FAN FICTION

AUTHOR : SILENTPARK VINDYRA

TITLE : MY HEART'S FLOWER

CHAPTER 5

CAST :
-) HYUUGA HINATA
-) UZUMAKI NARUTO
-)UCHIHA SASUKE

OTHER CAST :
FIND BY YOURSELF!

DISCLAIMER :
MASASHI KISHIMOTO

GENRE :
PERHAPS… ROMANCE. (^_^)

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.

HAPPY READING…


Author POV's

Terkejut, itulah yang dirasakan Hinata kini. Bagaimana tidak? Secara tiba-tiba Naruto menciumnya ketika ia sedang asyik menikmati keindahan Himawari di halaman belakang sekolah. Tubuh Hinata seketika kaku, tak bisa bergerak sampai Naruto melepas ciuman mereka.

"…" mereka berdua terdiam.

"Se, senpai… kena…" Hinata tidak bisa berkata-kata.

"…aku… tidak tahu…" jawab Naruto, yang juga baru sadar atas apa yang barusan terjadi.

"K-kau…!" mendadak Hinata merasa marah, lalu menampar wajah Naruto.

PLAAK!

Tamparan keras mendarat mulus pada wajah tan Naruto.

"S-senpai?! Apa-apaan kau?! I-ini ciuman pertamaku, tahu! K-kau… kenapa…?!"

Naruto tetap diam, tak menjawab.

"Ini sudah keterlaluan! Aku tidak mau dipermainkan lagi! Senpai keterlaluan!" Hinata pun berlari meninggalkan Naruto di halaman belakang.

Sampai Hinata sudah menghilang dari hadapannya pun, Naruto tetap terdiam kaku. Dia pun tak habis fikir, bagaimana bisa ia mencium gadis yang sama sekali tidak ia cintai tersebut.

"Heh," Naruto tertawa lirih.

"Ada apa denganku…?" lanjutnya.

Naruto mengusap wajahnya yang terkena amarah Hinata perlahan, sambil terus berfikir apa yang terjadi padanya.

"Hinata… dia…" batin Naruto.

"Kenapa…? Kenapa semenjak mengenalnya, aku jadi aneh begini…?"

*Mohon Tunggu Sebentar*

.

.

.

"Nah! Ini dia nih, si 'Pangeran Bolos Jam Pelajaran Pertama'! tumben banget nggak bolos jam kedua juga!" sembur Gaara langsung ketika Naruto kembali ke kelas.

"Masalah untukmu?" sahut Naruto tetap dengan gayanya yang dingin.

"Coba kalau peraturan jam pertama dan kedua diganti, apa dia masih berani bolos?" Neji pun ikut meledek.

"Anak tidak jelas seperti dia kurasa takkan merasa takut sedikitpun," jawab Sai tetap dengan buku di depan matanya.

"Kalian ini bisanya mengoceh saja," jawab Naruto kembali, tapi kali ini terkesan sangat sinis dengan tatapan seakan mengintimidasi.

"Ooooh?! Tatapan macam apa itu?! Aduuuh! Aku takuuuut! Hahahahaha!" bukannya diam, Gaara malah semakin semangat mengejeknya, disusul dengan tawa dari kedua temannya yang lain (yang entah dianggap teman atau tidak oleh Naruto).

Sambil menahan rasa kesalnya, Naruto berusaha untuk menenangkan dirinya dengan memejamkan mata. Berusaha untuk tenang, kalau bisa melupakan kejadian barusan. Tapi apa daya, dia takkan dapat melupakannya. Malah semakin ia berusaha melupakannya, semakin teringat saja dia dengan kejadian tadi dan alhasil dia semakin tidak tenang.

'Ck! Kuso! Jadi kefikiran terus!' batin Naruto sambil menjambak rambutnya.

"Dih? Kenapa lagi, nih? Jambak-jambak rambut sendiri? Kayak orang telat gajian saja!" ejek Gaara kembali.

"Mungkin dia ada masalah dengan Hinata-chan. Bukan begitu, Naruto?" celetuk Sai dengan polosnya tapi 100% akurat. Mendengar hal itu, langsung saja Naruto terbatuk-batuk saking kagetnya.

"Buset. Ternyata beneran ada masalah sama dia," sahut Neji.

"What? Masalah apa, tuuuuh~? Cerita dooong~?!" Gaara tersenyum ceria sambil memasang ekspresi keingintahuan luar biasa alias kepo.

Naruto hanya diam. Tak merespon.

"Woi, ada masalah apa kau dengannya?" Neji pun ingin tahu.

Naruto tetap diam.

"Etdah! Narutooo?! Kita kepo, nih! Ceritain, dong!" seru Gaara sewot sambil menepuki pundak Naruto.

" 'Kita'? Aku nggak lho, Gaara…" tiba-tiba Sai menyahut.

"Ya, terserahlah! Yang penting si Naruto ini, lho! Ceritaiiiiiin!"

BRAAAAAAAK!

Tiba-tiba Naruto memukul mejanya dengan tenaga luar biasa. Langsung saja seisi kelas terdiam menatap Naruto.

"Jangan campuri urusanku, mengerti?! Atau kalian hanya akan tinggal nama," ucap Naruto, begitu datar tapi terasa begitu tajam. Lengkap dengan tatapannya yang seram.

Sai dan Neji saling bertatapan dalam diam, sementara Gaara mengangguk-angguk kecil pada Naruto sambil terdiam pula. Tak ingin mencari masalah lebih jauh lagi. Gaara, Neji dan Sai langsung mengerti jika mereka meledek Naruto lebih jauh lagi, hal buruk akan terjadi.

Tiba-tiba satu lagi 'Pangeran Dingin' masuk kedalam kelas. Ya, Uchiha Sasuke. Sama halnya dengan Naruto, Sasuke juga sering membolos jam pelajaran pertama. Tempat favoritnya adalah UKS.

Sasuke memang cerdas, dia langsung mengetahui bahwa ada yang aneh dalam kelasnya. Saat melihat Naruto yang serasa mengeluarkan aura negatif disekelilingnya, dia langsung tahu penyebabnya.

"Wow, siapa yang berani membuatmu naik pitam begitu, Naruto?" tanya Sasuke dengan nada dinginnya.

"Apa aku perlu memberitahumu?" tanya Naruto kembali, dengan nada yang sama dinginnya.

"Tidak juga," jawab Sasuke seadanya. Lalu ia berjalan menuju tempat duduknya, disebelah Naruto.

Lalu kelas pun kembali sepi tanpa ada perbincangan dingin lagi. Keadaan ini bertahan sampai bel istirahat berbunyi.

*Sementara itu Hinata…*

Hinata langsung menangis sejadinya dalam pelukan sahabatnya, Sakura. Ia betul-betul tak menyangka Naruto akan melakukan hal itu padanya. Sakura tak bisa berbuat apapun selain mencoba menenangkan Hinata.

"Hiks… dia betul-betul… hiks… tega padaku… hiks… dia fikir aku… hiks… aku ini mainan, apa?! Hiks, hiks…" Ujar Hinata lirih disela-sela tangisannya.

"Sudah, Hinata… sudah… tenang. Jangan seperti ini terus…" Sakura terus berusaha menenangkan Hinata.

"Bagaimana aku bisa tenang…?! Dia… hiks… dengan kurang ajarnya… hiks… menciumku begitu saja… tanpa perasaan… hiks…"

Sakura tidak tahu harus berkata apa lagi untuk Hinata. Kali ini dia hanya bisa mendengarkan Hinata sambil berkata 'Sudahlah, Hina…'.

"Itu 'kan… hiks… bagaimanapun juga, itu ciuman pertamaku… bagaimana bisa kuterima ada yang merebutnya tanpa perasaan…?! Dia itu… hiks… laki-laki paling tak berperasaan… hiks… yang pernah kukenal…!"

"Kurasa dia… pasti punya alasan, Hinata…" sahut Sakura.

"Alasan apa…?! Dia cuma ingin mempermainkanku… ya, mempermainkanku! Hiks… dia sama sekali tak menyukaiku… sama sekali tidak! Lalu alasan apa yang membuatnya melakukannya…?! Hiks…"

Sakura kembali terdiam.

"Aku benci… hiks… yang seperti ini… hiks, aku benci…" isak Hinata.

.

.

.

Hinata pulang dengan langkah gontai. Saat pelajaran ketiga, keempat, kelima dan terakhir, dia sama sekali tak konsentrasi. Rasanya ia ingin terus menangis saat itu, tapi ia menahannya.

"Rasanya aku akan jatuh pingsan jika memikirkan hal itu terus…" gumam Hinata lirih.

Hari ini ia pulang sendirian karena Sakura ada kegiatan klub Judo. Rasanya begitu hampa bagi Hinata, ia harus sendirian disaat dia betul-betul terpuruk seperti ini. Karena berjalan sambil menunduk, Hinata tak sadar bahwa didepannya ada orang yang menghalangi jalannya. Barulah Hinata sadar ketika dirinya melihat ada kaki yang diam mematung didepannya.

Hinata mendongak keatas.

"Hei," sapa orang tersebut.

"E-eh… S-Sasuke… senpai…?!"

*Mohon Tunggu Sebentar*

.

.

.

"Nih. Ambillah," ujar Sasuke seraya menyerahkan Es Krim berbentuk bunga padanya.

"A-arigatou gozaima-"

"Jangan terlalu formal denganku. Aku tidak suka," Sasuke memotong ucapan Hinata.

"A… baiklah, Arigatou, senpai."

Sasuke dan Hinata kemudian melahap Es Krim masing-masing dalam diam. Lalu untuk beberapa detik Hinata menatap Sasuke kemudian bergumam dalam hati.

'Aku baru tahu, Sasuke-senpai ternyata suka Es Krim,' batinnya.

"Kau pasti terkejut mengetahui aku suka Es Krim," celetuk Sasuke yang membuat Hinata terkejut.

"Eh, ngggh… lumayan…" jawab Hinata gelagapan.

"Jadi… senpai pecinta Es Krim…?" lanjutnya.

"Tidak juga. Aku penggemar makanan manis. Apapun yang berasa manis, mungkin kumakan."

"Oh… jadi kalau Es Krim-nya tidak manis… asin atau pedas, misalnya?" tanya Hinata polos.

"Kalau terlanjur kubeli, tetap kumakan," Sasuke menjawab apa adanya.

"O-oooh… begitu, toh…"

Hinata pun melanjutkan acara makan Es Krim-nya tanpa berbicara lagi. Tapi tiba-tiba Sasuke bertanya padanya.

"Apa masalahmu dengan Naruto begitu berat sampai matamu sebegitu bengkaknya?"

Hinata terdiam, kaget. Lalu perlahan menunduk. Sasuke yang melihat reaksi Hinata sempat terdiam juga.

"…baiklah kalau kau tidak ingin cerita. Itu 'kan masalahmu," Sasuke kembali bicara setelah sejenak diam.

"…apa…" Hinata mulai bersuara kembali, tapi lirih.

Sasuke menoleh padanya.

"Apa… Naruto-senpai itu… orang yang suka mempermainkan orang lain…?" tanya Hinata dengan suara yang sangat kecil, sambil menahan air matanya.

"Maksudmu?"

"Ma, maksudku…"

"Ya, ya… aku mengerti…" jawab Sasuke buru-buru.

Giliran Hinata yang menoleh padanya.

"Bisa kau bilang… dia itu orang baik hati yang sedang tersesat," ujar Sasuke datar.

"N-nani…?"

"Ya, begitu. Memang begitu keadaannya. Sebenarnya dia itu baik, kok. Cuma keadaan yang membuatnya jadi dingin begitu."

"K-keadaan…? Keadaan apa…?"

"Kalau masalah itu, harus kau caritahu sendiri. Pokoknya sebenarnya dia baik."

"Ngggh… begitu, ya…" jawab Hinata pelan.

"Sepertinya kau mulai menyukai Naruto. Iya 'kan?" ceplos Sasuke yang sontak membuat Hinata tersedak.

"UHUK UHUK! Nani?! K-kau bicara apa, senpai?!"

"Hmph! Ternyata benar," Sasuke menahan tawa.

"S-senpai sok tahu, ah! Nggak, kok!"

"Tidak usah bohong. Terlihat dari wajahmu, merona begitu," Sasuke menunjuk wajah Hinata.

"Apa?! Me, merona?!" Hinata begitu panik, saat memegang wajahnya, ia merasa suhu tubuhnya meningkat. Sasuke pun jadi semakin ingin tertawa, tapi tetap ia tahan demi menjaga image dinginnya.

"Dasar. Sama sekali tak pandai berbohong," ujar Sasuke pelan.

*Mohon Tunggu Sebentar*

.

.

.

Akhirnya Sasuke dan Hinata pulang bersama. Karena kebetulan jalan menuju rumah mereka searah, sekalian Sasuke mengantar pulang gadis bermata Lavender tersebut. Di jalan mereka banyak bercakap-cakap, dan inilah sisi lain Sasuke yang tidak diketahui Hinata sebelumnya. Ternyata Sasuke cukup lumayan dalam hal bercakap-cakap, padahal di sekolah dia begitu dingin terutama pada perempuan.

'Ternyata Sasuke-senpai lumayan enak diajak ngobrol, ya?' batin Hinata cukup senang.

"Hyuuga, apa ini rumahmu?" Sasuke menunjuk sebuah rumah yang luas dan bernuansa tradisional.

"Iya, ini rumahku, senpai," jawab Hinata.

"Anu, senpai… terima kasih, ya. Untuk Es Krim, saran dan mengantarku pulang. Sekali lagi terima kasih!" lanjutnya sambil membungkuk.

"Hei, hei! Sudah kubilang jangan formal begitu denganku, 'kan?"

"Ah… gomenasai," jawab Hinata sambil tersenyum. Lalu beranjak masuk ke rumahnya.

"Sampai jumpa, Hyuuga. Sampai ketemu lagi di sekolah," Sasuke melanjutkan perjalanannya pulang sambil melambaikan tangan sebentar pada Hinata.

"Hati-hati ya, senpai…" Hinata pun membalas lambaian tangan Sasuke, lalu beranjak masuk kedalam.

"Hmm… ternyata Sasuke-senpai tidak sedingin yang kubayangkan. Apa itu hanya untuk menghiburku? Atau jangan-jangan suruhan si menyebalkan itu?" gumam Hinata pelan.

"Apapun itu, aku cukup terhibur. Kuharap aku bisa berteman dengannya," lanjutnya sambil tersenyum.

Lalu Hinata melihat kearah sakunya. Dia mengambil sesuatu didalamnya. Ya, dia mengambil sebuah foto milik Naruto yang seharusnya ia kembalikan tadi.

'Saking marahnya, aku sampai lupa mengembalikan foto ini…' batin Hinata.

Lalu tiba-tiba ia teringat ucapan Sasuke dengannya saat sedang menyantap Es Krim tadi.

"Ya, begitu. Memang begitu keadaannya. Sebenarnya dia itu baik, kok. Cuma keadaan yang membuatnya jadi dingin begitu."

"K-keadaan…? Keadaan apa…?"

"Kalau masalah itu, harus kau caritahu sendiri. Pokoknya sebenarnya dia baik."

"Si menyebalkan itu… sebenarnya baik?" ujar Hinata pelan. Lalu ia kembali menatap foto itu.

"Jangan-jangan… ada hubungannya dengan foto ini…?" lanjutnya tetap dengan suara pelan.

Dia kembali teringat dengan ucapan Sasuke yang lain.

"Sepertinya kau mulai menyukai Naruto. Iya 'kan?"

Langkah Hinata terhenti. Saat itu dia mulai merasa ada yang aneh padanya. Degup jantungnya terasa semakin cepat. Lagi-lagi suhu tubuhnya naik, dan tanpa ia sadari wajahnya kembali merona.

"Apa iya… aku suka pada si menyebalkan itu…?"

Hinata meraba bibirnya, yang tadi direbut oleh Naruto. Walaupun ia marah besar, sebenarnya ia juga merasa bahwa hati kecilnya begitu menerima ciuman tersebut, seperti bunga yang mekar, begitu gembira. Saat mengingat kejadian tadi, jantungnya semakin berdetak tak menentu.

'Sepertinya… aku… tapi dia 'kan, menyebalkan sekali. Bagaimana bisa aku…' batin Hinata.

'Aku… akan berfokus pada foto ini dulu…' batinnya kembali.

"Baiklah… aku harus caritahu tentang yang dimaksud Sasuke-senpai…" ujarnya penuh keyakinan.

"Siapa tahu saja, memang orang yang ada dalam foto ini. Gomen ne, Naruto-senpai. Aku harus mencari tahu siapa perempuan dalam foto ini, karena itu aku takkan mengembalikannya padamu untuk beberapa lama sampai aku menemukannya."

.

.

.

*Keesokan harinya*

Hinata terdiam melihat Naruto yang berdiri di depan gerbang. Dia masih merasa kesal dengan kejadian kemarin, tapi tidak sekesal saat itu. Hinata pun bingung harus berbuat apa, akhirnya salah tingkah sendiri.

'Hinata, tenang… tenang… kau tinggal melewatinya saja dan semua akan beres, oke? Tenang, tenang…'

Hinata pun berjalan kembali, menuruti batinnya. Dia hendak melewati Naruto yang sedari tadi menatapnya.

'Huff… tinggal beberapa langkah lagi dan kau akan jauh dari pandangannya… tetap terlihat tenang, Hinata… toh, sedari tadi dia tak mengejarku, hanya memandangiku saja,' batinnya kembali, dan mengambil langkah yang agak cepat agar cepat menjauhi Naruto pula.

Namun, dugaan Hinata salah. Dengan cepat Naruto meraih tangannya dan menariknya menjauh dari sekolah.

"HEI! APA-APAAN KAU?! L-LEPASKAN TANGANKU! HEI, SENPAI!" pekik Hinata panik. Sambil memukuli tangan Naruto dia terus berteriak meminta dilepas.

"S-SENPAAAAI! LEPASKAN TANGANKU! SAKIT, TAHU! SENPAAAAAI!"

Sama sekali tak ada respon dari Naruto. Dia terus saja menarik Hinata sampai Taman Konoha.

*Mohon Tunggu Sebentar*

.

.

.

"Sudah kubilang, 'kan? Temani aku bolos," ujar Naruto santai.

"Seenaknya saja! Aku mau kembali ke sekolah!"

"Temani aku bolos."

"Tidak mau!"

"Temani aku bolos."

"Tidak mauuu!"

"Temani aku bolos."

"TIDAK MAUUUU!"

Baru saja Hinata ingin membalikkan badannya, tiba-tiba Naruto mencengkram lengan atasnya dan menarik Hinata kearahnya. Sekarang wajah mereka hanya berjarak 5 cm.

"Hanya sampai bel istirahat pertama saja, tak ada masalah, 'kan?" Naruto menatapnya dalam, membuat wajah Hinata merona seketika.

"P-pokoknya aku tidak mau!" Hinata memalingkan wajahnya, tapi dengan sigap Naruto menarik wajah Hinata kembali lurus berhadapan dengan wajahnya.

"Jadi… sepertinya ini hukuman untuk yang kemarin. Benar begitu?" Naruto memperkecil jarak wajahnya dengan wajah Hinata, membuat Hinata semakin salah tingkah.

"K-K-KALAU IYA… MEMANG KENAPA…?!" seru Hinata agak berteriak.

"Jadi betulan marah, ya…?" Naruto menghela nafas, kemudian tersenyum. Membuat gadis dihadapannya itu heran.

"Aku 'kan, marah padamu! Tapi kenapa kau malah tersenyum aneh begitu?!" seru Hinata ketus.

"Ada yang ingin kutunjukkan padamu. Makanya temani aku bolos," ujar Naruto datar bin santai (lagi.).

"A-apa yang mau kau tunjukkan?!" Hinata masih memasang suara jutek dalam ucapannya.

"Tentu saja rahasia, baka."

"Hei, kau ini!" Hinata kembali kesal sungguhan. Bagaimana tidak? Orang yang ada dihadapannya bukannya minta maaf malah menyuruhnya untuk bolos dan mengatainya 'baka'.

"Sudah, jangan cerewet. Setelah kutunjukkan baru kau boleh bicara sesuka hatimu sampai mulutmu monyong," ujar Naruto kemudian menarik tangan Hinata lagi.

Sudah jelas pancaran kekesalan semakin hebat dalam diri Hinata, bercampur bingung dan… sedikit rasa penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Naruto.

'Pasti yang tidak penting semua, deh, yang orang ini tunjukkan!' batin Hinata kesal.

Namun, dugaan Hinata lagi-lagi salah. Saat Naruto menunjuk pada 'sesuatu' itu, Hinata memandang terkejut.

"Ini yang ingin kutunjukkan padamu."

"S-senpai… i-ini… ini…"

Author POV's end

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED…


NYO NYO NYO NYO! Aduuh, setelah sekian lama hiatus, kembali lagi dengan meng-update ff "My Heart's Flower" chapter 5 ini! maaf banget ya, kelamaan nunggu nih readers-nya. Soalnya disamping keterbatasan waktu, banyak ff lain yang harus difikirkan, daaaaaaan soal koneksi internet dan otak author yang agak macet-macet gitulah! Tapi senangnyaaaa chapter ini akhirnya selesai setelah beberapa bulan terabaikan! Yosh! Ini balasan kalian sebelumnya:

Hwang Energy : Mau yang lebih lagiiii? :3 *pervert* Xixixiixi XD

Mira Misawaki : Syukurlah kalau memang bikin geregetaaaaan XD Gomen, tapi ceweknya masih rahasia, yaaaa… ;)

Dey san : Hubungannya…? Apa, yaaaaaa? Masih rahasia :3

Hyu. Toki : Udah update nih, maaf lama banget .-.

Bonbon 0330 : Oke lanjuuuuuut :D

Namikaze Yuto : Hmmm… gimana, ya? Hmmm… masih rahasia~ :3 makasih untuk spirit-nya XD

Deshe Lusi : Iya, bener XD #Plak

Flowers : Iya, nggak apa-apa kok :3 Author minta maaf juga soalnya update-nya kelamaan ._." Sankyuu untuk spirit-nya~

Lavender Sapphires chan : Hayo, hayooo, siapa, yaaaa? Kyaaaa! Author ikut teriak juga, yaaa! #Plak XD Udah update, dan maaf kelamaan .-.

Vita Hime-chan : Salam kenal juga ya, Vita :D Hehehe, senangnya ternyata banyak yang penasaran sama tokoh rahasianya :3 Maaaaaaaaf banget updatenya lama banget! Sankyuu untuk spirit-nya, Vita! XD

Jihan : GOMEEEEEEEN! Kelamaan banget, nih! Jadi nggak enak ._."

Gomen jika jawabannya kurang memuaskan, kita akan ketemu lagi di chapter 6. Have A Nice Day, minna… DADAAAAAH~