FAN FICTION
AUTHOR : SILENTPARK VINDYRA
TITLE : MY HEART'S FLOWER
CHAPTER 6
CAST :
-) HYUUGA HINATA
-) UZUMAKI NARUTO
-)UCHIHA SASUKE
OTHER CAST :
FIND BY YOURSELF!
DISCLAIMER :
MASASHI KISHIMOTO
GENRE :
PERHAPS… ROMANCE. (^_^)
DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.
HAPPY READING…
.
.
.
.
.
'Pasti yang tidak penting semua, deh, yang orang ini tunjukkan!' batin Hinata kesal.
Namun, dugaan Hinata lagi-lagi salah. Saat Naruto menunjuk pada 'sesuatu' itu, Hinata memandang terkejut.
"Ini yang ingin kutunjukkan padamu."
"S-senpai… i-ini… ini…"
.
.
.
.
.
Sasuke POV's
Ket : -Ini adalah percakapan sisi Sasuke setelah mengantar Hinata pulang kerumahnya-
BRUK!
Aku menjatuhkan diri di ranjang empuk kamarku, yang berhiaskan warna dark blue secara keseluruhannya. Tak ada warna lain, tapi tak pernah membuatku bosan. Dinding, pintu, lemari, meja belajar, sprei, sampai Notebook-ku pun punya warna yang sama. Karena tak ada warna lain yang dapat menarik perhatianku...
Mungkin alasan itu hanya sampai detik ini. Karena ada warna lain yang menarik perhatianku... warna dari nama bunga yang wanginya begitu menenangkan...
Lavender.
Ah... mengapa aku jadi begitu terobsesi dengan warna itu? Warna yang begitu menenangkan... memanjakan mataku... warna yang tidak mencolok di mata... tetapi bisa membuat orang tak mudah berpaling darinya...
Begitu juga dengan seseorang yang memiliki warna tersebut.
"Anu, senpai… terima kasih, ya. Untuk Es Krim, saran dan mengantarku pulang. Sekali lagi terima kasih!"
"Ah… gomenasai."
"Hati-hati ya, senpai…"
Hhh... warna mata itu... warna mata yang penuh dengan perasaan lurus, begitu lurus...
Entah sejak kapan warna itu mulai menghipnotisku.
Sasuke POV's End
.
.
.
.
.
Author POV's
"S-senpai… i-ini… ini…"
"Apa...?"
Ternyata benar perkiraan Hinata. Cuma hal tidak penting yang diperlihatkan Naruto.
"Apa ini?! Senpai memaksaku ikut untuk hal seperti ini saja?!" teriak Hinata marah-marah. Ya, wajar saja. Yang diperlihatkan Naruto hanya sebuah bangunan putih. Memang terlihat agak mewah, tapi maksudnya apa?
"Ya, yang ingin kuperlihatkan, ya, ini," jawab Naruto santai, sama seperti biasanya.
"Tapi, aku takjub. Kau sama sekali tak berfikir apa-apa setelah melihat bangunan ini. Biasanya yang kutahu, gadis manapun pasti mengira bahwa dia akan diajak makan."
"UNTUK APA AKU BERFIKIR BEGITU?! LAGIPULA INI MASIH PAGI, AKU SUDAH SARAPAN!" teriakan Hinata semakin melengking.
"Kenapa kau tak berfikir ini untuk acara Dinner?"
"UNTUK APA DINNER DITEMPAT INI?! INI MEMANG TAMAN BUNGA DAN SUASANANYA ROMANTIS, TAPI AKU TAHU MENGAJAKKU DINNER SAMA SEKALI BUKAN SIFATMU, SENPAI! LAGIPULA KALAU MALAM HARI, DISINI BANYAK NYAMUK!"
Mendengar teriakan Hinata yang semakin meninggi, Naruto hanya bisa mengusap-usap telinganya.
"Ternyata kau cukup cerdas juga, ya?" ujar Naruto datar, tapi tersirat sekali bahwa itu adalah ejekan.
"SUDAHLAH, AKU MAU KEMBALI KE SEKOLA—"
Dengan sigap Naruto kembali menarik tangan Hinata, membawanya kembali pada jarak yang begitu dekat satu sama lain. Kembali rona merah muncul di wajah gadis bersurai Indigo tersebut.
"Sudah kubilang, 'kan? Temani aku bolos," tukas Naruto dengan penekanan pada kata 'bolos'.
"A-Apa, sih?! Lepaskan aku, senpai!" ronta Hinata berusaha melepaskan tangannya. Tapi percuma saja, tenaga Naruto jauh lebih kuat dibandingkan tenaganya.
"Diam dan lihatlah. Ini bagian belakang bangunan, baka. Lalu... apa pendengaranmu juga tak bekerja, heh?"
"A-Apa maksudmu?! Kalau pendengaranku tak bekerja, bagaimana caranya aku berkomunikasi denganmu, senpai?!"
"Kalau begitu, tidakkah kau mendengar 'itu'?"
"Hah? 'Itu'? 'Itu' apa?"
"Ck, kau tak mendengarnya juga? Apa sedari tadi kau sadar bahwa ada suara-suara anak kecil dibalik bangunan itu?"
Mendadak Hinata terdiam saat itu. Ya, memang ada suara anak kecil. Satu, dua, tidak, lumayan banyak. Suara anak kecil yang begitu riang. Lalu ada suara langkah, sepertinya anak kecil itu berlarian kesana kemari.
"Ngg... bangunan ini... berhantu?" tanya Hinata polos. Ya, sebenarnya penjelasan dari Naruto memang masih ambigu. Tak salah Hinata langsung berfikir bangunan ini berhantu, apalagi suara tawa anak kecil tersebut sangat mendukung.
"...bukan itu maksudku, baka," jawab Naruto datar. Tapi sebenarnya... Naruto jadi sedikit merasa takut. Karena tanpa diketahui siapapun Naruto itu takut dengan hal-hal mistis semacam itu.
"Ngg... lalu... apa?" tanya Hinata masih belum mengerti.
"Aissh..." Naruto menggaruk tengkuknya, tanpa dihiasi dengan wajah datarnya lagi. Kali ini terlihat sisi lain dari Uzumaki Naruto. Wajahnya terlihat kesal, karena Hinata begitu lamban mengerti.
'Ternyata... ia punya ekspresi yang lain juga, ya...' batin Hinata.
Saat sedang asyik memikirkan Naruto yang mengeluarkan sisi lainnya –entah disadari atau tidak-, tiba-tiba yang sedang difikirkan kembali menarik tangannya menuju bagian depan bangunan tersebut. Sontak saja Hinata begitu terkejut dan kembali protes.
"Senpai! Apa-apaan, sih?!"
"Sudah kubilang, diam dan lihatlah. Ikuti saja kemana aku akan membawamu."
.
.
.
.
.
"Kyahahahaha! Ayo, bawa kesini, kesini~!"
"Kita main petak umpet, nee~"
"Nee-chan, kita kecana, yuuk~"
Hinata tak dapat berkata-kata sama sekali, bahkan untuk sekedar mengedipkan mata pun rasanya jadi begitu sulit baginya. Mungkin bagi orang lain ini telihat biasa saja. Tapi untuknya... ini menakjubkan.
Sebuah bangunan yang tidak terlalu mewah tapi lebar, ditambah dengan berbagai macam rupa bunga nan cantik disekitarnya, dan segerombolan anak-anak menggemaskan yang hilir mudik, kesana kemari, bermain sepuas hati mereka. Sungguh... ini sebuah pemandangan yang luar biasa bagi Hinata.
"Nah, bagaimana? Apa kau masih marah padaku?" Tanya Naruto kembali dengan wajah dan nada bicara yang datar.
Hinata hanya bisa menggeleng pelan, ia masih 'terhipnotis' dengan pemandangan didepannya tersebut. Melihat reaksi Hinata, tanpa disadari sebuah senyuman kecil terpahat diwajah Naruto.
Disaat seperti itu, seorang anak kecil berwajah sangat menggemaskan menghampiri mereka.
"Hayo (Halo) kakak..." sapa anak kecil tersebut, entah pada Naruto atau Hinata. Tapi yang jelas...
"KYAAA! KAWAII~!" Hinata sudah berteriak kegirangan dan memeluk anak tersebut.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau celingukan begitu, Sasuke?"
Gaara terlihat bingung, melihat Sasuke yang setelah masuk kedalam kelas, ia terlihat mencari-cari sesuatu, atau seseorang? Apapun itu, yang jelas Sasuke sama sekali tak menjawab pertanyaan Gaara.
"Hei, Sasuke~! Kau dengar tidak?" tanya Gaara sekali lagi. Tapi hasilnya tetap sama, tak dijawab.
Merasa tak dianggap, Gaara jadi kesal dan memutuskan untuk tak bertanya lagi. Lalu datanglah Sai, si pemilik kata-kata yang selalu mengenai hati. (If you know what I mean, readers XD)
Dengan polosnya ia pun bertanya pada Gaara, "Gaara-san, kenapa Sasuke celingukan seperti itu?"
"Entahlah! Huh, tanya saja pada orangnya langsung. Meski aku tak bisa jamin dia akan menjawabmu," jawab Gaara sambil mendengus.
Sai pun mengangguk dengan polos, lalu bertanya pada Sasuke, yang walaupun sedang duduk di bangkunya, matanya mendelik kesegala arah, mencari sesuatu atau seseorang.
"Sasuke, siapa yang kau cari?"
Sama seperti sebelumnya, ia tak menjawab.
"Umm... Sasuke?"
Tetap tak ada jawaban. Tapi, bukan Sai namanya jika ia tidak segera tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ah... aku tahu, Sasuke mencari Naruto, ya?"
Tepat. Sasuke langsung mendelik kearah Sai.
"Apa kau tahu dimana Naruto?" tanya Sasuke datar dengan nada bicara menginterogasi.
"Ah, tidak. Aku tidak melihatnya pergi ke kelas," jawab Sai polos.
"Maksudmu, dia datang ke sekolah tadi?"
"Iya. Tapi, bukankah sudah biasa ia datang ke sekolah, tapi masuk kedalam kelas saat jam istirahat pertama selesai?"
"Bukan itu masalahnya..." ujar Sasuke. Hinata juga tidak ada di sekolah, fikir Sasuke. Ia hendak mengatakan itu sebelum akhirnya Sai kembali berbicara...
"Ah, Sasuke, kau rindu pada Naruto?"
SIIIIING.
Sontak murid-murid yang ada didalam kelas hening seketika setelah mendengar perkataan Sai. Termasuk Sasuke.
"EH?!" Gaara begitu terkejut mendengarnya.
"Jadi Sasuke... suka pada Naruto?"
SIIIIIIIIIIING.
Mendadak suasana kelas menjadi dingin dan sangat hening. Lalu tak berapa lama, semua itu buyar dengan gelak tawa Gaara.
"HUAHAHAHAHAHA! Jadi selama ini kau...?! HAHAHAHA!" tawa Gaara pecah, tak tahan mendengar pernyataan Sai yang begitu polosnya.
"Ah? Jadi aku benar, Sasuke?" kembali Sai bertanya dengan polos.
Kini sebuah urat menonjol di pelipis Sasuke. Namun ia masih berusaha menahan emosinya. Ingin sekali ia mematahkan rahang Sai dan Gaara saat itu juga, namun ia tak melakukannya demi menjaga image-nya. Ia sengaja tak menjawab, toh, biarkan saja itu menjadi gosip. Yang kena juga Naruto lagi, 'kan?
Saat itu, ia kembali teringat dengan Naruto yang kembali bolos sekolah, dan Hinata yang tak muncul di sekolah. Ia merasa bahwa mereka bolos bersama dan entah untuk tujuan apa. Namun yang jelas, sekarang fikirannya kembali terpenuhi oleh Hinata.
'Kenapa warna itu lagi...?' batinnya sedikit heran.
'Kenapa warna itu lagi yang memenuhi fikiranku...?'
'Kenapa... kenapa dia lagi yang ada dalam fikiranku...?'
'Kenapa... Hinata...?'
.
.
.
.
.
"Aku tak tahu di Taman Konoha ada panti asuhannya..." ujar Hinata pada Naruto, sambil ikut merangkai bunga dengan beberapa remaja putri di panti asuhan tersebut.
"Hm," Naruto hanya menjawabnya dengan gumaman sambil tetap merebahkan dirinya di teras halaman panti asuhan.
"Kakak, apa kakak diajak bolos oleh Naruto-san?" tanya salah satu remaja putri panti asuhan tersebut.
"Eh? Hontou? Waah.. dasar Naruto-san! Kalau mau bolos, jangan ajak-ajak orang lain, dong! Kebiasaanmu ternyata buruk sekali!" remaja yang lain memprotes Naruto. Naruto hanya membalas omelan mereka dengan jawaban, "hn".
'Ternyata mereka sudah kenal Naruto-senpai?' tanya Hinata dalam hati.
'Yaah... itu wajar, sih. Karena sepertinya Naruto-senpai juga sudah sering kemari. Tapi terlihat akrab, ya?' lanjutnya membatin.
'Tapi aku payah, ya? Aku tak pernah sadar ada panti asuhan disini...'
"Ngomong-ngomong, Hyuuga-san..." panggil salah satu dari remaja itu.
"Ya?"
"Hyuuga-san dan Naruto-san terlihat cocok, lho," ujarnya sambil terus merangkai bunga.
Hinata terkejut mendengar perkataan remaja tersebut. Dan Naruto? Tak terlihat respon yang berarti darinya.
Hinata jadi begitu salah tingkah. "Eh... umm... begitukah?"
"Iya. Entah kenapa... aura kalian sama, meski garis wajah kalian jauh berbeda."
"Iya, sih, kalian memang cocok. Tapi jangan mau dipaksa bolos terus olehnya!" sahut remaja putri yang lain dilanjutkan dengan tawa mereka. Hinata pun ikut terkekeh pelan.
"Oh, iya," Hinata pun mulai bertanya pada mereka. "Kalian kenal Naruto-senpai sejak kapan?"
"Sudah lama, nee," jawab salah satu dari mereka.
"Sudah lama?"
"Umm! Kami sudah mengenal Naruto-san sebelum panti asuhan kami pindah kemari."
"Eh? Begitukah?"
"Iya. Tapi dulu Naruto-san tak dingin seperti ini..." mendengar yang dikatakan remaja panti asuhan tersebut, Hinata merasa ada setitik jalan untuknya mengetahui siapa Naruto sebenarnya.
"Eh, umm..." Hinata mulai berbicara pelan, sambil memberi isyarat pada remaja-remaja itu agar berbicara pelan, supaya tak didengar oleh Naruto. "Bagaimana maksudmu?"
"Iya, dulu Naruto-san itu sangat periang. Dulu, dialah yang membangkitkan suasana cerah di panti kami. Ada saja lelucon yang membuat kami tak bisa berhenti tertawa," jelas remaja tersebut.
"Dulu, dia juga datang bersama teman-temannya," sambung remaja yang satu lagi. "Tapi sepertinya bukan teman dari satu sekolahnya."
"Umm... berapa orang, kalau boleh aku tahu?" tanya Hinata kembali.
"Mereka selalu datang bertiga," jawab remaja itu. "Naruto-san, temannya yang berambut nanas, dan satu lagi seorang perempuan," lanjutnya.
"Kalian tak tahu siapa nama teman-temannya?"
Mereka menggeleng. "Teman laki-lakinya itu pemalas sekali. Kami juga jadi ikut malas menanyakan namanya."
"Kalau yang perempuan?"
"Dia tunarungu dan tunawicara. Karena kami tak mengerti bahasa isyarat, kami jarang sekali berkomunikasi dengannya. Pernah sih, sesekali kami berkomunikasi lewat buku. Apa yang ingin dia dan kami katakan, ditulis lewat buku tersebut. Tapi ketika kami menanyakan namanya, dia cuma tersenyum sambil menggeleng," jelas salah satu remaja panjang lebar.
"Eh? Kenapa begitu?"
Mereka semua kembali menggeleng. "Kalau itu kami juga tidak tahu."
Hinata pun mengangguk sebelum beberapa saat kemudian ia kembali bertanya.
"Umm... apa... kalian tahu kenapa Naruto-senpai jadi dingin seperti itu?"
Para remaja itu saling menatap. Lalu salah satu dari mereka menjawab, "katanya dia jadi begitu... karena membenci seseorang."
DHEG.
Seketika jantung Hinata berdegup kencang.
"Eh... siapa?"
"Entahlah... tapi aku sering merasa... bahwa yang dibencinya adalah salah satu dari dua temannya itu."
Hening seketika.
"Ke-kenapa...?" Hinata mulai membuka suara dengan pertanyaannya lagi.
"Aku pernah mendengar sesuatu, katanya memang sudah lama terjadi konflik antara mereka bertiga," jawab salah satu remaja itu.
"Kasihan, ya, padahal salah satu diantara mereka ada yang—"
"Apa yang kalian bicarakan?"
Tiba-tiba suara dingin Naruto terdengar. Sontak mereka terkejut setengah mati. Padahal mereka sudah berbicara sepelan mungkin, tapi ternyata masih terdengar juga.
"A-Ah, ti-tidak ada, senpai," jawab Hinata gugup.
Naruto mendelik curiga pada mereka, terutama Hinata. Ia curiga, Hinata yang memulai pembicaraan secara sembunyi-sembunyi tersebut. Tapi memang, Naruto sama sekali tak mau ambil pusing, ia kembali memejamkan matanya sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus. Hinata dan para remaja itu langsung menghembuskan nafas lega.
"Ah... Hyuuga-san, lebih baik kita tak membicarakan hal tadi lagi, nee..." ujar salah satu remaja putri tersebut.
"Umm... b-baiklah..."
Meski menjawab seperti itu, sejujurnya Hinata masih diselimuti rasa penasaran yang besar. Apalagi, penjelasan mereka itu sebenarnya belum selesai, 'kan? Tapi Hinata memutuskan untuk tidak menanyakan apapun lagi dan fokus pada rangkaian bunganya yang hampir selesai.
Tapi, ia baru terfikir sesuatu. Untuk terakhir kalinya, ia kembali membuka suara sambil menunjukkan sesuatu pada remaja-remaja tersebut.
"Ini, aku mohon, jika kalian kenal, tolong jelaskan secara singkat saja siapa dia."
.
.
.
.
.
"Apa?! Dia tak ada di kelasnya?!" urat-urat pada pelipis Neji bertambah seraya mendapat informasi dari teman sekelas Hinata kalau sejak jam pelajaran pertama ia sudah tak ada di sekolah.
"Ah... terima kasih, ya," ujar Gaara yang memang menemani Neji menuju kelas Hinata. Gadis yang ditanyai oleh dua orang populer itu hanya bisa termangu dengan rona merah menghiasi wajahnya.
"ARRRGH! KEMANA SI RAMBUT DURIAN BUSUK ITU MEMBAWA ADIK SEPUPUKU PERGI?!" Neji terlihat begitu emosi saat ini. Jelas saja, lagi-lagi Naruto dengan seenaknya membawa Hinata bolos. Ya, wajar, sih, Hinata itu, 'kan, 'pacar'nya...
"Mungkin mereka berdua sedang menghabiskan waktu romatis berdua," celetuk Gaara asal, yang sukses membuat Neji semakin mendidih.
"AAAARGH! LIHAT SAJA NANTI! JIKA RAMBUT PIRANG KUSUT ITU SUDAH KEMBALI KE KELAS, AKAN KUBUAT IA TAK BERBENTUK!"
Gaara hanya bisa menutup telinganya saat Neji berkoar-koar seperti itu.
"Sudahlah. Tak perlu secemas itu. Aku yakin Naruto menjaga adik sepupumu itu, kok."
"Aku bukan mengkhawatirkannya!" cetus Neji.
"Hah? Lalu, kenapa kau marah-marah seperti itu?"
"Aku kesal karena adik sepupuku itu mendahuluiku punya pacar! Aku, 'kan, masih single!"
Setelah mendengar alasan Neji yang sesungguhnya, Gaara langsung memasang facepalm.
.
.
.
.
.
"Umm... arigatou, senpai. Sudah menunjukkanku tempat yang begitu menyenangkan. Senpai... kumaafkan," ujar Hinata lembut.
"Hn," jawab Naruto.
Setelah puas berada di panti asuhan itu, mereka tak langsung pergi ke sekolah, mereka berkeliling Taman Konoha terlebih dahulu. Sepertinya mereka memang sudah tak berniat kembali ke sekolah hari ini.
"Hei, Hinata," panggil Naruto dingin.
"Ya?"
"Apa yang kau bicarakan tadi dengan mereka?" tanya Naruto tetap dengan suara dingin.
Hinata tak menjawab apapun. Ia hanya menggidikkan bahunya.
Mata Naruto langsung menatapnya tajam. "Hei, jawab pertanyaanku."
"Umm... maaf, senpai. Aku... tak bisa memberitahumu," jawab Hinata.
"Kenapa?"
"Karena..." Hinata bingung harus menjawab seperti apa. Tapi akhirnya ia menjawab...
"Karena yang kutanyakan adalah... tentang senpai."
"Hah?" jawaban Hinata sukses membuat Naruto menengok padanya, bukan hanya sekedar mendelik kearahnya.
"Aku merasa... jika aku menanyakannya langsung pada senpai, rasanya tidak seru. Lagipula, senpai takkan menjawab pertanyaan macam itu, 'kan?"
Naruto hanya terdiam.
"Senpai..." Hinata menghentikan langkahnya. Ia mengambil nafas dalam, lalu menghembusnya secara berat. Ia tak menyangka akan mengatakan ini, tapi, ia juga tak bisa menyangkal perasaan ini lama-lama.
Dan Naruto? Kini ia seperti bersiap-siap mendengar kalimat Hinata selanjutnya.
"Maaf, senpai, tapi..."
.
.
.
.
.
"Sepertinya aku memang... jadi tertarik denganmu, Naruto-senpai."
Author POV's End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED…
HUAAAAAAAH! Akhirnyaaaaaa~ Author selesai juga membuat FF My Heart's Flower chapter 6 ini! Yaaah... nggak mau comment apa-apa dulu, deh. Soalnya lagi terharu TwT
Yosh! Ini balasan untuk Review kalian di chapter 5 :
Mangekyooo JumawanBluez : Ini sudah dilanjut yaa~ gomen terlalu lama, nee~ TwT hiksu /?
Deshe Lusi : Sudah terjawab di chapter ini, yaa~ :3
Hwang Energy : Ini udeh ye, nyan? :V Huweeee~ maap kelamaan~
Aini Aikawa : ARIGATOU GOZAIMASU~~ TwT /santaiThor
flowers lavender : Ayo! Ayo! Teriak saja~! Author juga mau teriak, nih! TwT /abaikan
Jihan : Terima kasih, ya~~ aduh, maaf kelamaan~~ TwT
Mira Misawaki : Geregetan, jadinya geregetan~! /jannyanyiThor Iya, Neji sama Hinata satu rumah ^^ Terima kasih~~
U. Dila-chan : HUWAAAAAA~~ MAAF KELAMAAN NEE~~ TwT
Soputan : Terima kasih ya~ ^^
tsunayoshi yuzuru : Gomenasai~~ update-nya kelamaan~~ TwT
Rooney : Hontou ni? Arigatou gozaimasu~ w
DindaHyuga : -sfx : DHEG- ng-nggak... pasti bukan cewek yang kamu fikirkan... /?
BlackLavender RB26DET : KELAMAAN! INJEK AJA DEH GAPAPA! SEBAGAI PERINGATAN JAN LAMA2 LAGI! TwT
amexki chan : Sudah terjawab kan? :3 huaaa~~ maaf kelamaan~~ TwT
.pratomo : Sudah dilanjutkan~ dan maaf kelamaan~~ TwT
Hell-o : Fitri... kangen kamu... :')
altadinata : Sudaaaaah~ maaf kelamaan~ TwT
Chelsea : HUWAAAA! Author memang jahat, nee! Membuatmu menunggu terus, nee! Maafkan Author~~ QAQ
: Sudaaah~~ ^^
Hyugga : Terima kasih atas dukunganmu, yaaa~ Author sangat menghargai pembaca baru maupun lama~~ terima kasih banget~~ maaf juga karena author membuat kalian menunggu terus~~ TwT
Minna-san~~! Terima kasih atas dukungannya sampai chapter ini! Maaf sedalam-dalamnya dari Author yang selaaaaalu bikin kalian nunggu terlalu lama. Auhtor harap gaada yang lupa sama jalan ceritanya TwT
Kita bertemu lagi di chapter 7 ya~~! Sampai jumpa, readers~~!
