FAN FICTION

DISCLAIMER:

MASASHI KISHIMOTO

AUTHOR:

SILENTPARK VINDYRA

TITLE:

MY HEART'S FLOWER

CAST:

-)NARUTO UZUMAKI
-) HYUUGA HINATA
-) HYUUGA NEJI

OTHER CAST:

FIND BY YOURSELF!

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.

HAPPY READING~


Hinata memandang ragu pada foto yang ia pegang. Ia ragu pada gadis yang ada difoto tersebut.

"Gadis ini… betulkah bernama Himawari?

.

.

.

.

.

.

.

Message

To : Me

From : Haruno Sakura

Hina, selama beberapa hari kedepan aku akan sulit dihubungi karena aku membantu keluargaku untuk menyiapkan acara pemakaman Pamanku di desa. Sepertinya keluargaku juga akan membantu acara peringatan kematian tetangganya. Maaf ya.

.

Hinata menghela nafas berat ketika membaca pesan dari Sakura. Ia turut berduka cita, ingin menyampaikan belasungkawa namun Sakura sudah berkata bahwa ia akan sulit dihubungi. Akhirnya Hinata mengurungkan niatnya. Ini berarti Hinata juga tidak akan mendapat jawaban tentang yang waktu itu secepatnya dari Sakura.

"Ini berarti…aku harus mencari sendiri," gumamnya sambil bersiap-siap menuju sekolah.

Neji pun menghampiri Hinata yang berada diruang keluarga, "ayo berangkat."

"Hai," jawab Hinata lalu bergegas menuju sekolah bersama Neji.

Tiba-tiba Hanabi muncul dari ambang pintu masuk rumah mereka, "Nee-chan…"

"Lho, Hanabi? Kau belum berangkat sekolah?" tanya Hinata yang bingung. Bukankah Hanabi sudah berangkat beberapa menit tadi, batinnya.

"Tadi aku mengobrol dengan seseorang di depan pagar rumah kita, lalu ia menyuruhku untuk memanggil nee-chan," setelah menjawab, Hanabi segera menarik tangan Hinata keluar.

Sesampainya di halaman depan rumah, Hanabi menunjuk seseorang yang ia maksud. Hinata sedikit menyipitkan mata, lalu bergerak pelan kedepan, ingin melihat lebih jelas siapa itu.

Nafas gadis lavender itu berhenti sesaat ketika melihat siapa yang ada didepan rumahnya.

Naruto.

Mimpi apa dia semalam? Naruto tidak mungkin berada disana.

'Naruto-senpai saja datang kerumahku,' batin Hinata tidak percaya. "Ayo, Hanabi. Cepat berangkat. Nanti kamu terlambat," tukas Hinata seraya membalikkan badan dari tempat Naruto berdiri.

"Lho? Nee-chan tidak menghampiri orang itu?" Hanabi bingung melihat reaksi kakaknya yang seperti itu.

"Tidak ada orang disana," ujar Hinata yang masih tidak percaya dengan penglihatannya.

Namun perkataan Neji sukses membuatnya termenung, "Hinata, itu Naruto."

Hinata terdiam sesaat sebelum akhirnya menoleh kembali kearah Naruto yang menatapnya datar.

"…Senpai…?"

"Yo."

.

.

.

.

"Untuk apa kau menjemputku?" Hinata bersikap jutek pada pemuda blonde disampingnya.

"Hanya sedang ingin saja," jawab Naruto sekenanya.

"Kalau merasa ingin menjemputku, lebih baik segera cari pilihan yang lebih baik. Itu membuang banyak waktumu," Hinata berkata ketus pada Naruto.

"Kau tidak suka kujemput?"

"Kalau iya kenapa?"

Naruto tertawa sinis pada gadis berambut indigo itu, "begitukah sikapmu pada orang yang rela menjemputmu?"

"Sudah kukatakan, menjemputku hanya akan membuang waktumu."

"Bukan soal jemput atau tidak. Kau memang tidak suka jalan bersamaku," ujar Naruto tajam.

"Kurasa memang begitu," jawaban dari Hinata membuat Naruto semakin kesal.

"Oh, begitu? Tapi kurasa kau santai-santai saja saat jalan bersama Sasuke. Kemarin bahkan kau terlihat bahagia."

Hinata menoleh, terkejut mendengar ucapan Naruto, "darimana kau tahu aku pulang dengan Sasuke-senpai?"

"Aku punya seribu mata dan seribu tubuh," jawab Naruto asal, semakin kesal melihat reaksi Hinata yang seperti tadi.

Hinata tidak berniat menimpali jawaban Naruto. Ia malah menanyakan hal lain yang tanpa disadari membuat Naruto semakin dan semakin kesal, "Kau dan Sasuke-senpai… kudengar dari Neji hampir berkelahi. Ada apa?"

Mendengar hal itu, Naruto menoleh dengan sengit, "kenapa? Kau mengkhawatirkannya?"

"Tidak. Aku hanya—"

"Hei, kalian. Apa kalian bisa melanjutkan pertengkaran suami-istri ini disekolah saja? Atau aku harus jalan lebih cepat dari kalian?" sahut Neji yang akhirnya memotong dialog pertengkaran NaruHina itu.

"Tidak, Neji-nii. Tetap jalan bersama kami. Atau lebih tepatnya bersamaku," jawab Hinata kemudian memilih mundur dan berjalan disamping kakak sepupunya itu.

Dan Naruto memilih untuk melangkah tak peduli. Melihat ini, Neji mengambil langkah seribu. Dengan cepat ia meninggalkan Naruto dan Hinata dibelakang.

"Tunggu, Neji-nii!" tukas Hinata setengah berteriak.

"Cepat selesaikan masalah kalian! Aku pusing melihatnya!" balas Neji teriak disela-sela larinya.

Dan sekarang tersisa dua orang yang belum menemukan titik terang permasalahan mereka.

Sambil berjalan, mereka terjebak dalam keheningan yang benar-benar menjengkelkan. Saat mereka hampir sampai kesekolah, Hinata baru membuka suaranya kembali.

"Senpai," panggilnya pelan.

Yang dipanggil hanya melirik tanpa menjawab.

"Gomenasai," lanjutnya tanpa berniat melihat Naruto. "Tidak seharusnya aku berkata seperti itu."

Naruto hanya diam tanpa melirik padanya lagi.

"Terima kasih sudah menjemputku. Aku menghargai itu."

Naruto tetap tak membalas perkataan Hinata, sesampainya mereka disekolah pun, Naruto tak mengatakan apapun. Namun ada yang berbeda, Naruto mengantarkan Hinata sampai didepan kelas gadis itu. Tentu saja hal ini menjadi pusat perhatian.

"Senpai… tak perlu sampai ke kelasku juga, 'kan?" ujar Hinata yang bingung melihat Naruto. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemuda dihadapannya? Kepalanya terbenturkah?

"Memang kenapa?" tanya Naruto datar, tak peduli gunjingan para murid disekelilingnya.

Hinata memutar kedua bola matanya, "kelasmu, 'kan, jauh dari kelasku. Aku berterima kasih kau mengantarku sampai kesini, tapi bagaimana denganmu?"

Naruto terdiam sejenak, memandang gadis yang ada dihadapannya sekarang. Membuat Hinata semakin heran saja.

"Hei, nanti waktu istirahat pertama temui aku di halaman belakang," ujar Naruto yang melenceng jauh dari topik sebelumnya.

"Hee?"

"Pokoknya temui aku nanti. Sudah, ya. Aku ke kelasku. Dah," Naruto melambaikan tangan singkat pada Hinata, yang tentu dibalas lambaian tangan dengan raut wajah penuh kebingungan.

'Ada apa dengannya hari ini? Sepertinya kepalanya memang terbentur,' batinnya ngawur seraya masuk kedalam kelas.

.

.

.

.

SRAK!

Naruto melempar tas nya dengan malas seraya duduk lalu melamun di dalam kelasnya. Lagi-lagi pemuda penuh kejutan itu melakukan hal yang mengejutkan seisi kelas, meski sebenarnya tidak begitu penting untuk dirasa mengejutkan. Neji yang begitu tertarik dengan perilaku Naruto hari ini langsung berinisiatif mengambil duduk di sebelahnya. Ia malah berfikir apa yang sudah dikatakan Hinata sampai pemuda blonde disampingnya ini melamun begitu. Ia sedikit menyesal, tadi pagi memilih kabur dan meninggalkan mereka berdua sehingga tidak mendengar hal yang mereka bicarakan lagi.

"Hei," Neji berbisik pada Naruto.

Yang tentu saja tidak direspon oleh Naruto.

Neji menyadari kebodohannya sekarang, ia menepuk dahinya seraya bergumam, "Oh, iya, dia 'kan, melamun. Mana sadar bisikanku."

Akhirnya Neji memutuskan untuk mengejutkan Naruto. Anggap saja ini hukuman mengejutkan kelas, batinnya ngawur. Ia mengarahkan tangannya pada pinggang Naruto pelan-pelan, menarik sedikit kulitnya dengan jari telunjuk dan jempolnya, dan memelintirnya.

"ADAAW!"

Neji tersenyum puas melihat reaksi Naruto yang kesakitan.

Naruto yang segera mengetahui pelakunya meninju lengan Neji dengan wajah kesal, "apa-apaan kau?"

"Hei, sakit, tau," Neji mengusap lengannya yang ditinju dengan cukup keras.

"Kenapa kau mencubit pinggangku begitu?"

Neji menggidikkan bahu dengan wajah tanpa merasa berdosa, "bukan aku."

Naruto menyipitkan mata seraya urat di pelipisnya berkedut, "sudah jelas kau."

Neji melengos tidak peduli dengan ucapan Naruto. Sambil mempertahankan wajah tidak-merasa-bersalah, Neji menanyakan sesuatu pada Naruto yang membuat sang blonde termenung sesaat.

"Apa yang dikatakan adikku? Sampai kau melamun begitu."

Naruto mengalihkan pandangannya pada langit-langit kelasnya. Ia merasa malas untuk menjawab pertanyaan Neji.

Neji menyentil wajah Naruto, "Hoi! Jawab pertanyaanku!"

"Apa, sih? Terserah mau kujawab atau tidak."

Ketika Naruto mengusap wajahnya yang sakit terkena sentilan Neji, saat itu pula Neji membisikkan sesuatu yang membuat Naruto terdiam.

"Kalau kau tak mau jawab, kukatakan pada Hinata kalau kau sangat menyukainya."

Naruto menoleh dengan sengit, entah untuk keberapa kalinya hari ini ia menoleh seperti itu.

"Aku tidak menyukainya."

"Ya, dan kau membohongiku, Naruto."

"Itu kenyataan."

Kali ini Neji menjitak kepala Naruto, "ternyata meski sudah berbeda sifat, bodohnya masih sama. Jelas kau membohongiku dan dirimu sendiri."

Naruto memasang raut wajah teramat kesal, ditambah kedutan di pelipisnya semakin kencang, "aku tidak begitu!"

"Naruto, aku tahu kau. Kau mau membohongi perasaanmu lagi? Bagaimana kalau Hinata akhirnya juga pergi?"

Naruto mendadak beku.

"Bagaimana jika dia juga pergi, dan kau terlambat lagi? Kau mau?"

Naruto mengepalkan tangannya, "jangan bicara yang tidak-tidak, Neji."

"Aku hanya ingin membantumu," ujar Neji seraya meraih bahu Naruto. "Dengar, mengapa selama ini, walau aku kesal dengan sikapmu, aku setuju kau berhubungan dengan Hinata? Aku tahu kau orang baik. Jangan biarkan dirimu terlambat lagi seperti dulu, Naruto."

Naruto menepis tangan Neji dari bahunya. "Aku bukan Naruto yang dulu lagi, Neji. Aku bukan Naruto yang akan menebarkan kebahagiaan seperti dulu lagi."

Neji menghela nafas dengan berat, "Apa yang 'dia' katakan jika melihatmu seperti ini sekarang?"

Mendadak Naruto mencengkeram lengan Neji seraya menatapnya penuh sorot kebencian, "jangan berani bicara tentangnya dihadapanku."

Neji hanya menatap Naruto datar. Ia tahu, sangat tahu sebenarnya siapa yang dibenci oleh Naruto.

Orang yang berhasil membuat Naruto jatuh dalam jurang seperti sekarang ini.

Orang yang berhasil membuat Naruto membuang sifatnya terdahulu.

Tapi, Neji tahu, sebenarnya bukan orang itu yang dibenci Naruto.

"Naruto," ujar Neji kembali, "yang kau benci adalah dirimu sendiri, 'kan?"

Naruto membeku kembali.

Setelah Naruto melonggarkan cengkeramannya di lengan Neji, pemuda berambut panjang itu beranjak dari tempatnya duduk, berdiri dihadapannya seraya berkata, "aku tahu kau hanya takut tak dapat meraih Hinata. Sama seperti saat itu."

Naruto masih terdiam mendengar perkataan Neji.

Neji mengulas senyuman tipis, tanda bahwa ia sangat mengerti keadaan sahabat didepannya sekarang.

"Kau harus bisa membuka semuanya lagi. Kami semua sangat rindu kau yang dulu. Lagipula..."

Naruto menoleh pada Neji saat kalimat itu menggantung dengan seenaknya, membuat yang menunggu kelanjutannya melihat dengan pancaran rasa tak sabar.

"Hinata berbeda dengannya, Naruto."

Dan Neji pun beranjak dari tempatnya tanpa menunggu respon dari Naruto yang masih terdiam, entah untuk berapa lama.

.

.

.

.

Hinata menghampiri Naruto yang ternyata sudah berada di halaman belakang sekolah. Ia sedikit terkejut melihat Naruto yang sedang merebahkan dirinya, memandang langit dengan kosong, namun menyiratkan kesedihan.

'Sama... seperti di Taman waktu pertama kali bertemu...' batinnya seraya terus berjalan mendekati sang 'kekasih'.

Naruto menoleh sesaat pada Hinata lalu kembali memandang langit yang hari ini begitu cerah, tidak seperti hatinya yang begitu kelabu saat ini.

Setelah memilih duduk disamping Naruto yang sedang berbaring, Hinata ikut memandang langit yang terlihat begitu indah dan biru, "langit hari ini indah dan cerah, ya."

Hinata tahu, Naruto pasti takkan menyahuti perkataannya, jadi daripada bosan ia memilih untuk terus berbicara sendiri. "Awan-awannya begitu tipis. Cahaya hari ini juga sangat terang, menyilaukan. Oh, lihat! Bunga-bunga hari ini juga sepertinya menikmati cerahnya langit. Terutama Himawari itu. Ia terlihat berkilau sekali. Boleh kupetik tidak, ya? Hari ini benar-benar menyenangkan melihat pemandangan yang ada. Andai langit masih akan sebiru ini, setidaknya sampai satu minggu kedepan. Pasti yang sedang patah hati juga terobati dengan melihat pemandangan hari ini. Ah, andai Sakura disini, dia pasti sudah menggenggam tanganku dan memasang wajah sumringah melihat hari ini begitu cerah. Rasanya—"

Kalimat Hinata terhenti saat sebuah lengan yang kekar mengunci tubuhnya dalam pelukan.

"...senpai?"

Naruto tidak menjawab. Ia malah semakin menyamankan posisinya saat memeluk Hinata. Entah kapan ia bangun dari posisi berbaringnya, mendengarkan Hinata lalu memeluknya dari belakang.

Meski merasa tidak nyaman, tak bisa dipungkiri bahwa jantungnya berdebar sangat cepat saat ini. Wajahnya pun sudah memerah. Ia tidak tahu harus melepas pelukan itu, atau mencoba menikmatinya.

"...maaf," akhirnya Naruto membuka suaranya.

Hinata menoleh dengan bingung, "maaf? Untuk apa?"

"Semuanya."

Hinata terdiam mendengar jawaban 'kekasih'-nya itu. Perlahan, ia memegang lengan Naruto yang memeluknya erat, seraya memasang senyum lembut, "tidak apa."

Naruto kembali tak bersuara, tapi ia menyamankan posisi kepalanya di bahu Hinata. Entahlah, ia merasa sangat menginginkan Hinata berada disisinya saat ini.

Apa untuk menyembuhkan kegalauannya selama ini? Untuk melupakan kata-kata Neji tadi?

Bukan, bukan itu semua.

Ia ingin mempercayai bahwa Hinata berbeda.

Berbeda dari orang itu.

Walau sebenarnya Naruto sudah menyadari bahwa Hinata memang berbeda, dalam hatinya ia masih merasa takut.

Bagaimana jika nantinya Hinata bersikap sama?

Bagaimana jika ia terlambat lagi?

Bagaimana jika Hinata meninggalkannya juga?

"...Hei," panggil Naruto pada Hinata.

Yang dipanggil hanya menoleh padanya, sambil memasang wajah yang seakan bertanya 'ada apa?'.

Mata mereka bertemu. Iris sapphire blue dan lavender itu bertemu. Memancarkan sesuatu yang berbeda. Iris lavender itu memancarkan suatu ketulusan. Sementara iris sapphire itu memancarkan ketakutan hebat, meski disembunyikan dengan pandangan yang datar.

Dan Hinata menyadari itu. Bahkan sejak pertama kali bertemu.

"Jika aku terus bersikap dingin seperti dulu... apa kau akan bertahan?"

Pertanyaan dari Naruto membuat Hinata terdiam. Sebenarnya ia bingung dan bertanya-tanya, ada apa dengan Naruto.

"Maksudmu? Aku tak mengerti, senpai."

"Maksudku, yah... jika aku tidak bisa menjagamu dengan baik... seperti yang sudah kulakukan padamu sekarang. Apa... kau akan tetap memilih disampingku? Walau ada pria yang jauh lebih baik? Misalnya, seperti orang yang mengantarmu pulang kemarin."

Hinata terdiam kembali, seraya memandang wajah Naruto cukup lama, membuat sang blonde itu memasang wajah tidak sabar.

"Hei. Jawab aku, baka."

Dan Hinata mengatakan sesuatu yang mengejutkan dengan wajah innocent, "Naruto-senpai, apa kau cemburu dengan Sasuke-senpai?"

Mendengar hal itu, Naruto hampir saja terbatuk-batuk.

"Apa itu? Tidak! Untuk apa? Darimana kau bisa mengatakan hal itu?" ujar Naruto tidak suka. Ia tidak suka Hinata mengatakan nama 'Sasuke' disaat mereka sedang 'bermesraan' seperti ini.

"Ngg, terpancar dari matamu," jawab Hinata sambil menunjuk mata Naruto.

Naruto terkesiap mendengar jawaban Hinata. Lalu ia tiba-tiba tertawa, membuat Hinata semakin bingung melihat tingkah Naruto hari ini.

"Senpai, sebenarnya sejak pagi tadi aku curiga kau terbentur sesuatu. Hari ini kau aneh sekali. Tapi tidak ada benjol atau memar sepertinya dikepalamu," ujar Hinata polos seraya mengusap kepala Naruto, mencari tonjolan bernama 'benjol' atau warna kebiru-biruan dikepala itu, membuat pemuda itu semakin lepas tertawa.

"Apa yang lucu, sih?" Hinata sedikit kesal melihat Naruto yang menertawakan dirinya secara tiba-tiba. "Atau kau tertawa untuk menyembunyikan rasa cemburumu?"

Naruto berusaha menghentikan tawanya, "kau mengatakannya dengan wajah bingung seperti itu. Lucu sekali."

"Sama sekali tidak lucu. Aku serius," Hinata mengerucutkan mulutnya.

Naruto kembali terdiam melihat Hinata. Ia lalu menenggelamkan wajahnya di bahu sang gadis, lalu mengatakan hal yang sejujurnya. "Kurasa aku memang cemburu."

Sekarang giliran Hinata yang merasa lucu mendengar pengakuan dari mulut Naruto. Ia tertawa kecil dan membuat Naruto menoleh dengan kesal.

"Hei, aku serius."

"I know," ujar Hinata seraya mengganti posisinya menjadi berhadapan dengan Naruto. "Aku ingin menjawab pernyataanmu tadi pagi dulu. Kau bilang aku terlihat bahagia berjalan dengan Sasuke-senpai? Hei, aku biasa saja. Lagipula, kami bertemu di Taman Konoha dan Sakura tiba-tiba meninggalkanku. Jadilah kami jalan berdua."

Naruto hanya mendengarkan setiap perkataan Hinata dengan datar.

"Nah, giliranmu menjawab pertanyaanku tadi pagi, senpai. Kenapa kau hampir berkelahi dengan Sasuke-senpai?"

Alis Naruto berkedut saat mendengar kelanjutan kalimat gadis berambut indigo itu. Sasuke lagi, benarkah dia biasa saja dengan Sasuke, batinnya.

"Bukan urusanmu," ketus Naruto seraya melepas rengkuhannya dari Hinata. Terlanjur bete. Mungkin itu yang dirasakan Naruto sekarang.

Hinata menyipitkan matanya, "sebenarnya ada apa dengan kalian? Kusebut nama Sasuke-senpai reaksimu seperti itu."

"Sudah kubilang bukan urusanmu."

Tiba-tiba muncul keinginan untuk menggoda Naruto saat Hinata melihat wajah pemilik sapphire blue eyes itu semakin bad mood.

"Aha~ Naruto-senpai~" goda Hinata, "jangan-jangan kalian bertengkar soal diriku, ya? Uhuuu..."

Tiba-tiba Hinata jadi terdiam sendiri melihat Naruto yang kini menatapnya datar.

"...eh? Serius?" Hinata berujar polos sambil menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal.

"Untuk apa juga dia menghampirimu. Dan kenapa kau tidak memilih lari? Jangan-jangan kalian memang saling menyukai, ya?"

Mendengar ucapan yang tajam dari Naruto, Hinata memasang wajah kesal.

"Apa, sih? 'Kan sudah kubilang aku biasa saja dengan Sasuke-senpai!"

"You're Liar," ujar Naruto ketus, membuat Hinata memutar kedua bola matanya. "Caramu memanggil namanya saja berbeda. Lembut sekali. Beda sekali kalau menyebut namaku."

"Sasuke-senpai itu 'kan, orang baik. Salahkan saja dirimu yang membuatku kesal terus."

"Tuh. Jelas sekali kalau kau membelanya. Kau memang suka padanya, 'kan? Tidak perlu bohong. Akan kupanggil pujaan hatimu itu segera."

"Senpai, aku tidak menaruh perasaan apapun padanya. Harus kukatakan berapa kali, sih?!"

"You. Are. A. Big. Liar. Hinata."

Hinata kembali memutar kedua bola matanya. "Terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas aku mengatakan dengan jujur."

Kalimat Hinata sepertinya menjadi penutup sementara 'pertengkaran' mereka saat itu. Mereka terjebak dalam keheningan kembali. Sibuk dengan fikiran masing-masing.

"Kau belum menjawab seluruh pertanyaanku, baka," Naruto kembali membuka suara, membuat Hinata kembali menoleh padanya.

Hinata menghela nafas. Ia mencoba mencari jawaban terbaik, namun buntu. Akhirnya ia memutuskan untuk berkata sesuai yang ia fikirkan sedari tadi, "tentang pertanyaanmu tadi... jujur aku tidak tahu. Semua perempuan pasti ingin mendapatkan laki-laki yang lebih baik, 'kan?"

"Berarti kau akan meninggalkanku, bukan begitu?" suara Naruto terdengar begitu dingin.

"Soal itu aku juga tidak tahu," jawab Hinata. "Tapi yang jelas, saat ini aku merasa kau itu sebenarnya sangat baik. Lebih baik dari siapapun, entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku. Dan, saat ini aku menyukai—"

Kalimat Hinata lagi-lagi terhenti ketika Naruto tiba-tiba menciumnya.

Hinata ingin berontak, tapi tubuhnya tidak mematuhi perintah otaknya. Lagipula, ia merasa ciuman ini berbeda dari yang sebelumnya. Ada perasaan takut, yang begitu terasa. Terbukti dengan bibir Naruto yang terasa bergetar.

Saat Naruto melepas ciuman mereka, Hinata meraih wajah Naruto, dan memandang mata sebiru langit namun tak ada sinar tersebut.

"Senpai, lagi-lagi..." Hinata memasang wajah kesal.

"Kumohon, jawab dengan benar," ujar Naruto seraya menggenggam tangan Hinata, "jangan menjawab tidak tahu."

"Kenapa...? Bukankah... kita hanya bersandiwara, senpai?"

Naruto mendadak beku saat Hinata berkata seperti itu.

Gadis itu melepas tangannya dari wajah Tan Naruto, kemudian menunduk seraya meneteskan air mata yang jatuh seenaknya. Padahal ia tak perlu menangis, namun hatinya kini betul-betul ingin menangis.

"Jangan buat aku semakin menyukaimu kalau nyatanya kita hanya bersandiwara, senpai..."

Naruto semakin membeku mendengar perkataan Hinata, ditambah dengan isakan itu. Hatinya terasa ngilu.

"Untuk apa kau merasa takut seperti itu? Untuk apa kau merasa cemburu? Nyatanya sebenarnya kita tidak pernah berpacaran. Sungguh... aku lelah, senpai... lebih baik kita—"

"Kita tidak akan putus," potong Naruto cepat.

Hinata mendongak saat mendengar kalimat Naruto.

"Kita. Tidak akan putus. Tidak akan," Naruto kembali mencium Hinata, "kau milikku."

Setelah mendengar kalimat penuh ketegasan dan keposesifan itu, Hinata membiarkan dirinya melemah, seraya Naruto menciumnya dan mendekapnya erat.

"Tidak akan kubiarkan kau meninggalkanku."

Isakan Hinata semakin terdengar. Dia bingung, apa dia merasa sedih atau senang. Entahlah. Yang jelas, sekarang ia butuh suatu kepastian. Kepastian hubungan mereka.

"Kalau begitu, apa sekarang... kita... serius?" ujar Hinata disela-sela tangisnya.

Naruto tidak menjawab, namun dekapan yang semakin erat itu sudah menjawab pertanyaannya. Tanpa disadari, sebuah lengkungan lembut kini kembali menghiasi bibir Hinata seraya membalas pelukan Naruto.

Tak terasa, bel tanda berakhirnya jam istirahat pertama berbunyi. Dan mereka lupa kalau mereka tidak jajan ataupun memakan bekal mereka.

Saat mendengar suara bel tersebut, mereka saling memandang lalu kembali tertawa.

"Haha, jadi artinya kita tidak makan, nih?"

"Sepertinya begitu... hehe..." Hinata terkekeh, masih dengan posisi mereka yang saling mendekap.

Mereka pun bangkit dari posisi mereka. Naruto mengusap wajah Hinata yang penuh dengan air mata sambil membisikkan kata 'cengeng', yang sukses membuat Hinata menggembungkan pipinya.

Meski begitu, ia senang.

Naruto mengakui keseriusan hubungan mereka.

Dan juga...

Ia melihat semakin banyak sisi lain dari pemuda blonde tersebut.

"Naruto-senpai," panggil Hinata.

"Hm?"

"Antar aku sampai ke kelas lagi."

Naruto mengukir senyuman tipis, ia sudah mempercayakan perasaannya pada Hinata. Memang benar, ia harus membuka semuanya. Meskipun rasanya akan sulit kembali menjadi dirinya yang dulu. Namun ia percaya, keberadaan Hinata sekarang akan mengembalikan jati dirinya perlahan.

"As your wish."

Mereka pun berjalan kembali ke gedung sekolah, dengan Hinata yang menggandeng lengan Naruto. Mereka merasa bahwa akan menjadi pusat perhatian semua siswa disana, namun memilih untuk tak peduli. Mereka terus berjalan dengan wajah berseri-seri tanpa menyadari bahwa seorang pemuda sedari tadi memperhatikan mereka sambil bersembunyi dari balik tembok gedung, menatap dengan tatapan yang tak dapat diungkap dengan kata-kata.

"Kali ini, kau jujur dengan perasaanmu. Tapi kau pasti akan membuatnya merasakan hal sama, Naruto."

.

.

.

.

Hinata's POV

Hari ini rasanya aku bermimpi hal yang sangat indah. Sangat, sangat indah. Rasanya ingin aku menampar diriku sendiri agar tak semakin terhanyut dalam bayangan mimpi sesaat itu, namun genggaman tangannya yang begitu erat saat itu menandakan bahwa ini adalah kenyataan yang memang indah.

Genggaman tangan Naruto-senpai saat kami berjalan pulang.

"Kyaaaa~!"

Aku berteriak kesenangan dari kamar saat mengingat kejadian di halaman belakang tadi. Dan sekarang yang mengantarku pulang bukanlah Sasuke-senpai –yang notabene-nya kebetulan— lagi, namun orang yang akhirnya mau membuka perasaannya kembali. Aku tahu, Naruto-senpai masih merasa ragu. Namun ia mempercayaiku. Mempercayai perasaanku. Rasanya aku ingin menyampaikan kebahagiaanku pada semua orang!

Karena sekarang kami benar-benar menjadi sepasang kekasih!

Disaat aku sedang memeluk bantalku dengan erat sambil tersenyum sendiri, bunyi yang berasal dari ponselku terdengar.

Kuambil ponselku dan melihat nomor yang tak kukenal tertera, meneleponku. Siapa?

Dan kuangkat panggilan itu, "moshi-moshi?"

"Hei, baka."

Kami-sama, ini suaranya.

Aku hampir berteriak lagi jika aku tidak segera berusaha menguasai diri dan membalas sapaannya yang tidak ramah tapi menyenangkan itu, "Naruto-senpai? Dari mana kau mendapat nomor ponselku?"

"Neji," aku langsung terbelalak mendengar jawabannya.

"Kau sampai bertanya pada Neji-nii?"

"Salahkan dirimu yang bermain-main denganku dengan merahasiakan nomor ponselmu ketika kutanya pulang sekolah tadi."

Seketika aku tertawa mendengar penuturan Naruto-senpai. "Aku hanya ingin melihat wajah kesalmu, senpai."

"Apa-apaan itu?" terdengar protesannya dari ponselku. Tawaku semakin pecah.

"Jangan tertawa, nona Hyuuga."

"Habis... senpai lucu sekali! Oh, iya! Apa senpai sudah sampai rumah?"

"Hmm..." jawaban tidak jelas meluncur darinya, membuatku bingung.

"Senpai sudah sampai atau belum?"

"Sudah, kok, sudah," jawabannya kali ini membuatku lega. "Kau sudah makan?" lanjutnya, kali ini suaranya terdengar begitu lembut.

"Sebentar lagi aku akan makan."

Lagi-lagi kudengar gumaman tidak jelas darinya. Lalu ia kembali melanjutkan pembicaraan, "baiklah. Pergilah mandi lalu makan. Nanti malam akan kutelepon lagi."

"Cara bicaramu seperti ibu-ibu yang menyuruh anaknya."

Kali ini kudengar tawa dari Naruto-senpai, "tunggu teleponku nanti malam."

"Hai."

Hening sesaat, sebelum dia melanjutkan kata-katanya lagi. "Hinata."

"Ya?" sahutku lembut.

"Terima kasih untuk tetap menerimaku."

Mendengar kata-katanya yang terdengar tulus seperti itu, membuatku membentuk sebuah senyuman, kurasa wajahku juga merona saat ini.

"Iya, Naruto-senpai."

"Aku... menyayangimu."

Aku sempat terdiam, seraya wajahku terasa semakin panas, semakin merona.

Kubalas pengakuannya tak kalah lembut, "aku juga menyayangimu, Naruto-senpai."

"Dah."

"Dah..."

Lalu setelah terdiam kembali, terdengar suara tanda bahwa panggilan sudah berakhir.

Aku menggenggam ponselku dan menaruhnya di dadaku, seraya merasakan gemuruh yang ada di dalam. Gemuruh jantungku.

Kami-sama, semoga kebahagiaan seperti ini terus berlanjut untuk kami berdua.

.

.

.

.

Malam itu, Hinata kembali berbincang ria dengan Naruto. Karena mereka belum seutuhnya saling mengenal satu sama lain, malam itu mereka habiskan dengan memberitahu keluarga masing-masing, bertukar informasi tentang makanan dan minuman kesukaan, tempat favorit, dan hobi masing-masing. Hinata terus berceloteh dengan riang, sementara Naruto terkadang hanya mendengarkan sambil tersenyum membayangkan ekspresi Hinata ketika itu.

Ya, mereka adalah pasangan yang sedang menikmati manisnya sebuah hubungan setelah beberapa kejadian tidak menyenangkan yang mereka alami. Siapa yang tidak senang dengan hal itu?

Namun yang tidak mereka tahu adalah, kejadian yang lebih tak menyenangkan akan mereka alami tak lama lagi.

Dan apakah mereka akan tetap bisa mempertahankan hubungan mereka, tak satupun yang tahu.

Karena yang akan dua insan muda ini hadapi benar-benar diluar dugaan.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED...


Hai, hai, hai~! Author kembali dengan chapter lanjutan dari 'My Heart's Flower'! gimana chapter kali ini? Membingungkan? Membuat deg-degan? Atau apa? Yang jelas, semoga kalian suka chapter 8 ini! Dan yang merasa kecewa karena chapter 7 NaruHina masih renggang, ini mungkin bisa jadi obat penawarnya ya~ XD yang penasaran tentang kelanjutan 'siapa yang ada dalam foto Naruto', di chapter depan akan dimuat. Doakan semoga author cepat mendapat ilham inspirasi untuk chapter depan XD *digebuk readers*

Yosh! Ini jawaban dari re-view kalian di chapter sebelumnya :

blackeyes947 : Ini udah author apdet kan? Kan? Kan? Huahahahaha! Author selalu senang jika reader gregetan dengan tulisan TBC *dibuang* Iya dong~ triangle love~ yuhuuu, biar ada manis-manis nya gitu~ /apanya XD ini udah apdet kan? Nggak kelamaan kan? Plis jan jyuken author ._.

adityapratama081131 : cerita tentang 'Himawari' ada di chapter depan ya~

Gilang363 : Hiks, semoga kekecewaan kamu terbayar dengan membaca chapter ini T^T

yudi : author sudah update ya~ tetap ditunggu chapter selanjutnya ya :3

HarHexz : enak aje seabad :v Cuma setahun paling lama #plak XD okeeeeh~

X : Terima kasih kalau bagimu fanfic ini bagus~ :3

hqhqhq : Hiks, maaf T^T di chapter ini NaruHina nya berkembang, kok... author memang memasukkan unsur SasuHina biar ceritanya berkembang, maaf kalo kamu kecewa T^T tetap suka fanfic ini ya!

Guest : Emang bahasa gue masih kurang :" makanya ajarin Icha :v #plak XD pajak apa dah ._. tetep baca yee~

Hwang Energy : hai my bestie :* ini udah apdet ye chapter 8 nya~ semoga lu suka :D sebulan dua bulan apdet itu udah fast kan? XD *dibuang

Riska Indah337 : Hehehehe ini udah dilanjut kok :3 benarkah seru? Terima kasih~ X3

Shinshi-chan : Ini ya, chapter 8 nya :D author senang kalau fict ini ditunggu-tunggu reader X3 tetap baca ya~

anna hime : Makasih ya~ tetap ditunggu kelanjutan ceritanya ya :3

Arisa-chan : Okeeeee! Makasih udah menyukai fic ini~ tetap nantikan kelanjutannya ya~ :9

Sebenarnya sekarang author sedang masa galau. Kenapa? Putus cinta? Bukan, author jomblo kok #plak. Author galau setelah menonton trailer terbaru Boruto : Naruto the Movie T^T adegan Naruto disitu sangat mengkhawatirkan, ditambah dia berujar "Sasuke, aku mempercayakannya (Boruto) padamu". Terus ditambah lagi adegan Boruto nangis! Sumpah author mendadak resah dan gundah lalu galau ketika itu sampai sekarang T^T #authoralaymode

Maaf jadi curhat dadakan T^T

Terima kasih bagi yang sudah me-review! Dan terima kasih bagi para silent reader, dan yang sekedar melihat. Tanpa kalian, fic ini bukan apa-apa. Teruskan!

Sampai jumpa di chapter 9~! :D