Judul : Kick Or Kiss

Oh Sehun

Kim Jongin

Kim Junmyeon

Do Kyungsoo

Genre : Not for Sci-fi.

Bahasa : Banyak typo guys/Sorry.

Desclaimer : I dont own EXO but this story is mine(ini bener nggak sih tulisannya?/bingung)

.

Kiss this story and dont Kick My story.

.

Enjoy this Bray!

.

Sehun mendengus geli, ketika baru saja Ia sampai dikoridor lantai satu tak sengaja mata berwarna coklat madunya menemukan adegan yang membuatnya hatinya ingin tergelak –melihat sahabatnya Si Kyungsoo sibuk berdebat dengan pria berjulukan Myeon-ki.

Berpura-pura tak melihat Ia berjalan santai sembari bersiul riang memandang kearah lapangan dimana anak-anak seangkatannya tengah bermain berbagai jenis olahraga yang menguras tenaga, baik itu Voli maupun basket.

Olahraga terakhir sudah menaut hatinya untuk bermain berniat menumpas rasa geli yang terus saja menusuk-nusuk batinnya. Ketika sampai di pinggir lapangan, Ia berseru keras menyapa mereka yang tengah bertanding tak resmi namun menyenangkan. "Hoi! Guys, gue ikut main ya?"Beberapa diantara mereka -murid-murid lelaki menoleh dan menyambutnya berisik. Tak heran lagi apabila Ia bergabung dengan mereka. Padahal Sehun itu atlet renang.

"Woi! Hun, gabung langsung saja ke Tim ku!"Teriak salah satu cowok termungil disana, Sehun mengangguk setuju kepada si penawar yang tidak lain -salah satu kakak kelas favoritnya Minseok.

"Alright, kawan-kawan. Bersiap dengan tim masing-masing."Ucap salah satu cowok yang menjadi wasit berseru semangat.

Peluit di bunyikan nyaring dan itu tanda pertandingan dimulai.

Dentuman bola basket menggema, teriakan dari pemandu sorak yang mengumpul tanpa diundang menyemarakan permainan tak resmi itu, Oper dan mengoper, melakukan passing dengan gesit, memasukan bola dengan threeshoot, mendadak Sehun menjadi bintang tersamar. Mereka -pemain lain ikut bergembira dalam permainan yang dibawa oleh Sehun -cowok energik yang gila basket juga di kenal bengal sejati itu.

Permainan non resmi itu mengalir terus tanpa henti, papan skor menunjukan 55-58 selisih yang tipis namun tak ada persaingan berarti tetapi siapapun yang masuk kedalamnya akan merasakan bagaimana kedua tim berusaha mengalakan musuh mereka.

Dum dum dum

"Chk, sial. Kau selalu merepotkan padahal Kau bukanlah atlet basket, apa Mentormu ikut andil dalam melatih skillmu?"

Dum Dum Dum

"Well, gue cuma cepet!"Sehun mengoper bolanya kepada si kakak kelas favorit -Minseok dan dengan ringan Minseok menyambut operan terlatih itu dan melakukan dunk dengan begitu mudah. Dia adalah point guard emas milik Sekolah bersistem asrama itu.

(A/N : Tau Kuroko dari Anime Kuroko no Basket, bayangkan aja passing Sehun yang modelnya begitu. Itu keren sih menurut gue dan disini Minseok jdi sosok Kagaminya cuman dalam Versi pendek juga profesi berbeda/Heuheu)

Sorakan terdengar.

Skor berubah, saling menyerang, defense, offense masing-masing tim sama kuatnya.

Sehun terkekeh semangat, mengelap peluhnya yang membanjir, ketika mendapatkan operan Ia bergerak lincah menggunakan kecepatannya untuk sampai dibawah ring, wajahnya berbinar bahagia Ia melompat dengan kekuataan kakinya bersiap memasukan bola dengan dunk lincahnya namun -

"Awas Sehun!"

Yang diteriaki terkejut dan tahu-tahu Ia merasakan benturan keras menghantam pelipis kirinya memberi rasa pening luar biasa hingga kegelapan menyergapnya.

"BOCAH TENGIK!"yang terakhir Sehun dengar adalah suara Jongin yang berteriak begitu keras dengan julukan yang dalam menurutnya adalah panggilan 'khusus'hanya Untuknya seorang.

.

Sehun tidak langsung menyadari situasi, suasana ruangan ini terlalu sunyi di detik ke sepuluh Ia kemudian sadar bahwa dirinya tengah terbaring diranjang rumah sakit. Bau-bauan obat menyengat sudah cukup menyimpulkan keberadaannya.

Dan ada Jongin yang terbaring dengan posisi terduduk disofa. "Tadi itu terjadi 'ya?"Tanyanya bingung.

"Oey, Jongin sableng. Kai! JONGIN-KUN SSAEM!"Sehun berseru dengan panggilan kecil dengan lengkap.

"Eh apa, apa?!"

"Sudah kenyang tidurnya?"Tanya Sehun menyindir, pemuda itu bangkit dari ranjang lalu mendekati Jongin.

"Eh, Mau apa kau?"Tanya Jongin waspada, Sehun terkekeh pelan dan menepuk wajah Jongin. Ia tersenyum geli sambil memeluk manja tubuh Jongin.

"Ternyata kau disini."

Jongin terheran akan perkataan itu.

"Kau baik-baik saja, kita harus bersyukur setelah kau pingsan Kyuhyun ssaem bersedia mengantarmu ke rumah sakit Baekho ini. Ayah dan Ibumu akan datang 2 jam lagi."

Sehun mengangguk acuh, tahu-tahu ia mendudukan diri dipangkuan Jongin, membiarkan kepalanya terkulai malas dibahu kokoh milik Jongin.

Oke, Jongin ingat kok Sehun resmi menjadi miliknya tapi dia masih ingat Sehun tak pernah sih, agresive begini. Sudah begitu jemari Sehun meremas rambut hitamnya lagi dan kau tahu Sehun menggodanya dengan meniup sensual tengkuk Jongin yang tidaklah sensitif tapi bergesekan dengan tubuh Sehun begini saja sudah membuat Jongin hampir lupa tempat.

"Kau ini, kenapa. Sejak kau sadar tindakanmu jadi aneh"gerutu Jongin, walau kedua lengannya kini tengah menelusup kedalam baju rumah sakit dan mulai membelai lembut pinggang Sehun dengan tempo lembut. Mengelus pinggang dan terhenti di permukaan perut Sehun.

Sehun merespon itu dengan menggigiti bibir pulmnya yang pucat. Niatnya ingin menjahili Jongin -uukh, malah dia yang dibuat gila karena menahan nafsu.

'mentor jahanam'rutuk Sehun kesal. Tapi, bagaimana lagi Sehun cuma merasa kangen saja pada kekasihnya karena sejak istirahat pertama Jongin disibukan oleh rapat guru, iya Sehun tahu itu keterlaluan but hei mereka baru pacaran sehari jadi wajarlah dia manja sekali ketika Jongin tak ada didekatnya

"Tidak ada. Aku kangen sekali."Jawabnya jujur.

Sett-

Bukk- dengan tega Jongin memukul bokong milik Sehun hingga menuai umpatan kesal dari si pemilik kulit seputih milky itu.

"Auw, apa-apaan sih Lo! Sakit Jongin!"

Jongin menyeringai kecil.. "Sebodoh amat, Kau kenapa sih jadi ma-manja begitu! Seram tahu tidak!"

Sehun melongo, "Seram katamu?"

Jongin tertawa pelan, dia mengusap wajah Sehun dan mencium pelipis kiri Sehun yang masih menyisakan lebam biru berkat berbenturan dengan bola voli yang diservis kuat oleh atlet berbakat alias Luhan, si sosok manis yang memiliki Nama serupa kekasih masa lalunya namun dalam bentuk fisik juga kepribadian yang berbeda.

Ah, Mengenai siapa pemilik hatinya sekarang –sudah Jelas hanya Sehun seorang.

"Yah, saking seramnya aku berusaha keras untuk tidak menyerang dirimu, creamy."

"Chk. Sial. Belikan aku Ramen, lapar nih!"Sehun berusaha menutupi wajah meronanya dengan cara memberi perintah kepada kekasih yang memang sudah Sehun ketahui tingkat yadongnya tak bisa di toleransi lagi.

Jongin melumat bibir atas Sehun lalu menjamah leher halus milik Sehun, meninggalkan tanda merah juga suara nafas Sehun yang terengah cepat, Pemuda berdarah campuran itu menahan diri semampunya, yah kalau tidak tahan lagi tinggal -bawa Sehun kealtar Gereja lalu di halali olehnya tapi Pikiran positif Jongin masih menang tuh.

Maka dari itu dia kini menggendong Sehun untuk dibaringkan keatas bangsal sementara Jongin sendiri mengambil kursi lalu menggegam jemari Sehun. "Tidak boleh makan sembarangan, apalagi ramen. "katanya tegas membuat Sehun tak mampu menolak karena Jongin terlihat begitu dewasa juga berkali lipat Tampan ketika memasang senyuman lebar yang tak pernah ditujukan oleh Sehun. Paling mentok yah hanya senyuman yang minta ditonjok. Bibir seksiable milik Jongin mengecup pelan jemari kiri Sehun, bariton dalam itu terdengar sangat menenangkan jantung Sehun. "Suster sudah mengantarkan bubur ini. Kau tidak boleh makan yang aneh-aneh."Tutur Jongin, sembari mengambil nampan dan segelas air yang sebelumnya berada diatas nakas.

"Ayo duduk dengan benar, ku suapi."Pungkasnya.

Meski Jongin terlihat sangat tampan, tetap saja Sehun berdecak lalu menutup mulutnya dengan telapak kanannya, alisnya yang nenukik menggambarkan bahwa pemuda itu menolak makanan rumah sakit yang jelas jauh dari kata yummy.

"Bubur macam apa ini, baunya tidak sedap. Dan lagi Kai, gue baik-baik aja. Jadi, kagak usah berlebihan! Oke!"

"Please, kau itu terkena dehidrasi, kelaparan, dan yang terparah penyakit mu bisa saja kambuh lagi."

Penyakit ...kambuh.. Yang mana.

Asma atau Bipolarnya?

"Aku merepotkanmu, maaf."si bengal menunduk dalam.

"Makanya kalo merasa bersalah, buka mulutmu –"

Walau enggan Sehun membiarkan bubur itu melewati kerongkongannya, dahinya mengernyit."chk, setelah ini aku tidak akan masuk lagi ke sini."Ucapnya.

"Kau sudah berkali-kali masuk rumah sakit, makan yang benar agar cepat keluar."Pungkas Jongin, Lembut.

"Hmm..."Balas Sehun, matanya tak berkedip saat melihat Jongin sangat telaten menyuapi dirinya, sesaat ia sangat menikmati perhatian Jongin.

"Jangan menatapku terus nanti kalau kita putus kau tidak akan pernah bisa move on loh!"

Sehun mencibir, "Kata-kata itu lebih cocok untuk dirimu!"Jongin balas mencibir, "Untuk ukuran murid bengal kau terlalu percaya diri."

Sehun menepuk dadanya bangga, "Karena, aku menarik dan langka"

Jongin tergelak, "HAHAHA, sampai saat ini aku tidak tahu bisa jatuh cinta dengan makluk tengik dan superbaka –sepertimu Gaki!"

"Gaki lagi, dasar om-om."ledekan itu tak begitu di abaikan Jongin. Jongin segera meletakan nampan itu diatas meja nakas dan Ia berdiri kemudian menangkup wajah Sehun dan mencium setiap inchi wajah Sehun bahkan bibir tipis itu tak perawan lagi karena bibir seksiable milik Jongin sudah sibuk melumat ganas di titik itu.

"hnnh.."keduanya mengerang kompak, Jongin sudah menindih tubuh Sehun yang terbaring pasrah merelakan bibirnya dihabisi oleh si seksi berkulit kecoklatan hot itu. Ada jeda untuk memenuhi paru-paru dengan oksigen, kedua mata itu saling memandang penuh pujaan dan bibir itu kembali bergulat, lidah yang saling melilit, langit-langit mulut yang di jelajahi begitu teliti, jemari Jongin yang mulai sibuk membuka satu persatu kancing kemeja rumah sakit itu dan Sehun melakukan hal yang sama.

Brak!

"OH SE -MY GASP! SORRY JONGHUN (jonginsehun)!"Baekhyun buru-buru menutup pintu dan terdengar gelak tawa merdunya di sepanjang koridor.

"Unhh. .berhenti, Kai."protes Sehun saat Jongin masih saja menyibukan bibirnya pada niple Sehun. "Apa kau tidak malu? "tanya Sehun, ketus.

Jongin menghentikan aksinya hanya untuk kemudian menggelitiki pinggang Sehun hingga menuai gelak tersiksa dari si creamy. "Berhenti, hei -Hahahaha, hentikan!"

Jongin ikut tertawa, dia suka mendengar tawa Sehun, itu terdengar lucu. "Ampun tidak?"goda Jongin, Sehun bahkan sudah mengeluarkan air mata karena kegelian.

Tok! Tok!

Sampai suara pintu yang diketuk dari luar membuat keduanya terdiam kaku, Jongin buru-buru turun dari bangsal itu dan membenahi kancing kemejanya begitu juga dengan Sehun, saat selesai berbenah Sehun segera mempersilahkan entah siapapun untuk masuk. "Masuk saja."serunya agak keras dan tak lama pintu bernomor 512 itu terbuka menampakan wajah imut Kyungsoo dan si Myeonki berwajah segar itu.

"Hai, Hun!"sapa Kyungsoo, Suho hanya diam mengikuti langkah Kyungsoo

"Hei, Kyung. Kenapa dia bisa ikut?"tanya Sehun, heran saat melihat pemuda bernama banyak itu mau menjenguknya.

Kyungsoo tersenyum, "Aku yang memaksa."jawab Kyungsoo. "Bagaimana kepalamu?"tanya Kyungsoo meringis saat melihat lebam biru itu bertengger di kening Sehun. "—pasti sakit?"

Sehun mengangguk setuju, "Memang sakit."pemuda itu melirik Jongin yang sejak tadi saling tatap dengan Suho. Okelah kalau tatapannya itu biasa-biasa saja lain cerita lagi kalau sorot mata Jongin penuh dendam begitu. "Kalian berdua sepertinya saling merindukan satu sama lain ya."sindir Sehun.

"Mereka terlibat cinta aneh, Hun. Aku masih ingat sekali kedua orang tidak jelas ini bertengkar dengan nggak keren sama sekali"Jelas Kyungsoo.

Suho dan Jongin bersamaan memandang Kyungsoo, Jongin yang takut kejadian menggalaunya dibocorkan oleh si mata belo sementara Suho yang malu dan ingin membunuh Jongin jika mengingat hal memalukan itu.

"Wah, sepertinya cukup menarik. Ceritakan padaku Kyung!"

"JANGAAN?!"jongin dan Suho saling membuang muka ketika mereka berteriak bersamaan. "JANGAN MENGCOPYKU MR. AHO!"Jongin menuduh.

"KAU YANG JANGAN MENGCOPYKU, GIGI OMPONG!"suho berseru tak terima. "Jangan sembarangan menuduh kau ya!'tambahnya lagi berapi-api.

"Tuh, lihatlah. Mereka mesra sekalikan"Sela Kyungsoo dengan wajah geli.

Sehun mengangguk antusias"Kita panggilkan Hangeng ssaem saja untuk menikahkan mereka berdua. Hahaha! Bayangkan mereka menjadi sepasang suami-isteri! Hahaha?!"tawa Sehun terdengat begitu menyebalkan bagi 2 objek berwajah tampan dan sama-sama berotak pintar itu.

Kyungsoo memasang wajah tak setuju. "Kalau mereka bukan suami-isteri tapi sepasang aho-stupid yang saling mencintai. Ihihihi!"

Jongin siap mencubit pipi Sehun dan Suho yang siap menggigit tangan Kyungsoo namun gagal ketika sapaan hangat terdengar dari ambang pintu.

"Apa kabar, Hunna!"

Ke-empatnya menoleh dan mendapati 1 orang wanita serupa Sehun dan seorang pria gagah berekspresi hangat lalu 1 pria dewasa lagi dengan berekspresi dingin seperti Jongin.

"Mamah dan Papah."gumam Sehun kaget.

"Kau sudah datang Tou-san. Dimana Kaasan?"Jongin mendekati Pria berwajah dingin yang tak lain adalah Ayahnya dan memberi pelukan hangat untuk pria dewasa itu kemudian memandang orang tua Sehun bergantian ,di iringi senyuman formal. "Salam kenal, Nyonya dan Tuan Oh. Saya Kim Jongin dan ini adalah Ayah saya."katanya sopan.

Sehun merasa geli akan tingkah Jongin yang ke lewat sopan, menurut penilaian Sehun perilaku Jongin saat ini nampak seperti pria terhormat yang setiap detiknya di beri wejangan bertindak sopan dan formal disetiap pertemuan.

Orang tuanya itu berwatak santai dan tak begitu menjinjing keformalan maka dari itu kini dua orang dewasa itu hanya tersenyum canggung.

"Salam kenal juga, anak tampan. Kau teman Sehun?"

Jongin kaku selama beberapa saat, bingung menjawab, Ia meminta persetujuan Sehun untuk mengatakan sebenarnya tetapi hanya gelengan yang diberikan Sehun. Ada rasa kecewa dihati Jongin tapi toh Ia memilih setuju karena Ia yakin Sehun memiliki alasan untuk tidak mengatakan kebenarannya.

"Kami teman sekelas dan saya adalah mentornya."

Ekspresi Nyonya Oh berubah senang, "TERNYATA KAU! AH, AKU SANGAT BERTERIMA KASIH, NAK! SELAIN TAMPAN KAU JUGA SANGAT PINTAR!"jongin terlalu kaget untuk merespon sifat ceria dan semangat yang di miliki Nyonya Oh.

"Haha, ya begitulah."

"Hm, aku penasaran bagaimana kau mengajari anak ini. Aku sebagai Ayah saja sudah angkat tangan untuk mencarikannya guru privat semasa SMP dulu karena kebengalannya itu."Tuan Oh tanpa sadar membuka aib.

Sehun menutup muka untuk menyembunyikan wajah malunya.

"Hey, nak kami ingin bicara sesuatu padamu. "tiba-tiba Tuan Oh dan Tuan Kim menarik Jongin keluar dari dalam kamar itu.

"Eh, kemana?"paniknya. "SEHUN! AKU PERGI DULU, CEPAT SEMBUH!"

"OK! SSAEM!"

.

Malam harinya...

.

Suara kamar rawat Sehun diketuk, Ia mempersilahkan masuk tanpa ada rasa curiga.

Pintu terbuka dan disana nampak seorang pria bertubuh gagah dengan balutan seragam dokter. "Pemeriksaan malam, dok?"

Dokter bermasker itu mengangguk, dia menyuntikan suatu cairan pada infusnya dam Ia hanya terperangan ngeri ketika wajah yang sangat familiar terpampang begitu master itu terbuka. "Mr. Lee –"Ia bersiap berteriak meminta pertolongan namun kesadarannya perlahan terambil. "Kai."Mata coklat itu terpejam.

"Ck, kau... hatimu telah terikat oleh lelaki sialan itu. Tapi, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu kembali meskipun itu harus melukaimu, sayangku."

Plok! Plok!

Mr. Lee menepuk dua tangannya dan tak lama munculah 2 orang bawahannya, "Bawa dia ke markas."titahnya dan diangguki oleh 2 pria itu tanpa ada balasan berarti.

.

Selama berjam-jam Jongin terjebak diantara dua pria dewasa yang sudah mabuk berat, Jongin berdiri"Bill."Serunya, datanglah seorang pelayan dan menunjukan tagihan yang jumlahnya tak sedikit. Ia menyerahkan kartu Atmnya, pelayan itu menuju meja pembayaran dan segera mengembalikan kartu atm milik Jongin.

"tolong pindahkan 2 orang itu diatas atap."

Pelayan itu tak mengerti tapi toh Ia hanya mengangguk setuju

"terimakasih."katanya geli, lalu pergi begitu saja.

"Sehun pasti belum tidur."gumamnya.

.

Ada rasa cemas yang menggelenyar disudut hati Jongin sejak diperjalanannya tadi. Dan itu terbukti karena saat Ia sampai dikamar Sehun, ada keributan didalam sana. "Nak Jongin, Sehun menghilang."suara panik dan khawatir itu meresap dipendengaran Jongin. Ia tercekat saat merasakan wanita dewasa itu menangis tanpa suara. "Tolong cari dia."mohon Nyonya Oh."seandainya aku tidak meninggalkannya untuk pergi ke kantin bawah. Sehun anakku, tidak akan hilang... Huks!"ada penyesalan di suara itu.

Jongin melepaskan pelan pelukan Nyonya Oh. "Aku akan menemukannya."

Getaran pada ponselnya sempat mengejutkan Jongin, Ia mendapat pesan dari nomor asing dan terperangah kaget begitu membaca isi pesan itu.

"Aku harus pergi, tolong jemput Paman dan Ayahku di kedai Kinomi, jalan Charlessto."Jongin lalu pergi tanpa menoleh lagi.

.

Kau ingin cintamu selamat, datanglah ke Jln. Constanocjelin, Diantara reruntuhan itu kau akan menemukannya. Entahlah mati atau hidup, berdo'alah ku masih memiliki belas kasih'

From : 01xxxxx

.

Di dunia ini pasti ada yang kau benci. Karena, aku juga begitu. Benci saat aku harus mencintai dan memaksa hatiku untuk tetap tersenyum disaat hatiku sebenarnya tengah terluka. Aku benci mencintai karena disaat yang menyedihkan aku harus siap untuk kehilangan orang yang paling ku cintai.

Siapapun, katakan sosok tampan disana bukanlah anak didiknya.

Bukan sosok Oh Sehun.

Bukan juga Hunnie-channya.

Dan bukan juga orang yang satu malam ini membuatnya merasa sempurna.

"OH SEHUN!"Jongin berlari terburu, hatinya merasa diremas menyakitkan ketika Sehun di hajar habis-habisan oleh orang-orang bersetelan hitam-hitam, jumlahnya bahkan lebih dari 10 dan diantara mereka ada sosok yang sangat dikenalnya..sosok yang sehari lalu sempat akan membawa pergi Sehunnya, dia pria yang waktu itu.

"Mundur."Perintah Mr. Lee dingin.

Para pria bersetelan hitam-hitam itu membubarkan diri dan berdiri di kanan kiri, pemimpin mereka yang tidak lain ada Mr. Lee sendiri. "Apa kabar, bocah sialan?"

Jongin mendesis jijik, dia mengabaikan pria itu dan membawa Sehun kedalam pelukannya, menangisi wajah Sehun yang jauh dari kata baik-baik saja, ciuman kecil mendarat di kening Sehun dengan aliran air mata yang merembes deras dari mata hitam Jongin, matanya menggelap melihat kondisi kekasihnya itu dalam keadaan tak sadarkan diri."Sayang, kau bisa mendengarku."Bisik Jongin, air matanya tak jua berhenti turun.

"Dia tidak mati, yeah...setidaknya belum."

Jongin mengusap air matanya dengan kasar, matanya menajam benci. "Kau akan tau rasanya berada diambang kematian."

Mr. Lee tergelak geli,"AHAHA! Bocah ingusan sepertimu sok sekali mengancam mafia berpengalaman seperti ku."

Jongin menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskan secara perlahan, mata hitamnya jauh lebih gelap dan sarat akan kemurkaan namun pikirannya lebih terorganisir dibandingkan beberapa saat lalu.

Mr. Lee mundur selangkah. Dia memang mafia berpengalaman, sorot mata kejam, palsu dan hal gila lainnya sudah pernah dilihat secara langsung oleh mata tajamnya dan entah mengapa aura pemuda belia didepannya membuat tubuhnya dengan spontan tergerak mundur tanpa ada apapun yang mengancamnya.

"Mari kita bertaruh."

Mr. Lee tak langsung menerima, ada dorongan didalam sudut hatinya untuk tidak berkata 'baiklah' namun harga dirinya sebagai seorang bos mafia tak ingin menolak, 'ini hanya sekedar taruhan omong kosong, pengajuan dari seorang bocah sepertinya.'pikirnya, 'untuk apa aku harus khawatir'dia berargumentasi dalam kebimbangan.

"Sir, Pemimpin ingin bertemu dengan Anda."

Mr. Lee tersenyum lega, 'hey, ada apa denganku. Apa aku ketakutan hanya karena tatapan anak bau kencur sepertinya'

"Si -"

"Diam, Jung op! Aku tidaklah tuli."

Jung op menunduk dalam. "Maaf, Sir."

"Dan kau bocah tengik. Kau dengar itu, aku harus menemui pemimpinku!"Bentak , matanya mengancam, Ia semakin didera kekesalan begitu melihat tak ada reaksi berarti diwajah bocah yang menurutnya tengik tersebut.

"Kau hanya bawahan tapi berlagak seperti bos, cih sampah sejati, benalu yang harusnya dimusnahkan!"Jongin berteriak dengan lantang, mengurut urat kemarahan didalam sorot mata . Tersinggung pastinya.

"Tanganku terlalu bersih untuk menghabisi manusia sialan seperti dirimu. Kau mau taruhan, Jong up akan meladenimu!"

Jongin mendecih jijik, cibiran sinis yang tak pernah di tujukan oleh siapapun itu nampak begitu ringannya. "Aku memberimu pilihan, tetap disini bertaruh denganku atau pergi dan kau akan tahu rasanya mendekati kematian."

"HAHAHA! Jangan menakutiku bocah."

"Aku tidak menakutimu, tapi memperingatimu."Jongin membelai lembut helaian rambut milik Sehun dengan penuh kelembutan.

"Sayang, kau tidak mau bangun. Aku tidak tahu kalau kekasihku yang selalu berhasil membuatku marah-marah dan kewalahan, langsung tak berdaya hanya karena tinjuan-tinjuan para tikus benalu seperti mafia-mafia sampah didepan kita."Jongin kembali memanasi, semua pria bersetelan hitam disana mengepalkan tangan dengan raut tak jelas, takut akan nada santai Jongin, ada yang terlihat ingin membunuh Jongin saat itu juga dan bahkan ada yang telah bergerak mundur sejauh mungkin dari Jongin.

"Hahahaha!"

Itu bukan tawa Jongin, bukan juga tawa Mr. Lee namun itu suara dari Oh Sehun, Jongin membelalakan mata. "Kau?"

"Kenapa, elo kaget begitu sih."suara Sehun sangat berbeda. Jongin bahkan tak mengenali Sehun saat ini.

"Gue udah capek sembunyi, mumpung Sehun lagi tidur. Gue mau bersenang-senang dulu!"

Entah kenapa Jongin tertarik untuk mengulas senyum, "Kau... Aku izinkan memakai Sehun. Jangan buat wajah atau tubuh bagian lainnya terluka lagi."

"Fine. Asalkan kau berjanji tidak akan pernah meninggalkannya lagi."ada suara memohon disana.

Jongin mengangguk. "Aku berjanji."

Dan keduanya bersama-sama menyerang 20 mafia itu dengan wajah senang.

.

.

.

Ah, Ada yang mau review gak?

See you in next chapter... Ciao. Everybody!

Makasih yang masih setia sampai Chapter sekarang. Dan makasih juga yang udah mau baca sekaligus yang udah mau Review diawal-awal walau sekarang udah pada lupa.

Hehehehe... Love ya guys! Salam hangat dari San Kim.