Cuplikan cerita sebelumnya...

.

Jongin mengarahkan telunjuknyakesalah satu restoran cepat saji, lalu menghela nafas saat Sehun hanya menggeleng dengan wajah lesunya, "terus kau ingin apa?"

"Kita masuk rumah hantu saja ya -ya."ajaknya antusias dengan air mata yang merembes deras terlihat begitu bahagia.

Jongin jadi tega menolak, anggaplah ini caranya meminta maaf karena membuat pemuda yang selalu menyebalkan tapi berhati hangat ini –menangis menyedihkan seperti tadi."oke, tapi jangan nangis."

"oke."

.

.

.

Title : Kick Or Kiss

Chapter : ke-9

Main Pair : Kaihun, dan yang lain masih dipikir-pikir/Bingungbruh.

Genre : Romance, humor/mungkin...

Desclaimer : SM ENTERTAINMENT a.k.a SM TOWN, ORANG TUA MEREKA DAN EXO-L

.

"Jongin-kun?"

"Hm?"Jongin menoleh kearah kiri dan menaikan satu alisnya.

Sehun menatapnya bengong, "tumben mau ku panggil seperti itu."

"Salah?"

"Aneh sih iya."ralat Sehun.

Jongin menyentil dahi Sehun, mendelikan mata dengan gemas. "aku sedang baik hati, jangan menurunkan mood ku. Paham?"

Sehun manggut-manggut ayam, terlihat lucu sekali dimata Jongin. "Hei, apa kau pernah naik wahana ini?"tanyanya tiba-tiba, tampak penasaran sekali dilihat dari raut wajahnya.

Jongin menatap kearah lain, "tidak pernah."dan menjawab pelan pertanyaan yang menohok hatinya itu. Tunggu saja, pasti anak ini akan mengejeknya tanpa henti.

Kita hitung bersama...

1

2

3

"Baguslah, aku juga belum."

Jongin bengong, oh ternyata praduganya salah. Woah...woah dia jadi merasa berdosa karena seenak perut menuduh Sehun begitu saja. Dia tersenyum simpul, "Oh, ku pikir.."

"Jongin-kun, aku lapar."

Jongin menaikan satu alisnya, "makan sana."usir Jongin, mengibaskan tangannya dengan mata mendelik menuai kekeh pelan dari pita suara Sehun yang terdengar aneh ditelinga Jongin.

"Aku tidak bawa uang, ehehehe."jawab Sehun sok malu-malu kucing padahal biasanya Jongin yang dibikin malu.

Jongin mendengus, "ingin makan atau mau masuk wahana ini dulu?"Sehun menoleh kearahnya dengan raut ragu, jemari panjang dan bersih itu menggaruk pipi tirusnya yang mulus, terlihat kebingungan.

"kita masuk saja dulu."pada akhirnya Jongin memberi saran karena tak ingin menunggu anak itu menjawab. Terlalu lama dan Jongin tidak suka orang yang ragu-ragu.

.

"Dasar Mentor tak berguna, Kau apakan Sehun hah! Dia hampir saja mati gara-gara kau."omel Baekhyun tiba-tiba, sementara Sehun sudah bisa mendudukan diri sedangkan Baekhyun mulai mendekati Jongin dan berdiri menjulang dihadapan Jongin.

"aku ti—"

Sehun memperhatikan dan menebarkan senyum sinis kearahnya. Jongin dongkol.

"dia itu tidak bisa lari jauh-jauh. "

"ah maa—"

Sehun tertawa tanpa suara, lalu menatap Jongin sembari berkata isyarat 'makan tuh omelan'. Begitulah otak Jongin menerjemahkannya ketika membaca gerakan bibir Sehun. Rasa khawatir Jongin mendadak melalang buana entah kemana tergantikan rasa jengkel luar biasa. Dalam kondisi setengah sekarat, Sehun si kampret bin pecundang itu tetap kurang ajar. Dosa apa dia punya anak didik yang sebegini tengiknya.

"perutnya berbunyi beberapa detik yang lalu. Kau tahu tidak Sehun itu tak bisa telat makan."

.

Jongin menghela nafas ketika tiba-tiba ingatannya mengambang pada kejadian beberapa bulan yang lalu, Ia jadi khawatir dan was-wa karena itu dan tidak ingin Sehun masuk rumah sakit lagi seperti beberapa waktu lalu, pemuda berkulit eksotis itupun menarik lengan Sehun menjauhi antrian, "Loh, loh, mau kemana?"Jongin sengaja mengabaikan rasa kaget Sehun guna membawa pemuda berkulit creamy itu ke salah satu stand makanan ringan seperti ddeoboki, dan beberapa makanan penggajal perut lainna.

Ia mengambil 2 tusuk lalu menyerahkan makanan pedas manis itu kepada Oh Sehun yang masih kaget akan tindakannya ini, "Diamlah, makan saja. Lagipula antrian masih panjang begitu, bisa gawat kalau kau pingsan nanti."sergah Jongin cepat begitu melihat Sehun akan membuka mulutnya.

"oke, tapi kau yang bayarkan?"tanya Sehun memastikan.

Dia kan cuma diajak oleh Jongin, jadi Sehun pikir semuanya sudah menjadi tanggung jawab Jongin dari membeli makan dan juga membeli tiket masuk. Jangan salahkan Sehun dong, kalau dia bersikap matre salah sendiri mengajak Sehun tanpa membiarkan dirinya masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil dompet.

"iya, bocah. Makanlah sepuasmu."

Jongin bahkan sampai tersedak karena di suguhi mata madu yang bersinar kebocahan itu. "uhuk –uhuk."

Sehun menatapnya aneh, bagaimana tidak aneh. Jongin kan tidak sedang mengunyah apapun tapi kok bisa tersedak, "aku tak sengaja menelan air liurku."tandas Jongin menjelaskan sesuatu yang tak penting menurut kamus Oh Sehun.

"aku tidak bertanya."papar Sehun mengendikan bahu, sementara mulutnya mengunyah ddeoboki yang diberikan secara cuma-cuma oleh Kim Jongin bahkan jemari kanannya sudah menggenggam jajanan lainnya dan memakan semua itu dengan lahap, diam-diam Jongin tersenyum samar.

'dasar busung lapar'inner Jongin membatin geli.

"kau tidak makan?"tanya Sehun dengan mulut penuh dengan makanan.

"telan dulu makananmu, gaki."perintah Jongin, gemas akan cara makan Sehun yang mirip seperti bocah ingusan. Saos ddeoboki melumer dari sudut bibirnya, Jongin risih setengah mampus kalau tidak didepan orang banyak sudah sejak tadi rasanya ingin dia lumat bibir merah seg –Tuhkan, Jongin mesum lagi. Disaat Jongin frustasi dengan otaknya sendiri.

Sehun juga tak beda jauh, bukan memikirkan hal yang mesum tapi tengah berpikir keras tentang satu kata yang baru saja diucapkan oleh Kim Jongin –cowok seksi berstatus mentor pribadinya itu.

Satu kata itu adalah...Gaki?

Apa artinya itu, Sehun curiga berat karena kosakata jepang yang Ia tahu hanyalah watashi, aisitheru, konichiwa dan selebihnya Ia angkat tangan karena bebal.

Sehun kembali mengarahkan wajahnya kearah Jongin, "Apa?"Sahut Sehun heran. Saat ditatap begitu intens oleh Jongin –dia khawatir dengan jantungnya yang tak berdetak dengan normal karena tatapan itu.

Jongin menggeleng. "yakin mau masuk kesana?"Jongin hanya memastikan kok bukannya dia tidak mau, hanya saja firasatnya benar-benar tidak enak. Sehun itu kadang ceroboh, dia tidak bisa membayangkan kalau-kalau Sehun tersandung dan tertinggal didalam sana tanpa disadari oleh Jongin, parahnya lagi Jongin itu pelupa akut.

Dia mengangguk cepat, Sehun memang berencana masuk ke wahana ini jika Jongin memang mengajaknya ke Taman Hiburan. "Aku sudah selesai."katanya sambil mengelap mulutnya dengan tisu yang memang disediakan oleh si pemilik stand.

"Berapa semuanya?"tanya Jongin, saat wanita itu menjawab 30 ribu won, Jongin segera membuka dompetnya dan memberikan uang tersebut kepada wanita renta tersebut dan segera membawa Sehun menjauh tanpa memperdulikan uang kembalian.

"Hei, masih ada sisanya loh. Kau ini tidak pandai berhitung 'ya?"olok Sehun kurang ajar.

Jongin jengkel sih tapi dia hanya menggeleng takzim saja. "Hitung-hitung amal, sudahlah cepat masuk antrian lagi."putus Jongin, kembali mengajak Sehun masuk kedalam antrian.

.

Room 303

Kamar Asrama

Kyungsoo & Sehun

.

….—Kyungsoo menggigit jari jempolnya, matanya menyorot geli juga heran secara bersamaan. Sesekali dia menepuk kedua pipinya, mengusap seluruh wajahnya kasar.

"Kemana si Sehun?"gumamnya, "pasti dia sedang asyik berkencan dengan si mentor bengisnya itu."

Mata bulat bening itu menjeblak kosong. Lalu teriakan nyaring penuh kefrustasiannyamenyusul"AKU BOSAAAAAAN!"

Diantara kegiatan tak pentingnya, suara dari dering ponselnya membuat Kyungsoo terkejut, dengan wajah tak niat diambilnya ponsel dari meja nakasnya dan segera saja menekan tombol hijau saat nama Suho tertera disana.

"apa?"

"kau dimana?"

"kamar."

"ouh, kasihan."

''hm."

Tuuut… Kyungsoo mematikan sambungan dengan raut kesal. "Ku kira ada apa. Dasar Myeon-ki jahat"

Tak lama notifikasi muncul, Kyungsoo mengerjap begitu membaca selarik nama agak pendek dan terkesan songong itu.

Disana tertera nama...

Suhoholkaya

Accept | block

"Terima saja, aku ingin membalas ucapannya tadi."Gumam Kyungsoo. Tanpa ragu menekan kalimat 'Accept.

.

Hay cantik

Jalan yuk

Kehatiku

Hehehe

Ogah

Kyungsoo Do blocked you

.

"Apa salahku, kenapa di block. Huh, awas saja si manis itu."gerutu Suho misuh-misuh diatas ranjangnya.

.

30 menit kemudian...

Kafe Ketori

Minggu

Pukul 08.00 WIB

.

Suho itu cowok simple yang agak nyebelin, suka nyolong bekal kepunyaan Kyungsoo semenjak mereka berada dikelas yang sama, hobinya main skateborad, ikut balapan liar dan merusuhi orang yang menurutnya sombong, pendiam, dan jahat... untuk contohnya seperti Jongin.

"Myeon-ki, kita ke tempat lain aja yuk. Disini menunya mahal-mahal."bisik Kyungsoo, cowok yang ditaksir oleh Suho, sejak pertama kali dia bersitatap dengan pemuda bermata belo itu.

"Panggil Suho dong, jangan Myeon-ki."sahut Suho bete.

Kyungsoo nyengir, lalu merengut"Kok nggak nyambung?"protesnya. "Aku kan mengajakmu pergi."

Suho cuek, dia sedang sibuk memilih menu yang menurutnya enak dan bikin kenyang. "Waiter."Panggil Suho pada salah satu pelayan tak jauh darinya.

Waiter itu mendekati Suho dengan senyuman."Mau pesan apa?"tanyanya.

"Pizza keju dan Colanya 2 porsi, Kyungsoo kau pesan juga gih!"Kata Suho merintah.

Kyungsoo menggaruk rambutnya bingung. Matanya sempat melirik kearah salah satu menu namun dia malah berkata..."Aku tidak lapar, kau saja yang pesan."tolak Kyungsoo. Uang jajannya tidak cukup untuk membeli makanan disini dan Kyungsoo rasa meski uang jajannya cukupun dia pikir lebih baik ditabung saja.

Ekonomi keluarganya yang sederhana membuatnya berpikir 2 kali untuk menghamburkan uang.

Suho tersenyum, "Sama Steak juga winenya 1 porsi."sambung Suho lagi, dia sempat menangkap kearah mana mata Kyungsoo melirik.

Kyungsoo gelagapan, "Ta.. Tapi, aku –"

"Udahlah, terima aja. Gue marah nih kalah elo nolak teraktiran dari gue."ancam Suho sok garang.

Kyungsoo mengiyakan dengan anggukan. 'kok, Si Myeon-ki sebelas-dua belas mirip Sehun si. Sok gahul pula'Kyungsoo membatin sebal.

"Apa ada lagi?"tanya pelayan itu lagi.

"Nggak itu aja."ucap Suho dan mulai sibuk dengan ponselnya.

"Nggak papa nih?"

"Iya, Soo. Itung-itung gue bayar utang karena gue sering nyolong bekal elo. Hehe. "

Kyungsoo tersenyum kalem, cowok irit bicara yang sering dikira cewek karena keimutannya yang nggak ketulungan itu membuat Suho membatin -tuh –tuh gimana para cowok nggak salah paham kalau tingkahnya aja mirip gadis-gadis perawan yang belum pernah pacaran begitu."aku ikhlas kok."

"gue juga ikhlas kok."

Keduanya mengobrol sampai pesanan mereka datang.

.

Kurang lebih keduanya berdiri berdampingan, Jongin sih santai saja berbeda dengan Sehun yang telah dilumuri keringat karena memang hari itu cuaca berada dalam suhu cukup tinggi.

"ah, ramai."keluh Sehun.

Jongin mengalungkan lengannya pada bahu kanan Sehun, bibirnya tertarik menyeringai tampan. "sabarlah, kalau sabar disayang Jongin loh."canda Jongin mengerling genit.

Sehun tersenyum geli dan takut-takut, "aku normal, Jong."

Hati Jongin mencelos tapi dengan cepat dia mengabaikan perasaan itu dan terdiam dalam posisinya.

Tak ada percakapan diantara keduanya setelah itu. Sehun merasa aneh sejujurnya, karena merasa bosan dia menghentak-hentak kakinya pada rerumputan rapi dibawah sana, tangannya terlipat didepan dada, untuk menghilangkan rasa bosan matanya melirik kesana-kemari mencari pemandangan yang sekiranya bikin mata bulat agak tajamnya menjadi lebih segar.

"Wuih, bodynya. Asoy, kehehe!"Gumam Sehun mengangkat 2 jempolnya dengan raut mupeng saat menemukan seorang gadis berwajah imut dengan body berlekuk gitar spanyol melintas dan menghilang dalam kerumunan.

"Nilai 8 dari 10"nilainya seolah tengah menilai bagaimana kualitas dari sebuah lagu yang disukai atau tidak disukainya.

Lagi-lagi ada yang melintas didepannya, makin abstrak lah wajah ganteng menjurus cantik itu.

Jongin bukannya tidak dengar hanya mencoba untuk tidak peduli, tapi dia bisa mendengar bahwa antrian didepan mereka sudah mulai sibuk bergosip bahkan ada yang bersiap mengambil wajah Sehun dengan wajah –super mesumnya itu, sebelum itu terjadi Jongin mencegah orang tersebut dengan mata tajamnya yang sarat akan ancaman pasti. Jongin menarik nafas lega karena caranya yang tergolong tak biasa itu berhasil.

Lehernya ditolehkan kearah Sehun, raut wajahnya kentara ingin memakan Sehun saat itu juga. Entah ya Jongin akhir-akhir ini suka sekali melihat wajah memerah seperti yang sekarang tengah ditampakan oleh Sehun, rasanya mengemaskan sekali, minta di ciumable tahu tidak?

"woah -woah yang ini lebih anju nice."Lagi-lagi jempol itu terangkat ketika gadis lainnya yang kebetulan lewat bertubuh sintal, kulit kecoklatan dan beriris hazel, rambut bergelombang dan tubuh tinggi semampai. Sehun siap membuka mulutnya untuk berteriak dengan pujian tanpa ujung untuk wanita yang memang Jongin akui sangat seksi dan enak dipandang dari sisi manapun tapi bagaimana nih, wajah Sehun lebih menggoda loh DIMATA SEORANG KIM JONGIN.

DEMI KOLOR ANIKINYA YANG KUNING SEMUA!

JONGIN BANGUNLAH DARI MIMPIMU!

COWOK YANG SELALU MEMBUATMU HORNY BERNAMA OH SEHUN-SHHIT...ADALAH COWOK STRAIGHT!

KAU PAHAMKAN...DIA STRAIGHT! Lurus –JONG! LURUS!

KAU DENGAR KATANYA TADI,...'AKU NORMAL, JONG'.

BANGUNLAH!

BANGUNLAH!

Iya, didalam inner sanubarinya yang teranu-anu, Jongin memang super heboh dan alay tapi apakah kau tahu, bukan Jongin namanya kalau tidak bisa menyembunyikan isi hatinya dari khalayak ramai karena yang terpancar dari ekspresinya yah mentok-mentok cuma kedutan sinis sok keren padahal dalam pikirannya rame sendiri seperti kerusuhan begitu.

Sehun sendiri nampak tak jauh beda dengan orang gila yang terbuang di pinggir jalanan. Miris sekali, 'apa dalam hidupnya, dia tak pernah melihat wanita?'heran Jongin.

"APA DIA MALAIK -hmmph!"Itu Jongin yang tengah menutup mulut berisik Sehun yang sejak tadi sudah menarik perhatian beberapa orang yang penasaran akan tindak tanduk mesum Sehun.

"kau seperti tak pernah melihat wanita cantik saja, Hun?"

Hei, apa si mentor kejam ini baru saja memanggil ujung namanya?

Sehun tidak sedang bermimpikan, hei kalian yang sedang membaca ini. Tolong cium Sehun, agar Sehun sadar kalau tadi hanya sebatas khayalannya saja.

Sehun mengangguk tanpa ragu, matanya menyipit lucu menunjukan bahwa dia tengah tersenyum meski Jongin tengah membekap mulutnya tanpa peduli Sehun akan kehabisan nafas atau tidak.

"Kau ingin menjadi tontonan banyak orang, hah?"Desis Jongin saat tersadar dari lamunannya. "Dan menjadi viral di dumay dengan judul 'ada bocah laki-laki bertampang cantik memasang wajah mupeng akut karena body para cowok bohay', kau mau? Hah, Hun?"

Oh, ternyata Sehun tidak sedang berkhayal. Jongin memang memanggil ujung namanya dan sumpah demi gigi ompong wanita penjaga stand tadi –Sehun suka sekali namanya disebut oleh Kim Jongin.

Karena merasa nafasnya mulai berkurang, kontan saja Sehun memukul tangan mentornya dengan kasar, Jongin melepaskan tangannya dari mulut Sehun dan bisa dilihat oleh Jongin, pemuda itu memasang wajah bengis kepadanya dengan nafas yang terengah-engah. "Kau itu lebay sekali, pose kita tadi bisa lebih populer tahu tidak? Dasar korban dunia mbak maya!"Hina Sehun tak keren dan terkesan ambiga -eh ambigu.

Jongin menggaruk pipinya, "maksudmu apa sih dasar otak ambigu!"Jongin balas menghina.

"Dumay Jong, dumay, sosial media. Ckck, kau terkadang bisa payah juga 'ya?"Sehun manggut-manggut sok mengerti.

Jongin jadi gemas ingin menciu -menampar wajah can -kampret itu. Sedikit lagi tangannya terangkat untuk menyentil dahi Sehun bisa dirasakan oleh Jongin bahwa bagian tubuh bawahnya ingin buang air kecil. "Hei, tengil keluar dari antrian. Aku ingin ke toilet dulu?"

Sehun merengut, "mau ngapain sih, sedikit lagi kita bisa masuk tuh?"Tunjuk Sehun memperlihatkan bahwa antrian memang tinggal 2 baris lagi dan mereka bisa masuk.

Tapi, ini sudah diujung dan Jongin tidak ingin saluran pipisnya bermasalah bisa bahaya untuk masa depannya entar. "Sudahlah, kalau kau masuk sendirian ya sana. Aku tidak peduli kalau kau hilang."

'Bilang tidak, ayo bilang tidak'mohon Jongin berdo'a dalam hati agar Sehun mau menuruti permintaanya dan tidak sok keren masuk kedalam sana sendirian.

Namun harapannya pupus saat melihat Sehun masih ada dalam barisan disertai wajah marah yang tak disembunyikan. "Terserah kau sajalah, jangan matikan ponselmu. Aku akan segera kembali."Pinta Jongin.

"Hm."

'Dasar ngambekan'Jongin membatin gemas. Dia segera berlari pergi begitu saja karena memang sudah kebelet.

Saat Jongin tak ada dipandangannya lagi, Sehun mulai mendumel seperti jones kesepian.

"Huh, bilang saja tidak mau menemaniku."Gumam Sehun pelan, wajahnya mencebik dan siap menangis.

"Ah, kenapa aku jadi manja begini. Aku kan cowok remaja, udah baliq plus tampan sekali, bukan anak kecil yang masih diantar saat ingin kencing, tidak boleh cengeng Sehun. Tidak boleh!"Monolog pemuda itu menyemangati dirinya sendiri yang gampang baperan selama seharian ini ketika bersama Kim Jongin.

Tangannya terlipat didepan dada, mata coklat madunya menerawang pada insiden peluk memeluk dan acara meweknya yang jika di pikirkan secara mendalam dirinya begitu menyedihkan dan memprihatinkan. Tak lama wajahnya memerah hangat, kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya dengan begitu ekstrim. "Aku memalukan sekali, uukh. Rasanya ingin berenang ke laut atlantik dan curhat dengan salah satu beruang disana."

.

Disalah satu sudut keramaian Taman hiburan, tak jauh dari tempat Sehun berada.

"Iya, aku melihatnya."

"Bawa dia padaku."

"Mati atau hidup."

"Hidup."

"Tapi, aku ingin dia mati."

"Aku yang akan membunuhnya dengan caraku sendiri."

"Chk, fine."

Tuuut..pemuda itu mematikan sambungan"Dasar tua bangka."Umpatnya"baiklah, apa yang harus lakukan untuk membawamu tanpa perlu mendapat penolakan."Sambungnya nampak berpikir.

.

"Astaga, kenapa disini juga harus antri segala sih."Jongin menyerapah sejak tadi."Kalau begini aku tidak bisa menemani si tengil sialan itu."Jongin mencak-mencak tak jelas, "jangan nekad ya stupidebengal (baca : Sehun), aku akan membunuhmu kalau kau memaksakan diri masuk ke dalam sana"Dan mendumel tanpa henti.

"Sabal ya, jangan berteliak. Om cekci mengganggu ketenangan olang-olang."Nasehat seorang anak kecil berwajah bulat dengan mata bulat beningnya.

Jongin menunduk, matanya melotot"kau!"Koornya kaget, dia masih ingat betul bocah mungil yang mengigitnya didalam perpustakaan ketika Ia dan Sehun bertengkar.

"Iya, om cekci. Dimana om cantik yang waktu itu kau cikca?"

Cikca, oh siksa. "Dia tidak sedang bersamaku, bocah."Mata Jongin berkeliling mencari-cari dimana Ibu galak dari anak ini. Saat tak menemukan siapapun, ia kembali menunduk dan kebetulan anak itu tengah menatapnya. "Apa?"Tanya Jongin heran, tatapan anak itu tajam sekali. Jongin saja merasa agak ngeri.

"Om itam ya tapi cekci, bagi tipsnya dong?"

"Hah?"

"Om cekci ganteng kah?"

"Iya emang."Jawab Jongin bangga, padahal maksud bocah itu ganteng bukan wajahnya meski Jongin memang ganteng tapi ganteng yang ini adalah...iya 'gangguan telinga', yang itu maksudnya.

"Pantas, dali tadi sepelti olang linglung telnyata tuli."

"Apa katamu!?"Tanpa sadar Jongin membentak sebal. "Kau baru saja mengataiku?"

Bocah itu menangguk tanpa keraguan, wajah lugunya itu mengingatkan Jongin pada seseorang, mirip siapa ya?'Batin Jongin berpikir keras.

"Om -om?"Panggil bocah itu sambil menarik ujung kemeja Jongin yang melamun. "OM BUDEK!"

"Aku tidak tuli, upil mini."

"Ih, namaku Taeoh bukan upil mini. Om budek!"

"Jaga bahasamu, bocah."Jongin berjongkok sekarang, antensinya hanya untuk Taeoh.

Taeoh menggeleng. "Om ce -"

"Namaku Kim Jongin."Ralat Jongin agak risih juga dipanggil dengan logat aneh begitu, ya mending kalau yang bilang orangnya cantik dan punya dada tapi ini cuma bocah ingusan yang kebetulan punya otak yang sama mesumnya seperti seseorang yang hampir setiap hari membuatnya uring-uringan -ah iya Sehun. "Semoga anak itu tidak bertindak bodoh."Gumam Jongin tanpa sadar hingga bocah kecil bernama Taeoh itu menepuk wajah Jongin, wajah bulatnya terlihat menggembung sebal.

"Om aku bukan patung 'ya?"Rutuk Taeoh, dia sejak tadi ngomong dari ujung ke ujung tapi tak sedikitpun Jongin menggubrisnya, Taeohkan bukan boneka pajangan, Taeoh itu ganteng, pintar dan bisa ngomong meski masih cadel. "Om aku ingin beltemu Om cantik."Tiba-tiba Taeoh menaruh kedua tangan kecilnya pada wajah Jongin dan menepuk wajah pemuda itu tanpa henti.

"Hoi! Hoi! Jangan pukul-pukul, sakit upil mini!"

Taeoh marah sekarang, "OM NYEBELIN!"Teriaknya dan makin keras menepuk wajah ganteng Jongin.

Jongin sampai kewalahan, tapi toh dia berhasil menangkap tangan-tangan mungil dan kecil itu menggendongnya agar anak kecil ini diam. Matanya menatap wajah bulat Taeoh, "dimana ibumu?"Tanya Jongin ingin tahu.

Taeoh terdiam, wajahnya mengarah ke sudut lain seolah tak ingin menjawab.

Jongin jadi heran, "kau kehilangan ibumu 'ya?"Tebak Jongin yang langsung dijawab gelengan muram dari pihak Taeoh.

"Eomma pelgi jauh cekali. Cuma tante yang melawat Taeoh."

Jongin sedikit banyaknya paham apa yang dimaksud oleh anak ini, "lalu dimana tante mu!?"

"Taeoh tidak tahu."

Jongin jadi terenyuh saat melihat sorot mata Taeoh yang menyendu, terasa aneh saat anak itu tidak menangis keras. "Kau mau ikut, -aniki?"

Taeoh menatap Jongin bingung, "kemana?"Tanyanya, "kalau tante mencaliku, bagaimana?"

Jongin terdiam, tak lama dia tersenyum"kita cari dia setelah aniki buang air kecil."Ucap Jongin dengan sorot hangat juga senyuman yang tersemat lebar.

"Om cekci tampan cekali."

"Aniki, Taeoh. Bukan Om cekci."

"Oke, om cekci."

Jongin menyerah dengan wajah dongkol, "terserah kau saja, upil."

"Ahahaha."Astaga bahkan tawanya sama menyebalkan seperti milik murid didiknya si Sehun.

.

.

.

"Jongin-kun, kau kemana sih."Gerutu Sehun, "maaf anak muda, kau ingin masuk atau tidak?"Suara seorang pria tua yang menjaga stand tiket wahana rumah horor itu, pria itu tengah menegur Sehun yang sejak tadi berdiri dengan wajah ragu. "Anak mu -"

"Chk, iya aku masuk."Sergah Sehun sembari menyerahkan tiketnya dan segera masuk ke pintu yang mengarah langsung ke dalam wahana rumah hantu. "Nih, sintarnya. Selamat menikmati wahananya."

"Oke."Sahut Sehun, dia melangkah sedikit ragu tapi dia menetapkan diri untuk masuk. "Aku berani..aku berani."

Belum sempat Sehun masuk kedalam sana salah satu lengannya ditarik oleh seseorang dan itu cukup membuat pemuda berkulit creamy itu terkejut dan membuat kakinya oleng karena tak menopang tubuhnya.

'Bruk!

Sehun tahu kok, dia tidak jatuh keatas tanah tetapi dipelukan seseorang. Dia mendongak dan matanya mendelik saking terkejutnya. "K-KAU?"

.

.

.

BERHENTI DULU.

Yeah...yeah, tebak siapakah itu.

BAGI Reviewnya dong...kan biar asyik. Ngehaha!

Oh, di tunggu aja chapter 10nya.

Ngomong-ngomong maaf ya kalau sempat gantungin cerita ini, bukan karena apap cuma males ngelanjutin aja sih, tapi sekarang udah ada rasa semangat lagi karena merasa nanggung aja.

Salam hangat dari San Kim.

JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL REVIEW DIBAWAH DAN UCAPKAN LAH BEBERAPA KATA!

SEE YOU INI CHAP-1O. :) :)