FAN FICTION

DISCLAIMER:

MASASHI KISHIMOTO

AUTHOR:

SILENTPARK VINDYRA

TITLE:

MY HEART'S FLOWER

CAST:

-)NARUTO UZUMAKI
-) HYUUGA HINATA
-) HYUUGA NEJI

OTHER CAST:

FIND BY YOURSELF!

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.

HAPPY READING~

.

.

.

.

.

.

.


Hinata's POV

Ah, ini pagi yang begitu sempurna.

Bagaimana tidak? Aku bangun begitu pagi sehingga tidak sadar ternyata langit masih malu-malu untuk menunjukkan seluruh cahaya menyilaukannya disaat aku sudah melangkahkan kaki menuju sekolah tercinta. Dan, lihat, lihat! Bunga-bunga disekitar sudah bermekaran dengan indahnya. Uuh, aku tidak bisa berhenti tersenyum bahagia!

Apalagi... seseorang yang diberi predikat 'Pangeran Kesiangan' pergi pagi buta begini bersamaku.

Dan senyumku semakin mengembang saat melihat mulutnya yang tidak berhenti menguap lebar.

"Yang benar saja... kau membangunkanku sepagi ini? Lihat, cahaya matahari saja belum bersinar dengan cerah."

Seketika aku tertawa mendengar ucapan Naruto-senpai, "tidak apa-apa, 'kan? Itu bagus untukmu, Senpai. Mungkin julukanmu juga akan berubah."

"Aku sudah sangat bahagia dengan julukanku sekarang."

"Dan aku akan memaksamu mengubah hal itu."

Seketika ia mengacak-acak rambutku seraya menghela nafas, "ya, ya, aku tahu. Cerewet sekali dirimu saat membangunkanku di telepon tadi." Ia tertawa kecil.

Aku kembali tertawa mendengarnya. Ya, memang, setelah aku terbangun aku bergegas menelepon Naruto-senpai dan membangunkannya dengan suara keras. Tanpa sadar aku bicara sampai detik terakhir tanpa menarik nafas. Haha.

"Asyik, lho, kalau bisa berangkat pagi-pagi begini."

"Ya. Ini baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, dan bel baru berbunyi jam delapan. Hebat. Mungkin aku akan menjelajahi alam bawah sadar lagi di kelas."

"Ya. Itu pasti. Terlihat sangat jelas dari raut wajahmu," lagi-lagi aku tertawa. Entahlah, aku yakin sebenarnya ia tidak sedang bergurau dan kufikir sebenarnya dari tadi tidak ada yang lucu dari perkataannya.

Namun, entah mengapa setiap mendengar perkataannya, aku sangat bahagia. Ini tanda bahwa ia mulai terbuka padaku. Dan aku sangat, sangat senang.

Ah, ia menggenggam tanganku. Ya ampun, rasanya aku ingin berteriak saking bahagianya. Mungkin wajahku sudah menunjukkan ronanya lagi. Soalnya aku merasa pipiku mulai panas.

"Kau ini mudah sekali merona merah begitu, ya."

Duh, wajahku semakin memanas!

"Cu-Cuma padamu, kok, wajahku merona seperti ini..." aku berkata jujur, padahal aku tahu itu memalukan!

"Jadi... maksudmu kau sangat menyukaiku, begitu?"

Duh, jangan mengatakan hal yang membuatku semakin salah tingkah, dong, Senpai!

"K-Kau fikir saja sendiri!" ujarku dengan suara yang sedikit melengking.

Naruto-senpai tersenyum seraya mengeratkan genggamannya di tanganku, "aku juga sangat menyukaimu, kok."

Aku sangat malu sekaligus bahagia. Sungguh, ini pengalaman pertama bagiku, berjalan ke sekolah, digandeng oleh laki-laki yang menjadi kekasihku...

Dan, sungguh, Naruto-senpai itu pacar pertama dalam hidupku!

Tapi, aku merasa, aku bukan kekasih yang pertama dalam hidupnya.

Ah, itu bukan masalah. Sekarang kami saling menyukai dan menjalin sebuah hubungan, hanya dengan memikirkan hal seperti itu membuatku merasa ingin berteriak. Apalagi, Naruto-senpai sudah mau berbagi cerita denganku, meski aku yakin tidak semua kisah dalam hidupnya.

Jadi, untuk apa mempermasalahkannya?

Yang penting, aku bahagia sekali~! Dan dia pun terlihat bahagia!

Tanpa terasa, kami berdua sudah berada di depan gerbang masuk gedung sekolah. Yang tentu saja masih sangat sepi.

Kami berdua terus berjalan sampai di depan kelasku. Sudah kuduga aku menjadi orang pertama yang menempati kelas hari ini. Naruto-senpai mengantarku sampai kelas, seperti yang ia lakukan di hari sebelumnya.

"Arigatou, Naruto-senpai. Sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini lagi... kelasmu, 'kan, cukup jauh dari kelasku..."

"Tidak apa-apa, kok. Lagipula, aku masih ingin disini menemanimu," ucapnya yang kembali membuatku merona.

"Ja-Jangan, ah! Apa jadinya murid senior main-main di kelas junior-nya?!"

"Memangnya kenapa? Sepertinya tidak ada yang begitu bermasalah dari hal itu."

"A—Aku... itu... bukan masalah itu, sih... tapi, disini, hanya baru ada aku disini... lalu, jika kau ada disini juga..."

Kulihat Naruto-senpai sedikit menyipitkan matanya setelah aku berkata seperti itu. Etto, sepertinya dia sedikit tersinggung. "A-Aku tidak bermaksud menyinggungmu, Naruto-senpai!"

Etto, dia masih menyipitkan matanya.

"S-Senpai... aku hanya..."

"Aku mengerti, Hinata," tiba-tiba ia berkata diiringi dengan senyuman yang... meneduhkan.

Perlahan aku mendekat padanya, dan kulingkarkan kedua tanganku pada lengan kekarnya. Jantungku berdebar dua kali lebih cepat dibanding sebelumnya, dan senyumanku kembali mengembang.

"Ada apa?" tanyanya dengan suaranya yang tenang.

"A-Aku..." suaraku terbata-bata, "aku ingin ke halaman belakang... b-be-bersama—"

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku yang terputus-putus karena kegugupanku, Naruto-senpai kembali menggenggam tanganku dan membawaku ke tempat favorit kami tersebut.

Kurasa aku akan pingsan saking malunya.

.

.

.

.

Tatapan datar itu terus mengarah dari jendela kelasnya, tengah menatap sepasang kekasih yang sedang menikmati sebuah perasaan bernama 'bahagia'. Tak sedetik pun ia mengalihkan pandangannya setelah sampai di dalam kelas. Tatapan datar yang menyiratkan sesuatu, yang sulit untuk diungkapkan, sulit untuk diartikan. Suara-suara riuh dalam kelas itu tetap membuatnya bergeming, terus menatap dua orang tersebut dari bangkunya disamping jendela, walau sedikit jauh, namun dapat terlihat cukup jelas dari sana.

"Sasuke, dari tadi kau memandangi halaman belakang terus."

Bahkan suara itu tidak dapat mengalihkan pandangannya, hingga sang pemilik suara tahu apa yang tengah temannya lihat.

"Ah, mereka?"

Sasuke tetap terdiam.

"Yah, bukannya itu bagus? Semenjak Naruto menjalin hubungan dengan adik sepupuku, sedikit demi sedikit ia kembali seperti 'Naruto' yang dulu selalu bersama kita, 'kan?" Neji tersenyum tipis seraya ikut memandangi Hinata dan Naruto yang mulai beranjak dari tempat mereka.

Sasuke tetap terdiam, seraya menghembuskan nafas yang seperti terasa mengganjal di dalam dadanya.

Melihat reaksi seperti itu, sontak Neji pun terkejut, "Oi, Sasuke. Jangan bilang kalau kau—"

Sesak.

Entah mengapa dada Sasuke terasa begitu sesak sedari tadi.

Gejolak yang ia rasakan semakin kuat, namun entah mengapa pandangannya tak juga teralihkan. Bahkan sampai dua sejoli itu menghilang dari pandangannya.

Neji yang melihatnya menatap Sasuke dengan nanar, "Sasuke, kau—"

"Ternyata benar, Sasuke itu sangat menyukai Naruto."

Kalimat yang mendadak muncul itu seketika membuat Neji tersedak hebat, bahkan Sasuke pun akhirnya menoleh dengan tatapan horror.

"Yang benar saja, Sai!?" Neji menepuk-nepuk dadanya seraya masih terbatuk-batuk.

"Apa aku salah? Daritadi kuperhatikan Sasuke memandang Naruto dengan tatapan memilukan seperti itu. Seperti berharap bahwa dirinya lah yang seharusnya berada disamping Naruto di halaman belakang. Seharusnya kau bisa lebih jujur pada Naruto, Sasuke."

Kalimat polos Sai sukses membuat pelipis Sasuke berdenyut.

Satu orang lagi kemudian ikut berbicara, "hee... jadi Sasuke punya masalah dalam orientasi, ya? Apa kau berencana menarik Naruto bersamamu kedalam grup 'Pelangi'?"

"Shut up, Gaara. Aku masih normal," pada akhirnya Sasuke pun menyahut.

"Lalu kenapa kau memandangi Naruto seperti itu?"

Mendengar pertanyaan Sai, kembali Sasuke terdiam. Kedua matanya memejam erat, seraya kembali menghela nafas, "kau tidak mengerti apapun, Sai."

Hening menghampiri keempat pemuda tersebut sampai Naruto masuk ke dalam kelas, yang segera menjadi pusat perhatian mereka. Naruto menatap mereka bergantian dengan heran, seraya terus berjalan menuju bangkunya yang berada di sebelah Sasuke.

"Ada apa, menatapiku seperti itu?" Naruto menoleh pada Neji, yang dibalas dengan gelengan kepala sebelum menjawab.

"Tidak ada apapun. Kami hanya merasa bahwa sedikit demi sedikit kau menjadi Naruto yang sudah lama kami kenal, seperti waktu dulu."

Mendengar hal itu, hanya senyuman tipis yang dapat diberikan oleh pemilik shappire blue eyes tersebut. Senyuman tipis yang tulus, yang bahkan mereka sudah lupa bagaimana wajah Naruto jika tersenyum dengan jujur seperti itu.

"Wow, benar-benar keajaiban," Gaara ikut tersenyum melihatnya. "Sebaiknya kita berterima kasih pada Hinata-chan. Bukan begitu, Neji?"

"Yah, mungkin sesampainya di rumah nanti."

Sai pun kembali ikut berbincang, "tapi, Naruto, asal kau tahu, dibalik kebahagiaanmu sekarang, sebenarnya ada yang merasa kehilangan. Sa—"

Kalimat itu terhenti tatkala Sasuke dengan sigap 'menutup mulut' Sai dengan melempar buku yang entah darimana ia dapatkan.

"O-Oi! Kenapa kau melempari Sai, Sasuke?" tanya Naruto yang terkejut dan heran.

"Tutup mulutmu, Sai," Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto. "Tumben hari ini kau tidak terlambat, Usuratonkachi."

"Tch! Berhenti memanggilku begitu! Dan, bukankah bagus jika aku tidak datang terlambat?"

"Yah..." gumaman yang tak jelas keluar dari mulut pemuda berambut raven itu.

"Bicara yang jelas, teme."

Perlahan Sasuke beranjak dari tempatnya, meninggalkan teman-temannya untuk pergi keluar kelas. Hanya pandangan heran yang terpancar di mata Naruto, Sai dan Gaara. Sementara Neji menatap Sasuke dengan datar.

Di ambang pintu, Sasuke berhenti dan menoleh pada Naruto, "Oi, Naruto."

"Apa?"

"Selamat, ya. Jaga Hyuuga baik-baik," dan Sasuke segera keluar dari kelas.

Naruto sempat terdiam mendengar kalimat yang diutarakan oleh temannya itu.

"Sasuke, dia..."

"Ya," sahut Neji pelan. "Akan kususul dia."

.

.

.

.

"Lalu kemudian—kemudian, kami... bergandengan tangan menuju sekolah~! Kyaaaa~!"

Wajah Hinata kembali memerah diiringi semangatnya bercerita yang ditanggapi dengan tawa kecil dari sang sahabat yang sudah kembali bersekolah, Sakura.

"Haah... padahal aku sedikit berharap kalau Hinata akan berpaling pada Sasuke-senpai," ujar Sakura usil yang dibalas delikan oleh Hinata. Sakura pun balas menjulurkan lidah.

"Sasuke-senpai memang baik. Tapi... dihatiku memang cuma ada Naruto-senpai."

"Uh~uh~"

Sakura tersenyum lebar mendengar jawaban dari mulut sahabat tersayangnya itu.

Mendadak ia teringat sesuatu. Sesuatu yang harus ia jelaskan pada Hinata.

"Ne, Hinata..."

"Ya? Ada apa, Sakura-chan?"

"Kau masih ingat, waktu itu aku ingin mengatakan sesuatu tentang gadis yang ada dalam foto yang kau pegang?"

Ah. Hinata hampir melupakan hal penting itu saking bahagianya. Rona bahagianya berganti menjadi lebih serius.

"Kau... benar-benar tahu siapa gadis itu, Sakura-chan?"

Sakura mengangguk pasti, "aku tidak mungkin salah orang."

"Siapa... dia?"

'Apa benar, dia itu 'Himawari'? Atau...' batin Hinata seraya menatap Sakura lebih serius.

"Nama gadis itu adalah Shion. Miroku Shion. Dan kabarnya... dulu dia adalah kekasih Naruto-senpai."

.

.

.

.

"Oi, Sasuke."

Sasuke menghentikan langkahnya sambil membalikkan badan menuju sumber suara yang memanggilnya. Neji mengikuti kemana Sasuke melangkah. Gerbang sekolah.

"Kau berniat bolos jam pertama lagi?"

"Hn."

Gumaman yang tidak jelas, fikir Neji seraya terus mendekati Sasuke yang masih terdiam di tempatnya.

"Hei, Neji."

Kali ini, giliran Neji yang menghentikan langkahnya ketika pemuda dihadapannya memanggil namanya.

"Menurutmu, haruskah aku senang melihat Naruto yang sepertinya sudah kembali seperti sedia kala?" tanya sang raven, yang membuat Neji bingung harus menjawab apa.

"Hmm—aku tidak bisa menjawabnya, Sasuke. Aku senang melihat temanku kembali menjadi dirinya yang sebenarnya. Kalau kau tidak senang... mengapa?"

Sejenak Sasuke menutup matanya, menghirup nafas dengan rakus untuk melenyapkan sesak dalam dadanya saat ini.

"Naruto itu hanya laki-laki yang bodoh."

"Hee? Apa ma—"

Neji menghentikan niat untuk bertanya maksud Sasuke ketika ia sudah menyadarinya.

"...aku yakin dia bisa menjaga Hinata," lanjut Neji tiba-tiba.

"Souka?" gumam Sasuke pelan, seraya membuka matanya perlahan. Menatap Neji lekat, dia kembali bertanya. "Kau sungguh yakin, Neji?"

"Naruto bukannya bodoh, Sasuke. Waktu itu dia hanya bingung harus bagaimana—"

"Ya. Bingung. Dan kebingungannya itu membuat semuanya hancur."

Neji terdiam sejenak. Ia menghela nafas berat, kembali mendekati Sasuke.

"Peristiwa waktu itu bukan sepenuhnya salah Naruto, Sasuke."

Tanpa sadar, pemuda bermata onyx itu terkekeh mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Neji. "Kalau begitu, berarti itu salah dirinya?" Sasuke kembali bertanya.

"Bukan itu maksudku, Sasuke—hhh. Sudahlah. Itu sudah terjadi, Sasuke. Lupakan saja."

"Aku ingin melupakannya, tapi aku tidak bisa," jawab Sasuke dengan lirih. "Sebelum Naruto meminta maaf padanya."

"Sebelum dia meminta maaf pada Shion atas segalanya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED...


Nah. Akhirnya. Finally. Chapter ini update juga.

Pendek? Hehe... sebenarnya fiction ini lebih dari 3000 words. Karena merasa disuatu bagian agak ganjil, jadi dibagi dua. Lanjutannya akan ada di chapter 10 yang sedang dilanjutkan dan menuju tahap akhir—sambungan yang akan bersambung kembali. /BunuhAuthor

Hukumlah author yang update-nya terlalu lama. Hukumlah.

Author beneran merasa bersalah.

Balasan review akan ada di chapter 10 ya~ jadi rangkap. Author mau menebus kesalahan dengan langsung melanjutkan chapter 10 My Heart's Flower. Author hanya bisa menjanjikan jika chapter 10 akan lebih panjang dari chapter ini dan updatenya nggak akan terlalu lama. Ini janji. Kalian boleh flame sepuasnya kalo author uptadenya lebih dari enam bulan lagi. Sumpah author adalah orang paling php seantero dunia fan fiction.

Author minta maaf. Minta maaf sedalam-dalamnya karena stuck dalam pengerjaannya.

Okay, see you at next chapter~!