Akashi Seijuurou a.k.a Budi Setyajiwicaksono, 18 tahun, murid kelas 3-A SMU Kunugigaoka, seat number 28 of 28. Hobbynya bermain bulu tangkis dan gundu – sebutan untuk permainan marbles di negaranya.
Selama 18 tahun ia hidup, tidak pernah sekali pun merasakan sentuhan seorang wanita.
Bahkan ibu dan bapaknya di kampung sampai menyuruhnya mencari pacar – khawatir anak mereka akan menjadi bujang lapuk jika sampai usia 20 tahun belum pernah pacaran.
Tapi mencari pacar bukanlah prioritasnya.
Jika ia jodohku maka dekatkanlah. Jika bukan, semoga pacar si jodoh mati tergilas gerobak. Begitu kata Budi (nama aslinya) ketika berdoa di malam yang sunyi – di asrama Kunugigaoka .
Omong-omong selama tinggal di kota Kunugi, Akashi aka Budi sering sekali masuk angin. Teman-temannya sekamarnya heran melihat pemuda itu selalu minta di gores punggungnya menggunakan balsam dan koin tiap malam.
BDSM?
"Kalau di negaraku, ini namanya 'ngerokin'. Enak kok, masuk anginnya hilang." Ujarnya seraya memperlihatkan punggungnya yang sudah terpampang garis merah horizontal dalam jumlah banyak.
Masokis?
Omong-omong garis merah horizontal yang berada di punggung Akashi adalah suspek Gakushuu.
Akashi adalah orang yang aneh.
Semakin aneh saat pemuda bermata cokelat itu menatap sang Asano Muda dengan perasaan kaget bercampur bingung.
"AKASHI?!"
Dan botol air mineral yang berada di tangannya pun jatuh dengan dramatis.
.
.
.
Cinta si Penulis
© Jagung Bledug
Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Fanfic ini dibuat dengan penuh cinta, dan bertujuan untuk menghibur. Tidak menggunakan EYD yang benar, typo yang bertebaran, homo, AU.
Don't like, don't read
.
.
.
Asano Gakushuu terperanjat.
Pandangannya tak lepas dari sosok pemuda yang berada di hadapannya. Keringat dingin mulai mengalir dari keningnya. Napasnya mulai tak beraturan macam orang hipoksia. Jantungnya berdegup kencang.
Ah, apakah ini yang namanya cinta?
"J-jadi... Kamu orangnya?" Gakushuu memberanikan diri untuk bertanya.
"Hah?" Akashi aka Budi malah melayangkan tatapan bingung. "Ngomong apaan sih, No?"
Kedua manik mereka saling bertumbukan.
"Jawab aku, kau kan orangnya?" paksa Gakushuu sambil berjalan mendekati Akashi aka Budi yang hendak mengambil botol air mineral yang sedari tadi tergeletak dengan naas di lantai.
"Orang apaan? Gue udah bayar uang kas, woy." Sepertinya pemuda asia tenggara itu tidak mengerti maksud perkataan Gakushuu. Tapi anak ketua yayasan itu malah semakin salah paham.
"Jangan pura-pura bodoh, Akashi!"
"SUER GAK TAU GUE!"
"Ada apaan sih?"
Baik Akashi maupun Gakushuu sama-sama menoleh ke sumber suara yang seenaknya mengintrusi mereka. Sosok pemuda berambut merah lengkap dengan kardigan hitam yang menjadi ciri khasnya.
Akabane Karma.
"Akabane." Gakushuu menyapa rivalnya itu. Akashi yang berada di sebelahnya tidak mau kalah.
"Karma-chan." Astaga, ini anak siapa sih kok wota abis.
Akabane memperhatikan keduanya dengan seksama. Ia tadi mendengar keributan dari arah kantin. Suara Gakushuu terdengar jelas kalau pemuda itu sangat jengkel. Entah apa sebabnya.
"Jadi, ada apa?" Akabane bertanya.
"Gak ngerti gue juga. Si Asano tiba-tiba nyamperin gue bilang gue itu 'Dia'. Lah gue mah nggak tau apa-apa. Perasaan semua utang piutang gue ke tukang sushi udah dibayar, ga telat bayar uang kas dan uang asrama kok." Jelas Akashi panjang lebar. Gakushuu yang berdiri di sebelahnya hanya melipat tangannya di dada.
"Dia?" Akabane melirik Gakushuu. Yang bersangkutan tidak berniat membalas lirikan Akabane.
Perasaanku tidak enak. Akabane mulai keringat dingin.
Gawat.
"Dia siapa sih, Asano-kun?" tanya Akabane. Gakushuu meliriknya dingin.
"Bukan urusanmu, Akabane."
IH DINGIN BANGET.
"Sok cool lo ah." Celutuk Akashi. "Pokoknya gue gatau apa-apa, No. Urusan utang-piutang udah gue lunasin kemarin."
"..." Tidak ada respon dari sang ketua OSIS SMU Kunugigaoka.
Sialan, gue dikacangin. Batin Akashi.
Pemuda berambut belang itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan duo jenius se-Kunugigaoka. Tidak lupa tangannya melambai ala hero yang berjalan meninggalkan rekannya menuju matahari yang mulai terbenam.
Epik.
Sepeninggal pemuda itu, Akabane menatap Gakushuu dengan cermat.
Siapa sih 'dia' yang dimaksud Gakushuu? Kok sepertinya panik sekali sampai mengajak ribut Akashi aka Budi?
Si surai strawberry blonde ini juga tumben sekali ke kantin setelah mengikuti kelas pelatihan OSN Matematika. Biasanya, ia akan langsung pulang begitu kelas telah usai. Seakan menambah ganjil, Gakushuu meneriaki Akashi – dan Akashi sepertinya tidak mengerti apa-apa.
Aneh banget, pantas saja perasaannya daritadi tidak enak.
Jangan-jangan... Asano Gakushuu adalah Kawaii Centipede?
Aduh... Masa iya, Gakushuu itu Kawaii Centipede – si penulis yang desperate akan minimnya review?
"Kenapa? Suka?" Suara Gakushuu menariknya kembali ke kenyataan.
"Idih, ogah."
Yang kita bicarakan disini adalah Asano Gakushuu, lho! Putra semata wayangnya kepala yayasan Kunugigaoka, Asano Gakuhou. Masa bocah realistis nan idealis macam Gakushuu bisa menulis roman picisan begitu?
Lagian penname-nya bukan Gakushuu banget.
Tapi... Bagaimana jika benar?
Ah, Akabane lebih baik menjatuhkan diri ke palung Mariana sekarang.
Di lain pihak, Gakushuu termenung dengan kata-kata dari Akashi aka Budi barusan. Pemuda itu sepertinya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan. Apa mungkin Akashi sedang pura-pura tidak tahu siapa 'Dia' yang Gakushuu maksud?
Ah... Tapi Akashi itu susah berbohong, seingatnya.
Akashi sering mengaku kalau dia itu titisan Edward Cullen – protagonis di film Twillight. Semua orang sepakat kalau Akashi berbohong.
Yakali berlian di samain sama batu kali, begitu pendapat kebanyakan teman-temannya.
Kalau Akashi aka Budi bilang dia titisan komodo laut sih baru bisa dipercaya.
Kali.
...
...
...
Red Demon.
Merah.
Akashi.
Atau –
'Akabane Karma?'
.
.
.
Akabane Karma, 18 tahun, murid kelas 3-A, peringkat kedua seangkatan SMU Kunugigaoka. Pemuda dengan tinggi badan 176 cm itu termenung menatap layar ponselnya.
Kawaii Centipede baru saja mem-posting sebuah cerita yang baru.
Judulnya Akan Ku Temukan Kau, Cintaku.
[Lelaki A adalah orang yang sangat perfeksionis. Di balik kesempurnaannya, ia adalah manusia biasa juga – yang memiliki hobby menulis fanfiksi. Sayangnya, karyanya tidak semulus sikap perfeksionisnya. Karyanya kerap tidak mendapatkan review – bahkan di flame pun tidak.]
GULP.
Akabane menelan ludahnya.
Anjas, Si Kawaii Centipede kok bisa-bisanya curhat di fanfiksinya sih. Mau tidak mau, pipi pualam Akabane merona – entah kenapa.
[Pada suatu hari, Lelaki A membuka inbox di emailnya yang merupakan notifikasi dari website tempat ia menulis. Ia terkejut tatkala ia menemukan sebuah review di karyanya yang baru. Ia pikir itu hanya kebetulan, namun takdir berkata lain.]
Sumpah, lebay banget. Akabane tersenyum kecut.
[Seseorang dengan penname Kecap ABC sering sekali memberinya review dan bahkan menyemangatinya untuk terus menulis. Lelaki A pun bertekad untuk menemui Kecap ABC di dunia nyata. Bersambung.]
Oke, kalau saja Akabane tidak tahu siapa yang dimaksud si Kawaii Centipede, mungkin ia akan mengira cerita ini berkisah tentang seseorang yang berjuang mencari kecap ABC.
"Ugh," Akabane menghempaskan dirinya yang masih berbalut seragam dan kardigan hitam ke kasur. Terlalu letih untuk sekadar mengganti baju.
Akabane mulai menyesali keisengannya. Ia tidak pernah berpikir Kawaii Centipede adalah murid yang satu sekolah dengannya.
Lebih parahnya lagi, ia mulai berpikir jika Kawaii Centipede adalah Asano Gakushuu.
Bagaimana tidak?
Sore ini, ia disuguhkan pemandangan Gakushuu yang membentak Akashi di kantin – tempat yang disepakati oleh ia dan Kawaii Centipede. Suasana kantin sangat sepi karena tinggal anak-anak OSN Matematika saja yang tersisa, itu pun mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.
Hanya Gakushuu dan Akashi yang berada di area kantin – minus bapak-bapak yang menjual tahu bulat di kantin.
Gakushuu berteriak-teriak dan Akashi menunjukkan raut bingung.
Apa mungkin Akashi adalah Kawaii Centipede?
Sepertinya tidak. Lelaki macam Akashi yang tidak pernah merasakan belaian wanita itu menulis roman picisan? Apakah saking jomblonya, ia jadi berfantasi?
Jadi, kemungkinan yang tersisa adalah Asano Gakushuu.
UHUK.
Akabane pun bangun dari posisinya dan terbatuk-batuk.
Oh, tenang. Ia hanya tersedak air liurnya sendiri.
"Asano-kun." Akabane mengatupkan bibirnya. Padahal ia berharap Kawaii Centipede adalah mantan kekasihnya, Okuda Manami.
.
.
.
Yang Akabane Karma tidak ketahui, Asano Gakushuu juga seorang jomblo. Tidak seperti Akashi, Gakushuu menjomblo karena terlalu sibuk menempuh pendidikannya, mantap.
.
.
.
Baik Asano Gakushuu maupun Akabane Karma mulai mencurigai satu sama lain sejak kejadian di kantin, seminggu yang lalu.
Gakushuu mulai cemas jika Red Demon yang ia cari adalah Akabane Karma. Sebagai tambahan, Gakushuu masih lurus alias tidak homo. Ia masih menyukai perempuan dan Red Demon adalah cinta pertamanya – yang ia anggap perempuan.
Sedangkan Akabane panik jika Kawaii Centipede adalah Asano Gakushuu, rivalnya yang menjabat sebagai ketua OSIS SMU Kunugigaoka. Ia terlalu berharap Kawaii Centipede adalah sang mantan (Okuda Manami). Jujur saja, ia masih mencintai gadis berkacamata tersebut.
Dan disinilah mereka.
Keduanya sedang serius mengikuti pembelajaran di kelas. Beruntung, tempat duduk mereka sangat jauh. Gakushuu duduk di bangku terdepan sebelah kanan, sementara Akabane duduk di bangku terbelakang sebelah kiri.
Sesekali Akabane memperhatikan pemilik iris violet dari sudut matanya.
Benar-benar mustahil jika Gakushuu adalah penulis roman picisan. Karena, Asano Gakushuu adalah Asano Gakushuu. Si sadis yang tak punya hati itu mana bisa kepikiran soal cinta?
Dih, kok jadi merinding. Akabane menegakkan posisi duduknya. Persetan dengan Gakushuu, ia harus fokus dengan materi profase-metafase-anafase-telofase yang berada di depan kelas. Fokus, fokus, fokus–
"Akabane!"
Suara guru biologi yang sedang mengajar di depan kelas menyadarkannya. Akabane menghela napas. Nah, sekarang kena akibatnya kan.
"Lebih baik kau cuci muka kalau mengantuk seperti itu." Guru wanita itu melirik ke arah pintu kelas kemudian kembali ke sang surai merah, "bagaimana?"
"Baik, sensei." Pemuda bermarga Akabane pun bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju pintu keluar dengan gontai.
.
.
.
Letak toilet pria rupanya cukup jauh dari kelasnya. Tidak seperti toilet di kelas 3-E sewaktu ia SMP dulu.
Walaupun sama-sama berada di bawah nama Yayasan Kunugigaoka, kelas 3-E SMP Kunugigaoka dulu merupakan kelas yang 'terbuang'. Kelas tersebut berada di tengah-tengah bukit di belakang gedung utama SMP Kunugigaoka.
Kelas yang diisi oleh murid-murid dengan nilai terendah se-SMP Kunugigaoka.
Salahkan ketua yayasan – ayahnya si Asano, Asano Gakuhou – dan sistem pendidikannya yang terbilang sadis. Ia membuat kelas 3-E menjadi kelas terburuk di mata siswa-siswanya sehingga membentuk stigma jika masuk ke kelas 3-E maka tak ada lagi masa depan bagi siswa tersebut.
Walaupun imej kelas tersebut sangat buruk, Akabane rupanya kangen sekali dengan suasana kelas itu.
Kelas itu akhirnya resmi ditutup karena kelas 3-E pada tahun Akabane memiliki prestasi yang mengagumkan – bahkan melebihi prestasi anak-anak di gedung utama. Sesuai dengan perjanjian yang dilakukan oleh wali kelasnya (yang sangat tampan), Koro-sensei dan sang ketua yayasan, dimana jika semua anak-anak kelas 3-E berhasil menduduki peringkat 50 besar, maka kelas 3-E akan di tutup seusai kelulusan.
Ah, jadi nostalgia…
Tak terasa, Akabane rupanya telah berjalan melewati kamar mandi dan sekarang ia tengah berdiri di depan ruang OSIS.
Aduh, seketika ia teringat Asano Gakushuu lagi.
Mules, pak.
Tadinya Akabane berniat untuk kembali lagi ke tujuannya semula, namun, salahkan setan yang tiba-tiba lewat dan memberinya rasa penasaran pada ruangan tersebut.
Siapa tahu ada laptop milik Asano. Meskipun ia sering berdenial jika Asano adalah Kawaii Centipede, tapi… Apa salahnya kan untuk mencari barang bukti?
Ia pun memasuki ruangan OSIS dengan pelan-pelan dan menutup kembali akses tersebut. Akabane bersyukur rasa penasarannya datang pada jam belajar – dimana murid-murid sedang sibuk di kelas dan ia bisa leluasa melampiaskan rasa penasarannya.
Manik merkuri miliknya menganalisa setiap sudut ruangan berwarna putih gading.
Hanya ada sofa merah marun, rak-rak buku, dan sebuah meja besar berbentuk oval di tengah ruangan – lengkap dengan kursi-kursi di balik meja.
Hm… Dimana laptop milik Asano itu?
Oh, bahkan Akabane tidak yakin Asano begitu teledor meninggalkan barang berharga seperti itu di ruangan yang bebas di akses oleh siapa pun–
"Ah!"
–atau mungkin tidak.
Ia menemukan sebuah laptop yang masih terbuka di ujung meja berbentuk oval (sepertinya itu tempat duduk sang ketua OSIS) membelakangi pintu. Ia segera mendekati laptop yang rupanya masih menyala tersebut.
Layarnya menunjukkan sebuah permintaan untuk memasukkan kata sandi.
Aduh, sialan. Mana Akabane tahu!
"Sial!" rutuk Akabane.
Ia mulai mencoba semua kata sandi yang ia tahu tentang Asano. Mulai dari nama sang ketua OSIS, ayahnya, alamat rumah, nama sekolah, hingga nama sang sekretaris OSIS yang disinyalir memiliki hubungan khusus dengan sang ketua.
Nihil.
Tak ada yang cocok untuk menembus security code milik Asano.
Waktunya tidak banyak. Bisa-bisa gurunya curiga Akabane mencret-mencret di toilet sekolah. Aduh, harga dirinya dipertaruhkan.
Saat sedang desperate, muncul kembali setan dengan sebuah kata sandi yang mungkin saja bisa menembus security code laptop Asano.
Kawaii Centipede.
Enter.
.
.
.
Not matched.
Asatagaabon.
Pikir lagi, Akabane.
Red Demon.
Enter.
.
.
.
Ah.
Ah.
Ah.
Akabane berhasil menembus security code.
Entah senang atau harus menangis, karena yang ia temui setelah itu adalah sebuah draft cerita yang masih di ketik – oh dan ia tahu sekali cerita ini.
"Akan Ku Temukan Kau, Cintaku."
Akabane merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya dari belakang dan menariknya ke dalam dekapan hangat.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
WHOAAA gue terharu banget pas baca review kalian semua, makasih banget ya :")
Ini gue ketik hampir 2000 words sebagai ucapan terima kasih karena udah membaca :") Sebenernya sih fict ini bisa aja di posting dalam jarak dekat dengan yang chapter 1, tapiiii… untuk beberapa alasan, harus ditunda dulu.
Btw gue ngetik ini sambil nungguin jam kuliah gue yang suka reschedule, haha. Btw lagi, setelah kuliah panjang membosankan (dan sukar dimengerti) sampe sore dan proses edit-edit, baru bisa di posting malem huhu #gapenting
Makasih banyak buat Xhakira, chindleion, takanashi ageha, Karushuucchi otp, Leny chan, fudafujo1, dan secrella atas reviewnya. Jadi semangat buat lanjutin cerita ini ^^
Dan, makasih juga buat AbsoluteBlueViolet yang mengingatkan typonya ^^ believe it or not, setelah gue post, gue punya kebiasaan buat baca ulang fict gue (dan reviewnya selama dua mingguan, hehe) daaaan iyaaa gue juga notis typo disitu
Huff tapi makasih (lagi) buat diingetin ^^
Oke, silakan review lagi ^^
