnya nama Sehun mengandung virus begitu. "Ogah."tolak Sehun cepat, kembali menaiki ranjang dan membelakangi Jongin yang masih dalam posisinya.

"Kok gitu, aku sudah susah-susah meminta izin dengan Heechul saem kok kau malah menolak begini. Tega sekali."gerutu Jongin sembari beranjak pergi untuk tidur saja dibawah, dimana selembar futon serta satu tambahan bantal menemani malam tidurnya tadi malam.

Dasar Sehun mau mereka berbaikan atau bagaimana tetap saja menyebalkan –bagaimana tidak ranjang tidurnya dikuasai semena-mena oleh bocah itu.

'terima tidak ya, kasihan sih. Terima aja deh daripada dijejali ratusan soal karena menolak ajakannya ini'Sehun turun dari ranjang Jongin dan duduk dilantai agak iseng mencolek pinggang Jongin yang sudah memejamkan mata dengan baju stylishnya yang modern juga wangi. "Hey, Jongin-kun."panggil Sehun mengetes.

"hm."

"ayo deh, aku juga bosan. Lagipula inikan hari minggu."

"ogah."

'yee, baper deh'pikirnya.

"yakin nih nggak mau?"tanya Sehun memastikan sementara kakinya melangkah kekamar mandi, untuk mandi tentu saja masa mau iya-iya.

"mau ngapain kau?"tanya Jongin bangun dari tidurannya.

"mandi, katanya mau jalan-jalan."

"seriusan?"

"iya –iya bawel, pinjem bajumu ya. Bajuku kan masih dikamar ku."

"terserahlah, pilih sendiri."

.

1 jam kemudian...

'apa aku sedang bermimpi'batin Sehun tak menyangka bahwa dia sekarang berada ditaman kota bersama seorang kutu buku, galak, mentor kejam seperti Jongin –hell, mimpi apa dia tadi malam'batin Sehun lagi heboh didalam pikirannya sendiri, sementara Jongin berdiri disampingnya dan tak henti-henti memandang wajah shock Sehun yang menurutnya berlebihan itu.

"Jo –pegang kepalaku."mata madu terang itu memandang kearahnya, menyorot kosong setelah mengatakan perkataannya yang aneh itu.

Meski heran Jongin tetap menuruti apa kata Sehun, dia memegang kepala pemuda itu lalu sedikit meremas kepala Sehun hingga pemiliknya memekik. "ADUH! SAKIT MATA EMPAT!"

Jongin menggerutu. "Bocah aneh."

"aku dengar itu."kata Sehun misuh-misuh. "Kau juga sama anehnya tau."

"hm."gumam Jongin, kakinya melangkah masuk melewati gerbang taman kota menelusuri jalanan kecil dan meneliti situasi taman yang sangat ramai. "ada acara apa, kenapa ramai sekali?"tanyanya pada udara yang hampa.

"makanya cari tahu. Jangan melangkah seperti pencuri begitu, santailah sedikit jadi remaja tuh."ucap Sehun berbicara sinis kepada Jongin yang menanggapinya dengan wajah tak kalah sinis.

"cerewet."

"memang, kau baru sadar. Dasar otak siput!"

"berkacalah, Oh Sehun."

"kau saja sana."

"kau!"

"kau!"

"tahulah, sesukamu saja."

"pinter, hahaha. Eh, Jongin-kun –"

"EHEM!"dehem Jongin mengingatkan.

"..saem."sambung Sehun dengan mata mengerling bosan. Matanya berpatok kearah rumah hantu disebelah kiri, berlantai 2 dan kesan horrornya begitu terasa padahal matahari masih bersinar dengan gagah diangkasa, wow Sehun jadi penasaran nih."naik rumah hantu yuk, ssaem?"

Jongin menolak keras, "aku tidak mau nanti kalau kau diculik, dikarungin, terus digrepe-grepe oleh para hantu gadungan, kau mau?"

Sehun malah ternganga, "kau mengkhawatirkanku?"jerit Sehun agak senang.

"BANGUNLAH SEHUN!"

Sehun mencibir, "aku sudah bangun dari tadi Saem. Nih, buktinya aku berjalan didekatmu."tandas Sehun mendumel.

Raut masam Sehun beralih menjadi senang lagi begitu matanya terhipnotis pada wahana roller coaster juga beberapa wahana menantang lainnya, dia berlari kearah wahana roller coaster dengan gerakan lari kecil, tak lupa menarik lengan Jongin agar mengikutinya, awalnya Jongin menolak tapi toh dia pasrah saja daripada anak ini mengomel panjang kali lebar karena dia dianggap kuno.

"kau mau naik apa?"tanya Jongin malas sebenarnya, tetapi ingin tahu juga.

Bisa dilihatnya dari posisi ini sekitar beberapa meter didepan mereka ada 3 wahana menantang yang ketiganya tak disukai atau dihindari oleh Jongin –dia trauma, dahulu ketika Ia masih SMP pernah mencoba 3 wahana menarik itu dengan rasa antusias berlebihan –Anikinya si Kim Hyukjae menuruti saja keinginannya itu, saat menaiki tiga wahana itu bergantian, pada awalnya Jongin senang luar biasa namun ketika dia selesai menaiki ketiga wahana itu sekitar 30 menit kemudian tubuhnya melemah dan dirinya berakhir dirumah sakit karena demam juga muntaber. Entahlah bagaimana bisa wahana yang bahkan tak bisa bergerak tapi bisa membuat penumpangnya sakit –aneh memang, tapi sudahlah itu masa lalu.

"roller coaster."Jawab Sehun dengan mimik kekanakan yang menggemaskan.

Jongin hanya tidak ingin Sehun merasakan apa yang pernah dia rasakan dimasa lalu.

Maka Jongin segera mengerem kakinya, lehernya spontan menggeleng cepat, menarik Sehun menjauh dari wahana itu dan membawanya ke danau buatan yang cukup besar ditaman kota, memaksa Sehun menaiki bebek air yang antrianya lumayan sepi dibandingkan wahana lainnya karena memang hanya di isi oleh pasangan kasmaran saja.

Begitu tiba giliran keduanya Jongin bergerak dahulu menaiki bebek air itu, lama Sehun berdiri dipinggiran hingga terpaksa atau memang ingin -Jongin mengulurkan tangannya dan berkata lembut. "Naiklah, aku pegangi."

"Aku takut."Cicitnya.

Huo, manisnya'histeris Jongin saat melihat ekspresi Sehun yang tertunduk dengan wajah ingin menangisnya yang dihiashi guratan merah di pipi putihnya.

"Bebek air ini tidak akan memakanmu meski kau tendang hingga remuk."Rayu Jongin, agak gemas juga akan tindak-tanduk Sehun yang tumben-tumbenan bersikap imut-imut minta dicumbui begini.

Yassalam, Jongin mulai mesum lagi.

Pemuda berkulit susu itu tak menanggapi setelah mencicit selain menggapai tangan Jongin yang terulur dan dengan kehati-hatian tingkat tinggi -Sehun berhasil menaiki wahana itu.

"Kau tidak matikan?"

Sehun mendengus saja.

Sejak 5 menit menelusuri jalur sungai buatan yang sedikit meliuk-liuk dengan riak air yang sangat jernih berhias batu karang serta ikan-ikan manis dan lucu yang berenang nyaman dibawah sana. Hal itu tak membuat Sehun bereaksi seperti dia yang biasanya. Jongin jelas melihat Sehun tertunduk sejak tadi, kakinya terdiam...Jongin jadi kesal, dia memang kuat mengayuh bebek-bebekan itu tapi bukan berarti dia bisa terus mengayuh, kalau berduakan jadi lebih cepat dan tidak selambat ini. Tak lama wajah itu mendongak dan menoleh kearahnya dengan mimik bengis, wajahnya merona samar, kuncup hidungnya memerah dengan aliran ingus yang mulai mengalir, oh –oh, jangan abaikan linangan bening yang mengalir tak tertahankan dari kedua sudut mata madu cerah itu.

Jongin yang sudah ingin menyumpah itu malah mengayuh bebek-bebekan itu kepinggiran yang kebetulan setiap pinggiran sungai buatan itu di imbuhi kayu yang memang sengaja dibangun untuk tempat bersinggah bagi wahana Bebek air tersebut.

Setelah menepi pria tampan itu menggandeng Sehun tanpa canggung dan membawa Sehun menuju pinggiran sungai dan duduk di emperan kayu yang rapi dan terawat apik, anehnya pemuda itu tidak menolak saat diseret hanya suara sesenggukan dan yang lebih mengherankan lagi anak ini tidak mengomel seperti biasanya.

Jongin jadi kepo, ketika melihat Sehun terus menunduk dengan kaki bersilang, serta jemarinya yang tak berhenti mengusap air mata itu. "Kau kenapa?"

"Hukss."hanya segukan yang terdengar. Jongin makin cemas, apa dia mengatakan atau melakukan hal yang salah. "apa aku melakukan sesuatu yang salah, padahal sejak tadi kita tak berbincang banyak kecuali didekat gerbang tadi."gumam Jongin lebih pada dirinya sendiri.

"Hukss."sekali lagi segukan yang sejujurnya menyayat hati Jongin itu menyapa dingin saraf pendengarannya.

"Sini ku peluk."tawar Jongin, membawa Sehun ke dalam pelukan hangatnya. Bahkan pemuda berkulit susu itu tak menolak, wah –wah sepertinya Sehun memang sedang bersedih.

Kata Kaasan Jongin, pelukan bisa menenangkan orang lain ketika dia bersedih meskipun kau tidak mengenal orang itu. Jadi, Jongin melakukannya sekarang dan tak lama tangisan Sehun memelan. Jongin mendesah lega, tidak tahu apa yang harus dikatakan Jongin pada orang-orang yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan –menuduh- jika saja Sehun terus menangis.

"Aku –huks.. punya –huks, kenangan buruk di wahana ini."suara Sehun teredam tapi Jongin bisa mendengarnya dengan baik. Pemuda berkulit tan, itu mengangguk paham, dia terus mengelus pelan bahu Sehun penuh kelembutan –"maaf, aku tidak tahu."

"tidak apa-apa, huks."

Jongin sempat menahan nafas saat lengan Sehun balas memeluk lehernya sementara kepala pemuda ini menyandar pada bahu bidangnya. Bukan karena dipandang aneh oleh orang banyak yang agak kepo dengan urusan orang lain, tapi karena air mata Sehun yang terus merembes dan ingusnya yang meluber kemana-mana. Dan nafas Sehun ituloh hangat-hangat enak bikin nafsu -hush, mesum kau Kim Jongin'Jongin menegur dirinya-sendiri.

Jongin terus memeluk Seungkwan, banyak mata yang melihat, banyak bibir yang berucap, tapi Jongin tak peduli karena yang Ia pedulikan hanyalah Sehun seorang. "sudahlah, kenapa jadi cengeng begini. Seperti bukan dirimu saja."tandas Jongin masih membiarkan Sehun menangis dipelukannya.

"Akukan juga punya hati, Jongin-kun...—"

"..ssaem –"Sehun mengerjap lugu, bibir tipisnya yang ciumabble itu bergerak lagi,"Sementang aku cowok tulen yang ganteng, baik hati dan rajin bikin elu marah jadi nggak boleh nangis gitu?"

Jongin bengong sebentar lalu memilih mengatupkan mulutnya rapat-rapat saja daripada salah ngomong, biasanya orang yang sedang ngidam akan sangat sensitif.

Tapi, Jongin...Sehun tidak sedang ngidam dan dia itu cowok tulen yang punya 'anu' juga punya jakun yang sama persis sepertimu.

Diam saja daripada salah bicara'pikir Jongin meringis.

"boleh kok. Nangis saja sampai puas."pada akhirnya Jongin menyahut tapi dengan sehati-hati mungkin.

"guekan bukan cewek."jawab Sehun agak jengkel.

Lah mampus malah makin salah'pikir Jongin serba salah.

"naik roller coaster yuk."ajaknya.

"nggak ah, gue udah nggak mood."

"Kenapa, Si songong muncul lagi?"rutuk Jongin, melepaskan pelukan Sehun dan menatap mata Sehun dengan mata memicing, "benarkan cara bicaramu, bocah?"

Karena masih dalam mode sensitif pemuda tinggi yang menyerempet manis itu hanya mengangguk lemas, wajahnya pasrahless, minta di cipokless. Jongin jadi hornyless –OH PANTAT BEKANTAN KENAPA AKU SUPER MESUM KALAU ADA SEHUN DISEKELILING KU'itu teriakan penuh frustasi dari Jongin yang tak terhitung ke berapa kalinya.

Jongin mengarahkan telunjuknya kesalah satu restoran cepat saji, lalu menghela nafas saat Sehun hanya menggeleng dengan wajah lesunya, "terus kau ingin apa?"

"Kita masuk rumah hantu saja ya -ya."ajaknya antusias dengan air mata yang merembes deras terlihat begitu bahagia.

Jongin jadi tega menolak, anggaplah ini caranya meminta maaf karena membuat pemuda yang selalu menyebalkan tapi berhati hangat ini –menangis menyedihkan seperti tadi."oke, tapi jangan nangis."

"oke."

.

.

.

Lalala~

Nega sehun is seksi, bebal –nyebelin tapi tetep seksi/nyanyibarengJongin

Hahaha, saya kembali.

Gimana- gimana, apa kalian suka chapter ini – chapter dimana Sehun dan Jongin jauh lebih adem ketika berkomunikasi ada manisnya, sepetnya gitu.

Bersedia review?

.

Salam kangen dari San Kim. Bay-bay.