Akabane Karma, 18 tahun, mantan brandal kelas 3-E SMP Kunugigaoka.

Sedang dalam posisi yang gawat.

.

.

.

Cinta si Penulis

© Jagung Bledug

Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Fanfic ini dibuat untuk memenuhi asupan para AsaKaru shipper, dan bertujuan untuk menghibur. Tidak menggunakan EYD yang benar, typo bertebaran, homo, AU.

Don't Like, Don't Read

.

.

.

Ia ingin menjerit seperti ibu-ibu pejabat yang kondenya tersangkut ranting pohon – tapi ia gengsi. Harga dirinya sebagai ketua geng anak nakal se-Kunugi dipertaruhkan, bro.

Ia mencoba stay cool namun sulit.

Lengan yang mendekap tubuhnya begitu erat membuatnya susah fokus. Begitu kuat, berotot dan hangat. Sekali lihat saja Akabane tahu kalau itu lengan milik laki-laki. Masalahnya, siapa?

Shiota Nagisa? Ah tidak mungkin. Tangan Nagisa itu mungil dan putih seperti tangan perempuan. Lagipula pemuda bersurai biru itu tidak satu sekolah lagi dengannya. Ia mengemban ilmu di kota sebelah.

Maehara? Isogai?

Tidak mungkin.

Anak dari SMP Kunugigaoka yang satu sekolah dengannya hanya dia.

.

.

.

"Asano––"

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Akabane Karma?"

.

.

.

"… Oh, kau."

Oh berarti aku harus meralat pernyataanku. Ulangi. Anak dari SMP Kunugigaoka yang satu sekolah dengannya hanya Asano Gakushuu n' de gengs.

Dan orang (kurang ajar) yang berani mendekapnya saat ini adalah si pujangga SMU Kunugigaoka.

Sakakibara Ren.

"Hoo kau berani mati ya." Desis Akabane sambil berusaha memberontak dalam pelukan Sakakibara. Pemilik rambut gaya Mohawk itu semakin mengeratkan pelukannya.

INI APAAN SIH MAKSUDNYA PELUK-PELUK! Akabane mengepalkan kedua tangannya, merasa geli dipeluk sesama laki-laki.

"Kau yang berani mati, Akabane-kun. Ini sedang jam pelajaran, sedang apa kau disini (re: ruang OSIS)? Kau tahu kan kalau siswa selain anggota OSIS dilarang masuk ke sini." Akabane memutar bola matanya.

MENCARI TAHU APAKAH ASANO ADALAH KAWAII CENTIPEDE ATAU BUKAN. Akabane inginnya sih bilang begitu, tapi ia malas bicara. Apalagi sama Sakakibara si rambut badai, dia kan kepo banget. Nanti keburu si empunya laptop datang, malah gagal rencana Akabane.

"Hm?" Lamunan Akabane buyar mendengar gurauan Sakakibara di telinganya. EH IYA, POSISINYA WOI AMBIGU AMAT. Akabane merasakan wajahnya terbakar entah kenapa. Sang surai merah mencubit keras lengan milik sekertaris OSIS, namun yang bersangkutan tak bergeming.

Sakakibara menatap layar laptop yang menampilkan penggalan cerita – entah apa – dengan cermat. Ia pun meng-scroll cerita itu hingga habis. Kemudian melirik Akabane lewat sudut matanya. "Akabane-kun, kau yang menulis ini?"

"Hah?"

"Kau yang menulis ini, kan?" Perasaan Akabane saja atau jarak antara wajahnya dengan wajah Sakakibara semakin dekat? OH ASTAGA, LEPASKAN PELUKANMU, BARAKUDA!

"Bukan, aku––"

"Ini karya yang bagus, Akabane-kun! Aku sungguh terharu dengan epilognya, walaupun kau harus membetulkan EYD mu."

YA KALI GUE YANG NULIS BEGINIAN. Akabane merasakan harga dirinya jatuh entah kenapa. "Dengar ya, bukan aku––"

"Ini gawat." Akabane menatap bingung Sakakibara yang tiba-tiba saja menenggelamkan kepalanya pada bahunya. Demi apa, ini ambigu banget. Akabane rasanya ingin menonjok si barakuda ini dan menyadarkannya dari halusinasinya.

"Apanya gawat?" tanya Akabane jengah.

"Sepertinya…" Sakakibara mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Akabane tepat di bola matanya. Hitam bertemu merkuri. Sakakibara dapat melihat tanda tanya besar dari iris indah itu. "Aku jadi suka padamu."

Apa?

Akabane ingin mengorek telinganya dan memastikan apakah telinganya mendadak kena otitis media atau bukan.

Tapi ia sadar posisinya terlalu sulit untuk mengorek telinga, lagian malu ah kalau ada sesuatu yang keluar bersama jarinya ketika ia sudah mengorek telinganya. Eh, bukan berarti Akabane tidak pernah membersihkan telinga ya!

"… Hah."

Akabane mengingat-ingat selama seminggu ini apa saja yang ia perbuat hingga ia mendapat kesialan hari ini. Sumpah, lima hari yang lalu, ia sudah mengembalikan sempak Nagisa yang ia curi sejak kelas 1 SMP. Ia juga tidak ikut mengucapkan selamat pada sinetron asal asia tenggara yang berhasil tamat di episode seribu sekian. Ia juga sudah membayar uang kas dan SPP kok.

Apalagi––

Cup.

Ah.

Ah.

Ah.

Sang setan merah merasakan bibir kasar khas pria menyentuh bibirnya. Iris merkuri miliknya membuka sempurna.

Sakakibara Ren sedang menciumnya.

Cium.

Cium.

Si barakuda ini BERANI sekali menciumNYA.

"HMPHHHHH–" ia berusaha memukul wajah sang penyair namun gagal. Lengan kokoh milik pemuda itu menahan lengan atas milik setan merah dengan kuat. Omaigat, ciuman pertamanya sudah direbut oleh manusia berbatang seperti dirinya.

GAMAUGAMAUGAMAUPOKOKNYAAKUMASIHNORMALNGGAKGAY. Batin Akabane lupa spasi.

Setelah beberapa detik berlalu, Sakakibara melepaskan ciumannya. Ia merasakan sang surai merah bergetar dalam pelukannya. Ia tahu ini salah, tapi… Ia terlalu terbawa perasaan. Cerpen yang baru saja ia baca sangat romantis, ia bahkan tidak percaya jika Akabane (ya, Akabane yang itu) bisa membuat cerita sedramatis itu.

Pemilik gelar ketua anak nakal se-Kunugi itu tiba-tiba saja berdiri – membuat Sakakibara melepaskan pelukannya. Tanpa diduga-duga, bogeman mendarat mulus di pipi sang pujangga dan membuatnya terpental hingga ke sudut ruangan.

Buset.

Namanya juga ketua geng anak nakal. Tenaganya bak ibu-ibu naik motor matic sein kiri, belok ke kanan, begitu ditegur, malah dia yang ngomel.

"BRENGSEK!" Teriak sang Akabane muda dengan wajah yang merah padam dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Oh tidak. Sakakibara tahu kalau Akabane sangat murka, tapi ekspresi itu… Kenapa manis sekali ya.

Akabane segera berlari keluar ruangan sambil mengelap bibirnya dengan jijik. Gila, ia bukan gay! Ia menyesali rasa keingintahuannya terhadap si Kawaii Centipede. Andai saja ia tidak penasaran, bibirnya pasti masih perawan sekarang.

Gini-gini, Akabane sangat menjaga dirinya. Ia ingin ciuman pertamanya dilakukan bersama orang yang ia cintai, Okuda Manami. Bukan dengan manusia berponi Kan*en Band macam Sakakibara! Eh, yang poni Kan*en Band mah Sasuke ya.

"Akabane?" Suara menggema di lorong yang kosong melompong.

Akabane segera menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap suara yang memanggilnya dengan familiar.

Asano Gakushuu.

"A…" bahkan ia tidak sanggup menyapa si lipan kecil itu. Lidahnya kelu. Iris violet milik saingannya meneliti dengan cermat dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Asano mendekatinya dengan perlahan. Pemandangan yang langka sekali melihat rivalnya merona bak gadis dimabuk cinta. Semburat merah mewarnai wajahnya dan menjalar hingga telinga. Matanya memandang ke bawah, tidak berani menatap sang ketua kelas (sekaligus ketua OSIS) dengan angkuh seperti biasa.

… Wow.

"Akabane?" Panggil Asano lagi. Jaraknya dengan Akabane hanya lima langkah bagai lagu dangdut, ia urung untuk mendekat. Saingan sekaligus teman sekelasnya itu terus menduduk tanpa berani mengadahkan kepalanya seperti biasa. Mungkin si surai merah itu sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun – dengan kondisinya yang seperti itu.

Ada apa dengannya? Asano bertanya-tanya dalam hati.

"Maaf, sepertinya aku akan bolos kelas." Dan Akabane segera membalikkan badannya dan buru-buru berlari meninggalkan sang ketua OSIS yang terheran-heran dengan sikapnya.

.

.

.

"Ren?"

Asano menghampiri sekretarisnya yang sedang duduk bersender di sudut ruangan rapat. Pemuda itu tengah mengompres pipinya yang bengkak dengan es batu.

Oh beruntunglah SMU Kunugigaoka itu kaya raya. Terima kasih kepada kepala yayasan, ruang OSIS kini memiliki lemari pendingin lengkap dengan makanan-makanan yang ready stock untuk di santap. Termasuk es batu.

"Kau kenapa?" tanya Asano sambil berjongkok di depan sahabatnya. Sang jenius mengamati lebam di pipi Sakakibara dengan cermat. Ini sih pasti lebam karena di tonjok. Tapi… Wanita mana yang punya tenaga untuk menghancurkan pipi lelaki seperti Sakakibara? Seingat Asano, Sakakibara paling apes ya dikacangin sama perempuan, tidak pernah sampai di tonjok.

Berarti sama laki-laki? Tapi kenapa? Asano berflashback ria. Dengan sikap Sakakibara yang mudah tersentuh hatinya, sepertinya jarang sekali ia bertengkar dengan siswa lain.

"Kau habis berantem?"

"Bukhan…" susah payah Sakakibara menjawab. Pipinya nyeri sekali! Si Akabane itu benar-benar berniat untuk membunuhnya.

"Terus?"

"Akhu menhemhukan cyintha."

Lho, masokis toh.

Sakakibara itu sering sekali menggombali siapapun (baik yang ia kenal maupun tidak) lantaran ia jomblo. Semua orang tahu kalau gombalannya adalah bualan belaka. Maklum, tidak ada gadis (pujaannya) yang bisa ia gombali selain Kanzaki Yukiko, si primadona kelas 3-E SMP Kunugigaoka yang kini mengenyam bangku pendidikan di kota lain.

Maka tidak heran jika Asano menganggap pernyataan Sakakibara hanya lelucon belaka.

Ia segera berjalan menuju laptop miliknya yang tergeletak di atas meja.

Ini adalah kesekian kalinya ia teledor meninggalkan laptop miliknya di ruang OSIS.

Asano memiliki kebiasaan datang satu setengah jam sebelum pelajaran dimulai. Saat penjaga sekolah baru membuka pintu gerbang, ia akan masuk dan bergegas menuju ruang OSIS. Beruntung, ia memiliki duplikat kunci ruang OSIS sehingga tidak perlu menunggu penjaga sekolah untuk membukakan ruang OSIS.

Di dalamnya, Asano muda menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengulang materi pelajaran dan menulis roman picisan sebagai salah satu hobbynya, ditemani dengan secangkir kopi panas yang membuatnya beser pagi-pagi karena efek diuretik yang kuat.

Kerap kali Asano lupa waktu saat menulis cerita, sehingga ia hanya perlu mengunci laptopnya dengan password yang tidak mungkin ada orang lain yang tahu selain dirinya, dengan asumsi 'mana ada orang yang berani mengutak-atik laptop milik anak kepala yayasan', dan 'pas istirahat nanti bakal aku lanjutin ini cerita, daripada di matikan mendingan di pasang password saja biar gampang'.

Ia pikir hari ini akan aman-aman saja seperti hari yang sebelumnya.

Dan hari ini, ia salah besar.

Layar laptopnya menampilkan draft karyanya yang belum sempat disunting.

Passwordnya telah dibuka.

.

.

.

Ah…

"Ren," yang dipanggil hanya menatap punggung sang strawberry blonde sambil meringis menahan nyeri. "Kau tadi memainkan laptopku, ya?"

"Bukhan. Ithu Akhabanhe." Jawab Sakakibara sambil tersenyum membayangkan wajah si garang Akabane yang ternyata (jika diamati) manis juga.

"Akabane?" Asano mengerutkan keningnya.

"Iyha."

Akabane Karma.

Dia tahu passwordnya? Passwordnya kan nama sang belahan jiwa, Red Demon! Kok Akabane bisa tahu?

"Ashano, kau tahu thidak? Akhabane menulis cherita yang sangat bhagus. Akhu suka sekhali." Sakakibara menekan es batu di pipinya. Sakit sekali, mana bibirnya tidak mau diam untuk menceritakan apa yang baru saja ia alami. "Sephertinyah akhu sukha dia."

Asano membeku.

Sakakibara jelas salah paham disini.

Jadi, ia mengira Akabane yang menulis cerita ini– dan parahnya lagi, Sakakibara jadi menyukai Akabane. Oh, ia hapal betul sahabatnya ini memiliki perasaan yang sangat halus. Hanya dengan membaca cerita yang bagus, Sakakibara jadi mencintai penulisnya. Tidak peduli itu wanita atau pria.

Dan Akabane…

Kata sandi laptopnya adalah nama sang reviewer tercinta, Red Demon. Tidak ada yang tahu kalau Asano Gakushuu adalah seorang penulis roman picisan di dunia maya yang hanya memiliki sedikit review (meskipun di tiap cerita sudah lebih dari 3.000 kata).

Asano Gakushuu dan roman picisan adalah dua sifat yang bertolak belakang. Asano Gakushuu itu idealis, realistis dan sadis. Sangat bukan Asano jika ia menulis roman picisan yang isinya percintaan, happy ending, kepercayaan lah, dan sebagainya. Hasil fussion antara Asano dan roman picisan inilah yang menghasilkan cerita romansa ala anak alay motoran yang baru-baru ini dikabarkan tamat.

Meski ceritanya absurd, sebuah akun bernama Red Demon sangat setia me-review karya-karya miliknya. Ia bahkan menyemangati Asano untuk tetap berkarya.

Sangat wife-able.

Asano memang tidak pernah bertemu dengan Red Demon di dunia nyata. Ia bahkan tidak tahu siapa dia, apa jenis kelaminnya, dimana dia tinggal, atau apakah dia buzzer bayaran ayahnya (Asano merinding membayangkan ayahnya mengasihaninya karena miskin review – jika tahu anaknya adalah penulis di dunia perfanfiksian) atau bukan.

Mengenai Akabane Karma…

Saingannya semenjak SMP. Memang ia dijuluki setan merah dari 3-E sejak lahir– canda deng, sejak SMP. Tapi Asano mati-matian menolak premis Akabane Karma adalah Red Demon. Ya kali, orang secerdas Akabane tidak bisa memilih nama pena yang dapat menyamarkan identitasnya. Asano saja memilih nama pena Kawaii Centipede karena Kawaii jelas bukan sifatnya, dan Centipede adalah hewan yang paling ia benci (karena sang ayah gemar sekali memelihara lipan, idih!)

Atau Akabane memang sengaja ingin semua orang tahu kalau ia adalah Red Demon – calon waifu sang ketua OSIS? Ah, tidak. Asano bertaruh bakal potong kelamin jika Akabane adalah Red Demon. Mana mungkin sang surai merah sudi me-review dengan kalimat yang bukan-Akabane-Karma-banget. Lagian, si brandalan itu kan tidak suka cerita-cerita picisan! Sewaktu drama Hamlet di kelas teater saja, ia dengan songongnya tidur (perlu diketahui, ia duduk di barisan paling depan, persis di sebelah Asano Gakushuu).

Tapi, hari ini… Ia sudah menemukan konklusi dari pertanyaannya.

.

.

.

Gue bakalan potong titit.

.

.

.

Nggak, nggak. Bukan itu. Walaupun itu bisa jadi sih.

.

.

.

Akabane Karma adalah Red Demon.

.

.

.

To be continue

.

.

.

ALOHA, HAPPY NEW YEAR 2017 Y'ALL!

Akhirnya gue bisa lanjutin fanfik ini lagi! Demi tukang haji naik bubur, curi-curi waktu buat lanjutin ini cerita sangat susah! GRHAHAHAHAHA (Maafin ya dia lagi stress)

Everyday is praktikum day– sampe gumoh gue terpapar formalin tiap hari haha.

Anyway, cukup cuap-cuapnya.

Semoga kalian tetep baca ya readers-ku tertjintah! (Karena gue liat ini fandom udah agak sepi ya semenjak Ansatsu tamat)

Kiss bye :*

Sign,

Jagung Bledug.