FAN FICTION

AUTHOR ; SILENTPARK VINDYRA

TITLE ; MY HEART'S FLOWER

CHAPTER 3

CAST :
-) UZUMAKI NARUTO
-) HYUUGA HINATA
-) INUZUKA KIBA
-) HARUNO SAKURA

OTHER CAST :
FIND BY YOURSELF!

DISCLAIMER :
MASASHI KISHIMOTO

GENRE :
PERHAPS… ROMANCE. (^_^)

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT!

HAPPY READING…

Author POV's

Kehidupan seorang gadis manis bernama Hyuuga Hinata yang tadinya aman, tentram dan damai, kini perlahan berubah menjadi agak kacau setelah ia menjadi "pacar" Uzumaki Naruto, senior kelas tiga di Konoha High School yang keren, dingin dan populer. Seringkali ia digunjingkan saat berada di lingkungan sekolah oleh murid-murid disana terutama fans dari Naruto. Kasihan sekali…

"Hei, itu tuh, pacar barunya Naruto-senpai…"

"Wajahnya biasa banget, kok! Kenapa bisa pacaran dengannya?!"

"Sebeeeel banget, deeh!"

"Rasanya aku ingin terjun dari lantai atas saja!"

"Aku ingin melemparinya tomat busuk!"

"Cewek nyebeliiiin!"

Itulah beberapa kalimat dari gunjingan-gunjingan para siswi. Sekali lagi, kasihan sekali…

"AAAAARRGGHH! AKU SUDAH NGGAK TAHAAAAN!" teriak Hinata sekencang-kencangnya di halaman belakang sekolah.

"Ada apa?" tiba-tiba Naruto muncul menghampiri Hinata.

"Senpai! Aku sudah tidak tahan dengan semuanya! Hampir semua siswi disini selalu memandangku dengan aura menyebalkan! Belum lagi mereka selalu mengejekku! Aaah, tidak, tidak…! Aku tidak mau melanjutkan sandiwara menyebalkan begini…!" pekik Hinata sambil menjambak-jambak rambutnya.

"Baru "hampir semua siswi", 'kan? Tidak "semua siswi"?" ujar Naruto santai bin adem ayem.

"Senpai nggak akan mengerti masalahku!" bentak Hinata penuh emosi.

"Lalu, maumu apa?"

"Aku nggak mau melanjutkan sandiwara ini! Akan kujelaskan pada semua kalau diantara aku dan senpai tidak ada apa-apa!"

"Silahkan saja, tapi tanggung resiko sendiri, ya? Ini belum seberapa. Kalau kau bicara seperti itu, tentu mereka akan semakin menyerangmu. Baka," Naruto berbicara dengan begitu santai dan dingin.

Hinata hanya bisa memasang wajah bete.

"Lalu apa yang harus kulakukan…?" tanya Hinata lemas.

"Yang harus kau lakukan? Mungkin tabah," jawab Naruto enteng.

CTAAAK!

Jitakan keras nan menyakitkan mendarat di kepala Naruto.

"Nani?!" Naruto terkejut.

"NYEBELIN, SEMAUNYA, SOK CAKEP, SOK KEREN, ASEEM!" teriak Hinata lagi, kali ini dengan emosi yang mendekati maksimal.

Lalu Hinatapun pergi meninggalkan Naruto.

"Hinata… sampai kapan kau akan diberi cobaan begini, ya…?" gumam Hinata dalam hati sambil berjalan lunglai.

Sudah satu minggu sejak Hinata menjadi "pacar" Naruto. Tapi baru satu minggu dia sudah tidak kuat? Ohohoho… wajar, karena Naruto itu memang jagonya mempengaruhi mental seseorang yang ada didekatnya. Orang itu bisa menjadi kesal, sebal, marah, takut, menangis, hingga stress. Separah itukah? Yap.

Saat Hinata sedang duduk di bangku kantin, tiba-tiba Sakura menghampirinya.

"Nggg… Hinata…?" sapa Sakura lembut.

Hinata menoleh, tapi tak ada jawaban dari mulutnya.

"Sedang apa disini?" tanya Sakura sedikit lirih.

"Tak ada…" jawab Hinata sambil menunduk.

"Hmmm…" Sakura menghela nafas.

"Hinata, mau ke kedai Ramen Ichiraku bersamaku… saat pulang sekolah nanti…?" lanjutnya.

Hinata masih menunduk, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Memang lebih baik berdamai dengan segalanya…" ucapnya dalam hati.

Hinatapun menatap Sakura dan tersenyum lebar.

"Boleh saja, tapi kau yang traktir, ya?" ujar Hinata tersenyum.

"Eh…? Hinata…? Kau… tak marah lagi padaku…?"

"Jujur saja, aku masih kesal. Tapi untuk apa aku menjauhimu terus? Tak ada untungnya buatku, 'kan? Lagipula… tak ada sahabat itu rasanya sepi juga…"

"Hinata…" Sakura memeluk Hinata bahagia.

"Maaf, aku tak jujur padamu. Maaf tentang Kiba-kun… harusnya aku katakan dari awal padamu…" lanjutnya.

"Tak apa… sudahlah…" Hinata membalas pelukan sahabatnya itu.

"Sudahlah, kupikir Kiba-san juga lebih cocok denganmu dibanding aku. Semoga langgeng dan bahagia, ya?" lanjut Hinata.

"Terima kasih, Hinata!" ujar Sakura gembira.

"Jadi, kau yang traktir, ya? Sekalian melunasi "Pajak Jadian"-mu padaku…" cetus Hinata jahil.

"Eeeh?! Aku sedang tidak ada uang lebih, nih!" Sakura mengeluh.

"Hehehe, bercanda, kok…"

Akhirnya mereka jadi dua sahabat yang akrab kembali. Mereka berjalan bersama menuju kelas sambil bersenda gurau.

Keesokan harinya…

Hinata dan Sakura berangkat sekolah bersama-sama kembali, mereka kembali menjadi sahabat karib. Mereka mengobrol sambil sesekali mengeluarkan lelucon-lelucon konyol nan lucu. Tiba-tiba Sakura mengatakan sesuatu pada Hinata.

"Eh, Hinata, ngomong-ngomong…" gumam Sakura.

"Ya?"

"Aku dengar ada gosip kalau kau jadian dengan Uzumaki Naruto-senpai. Apa itu benar?"

"EH?! Kau… juga tahu itu?!"

"Mungkin semua murid disini sudah tahu. Jadi, benar kalian jadian?"

"Ah… itu… yah…"

"Jadi itu bukan kabar miring?!" seru Sakura.

"Yaah… begitu… lah…"

"Nani?! Kau betul-betul pacarnya Naruto-senpai?! Kau hebat, Hinata!" Sakura segera menggaet kedua telapak tangan Hinata sambil kegirangan tak percaya.

"Te… terima kasih…"

Hinata tak bisa bilang kalau itu hanya sekedar sandiwara belaka.

"Padahal yang kutahu kau ini bukan fans Naruto-senpai, 'kan?" tukas Sakura yang membuat Hinata sedikit terkejut.

"Hngggh… yah… diam-diam aku jadi suka…"

"Begitu, ya… hmm, dia memang penuh misteri yang membuat semua gadis penasaran sampai jatuh cinta…"

"Eh?! Hnggh… ya, begitulah…" jawab Hinata gelagapan.

"Jatuh cinta?! OH NO!" pekik Hinata dalam hati.

Sakura tidak tahu yang sebenarnya. Dia tak tahu seberapa kesalnya Hinata pada Naruto… super duper kesal!

Author POV's end

Hinata POV's

Ah, Sakura tidak tahu kejadian sebenarnya… dia juga tidak tahu bahwa aku menganggap Naruto-senpai itu makhluk yang sangat menyebalkan. Aaarghh! Kacau banget, deh!

SKIP.

*At Ichiraku's Ramen Restaurant*

Aku, Sakura-chan dan Kiba-san mampir ke restoran Paman Ichiraku sesudah pulang sekolah. Apa kau tak cemburu katamu? Ya, tentu saja aku cemburu melihat mereka berdua. Tapi mau bagaimana lagi, 'kan? Aku harus bisa melupakan masa laluku dan menatap masa depan.

"Hinata, ini menunya," ujar Sakura seraya mengulurkan menu Ramen.

"Hmmm, ada yang porsi ekstra pedas, tidak?" tanyaku pada Ayame-san, putri dari paman Ichiraku.

"Maaf, Hinata. Ramen ekstra pedas sudah habis," jawab kak Ayame-san lembut.

"Oh… baiklah, yang pedas biasa saja, Ayame-san."

"Baiklah, akan segera kusiapkan."

Sambil menunggu Ramen matang, kami bertiga bercakap-cakap sambil disela oleh candaan segar. Tapi itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba "yang tidak kuharapkan" datang ke restoran ini…

"Wah, sudah lama tidak makan Ramen-nya paman Ichiraku!"

"Iya, ya. Sudah setengah tahun, lho."

Kudengar suara-suara familiar yang datang kemari. Saat aku menengok, ternyata…

"Nani…?! A, a, a…?! Itu… ada Naruto-senpai dan teman-teman geng-nya?!" pekikku dalam hati.

Ada Sai-senpai, Gaara-senpai dan… si menyebalkan itu. Naruto-senpai!

Hinata POV's end

Author POV's

"Wah, wah… Naruto, Gaara, Sai! Lama tak jumpa!" seru paman Ichiraku bernostalgia dengan "teman lama"nya.

"Apa kabar, paman?" sapa Naruto datar tapi sopan.

"Baik… sangat baik... hahaha!"

"Sudah lama tak kesini tapi tak ada yang berubah, ya? Hanya kulihat Ayame-san sudah jadi gadis yang begitu cantik," ujar Gaara menggoda.

"Terima kasih, Gaara-kun. Kau juga semakin tampan saja."

"Ah. Biasa saja, kok…"

"Wah, Gaara malu-malu, nih!" seru Sai sambil tertawa kecil.

Mereka semua bercakap-cakap seru, hanya Naruto tidak terlalu banyak bicara. Lalu tak sengaja ia melihat Hinata yang duduk di seberang.

"Hmm? Si Hinata, ya?" gumam Naruto pelan.

"Eh? Hei, Naruto! Bukankah itu Hinata, pacar barumu?" ujar Gaara mengejutkan Naruto.

"Ngg? Oh iya, itu si Hinata!" seru Sai tiba-tiba.

"Sudah tahu," jawab Naruto singkat.

"Panggil dong, kesini," cetus Gaara sambil menepuk pundak Naruto.

"Untuk apa?"

"Lho, kok malah tanya? Dia 'kan, pacarmu. Ya tidak masalah, 'kan?" seru Sai sambil membaca buku berjudul "Hubungan Hati dengan Ucapan" karya… entah?

"Malas. Lagipula dia sedang bersama teman-temannya, tuh," jawab (lagi) Naruto dingin.

"Ya nggak apa-apa kali…" seru Gaara yang merasa tidak puas dengan jawaban Naruto.

"Ayolah, panggil saja. Aku juga ingin kenalan dengan dia," Sai mengatakan hal yang membuat Naruto tertawa kecil tapi dingin.

"Syukur kalau dia mau, kalau tidak? Kau bisa ditamparnya nanti."

"Tidak masalah selagi cewek cantik. Hehehehe…" jawab Sai cengengesan.

"Kalau begitu panggil saja sendiri," ujar Naruto datar.

"Huuu, dasar Naruto! Baiklah…" Gaara pun memanggil Hinata.

*Menuju Tempat Hinata*

"Hei… Hinata…" sapa Gaara lembut.

"Nggg… ya…?"

"Maaf maaf nih sebelumnya, tapi mau nggak kamu duduk dengan kami disana?" tawar Gaara dengan tetap lembut.

"Eh…? Nggg, itu… nggg…" Hinata terlihat kebingungan dan salah tingkah.

"Teman-temannya Hinata, boleh Hinata duduk disana?" ujar Gaara pada Kiba dan Sakura.

"Oh? Ya, ya… boleh…" jawab Kiba.

"Hinata, bagaimana? Kamu mau kesana?" tanya Sakura.

"Mmmh… gimana, ya…?"

"Mumpung ada Naruto-senpai, tuh…" tunjuk Sakura sambil mengedipkan mata.

"Ini sih, pasti suruhan Naruto-senpai, deh," lanjut Sakura.

"Gimana, Hinata? Mau, nggak? Mau, ya…? Please…" Gaara memohon pada Hinata.

"Nggg… tapi… Sakura, aman nggak nih…?" tanya Hinata takut-takut.

"Naruto-senpai 'kan pacarmu, nggak masalah, 'kan?" jawab Sakura memberi semangat.

"I… iya… iya, deh…" akhirnya Hinata mau walaupun ia merasa tidak nyaman.

"Ganbatte, Hinata!" seru Sakura pelan.

Tapi, kalian pasti sudah tahu, 'kan? Sebenarnya Hinata ogah banget duduk bersama Naruto. Kenapa? Pasti udah tahu, deh!

*Di Tempat Naruto DKK*

"Naruto, sambut dong, pacarmu yang manis ini!" seru Gaara dengan suka ria.

"…" Naruto hanya menatap Hinata.

"A, apa?!" tanya Hinata ketus.

"Tak ada," ucap Naruto singkat (lagi?)

"Isssh! Nyebelin banget!" seru Hinata dalam hati.

Hinata duduk disamping Naruto. Tak ada pembicaraan diantara mereka, sama sekali tak ada. Yang ada hanya aura-aura kurang mengenakkan dari mereka. Sai dan Gaara bingung melihatnya.

"Hei, kalian sedang bertengkar, ya?" gumam Sai.

"Iya, tuh! Kayaknya berantem! Dari tadi diam-diaman saja," sambung Gaara.

"Apa itu jadi masalah?" ujar Naruto dingin (lagi?).

"Huh! Si Naruto ini! Judes amat, sih!" Gaara terlihat bete.

Naruto kembali menatap Hinata. Hinata yang merasa risih dengan sengit menatap balik Naruto.

"Apa?!" ketus Hinata.

"…" Naruto hanya diam.

"Apa, sih?!"

"… kau… mirip dengannya…" gumam Naruto.

"Siapa? Neji? Tentu saja, lah!"

"Bukan, bukan Neji," jawab Naruto datar (lagi?)

"Lalu? Siapa?"

"Seseorang, seseorang yang…"

"Yang apa?" tanya Hinata dengan sengit.

"Seseorang yang sangat kubenci," jawab Naruto yang terlihat serius.

GLEK.

Untuk kesekian kalinya, Hinata menelan ludah.

"Si, siapa?" Hinata gelagapan.

"Seseorang."

Sebenarnya Hinata kesal dengan jawaban Naruto, tetapi rasa takutnya dengan kata-kata Naruto mengalahkan rasa sebalnya itu.

"Hinata, ini Ramen pesananmu. Selamat menikmati, ya," suara lembut Ayame membuat Hinata agak terkejut.

"Ah, iya! Terima kasih, Ayame-san…"

Hinata pun menikmati Ramen-nya dengan setengah hati tidak tenang.

"Seseorang yang dia benci…? Siapa?" gumam Hinata dalam hati.

"Kurasa… dia ini memang aneh. Kalau aku ini memang mirip dengan yang dia maksud, kenapa dia "memacari"-ku? Ah, dia menumpahkan dendamnya padaku? Tapi kurasa dia bukan cowok seperti itu… sebenarnya siapa, sih, yang dia maksud? Aku jadi penasaran begini. Sudahlah! Bukan urusanku!" lanjut Hinata panjang lebar dalam hatinya.

Author POV's end

Hinata POV's

Aku melanjutkan acara makanku dengan hati yang setengah, ah, bukan, sepenuhnya tidak tenang. Kenapa aku jadi penasaran begini? Itu 'kan, bukan urusanku! Huh!

"Aku mau ke toilet dulu," tiba-tiba Naruto-senpai beranjak ke toilet.

"Ah! Aku juga ingin ke toilet, nih! Bareng yuk!" Gaara-senpai pun ikut beranjak ke toilet.

"Yaah, aku sendirian… ikut juga, deh…" Sai-senpai ikut-ikutan juga.

Nah, tinggal aku sendiri disini. Mau ikut ke toilet katamu? Tidak! Untuk apa?!

Saat Naruto-senpai beranjak menuju toilet, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari saku celananya. Awalnya aku cuek bebek, tapi hatiku tergerak untuk mengambilnya, penasaran.

Ternyata itu adalah sebuah foto.

"Hmmm?" saat kulihat foto itu, ternyata ada sosok wanita cantik, sangat cantik di foto tersebut. Siapa ini? Saudaranya?

"Wanita cantik ini siapa? Saudaranya, kah? Atau… jangan-jangan mantan pacarnya, nih?" ujarku pelan.

Kenapa aku jadi penasaran begini, ya? Ternyata terlalu banyak hal yang belum kuketahui dan begitu misterius tentang Naruto-senpai.

Ternyata banyak hal yang ingin kuketahui tentang Naruto-senpai. Tentang siapa dia sebenarnya dan bagaimana kehidupannya. Baiklah, akan kucaritahu sendiri.

Kuputuskan menyimpan foto ini dulu tanpa memberitahunya, besok akan kukembalikan.

Hinata POV's end

To Be Continued…

Fuuuaaah! Selesai juga chapter ketiganya! Huuft! Membuat fan fiction bersambung itu melelahkan, ya? Tadinya aku cukup kebingungan cerita di chapter ketiga ini harus bagaimana, tapi aku senang akhirnya selesai. Jadi aku mohon maaf sebesar-besarnya kalau ceritanya tetap atau semakin gaje. Hehehe… tapi walau begitu, aku tetap bersemangat untuk melanjutkan chapter keempatnya. Bagaimana ceritanya aku juga masih bingung, sih… #GUBRAK

Oh iya, mengenai review kalian semua, maaf aku nggak bisa balas satu-satu, selain keterbatasan waktuku, aku juga nggak hafal semuanya. Gomen sebesar-besarnya... tapi terima kasih banyak atas dukungan kalian semua terutama yang ternyata suka dengan Naruto yang dingin begitu. Yang aku ingat waktu itu ada yang bilang Neji matre, nah, disini sebenarnya Neji nggak matre, tapi dia memang suka memeras keuangan Hinata. Hahahaha XD

Tetap mohon komentarnya untuk kebaikan fanfic ini ya… don't be silent reader! Dadaaaaah…