FAN FICTION

DISCLAIMER :

MASASHI KISHIMOTO

AUTHOR :
SILENTPARK VINDYRA

TITLE:
MY HEART'S FLOWER

CAST:
-) HYUUGA HINATA
-) HARUNO SAKURA
-)UCHIHA SASUKE
-) UZUMAKI NARUTO

OTHER CAST:
FIND BY YOURSELF!

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.

HAPPY READING~


"Sepertinya… aku mulai menyukaimu, Senpai."

.

.

.

.

.

.

Dua hari sejak kejadian 'penembakan' itu, Naruto dan Hinata sama sekali tidak berbicara satu sama lain, bahkan ketika berpapasan pun tidak. Hal ini menjadi pembicaraan hangat di sekolah mereka. Mulai dari para penggemar Naruto yang merasa senang karena mengira mereka bertengkar sampai mereka yang kesal dengan sikap Naruto, tentunya setelah mendengar cerita Hinata.

Salah satu orang itu adalah Sakura.

"Apa-apaan itu?! Kufikir Naruto-senpai laki-laki jantan. Ternyata menghadapi perempuan yang

'menembak'-nya saja dia tidak mampu!"

Sakura menumpahkan kekesalannya tepat dihadapan Naruto, ketika ia sedang asyik memainkan ponsel di kelasnya. Naruto hanya diam tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Teman-temannya hanya bisa diam karena memang Naruto menyuruh mereka untuk tidak ikut campur.

"Jawab dong, Senpai! Kalau jadinya seperti ini tidak akan kubiarkan Hinata menjadi kekasihmu!" sembur Sakura kembali.

Naruto pun akhirnya menoleh sesaat, sebelum kembali memandang layar ponsel, "itu hak Hinata, mau menjadi pacarku atau tidak."

"Tapi sebagai sahabat jika dia diperlakukan seperti ini aku berhak bicara juga!"

Sakura pun menarik kerah baju Naruto sambil menatap sang senior dengan garang, "Waktu kau membuatnya menangis karena seenaknya menciumnya, kau masih kumaafkan. Tapi kali ini tidak. Kau sudah mengabaikan perasaannya dan membuatnya menangis dalam diam. Laki-laki macam apa kau?!"

Naruto pun tersenyum sinis, "Aku memang laki-laki jahat. Sejak kapan diriku ini terlihat seperti orang baik?"

"Kau…"

"Sakura, hentikan!"

Tepat saat Sakura hendak melayangkan sebuah tamparan, Hinata datang ke kelas tersebut.

"Hinata! Untuk apa kau membelanya?" sembur Sakura sambil tetap dengan ancang-ancang ingin menampar.

Hinata pun berjalan mendekati Sakura dan Naruto, lalu menggenggam tangan sahabatnya itu, "Sudah cukup. Ayo kita kembali ke kelas, pelajaran akan segera dimulai," Hinata tersenyum kecil pada Sakura.

"Hinata… tapi…"

"Biarlah dia mau bersikap seperti apa. Aku sudah tidak peduli," Hinata semakin melebarkan senyumnya, "Ayo, kita kembali," lanjutnya.

Sakura pun akhirnya menuruti keinginan Hinata. Ia pun melepas cengkramannya dari kerah Naruto sambil terus menatap garang Naruto. Yang ditatap hanya membalas dengan datar.

Hinata menghadap pada Naruto lalu membungkukkan badan, "maaf mengganggu, Senpai."

Meski masih dengan tatapan datar, namun ada disisi hati Naruto yang merasa ngilu. Entah apa artinya.

.

.

.

.

"Harusnya kau membiarkanku menamparnya, Hina…" Sakura hanya bisa merengut di tempat duduknya disamping Hinata. Hinata hanya tertawa kecil melihat wajah sahabatnya.

"Terima kasih sudah membelaku, Sakura," ujar Hinata lembut, "Yah… walau caranya garang sekali…" lanjutnya sambil terus tertawa.

Sakura pun ikut tertawa kecil, "apapun demi sahabat."

Hinata hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu mengedarkan pandangan ke luar jendela.

'Mungkin… aku memang harus mengakhiri semuanya…' batin gadis lavender itu.

'Perasaan ini… tidak boleh berkembang…' lanjutnya seraya menghela nafas.

'Tapi… aku… ingin mengetahui semuanya…'

Ditengah lamunannya itu, suara Sakura membuat lamunannya hilang, "Hinata, lusa kemarin kamu meneleponku untuk meminta bantuan, 'kan? Maksudnya apa? Katanya kamu akan menceritakannya, tapi malah nggak ngomong apa-apa. Aku, 'kan, nggak enak minta cerita selagi kamu galau begini."

Hinata pun ingat, ia memang ingin meminta suatu bantuan dari Sakura.

"Aku ingin mencari… info."

Mendengar perkataan Hinata membuat Sakura semakin bingung.

"Info? Untuk apa?" Tanya Sakura.

"Untuk penyelidikan."

"Apa ini? Kamu part-time jadi detektif?" ujar Sakura polos, membuat Hinata tertawa kecil kembali.

"Bukan… ini untuk diriku sendiri," jawab Hinata melirik pada pohon Sakura yang sedang mekar.

"Makusdnya untuk dirimu sendiri?"

"Iya," jawab Hinata sekenanya, "Hei, tahun ini bunga Sakuranya cantik sekali, ya," lanjutnya ngawur.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Hina. Aku bukan tanya 'iya' atau 'tidak', dan jangan memuji bunga Sakura atau aku jadi ge-er," tukas Sakura panjang.

"Sungguh, tahun ini mekarnya begitu menakjubkan," ujar Hinata, "Yah… aku penasaran dengan ucapan Naruto-senpai saat itu…"

Sakura sedikit terkejut mendengar perkataan Hinata, dan menantikan lanjutan kalimat menggantung itu.

"Dia mengatakan sesuatu… awalnya aku tidak begitu peduli, sampai dia menjatuhkan sesuatu…"

"Apa itu?"

Hinata hanya tersenyum, lalu berbicara kembali, "Sakura, nanti temani aku ke suatu tempat, ya."

Dan Sakura pun hanya bisa berbingung ria.

.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

Suara Sasuke menginterupsi kegiatan berdiam diri Naruto sepanjang waktu sekolah sampai pulang sekolah. Naruto yang sedang benar-benar malas bicara segera beranjak dari tempat duduknya untuk pulang. Hari ini dia tidak bolos, fenomena yang mengejutkan.

Sasuke dengan sigap menghalangi pintu keluar kelas,"Aku tanya, apa yang kau lakukan padanya?"

"That's not your business," ujar Naruto dingin, seperti biasa. "Neji saja tidak ikut campur."

Sasuke terdiam selama beberapa saat, lalu membuka suara kembali, "Jika aku menganggap ini juga urusanku, bagaimana?"

"Kenapa ini harus jadi urusanmu?"

"Karena kau tidak mau mengurusnya."

"Dan kenapa kau harus peduli?"

"Karena aku sedang mood."

Seluruh penghuni kelas hanya terdiam melihat 'perkelahian' antar Ice Princes kelas mereka. Gaara dan Sai menelan ludah, memikirkan jika kedua makhluk es itu benar-benar berkelahi disini, kelas ini pasti tidak akan berbentuk lagi. Neji pun berdehem, mencoba mencairkan suasana.

"Guys, kalian tidak perlu berkelahi hanya karena satu perempuan. Biar aku yang bicara pada adik sepupuku."

"Shut up, Neji," sahut Naruto dan Sasuke bersamaan tanpa menoleh pada yang disahut.

Dan Neji pun kini hanya bisa diam.

Tiba-tiba setelah keheningan menyelimuti, Sasuke membuka suara kembali.

"Aku akan menemui Hyuuga."

Sontak Neji bahkan Naruto terkejut.

"Untuk apa?" tanya Neji. "Lagipula hari ini Hinata ingin ke suatu tempat bersama Sakura, tapi ia tidak memberitahu dimana tempat itu."

"Aku akan menemukannya, dimanapun dia."

Dan Sasuke pun melenggang pergi ketempat Hinata, meninggalkan Neji yang kebingungan, penghuni kelas yang masih terjebak keheningan, dan Naruto yang kembali terdiam.

Neji pun melirik kearah Naruto, "Ngg… hei, Naruto. Kau sendiri bagaimana?"

"Pulang," jawab Naruto singkat, lalu segera meninggalkan Neji dan penghuni kelas lain.

Neji pun hanya bisa menggidikkan bahu.

.

.

.

.

"Sugoii—" ujar Sakura tertahan, terlalu kagum melihat pemandangan indah yang tersuguh didepan matanya sekarang. Ya, itu panti asuhan yang waktu itu.

"Iya, disini memang sangat indah," Hinata pun berjalan mencari gadis-gadis yang lusa lalu ia titipkan sesuatu.

"Nee-san~!" Hinata menoleh kearah suara, dan segera tersenyum saat salah satu dari gadis-gadis yang kemarin itu menghampirinya.

"Mana yang lain?" tanya Hinata seraya mencari yang lainnya.

"Mereka sedang berbelanja, Nee-san," jawab gadis tersebut. "Nee-san, kita bahkan belum berkenalan, ya?" lanjut gadis itu yang membuat Hinata terkejut lalu tertawa kecil.

"Iya, ya… baiklah, namaku Hyuuga Hinata. Dan disampingku ini adalah sahabatku, Haruno Sakura. Namamu siapa?" ujar Hinata lembut.

"Aku Moegi. Senang bertemu kalian," gadis bernama Moegi itu tersenyum ramah pada mereka berdua. "Ngomong-ngomong, mana Naruto-nii?"

Hinata dan Sakura terdiam. Lalu gadis berambut indigo itu menjawab, "Naruto-senpai sedang tidak bisa ikut."

Mulut Moegi membentuk 'O' bulat mendengar jawaban Hinata. Lalu ia kembali menanyakan sesuatu pada Hinata, "Nee-san ingin menanyakan 'itu', ya?"

Hinata mengangguk semangat. Lalu Moegi menyuruh Hinata dan Sakura untuk menunggu di bangku halaman panti asuhan, dan Moegi masuk kedalam. Beberapa menit kemudian, Moegi kembali menghampiri mereka dengan sesuatu ditangannya.

"Nee-san, tidak salah lagi. Gadis ini memang yang dulu sering mengunjungi panti ini bersama Naruto-nii," ujar Moegi pada Hinata, "aku tidak mungkin salah orang."

"Siapa namanya?" tanya Hinata.

"Aku tidak begitu ingat karena kunjungan terakhirnya sudah lama sekali… tapi Naruto-nii sering menyebutnya 'Hima'."

" 'Hima'? Maksudnya 'Himawari'?"

"Iya, itu! Kalau tidak salah singkatan dari 'Himawari'."

Hinata pun melihat kearah sesuatu yang dikembalikan Moegi, yaitu foto yang waktu itu ia pungut dari Naruto. "Himawari… apa itu nama aslinya?"

Moegi menggeleng, "aku tidak tahu. Tapi… eh, aku ingat! Saat kami menanyakan namanya pada Naruto-nii, pasti dia menjawab, "dia Hima, Himawari-ku.". Kurasa itu memang nama aslinya. "

Hinata terdiam mendengar jawaban Moegi. 'Mungkinkah dia… kekasih Naruto-senpai?' batinnya seraya menatap lekat foto itu.

Hinata pun bangkit dan berpamitan untuk pulang, "baiklah, terima kasih, Moegi. Aku harus segera pulang. Lain kali aku akan berkunjung lagi."

"Baiklah. Hati-hati dijalan, Nee-san. Sampaikan salamku untuk Naruto-nii, ya," ujar Moegi sambil tersenyum lembut.

Hinata hanya mengangguk, lalu berjalan keluar dari panti asuhan bersama Sakura.

.

.

.

.

Sasuke berjalan menyusuri Taman Konoha yang begitu luas, mencari keberadaan Hinata. Apa dia sudah pulang, batinnya. Namun firasat Sasuke mengatakan bahwa Hinata ada disekitar sini.

Sementara itu, Hinata dan Sakura berjalan menyusuri Taman Konoha, karena memang panti asuhan itu ada di dalam taman. Mereka melihat bunga Sakura yang mekar begitu indah. Namun sedari tadi ada yang mengganggu fikiran Sakura.

"Hinata…" panggilnya pada sang sahabat.

"Hm? Ada apa?"

"Boleh… aku lihat foto yang diberikan Moegi-chan tadi?"

"Oh, tentu," Hinata pun memperlihatkan foto itu pada Sakura. Melihat raut wajah Sakura yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, Hinata pun bingung.

"Sakura, ada apa?"

Tiba-tiba mata Sakura sedikit membelalak, "aku ingat sekarang."

Hinata semakin bingung, "ingat apa?"

Sakura menunjuk perempuan yang ada di foto itu, "orang ini."

Hinata pun terkejut, "kau mengenal orang ini?"

"Iya. Aku pernah bertetangga dengan perempuan ini. Dia satu tahun diatas kita. Tapi setelah orang tuanya dimakamkan, ia pindah dari rumah itu."

"Orang tuanya… sudah meninggal?"

"Iya. Mereka sekeluarga mengalami kecelakaan mobil. Hanya dia yang selamat."

"Kapan itu terjadi?" tanya Hinata semakin penasaran.

"Sekitar 3 tahun yang lalu. Kalau tidak salah dia diasuh oleh keluarga Ibunya," jawab Sakura sambil mengingat-ingat semua yang ia tahu, dan ia sudah mengingat hal yang begitu penting. "Dia itu adalah—"

"Hyuuga."

Sebuah suara menginterupsi kalimat menggantung Sakura. Ternyata Uchiha Sasuke berhasil menemukan Hinata.

"Sa-Sasuke-senpai?" Hinata terkejut melihat Sasuke yang berada didepannya. Sedang apa dia disini, batinnya.

Sakura pun terkejut. Tak menyangka jika Hinata dan Sasuke saling kenal. "Kalian saling kenal?" tanyanya pada Hinata.

"Ah, i-iya… waktu itu dia mengantarku pulang," jawab Hinata yang semakin membuat Sakura terkejut.

"Wow… kau tidak pernah menceritakan itu padaku," kagum Sakura pada Hinata.

Setaunya Sasuke itu tidak pernah mau berjalan dengan sembarang perempuan, apalagi siswi disekolahnya. Sakura yakin kalau Hinata adalah gadis pertama yang berhasil membuat Sasuke mengantarnya pulang.

"Itu tidak penting untuk diceritakan…" bisik Hinata pada Sakura.

"Ngg… ah! Hinata! Aku ingat kalau aku harus segera pulang, ada urusan. Kalau begitu, kau pulang dengan Sasuke-senpai, ya~!" Sakura pun segera berlari meninggalkan Hinata dan Sasuke berdua, dengan niat jahil untuk membuat mereka jalan berdua.

"Sa-Sakura?! Hei!" Hinata hendak berlari menyusul Sakura, namun tangannya ditahan oleh Sasuke.

"Se-senpai?"

"Ayo pulang. Kau takkan bisa menyusul lari temanmu itu," ujar Sasuke datar.

Hinata pun sedikit merengut, 'Huh! Sakura! Aku tahu dia sengaja, tuh!' batinnya kesal. 'Mana tadi dia mau mengatakan sesuatu, 'kan? Aaargh!' lanjutnya frustasi.

"Hei! Mau pulang atau tidak?" suara Sasuke kembali menginterupsi.

Hinata pun berjalan mengikuti Sasuke, "I-Iya, Senpai."

Sementara mereka jalan berdua, Sakura melihat mereka dari kejauhan dibalik pepohonan. Lalu tertawa sendiri. "Gomen ne, Hinata…"

Sakura pun berjalan menuju rumahnya, sambil memikirkan perempuan yang ada difoto itu.

'Iya, memang benar dia,' batin Sakura. 'Nanti akan kuberitahu pada Hinata,' lanjutnya.

Lalu fikirannya tiba-tiba melayang pada Hinata dan Sasuke, 'hmm… mereka cocok. Sasuke-senpai terlihat lebih bisa melindungi Hinata dibanding Naruto-senpai. Meski sama-sama 'Pangeran Es', kelihatannya Sasuke-senpai jauh lebih mengerti perempuan dibanding Naruto-senpai…'

Saat asyik membayangkan dan membandingkan, tiba-tiba ponsel Sakura berdering. Tertera nama 'Kaa-san' disana.

"Moshi-moshi," ujar Sakura lembut. Lalu raut wajahnya tiba-tiba berubah saat Ibunya membicarakan sesuatu lewat telepon.

"Hai… aku akan segera kesana,Kaa-san."

Sakura pun kembali berlari menuju rumahnya dengan cepat. Wajahnya terlihat cemas.

"Sepertinya aku tidak akan bisa mengatakan hal itu pada Hinata secepatnya…" gumam Sakura.

.

.

.

.

Keheningan menyelimuti Hinata dan Sasuke sepanjang jalan. Hinata tidak tahu harus bicara apa, dan Sasuke yang bingung topik apa yang enak dibicarakan.

"Senpai—"

"Hyuuga—"

Mereka sama-sama terkejut saat mereka memanggil secara bersamaan.

"Kau duluan," ujar Sasuke tetap dengan gaya dinginnya.

"Ah.. anu… Senpai… sedang apa tadi? Kenapa ada di Taman Konoha?"

Sasuke pun bingung harus menjawab apa, dan mendadak menyesal memberi giliran duluan pada Hinata. "Hanya… jalan-jalan."

"Senpai… bolos?" celetuk Hinata polos.

"Hei. Jangan samakan aku dengan si usuratonkachi itu," protes Sasuke yang membuat Hinata tertawa kecil.

"Usuratonkachi? Itu panggilan Senpai untuk Naruto-senpai?"

"Dari dulu aku memanggilnya begitu," jawab Sasuke tetap datar.

Dan Hinata hanya membuat bulatan 'O' dimulutnya. Sesaat keheningan kembali menyelimuti, sampai suara Sasuke memecah keheningan itu.

"Apa yang kau lakukan di Taman Konoha bersama temanmu?"

Hinata pun menoleh, "Ah… tidak ada. Hanya ingin melihat bunga Sakura yang mekar di taman."

"Kalau mau melihat Sakura mekar, juga bisa disekolah, 'kan?"

Hinata kembali tertawa kecil, "aku ingin melihat ketempat lain… sekalian melihat bunga-bunga yang lain. Tidak apa-apa, 'kan?"

Sasuke pun menggumam, "yah… memang tidak masalah, sih…"

Lalu keheningan lagi-lagi menyelimuti mereka sampai mereka sampai dirumah Hinata. Disana, ada Neji yang sedang melatih Hanabi, adik Hinata, bela diri.

"Tadaima…" ujar Hinata lembut.

Neji yang melihat pun heran, "bagaimana kalian bisa pulang bersama?"

"Kami kebetulan bertemu di Taman Konoha," jawab Hinata seraya memeluk Hanabi.

Neji pun melirik kearah Sasuke, "Ya ampun… kau memang hebat. Sepertinya kau memang akan selalu bisa menemukan orang yang sedari tadi kau cari."

Sasuke segera membuat gestur tangan agar Neji berhenti bicara. Namun terlambat, Hinata mendengar semuanya.

"Hee?" Hinata menoleh pada Sasuke.

Sasuke yang tidak bisa menutupi kesalah tingkahannya pun memilih segera pulang dan melambaikan tangan singkat pada Hinata. "Jaa," ujarnya singkat.

Hinata pun memandang punggung Sasuke. "Sasuke-senpai… mencariku?"

"Iya. Sedari tadi ia mencarimu. Ia bahkan hampir berkelahi dengan Naruto," sahut Neji santai.

"Berkelahi? Kenapa?"

"Kalau itu tanya saja pada salah satu dari mereka besok. Aku mau lanjut melatih Hanabi dulu. Sana,cepat ganti baju."

Dan Hinata pun mematuhi perkataan Neji dengan perasaan bingung.

.

.

.

.

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar service area…"

Hinata menghela nafas saat nomor Sakura tidak dapat dihubungi. Sudah ketiga kalinya ia mencoba menghubungi Sakura, tapi tak bisa tersambung.

"Sakura kenapa, ya? Kalau aku bilang ingin kerumah Sakura malam-malam begini pasti tidak diizinkan…"gumamnya cemas.

Hinata pun mengambil foto itu,memandang lekat pada perempuan yang ada difoto tersebut. Lalu ia mengingat kalimat Moegi saat di panti asuhan tadi.

"…"dia Hima, Himawari-ku.". Kurasa itu memang nama aslinya. "

"Himawari…" gumam Hinata kembali.

Lalu Hinata mengingat sesuatu yang hendak dikatakan Sakura.

"Dia itu adalah—"

'Sakura hendak mengatakan sesuatu mengenai gadis ini…' batinnya.

"Moegi tidak mungkin salah orang,'kan? Tapi sepertinya Sakura juga mengetahui sesuatu…" Hinata memegang erat-erat foto yang ada ditangannya, sambil memejamkan mata.

Ia ingin tahu, benar-benar ingin tahu, apa gadis yang katanya bernama Himawari ini adalah gadis yang waktu itu dimaksud Naruto.

"Usuratonkachi. Dari dulu aku memanggilnya seperti itu."

Hinata membelalakkan matanya.

"Dia Hima, Himawari-ku."

Tiba-tiba Hinata merasa ragu ketika secara mendadak kata-kata Sasuke tadi menghampiri fikirannya.

"Nama panggilan…" gumamnya kembali.

Hinata kembali melihat foto itu, "gadis ini…"

"Betulkah bernama Himawari…?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED…


HUWAHAHAHAHAHAHA! Akhirnya setelah setahun lebih tidak apdet, fanfic ini kembali apdet huawawawawawa! Author harap semoga readers nggak lupa sama jalan ceritanya T_T

Ini jawaban dari review kalian di chapter sebelumnya~

Merkuri : sudah ya :3 terima kasih atas ingatan dan sarannya~ mohon terus beri saran pada author yang payah ini untuk kebaikan cerita dan author :D

Gilang363 : Gilang udah author jawab di pm kan? :3 terima kasih atas review-nya~ kamu masih bisa bernafas lega kok XD

JumAwan : wks… apalagi yang chapter 7 nya yak :'V semoga ente nggak lupa deh :'v ane juga tua #plak XD suka ngutang cerita lagi… doakan semoga author berubah :v

BlackLavender RB26DET : ayo kita nyanyi sama-sama~ yuhuuuu~ *anak alay mode* #plak :v

Hayati JeWon : Terima kasih~ syukur banget kalo ceritanya bagus menurut reader :3

alta0sapphire : ini udah dilanjut ya~ map kelamaan banget apdetnya T-T

lavender sapphires chan : WHAT?! SEGITU PENDEK?! #DUAAAR :V wkwkwkwk iya nih, ayam dirumah author aja ampe betelur 3 kali juga belum apdet-apdet T-T emmm… triangle love gak ya~? Wks :v Makasih makasih! Author emang manis :3 *bukanelu* itu tanpa disengaja loh, author aja baru ngeh kalo mereka kayak ketuker :v yosh! Tetap setia baca ya~

engel beitrage : nggak usah malu atuh XD umm… kira-kira siapa ya~? :3

Guest : Icha, sampai bertemu disekolah ya :v wkwkwkwk udeh apdet neh :v

Hwang Energy : gapapeh wkwkwk :3 itu gue terinspirasi dari kata-kata temen gueh wkwk :v ecieeeee juga ah ecieeeee :v #plak

K.I.R.A : Iya… maap… :'V author payah kalo disuruh apdet kilat :'v

hinata96 : Okeeee, ini udah dilanjut ya~ maaf kelamaan T-T

LotuS-Mein319 : Bahasa author emang masih kurang banget T-T author masih dalam tahap pembelajaran :3 kita sama-sama berjuang ya! #plak XD terus kirim saran buat kebaikan cerita dan author ya~

firdaus minato : udah lanjuuuut~

yudi : ini udah dilanjut ya~ maap kelamaan T-T

Guest : maaf kalo kelamaan~ T-T banyak kendala dalam pembuatan cerita *alesan aja author*

Yosh! Untuk para readers yang mau nge-review, login maupun nggak, terima kasih banyak buat kalian!terus kirimkan kritik dan saran yang membangun ya~

Dan untuk para silent reader, terima kasih banyak juga karena udah mau baca cerita author ini. Tapi author harap kalian mau kirim review sesekali, buat kebaikan cerita ini :3

Dan yang Cuma sekilas lihat doang, terima kasih juga karena udah mau sempet-sempet lihat :D

SAMPAI KETEMU DI CHAPTER 8~! :D