A-Z for M&W © ddideubeogeo17

.

.

.

Hana

Dul

Set

Enjoy it~

.

.

.

S – SIRE

"Hueeekkk… Hueeekkk…"

"Eunghhhh~" Mingyu melenguh dalam tidurnya. Ia mengernyitkan dahi saat pendengarannya menangkap sebuah suara.

"Hueekkk… Ahh shhh"

BRUK!

Mingyu langsung terbangun saat mendengar suara debuman. Meski kepalanya terasa pusing karena bangun tidur langsung berdiri, ia mengabaikannya. Prioritas utamanya saat ini adalah seseorang yang ia yakini tengah berada di kamar mandi.

Cklek

"Aigoo! Sayang, kau kenapa?"

"Ssshh Mingoo~ mual~"

Tanpa banyak bicara Mingyu segera menggendong Wonwoo dengan bridal style, jantungnya serasa akan jatuh ke perut saat melihat Wonwoo terduduk lemah di samping water closet.

Setelah membaringkan tubuh kurus sosok yang dicintainya, Mingyu segera ke dapur untuk mengambil air minum hangat.

"Ini, diminum dulu." Mingyu membantu Wonwoo untuk duduk bersandar pada dashboard ranjang.

Sambil mengusap bibir Wonwoo, Mingyu mulai bertanya.

"Kau sakit? Kenapa tidak bilang, hm?"

"Bagaimana mungkin aku bilang padamu disaat kau baru saja tiba dari Jepang? Aku tidak ingin membebanimu."

"Aigoo, hei Kim Wonwoo. Apapun yang terjadi kau harus bilang padaku, karena sekarang kau itu sudah menjadi tanggung jawabku. Lagipula mana mungkin aku terbebani, justru aku khawatir jika kau tidak mengatakan apapun. Mengerti?" tanya Mingyu lembut dengan sebelah tangan yang tidak berhenti mengusap rambut Wonwoo.

"Hu'um. Maaf." Wonwoo memeluk Mingyu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.

Ups.

Apa kita melewatkan sesuatu?

Ah ya… Mingyu dan Wonwoo sudah menikah lima bulan yang lalu, tepat setelah enam tahun lulus dari sekolah menengah atas. Meski masih berusia 23 tahun, Mingyu tidak ragu untuk membawa hubungannya dengan Wonwoo menjadi hubungan yang resmi di hadapan Tuhan dan negara.

"Sejak kapan kau sakit, hm?"

"Hmm dua minggu, mungkin?" ujar Wonwoo ragu-ragu.

"Mwo? Berarti sejak kepergianku ke Jepang, dan selama itu pula kau sakit sendirian? Ya Tuhan, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu, kau juga kenapa tidak bilang sih? Coba jika ka-"

CHUP!

Wonwoo mengecup sudut bibir sang suami, cara yang cukup ampuh untuk membungkam si cerewet Mingyu.

"Kau kan di Jepang sedang bekerja, mengurus perusahaan appa yang ada di sana. Jika aku bilang, yang ada kau malah tidak berkonsentrasi. Lagipula eommaku dan eommamu juga bergantian berkunjung, bahkan terkadang Kookie juga menginap di sini."

"Hah~ Tapi kau sudah ke dokter kan?"

"Hu'um, sudah."

"Apa katanya?"

"Tidak apa-apa. Aku sehat kok."

Mingyu menaikkan sebelah alisnya tidak percaya, "Sungguh?"

"Sungguh~" Mingyu merasakan anggukan kepala Wonwoo di lehernya. Mereka masih pelukan, omong-omong.

"Benarkah?"

"Iya, benaaarr~" rengek Wonwoo.

Tapi jika diperhatikan memang Mingyu merasa pipi Wonwoo lebih chubby dan tubuhnya pun sedikit lebih berisi. Padahal salama dua minggu bekerja di Jepang, ia selalu melakukan video call dengan sang istri, tapi baru kali ini ia memerhatikan secara langsung dengan lebih jeli.

"Jika sehat, kenapa kau bisa muntah-muntah?"

"Itu wajar kok, di trimester awal memang biasa mengalami morning sickness."

"Oh syukurlah jika wajar mengalami morning sick-APA?"

Bola mata Mingyu melebar saat otak lambannya baru berhasil mencerna arti dari dua kata tersebut.

"Hei, morning sickness itu yang muntah pagi-pagi kan?"

PLAK

"Bodoh! Ya tentu saja, jelas-jelas ada kata Morning."

Mingyu yang biasanya akan protes jika kepalanya dipukul, untuk kali ini ia tidak peduli. Karena otaknya lebih fokus pada hal lain.

"Yang terjadi jika seseorang tengah mengandung?!"

". . ."

"Be– berarti di dalam perutmu ada uri aegi? Yang jika lahir akan muncul bayi, ya kan?!"

". . ."

"Ja– jadi kita akan menjadi hiks orangtua hiks ya kan?"

"Y-ya! Wae? Kenapa menangis?!" Wonwoo kaget saat tiba-tiba Mingyu menangis.

"Hiks arghhh! Kenapa aku menangis sih?!" kesal Mingyu pada dirinya sendiri. Wonwoo yang melihatnya hanya terkekeh geli melihat sikap suaminya.

"Ujujujuju~ Mingoo cengeng kenapa menangis?" ucap Wonwoo sambil mengusap air mata Mingyu.

"Hyuuung~" Mingyu memeluk Wonwoo, tidak dipedulikan wajahnya sudah basah oleh air mata. Ia hanya merasa sangat bahagia.

"Ya Tuhan, hyung ini bukan mimpi kan? Ini sungguh-AW! Sakit!"

Wonwoo terkekeh, "Kau kan bertanya ini mimpi atau bukan, jadi ku cubit saja biar kau sadar jika ini benar-benar nyata."

"Ish hyung!" dengus Mingyu yang merasakan denyutan di pinggangnya. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum lebar.

"Hyung~ Terima kasih banyak. Aku mencintaimu, sangat." Dikecupnya seluruh wajahWonwoo.

Kemudian Mingyu meluruskan kaki sang istri dan berbaring di paha kurusnya. Ia mengarahkan wajahnya ke depan perut Wonwoo.

"Annyeong aegi-ya~ Ini appa. Mingoo appa~ Selamat datang di perut eomma. Aegi-ya sudah di sana sejak kapan?"

"Sejak empat minggu yang lalu appa~" jawab Wonwoo mewakili sang jabang bayi, dengan meniru suara khas anak kecil.

"Aegi-ya~ Baik-baik di dalam ya. Tumbuhlah yang sehat, appa dan eomma tidak sabar melihatmu."

"Aku juga appa~"

Mingyu dan Wonwoo saling tatap, mereka terkekeh menyadari sikap keduanya yang kekanakan.

"Aegi-ya~ Terima kasih sudah hadir di hidup kami. Appa dan eomma mencintaimu."

CHU~

Mingyu mengecup perut Wonwoo, menyalurkan kasih sayangnya. Lalu ia duduk dan mengecup lama dahi Wonwoo.

"Tidak ada bosannya aku mengatakan ini. Aku sangat mencintaimu hyung."

"Aku juga Mingoo~"

Mingyu tidak pegal melukiskan senyum lebar di bibirnya, dunia harus tahu jika ia tengah berbahagia.

.

.

.

T – TAN

"Appa pulang~"

TAP

TAP

TAP

BRUK

"Aigoo~ Jagoan appa kenapa, hm?"

Anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang baru saja berlari dari ruang keluarga segera menubruk tubuh seseorang dan meminta untuk digendong. Membuat lelaki yang berstatus sebagai ayahnya mengerutkan dahi kebingungan.

"Kau sudah pulang Mingyu-ya?" tanya suara seseorang yang sekarang tengah mengambil alih tas kerja di tangan suaminya.

Mingyu bertanya 'Dia kenapa?' tanpa suara sambil matanya mengarah pada kepala sang anak yang menyusup di lehernya.

Sedangkan yang ditanya hanya mengendikkan bahu tanda tidak tahu.

Keluarga kecil itu pun beranjak ke ruang tengah. Mereka menyamankan diri dengan duduk di sofa.

"Hei, ada apa sebenarnya?" tanya Mingyu lembut sambil mengusap rambut anak semata wayangnya yang baru menginjak usia enam tahun.

Namun bukan jawaban yang di dapat, sepasang orangtua itu justru makin dibuat heran dengan gelengan lemah sang anak.

"Dia kenapa, sayang?"

"Entahlah, Mingyu-ya. Aku tidak tahu, sejak pulang sekolah siang tadi dia sudah murung begitu." jawab Wonwoo –ibu dari si anak kecil tersebut.

Mingyu pun menghela napas panjang dan menarik bahu anaknya lembut, membuat sang anak menghadap dirinya –masih dalam posisi dipangku.

"Ayo jujur pada appa. Apa yang membuat jagoan appa sedih begini, hm?"

"Minu. . ."

"Ya?"

"Minu. . . Minu itu. . ."

"Minwoo itu? Kenapa sayang?" dengan sabar Mingyu bertanya, menunggu jawaban sang anak.

"Minu hiks"

"Aigoo~ Jangan menangis, lelaki tampan jagoannya appa tidak boleh cengeng." Mingyu dan Wonwoo terkekeh melihat wajah Minwoo yang menggemaskan ketika menangis.

"Minu hiks Minu anak appa dan eomma kan? Hiks"

Jawaban satu-satunya anak kecil diantara mereka membuat kedua lelaki dewasa disana tersentak. Mereka saling berpandangan, sebelum akhirnya Wonwoo buka suara.

"Tentu saja, Minwoo anak appa dan eomma. Kenapa Minwoo bertanya begitu?"

"Hiks hiks hiks"

Bukannya menjawab si anak malah menangis. Membuat Mingyu merengkuh lembut anaknya penuh perlindungan. Karena tidak ingin memaksa, kedua orangtuanya pun memilih diam dan menunggu sang anak mengaku dengan sendirinya.

Wonwoo menyandarkan kepalanya di bahu kanan Mingyu, sedangkan Minwoo masih tenggelam dalam pelukan sang ayah dan menyusupkan kepalanya di leher sang ayah. Mereka larut dalam suasana yang hangat.

"Appa~"

"Hm neee~?"

"Aku sungguhan anak appa dan eomma kan?" lagi-lagi melayangkan pertanyaan yang sama.

"Tentu sayang. Kim Minwoo bahkan bukan hanya anak appa dan eomma, tapi harta paling berharga yang appa dan eomma miliki." ujar Mingyu lembut sambil menyeka air mata di wajah Minwoo.

"Ujujuju~ Kesayangannya eomma kenapa bertanya begitu hm?" tanya Wonwoo sambil mengelus sayang kepala anaknya.

"Teman-teman baru Minu eomma. Saat tadi pagi mereka melihat Minu diantar appa, mereka langsung mengerubungi Minu dan bertanya jika Minu anak appa atau bukan."

Mingyu dan Wonwoo masih clueless, mereka mengernyitkan dahi.

"Kenapa teman-teman Minwoo bertanya begitu?"

"Karena mereka bilang kulit Minu putih sedangkan appa cokelat, begitu 'gelap'. Sangat tidak mirip." lirih Minwoo sedih sambil menunduk.

"Pffftttt" Wonwoo harus mati-matian menahan ledakan tawa dari mulut bocah di depannya. Sedangkan wajah sosok yang disebut 'gelap' itu sudah benar-benar suram.

"Minwoo sayang, dengarkan eomma. Terkadang ada anak yang sangat mirip dengan appa dan eommanya, ada yang hanya mirip dengan salah satunya, dan bahkan ada yang tidak begitu mirip orangtuanya."

". . ."

Minwoo terlihat diam mendengarkan. Kepalanya merebah di bahu kiri sang ayah, sedangkan sang ibu masih seperti posisi awal –menyenderkan kepala di bahu kanan suaminya, kedua sosok yang paling berharga dalam hidup Mingyu itu saling berhadapan. Wonwoo menatap mata yang merupakan duplikat Mingyu itu dengan penuh kasih sayang.

"Kim Minwoo itu perpaduan yang paling sempurna antara appa dan eomma. Coba Minwoo lihat, kulit putih Minwoo, bentuk bibir, dan senyum Minwoo itu mirip eomma. Nah sekarang coba Minwoo ingat mata dan hidung Minwoo, mirip siapa?"

Minwoo pun menegakkan tubuhnya dan mengamati bergantian kedua wajah orangtuanya lekat, lalu ia menjerit heboh, "Mata appa! Hidung appa! Eomma, mata dan hidung appa mirip Minuuu~"

"Eiyh~ Yang benar itu mata dan hidung Minwoo yang mirip appa. Kan Minwoo itu appa yang buat bersama eom-AW! Ssshhh sakit~"

"Appa kenapa?"

"Appa Minwoo tidak apa-apa kok, nah sekarang Minwoo tidur ya? Ini sudah mau pukul 10 malam lho, Minwoo sudah telat sejam dari waktu tidur biasanya." ujar Wonwoo lembut sambil menuntun Minwoo turun dari pangkuan ayahnya.

"Sayang~ Pinggangku sak–Oke aku diam, jangan melotot begitu." rajuk Mingyu.

Tapi Minwoo malah mendudukan dirinya di pangkuan sang ibu dan memeluknya, "Eh?" membuat Wonwoo bingung.

"Tunggu sebentar lagi ya eomma? Minu sedang bahagia~"

"Hm, bahagia kenapa?"

"Minu tampan seperti appa dan manis seperti eomma. . ."

Wonwoo tersenyum geli mendengar ucapan narsis anaknya, Mingyu juga ikut melukiskan senyuman lebar–

"Tapi Minu bersyukur pada Tuhan karena kulit 'gelap' appa yang cokelat itu tidak menurun pada Minu hehe"

–namun sedetik kemudian senyuman itu luntur tak tersisa. Wonwoo sudah tertawa kencang, berbanding terbalik dengan wajah Mingyu yang semakin keruh.

"Minu-yaaa~ Kok jahat pada appa?"

"Hehe Minu bercanda kok appa, mau rupa appa bagaimanapun Minu tetap sayang!"

CHUP!

Bocah itu pun mengecup pipi sang ayah.

"Lalu, eomma bagaimana? Jadi yang disayang hanya appa?"

"Kalau untuk eomma, Minu sangat sayaaaaaaaang sekali." ujar bocah itu sambil merentangkan kedua tangannya lebar.

CHUP!

Kemudian ia mengecup bibir sang ibu.

"Yah! Kenapa malah mencium bibir eomma? Itu kan aset milik app-HMMPPP"

"Minwoo malam ini mau tidur di kamar appa dan eomma tidak?"

"Mauuu~"

"Ya sudah, ayo sikat gigi dan cuci kaki."

Sepasang ibu dan anak itu pun meninggalkan sesosok lelaki dewasa yang masih terkejut, "M-mwo? Y-yak! Sayang! Yeobo! Kim Wonu~ Bagaimana dengan jatahku?"

"Berisik, Kim. Dan cepatlah mandi lalu tidur, ini sudah malam!" balas Wonwoo.

Mingyu bisa mendengar anak dan istrinya tengah bersenda-gurau. Ia pun menepuk 'adik'nya,

'Hei, kau sepertinya tidak akan dapat servis apapun malam ini. Sabar ya, aku juga sedih kok. Tapi kita harus mengalah pada anakku.' batin Mingyu miris.

.

.

.

U – UNAPPETIZING

Siang itu rumah keluarga Kim sedang ramai karena Minwoo kedatangan teman-temannya, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan anak dari teman kedua orangtuanya yaitu Howoo, Seunghyun, dan David.

Namun sepertinya mood bocah bermarga Kim itu justru tengah memburuk karena ia tidak terlihat antusias seperti teman-temannya.

Kwon Howoo, lelaki manis yang usianya lebih muda setahun dari Minwoo pun mendekati anak dari Mingyu dan Wonwoo itu. Ia duduk pelan di sofa, tepat di samping Minwoo.

"Minu hyung kenapa? Hyung tidak suka ada Hou disini ya?"

Minwoo tersentak saat teman kesayangannya yang begitu manis duduk di sampingnya. " Eh? Ti-tidak. Bukan kok."

"Lalu hyung kenapa?" tanpa sadar Howoo memiringkan kepalanya dan mengerjap polos pada Minwoo. Membuat yang ditatap terpaku karena terpesona.

"Ti-tidak apa-apa. Hyung hanya–"

"Anak-anak ayo makan siang, Wonu eomma sudah membuatkan makanan. Kajja~"

Ucapan Minwoo harus terputus saat ibunya memanggil dan menyuruh mereka untuk makan. Jadi teman-teman Minwoo itu memang dititipkan karena orangtua mereka masing-masing sedang ada urusan bisnis dan tersisa Wonwoo –yang notabene sebagai penulis buku hingga memiliki jam kerja fleksibel dan bisa bekerja di rumah.

"Minu hyungie, kajja~" Minwoo merasakan tangannya ditarik lembut oleh Howoo, ia mengikuti dengan wajah yang memerah. Entahlah, Minwoo masih terlalu kecil untuk mengerti apa arti merona di pipinya tiap kali ia berinteraksi dengan si manis Howoo.

Setibanya di meja makan, mood Minwoo yang hampir membaik langsung buruk seketika. Ia melihat Seunghyun dan David menempel terus pada eommanya, membuatnya menahan kesal.

"Eoh? Sayang, kenapa makanan Minwoo tidak disentuh? Minwoo tidak suka masakan eomma hari ini ya?"

"Huh? Su-suka eomma. Minu suka kok~" lirih Minwoo sambil menunduk. Ia pun mulai makan.

Wonwoo sebenarnya menyadari ada yang tidak beres dengan anaknya, sebagai seorang ibu tentu saja nalurinya begitu kuat. Apalagi sifat dan kesukaan Minwoo itu sama persis seperti Mingyu, mereka itu pecinta makanan. Jadi hal yang aneh jika Minwoo terlihat tidak antusias disaat makan begini.

"Aaaa~"

Keempat orang disana tersentak kaget saat melihat tangan mungil Howoo yang berniat menyuapi Minwoo.

"Ho-Hou?"

"Hm? Ini~ Buka mulutnya, tangan Hou pegal hyuuuung~"

Sungguh, ingin rasanya Minwoo menggigit pipi tembam yang terlihat sangat lembut itu.

"A-ah ne, gomawo Hou-ya~"

Dan makan siang itu pun berlalu dengan candaan anak-anak kecil itu.

Waktu bergulir dan sang surya sudah kembali ke peraduannya. Ketiga anak kecil itu pun pamit saat dijemput oleh orangtuanya masing-masing.

Seunghyun yang notabene berusia delapan tahun, sudah dijemput oleh Seungcheol dan Jeonghan.

Howoo si manis kesayangannya Minwoo juga sudah dijemput oleh Soonyoung.

Sedangkan David, maknae diantara mereka -karena ia masih berusia empat tahun- baru saja dijemput eommanya yaitu Seungkwan.

Saat malam hari Mingyu, Wonwoo, dan Minwoo pun berkumpul sambil menonton tayangan televisi.

"Appa, Minwoo hari ini terlihat berbeda appa~" adu Wonwoo dengan meniru suara anak kecil.

"Hm kenapa memangnya eomma?"

"Minwoo terlihat tidak nafsu makan appa~"

"Kenapa Minwoo begitu eomma?"

"Tidak tahu appa~ Apa mungkin makanan yang eomma buat tidak membuatnya berselera? Coba appa tanya jagoan appa itu."

"Jadi~ Jagoan appa ini kenapa hm?" tanya Mingyu sambil menarik lembut Minwoo yang tadinya duduk di karpet berbulu, menjadi di tengah-tengah antara Mingyu dan Wonwoo.

". . ."

"Minu-yaaa~" panggil Wonwoo mencoba beraegyo.

"Aku sebal!"

"Mwo? Kau sebal pada eomma?" tanya Mingyu heran.

"Tentu saja tidak appa. Bukan~"

"Lalu?"

"Hari ini Seunghyun hyung dan David merebut perhatian eomma dari Minu appa!" adu Minwoo.

"Lho merebut bagaimana?"

"Iya, mereka menempeli eomma terus. Minu kan jadi diduakan, eh maksudnya ditigakan! Minu tidak suka!"

Wonwoo terkekeh geli mendengar nada cemburu anaknya, persis seperti Mingyu.

"Tapi kenapa yang disebut Seunghyun hyung dan David saja? Howoo tidak?"

"Hmm kalau Hou, tidak apa-apa eomma." jawab Minwoo malu-malu.

"Aigoo~ Anak appa sepertinya menyukai Hou ya?"

"Menyukai? Tentu saja! Howoo itu baik, lembut, perhatian, pokoknya manis seperti eomma!"

"Eiyh~ Bukan 'suka' yang itu. Maksud appa, Minwoo menyukai Howoo seperti appa menyu-HMMPPP"

"Sayangnya eomma, ke kamar ya? Ini sudah pukul sembilan. Waktunya tidur, nanti eomma menyusul. Jangan lupa sikit gigi dan cuci kaki, oke?"

"Oke, eomma."

Setelah Minwoo menghilang dibalik pintu kamarnya. Wonwoo pun melepas bekapan tangannya di mulut Mingyu.

". . ."

"Ap-apa? Kenapa hyung memelototiku begitu?"

CTAK!

"Aw! Hyuuung~ Kenapa kau suka sekali memukul, menjitak, membekap, dan bahkan sekarang memelototiku begitu! Sakit tahu~"

Wonwoo yang merasa bersalah pun mengelus pelan dahi sang suami. Mingyu menarik Wonwoo mendekat dan memeluk pinggangnya erat.

"Habisan mulutmu itu, Kim–"

"Kau juga Kim!"

"Ish diam dulu! Mulutmu itu harus lebih disaring lagi. Demi Tuhan Kim Mingyu anakmu itu baru berusia enam tahun, jangan kau racuni pikiran polosnya dengan perkataanmu."

"Ck aku yang disalahkan terus." bibir Mingyu mengerucut.

CHUP!

Kecupan ringan di bibir dari sang istri membuat Mingyu terkejut.

"Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin Minwoo dewasa sebelum waktunya. Arraseo?" tanya Wonwoo lembut, ia bisa merasakan kepala Mingyu mengangguk pelan.

Sebelah tangan Wonwoo mengusap surai halus Mingyu dimana sang empunya tengah sibuk mengecupi leher putihnya.

"Ahh~ sshhh Mi-Ming-Ahhh YAK! Apa yang ka-hmmppp"

Habis udah bibir Wonwoo ditawan oleh bibir sang dominan. Membuatnya melenguh tertahan, takut terdengar oleh anak semata wayangnya.

Menit pun berlalu, hingga saat dirasa ciumannya semakin menjadi Wonwoo pun meremas lembut lengan atas Mingyu, "Su-sudah hah~"

"Wonuuu~"

"Ish nanti dulu. Aku harus mengecek Minwoo, sabar sebentar. Oke appa?" ucap Wonwoo sambil mengedipkan sebelah matanya.

CHUP!

Setelah memberikan kecupan di pelipis Mingyu, Wonwoo pun berlalu menuju kamar anaknya. Meninggalkan Mingyu yang tengah menyunggingkan seringaian tampan.

'Yes! Kau akan bahagia malam ini!' batin Mingyu sambil menepuk gembungan diantara sela kakinya.

.

.

.

V – VERSATILITY

Mengenal dan menghabiskan waktu bertahun-tahun cukup membuat Mingyu hapal jika saat ini Wonwoo tengah gundah gulana. Entah apa penyebabnya, namun jika ditanya ia tidak pernah mengaku –kebiasaannya sedari dulu.

Minggu sore itu rumah terasa sepi, tidak seperti biasanya karena Minwoo tengah menginap di rumah nenek dan kakeknya. Hal itu dimanfaatkan Mingyu untuk mendapat quality time bersama Wonwoo.

Seperti sekarang, mereka tengah berada di halaman belakang dan duduk di bangku yang memang disediakan Mingyu. Bangku itu adalah tempat favorit Wonwoo untuk bersantai dan menuangkan segala buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Suasana yang tenang dan damai menjadi hal yang Wonwoo idam-idamkan.

Wonwoo tengah duduk diantara kaki Mingyu, ia bisa merasakan lengan kekar yang memeluk erat tubuhnya.

"Kenapa, hm?"

"Uh huh?" Wonwoo tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Mingyu yang berbisik di telinga kanannya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak, aku tidak me-AHHHH~ Mingoo~"

Mingyu terkekeh saat mendengar panggilan itu keluar dari mulut Wonwoo. Sudah cukup lama rasanya ia tidak mendengar Wonwoo memanggilnya dengan panggilan lucu itu.

"Apa, hm?"

"Ahhh shhh~ Min-Mingoo-ya~ Sudah ahh~"

Mingyu justru makin melancarkan aksinya 'cium-gigit-hisap-jilat' di tengkuk Wonwoo, membuat sang submissive hanya melenguh. Mingyu terkekeh dan dengan jahil tangannya menyentuh bagian vital sang istri namun,

"A-AWW! A-ARGHHH SAKITTTT~"

". . ."

"SU-SUDAHH TELINGAKU SAKIT, SAYANG!"

Wonwoo pun melepaskan tangannya yang menjewer telinga Mingyu, lalu sedetik kemudian ia mengusapnya pelan.

"Maaf~ Makanya jika ku bilang sudah, ya berhenti. Ini kan masih sore, dan di halaman–"

"Jadi kalau di kamar mau? Kajja!"

PLAK

"Ya Tuhan hyung, ini kepala lho bukan bola basket!"

Wonwoo yang masih duduk membelakangi Mingyu pun membalikkan tubuhnya dan duduk di pangkuan sang suami dengan posisi berhadapan.

CHUUU~

Ia mengecup lama bibir Mingyu dan lidahnya dengan jahil menerobos hanya untuk menjilat gigi taring Mingyu.

Baru Mingyu akan membalas, Wonwoo sudah memundurkan wajahnya. Mingyu ingin protes namun kalimatnya seolah tertelan saat melihat Wonwoo tersenyum begitu manis hingga muncul kerutan lucu di hidung. Membuat Mingyu gemas dan mengecup hidungnya.

"Maaf Mingoo~ Wonu tidak bermaksud menyakiti Mingoo, habisnya Mingoo pikirannya mesum terus. Kan Wonu sebal~"

'Ap-apaan bicara manis begitu?!' batin Mingyu shock, ia menelan ludahnya kasar.

Mingyu menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran kotor yang berseliweran di otaknya.

"Ehem, jadi apa yang sebenarnya mengganggu pikiran kesayangan Mingyu ini, hm?" tanya Mingyu sambil memeluk Wonwoo.

Yang dipeluk memilih melesakkan wajahnya di leher Mingyu dan mulai mengeluarkan segala hal yang mengganjal di hatinya.

"Aku selalu merasa belum cukup pantas untukmu Mingyu-ya. Kau pandai dalam segala hal, entah membetulkan barang yang rusak,membersihkan rumah, bahkan sampai memasak dan hal-hal lainnya. Sedangkan aku? Bahkan mungkin aku patut mendapat gelar pengacau nomor satu, aku itu tid–"

CHUP!

CHUP!

CHUP!

CHUP!

Mingyu menekan pelan pipi Wonwoo hingga bibirnya mengerucut lucu seperti ikan, lalu dihujaninya dengan kecupan ringan. Mingyu terkekeh menyadari semburat merah yang menyebar di pipi Wonwoo.

"Hei, kau itu justru terlalu pantas untukku bahkan kau jauh lebih pandai dalam segala bidang. Hal-hal yang kau sebutkan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan perjuanganmu yang mencintai sosok kekanakan sepertiku, mengandung Minwoo sembilan bulan lamanya, merawat aku dan Minwoo, melimpahkan kasih sayang pada kami, bahkan jika ditulis mungkin semua keahlianmu itu akan menyaingi tebalnya buku-buku bacaanmu."

". . ."

"Kok menangis sih? Aigoo~ Kesayangannya Mingoo dan Minu menggemaskan sekali~"

"Hiks menyebalkan! Hiks kenapa jadi aku yang cengeng sih?!" dengus Wonwoo menahan malu sambil mengelap air matanya.

Mingyu yang gemas pun menciumi kedua mata basah Wonwoo.

"Jangan berpikir aneh-aneh lagi ya? Kau itu justru pahlawan super untukku dan Minwoo."

Mingyu pun mendekap erat tubuh kurus Wonwoo.

"Omong-omong, yang tadi bisa dilanjutkan kan? Aku ingin mendapatkan jatah bonus untuk hari ini." bisik Mingyu sambil terkekeh.

Wonwoo pun hanya mengangguk malu dan mengalungkan kedua tangannya di leher Mingyu. Membuat batin Mingyu menjerit heboh saking bahagianya.

.

.

.

W – WIGGING

". . ."

"Jadi, Minwoo tidak mau menjawab pertanyaan appa?"

". . ."

Sosok anak kecil yang sedang ditanya itu pun memilih bungkam. Ia hanya menunduk, berdiri di depan sang ayah yang tengah duduk diliputi emosi.

"Kim Minw-"

"Ssshh sabar Mingyu-ya. Jangan sampai meninggikan nada suaramu, kita belum mendengar alasan Minwoo yang sebenarnya." bisik Wonwoo sambil mengelus pelan lengan atas Mingyu.

Mereka bertiga tengah berada di ruang keluarga, dengan Mingyu dan Wonwoo yang duduk di sofa sementara Minwoo berdiri di hadapan mereka. Tengah di introgasi oleh sang ayah atas perbuatannya sore tadi.

Berawal dari Mingyu yang baru saja pulang kerja dari kantor perusahaan miliknya sendiri, ia sengaja pulang lebih sore di hari itu dan berniat menghabiskan sisa harinya bersama dua orang yang begitu berarti di hidupnya.

Namun betapa terkejutnya ia saat melewati taman komplek perumahan, ia mendapati sang anak dan Seunghyun tengah berkelahi dengan beberapa anak laki-laki lain yang terlihat berusia lebih tua. Dan tidak jauh dari situ Mingyu bisa melihat David –anak Hansol dan Seungkwan- tengah berjongkok dan menangis keras.

Mingyu segera menghampiri mereka, lalu mengantar pulang David dan Seunghyun ke rumahnya masing-masing yang memang hanya berjarak beberapa blok dari rumah Mingyu.

Di sisa perjalanannya sepasang ayah dan anak itu hanya diam, membuat nyali Minwoo menciut takut. Hingga saat Minwoo baru menginjakkan satu langkahnya di rumah, suara Wonwoo sudah terdengar kaget.

"Minwoo sayang?! Aigoo, Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Wonwoo menghampiri anaknya yang terlihat begitu kacau. Dengan wajah lusuh, beberapa luka, dan pakaian yang sangat kusut.

"Mingyu-ya, ada apa dengan Min-"

Belum selesai Wonwoo melayangkan pertanyaan, tapi Mingyu sudah berlalu masuk tanpa menjawab apapun dengan aura dingin yang begitu menusuk.

"Minwoo sayang, ayo ganti baju dulu. Kajja~"

Dan berakhirlah mereka di ruang keluarga dalam suasana mencekam karena aura yang Mingyu keluarkan.

"Hah~" Mingyu menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya.

"Kim Minwoo, apa yang terjadi sebenarnya hm? Kenapa berkelahi dengan mereka?"

". . ."

"Apa appa dan eomma pernah mengajarkan hal itu padamu?"

Minwoo hanya menjawab dengan gelengan.

"Apa kau tahu yang kau lakukan itu perbuatan yang tidak terpuji?"

Kali ini Minwoo mengangguk.

"Jadi ken-"

"Hiks Ma–maaf appa. Minu hiks Minu dan Seunghyun hyung hanya mem-hiks membela David dari hyung-hyung nakal di tam-hiks- taman."

Wonwoo segera meraih tubuh Minwoo dan merengkuhnya dalam dekapan hangat. Ia memangku Minwoo, membuat sang anak meledakkan tangisnya dan melesakkan wajahnya di leher sang ibu.

Mingyu baru akan membuka suara namun sudah diisyaratkan Wonwoo untuk diam dahulu.

Detik berlalu dilingkupi keheningan. Hingga saat tarikan napas Minwoo mulai stabil dan ia mulai menghentikkan tangisnya, Mingyu angkat bicara,

"Jadi kenapa jagoan appa yang tampan ini berkelahi, hm?"

Masih tetap menyembunyikan wajah di leher sang ibu, Minwoo menjawab, "Hyung-hyung itu nakal appa. Mereka bicara yang tidak baik pada David karena wajah David yang tidak seperti kita, dan matanya juga tidak sipit. Minu dan Seunghyun hyung sudah menegur mereka tapi mereka justru mendorong kami hingga jatuh, Seunghyun hyung marah dan balas mendorong mereka."

". . ."

"Lalu mereka beramai-ramai memukul membuat Seunghyun hyung kesakitan, Minu tidak bisa diam saja appa. Minu–"

GREP

Mingyu memeluk Minwoo yang masih berada di pangkuan Wonwoo, dan mengecupi kepala anaknya berkali-kali dengan sayang.

Ia pun mengangkat Minwoo dan memangkunya, "Maaf appa sudah marah pada Minwoo. Appa marah karena appa sangat khawatir tahu. Melihat si tampan jagoan appa terluka begini, mana bisa appa tidak khawatir, hm?" ujar Mingyu sambil mengelus plester yang tertempel di dahi dan pipi anaknya.

"Maafkan Minu ya, appa~ eomma~" ujar Minwoo sambil menangkupkan kedua tangannya disertai tatapan mata bak anak kucing yang minta dipungut.

'Aegyo attack Wonwoo hyung benar-benar menurun padanya! Ya Tuhan selamatkan jantungku' batin Mingyu.

"Dimaafkan kok, ya kan appa?" tanya Wonwoo.

Mingyu pun mengangguk. "Tapi berjanji jangan diulangi, ne?"

"Hu'um. Minu janji!" jawab anak kecil itu sambil hormat ala tentara. Menimbulkan kekehan dari kedua orangtuanya.

Mingyu pun memeluk erat Minwoo dengan tangan kirinya, sedangkan sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk merangkul bahu Wonwoo. Minwoo menyandar pada bahu Mingyu dan memejamkan mata.

CHUUU~

Mingyu pun memanfaatkan kesempatan yang ada dan melumat bibir Wonwoo, lalu dikecupnya pipi putih itu dengan penuh kehangatan. Menyalurkan rasa sayangnya untuk sang istri.

"Eomma, terima kasih sudah mengajarkan hal yang baik pada uri Minwoo. Saranghae~"

"Nado, Mingoo~"

"Nadoooo appa eomma!"

Mingyu dan Wonwoo sontak melebarkan matanya terkejut saat Minwoo tiba-tiba ikut dalam obrolan mereka dan mengecup bibir kedua orangtuanya bergantian.

Ruang keluarga yang tadinya terasa begitu dingin pun langsung mencair oleh kehangatan yang terbentuk akibat interaksi manis ketiga sosok di dalamnya.

.

.

.

X – X-MEN

"Minwoo-ya? Pilih appa atau eomma?"

"Eomma!"

"Pilih appa atau Soonyoung appa?"

"Soonyoung appa!"

"Ish kenapa bukan appa?"

"Tidak apa-apa. Minu suka Soonyoung appa, matanya lucu!"

Mingyu merajuk, bibirnya maju beberapa senti.

"Minwoo-ya, pilih appa atau X-Men?" tanya Wonwoo ikut masuk dalam obrolan.

"X-Men ahjussi!"

"Yaaa~ Kenapa Minwoo tidak pernah memilih appa?" sebal Mingyu. Ia melihat anaknya dari kaca spion tengah yang ada di mobil. Mereka bertiga baru saja berkunjung ke rumah Soonyoung karena si tampan Minwoo merindukan Howoo, dan disana dua anak kecil itu menonton film DVD X-Men.

"Soalnya X-Men ahjussi keren dan jago berbahasa inggris, Minu suka." jawab Minwoo dengan suaranya yang terdengar begitu semangat serta tatapan mata yang berbinar-binar saat menyebut tokoh fiksi tersebut.

"Ish tidak eommanya, tidak anaknya, dua-duanya sama saja. Tidak ada yang mau memilih appa." rajuk Mingyu. Minwoo yang mendengar itu hanya terkekeh dan memeluk leher Mingyu dari belakang, ia memajukan tubuhnya dan–

CHUP!

Mengecup sayang pipi ayahnya.

"Tidak dipilih kan bukan berarti appa kalah. Justru Minu memilih yang lain karena appa sudah tidak perlu ditanyakan lagi, appa kan selalu nomor satu di hati Minuuu~" ujar Minwoo polos namun mampu menghangatkan hati orangtuanya.

"Aigoo~ Yak! Siapa yang mengajari Minwoo untuk menggombal begitu, hm? A-AW! Wonwoo hyuuung~ untuk apa cubitan di tanganku itu?"

"Kau bertanya diajari siapa? Tidak perlu diajari juga itu sudah pasti gen turunan darimu." Jawab Wonwoo enteng.

Minwoo hanya tertawa melihat wajah ayahnya yang semakin keruh. Tak berapa lama mobil yang tadinya di isi dengan canda tawa menjadi begitu hening saat si kecil jatuh tertidur.

"Hyung?"

"Hm?"

"Minwoo tidur."

"Lalu?"

"Ini lampu merah."

"Lalu apa Kim Ming-"

CHUP!

CHUP!

CHUP!

Mingyu pun mengecupi pipi kiri Wonwoo.

"Mingyu demi Tuhan ini di mobil. Bagaimana jika ada yang lihat?!"

"Tidak kok, kan mobil kita ini dilapisi kaca gelap."

Mingyu terkekeh sebelum mendekat lagi dan menarik leher belakang Wonwoo.

CHU~

Mencium dan melumat bibir sang istri.

TIIINNN TIIINNN TIIINNN

BUK!

"Ish ayo jalan. Kau mau membuat Seoul macet ya?!" ketus Wonwoo setelah memukul manja dada bidang Mingyu. Ia pun menolehkan wajahnya ke luar jendela. Menyembunyikan rona merah yang merambat di wajahnya hingga telinga.

Mingyu pun terkekeh dan sebelah tangannya meraih tangan kiri Wonwoo, menggenggamnya dengan begitu erat.

Setidaknya mereka masih menunjukkan cintanya dengan cara yang menggemaskan.

kebiasaan Mingyu yang suka main asal kecup Wonwoo -kapanpun dan dimanapun- serta kebiasaan Wonwoo yang merespon dengan pukulan manja masih bertahan hingga sekarang, bahkan setelah mereka menikah dan memiliki seorang putra. Ah, romantisnya~

.

.

.

Y – YOGURT

"Woahhh~ Appa gomawoyooo!" jeritan heboh Minwoo terdengar ke seluruh penjuru rumah.

Membuat Wonwoo yang sedang menyiapkan makan malam sontak menghampiri sang buah hati. Anaknya itu tengah mengeluarkan yogurt dengan beragam varian rasa dari kantung plastik berlogo minimarket di depan komplek rumahnya.

Wonwoo pun mengerutkan dahinya. Bukannya tidak suka anaknya mengonsumsi yogurt, hanya saja bisa dibilang Minwoo itu sangat tergila-gila dengan susu masam yang difermentasi itu. Hingga jika tidak dibatasi, pasti akan dikonsumsi secara berlebihan dan itu berakibat pada perutnya yang sakit.

GREP

CHUP!

Wonwoo tersentak kaget saat merasakan sepasang lengan kekar memeluk tubuhnya erat disertai kecupan di pelipis kirinya. Tak perlu menoleh Wonwoo sudah bisa menebaknya dari harum khas seseorang yang memeluknya itu.

"Kau yang membelikannya?"

"Hu'um." Jawab Mingyu sambil menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Wonwoo.

Wonwoo mencuri pandang pada Minwoo, dan bernapas lega saat anaknya masih duduk membelakangi mereka.

"A-aw!"

Dengan iseng Wonwoo meraih tangan Mingyu dan menggigit ibu jari kananya.

"Sakit tahu hyuuung~ Daripada digigit lebih baik dihisap saja."

Mendengar kalimat tersebut, Wonwoo sontak membalikkan tubuhnya dan bersiap seolah-olah akan memukul Mingyu. Melihat hal tersebut sontak Mingyu memejamkan erat matanya membayangkan kerasnya pukulan Wonwoo–

CHUUU~

–tapi yang didapatnya kali ini justru ciuman disertai lumatan pelan.

"Berisik, Kim-pervert-Mingyu!"

"Eiyh~ Menyebutku pervert tapi sendirinya mencuri ciuman di bibirku. Tumben, rindu ya?"

Wonwoo pun mengangguk malu.

"Aigoo~ Sayangnya Mingoo~" dengan gemas Mingyu memeluk Wonwoo.

Wonwoo terkekeh mendengar panggilan itu, pikirannya jadi terbayang masa-masa dimana mereka masih berstatus sebagai pasangan kekasih.

"Hayo senyum-senyum kenapa? Memikirkan hal mesum denganku ya?"

"Tidak. Enak saja, jangan sama kan aku denganmu ya!"

Mingyu terkekeh melihat Wonwoo mengelak dengan wajah lucunya.

CHUP!

Kecupan di dahi pun Mingyu berikan. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Wonwoo dan berbisik,

"Minggu ini kau jadi tawananku, oke manis? Karena dalam seminggu ke depan aku jamin Minwoo tidak akan menumpang tidur di kamar kita."

"Hm? Kenapa yakin sekali?" tanya Wonwoo heran. Karena meskipun sudah memiliki kamar sendiri, Minwoo masih suka sekali tidur bersama kedua orangtuanya.

"Karena aku sudah memenuhi permintaannya. Jadi, siapkan saja dirimu. Oke?" seringai Mingyu setelah mengecup dan menjilat daun telinga Wonwoo. Ia pun menghampiri Minwoo dan meninggalkan Wonwoo yang masih terpaku.

Tu-tunggu!

Yogurt. . .

Permintaan Minwoo. . .

Wonwoo tersentak saat menyadari sesuatu, pasti Mingyu menyogok Minwoo dengan yogurt favoritnya agar tidak tidur bersama orangtuanya.

Wonwoo pun membayangkan dirinya yang kesusahan berjalan dengan tubuh dipenuhi bercak kemerahan hasil karya Mingyu, ia pun merinding seketika.

'Oh tidak! Seminggu ini tubuhku akan benar-benar habis dihajarnya!' batin Wonwoo. Bola matanya melebar dan tangannya langsung refleks menyentuh bokongnya.

.

.

.

Z – ZERO

Keluarga kecil itu tengah berkumpul di ruang keluarga. Menikmati tontonan di televisi yang menayangkan pertandingan basket.

Lengan kanan Mingyu merangkul bahu Wonwoo, menempelkan samping tubuh keduanya agar tidak ada jarak. Sedangkan si kecil Minwoo, berbaring dengan kepala beralaskan paha Wonwoo.

"Eomma?"

"Hm?"

"Eomma punya angka favorit tidak?"

"Hmm tidak, memang kenapa hm?" tanya Wonwoo dengan tangan yang mengelus sayang rambut Minwoo.

Sedangkan Mingyu disampingnya hanya mengusalkan hidung ke pipi Wonwoo, tak dipedulikan televisi yang menayangkan pertandingan olahraga favoritnya. Karena saat ini, momen bersama keluarganya jauh lebih penting.

"Kalau Minu punya, eomma. Minu paling suka angka nol."

"Angka nol? Kenapa?" tanya Mingyu yang bergabung dalam obrolan. Tangannya yang merangkul Wonwoo dilepaskan, ia lebih memilih memeluk erat pinggang Wonwoo dari samping. Lebih hangat, katanya.

"Kalau appa, angka favorit appa berapa?" tanya Minwoo balik, tak memedulikan pertanyaan Mingyu, membuat sang ayah berdecak lirih.

"Appa suka angka nol."

"Ish eomma~ Appa mengikuti Minu~"

"Eiyh~ Siapa yang mengikuti Minwoo, hm? Narsisnya jagoan appa. Dari Minwoo masih bersama malaikat di langit, appa sudah menyukai angka nol tahu." ujar Mingyu tidak mau kalah.

Minwoo yang tidak mau tersaingi pun sontak bangkit, ia duduk menghadap kedua orangtuanya.

"Memang alasan appa suka angka nol kenapa?"

"Karena angka nol itu bentuknya bulat seperti bola basket, dan apa sangat suka bermain basket." jawab Mingyu. Kepalanya menyender di bahu sang istri, refleks tangan Wonwoo pun mengelus rambut Mingyu.

"Yah… Alasan appa tidak keren!" ledek Minwoo.

"Jadi alasan yang keren itu bagaimana? Memang alasan Minwoo apa, hm?" tanya Wonwoo lembut.

"Karena angka nol itu tidak berujung. Dulu saat di taman kanak-kanak baru belajar menulis, Minu paling suka menulis angka nol hehe"

"Alasan Minwoo juga tidak keren." dengan jahil Mingyu menjawil hidung anaknya.

"Ish appa~ Minu belum selesai bicara."

"Hmm lanjutkan coba~ Appa ingin dengar."

"Dan karena angka nol itu tidak ada ujungnya, rasa sayang Minu pada appa dan eomma juga seperti itu. Minu sangaaaaaaaaattt menyayangi Mingyu appa yang tampan dan Wonwoo eomma yang manis. Saranghae~" ujar Minwoo dengan tatapan polosnya disertai kedua tangannya yang membentuk hati di atas kepala.

Tak dipungkiri kalimat polos nan tulus itu menyentuh titik terdalam hati kedua orangtuanya. Membuat mata Mingyu dan Wonwoo tergenang oleh air mata.

GREP

Wonwoo pun meraih tubuh Minwoo dan memangkunya untuk kemudian di peluk erat. Mingyu yang melihat pemandangan tersebut pun tanpa sadar sudah meneteskan air matanya. Ia merengkuh dua orang yang paling dicintainya itu dalam rengkuhan hangat penuh kasih sayang.

"Appa uljimarayo~ Jangan menangis lagi, siapa yang nakal pada appa?" tanya Minwoo sambil tangannya mengusap pipi ayahnya yang basah.

"Ti-tidak! Appa tidak menangis." elak Mingyu.

"Katakan saja pada Minu appa~ Nanti biar Minu tegur."

"Aigoo~ Tidak, appa tidak menangis. Appa itu habis menguap, hoaamm~ tuh appa menguap lagi, sepertinya appa mengantuk makanya ap–"

CHUP!

CHUP!

Mingyu mendapatkan dua kecupan sekaligus di pipi kanan dan kiri dari dua sosok tersayangnya.

TES

"M-mwo? Kok appa malah makin menangis?! Eo-eomma… eotteohkaeyooo~?" tanya Minwoo panik.

Mingyu langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Wonwoo, ia pun memeluk pinggang Wonwoo erat menahan malu di depan anaknya. Sedangkan Wonwoo hanya terkekeh, ia menciumi pipi Minwoo.

"Biar saja, appa Minwoo kan memang cengeng."

"Ish aku tidak cengeng hyuuuung~"

"Appa merengek? Seperti anak kecil, Minu saja tidak seperti itu." Minwoo dan Wonwoo pun tergelak saat melihat Mingyu yang makin menenggelamkan wajah. Berusaha agar tidak terlihat.

Jarum detik berotasi entah sudah berapa kali, namun sejujurnya cukup membuat Wonwoo pegal karena menahan dua beban di tubuh kurusnya. Minwoo yang masih dipangkunya, dan Mingyu yang merebahkan kepala di bahu Wonwoo serta memeluknya erat dari samping.

"Minwoo-ya?"

"Ne appa?" jawab sang anak sambil merebahkan kepalanya di dada Wonwoo.

"Terima kasih sudah hadir di hidup appa dan eomma. Kami sangat mencintaimu." Dan Mingyu menghadiahi anaknya kecupan di dahi, menyalurkan kehangatan seorang ayah pada anaknya. Wonwoo pun menghujani ciuman sayang di seluruh wajah putranya.

Sedangkan Minwoo?

Ia tersenyum lebar hingga matanya melengkung indah, dan berkata,

"Minu selalu berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan karena sudah dilahirkan dan menjadi anak kalian. Minu sangat mencintai appa dan eomma. Terima kasih sudah menjadi orangtua Minu."

CHUP!

CHUP!

Secara bergantian Minwoo pun mengecup pipi kedua orangtuanya.

"Hooamm~ Minu mengantuk. Minu tidur dipangkuan eomma saja, boleh yaa~?" rengek Minwoo.

Wonwoo hanya mengangguk karena fokusnya sedang kacau, ia tengah berusaha mengendalikan detak jantungnya. Seluruh saraf di tubuhnya menghangat mendengar isi hati Minwoo. Mingyu pun tidak jauh berbeda.

Hingga saat dirasa sosok di pangkuan Wonwoo sudah tenggelam di alam mimpi, Mingyu pun mencium leher Wonwoo. Menyadarkan sang istri dari lamunannya.

"Hyuuuuung~"

"Hm?"

"Wonu hyuung~"

"Apa Mingoo~?"

"Terima kasih sudah menghadirkan malaikat kecil diantara kita."

CHUP!

CHUP! CHUP!

CHUP!

Dikecupnya dahi, pipi, lalu hidung Wonwoo dengan begitu gemas.

CHUUUUU~

Dan selalu bibir lah yang terakhir karena itu salah satu aset favorit Mingyu. Mingyu melumat bagian atas dan bawah bergantian, rasa manis yang tidak pernah berubah sejak pertama kali mengecupnya.

Tangan Mingyu dengan nakalnya meremas pinggang Wonwoo dan menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Wonwoo. Disaat Wonwoo melenguh dan refleks memberi ruang antar bibirnya, lidah Mingyu tanpa ragu menerobos masuk dan melakukan hal yang biasa. Menyapa semua yang ada di dalam mulut Wonwoo, mereka saling bertarung lidah meski sudah jelas pihak sang dominan yang akan menang.

"Euuungghh~ Ming-HMPPP sud-HMMPP"

Perkataan Wonwoo harus terputus berkali-kali karena bibir Mingyu yang masih terus menawannya.

Menit berlalu, french kiss itu membuat air saliva mereka tercampur.

BUK!

"Hah~ hah~ hah~ Ish! Kalau Minwoo bangun bagaimana?" cemberut Wonwoo sambil menstabilkan deru napasnya.

"Tidak kok, tuh dia masih tertidur nyenyak."

"Ish dasar!" dengus Wonwoo, ia tidak marah. Percayalah, itu hanya bentuk pertahanan dirinya akan rasa malu yang mendera.

CHU~

CHU~

Mingyu pun mengecup lama pelipis dan sudut bibir Wonwoo.

"Aku mencintaimu Kim Wonu kesayangannya Mingoo dan Minu~"

"Aku juga mencintaimu Mingoo appa yang paling tampan~"

Mereka berdua saling bertatapan, detik berikutnya suasana hening itu diisi dengan kekehan tertahan sepasang orangtua yang merasa tergelitik dengan tingkah cheesy masing-masing.

Mingyu dan Wonwoo pun mengecup masing-masing pipi kanan dan kiri sang putra berhati malaikat kesayangan mereka.

"Kami juga sangat mencintaimu, Kim Minwoo. . ."

.

.

.

'Kisahku dan Wonwoo hyung telah melalui berbagai fase. Memang tidak selalu harmonis, ada kalanya timbul pertengkaran. Tapi itulah pemanis suatu hubungan.

Dan ku rasa cukup sampai disini saja ya kalian mengikuti kisahku dan Wonwoo hyung. Jika diteruskan, aku khawatir kalian akan iri berkepanjangan dan terobsesi ingin memiliki Wonwoo hyung. Tidak boleh! Ia hanya milikku dan Minwoo. Hehe, jangan mendengus begitu.

Ku harap suatu saat kalian juga bisa menemukan kebahagiaan dengan pasangan masing-masing.'

tertanda, Kim Mingyu, lelaki tertampan kesayangannya Wonwoo dan Minwoo.

.

.

.

.

.

END

*Hai~ Kali ini dari huruf S sampai Z dan khusus chap ini versi married-life nya. Semoga tidak mengecewakan ya…

**Makasih banyak buat semuanya yang udah baca, fav, follow, bahkan review ff ini /deep bow/ dan maaf atas segala kekurangan di ff ini.

***Mind to RnR –for the last? Gomawo ^^