FAN FICTION

DISCLAIMER:

MASASHI KISHIMOTO

AUTHOR:

SILENTPARK VINDYRA

TITLE:

MY HEART'S FLOWER

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.

HAPPY READING~


.

Hinata's POV

.

Terdiam. Terisak. Terhujam sesuatu yang tak terlihat dalam hati.

Kemudian menangis sejadinya.

Hari ini, setelah keputusan besar yang kubuat, aku tidak berhentinya menangis. Bahkan, aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan tadi adalah hal yang benar, atau malah membuat bebanku semakin berat. Padahal, aku pun juga tahu...

Jika apa yang kuketahui saat ini, hanya satu dari setumpuk konflik orang-orang yang kukenal, dan kusayangi.

Ya, aku yakin aku belum tahu apa-apa walaupun sudah melihatnya. Meski begitu, hawa sesak ini sudah terasa sangat mencekik hingga air mataku tak dapat kubendung.

Apa seharusnya aku tidak menyetujuinya?

...setelah ini aku harus bagaimana? Bagaimana?

Aku harus bersikap seperti apa di depan mereka?

Apa yang harus kulakukan dihadapan Naruto-senpai sekarang?

.

.

.

.

"Wajahmu masam sekali, Hinata."

Hinata hanya membalas pernyataan sahabatnya dengan delikan sepersekian detik sambil mengunyah makanan dimulutnya dengan emosi, bahkan gemertak giginya yang beradu keras dapat ditangkap dengan jelas oleh telinga Sakura.

"Kau bertengkar lagi dengan Naruto-senpai?"

Hinata kembali membalasnya hanya dengan gestur tubuh, menggeleng cepat dengan tetap mengunyah penuh gejolak kekesalannya.

Sakura pun menghela nafasnya, kebingungan. "Lalu, kali ini kenapa kalau bukan karena bertengkar? Wajahmu seperti habis menemukan dugaan kalau kekasihmu selingkuh. Hehe."

Lima detik setelahnya, Sakura pun segera menyesali perkataannya barusan.

"Err... maafkan aku, Hinata. Sepertinya aku salah bica—"

"Andai aku bisa mengungkap kalau Naruto-senpai selingkuh. Tapi sepertinya bukan itu masalahnya! Ini masalah yang lebih pelik daripada yang kuduga! Kau tahu, bahkan ini tidak hanya melibatkan dia, tapi juga orang-orang di sekelilingnya yang kukenal! Kau harus tahu betapa pusingnya aku memikirkan semua ini sendirian, dengan orang-orang yang tidak bisa kutanyai mengenai masalah ini, tapi aku harus tahu akar dari semua konflik picisan ini! Dan—"

"Ini pertama kalinya kau memotong pembicaraanku, Hinata. Dengan panjang lebar."

Hinata segera mengatupkan bibirnya saat mendengar sarkasme halus dari Sakura. "Gomen," cicitnya seraya menunduk.

Sakura hanya tersenyum maklum melihat sahabatnya yang sedang dilanda dilema itu.

"Aku harap kau tidak terlalu memikirkannya, Hinata. Tidak bagus untuk hatimu."

"Aku ingin jika aku bisa. Tapi, ini semua sudah terlanjur..."

Hinata mulai merasa nafsu makannya menghilang seketika. Ah, masalah ini memang tidak seharusnya ia fikirkan. Toh, ini tidak ada hubungan sama sekali dengannya.

Tapi, entah mengapa dia merasa begitu penasaran dengan semuanya.

Dan semuanya hanya berawal dari selembar foto seorang perempuan cantik milik kekasihnya.

"Aku akan jauh lebih bersyukur jika masalah ini adalah masalah perselingkuhan yang biasanya terjadi," lirih Hinata seraya menegakkan kepalanya kembali, memandang langit cerah dari atap sekolah, "tapi, kurasa ini bukan tentang itu semua. Kurasa ini jauh lebih..." Hinata menggantung lanjutan kalimatnya.

"Jauh lebih apa?"

Jauh lebih menyakitkan. Ujar Hinata dalam hatinya, entah mengapa tak mampu ia ucapkan.

"...lupakan saja, Sakura. Kuharap, ini cuma masalah biasa."

Untuk beberapa detik Sakura terlihat heran dengan Hinata, namun kemudian ia mengangguk tanda mengerti jika Hinata tidak ingin membahasnya lagi.

"Yah, lebih baik segera habiskan bekal kita. Kurasa bel jam pelajaran selanjutnya akan segera berbunyi," Sakura kembali memakan bekalnya dengan seksama.

Diikuti dengan Hinata yang kini sudah tidak mengunyah dengan emosinya lagi.

.

.

.

.

Keadaan Hinata benar-benar tidak menentu hari ini. Kejadian beberapa hari yang lalu tidak dapat ia lupakan, baik pertemuannya dengan Shikamaru maupun hal yang dikatakan oleh pemuda tersebut. Kalimat demi kalimat yang Shikamaru keluarkan menghantui fikirannya sampai ia tidak bisa fokus pada apapun dan kembali merasa kesal.

Sampai ia tidak sadar kalau ia kembali menolak ajakan pulang bersama Naruto.

Sudah beberapa hari!

"Kenapa beberapa hari ini kau terus menolakku, Hinata?"

Entah bagaimana Hinata menyadari sirat kekecewaan diantara kalimat datar yang diucap kekasihnya itu.

"Gomen ne, Naruto-senpai. Aku ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan. Jadi..."

"Apa kau sebegitu sibuknya sampai tidak bisa pulang bersamaku lagi?"

Hinata mengusap wajahnya, entah mengapa merasa malas menanggapi Naruto yang sepertinya mulai merajuk dihadapannya kini.

"Ummh... ya. Aku sesibuk yang kau kira, senpai. Aku benar-benar minta maaf, ya. Aku janji besok kita akan kembali pulang bersama," Hinata mencoba memasang senyum semanis mungkin untuk menghentikan rajukan Naruto.

"Besok aku ada sparring dengan SMA X. Mungkin pulangnya akan lebih larut."

"Ah, souka, ne? Baiklah kalau begitu. Tidak apa-apa."

"Hanya itukah tanggapanmu?"

Hinata kembali mengusap wajahnya, sedikit lebih kasar, tanda bahwa hari ini ia sedang benar-benar malas menanggapi sikap yang baru beberapa kali ia lihat dari Naruto itu.

"Kalau begitu, kau mau aku menunggumu sampai kau selesai besok? Baiklah, senpai."

"Tidak. Tidak perlu."

'Oh, Kami-sama. Apa ini juga bagian dari sifatnya yang lama menghilang kemudian muncul kembali sekarang?' Hinata bertanya dengan nada aneh dalam hatinya.

"Gomen ne, Naruto-senpai..." Hinata kembali membuka suara setelah setengah menit terdiam. "Nah, aku harus pergi sekarang. Lain kali kita pulang bersama lagi. Hati-hati dijalan, senpai."

"Terserah."

"Jaa, Naruto-senpai."

Hinata tidak mendengar jawaban apapun lagi dari Naruto sampai gadis berpaling dari hadapannya dan pergi berlalu. Hanya satu tempat yang ada memenuhi fikiran gadis dengan mata berwarna Lavender itu.

Panti Asuhan di Taman Konoha.

.

.

.

.

"Ah, kau lagi."

Hinata hanya menatap datar pada pemuda yang mengatakan hal itu dengan nada tidak tertarik. "Halo, Nara-san."

"Shikamaru."

"Hee?"

"Tidak usah se-formal itu denganku."

"Kalau begitu... Nara."

Shikamaru berdecak tanpa semangat, "terserahmu saja."

Hinata perlahan berjalan mendekat ke tempat Shikamaru berbaring, halaman depan Panti Asuhan, dan mencari sosok gadis kecil yang biasanya selalu menjadi orang pertama yang ia temui jika sampai ke tempat tersebut.

"Anu... dimana Moegi?"

"Di dalam. Membuat teh."

"Souka."

Hening mendadak menyelimuti mereka berdua hingga akhirnya setelah beberapa menit Moegi muncul dan membawa secangkir teh untuk Shikamaru. "Lho? Hinata nee-san~!" suara Moegi terdengar terkejut melihat Hinata. Senyumannya semakin berkembang.

"Hai, Moegi," Hinata balik tersenyum padanya, "dimana yang lainnya? Sepertinya sepi sekali," lanjut Hinata seraya menyisir rambutnya kebelakang telinga.

"Semuanya sedang jalan-jalan ke Taman di kota sebelah. Tapi hanya aku yang disuruh jaga Panti," Moegi menggembungkan pipinya tanda kesal, membuat Hinata dan Shikamaru terkikik kecil bersamaan.

Dan Hinata serta Shikamaru pun jadi saling melihat untuk beberapa detik sebelum membuang wajah bersamaan.

"Ah! Aku akan buatkan teh dulu untukmu, nee-san!"

"Ah! Moegi, tidak usah, Moe—" Hinata tidak menyelesaikan kalimatnya karena gadis lucu itu sudah menghilang dari pandangan.

Dan keheningan kembali memeluknya, sebelum Shikamaru kembali membuka pembicaraan.

"Untuk apa kau kemari?"

Lama gadis berambut Indigo itu terdiam. Ia berangsur duduk di samping tempat Shikamaru berbaring, sedikit jauh dari jaraknya, sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan pemuda itu.

Kalau difikir lagi, pertanyaan Shikamaru sama dengan pertanyaan yang kini muncul dikepalanya.

'Iya, benar. Untuk apa aku kemari?'

Sambil menghembuskan nafas perlahan, Hinata menjawab dengan lirih, "...aku pun tidak tahu."

"Haa?"

"Kubilang, aku tidak tahu."

"Kalau tidak tahu, kau tidak akan ke tempat ini."

"Kalau kukatakan aku hanya sembarangan berjalan dan sampai ke tempat ini, apa kau akan berhenti memprotes kedatanganku?"

"Aku tidak memprotesmu. Aku tidak peduli alasanmu. Aku hanya bertanya."

"Bukankah itu sama saja?"

"Memedulikan dan sekedar bertanya itu dua hal yang kontra, asal kau tahu."

Emosi Hinata mulai tersulut kembali, "terserah kau saja, Nara. Aku malas berdebat."

"Sejak kapan kita berdebat?"

"Lalu kenapa kau menyahutiku terus?"

"Kau 'kan, yang memulai pertanyaan lanjutan. Aku hanya menjawab."

"Aaargh!" Hinata berteriak kecil, tanda ia semakin kesal. "Berhenti membuatku emosi!"

"Haa? Kenapa jadi aku? Kau sendiri yang membuat dirimu jadi emosi."

"Jangan menyahutiku lagi!"

"Baik."

"Iiiish!"

"Kenapa, sih?" Shikamaru menguap tanda bosan dengan sikap labil Hinata. "Dasar perempuan. Mereka semua memang sama saja."

"Berhenti mengomentariku!"

"Siapa yang mengomentarimu?"

"Berhenti menyahutiku!"

"Dasar gadis labil."

"Jangan bicara di hadapanku lagi!"

"Kau itu disampingku, bukan dihadapanku."

'Astaga! Kami-sama, bolehkah orang ini kupukul?' Marah Hinata dalam hati. Tangannya mengepal. 'Lagipula, kenapa Moegi lama sekali?'

Akhirnya, keheningan kembali datang seraya Shikamaru kembali memejamkan mata dan Hinata yang sibuk mengusap dadanya untuk meluruhkan kekesalannya.

"Nara juga."

"Ha?"

"Kenapa Nara kemari?"

"Karena Moegi adalah teman lamaku."

"Hanya itu?"

"Lalu kenapa lagi? Dasar bawel."

"Apa, sih?!" Tersulutlah lagi emosi gadis manis itu. Dan Shikamaru memilih untuk mengalihkan pembicaraan pada sesuatu yang sebenarnya ingin ditanyakannya sejak kedatangan Hinata tadi.

"Sampai kapan kau akan penasaran dengan hal itu?"

Hinata tersentak mendengarnya.

"Jawab aku."

"...aku..." lirih Hinata yang tidak tahu harus menjawab apa.

"Kuharap kau berhenti dari sekarang. Sebelum kau menyesalinya. Asal kau tahu, membahas lebih lanjut akan menyakiti semuanya."

"Sekalipun aku tahu, kurasa aku tidak akan membahasnya pada siapapun," suara Hinata kembali meninggi. "Aku ingat peringatan darimu, kok."

"Hoo. Kau yakin?"

Entah mengapa pertanyaan Shikamaru membuatnya menelan ludah, "aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri. Lagipula, aku hanya ingin tahu siapa gadis yang bernama Shion itu."

"Kau mau tahu?" Shikamaru beranjak dari tempatnya berbaring dan menatap tajam Hinata.

Membuat Hinata semakin gugup.

"Shion itu cuma gadis bodoh yang sampai akhir hayatnya mencintai kekasihmu itu."

DHEG!

Beberapa detik setelah Shikamaru berbicara, dada Hinata menjadi sesak.

"Apa... maksudmu? Apa... gadis itu dan Naruto-senpai... masih menjalin..."

"Kami semua akan menjalin tali persahabatan ini sampai kapanpun," Shikamaru menerawang langit sore diatas kepalanya. "Setidaknya aku begitu."

"P-Persahabatan...?"

"Ya. Kalau kau menduga Naruto dan Shion menjalin hubungan, kau harus malu dengan dirimu sendiri yang sudah berprasangka tidak baik."

Hinata semakin tertohok. Kembali terdiam dan menunduk dalam.

"Lalu... kenapa... Naruto-senpai menyimpan..." gumam Hinata lirih. Ia merasa matanya menjadi panas.

"Memang kenapa kalau dia menyimpan foto sahabatnya? Apa itu salah? Lagipula, memang sejak dulu dia menyimpan foto Shion. Foto kami semua."

"Tapi... Naruto-senpai berkata kalau... foto itu adalah foto sosok yang ia... benci..."

Kini, giliran Shikamaru yang kembali terdiam.

"...souka, ternyata begitu."

Hinata mendongak. Sekuat tenaga ia menahan agar butiran lembab itu tidak jatuh dihadapan pemuda yang masih menatap langit di sampingnya.

"Sabtu sore, tunggu aku di Taman kota N," Shikamaru mengatakan sesuatu yang membuat Hinata kembali terkejut. "Kau tahu jalan kesana, 'kan?"

Hinata menjawab dengan pelan, "iya."

"Kubawa kau ke suatu tempat. Hal itu akan jadi hal terakhir yang kuberitahu padamu, dan hari itu adalah satu-satunya kesempatanmu. Jadi, semua terserah padamu."

"Kau... mau membawaku kemana?"

Shikamaru kembali berbaring seraya menutup matanya. "Hanya kau sendiri. Jangan membawa siapapun. Terutama Naruto."

Hinata terus menatap pemuda yang tidak menjawab pertanyaan tadi, ia tidak mengerti akan semua yang diajukan Shikamaru. Namun...

Mungkin ini menjadi kesempatannya untuk mengetahui sesuatu yang sedari dulu ingin dia ketahui.

Dan akhirnya ia menjawab, "baiklah."

"Sabtu sore."

"Sabtu sore. Di Taman kota N. Hanya aku sendiri."

Saat percakapan itu berakhir, Moegi pun datang dengan secangkir teh hangat untuk Hinata.

.

.

.

.

Sore yang cerah di hari Sabtu.

Hinata datang lebih cepat 15 menit dari waktu janjian. Entah karena ia begitu bersemangat dengan semuanya, atau justru karena ia terlalu gugup hingga tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.

Sesuai janji, ia tidak datang dengan siapapun, bahkan ketika Naruto yang panik dan bersikeras ingin menemani Hinata, namun ia tidak tahu kemana perginya sang kekasih, dan Neji yang emosinya menggelegak saat mengetahui jika Hinata pergi tanpa pamit. Seharusnya ia memang izin terlebih dulu, tapi entah mengapa, Hinata merasa jika ia tidak dapat mengatakannya.

Atau merasa ia tidak boleh mengatakannya.

Terlihat sosok Shikamaru yang berjalan ke tempatnya menunggu. Degup jantung Hinata menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Rasa gugup itu menghantui Hinata lagi dan lagi.

"Ha-Hai, Nara."

"Kau datang lebih cepat, ya."

"I-Iya. Aku... bersemangat."

"Ayo," perintah Shikamaru untuk segera pergi ke tempat yang ingin ia tunjukkan. "Akan kupertemukan kau dengan Shion."

'Oh, Kami-sama!' teriak Hinata dalam hati.

Ia sama sekali belum mempersiapkan hati jika bertemu Shion nanti.

Apa yang harus ia katakan saat bertemu nanti? Menyapa dengan manis? Berkata to the point? Basa-basi a la perempuan? Atau langsung labrak saja?

Hinata segera mengurungkan kalimat yang terakhir.

Yang pasti, keadaannya menjadi semakin tidak menentu.

"Kita naik bis di halte sana."

"I-Iya."

Lima belas menit kemudian, mereka mengarah ke suatu jalan setapak setelah turun dari bis.

"A-Apa ini mengarah ke rumah... Shion?"

"Iya."

Hinata mengangguk dalam diam dan mengikuti kemana Shikamaru mengarah pergi, seraya ia mencoba menetralisir rasa gugupnya dengan bernyanyi dalam hati dan melihat bunga-bunga di sepanjang jalan.

"Ah. Himawari," gumamnya pelan, sangat pelan. Seketika gadis itu merasa senang ketika melihat sekumpulan bunga kesukaannya di kejauhan.

"A-Anu... Nara...?" Hinata membuka suara kembali.

"Hm?"

"Ba-bagaimana... sosok Shion itu? A-Aku bingung harus bicara apa... dengannya nanti..."

Shikamaru sempat terdiam mendengarnya, sebelum menjawab, "Gadis bodoh yang suka tersenyum."

"O-Oh..." Hinata tersenyum aneh di belakang Shikamaru.

"Dan kau tidak perlu mengatakan apapun padanya, kok."

"Eh?"

Seketika Hinata menyadari sesuatu dari kalimat Shikamaru.

'Oh, iya... kata Moegi... Shion itu tunarungu...' ujar Hinata dalam hati.

"Satu hal lagi, apapun yang kau lihat tentangnya nanti, apapun yang kau rasakan nanti, jangan pernah mengungkit hari ini kepada siapapun nantinya," Shikamaru berkata tegas seraya menoleh pada Hinata yang berada dibelakangnya.

"E-Eh?"

"Aku tidak perlu 'eh'-mu. Aku butuh penyataan 'iya' darimu."

"Ah... iya..."

"Bagus. Intinya, untuk kejadian hari ini, teruslah berpura-pura tidak tahu."

"Ya... ya..."

Hinata terus meng'iya'kan perkataan Shikamaru sekalipun kini ia benar-benar bingung dan semakin gugup.

"Nara, aku ingin bertanya sesuatu..."

"Hm?"

"Apa Shion itu... tunarungu?"

Shikamaru menghentikan langkahnya.

Seketika Hinata merasa jika ia melontarkan pertanyaan yang salah besar.

Dan kebingungannya semakin menjadi ketika ia mendengar Shikamaru tertawa pahit.

"Sebenenarnya sudah sejauh apa hal yang kau tahu tentang dia?"

"G-Gomen... aku mendengarnya dari... Moegi..."

"Ah. Souka. Pantas saja."

"J-Jadi... apa Shion itu—"

"Ayo, kita lanjutkan perjalanan."

Hinata menyadari jika Shikamaru tidak akan menjawab pertanyaannya.

Lagi.

Meninggalkan keheningan yang menyebalkan diantara mereka berdua.

Sepuluh menit ia berjalan, jalan setapak itu berubah menjadi anak tangga.

Lima menit kemudian, sesampainya di puncak tangga, ia melihat hamparan pemandangan yang membuatnya semakin heran.

"N-Nara... apa maksud—"

"Shion. Aku datang."

Hinata tidak dapat memercayai apa yang ia lihat saat ini. Dihadapannya kini. Meski sudah sangat terpampang jelas.

.

.

MAKAM KELUARGA MIROKU

MIROKU TAISEI
MIROKU SHIHO
MIROKU SHION

.

.

"N-Nani...?"

"Kau bilang ingin bertemu dengan Shion, bukan?"

"Ta-tapi... ini..."

"Disinilah Shion. Inilah rumahnya... sejak hampir setahun yang lalu."

.

.

.

.

Hinata's POV

.

Tangisanku tidak juga berhenti. Dan otakku terus saja memutar cerita saat itu.

Aku sungguh sangat syok!

Bagaimana bisa aku terus menerus penasaran pada seseorang yang ternyata sudah...?

Dan semua pertanyaan yang hinggap dalam hatiku selama ini berganti menjadi pertanyaan lain.

Apa yang terjadi dibalik semua ini?

Apa sesuatu terjadi sebelum gadis itu meninggal? Atau setelahnya?

Kenapa semua orang yang kukenal dan kusayangi terlibat...?

Naruto-senpai, Sasuke-senpai, sampai Neji juga...

Apa yang harus kulakukan setelah ini? Meskipun aku berjanji pada Shikamaru jika semua ini akan kusimpan sendiri...

Tapi... aku merasa begitu menderita dengan pertanyaan dari peristiwa ini.

Aku...

Merasa menyesal sudah menyetujuinya di hari itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED...

.

YEAAAAAAH!

Konflik sebenarnya dimulai~!

Dimulai~!

Dimulai~!

Oh iya, apa ini sudah lewat dari enam bulan? Kalau sudah, silahkan saja flame keterlambatan author. Silahkan. #AuthorMasokis

Beginikah rasanya ketika jadwal kuliah semester 1 tidak mengizinkanmu untuk istirahat? Ah, ah, walaupun begitu, author mencintai program studi yang author pilih :3 /GakNanya

Entah mengapa, author mulai menulis fiction ini dengan merasakan dari sudut pandang Shion. Mungkin karena ia akan jadi masalah utama dari semua karakter? /JanganSpoiler

Author nggak tahu apakah chapter ini cukup memuaskan untuk kalian sebelum kata 'bersambung' muncul lagi dan lagi. Karena itu, mohon untuk terus memberi komentar kalian, ya! Komentar kalian adalah masukan dan penyemangat yang menyegarkan untuk author :3

Ini balas review kalian di chapter 10 yaa~

.

1313 : TERIMA KASIH BANYAK YAAAA :")

hyuganamikaze : udah diupdate yaa~ terima kasih udah baca cerita ini :D maaf kelamaan T^T

Deva Rituinda : terima kasih udah menyempatkan membaca fiction ini~! Semoga kamu makin suka setelah membaca chapter ini :D

.

Terima kasih untuk kalian yang sudah me-review, dan author juga berterima kasih kepada mereka yang sudah membaca walau tidak me-review. Tanpa kalian, cerita ini nggak ada artinya :')

SAMPAI KETEMU DI CHAPTER 12~! :D