FAN FICTION
AUTHOR : SILENTPARK VINDYRA
TITLE : MY HEART'S FLOWER
CHAPTER 4
CAST:
-) UZUMAKI NARUTO
-) HYUUGA HINATA
-) UCHIHA SASUKE
-) HARUNO SAKURA
OTHER CAST:
FIND BY YOURSELF!
DISCLAIMER:
MASASHI KISHIMOTO
GENRE:
PERHAPS… ROMANCE. (^_^)
DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.
HAPPY READING…
Hinata POV's
Ternyata banyak hal yang ingin kuketahui tentang Naruto-senpai. Tentang siapa dia sebenarnya dan bagaimana kehidupannya. Baiklah, akan kucaritahu sendiri.
"Ah, Naruto-senpai! Ya ampun, cepat sekali dia! Aku harus menyembunyikan foto ini!" Aku buru-buru menyembunyikan foto itu ke saku seragamku, kemudian melanjutkan makan.
"Kau ini. Ke toilet cuma untuk merenung? Apa-apaan itu?" Sai-senpai menggerutu pada Naruto-senpai.
"Memangnya kenapa?"
"Dasar! Kau semakin dingin saja, deh!" Gaara-senpai menggaruk-garuk kepalanya sebal.
"Memang kenapa?" tanya Naruto-senpai kembali.
"Suka-suka kau saja, deh, Naruto! Ayo, kita habiskan ramen masing-masing dan pulang dengan perut kenyang," Gaara-senpai tiba-tiba ceria kembali saat melihat ramen sudah tersedia di meja mereka.
"Tuh, lihat! Hinata sudah hampir selesai makan, ayo buru-buru!" lanjutnya riang gembira sambil menunjuk kearahku.
"Ngg…" akhirnya aku memberanikan diri berbicara dengan mereka.
"Ada apa, Hinata-chan?" Sai-senpai menoleh padaku.
Dia bilang… "Hinata-chan"? Sok akrab banget, deh…
"Ah… tidak… tidak ada apa-apa…"
"Kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Ti, tidak…"
Hah… payah banget, deh! Padahal aku yang ingin bicara, kenapa tiba-tiba jadi canggung begini?! Aku terlalu takut, sih, melihat Naruto-senpai yang sedari tadi mengeluarkan aura menyeramkan disekelilingku!
Kuhabiskan makananku secepat mungkin agar bisa cepat pula aku kabur dari mereka. Kulirik ke meja Sakura-chan dan Kiba-san, mereka tak ada.
"Sial, mereka sudah pulang! Bagaimana, nih?!" batinku panik.
Semakin kupercepat makanku. Kulihat Gaara-senpai, Sai-senpai dan si menyebalkan itu menatapku heran, seakan bertanya, "ada apa dengan Hinata?". Tapi masa bodo! Yang penting aku harus kabur secepatnya dari mereka bertiga ini! Saking cepatnya aku makan, tiba-tiba aku tersedak!
"Uhuk uhuk!" aku menepuk-nepuk dadaku.
"Hei, hei! Hinata, kau kenapa? Air, air!" Gaara-senpai berteriak panik.
"Aduh, aduh!" Sai-senpai pun terkejut melihatku tersedak.
Kulihat sebuah tangan kekar yang mengulurkan air padaku, ya, itu tangan Naruto-senpai. Dia memberikan air itu untukku.
"Nih," ujarnya datar.
Aku langsung mengambil air itu dan meminumnya cepat. 4 detik kemudian, aku sudah merasa lega.
"Fuuuh! Syukurlah!" ujarku lega.
"Kau ini, ceroboh sekali," ucap Naruto-senpai sambil memakan ramennya.
Kulirik Naruto-senpai perlahan. Tampangnya saat makan tetap menyebalkan bagiku, tapi dengan seksama kuperhatikan dia. Terlihat sedikit pancaran kelembutan di matanya yang berwarna Blue Sapphire itu saat ia menyantap ramen dengan tenang, sungguh… menawan…
"Apa?" Naruto-senpai menoleh padaku. Aku tersentak, salah tingkah.
"Eh, err… tidak ada apa-apa…"
"Kau masih lapar sampai melihat ramen-ku seperti itu?"
"Ti, tidak! Siapa yang melihat ramen-mu?! Yang kulihat itu kau…" aku tersadar dengan ucapanku dan langsung menutup mulut. Oh tidak, aku keceplosan?!
"Jadi… kau melihatku?"
"Ah, eh, ah…" aku gelagapan. Bagaimana ini?!
"Baru satu minggu kita "pacaran", kau sudah jatuh cinta padaku?" tukasnya sambil tersenyum pahit.
"Si, siapa yang jatuh cinta padamu?! Jangan ge-er!"
"Lalu? Kenapa pandanganmu tadi seperti seseorang yang terpesona begitu?" Naruto-senpai melihatku, tepat di kedua mataku.
DEG… DEG…DEG…
Apa ini? kenapa aku jadi aneh begini? Kenapa aku berdebar? Aku baru sadar kalau ternyata mata Naruto-senpai begitu indah… bagaimana ini?
"Siapa… yang memandangmu dengan terpesona?!"
"Jangan bohong," Naruto-senpai membuatku tak berkutik.
Aku tak menyadari kalau sedari tadi rona merah muncul di pipiku. Jantungku semakin berdebar tak karuan. Aku ini kenapa? Mana mungkin aku jatuh cinta pada orang yang semenyebalkan dia?! Aku tidak sudi!
"A, aku tak bohong, kok!"
"Oh, ya?" tanyanya tak percaya.
"I, iya!"
"Masa'?" Naruto-senpai terus menyudutkanku.
"Iya!" jawabku heboh.
"Hmm… baiklah kalau kau tetap tak mau mengaku. Aku takkan memaksa," Naruto-senpai kembali memakan ramennya.
Huuuh! Kalau begini terus, aku akan selalu jadi mainannya! Hinata, kau harus tabah! Ini salah satu cobaan dari Tuhan, kau harus tegar agar bisa menghadapi orang macam dia! Tuhan sedang mengujimu, apa kau ini gadis yang bermental kuat atau mental tempe! Hinata, semangat, Hinata! Berjuang!
Tanpa kusadari, dari tadi aku memasang beragam ekspresi aneh. Karena itu pula saat ini mereka bertiga kembali menatapku heran.
"Hinata-chan, kau baik-baik saja, 'kan?" ujar Sai-senpai pelan.
"Aku tak apa! Aku sudah selesai makan, jadi aku duluan pulang ya, para kakak kelas populer. Sampai jumpa!" aku segera mengambil tasku, membayar ramen dan pulang dengan setengah berlari. Setelah cukup jauh dari restoran, aku segera berlari kencang! Kabuuuur!
Hinata POV's end
Author POV's
Hinata berlari sekuat tenaga saat itu, sekencang mungkin dan sejauh mungkin. Saat ia merasa tenaganya mulai menurun barulah ia menurunkan kecepatan larinya sampai benar-benar berhenti. Dia sangat kelelahan karena terus berlari.
"Haduuuh… warung… dimana warung… ah, itu dia!" Hinata berjalan perlahan menuju warung di sebelah taman tempat ia berhenti, lebih tepatnya di Taman Konoha.
"Beli…" ujar Hinata setengah lemas.
"Ya, mau beli apa?" sapa bibi penjaga warung itu ramah.
"Beli minuman ini ya, Bi. Berapa harganya?"
"Itu seratus yen."
"Ini uangnya, terima kasih, Bibi," ucap Hinata seraya meninggalkan warung itu. Namun sedikit sial untuknya, dia bertemu dengan satu lagi kalangan kakak kelas populer yang menjengkelkan, Uchiha Sasuke.
"Glek. Sasuke-senpai?!" batin Hinata panik sepanik-paniknya.
Sasuke menoleh padanya, menatapnya dengan tatapan yang bagi Hinata sama menyeramkannya dengan tatapan Naruto. Hinata hanya bisa menelan ludah, wajahnya pun berubah menjadi pucat saat melihat wajah Sasuke yang "angker"…
"A… Sasuke-senpai… selamat… sore…" sapa Hinata gugup.
"Hm, selamat sore," jawab Sasuke dingin.
Sasuke melangkah menuju warung yang tadi dikunjungi Hinata, membeli dua buah makanan ringan. Saat Hinata hendak pergi, tiba-tiba Sasuke menahannya.
"Hei… Hyuuga," ujar Sasuke tiba-tiba, mengagetkan Hinata.
"Eh… ngg… apa?"
"Ini, untukmu," jawab Sasuke seraya menyerahkan satu makanan ringannya.
"Eh? Lho?"
"Aku hanya sedang ingin membuang-buang sedikit rezekiku saja."
"Ta, tapi…" saat Hinata bergumam bingung, Sasuke dengan santai pergi dari warung itu. Meninggalkan Hinata disana yang… kebingungan.
"Ke, kenapa, sih? Hari ini aku mengalami hal aneh terus?" keluh Hinata pelan.
"Lalu untuk apa dia memberiku makanan ini? Membuang-buang sedikit rezeki katanya? Apa-apaan itu? Hmm, dia sama mengherankannya dengan Naruto-senpai…" gumamnya sambil memperhatikan snack yang diberikan Sasuke.
"Snack… bunga?" ujar Hinata pelan.
Dengan perlahan Hinata membuka bungkus makanan ringan itu. Dia melihat dengan seksama isinya, dan betapa terpesonanya ia ketika mengetahui bentuk snack itu adalah bentuk Himawari.
"Wah, himawari? Waah… bentuk snack ini unik! Hmm, rasa susu? Enaaak…" sambil berjalan, Hinata menikmati makanan ringan yang berbentuk bunga kesukaannya itu. Saat ia kembali melihat bentuk makanan ringannya, tiba-tiba ia teringat saat di Taman Konoha itu, saat dirinya dan Naruto bertemu dikelilingi Himawari yang sangat disukainya.
"Lho? Ke, kenapa jadi teringat senpai rambut kuning itu? Huh, huh! Apa banget, deh!" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun entah kenapa itu malah membuat fikirannya semakin dipenuhi si pemilik Blue Sapphire Eyes itu.
"Iiih, aku kenapa, sih? Meski aku penasaran tentang dirinya bukan berarti aku menyukainya, 'kan? Iya, 'kan?" batin Hinata dengan gelengan kepala yang semakin cepat.
"Kenapa… si menyebalkan itu jadi selalu memenuhi kepalaku, sih?" Hinata mengeluh, dan tanpa ia sadari semburat merah terpancar dari wajah putihnya.
Langkah Hinata terhenti, tiba-tiba ia teringat foto itu. ia mengambil foto itu di saku kemejanya lalu menatapnya dengan seksama.
"Wajahnya nggak mirip dengan Naruto-senpai, ah… jangan-jangan saudara jauh? Atau memang dia ini mantan pacarnya? Jangan-jangan… masih pacaran?! Ah, untuk apa aku mempermasalahkannya?! Siapa dia memang?! Huh, aku nggak mungkin suka padanya! Nggak!" gumam Hinata panjang lebar.
"… kenapa aku sepenasaran ini…? Kenapa aku sangat ingin tahu siapa gadis yang ada di foto ini? Kenapa aku jadi kefikiran Naruto-senpai terus, sih…?" lanjutnya cemberut.
Hinata pun kembali berjalan sambil melanjutkan memakan makanan ringannya.
Author POV's end
Naruto POV's
"Naruto-kun… Naruto-kun… temani aku jalan-jalan, yuk!"
"Naruto-kun… ayo, cepat…!"
"Naruto-kun… aku mencintaimu…"
"Selamat tinggal…"
SRAAAGH.
"Hosh… hosh… apa-apaan tadi itu…?" aku terbangun sambil mengusap keringat di dahiku. Apa-apaan mimpi tadi…? Huh… mimpi yang menyebalkan… kenapa harus dia…?!
Aku beranjak dari tempat tidurku, kulirik jam dinding di kamarku. Jam dua pagi, gumamku. Tak kusangka mimpi menyebalkan itu membangunkanku sepagi ini. Aku berjalan menuju dapur, kubuka kulkas dan kulirik isinya, hmm, persediaan snack-ku sudah hampir habis. Akhirnya aku memilih meminum jus jeruk yang tersisa, nanti aku akan membeli kebutuhanku yang hampir habis di supermarket.
Uang dari mana katamu? Hmm, biar aku jelaskan, aku punya persediaan uang yang kufikir lumayan banyak, diberikan oleh orang tuaku saat aku memutuskan untuk tinggal sendirian. Awalnya aku menolak, tapi mereka memaksaku untuk menerimanya. Bisa dibilang, keluargaku kaya karena kedua orang tuaku adalah Duta Besar Konoha. Tapi sebenarnya aku merasa sangat malas jika memakai uang mereka, aku ingin coba-coba mencari uang sendiri jika nanti aku sudah lulus dan kuliah nanti. (#Naru Anak Baik)
Aku kembali ke kamar untuk mencoba tidur, tapi tak bisa. Aku tak merasa ngantuk saat ini. Hhh… ini saat-saat yang sangat menyebalkan… iseng-iseng aku membuka laci mejaku, berharap menemukan sesuatu yang seru, entah itu tugas presentasi lama yang enak dibaca atau apalah.
SREK.
"Heh?"
Selembar foto jatuh dari laci itu…
Aku terdiam menatap wajah yang ada di foto itu, menatap dalam-dalam sosok yang ada disana. Tiba-tiba aku merasa marah, akhirnya aku membuang sembarangan foto menyebalkan tersebut.
Aku membenci sosok yang ada di dalam foto itu, tapi aku heran kenapa aku tetap menyimpan fotonya. Dia hanya masa lalu menyebalkan yang harus kulupakan, namun entah kenapa aku tak bisa… melepas masa lalu itu…
"Kau tahu, sejak kejadian itu, aku selalu membencimu…" aku beranjak dari kamar menuju ruang TV untuk menenangkan fikiranku. Dan apa kalian tahu?
Aku membencinya. Sangat membencinya.
Naruto POV's end
Hinata POV's
Pagi ini aku sangat sangat mengantuk. Aku tidak bisa tidur sampai beberapa saat lalu akhirnya tertidur, tetapi saat aku terbangun aku malah bangun kepagian. Bayangkan saja, aku terbangun saat waktu menunjukkan pukul dua pagi! Akibatnya aku tak bisa tertidur lagi walau sebenarnya aku sangat ngantuk!
"Hoaahm…" aku menguap selebar-lebarnya.
"Hinata, kau kenapa?" Sakura-chan yang berangkat bersamaku terlihat kebingungan.
"Kau masih ngantuk? Memang kau tidur jam berapa?"
"Aku baru tidur saat pukul dua belas tengah malam, lalu ternyata aku terbangun jam dua padahal aku masih ngantuk. Akibatnya aku tak bisa memejamkan mataku lagi! Sebal, deh!" aku menggerutu kesal.
"Jam dua belas? Apa-apaan itu?" tegur Sakura-chan padaku.
"Entahlah. Aku tak bisa tidur tadi malam…"
"Kau memikirkan sesuatu? Atau sedang insomnia?"
"Ah… soal itu… aku memang sedang kefikiran sesuatu…"
"Apa itu? Jangan-jangan Naruto-senpai?!" dengan heboh Sakura-chan mengatakan sesuatu yang membuatku benar-benar tersentak.
"NA, NANI?!"
"Jadi, benar kau memikirkannya?! Jadi, benar kau jadi suka padanya?!" Sakura-chan melanjutkan pertanyaan-pertanyaan hebohnya.
"A… itu… itu…" aku langsung salah tingkah.
"Kau benar-benar jatuh cinta pada Naruto-senpai?!"
"A, a… ti, tidak se… perti yang kau… fikir… kan… Sakura-ch-chan…"
"Kyaa! Selamat ya, Hinata!" Sakura-chan memelukku bahagia tanpa tahu apa yang sedang memenuhi fikiranku : APA BENAR AKU JATUH CINTA PADA NARUTO-SENPAI?! TIDAK SUDIIIII!
"A, itu… belum bisa aku pastikan…" ujarku gelagapan.
"Bagaimana tidak? Aku bisa lihat dari matamu, memancarkan aura-aura positif saat aku bilang "Naruto-senpai"!"
"I, itu tidak mungkin… aku saja… sebal padanya… soalnya dia itu… menyeramkan…"
"Arti "seram" dalam percintaan itu berbeda, "seram" tandanya dia betul-betul serius denganmu."
"Ta, tapi… "seram" yang kau bilang dan "seram" yang dia miliki itu sangat berbeda! "Seram"-nya dia itu sungguh-sungguh seram seperti bukan manusia biasa!" teriakku panik.
"Eh? Hei, jangan berlebihan begitu. Meski dia dingin, kurasa dia sebenarnya orang yang baik, kok," ujar Sakura-chan sambil tersenyum.
"Apanya?!" tanyaku heboh.
"Entahlah, aku hanya merasa saja, sih. Lagipula menurut kabar sebenarnya Naruto-senpai itu anak periang, 'kan?"
"Kufikir itu hanya kabar burung," tepisku sinis sambil membayangkan betapa menyebalkannya si rambut kuning sok keren itu.
"Jangan begitu… semakin kau begitu, kau akan semakin tertarik dengannya, lho…"
"AKU TIDAK MAAAAUUUU!" aku berteriak saking sebalnya. Sakura-chan yang ada disampingku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menutup kedua telinganya.
"Sssst! Kamu berisik banget deh, Hinata…!"
"Ha, habis… tiba-tiba kau mengatakan hal yang sangat menyebalkan, sih!"
"Haaah… nanti lihat saja deh, siapa yang benar, aku atau kau."
"Hah? Maksudmu?"
"Nanti kita lihat, apa kau akan tetap pada pendirian kerasmu atau kau akan tertarik pada Naruto-senpai sesuai perkataanku," jawab Sakura sambil tersenyum.
"I, itu terdengar seperti tantangan…" tukasku lirih.
"Hmm, kurasa iya."
"Ba, baiklah! Aku terima itu! Akan kubuktikan pendirian kerasku ini!" jawabku sambil setengah berteriak. Sakura hanya bisa cekikikan melihat tingkahku.
Aku tidak pernah menyukainya, jadi aku takkan jatuh cinta padanya.
Hinata POV's end
Naruto POV's
Mataku terasa agak berat, aku berjalan menyusuri gedung sekolah dengan sedikit terkantuk-kantuk. Kucoba untuk menahannya, sampai aku tiba di toilet.
*Mohon Tunggu Sebentar*
Fuh, kuharap dengan membasuh wajah seperti ini dapat menghilangkan kantukku untuk sementara.
Aku kembali berjalan menuju kelasku, tetap dengan teriakan para penggemar yang kuanggap sangat mengganggu. Terkadang aku menganggap mereka adalah sampah, sampah yang harus diabaikan atau disingkirkan.
"Yo, lihat siapa yang tumben-tumbennya datang pagi, Uzumaki Naruto!" Gaara menyambutku dengan gayanya yang tetap heboh.
"Kau kesurupan setan apa datang sepagi ini?" lanjutnya.
"Tidak, hanya bangun kepagian," jawabku sambil berjalan melewatinya.
"Hmm, itu alasan yang tidak terlalu masuk akal bagiku. Walau kau bangun kepagian, bisa saja kau tetap berangkat siang, iya, 'kan?" Sai mengomentariku sambil membaca buku kesukaannya. Haah, bikin pusing saja.
"Suka-suka, 'kan?" kujawab dengan dingin.
"Yaah, terserah kamu saja, deh," Sai menjawab dengan arah mata tetap pada bukunya itu.
Aku menaruh tasku dan beranjak menuju halaman belakang, tempat favoritku untuk menyendiri. Tidak ada yang membuatku pusing disana, aku bisa menyendiri sesuka hati ditemani bunga-bunga cantik yang bertebaran disekelilingnya. Tapi… sejenak terlintas difikiranku, bukankah sekarang Hinata sering berada disana? Ah, mulai sekarang halaman belakang akan sedikit membuatku bising. Apalagi si Hinata itu… fuh, seperti ibu-ibu, cerewet dan galak.
Yah, mau bagaimana lagi, ya? Halaman belakang tetap tempat favoritku.
SKIP.
Aku segera merebahkan diri di rerumputan halaman belakang, memandang langit, merenung, dan menghirup aroma menyegarkan udara pagi yang bercampur dengan wewangian bunga-bunga yang ada disana. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding setiap hari selalu begini, hari-hari yang membosankan seakan lenyap jika aku sudah melihat bunga-bunga cantik tersebut.
Hmm? Ada bunga baru? Aku baru sadar.
Hatiku tentu tertarik untuk memeriksa bunga apa itu, dengan perlahan aku beranjak menuju bunga yang warnanya mencolok itu.
"Hm? Himawari?"
Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari bunga "pendatang baru" tersebut. Sungguh indah, fikirku.
Aku kembali merebahkan diri sambil tengkurap di rerumputan, menyaksikan keindahan bunga yang sangat indah itu. Sesekali aku menyentuh mahkota bunganya, lalu menggoyangkannya.
"Waaah, Himawari? Cantik sekali…!"
Tiba-tiba kudengar suara yang familiar, apa itu Hinata?
"Se, senpai?!" benar saja, itu Hinata.
"Yo," aku menyapanya dengan dingin, lalu kembali menatap indah bunga itu.
"A… aku tidak tahu kalau senpai menyukai bunga," tukasnya perlahan sambil mendekat pada Himawari yang sedang kunikmati kecantikannya.
"Memang kenapa? Ada masalah?"
"Ti, tidak, kok…"
"Kalau begitu tidak perlu berkomentar, 'kan?" ujarku tetap dengan sikap dingin. Tapi saat kulirik dia, dia seperti tidak mendengar ucapanku. Sekarang pandangannya tertuju pada si Himawari itu.
"Aiih… siapa yang menanamnya? Kalau sudah banyak, pasti akan semakin indah, nih…" ujarnya sambil menatap dengan terpesona.
Saat dia berekspresi seperti itu, tiba-tiba aku teringat pada orang itu, orang yang kubenci.
Kenapa harus dia lagi yang muncul dalam fikiranku?!
"…hei, Hinata…"
"Hmm? Ada apa?" dia menoleh padaku, tapi ekspresinya berbeda dengan saat tadi, ekspresinya seperti orang yang sedang berbinar-binar. Apa karena pengaruh Himawari itu?
"Kenapa wajahmu mendadak berbinar-binar begitu?"
"Habis, Himawari yang ada disini cantik-cantik, sih! Aku senang melihatnya!" dia menjawab dengan riang, seakan lupa dengan kegalakannya padaku.
Entah kenapa saat itu wajahnya terlihat sangat… manis.
"Nanti kalau sudah banyak, pasti akan semakin indah. Dan aku pasti semakin betah berlama-lama melihatnya," lanjutnya ceria.
DHEG.
"Nanti kalau sudah banyak, pasti akan semakin indah. Pasti juga aku semakin betah berlama-lama melihatnya."
Kata-katanya itu…
"Hm? Ada apa, sen…"
Tanpa kusadari, aku sudah menciumnya...
Naruto POV's end
To Be Continued…
Arrrgh! Akhirnya! Selesai sudah chapter keempat MY HEART'S FLOWER ini! Ya ampun, aku betul-betul bingung bagaimana cerita di chapter keempatnya, sampai aku hampir merasa ingin menjambak rambutku sendiri! #AuthorLebay
Tapi aku senang, akhirnya aku bisa menyelesaikan chapter ini meski harus berkutat dengan rasa depresi dan lapar yang tiba-tiba mendera saat sedang seru-serunya. Tapi karena aku membuat cerita ini dalam keadaan frustasi, jadi kumohon untuk yang kesekian kalinya gomen sebesar-besarnya kalau ceritanya GAJE!
Oh iya, ini mengenai review kalian semua di chapter 3, kali ini akan kujawab satu-persatu:
Lathifah Amethyts-chan : Hehehe… makasih untuk dukungannya, ya…
Fathiyah : Hayoooo… siapa ya wanita yang author maksud…? ^^
: Oh, kalau itu masih rahasia ^^
Flowers : Makasih… Oh, maksud kamu di PM siapa? Maksudnya yang bikin cerita bukan author, ya? Sepertinya harus ditegaskan, kalau yang bikin cerita ini original author dan asli pemikiran author, lho. Emang sedikit dibantu juga oleh teman author, tapi suwer deh ini cerita asli bikinan author. Kalau bukan ini jawaban yang kamu pengen, silahkan bilang ya…
NamikazeNoah : Lanjutkan penasarannya sambil baca fic ini terus ya… XD
: Itu masih jadi rahasia… harus tetap ikuti kelanjutannya biar tau XD
Swiztaraa : Hahaha… maaf ya kalau romance-nya kurang terasa… maklum, newbie… ^^"
Hwang Energy : Hahaha… gomen ne, Nyo… XD
Amexki chan : Sip deeeeh.
Maaf kalau jawabanku kurang memuaskan, ya! Kita bertemu lagi di chapter selanjutnya! Daaaah!
P.S : Karena sebentar lagi aku akan menghadapi UN, maka mungkin aku akan Hiatus dulu untuk sementara. Maaf, ya. Untuk chapter selanjutnya mungkin kalian akan menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi maaf…
