Sehun membuka mata dan tawa itu terdengar, dia merasa lain, itu mata dan tubuh Sehun namun dia menyebut dirinya. "Karma."

.

Judul : Kick Or Kiss

Author : San Kim

Main cast : Kaihun.

Other cast : OT12

Warning : Zona Kaihun, yang tidak suka jangan baca

.

.

.

Sehun tidak sedang bermimpi...karena darah itu mengenai wajahnya, tubuh itu tumbang karena tinjuannya, namun aneh...ini aneh, dia tidak melakukan itu sendiri karena seolah tubuhnya bergerak tanpa perintah atau kemauannya.

"Sehun!"

"Diamlah, Kai!"bahkan Sehun tak mengenali suaranya yang terdengar aneh.

"Hentikan! Dia sudah sekarat, BODOH!"teriak Jongin lagi, Sehun mengenal suara itu, karena pemilik suara itu adalah mentornya, orang yang membuatnya mampu melawan rasa phobianya. "Kau bukan pembunuh, kau hanya murid biasa. Jangan merusak masa depanmu, idiot!"Mata Sehun terarah kebawah sana –benar saja sosok itu sudah berlumuran darah, tak sadarkan diri namun sudut hati Sehun merasa panas dan begitu benci dan kakinya melayang, menghantam dada sosok berlumuran darah itu.

"Sehun!"teriakan itu masuk kedalam pendengaran Sehun namun tubuhnya bergerak sendiri lagi dan lagi. "MATILAH SAMPAH!"...teriakan penuh kebencian itu..."Aku Karma, Aku bukan Sehun!"

.

.

.

Di Rumah sakit.

"Astaga, kenapa Jongin tidak juga mengabari kita. Apakah dia sudah menemukan anak kita."Nyonya Oh bergumam dalam ketakutan, Baekhyun mendengar dan mengelus bahu Ibunya.

"tenanglah, Bu. Dia akan baik-baik saja, percayalah pada Kim Jongin."katanya berusaha menyurutkan kecemasan yang sedang dirasakan Ibunya sejak 3 jam lalu.

Jujur saja, tidak hanya Ibunya –Baekhyun juga khawatir berat, Sehun tidak pernah menghilang selama ini. Bahkan jika kemanapun bocah itu pergi, dia pasti akan izin terlebih dahulu dengan Baekhyun atau minta diantarkan ketempat yang di inginkannya. Sehun juga sangat manja pada dirinya tapi Baekhyun tidak pernah tahu kalau adik semata wayangnya itu terlibat penculikan, bahkan hampir mati beberapa tahun silam.

"Hiks, Ibu bahkan baru melihatnya tadi malam. Ibu benar-benar merasa begitu jahat, karena selama tiga tahun dia bersekolah, Ibu tidak pernah mengunjunginya karena tuntutan perkerjaan bodoh itu. Ibu menyesal, Baek-sayang. Hiks, maafkan Ibu juga karena tidak pernah memperdulikan kehidupanmu, Ibu terlalu menenggalamkan diri pada rasa bersalah tanpa menghiraukan bahwa kalian masih ada didunia ini, maafkan Ibumu ini nak. Hiks."

"sssht, sudahlah Bu. Sehun mengerti dan aku juga begitu, trauma itu membekas dan sulit untuk mengobatinya. Jadi tidak ada yang perlu disalahkan, jadi jangan pernah berfikiran Ibu adalah sosok wanita gagal, kami menyayangimu itulah yang terpenting."

"terimakasih sayang, terimakasih atas pengertian kalian berdua."

"Ya, bu."

.

.

.

Sehun berhenti melakukan tindakan menyiksa tubuh tak bernyawa atau tidak itu.

Tubuhnya terduduk diatas tanah, wajahnya tertunduk dengan ekspresi lelah. Wajahnya sudah babak belur, perut dan bagian tubuhnya lain serasa pegal-pegal, dia menggaruk perutnya dengan kuku yang terlumur darah –sisa dari perkelahiannya dengan mafia-mafia kelas teri yang Ia habisi bersama –Kim Jongin atau Kai, sengaja Sehun menoleh kearah Jongin, dia menemukan Jongin tergeletak dengan deru nafas cepat dan tak beraturan seperi kondisinya juga.

"Kai."panggil Sehun dengan suara merintih. Dia mulai meremas dadanya yang terasa seperti ditekan batu besar –sesak sekali.

Jongin langsung bangkit dan merapatkan diri pada Sehun dengan posisi kaki bersila sementara tubuhnya menarik Sehun, meniup pelan kening Sehun, "Tidurlah. Aku tau kau kelelahan."katanya, lembut sekali.

Nafas Sehun memang sesak tetapi dia terlelap begitu saja mendengar suara berat Jongin yang mengalun lembut seolah memberi rasa aman dan Ia memejamkan untuk kemudian tertidur didalam pelukan Jongin. Sebelum tidur dia sempat mendengar suara Jongin yang berbisik, "Selamat tidur, sayang."

.

.

.

Seminggu setelah kejadian tak terduga dalam pemikiran seorang Kim Jongin. Sehun masih belum juga bangun, Sehun tidak mati suri tetapi dia benar-benar tidur dengan nyenyak selama 1 minggu berturut-turut dan tepat dimalam hari, ditengah malam –suara Sehun akhirnya bisa didengar Kim Jongin.

"Kau sudah bangun."itu kata Jongin saat Ia terjaga dan mendapati mata Sehun yang terbuka lebar sembari menatapnya sendu.

"Kai."

Jongin langsung menggenggam tangan Sehun yang terulur. "Ada apa, sayang?"jawab Jongin, dia menarik kursi kosong didekat ranjang Sehun lalu duduk disana sambil mencium telapak Sehun berkali-kali.

"Apa ada yang sakit, aku akan panggil Dokter dulu."Jongin sudah siap berdiri tetapi tangannya malah digenggam semakin erat oleh Sehun, jadi dia tetap dalam posisinya dan hanya memandang Sehun, mematri segalanya hanya untuk Sehun.

Mata Sehun berkaca-kaca, "Aku merindukanmu."katanya, serak. "Tapi, ku rasa kau tidak?"sambung Sehun terdengar parau dan kecewa.

Jongin langsung mendesah, "Kenapa kau berpikir berat setelah bangun dan membuatku tidak bisa hidup dengan tenang."sungut Jongin.

"Kalau begitu kau tidak mau memeluk ku?"

Jongin melongo, Sehun benar-benar manja tapi dia suka itu. Ah, Jongin sadar –dia menyukai segalanya yang ada dalam diri Sehun termasuk sifat kurang ajar –kekasih hatinya itu.

"Kau minta dipeluk."ulang Jongin.

Sehun hanya mengangguk dengan wajah polosnya. Membuat Jongin gemas sekali.

Jongin segera saja ikut membaringkan diri di bangsal Sehun, memeluk Sehun erat. Menciumi kening, hidung dan –bibirnya juga. dia juga rindu, sama-sama kangen sekali dan dia menyadari Sehun tengah memandangnya dengan sorot mata –bahagia. Tangan kiri Sehun memegangi dada kiri Jongin, ada senyum lebar diwajah pucat Sehun, "Jantungmu seperti ditabuh tanpa jeda. Kau pasti berpikiran mesum sekarang."tuduh Sehun.

Jongin menggeleng, "Tidaklah, kau baru saja bangun tapi sudah mulai mengeluarkan sifat menyebalkanmu, Hun."

Sehun hanya tersenyum saja.

Mereka saling bertatapan lama, sampai Jongin bersuara lagi. "Kau sudah siap?"

"Apanya, siap untuk apa?"tanya Sehun menautkan alisnya tidak paham.

Senyuman tampan itu terpoles dibibir Jongin. "Menjadi milikku seutuhnya."

Butuh waktu 5 detik untuk Sehun memahami kata-kata Jongin dan ketika mengetahui apa maksud dari perkataan Jongin, wajahnya langsung merona. "Kau –kau mesum sekali!"pekik Sehun.

Jongin malah terheran-heran, "mesum apanya sih, sayang?"

"Ya, Kau. Kau mau having sex denganku, padahal kau tau aku baru saja sadar."Sehun memilih untuk langsung to the point saja daripada menunggu Jongin untuk mengaku.

Anehnya Jongin langsung tertawa keras saat mendengar ucapan Sehun. "Ahahaha, kau –pfft. Duh, duh yang mesum itu yang kau. Aku sedang membicarakan tentang masa depan kita, sayang."

Mulut Sehun terbuka agar lebar lalu dia tiba-tiba menyembunyikan wajahnya didada bidang Jongin, "Hahaha, kau jahat sekali."kata Jongin. Agak kesal juga dituduh begitu padahal Jonginkan punya otak dan berpikir juga. "Tidak selamanya orang mesum akan terus mesum, sayang."

Sehun tak bereaksi, sepertinya dia lebih suka menyembunyikan diri didada bidang Jongin, menuai senyum pada Jongin. "Ya, kalau aku mau sebenarnya mudah saja sih. Toh hanya ada kita berdua disini. Hehehe"Ia tertawa aneh.

Tangan kiri Jongin terangkat, mengelus pelan helaian coklat milik Sehun. Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari rambut Sehun yang meski terbaring diatas ranjang dan tak pernah mandi sama sekali, -bau tubuh Sehun tetap berbau citrus, benar-benar unik dan manis –yang pasti Jongin menyukainya.

.

.

.

Chanyeol memang selalu ke Club malam hanya sekedar meminum 1 gelas cocktail lalu pulang ke apartemennya. Tapi, malam itu agak berbeda dia jadi bertahan lebih lama begitu menemukan satu partner kerjanya yang bernama Oh Baekhyun duduk dengan 3 botol soju diatas meja pemuda itu. Bibir pemuda itu tak berhenti tersenyum, tapi Chanyeol dibuat heran karena Baekhyun juga sedang mengeluarkan air matanya.

Dia tidak berniat mendekat tapi tubuhnya sudah duduk diseberang Baekhyun memberi pandangan prihatin kepada Baekhyun. Dia tidak kenal akrab dengan pemuda ini selain sebagai teman kerja saja dan tak lebih. Tapi, dia jadi penasaran –apa yang membuat aktor yang selalu berisik ini memasang wajah minta dipeluk begitu.

"Kau."pekik Baekhyun, dia tidak benar-benar mabuk. "Park Chanyeolkan?"tanya Baekhyun dengan mata menyipit ah tidak mata Baekhyun memang selalu seperti itu, minimalis tapi sangat lucu apalagi ketika tersenyum.

Chanyeol hanya memasang senyum lebar andalannya, lalu bertanya hati-hati. "Apa yang dilakukan pemuda sepertimu disini?"

Wajah cute Baekhyun merengut samar, "Memangnya salah. Inikan tempat umum?"tandasnya agak galak.

"Ya, tidak salah sih. Aku hanya heran saja, tidak menyangka pemuda bawel dan tidak pernah terlihat merokok sepertimu mau datang ketempat seperti ini."

Baekhyun meletakan kepalanya diatas meja, sembari memandang Park Chanyeol agak lama lalu tertawa kecil. Matanya beralih lagi memandang satu gelas yang masih bersisa soju. "Ehehe, aku hanya sedang bahagia saja."jawab Baekhyun.

Bahagia lalu kenapa kau menangis?, tanya Chanyeol didalam innernya.

"Kau aneh, yah aku tahu bukan siapa-siapa selain teman kerja mu tapi aku hanya ingin bilang kalau kau ingin berbagi, emm aku siap mendengarkan."kata Chanyeol.

Baekhyun menggigit bibirnya, ragu-ragu. Dia menegakan tubuhnya, menarik nafas dan mengeluarkan perlahan, setelah itu berdiri. "Temani aku jalan-jalan."

Chanyeol tidak pernah menuruti perintah orang lain tapi saat itu, ketika tangan Baekhyun terulur dia langsung menerima dan mengikuti pemuda itu pergi dan dia tersenyum lebar.

Inilah Oh Baekhyun yang aku ketahui ketika dilokasi syuting, berisik dan hyperaktif, komentar Chanyeol didalam innernya lagi.

.

.

.

Pendek ya...haha. Iya, aku tahu kok.

Maafin, semoga kalian msih mau review.

Ciao.. See ya in next chapter :) :) :)