A-Z for M&W © ddideubeogeo17

.

.

.

Hana

Dul

Set

Enjoy it~

.

.

.

J – JUDGED

"Hyung! Hentikan!"

"Mwo?"

"Jangan tersenyum lagi!"

"Waeyo?"

"Ish! Mengataiku tidak peka, tapi sendirinya juga sama saja!" lirih Mingyu.

"Kau mengatakan sesuatu?"

"Ti- tidak."

Mingyu dan Wonwoo sedang berada di kantin sekolah, omong-omong.

"Hyung? Makananmu sudah habis kan?"

Yang ditanya hanya menganggukan kepalanya pelan. Mingyu segera menarik lembut lengan Wonwoo dan menggandengnya, ia berjalan santai namun Wonwoo dibuat kebingungan.

"Mingyu? Makananmu belum habis. Lagi pula kita akan kemana memangnya?"

"Ke taman belakang sekolah."

"Oh geurae~"

Sesampainya di sana mereka duduk berdampingan dengan menyandar pada sebatang pohon yang berukuran besar.

Wonwoo memejamkan matanya menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Mingyu dibuat terpaku menatap keindahan hasil karya Tuhan tersebut.

"Indah."

"Hm? Kau bicara sesuatu Mingyu-ya?"

"Indah. Kau sungguh indah hyung."

"Eiyh~ so cheesy."

"Itulah salah satu alasan kenapa aku melarangmu tersenyum."

"Huh?"

Mingyu menangkup wajah Wonwoo, mengikis jarak diantara keduanya dan mengusalkan hidungnya ke hidung Wonwoo yang akan mengerut lucu jika sang empunya tersenyum.

"Kenapa hyung jadi sering mengumbar senyum sih?" tanya Mingyu tidak terima.

"Tidak apa-apa."

Jangan kira Mingyu percaya, ia sudah hapal diluar kepala segala gelagat kekasih manisnya. Dan ia tahu jika Wonwoo tengah menyembunyikan sesuatu.

"Kenapa? Jawab jujur."

"Aku. . ."

"Kau?"

"A– aku saat itu tidak sengaja mendengar percakapan Tzuyu, Sohye, dan beberapa adik kelas lainnya yang merupakan fansmu. Dan saat itu kebetulan aku mendengar apa yang mereka bicarakan."

"Mereka bicara apa?"

"Mereka bilang jika aku terlalu berbeda denganmu. Sangat tidak cocok. Kau yang tampan, ramah, baik hati, populer, harus bersanding dengan kutu buku sepertiku yang membosankan, kaku, an-"

CHU~

Bola mata Wonwoo melebar, ia terkejut karena Mingyu tiba-tiba mengecup dahinya.

"Mau tahu rahasia?"

"Hmm rahasia? Apa?"

"Jika peka sedikit, kau bisa melihat jika sebenarnya semua tatapan lapar para lelaki yang berstatus dominan akan selalu tertuju padamu. Bahkan aku pernah mendengar beberapa anak ekskul basket yang ku tahu mereka 'lurus' justru malah heboh membicarakan betapa manisnya dirimu saat tersenyum dan mengenakan kacamata bulat. Bisa saja mereka 'belok' tiba-tiba dan menikungku!"

"Tidak baik berprasangka buruk, Mingoo~"

"Tapi kenyataannya begitu. Makanya aku melarangmu tersenyum dan hanya menggunakan kacamata bulat itu saat membaca saja! Habisnya kau itu terlalu manis."

Wonwoo hanya mengerjapkan matanya polos.

Membuat Mingyu gemas dan menggigit pelan pipi sang kekasih.

"Aw! Mingoo~"

"Hehehe." Mingyu hanya terkekeh. Ia mengusap pelan pipi yang baru saja digigitnya dan–

CHUUUUU~

–dikecup dengan begitu lama dan penuh perasaan. Mingyu memejamkan matanya, ia sangat senang mengecup wajah Wonwoo.

"Tidak usah pedulikan mereka, jadilah dirimu sendiri. Karena aku mencintaimu apa adanya, arraseo?" ucap Mingyu dengan sepasang netra yang mengunci tatapan Wonwoo.

BUK!

"Aw! Kau hobi sekali memukulku ya?! Dadaku sakit tahu~" rajuk Mingyu.

"Kau tidak kreatif, menyalin kata-kataku."

"Ish! Tapi kan aku benar-benar tul-"

GREP

Wonwoo memeluk erat tubuh Mingyu, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.

"Gomawo, saranghae Mingoo~" bisiknya dan mengecup leher samping Mingyu.

Oh tidak! Wajah Mingyu seperti kepiting rebus, benar-benar merah hingga ke telinga.

"Nado hyung. Nado~"

.

.

.

K – KNIFE

TOK TOK TOK

"Wonwoo hyung?"

"Ne Kookie-ya, waeyo?"

"Pintunya dikunci tidak?"

"Tidak, masuk saja!"

Cklek.

Wonwoo yang tengah duduk membelakangi pintu dan bersandar di kaki ranjang, tidak menolehkan kepalanya sama sekali. Ia tetap fokus tenggelam pada deretan kata dalam novel yang dibacanya.

CHUP!

"Eoh?" Wonwoo yang merasakan kecupan di pelipisnya terkejut. Ia menoleh dan–

CHUP!

–mendapatkan kecupan di dahinya.

"Mingyu?!" Wonwoo sontak berdiri karena terkejut melihat kekasihnya sudah telungkup di ranjangnya. Melihat ekspresi terkejut dari sang kekasih, Mingyu jadi curiga.

"Iya, aku. Kenapa?"

"Kenapa kau bisa disini?"

"Memang kenapa? Apa bermain ke rumah kekasih sendiri itu melanggar hukum?"

"Ti –tidak. Bukan begitu, hanya saja. . ."

"Apa? Kau sudah menyuruh Kookie untuk berbohong? Mengatakan jika kau tidak di rumah dan ikut kedua orangtuamu ke rumah sepupumu, begitu?"

". . ."

"Sayangnya Mingyu," Mingyu mendekati Wonwoo dan menarik lengannya pelan. Ia mengajak Wonwoo berbaring di ranjang dengan posisi saling menghadap.

"Dengar ya, naluriku begitu kuat jika menyangkut dirimu. Jadi mau berbohong bagaimanapun, aku tetap bisa merasakan kejanggalan."

". . ."

"Jadi kenapa menghindariku, hm?"

". . ." Wonwoo menggulirkan bola matanya ke segala arah, ia bingung menjawab pertanyaan tersebut.

"Hei, kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Mingyu khawatir dengan sebelah tangan mengusap rambut Wonwoo dan sebelahnya lagi dijadikan bantalan kepala sang kekasih.

Wonwoo menggeleng pelan.

"Maaf." lirih Wonwoo.

"Maaf kenapa?"

"Maaf menghindarimu."

"Alasannya apa, hm? Apa aku berbuat salah?"

Mingyu merasakan gelengan kepala Wonwoo.

"Aku sedang belajar memasak."

"Ne?!"

"Kau tidak percaya ya?!" Wonwoo menghadapkan wajahnya tepat di hadapan Mingyu. Jarak mereka begitu dekat dengan hidung yang hampir bersentuhan.

"Bukan, hanya… maksudku… kau–"

"Aku apa?!"

CHUP!

Mingyu yang gemas, tidak bisa menahan keinginannya mengecup sudut bibir Wonwoo.

"Ish! Jangan cium-cium!"

"Kau kan tidak suka memasak, kenapa tiba-tiba begini?"

"Aku hanya ingin suatu saat bisa memasakkan makanan kesukaanmu." lirih Wonwoo.

"Aigoo~ Cintanya Mingyu baik sekali~" Mingyu melepaskan rengkuhannya dan menarik kedua tangan Wonwoo untuk dikecupnya, namun Mingyu mengernyitkan alisnya.

"Jarimu kenapa penuh plester begini?"

"Hm? Luka."

"Astaga Jeon Wonwooku sayang, aku tahu itu luka. Maksudku kenapa bisa terluka?"

". . ."

Seakan tersadar sesuatu, Mingyu menangkup sepasang tangan yang begitu ramping dan mengecupinya lembut dengan penuh kasih sayang.

"Pasti gara-gara belajar memasak ya?"

Wonwoo mengangguk pelan.

"Ck, Wonwoo hyung kau seharusnya tidak usah me-HMMPP"

Sebelah tangan Wonwoo bergerak gesit membungkam mulut Mingyu.

"Tuh kan, reaksimu pasti seperti ini. Inilah salah satu alasan aku menghindarimu, jika tahu jariku terluka begini pasti kau akan menceramahiku dan menyuruhku untuk berhenti belajar memasak." ucap Wonwoo sambil mengerucutkan bibir tanpa sadar.

Mingyu melepaskan bekapan sang kekasih dan berkata,

"Aku sangat khawatir tahu! Seingatku terakhir kali melihatmu memegang pisau itu sungguh suatu pemandangan mengerikan. Karena membedakan bagian mata pisau antara yang tajam dan yang tidak saja kau terbalik, justru mengarahkan yang tajam ke atas hingga saat jarimu tergelincir kau berdarah begitu banyak."

Wonwoo diam saja, ia tahu jika Mingyu sudah secerewet ini berarti sosok tersebut sedang mengeluarkan segala kerisauan di hatinya.

"Kau tidak tahu sejak saat itu betapa takutnya aku melihatmu menyentuh pisau? Untung luka kecil, tapi jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bagaimana, huh? Aku pasti akan membenci diriku sendiri karena tidak bisa menjagamu dengan baik!"

SRET!

Wonwoo menindih tubuh Mingyu, bagian depan tubuh keduanya menempel sempurna. Membuat mereka bisa saling merasakan jantung yang berdegup cepat.

CHUP!

CHUP!

CHUP!

"Hyu-"

CHUP!

"Sudah? Marah-marahnya sudah, hm?" tanya Wonwoo dengan senyuman manisnya. Hidungnya dan Mingyu sudah menempel hingga ia bisa merasakan hembusan napas kekasihnya.

"Mengertilah, jika menyerah aku tidak akan pernah bisa berhasil. Luka sedikit wajar saja, yang penting ke depannya aku berjanji akan lebih berhati-hati. Jadi jangan marah lagi ya, Mingoo~?"

GREP

"Ya sudah, tapi tetap saja kau harus dihukum!"

Belum sempat Wonwoo mencerna apa yang terjadi, ia sudah merasakan geli di pinggangnya.

"Ahahahaha Mingyu! Berhen-ahaha-ti! Jangan menggelitikiku lag-ahahaha sudah!"

Mingyu berhenti, ia hanya terkekeh jahil dan mengeratkan pelukannya. Harum khas Wonwoo membuatnya menenggelamkan wajah di leher jenjang sang kekasih yang masih berbaring di atas tubuhnya.

Dan siang hari itu dihabiskan oleh keduanya untuk berolahraga di atas ranjang.

Eh?

Berolahraga di atas ranjang sungguhan kok.

Olahraga ibu jari.

Iya, karena ibu jari mereka sibuk untuk bertanding games di ponsel.

Jangan berpikir aneh-aneh, tolong.

.

.

.

L – LIE

"Hyung? Kemarin hyung kemana?"

"Kemana? Tidak kemana-mana."

"Ish!" dengus Mingyu.

Mingyu dan Wonwoo sedang berada di atap sekolah, mereka membawa bekal dan sudah habis. Tinggal menunggu waktu jam istirahat usai.

"Kenapa?"

"Hyung bohong!"

"Bohong bagaimana?"

"Kau pergi kan?"

"Pergi? Apa sih maksudmu?"

"Ck jujur saja hyung. Kau pergi kan dengan si 'hidung perosotan anak TK'?!"

"Eoh? Jun maksudmu?"

"Aish tidak usah sebut namanya!"

"Tidak."

"Bohong."

"Benar."

"Bohong."

"Terserah."

"Hyuunggg~"

"Apasih Mingyu? Kau tidak bisa bicara to the point saja?! Aku bukan anak pramuka, jadi jika kau hanya memberi kode-kode begitu aku tidak mengerti!"

"Hyung bohong! Kemarin aku melihatmu pergi ke toko bunga bersama si China itu!"

"Hush! Jangan rasis!"

"Biar saja."

"Aku memang pergi ke toko bunga."

"Tapi tadi katamu kau tidak kemana-mana!"

"Ya memang tidak kemana-mana. Kan itu sepulang sekolah, hanya kebetulan lewat dan mampir sebentar. Jika pergi dengannya, berarti aku pulang dulu ke rumah dan menyiapkan diri. Kau ini bagaimana sih?"

"Ish tetap saja intinya kalian menghabiskan waktu bersama. Lagipula siapa yang memperbolehkan hyung untuk mampir-mampir? Kan aku sudah bilang langsung pulang."

"Ck lalu kau bisa tahu itu semua dari mana?!"

"E- eh anu.. itu.. ternyata latihan basketnya tidak jadi hari itu. Hehehe"

"Nah yasudah, jadi itu kan salahmu sendiri yang tidak menghampiriku dan Jun."

"Aku kan hanya ingin tahu apa yang kalian lakukan dan-"

"Oh jadi begitu? Kau sedang mengetes kesetiaanku? Kau tidak percaya padaku?!"

"Bukan begitu, sungguh. Aku hanya ingin tahu jawabanmu jika ditanya kau pergi atau ti-"

"Tidak, Kim. Aku dan Jun mampir sebentar juga karena Jun ingin membelikan bunga untuk Minghao."

"Minghao?! Xu Minghao anak di kelasku?"

"Hu'um."

"Oh. . ."

"Nah, sudah? Sudah puas dengan jawabanku?"

Mingyu hanya tersenyum malu, membuat Wonwoo mendengus dan tangannya dengan jahil memencet hidung sang kekasih. Membuat Mingyu gelagapan. Sedangkan sang tersangka hanya terkekeh geli.

"Makanya jangan berprasangka buruk terus dengan Jun."

Mingyu hanya mengerucutkan bibirnya, tidak terima disalahkan.

Wonwoo pun mengusal-ngusalkan hidungnya seperti kucing di pipi Mingyu. Membuat Mingyu lemas dan akhirnya ia memeluk Wonwoo erat sambil menciumi kepalanya.

"Dasar nakal! Jangan menggemaskan begitu lagi, nanti aku kelepasan 'menyerangmu' hyung!"

"Aish dasar byuntae!"

.

.

.

M – Mine

Latihan bagi anak-anak yang mengikuti ekskul basket telah selesai, ditandai dengan bunyi peluit panjang dari sang pelatih. Semuanya membubarkan diri ke pinggir lapangan.

Beberapa diantaranya disambut dengan kekasih masing-masing yang sudah siap dengan minuman dan handuk di tangan. Seperti Jihoon yang menghampiri Soonyoung, Seungkwan yang menghampiri Hansol, dan tidak lupa juga si rupawan dengan rambut indahnya Yoon Jeonghan tengah menghampiri Seungcheol.

Hmm seperti ada yang kurang?

Ah, iya!

Mingyu, ia tengah mengedarkan pandangannya mencari si manis berkacamata bulat. Baru saja ia berniat melangkah menghampiri Jihoon guna bertanya mengenai keberadaan kekasihnya, sesosok gadis yang sudah familiar muncul begitu saja. Mengundang decihan lirih dari Jihoon, Seungkwan, dan Jeonghan.

"Annyeong haseyo Mingyu oppa."

"Ah~ Ne annyeong."

"Oppa, ini. Aku bawakan minuman dan handuk. Oppa pasti lelah."

"A-ah mianhae Tzuyu-ssi, aku tidak begitu haus."

"Tzuyu saja oppa, tidak usah pakai –ssi." ujar perempuan cantik itu malu-malu.

"Uh huh? Ah ya. . ." meski menjawab, tapi nyatanya dari tadi sepasang netranya sibuk menyapu ke seluruh arah guna mencari sosok kesayangannya.

SRET

Karena matanya fokus mencari ke sekitar, ia tidak sadar jika Tzuyu mendekat dan tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya sambil menyeka keringat yang mengalir di wajah tampannya.

"Ap–apa yang kau lakukan?!"

"Hm? Meskipun tidak haus, tapi keringat oppa ini sangat banyak. Jadi biarkan aku mengelapnya."

Mingyu menelan ludahnya kasar. Dia bisa merasakan aura gelap dari tiga pasang mata yang menatapnya tajam. Ia tahu ketiga sahabat terdekat Wonwoo itu pasti sudah merutuknya habis-habisan.

Tapi mau bagaimana lagi? Mingyu saja masih terpaku karena shock dengan tingkah adik kelasnya ini.

"Oppa kenapa diam saja?" tanya satu-satunya perempuan disitu.

TAP

TAP

TAP

SRET!

Mingyu merasakan seseorang memeluk erat sebelah lengannya.

"Mingoo~ Aigoo Mingoonya Wonu kelelahan ya? Eh tapi keringat di wajahmu kok sudah bersih?"

Semua orang yang masih berada di lapangan indoor tersebut merasakan napasnya tercekat.

Bayangkan saja, Wonwoo yang terkenal akan ekspresi datarnya tiba-tiba muncul dengan suara aegyo, wajah polos minta 'diterkam', senyum manis dengan kerutan lucu di hidung, ditambah lagi lengan sweater kebesarannya yang menutupi setengah telapak tangan. Sungguh menggemaskan!

"Eoh? Kau Chou Tzuyu anak kelas 1-4 kan? Kau memegang handuk? Oh jangan-jangan kau yang mengelap keringat di wajah Mingyu ya? Terima kasih atas bantuannya ya adik cantik." ujar Wonwoo disertai dengan senyuman manis.

"A- hah? Hmm ne, sama-sama Wonwoo sunbaenim." ujar Tzuyu gelagapan karena terkejut mendapat serangan senyum maut Wonwoo.

"Tapi tolong lain kali tidak usah memberi minuman dan handuk lagi, bisa? Karena aku yang akan membawakannya untuk Mingyuku. Dan omong-omong jangan memanggilku sunbae, panggil dengan oppa saja. Kau memanggil Mingyu juga dengan sebutan 'Mingyu oppa' kan?"

"N-ne, a-aku tidak akan memberikan minuman dan handuk lagi. Oh ka-kalau begitu a-aku permisi Wonwoo sun- ah tidak, maksudku Wonwoo oppa."

"Hm? Ne, hati-hati di jalan ya." ucap Wonwoo sambil mengelus kepala Tzuyu lembut –persis seperti saat ia mengelus sayang kepala adiknya, Jungkook.

"Hu'um." Tzuyu membungkuk hormat dan segera berlalu pergi dari sana dengan wajah memerah.

Marah? Tidak.

Malu? Tidak.

Tersipu? Iya. Jelas saja, siapa yang tidak tersipu mendapat perlakuan lembut begitu dari sosok semanis Wonwoo?

'Aigoo~ Wonwoo oppa manis sekali. Ck menyesal aku pernah berkomentar jelek tentangnya. Aku bodoh, sepertinya kemarin aku dibutakan oleh rasa sukaku pada Mingyu oppa. Hah~' batin Tzuyu menyesal. Yah setidaknya hal ini membuat Tzuyu menyerah mendekati Mingyu karena ia akui pesona Wonwoo yang luar biasa.

Sementara itu di lapangan,

GREP

"Huh? Mingyu-ya kau kenap-"

"Ssstt… Kenapa kau nakal sekali sih hyung?"

"Mwo? Nakal kenapa?"

Suara Wonwoo teredam karena ia masih dipeluk erat oleh Mingyu.

"Iya, nakal! Untuk apa bersikap semanis itu di tempat ramai begini, huh?"

"Aku-"

Ucapan Wonwoo terputus saat terdengar teriakan,

"YAK JUNHONG-AH KAU MIMISAN?!"

"Eh m-mwo? Iya! Kau, kau juga! Kenapa wajahmu memerah begitu Changkyun-ah."

"Kalian berisik! Aigoo jantungku!"

"Jantungmu kenapa Jaehyun-ah?"

"Jantungku seperti ingin melompat, Bam! Yah! Bambam-ah eottokhae?!"

"Nan molla. Tapi kenapa rasanya aku ingin sekali menggigit pipi Wonwoo hyung ya?"

Abaikan keributan di sisi lain lapangan. Ketiga sahabat Wonwoo hanya bisa terkekeh melihat respon para anggota ekskul basket yang baru melihat langsung betapa manisnya Wonwoo.

Sedangkan Wonwoo sendiri, uh dia masih tenggelam dalam pelukan posesif kekasihnya.

"Hyung?"

"Hmm?"

"Jangan lagi ya?"

"Jangan lagi apanya?"

"Seperti tadi. Pokoknya jangan lagi~ Sisi manismu hanya aku yang boleh melihat, jangan diumbar-umbar seperti. Tidak boleh!"

"Cih posesif! Tapi sendirinya saja mau disentuh-sentuh oleh perempuan lai-"

"Hu'um Mingoo salah~ Maafkan Mingoo ya~"

Wonwoo hanya terkekeh. Ia mengelus helaian rambut Mingyu. Lagipula ia juga tidak nyaman bersikap seperti tadi, itu hanya terpaksa saja karena pikiran dewasanya berkata jika menghadapi gadis remaja yang masih labil harus dengan cara halus.

Dan itulah cara Wonwoo menegaskan kalau Mingyu hanya miliknya. Tidak perlu saling tampar dan jambak, kan?

.

.

.

N – NAP

Cklek

Dengan mengendap-endap Mingyu mendekati sosok yang tertidur dengan posisi terduduk di meja belajarnya.

"Aigoo~ Kau menduakanku dengan buku novel lagi ya hyung?" monolog Mingyu sambil mengusap kepala Wonwoo.

GREP

Mingyu menggendong tubuh ringan Wonwoo dan merebahkannya di atas ranjang. Lalu dengan jahilnya ia meniup mata terpejam Wonwoo.

"Eunghhh~"

Mingyu hanya terkekeh mendengar lenguhan sang kekasih saat tidur siangnya diganggu.

"Ishhh Kookie-ya! Jangan menggangguku!"

Mingyu ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh Wonwoo seperti guling.

"Hyung manis kesayangannya Mingoo~" Mingyu mengusak-usak pipinya dengan pipi Wonwoo. Hingga membuat Wonwoo terbangun.

"Eungh~ Hoam~"

". . ."

"Eoh? Mingyu? Sedang apa?"

Mingyu mengerucutkan bibirnya. "Hyung, ini minggu siang. Pasangan kekasih lain biasanya akan kencan, tapi kau malah bertanya aku disini sedang apa? Ck benar-benar!"

Wonwoo hanya terkekeh. Punya kekasih yang kekanakan seperti Mingyu sangat mampu mengimbangi sikap datarnya.

"Jadi kau mau mengajakku kencan, hm?"

"Tadinya."

"Huh? Tadinya? Lalu sekarang tidak jadi?"

"Tidak." Mingyu menggeleng dan mengeratkan pelukannya.

"Kenapa?"

"Karena daripada kencan diluar, ku pikir lebih baik begini saja."

"Begini bagaimana? Tidur siang bersama?"

"Hu'um, aku jadi bisa memelukmu sepuasku." Mingyu tersenyum begitu lebar.

"Ujujujujuju~ Dasar Mingoo jelek!" ujar Wonwoo, sebelah tangannya dengan jahil mengusap gigi taring Mingyu yang terlihat ketika sang pemilik tengah tersenyum.

"Aw! Sakit~"

Ekspresi Wonwoo saat menyentuh gigi taringnya itu seperti anak TK melihat permen gulali raksasa, membuat yang melihat menjadi gemas. Saking gemasnya, Mingyu jadi refleks menggigit bibir tapi justru jari Wonwoo ikut tergigit.

Mingyu meraih tangan Wonwoo dan mengusapnya. "Mana yang sakit?"

"Ini." ujar Wonwoo sambil menunjukkan jarinya. Mingyu pun menciumi jari kekasihnya yang barusan tergigit olehnya.

"Maaf ya?"

"Hu'um, tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Temani aku tidur siang ya? Dan jangan pulang sebelum orangtuaku datang."

"Kookie kemana?"

"Bermain di rumah temannya."

"Oh, baiklah. Dengan senang hati~" ucap Mingyu sambil tangannya mengelus dahi sang kekasih, hingga beberapa menit kemudian ia bisa merasakan hembusan napas teratur Wonwoo.

Mingyu ikut memejamkan matanya setelah mengecup pelipis Wonwoo lama.

"Selamat tidur, kesayangannya Mingyu~" bisiknya.

.

.

.

O – OBSTINATE

"Hyung~"

". . ."

"Wonwoo hyung~"

". . ."

"Jeon-san kesayangannya Mingoo~"

"Ck apa sih?! Diamlah."

"Hyung, sakit~"

"Hah~ Mana yang sakit, hm?"

"Ini."

Wonwoo pun memijat pelan kepala Mingyu. Sekarang sabtu sore dan seharusnya Wonwoo berada di sekolah untuk rapat bersama anggota klub yang lainnya.

Tapi pada kenyataannya, ia justru disini. Di dalam kamar Mingyu, menemani dan merawatnya.

Merawat?

Iya, merawat karena sang empunya kamar ambruk siang tadi tepat setelah ia bermain basket.

"Kenapa sih kau itu sangat keras kepala? Kau sebenarnya sayang padaku atau tidak?"

"Hyung~ Kenapa bertanya begitu sih? Tentu saja aku menyayangimu. Aw ssshh" Mingyu mendesis ketika tiba-tiba kepalanya terasa sangat pening, ia hanya mampu memejamkan matanya.

Wonwoo masih memijat pelan kepala Mingyu dan sesekali mencelupkan handuk kompresan di dahi Mingyu ke dalam air.

"Bagaimana bisa kau bilang menyayangiku sedangkan tubuhmu sendiri tidak kau sayangi, hm?"

"Hyuuung~ Bukan begitu maksudku. Aduh pusiiiing~" Mingyu mendengar semua yang Wonwoo katakan, namun rasa pusing di kepalanya benar-benar tidak bisa ditoleransi.

Wonwoo menggigit bibir bawahnya, ia sesak melihat Mingyu kesakitan begini. Tapi ini memang salahnya sendiri, karena sempat mendapat teguran dari pelatih basketnya Mingyu jadi memaksakan diri untuk bermain basket hampir setiap hari.

Tidak peduli tubuhnya sudah meronta minta diistirahatkan, Mingyu dengan keras kepalanya tetap berlatih basket.

"Makanya dengarkan nasihatku, nasihat ibumu, nasihat orang lain, kau harus bisa membagi waktu. Kau itu manusia Kim Mingyu, bukan robot! Dan lagi pelatihmu kan hanya memberi kritikan agar kau bisa lebih baik lagi, tapi apa sih yang diterjemahkan oleh otakmu itu?! Kau merasa gagal, begitu?"

"Maaf~" meskipun matanya terpejam, namun tangannya berusaha meraba dan menggapai sebelah lengan Wonwoo untuk dipeluknya.

"Maafkan aku." lirih Mingyu.

Wonwoo yang sedari tadi duduk di pinggir ranjang pun bergerak. Wonwoo menyuruh Mingyu agar bergeser sedikit ke tengah ranjang agar ia bisa duduk bersandar ke dashboard ranjang, setelahnya Wonwoo meluruskan kaki lalu mengarahkan Mingyu agar kepalanya berada di pangkuan paha Wonwoo.

Mingyu masih terpejam sedari tadi namun saat merasakan bahwa alas kepalanya adalah paha sang kekasih, Mingyu refleks mengusalkan wajahnya ke perut Wonwoo.

"Kau ingin makan lagi tidak?"

Mingyu hanya menggeleng. Ia bersyukur memiliki kekasih sebaik Wonwoo, karena di rumah sedang tidak ada orang dan hanya nama Wonwoo yang terlintas di benaknya, jadi tanpa berpikir panjang ia merengek melalui telepon dan menyuruh kekasihnya itu berkunjung ke rumah.

"Ya sudah, tidur saja ya?"

Mingyu mengangguk. Wonwoo akhirnya mengelus lembut kepala Mingyu, membuat kekasihnya itu nyaman dan terbuai hingga ke alam mimpi.

Jarum panjang pada jam telah berputar beberapa kali hingga tanpa sadar sekarang sudah memasuki waktu malam. Salah satu dari dua anak adam yang tertidur di atas ranjang itu pun terbangun. Ia mengerjapkan matanya saat melihat kamarnya begitu gelap.

Dengan perlahan ia bangun dan menyalakan lampu, mengernyitkan dahi saat cahaya terang menghujani netranya. Setelah beberapa detik, bola matanya bergulir ke arah jam yang menunjukkan pukul 7 PM.

Ia menolehkan wajahnya dan menemukan sang kekasih tengah tertidur dalam posisi duduk menyandar di dashboard ranjang.

'Aigoo~ Pasti pegal sekali.' batin Mingyu merasa bersalah.

Tanpa banyak bicara Mingyu merebahkan tubuh Wonwoo, namun hal itu ternyata mengusik ketenangan tidurnya. Hingga sekarang Wonwoo membuka mata dan mengerjap pelan.

"Mingyu-ya?" tanya Wonwoo dengan suara serak khas bangun tidur.

"Hm?" Mingyu duduk di pinggir ranjang.

Wonwoo duduk lalu memegang dahi dan leher Mingyu.

"Apa kau merasa lebih baik?" tanya Wonwoo.

Mingyu mengangguk, ia mengangkat poni Wonwoo dan menempelkan dahi mereka berdua.

"Sudah turun kan panasnya? Hehe"

CHUP!

Mingyu mengecup dahi Wonwoo. "Terima kasih ya, maaf merepotkan."

"Iya memang, merepotkan!" dengus Wonwoo.

Ekspresi Mingyu menjadi keruh, namun detik berikutnya ia merasakan bagian kerah bajunya tertarik ke depan,

CHU~

Entah berapa menit yang mereka habiskan hanya untuk menempelkan bibir.

"Jaga kesehatan dan sayangi tubuhmu sendiri. Jangan keras kepala! Kalau tubuh sendiri saja tidak bisa kau jaga, bagaimana nanti kau menjagaku, huh?" tanya Wonwoo.

"Iya maaf, aku janji akan menjaga kesehatanku. Tapi aku butuh penyemangat~"

"Hmm apa? Katakan saja. Selagi si bodoh kesayangannya Wonu ini sakit, semua permintaan akan dikabulkan!" ujar Wonwoo sambil tersenyum.

"Ish kok 'si bodoh' sih hyung? 'Si tampan', 'Si seksi', atau apa saja yang lebih bagus kan banyak." sewot Mingyu.

Wonwoo hanya terkekeh. "Iya iya, Mingoo si tampan kesayangannya Wonu mau apa, hm?"

"Mau ini!"

CHU~

Mingyu mencium Wonwoo dengan lebih intens, menggigit-gigit kecil bibir bawahnya hingga sang submissive refleks membuka mulut. Memberi ruang bagi lidah Mingyu untuk menyusup masuk dan mengabsen semua yang ada di mulut kekasihnya.

Seiring menit berlalu, french kiss yang cukup panas itu pun berakhir dikarenakan kebutuhan manusia akan oksigen.

BUK!

"Aw! Hyung wae~?"

"Kau seperti akan menelan bibirku tahu!"

"Hehehe omo omo si manis kesayangan Mingoo kok wajahnya merah?"

"Mingyu!"

Wonwoo menutup wajahnya. Entah kenapa meskipun sudah berpacaran lama, tetap saja ia merasa malu. Dengan gemas Mingyu memeluk Wonwoo dan mengelus rambutnya.

"Gomawo. Saranghae." bisik Mingyu tulus.

.

.

.

P – PEACEFUL

Mingyu dan Wonwoo telah selesai belajar bersama. Sebenarnya tidak hanya berdua, tadinya ramai karena ada sahabat dekat mereka seperti Soonyoung, Jihoon, Seungcheol, Jeonghan, dan dua adik kelas mereka yang ikut bergabung –Hansol dan Seungkwan.

Namun mereka sudah pulang duluan, pengecualian bagi Wonwoo karena ia ditahan oleh sang tuan rumah yang tidak mengizinkannya pulang.

"Mingyu-ya? Ini sudah malam."

"Tapi di luar sedang turun hujan lebat, lagi pula aku sudah menelepon eommoni dan meminta izin agar kau boleh menginap."

"Mwo? Kapan kau menelepon eomma?"

"Tadi saat kau ke kamar mandi."

"Ish dasar!"

Mereka sedang duduk di karpet kamar Mingyu dengan posisi Wonwoo yang dipeluk dari belakang. Tubuh kurusnya berada diantara kedua kaki Mingyu.

"Mingyu-ya, apa novelku yang pernah tertinggal di sini masih ada?"

"Hmm. . . Oh, ada. Mau kuambilkan?"

Wonwoo mengangguk pelan dan memajukan tubuhnya sedikit, memberi ruang di belakang agar Mingyu bisa berdiri.

"Yang ini hyung?"

"Iya."

Mereka pun kembali ke posisi semula, dengan Wonwoo yang tenggelam dalam bacaannya dan Mingyu yang sibuk dengan ponselnya namun sesekali mencuri kecupan di kepala dan tengkuk Wonwoo.

Jarum jam berotasi dan selama itu pula ruangan tersebut diliputi keheningan. Mingyu yang sudah bosan menjelajah dunia maya, memilih menaruh ponselnya.

Ia mengeratkan pelukannya dan ikut membaca novel yang Wonwoo pegang. Namun baru beberapa kalimat ia sudah menyerah. 'Apa sih maksud kalimatnya? Berat sekali gaya bahasanya. Aku tidak mengerti!' batin Mingyu frustasi.

"Sayang?"

"Hm?"

"Aku bosan."

"Lalu?"

"Kau tidak bosan?"

Wonwoo hanya menggeleng.

"Ck Wonunya Mingoo~ Jangan mengacuhkanku!"

"Berisik, Kim!"

"Kau juga nanti akan menjadi Kim!"

"Eiyh~ Percaya diri sekali."

"Memang!"

Wonwoo hanya terkekeh, namun ia tetap fokus pada novel yang di bacanya.

Mingyu sebal, ingin rasanya ia mengambil novel itu, merobeknya menjadi serpihan kecil, lalu dibakar hingga menjadi abu.

'Novel sialan! Awas saja, lihat pembalasanku nanti! Berani-beraninya merebut perhatian Wonuku!' jerit batin Mingyu kesal.

Hmm, Mingyu? Sehat?

Oke, abaikan.

"Ssshh Mingyu! Geli! Jangan mengendus tengkukku."

Mingyu justru makin melancarkan aksinya, ia tidak suka diabaikan. Dan ia hapal betul tabiat Wonwoo jika ditemukan dengan buku, ia akan bergeser posisi menjadi pacar kedua Wonwoo karena kekasihnya pasti menempatkan buku di nomor satu.

"Mingyu sud–"

"AKHHH SSHHH~"

Ups.

Wajah keduanya memerah, karena pergerakan refleks Wonwoo yang memundurkan tubuhnya mengakibatkan ia menekan –ehem- junior Mingyu, hingga membuat Mingyu berteriak sekaligus mendesah.

Meski mereka sering melakukan skinship, tapi baru kali ini mereka berada dalam posisi seintim ini. Apalagi sampai mengenai bagian vital tubuh masing-masing, ini perdana!

Krik

Krik

Krik

"Ehem, h-hyung aku ma-"

"Aku pinjam kamar mandimu ya!"

TAP TAP TAP

BRAK!

Setelah Wonwoo hilang di balik pintu kamar mandi dalam kamarnya, Mingyu terkekeh geli. Ia membayangkan wajah memerah Wonwoo yang pasti akan menambah kadar kemanisannya. Membuatnya merasa gemas akan tingkah kekasihnya yang ternyata masih begitu lugu.

Lalu kalau Mingyu?

Lugu?

Ahaha,

Mustahil.

Mingyu rasa malam ini tidak sepenuhnya tenang dan penuh kedamaian, justru sepertinya akan berakhir dengan desahan dan –ups

Tenang semua, tenang.

Mingyu tidak akan menodai Wonwoo sebelum mereka menjadi pasangan yang sah di hadapan Tuhan dan negara kok. Ya paling Mingyu hanya akan memberi sedikit 'pemanasan' tapi tidak sampai ke inti.

Biarkan Kim Mingyu berbahagia malam ini.

'Rezeki anak tampan, hehe' ucap batin Mingyu nista.

.

.

.

Q – QUIBBLE

"Mingyu-ya ayolah… Kumohon, aku harus pergi sekarang."

"Tunggu hyung! Sebentar lagi. Ne? Ne? Ne?"

"Aish… Ya sudah, cepatlah!"

Penasaran mereka dimana? Mereka sedang berada di perpustakaan kota. Mingyu yang menurut Wonwoo termasuk salah satu orang yang tidak begitu bersahabat dengan buku, tiba-tiba mengajaknya untuk pergi ke perpustakaan. Wonwoo jelas merasa itu suatu hal yang tidak wajar.

"Mingyu, sebenarnya buku apa sih yang kau cari?"

"Hmm tunggu sebentar, ah sepertinya bukan di daerah sini. Kajja kita kesana hyung!"

Wonwoo sangat gelisah, sudah tidak terhitung berapa kali ia mengecek jam tangannya.

"Mingoo~ Sungguh, tidak bisakah kau mencarinya sendiri? Ada hal penting yang harus ku urus. Sungguh!"

Mingyu hanya menggeleng tanpa melihat Wonwoo, tangannya tetap menggenggam tangan kekasihnya erat.

Wonwoo sudah berdecak beberapa kali, untuk kesekian kalinya ia melepaskan genggaman tangan Mingyu dan mengambil ponselnya. Mengetik beberapa saat lalu memasukkannya lagi ke kantung celana yang ia kenakan.

Wonwoo bingung harus dengan cara apa lagi untuk terhindar dari Mingyu. 'Ada apa sih dengan Mingyu? Ya Tuhan, aku sudah terlambat!' batin Wonwoo kehabisan ide.

"Mingyu, tunggu!"

Wonwoo menarik ujung belakang baju Mingyu dan menatapnya dengan jurus maut penuh aegyo. Biarlah untuk saat ini harga dirinya runtuh beberapa persen, ia benar-benar harus pergi.

"Mingoo~ Biarkan Wonu pergi, ne~?"

Mingyu menelan ludah kasar, sontak matanya mengedar ke sekeliling. Memastikan tidak ada orang lain yang ikut menikmati pemandangan indah ini –dimana Wonwoo beraegyo.

"Hyung~ Memangnya kau tidak mau menemaniku ya?"

"Bukan begitu…"

"Lalu kenapa?"

Mereka berada di balik jajaran rak besar di sudut ruangan, membuat keduanya tidak begitu terlihat.

Wonwoo menggigit bibir bawahnya pelan.

"Jangan digigit, nanti berdarah. Harus berapa kali ku ingatkan agar kau menghilangkan salah satu kebiasaanmu ini, hm?" ujar Mingyu sambil menyentuh bibir bawah Wonwoo yang digigit pemiliknya.

Wonwoo bingung, sungguh. Ia ingin menjawab jujur tapi ia takut merusak mood Mingyu.

Sekarang hari minggu dan Wonwoo punya janji bertemu dengan seseorang di pukul 4 PM. Namun siapa yang menyangka jika kekasih tingginya itu akan menjemputnya di pukul 3 PM dan meminta Wonwoo untuk menemaninya ke perpustakaan kota.

Awalnya ingin menolak, tapi jika dipikir mungkin tidak membutuhkan waktu lama. 'Hanya meminjam buku saja kan? Berarti setengah jam lebih mungkin selesai dan aku bisa langsung menemui dia di pukul 4 PM.' Perkiraan batin Wonwoo saat itu.

Tapi pada kenyataannya, sekarang sudah pukul 5 PM lewat dan ia masih saja ditahan kekasihnya untuk mengelilingi perpustakaan mencari buku-entah-apa-judulnya.

"Sayang?"

"Uh huh?"

"Jadi sebenarnya kau mau pergi menemui siapa?"

"Ah~ Tidak penting."

"Tidak mungkin tidak penting, buktinya dari tadi kau terlihat sangat gelisah dan-"

"Tidak, aku biasa saja."

"Aku yang melihatnya Wonwoo sayang~ Kau sudah janjian dengan seseorang kan? Dimana?"

"Huh? Tidak. Sudahlah, lebih baik kau mencari bukumu saja sampai ketemu. Kajja." Wonwoo berjalan mendahului Mingyu.

'Ck lagi-lagi berdalih, dan malah mengalihkan pembicaraan.' batin Mingyu mendengus.

SRET!

Mingyu menarik Wonwoo ke sudut yang sepi.

"Jun kan?"

"Hah?! A-apa?"

"Kau janjian untuk bertemu dengan Jun kan?"

"Hmm tidak." lirih Wonwoo sambil menunduk.

Mingyu menarik dagu Wonwoo lembut dan mengecup sudut bibirnya.

"Jujur saja."

Wonwoo mengerjapkan matanya, ia terlihat begitu tidak fokus. "Hu'um."

"Apa?"

"Iya, aku janjian dengannya."

". . ."

"Ta-tapi sungguh, jangan berprasanga buruk dulu aku hanya-"

CHUP!

Kecupan di dahi membuat kalimatnya tertelan, Wonwoo melihat Mingyu yang tengah tersenyum tipis padanya hingga gigi taring sang pemilik ikut mengintip.

"Aku percaya padamu."

Wonwoo mengernyitkan alisnya bingung. Tumben sekali Mingyu tidak marah, biasanya mendengar nama Jun keluar dari mulut Wonwoo saja ia sudah meledak-ledak penuh emosi.

"Sebenarnya aku sudah tahu. Saat aku tidak menemukanmu di kelas, aku bertemu Jihoon lalu aku bertanya, ternyata ia bilang kau sedang di ruang guru bersama Jun untuk berdiskusi tentang tugas bahasa inggris yang kebetulan perkelompoknya hanya berdua."

". . ."

"Awalnya aku terkejut, jujur aku cemburu. Membayangkan kalian akan sering menghabiskan waktu bersama. Tapi jika dipikir lagi, akan sangat kekanakan jika aku marah karena hal itu. Aku yakin kalian berdua profesional. Aku memilih pura-pura tidak tahu dan menunggu kau mengatakannya padaku."

". . ."

"Tapi setelah ku tunggu berhari-hari bahkan sampai hari ini, kau tidak mengatakan apapun padaku. Maaf karena aku menahanmu, sebenarnya sedari tadi aku menunggu pengakuanmu hyung."

GREP!

"Maaf. Aku, aku hanya tidak ingin merusak mood mu. Jujur jika kemarin-kemarin aku memang sungguh lupa tidak memberitahumu. Dan melihat tadi kau menjemputku dengan raut wajah bahagia begitu, aku mana tega mengatakan jika aku ada janji dengan Jun. Aku takut kau kecewa Mingyu-ya~"

Mingyu hanya tersenyum, ia sangat percaya pada Wonwoonya. Tidak pernah terbesit sedikitpun di pikirannya jika Wonwoo bermain di 'belakangnya', Mingyu itu marah karena ia tidak rela saja si manis menggemaskan miliknya menghabiskan waktu dengan orang lain –terlebih dengan seme single macam Jun.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Ayo ku antar."

"Jadi kau tidak akan meminjam buku apapun?"

"Hyuuung~ Kau tahu aku lebih memilih mendribble bola basket selama berjam-jam daripada harus membaca ribuan kata dalam buku yang begitu tebal. Hih~"

"Ish dasar!"

"Hehe kajja. Kau janjian dengannya dimana?"

"Di café dekat sekolah."

"Mwo?! Itukan café favorit untuk kencan kita!"

"Yak! Kecilkan suaramu. Lagi pula lebih baik kan? Itu tepat di pertengahan. Jika di rumahku, Jun nya harus menempuh jarak jauh, sedangkan jika di rumah Jun-"

"Tidak tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu berduaan dengannya, apalagi di rumahnya. Tidak bisa."

"Nah makanya, café itu tempat paling strategis."

"Tapi kan hyung–"

"Ssstt sudah, ayo. Kau jadi mengantarku atau tidak? Jika tidak-"

"Jadi! Kajja~"

Dan ya, begitulah hubungan Mingyu dan Wonwoo. Terkadang niat di dalam hati mereka masing-masing bertujuan agar pasangannya tidak merasa kecewa. Namun menyembunyikan sesuatu dan berdalih juga bukanlah pilihan bijak. Karena apa?

Fondasi terbaik dalam sebuah hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan.

.

.

.

R – ROMP

"Wonwoo hyung?"

"Hm?"

"Ayo kita bermain!"

Wonwoo menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak mengerti pola pikir kekasihnya.

"Bermain apa?"

"Hmm kejar-kejaran?"

"Pffthahahaha"

"Jangan tertawa hyuung~"

"Ck seperti anak kecil saja."

"Ish memangnya hanya anak kecil saja yang boleh bermain itu? Lagi pula aku punya syarat menarik, bagi yang tertangkap harus mau memenuhi semua keinginan yang menang. Bagaimana?"

"Hmm call!"

Dimulailah permainan saling kejar-mengejar diantara mereka. Dimulai dari suit batu-gunting-kertas dimana Wonwoo keluar sebagai pemenang dan berarti Mingyu yang harus mengejarnya lebih dulu.

Mereka bermain hingga mengelilingi taman komplek perumahan Wonwoo yang begitu sepi. Tentu saja sepi, siapa yang mau bermain ke taman di malam yang dingin begini?

Pengecualian bagi Mingyu dan Wonwoo, mereka berdua memang suka aneh. Alasannya sih mencari udara segar agar otak yang panas karena tugas sekolah bisa sedikit mendingin.

Beberapa menit terlah berlalu, hingga saat Wonwoo bersandar pada salah satu batang pohon ia merasakan sepasang lengan memeluknya erat. Ia pasrah saja, siapa lagi jika bukan Kim Mingyu?

"Kau kalah wonuuu~"

"Hu'um."

"Siap diberi hukuman?"

"Apa?"

Mingyu mendekatkan wajahnya dan berbisik.

Membuat Wonwoo memelototkan matanya terkejut.

"Mwo?! Tidak mau! Aku tidak bisa!"

"Eiyh~ Mana bisa begitu. Kau sudah menyetujuinya lho!"

Akhirnya karena Wonwoo adalah seseorang yang menjunjung tinggi harga dirinya, ia pun melakukan hukuman yang Mingyu berikan.

"Ayo hyuuung~"

3

2

1

*Wonwoo doing cheeseburger's aegyo*

"Aigoo~" Mingyu menggigit ibu jarinya sendiri, ia merasa lemas menahan gemas.

'Ya Tuhan, jangan sampai aku mimisan!' batinnya.

"Ehem, hyung. Sekali lagi~ Tapi aegyo yang lain."

"Mwoya?! Tidak!"

"Ayolah~ Ya? Ya? Ya?"

"Ck, iya iya!" meski berdecak kesal, nyatanya Wonwoo menuruti juga permintaan Mingyu.

"Ildeo hagi ileun gwiyomi~

Ideo hagi ineun gwiyomi~

Samdeo hagi sameun gwiyomi~

Gwiyomi~ Gwiyomi~

Sadeo hagi sado gwiyomi~

Odeo hagi odo gwiyomi~

Yukdeo hagi yugeun–"

CHUP!

CHUP!

CHUP!

CHUP!

CHUP!

CHUUU~

". . ."

"Lanjutkan hyung~"

"G-gwiyomi, nan gwiyomi!"

BRUK!

Wonwoo merasa pipinya seolah terbakar, benar-benar panas, ia sangat malu.

"Ahahahahaha aigoo ujujuju~ Neomu kyeopta!"

"Ish diam, Kim!"

Mingyu terkekeh, ia memeluk erat kekasihnya dan menggoyangkan tubuh keduanya ke kanan dan ke kiri. Jika mereka sudah berusia legal dan menjadi pasangan yang sah, Mingyu yakin ia tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak 'menerkam' Wonwoo .

'Menggemaskan sekali! Ya Tuhan, aku lemah pada lelaki semanis ini. Adakah karung? Ingin ku bawa pulang dan ku jadikan tawanan cinta seumur hidup!' batin Mingyu mulai absurd.

"Yak! Kenapa terkekeh sendiri? Kau menertawakanku ya? Kan sudah ku bilang aku tidak bisa. Aegyoku buruk, aku–"

"Ssstt sayangnya Mingoo jangan merendah begitu. Jika segitu kau bilang buruk, lalu bagusnya yang bagaimana, hm? Bahkan segitu saja, kau sudah membuatku mati-matian menahan diri agar tidak mimisan!"

Wonwoo terkekeh dan mengusalkan wajahnya di bahu Mingyu.

"Pulang ya? Besok kita harus sekolah. Aku tidak ingin kekasih manisku ini sakit karena kedinginan."

"Hu'um. Tapi gendong ya?"

"Eiyh~ Manjanya."

"Biar saja, kan hanya pada Mingoo~"

"Baiklah, kajja!"

Mingyu pun menggendong tubuh ringan Wonwoo di punggungnya. Selama perjalanan menuju rumah Wonwoo –yang memang hanya berjarak tiga blok dari taman komplek- diisi dengan obrolan ringan dan candaan keduanya. Bahkan tidak terhitung berapa kali Wonwoo mengecup sayang pelipis Mingyu dari belakang.

'Hah~ Dunia memang indah, tapi akan berkali lipat lebih indah jika memiliki pasangan. Apalagi dapat yang paket lengkap seperti Wonwoo –baik hati sekaligus menawan disaat bersamaan. Yang single tolong jangan penasaran rasanya seperti apa, cari saja pasangan dulu.' batin Mingyu sombong.

.

.

.

TBC

*Hai~ Drabble dan ficlet tentang meanie kali ini dari huruf J sampai R, perlu kah dilanjut? Atau udahan?

**Makasih buat yang udah fav, follow, bahkan review ff ini. /deep bow/

***Mind to RnR –again? Gomawo ^^