FANFICTION

AUTHOR : SILENTPARK VINDYRA

TITLE : MY HEART'S FLOWER

CHAPTER 2

CAST :
-) UZUMAKI NARUTO
-) HYUUGA HINATA
-) INUZUKA KIBA
-) HARUNO SAKURA

OTHER CAST :
FIND BY YOURSELF!

DISCLAIMER :
MASASHI KISHIMOTO

GENRE :
PERHAPS… ROMANCE. (^_^)

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.

HAPPY READING…

Hinata POV's

*At School*

Haaah… kembali ke sekolah, ya…? Rasanya seluruh kakiku lemas saat berjalan menyusuri lorong gedung sekolah… dan kenapa aku menuruti permintaan Naruto-senpai untuk ke sekolah bersama?! Baka, baka!

"Hoi! Naruto!" aku mendengar ada yang memanggil Naruto-senpai. Eh? Sasuke-senpai, toh…

"Yo," jawab Naruto-senpai datar.

Aku heran, apa dia tidak punya ekspresi selain tampang menyebalkan begitu, ya?

"Hei… kau jalan dengan cewek? Ada kemajuan apa?" ujar teman satu geng-nya yang lain, Gaara-senpai.

"Hinata? Apa yang kau lakukan disini?" tiba-tiba Neji, kakak sepupuku, menegurku.

"Ah, tidak… aku hanya…"

"Dia menemaniku bolos tadi," jawab Naruto-senpai tiba-tiba.

"Menemanimu bolos?! Hinata, kenapa kau mau? Dia ini orang berbahaya, tahu!" tukas Neji memelototiku.

"Orang berbahaya katamu? Heh!" Naruto-senpai tersenyum sinis.

"Ah, tidak… aku tidak sengaja bertemu dengannya saat di taman Konoha tadi…" aku berusaha menenangkan Neji.

"Jadi… kau betulan bolos?"

"I… iya…"

"Akan kulapor pada Paman nanti!" ancam Neji padaku. Waduuh!

"Ne, Neji! Jangan!"

"Siapa suruh bolos?! Pokoknya nanti kulaporkan!"

"He, hei! Jangan! Kumohon…! Pelajaran pertama di kelas sangat membosankan! Makanya aku bolos!"

"Pelajaran kedua? Bagaimana dengan pelajaran kedua?!"

Aku menelan ludah saat itu.

"A… itu… kufikir tanggung karena setelahnya bel istirahat, jadi…"

"Kulaporkan, titik!" Neji pun berlalu.

"Neji! Jangan!" aku menarik-narik lengan baju Neji, meminta belas kasihan darinya.

"Takkan kuulangi deh, janji," lanjutku.

"Benar, ya?"

"Iya…"

"Baiklah…" dia melihatku dengan tatapan jahil.

"Tapi menjaga rahasia itu tidak gratis, lho…" lanjutnya sambil menyeringai seram.

"Ma, maksudmu…?"

"Hehehe…"

GLEK. Aku menelan ludah lagi.

*Mohon Tunggu Sebentar*

SKIP.
Ah! Dasar Neji! Dia merauk setengah uang jajanku! Dasar, tahu begini lebih baik aku didamprat Ayah saja, deh! Huhuhu… uangku tercinta…

Kenapa rasanya hari ini aku sial sekali, ya? Sakit hati, bertemu orang menyebalkan, dan kehabisan uang. Ya ampun… benar-benar menyedihkan sekali…

"Hinata?!" tiba-tiba kudengar suara familiar yang begitu mengejutkanku. Ya, tidak salah lagi… Sakura-chan…?

"Sa… Sakura-chan…?!"

"Kenapa kamu bolos pelajaran pertama dan kedua tadi? Tidak biasanya…" ujarnya bingung.

Jangan sok polos begitu dihadapanku!

"Apa itu jadi masalah bagimu?!" jawabku sinis. Akupun berlalu meninggalkannya.

Ah, sungguh menyebalkan! Sakura-chan benar-benar menyebalkan! Tapi kurasa yang lebih menyebalkan itu aku…

Aku berlari menuju halaman belakang sekolah. Inilah satu-satunya tempat di sekolah yang aku percaya untuk merenung. Aku melamun sambil memandang bunga Gerbera yang tumbuh subur disana.

"Bunga Gerbera, kamu tahu? Hari ini betul-betul memilukan bagiku. Rasanya aku ingin menghilang saja…" ujarku lirih.

"Sungguh, aku ingin menangis. Aku ingin meluapkan perasaanku saat itu agar aku lega, tapi kenapa tidak bisa…? Air mataku tidak mau keluar…

"Aku pergi begitu saja, meninggalkan Sakura-chan yang mengkhawatirkanku. Sungguh menyebalkan, bukan? Memang aku marah padanya tapi… rasanya juga tidak patut aku meninggalkannya begitu saja, 'kan? Dia sahabat yang telah berkhianat tapi… tapi tetap saja sahabat itu… bagai menumbuhkan sebuah bibit kegembiraan di hati… tapi 'kan, dia berkhianat! Aaah! Kenapa aku jadi bimbang begini, sih?!" aku mengacak-acak rambutku sambil meneruskan curahan hatiku pada Bunga Gerbera yang tumbuh begitu cantik diantara rumput liar…

Lagi-lagi aku merasa iri pada bunga yang tumbuh begitu cantik, seakan-akan terjangan apapun tidak akan mengurangi keindahannya. Haah… payah banget, deh…

"Hyuuga-chan!"

Terdengar suara yang begitu kunantikan, suara yang begitu kusukai, dan terdengar memanggilku… Kiba-san…?

"Ki, Kiba-san?!" aku langsung gelagapan saat bertatapan dengannya.

"Hyuuga-chan…" dia mulai berbicara.

"Apa kamu bertengkar dengan Sakura?"

Ucapannya membuatku tersentak.

"Hmm…" gumamku lirih.

"Hyuuga-chan?"

"Entah. Dia cerita padamu, ya?"

"Tidak. Tapi tadi aku lihat kamu menghindarinya, ada apa? Biasanya kalian selalu bersama, 'kan?"

Kiba-san melihatnya. Ini hukuman untukku.

"Ah, aku cuma merasa tidak enak badan. Makanya aku tidak mau bicara dengan siapapun dulu," ujarku berbohong.

"Benarkah?"

"Ya…"

"Baiklah, aku tidak akan menanyakan apapun lagi. Beristirahatlah, akan lebih baik kalau kamu pergi ke UKS."

Dia melambaikan tangan padaku, aku tersenyum padanya. Tapi sebenarnya aku semakin merasa sedih. Seharusnya aku senang dia datang padaku, tapi kenyataannya tidak. Karena yang ia pertanyakan bukan tentangku, tapi Sakura-chan. Ya, memang cuma Sakura-chan di hatinya.

"Tuh 'kan, bunga Gerbera. Aku malah semakin sedih bukannya senang. Wajar saja sih, soalnya Sakura-chan 'kan, pacarnya. Tapi…" aku menundukkan kepalaku.

"Aku ini… memalukan… bukan begitu, bunga Gerbera…? Terus berharap yang nggak akan pernah jadi milikku…"

Akupun memutuskan untuk berdamai dengan waktu, dengan segala yang kuhadapi saat ini. walau belum tentu aku bisa menghadapi Sakura-chan…

Hinata POV's end

Naruto POV's

"Namaku? Namaku Hinata."

Entah kenapa kalimat itu masih terngiang di kepalaku, disertai dengan senyuman kecilnya saat itu. Hinata, ya… nama yang lucu.

"Hoi, Naruto! Dari tadi bengong terus! Ada apa, nih?" suara Gaara begitu mengejutkanku.

"Tak ada apa-apa," jawabku datar.

"Hei, kayaknya kamu mikirin sepupunya Neji itu, ya?" ujar Sai menyerobot pembicaraan.

"Huh? Si Hinata itu, ya? Hmm, sedikit."

"Wah, ada kemajuan!" teriak Gaara ceria.

"Akhirnya kamu tertarik pada perempuan lagi, ya?" tukas Sai lembut.

"Tertarik? Kurasa tidak," jawabku datar (lagi).

"Wah, jangan begitu… ini suatu momen spesial bagi kami, lho…" Sai menepuk bahuku.

"Maksudmu?"

"Iya. Akhirnya kau bisa menemukan tambatan hati lagi, soalnya sudah banyak gosip kurang enak beredar tentangmu," cetus Gaara memasang wajah polos.

"Oh, gosipku yang penyuka sesama itu?" tanyaku sambil tersenyum dingin.

"Iya, yang itu," jawab Sai buru-buru.

"Masa bodo. Aku tak peduli gosip itu. Lagipula aku tak tertarik pada siapapun dan apapun," akupun berlalu meninggalkan mereka.

"Cih! Hei, Naruto! Ingat, Karma Does Exist, lho!" teriak Gaara sambil cekikikan.

Aku tak menghiraukannya.

"Naruto-senpai…?"

"Senpai sedang apa disini…?"

"Kenapa senpai bolos?"

Hmm, kenapa setiap kata-katanya selalu terbayang di ingatanku, ya? Kuakui, suaranya itu imut. Wajahnya juga cukup cantik, tapi tak menarik perhatianku. Namun kenapa masih terbayang saja di kepalaku?

"Namaku? Namaku Hinata."

"Namaku Hinata."

"Hinata."

"Hinata."

"Hinata."

Ah, namanya… selalu terngiang… Hinata… kenapa aku jadi memikirkannya begini? Padahal kami baru pertama kali bertemu dan tak ada hal spesial dalam dirinya…

Dia seolah telah menebarkan bunga di kepalaku.

Hinata… dia jadi membuatku penasaran begini. Baiklah… sepertinya aku memang sedikit tertarik padanya…

Sepertinya dia bunga yang berhasil membuatku ingin memetiknya.

Naruto POV's end

Hinata POV's

Aku kembali berjalan menuju kelas, menyusuri gedung dengan lemas. Sekarang mau bagaimanapun juga, aku harus berdamai dengan waktu. Yah, setidaknya aku tak ingin jadi cewek menyebalkan…

"KYAAA! NARUTO-SENPAI!"

Sepertinya tadi ada yang menyebut-nyebut Naruto-senpai? Ah, tidak salah lagi. Memang siswi-siswi yang sedang mengerubungi Naruto-senpai. Hmm, siapa sangka tadi aku bertemu dan kembali ke sekolah bersama salah satu siswa kelas tiga terpopuler di Konoha High School? Hahaha, kalau difikir-fikir mungkin itu keajaiban bagiku meski dia cuek dan acuh, begitu menyebalkan bagiku…

Kulihat Naruto-senpai mengacuhkan mereka yang tidak menyerah untuk mengajak bicara dia. Tapi hal tak terduga tiba-tiba terjadi…

"Hei… kau Hinata yang tadi, 'kan?" Naruto-senpai menghampiriku.

"Na, Naruto-senpai?"

Aku bisa merasakan aura-aura penuh kebingungan dari para siswi yang melihat kami.

"Senpai? Dia siapa?" tanya salah satu siswi.

"Eh… aku…" aku mencoba berbicara.

Tapi mendadak kurasa atmosfer kurang mengenakkan dari Naruto-senpai. Saat kulirik dia, ternyata dia sedang mengeluarkan senyuman sinisnya padaku.

GLEK.

APA YANG AKAN TERJADI PADAKU?

"Hmm, bagaimana aku mengatakannya, ya?" tiba-tiba dia mengatakan hal yang membuatku merasakan hal buruk akan terjadi.

"Mungkin bisa kubilang… dia "bunga"-ku," lanjutnya.

Naniiiiiii?! Apa dia bilang tadiiiii?!

"Ma, maksud senpai?" tanya gadis yang lain.

"Sesuai perkataanku tadi, "bunga"-ku. Dia pacarku."

"NANIIIIIIIIIIII?!" semua fans beratnya berteriak.

"Ap..?! Senpai?! Tunggu dulu?!" aku menoleh sengit padanya.

"Sssst…" dia menaruh telunjuknya di mulutnya, mengisyaratkanku untuk diam.

"Ikuti saja sandiwaraku," jelasnya lebih lanjut.

"HAAH?!" aku kebingungan.

Segera dia menarik tanganku dan berlari ke halaman belakang. Akupun kembali ke halaman belakang, hahaha… tunggu! Bukan itu masalahnya!

"Senpai! Apa-apaan?!"

"Habis, mereka keras kepala sekali," jelasnya dingin.

Ya ampun! Dia memang cari gara-gara denganku!

"Apa kau tahu masalah apa yang akan aku hadapi nanti?!" bentakku padanya.

"Tahu, kok."

"Lalu kenapa…?!"

"Cuma alat untuk meloloskan diri."

Aku langsung menamparnya kencang.

"Jangan besar kepala, ya! Mentang-mentang senpai populer!" akupun segera meninggalkannya.

"Tapi kau sudah tak bisa lolos, lho…" dia tersenyum sinis lagi.

"Hah?!"

"Semua orang sudah langsung percaya kau pacarku," tukasnya seraya mendekatiku.

"Eh?! Hei! Senpai, apa…?!"

"Sudah kubilang, ikuti saja sandiwaraku. Daripada nanti kau membantah, bukannya akan semakin bermasalah nanti? Ini untuk kebaikanmu juga, lho…"

GLEK.

Aku menelan ludah untuk kesekian kalinya.

Entah kenapa aku merasa dia bukan menyebalkan lagi, tapi menakutkan.

"Bagaimana…?" tawarnya padaku.

"Ba, ba, baiklah…" aku gemetaran.

"Tenang saja. Mungkin aku bisa menjagamu baik-baik karena kau sepupu temanku," tukasnya dingin sambil tersenyum penuh aura menyeramkan.

Yang bisa kulakukan sekarang cuma… mengangguk. Kali ini, dimulailah petualangan cinta palsu yang bagiku menakutkan.

Semoga aku baik-baik saja…

Hinata POV's end

To Be Continued…

Selesailah chapter kedua "My Heart's Flower"! Hahaha! Aku merasa ini kisah cinta yang lucu, bagaimana dengan kalian? Gomen kalau lagi-lagi ceritanya gaje, ya? Hehehee… sampai jumpa di chapter ketiga!