My Deadline!
Cast: Kaisoo, Yunjae and maybe other (GS)
Typo melayang dimana-mana, OOC, efek keabsurd(an) cerita tanggung sendiri and once again this is genderswitch I've warn you..
DLDR
Chap 2
Fakultas kedokteran sepertinya sedang mengadakan seminar. Ruang pertemuan berpendingin di segala sisi itu telah ramai sejak pagi hari. Mobil berjejer dengan rapi—berbagai merk yang berjejer menjadikan lahan parkir layaknya showroom pameran.
Seorang laki-laki turun dari mobil dengan langkah tergesa. Rambutnya tersisir rapi kebelakang, jas abu-abunya melekat dengan pas di tubuh atletisnya. Langkahnya makin cepat saat melihat jam tangan. Seminar akan dimulai pukul sebelas tepat, lima menit lagi.
Tanpa peduli dengan raungan lapar perutnya sejak pagi. Jika seminar telah selesai ia akan bebas makan. Ia hanya sempat mampir ke cafe sekedar membeli americano tadi. Toh seminar yang ia hadiri paling lama hanya tiga jam dengan makanan ringan sebagai selingannya, cukup untuk mengganjal perut.
Beberapa panitia sibuk kesana-kemari demi menyiapkan acara. Terlihat raut khawatir di masing-masing wajah mereka. "Apa Kim Jongin sudah datang?" tanya seorang wanita bermata kucing pada rekannya.
"Belum." wanita bermata kucing tadi menghela napas keras. "Akan kupastikan rambutmu botak setelah ini Tuan Kim." katanya geram sambil berlalu masuk ke ruangan dimana acara akan dimulai.
Tiba-tiba langkah lari seseorang tiba-tiba menyita seluruh perhatian panitia acara yang berada diluar ruangan. Wajah mereka campur aduk manakala melihat sosok yang menimbulkan suara gaduh barusan. Sepatu pantofel dan lantai keramik adalah perpaduan tepat untuk membuat seluruh perhatian mata tertuju padamu, kusarankan berlari seperti Jongin barusan.
"Aku terlambat?" tanyanya dengan napas putus-putus akibat lari sprint mendadak. Tanpa bicara, seorang panitia tiba-tiba menarik tangannya untuk langsung masuk kedalam ruang seminar. Ia tak mau ambil resiko ada satu narasumber terlambat selain langsung mendorong Jongin—si salah satu narasumber—masuk dan langsung berhadapan dengan para tamu undangan serta wanita bermata kucing yang tengah menatapnya tajam.
Tuhan, selamatkan rambut Jongin hari ini.
Kyungsoo duduk terkulai di sofa. Matanya mondar-mandir, sibuk memperhatikan objek bergerak di dalam flatnya sejak setengah jam yang lalu. Objek tersebut adalah ummanya sendiri.
"Umma, bisakah kita bicara sambil duduk?" sela Kyungsoo saat ummanya sibuk dengan microwave. Wanita paruh baya itu menoleh sekilas kemudian sibuk kembali dengan tombol-tombol alat penghangat makanan milik anaknya.
"Apa yang umma masukkan?" tanya Kyungsoo penasaran. Sebenarnya ia malas bertanya, namun aroma makanan yang beberapa menit dimasukkan ummanya itu membuat seluruh indera tubuhnya aktif seketika.
Tanpa menjawab, ummanya langsung menghidangkan makanan penuh dengan tumpukan keju lumer diatasnya dengan aroma mirip pizza. "Macaroni schootel, favoritmu."
Mata Kyungsoo terbelalak lebar melihat makanan favoritnya sejak kecil. Ia melompat dari sofa meninggalkan bunyi bedebum kecil segera menuju meja makan. Mata bulat ummanya yang melotot tentu tak pernah dipedulikannya. Diraihnya sepotong makanan penuh keju mahal tersebut dengan tangan sebelum buru-buru mencari piring untuk tempat makanannya karena kepanasan. "Ow shit!" umpatnya pelan sambil mengibaskan tangan.
"Mulutmu tak pernah berubah, ne?" sahut ummanya dengan nada manis...dan mengancam. Wanita itu sedang mencuci beberapa piring kotor, wajahnya memang tidak terlihat namun dari balik punggungnya Kyungsoo telah merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merayap ke tubuhnya. Punggung ummanya menyeramkan, sumpah.
"M-mian..." cicitnya sambil mengernyit ngeri, daripada dibantai kuliah soal tata krama berbahasa lebih baik ia segera meminta maaf.
Dengan perlahan dikunyahnya makanan tadi, perlahan sekali. Ia resapi bumbu-bumbu sederhana yang selalu ummanya pakai, lelehan keju serta beberapa potong jamur dan daging sebagai tambahan. Beberapa kali mata burung hantunya terpejam saat merasakan nikmat masakan sang umma. Entah kapan terakhir kali ia makan masakan umma, yang jelas ia terlalu rindu pada masakan hasil olahan tangan ummanya. "Kau kenapa?"
Suara itu mengganggu momennya.
"Tak bisakah umma membiarkanku menikmati waktu tenang sambil makan?" Kyungsoo sewot. Ummanya hanya memandang dengan aneh sambil mendudukkan dirinya sendiri pada kursi di depan Kyungsoo yang masih menikmati makanan dengan mata terpejam.
Hubungan Kyungsoo dengan ummanya memang tak seperti kebanyakan pasangan ibu dan anak. Kyungsoo sedari kecil dekat dengan sang umma, dengan sifat ummanya yang easy going kemudian justru membuat hubungan mereka layaknya sahabat. Tak jarang Kyungsoo justru keceplosan berbicara dengan bahasa non-formal pada sang umma yang kemudian dihadiahi sentilan di dahi. Bahkan saat Kyungsoo memutuskan pindah ke flat ini, umma adalah satu-satunya manusia yang mendukung sepenuhnya. Umma juga yang dengan semangat mengantarnya bertemu kakek-nenek Park untuk mengurus kepindahannya ke flat.
Berbanding terbalik dengan penampilannya yang anggun, ummanya adalah sosok yang periang dan heboh. Kyungsoo bahkan yakin sekali kalau dulu appa menikahi umma dengan mata tertutup, atau mungkin teori soal cinta buta itu memang benar nyata? Kyungsoo sempat bertanya bagaimana sifat umma kepada appa dan jawaban appa justru tidak sesuai harapannya. Appanya malah tersenyum sambil mengisahkan sifat sang umma yang dikaguminya. Ummanya adalah sosok hangat meskipun terkadang ceroboh, ummanya adalah satu-satunya gadis yang berani datang ke apartemen appa hanya untuk meminta sumbangan penuh untuk acara bakti sosial sewaktu kuliah dulu dengan alasan appanya adalah orang kaya, ummanya adalah gadis cerewet yang menolak mentah-mentah lamaran appa bahkan saat lamaran resmi berlangsung dengan alasan ia tak menyukai potongan rambut appa yang seperti om-om. Oh, Tuhan bahkan Kyungsoo terkadang merasa kalau ummanya ini memiliki kepribadian ganda. Sialnya seluruh sifat umma mengalir dalam darahnya.
Walau secara keseluruhan umma adalah sosok absurd, bagi Kyungsoo wanita paruh baya dihadapannya ini tak akan pernah tergantikan. Mungkin benar kata appa kalau umma itu—
"Kemana kekasihmu?"
—sosok ibu yang sempurna.
Shit!
Umma tetap tipikal wanita paruh baya yang terobsesi mendapatkan menantu sesegera mungkin dengan rentetan pertanyaan soal 'mana kekasihmu?'.
Demi tumpukan sampah depan flat, Kyungsoo bahkan belum terpikir untuk memiliki kekasih! Dan wanita berusia hampir setengah abad yang cantiknya luar biasa ini selalu bertanya soal kekasih!
"Sebenarnya apa alasan umma ke flatku?" tanya Kyungsoo datar tanpa menghentikan kunyahannya. Umma mengendikkan bahunya seakan tak peduli dengan pertanyaan barusan. "Umma dengar Jaejoong akan segera menikah." Kyungsoo mengernyitkan alis heran. "Semalam umma pasti bertemu dengan Yunho oppa." tebak Kyungsoo yang sayangnya tepat.
"Ding-dong!" umma membuat gestur seperti memukul bel. "Yunho juga memesan gaun khusus di butik umma untuk Jaejoong." Kyungsoo menghelas napas. Ia hampir lupa pada kenyataan bahwa Yunho adalah salah satu kolega terdekat appanya, bahkan dianggap anak oleh kedua orangtuanya sendiri.
"Oh, yeah dia kan anak umma juga." ummanya tersenyum jenaka.
Sumpah demi bab tak terselesaikan di novelnya, apa sih tujuan ummanya kesini? Wanita paruh baya itu pasti datang hanya untuk merecoki hari-hari tenang Kyungsoo. "Apa salahnya aku mengunjungi putriku sendiri?" tanya ummanya sambil menyilangkan kedua tangan. Si menyebalkan keluar lagi, batin Kyungsoo.
"Aku punya janji dengan editor siang ini."
"Jam berapa?"
"Mungkin sebentar lagi."
"Biar umma antar."
"Uhuk!" diraihnya segelas air putih kemudian diteguknya rakus hingga habis. "Aku bisa pergi sendiri, kok."
"Ayolah, sudah lama sekali umma tidak mengantarmu kemana-mana." sela ummanya. "Aku dijemput Baekhyun."
"Kau bisa membatalkannya."
"Kami akan pergi setelahnya."
"Kalau begitu biar umma yang mengantarmu, setelahnya kalian bisa pergi bersama."
Kyungsoo diam, bukannya ia tak menyukai kedatangan umma siang ini. Ia bahagia, sungguh! Apalagi saat umma mengeluarkan macaroni schootel dari microwave tadi. Tapi ia juga harus menuntaskan beberapa lembar revisi novelnya hari ini juga. Ia butuh konsentrasi, ia butuh suasana tenang, ia butuh sendirian!
Tenang bukan sahabat baik ummanya.
"Ayo bersiap, umma akan menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil di bawah." Final umma yang barusan menenteng tas tangan mahalnya.
Dengan berat hati Kyungsoo menelan potongan terakhir makanannya dan menuntaskan dengan segelas air putih. Umma telah siap di depan pintu flat, Kyungsoo berdiri ragu. Alih-alih meraih tasnya, Kyungsoo justru membuat gerakan aneh seperti pencuri yang mengendap-endap. Gerakan bagus, cukup untuk membuat ummanya curiga. "Kau tidak berniat kabur, bukan?"
Punggungnya tegak, tatkala ia menoleh telah ada seringai setan disana. "Baik, aku ikut umma." Katanya putus asa. Ia seret tas ransel berisi laptop mahalnya keluar flat.
Jaejoong yang kebetulan sedang berada di depan flatnya menyapa umma, Kyungsoo berlari kecil menghampiri wanita jenjang tersebut. Minta tolong.
Sambil menenteng tas ransel, sebelah tangannya memberi gestur memohon pada Jaejong dari balik punggung sang umma. Jaejoong sempat melirik kemudian kembali mengobrol dengan ummanya, dengan santai wanita itu justru memeluk sang umma tanpa mempedulikan Kyungsoo yang sedari tadi megirim sinyal SOS padanya.
"Selamat bersenang-senang omonim, hati-hati di jalan." Sapanya ceria sambil melambaikan tangan pada Kyungsoo dan ummanya. Setelahnya umma Kyungsoo turun ke bawah dan menyapa nenek Park yang sepertinya sedang diluar.
"Oh Kyungsoo-ya, selamat bersenang-senang juga." Kata Jaejoong ceria tanpa rasa bersalah. Kyungsoo cemberut melihatnya, dasar!
Dengan jalan yang diseret ia segera menyusul sang umma yang telah berada di bawah. Ia akan meminta supir ummanya berhenti di kampus nanti. Mungkin mengerjakan revisi di kampus bukan ide buruk.
Hari yang berat.
"Haaaah.."
Plak!
Tepukan keras mendarat di belakang kepalanya. Siapa yang kurang ajar berani memukul kepalanya?
"Berhenti membuat wajah bodoh."
Zitao. Jongin tahu itu. Matanya berputar malas.
"Salahmu sendiri memberitahu ada seminar sehari sebelumnya, aku sampai harus begadang menyiapkan materi." Celetuk Jongin santai berusaha membela diri setelah terlambat datang saat seminar tadi.
Zitao menatapnya dengan mata pandanya yang membesar, bisa-bisanya laki-laki ini bicara begitu. Seingat Zitao semenjak pria berwajah bule yang harusnya jadi narasumber seminar hari ini mendadak ditugaskan ke Busan beberapa waktu yang lalu, ia langsung mengirimkan email dan pesan singkat pada Jongin. Bukan hanya email, bahkan undangan seminar pun telah ia kirimkan ke apartemen laki-laki tengil ini.
Laki-laki berkulit tan inilah yang justru baru mengecek emailnya dan membalas pesan singkatnya empat hari kemudian, dengan kata lain sehari sebelum seminar diadakan.
"Haruskah kita sama-sama mengecek kotak surat apartemenmu, kkamjong-ah?" tanya Zitao dingin. Jongin menegakkan punggungnya kemudian tersenyum bersalah sambil berkata 'mian'.
"Aku harus mengurus perutku dulu." Kata Jongin seraya beranjak dari sebelah Zitao sambil mengusap perutnya. "Kau sakit?" tanya Zitao dengan nada khawatir.
"Tidak, aku harus segera ke kantin atau aku akan benar-benar sakit, Zie." Balas Jongin jenaka sambil mengedipkan mata dan tetap mengelus-elus perutnya. Zitao yang melihatnya langsung menghela napas lega, ia pikir anak itu benar-benar sakit karena semalaman menyiapkan bahan presentasi seminar.
"Pergilah sebelum kantin ramai."
Setelah memeluk singkat sahabat sekaligus seniornya itu Jongin segera melangkah ke kantin. Kantin favoritnya semasa kuliah. Kantin di bawah tangga yang menjual makanan ringan bahkan berat. Tempat yang cukup strategis untuk mendapatkan suasana makan yang tenang. Karena letaknya di bawah tangga jadi jarang ada mahasiswa yang datang, terlebih lagi telah ada kafetaria yang lebih besar di dalam kampus. Kebanyakan mahasiswa yang mampir ke sudut kantin ini adalah mahasiswa yang mencuri-curi waktu praktikum karena terlalu kelaparan atau mahasiswa yang tak sempat sarapan, seperti Jongin. Ia dulu termasuk mahasiswa yang selalu mencuri-curi waktu praktikum untuk turun ke bawah atau melaksanakan sarapan singkatnya sebelum dosen sadar dirinya menghilang dari kelas.
"Omoniim.." sapa Jongin ramah. Satu lagi dari kantin ini yang menjadi favorit Jongin, seluruh ahjumma disini telah mengenal Jongin dengan baik. Entah karena sifatnya yang ramah pada mereka atau karena Jongin yang terlalu sering mampir ke kantin. "Aku mau sarapan, buatkan aku ramyeon." Pinta Jongin sambil memilih-milih snack favoritnya di etalase kantin.
"Ini hampir siang anak bodoh, kenapa kau belum makan sama sekali." Salah satu ahjumma di sana menimpali. Jongin hanya tertawa kecil, baginya sudah biasa dikatai bodoh atau pemalas.
Ramyeon terhidang di hadapan Jongin tak sampai sepuluh menit. Gemuruh perutnya makin menjadi. Sambil sesekali berbincang atau membalas sapaan juniornya yang lewat tangan Jongin tak berhenti menyuapkan ramyeon ke mulutnya sendiri. Beberapa potong kimchi segar juga jadi favoritnya.
"Omoniiiiiiim~~"
Terdengar suara cempreng dari arah tangga dihadapan Jongin. Suara penuh aegyo itu cukup asing ditelinga Jongin yang notabene cukup hapal dengan semua pelanggan di kantin. Ia menoleh sebentar, siapa tahu salah satu junior yang ia kenal. Suara grasak grusuk terdengar saat ia tepat menolehkan kepala ke arah tangga. Seorang gadis menuruni tangga dengan gaya malas dan tas ransel yang tersampir di pundaknya hampir merosot turun. Jongin merasa asing dengan gadis itu.
"Aku ingin beberapa potong kimbap seperti biasa, ya." Pesan gadis itu kemudian mengambil kursi tak jauh dari Jongin. Ia terlihat sibuk sendiri untuk beberapa saat. Sibuk mengaduk-aduk isi tas, merapikan kabel charger laptopnya sampai ribut kembali memesan cemilan. Setelahnya gadis itu terlihat fokus dengan laptopnya, beberapa kali mengerutkan dahi dan mengetik pada keyboard. Kimbap dan beberapa cemilan yang dipesannya bahkan belum ia sentuh sama sekali.
Jongin terkekeh sendiri melihat gadis tersebut. Tingkahnya tak seperti gadis kebanyakan yang sangat memperhatikan penampilan agar selalu terlihat rapi, apalagi jika gadis itu salah satu mahasiswi kedokteran. Entah memang kebiasaannya yang rapi atau hanya untuk sekedar menarik perhatian beberapa dokter atau senior di kampus. Namun gadis ini berbeda, pakaiannya terlihat santai dengan rambut yang ia cepol asal-asalan dan makeup tipis yang ia gunakan membuatnya terlihat tetap segar meski tak berpakaian 'layak' untuk ke kampus.
"Hatchiii!" gadis itu bersin dengan gaya heboh kemudian kembali mengaduk isi tas dan mengeluarkan gulungan tisu—toilet?!
"Hatchiii!" bersin kedua Kyungsoo di kantin ini. Hidungnya sampai berubah memerah karena ia terlalu keras menggosok barusan. "Pasti seseorang membicarakanku." Ocehnya sendiri tanpa tahu seseorang memang memperhatikannya sejak ia turun dari tangga.
Ia kembali menghampiri etalase berisi penuh makanan ringan, tangannya kali ini terjulur meraih gelas kosong kemudian merogoh kantong jaketnya sebelum memasukkan beberapa receh koin kedalam mesin otomatis. Kyungsoo bersenandung kecil sambil menunggu gelasnya penuh, badannya ia goyangkan ke kanan dan kiri beberapa kali sambil tetap bersenandung tak jelas.
"KYUNG!" satu teriakan lagi ia pastikan wajah orang itu akan tersimbur kopi panas.
Cepat-cepat ia pegang gelas kopinya yang sudah penuh, takut-takut akan ada teriakan lagi atau ia benar-benar menjatuhkan gelasnya. Ahjumma di kantin hanya tertawa melihat tingkahnya.
"Baek! Kaca kampus bisa pecah gara-gara suaramu!"
Pelaku teriakan hanya mengendikkan bahu sambil menjulurkan lidah. Baekhyun akan berteriak memesan makanan sebelum Kyungsoo menutup mulutnya dan berkata pedas. "Kurebus kau dengan air panas sampai berani berteriak lagi." akhirnya ia sendiri yang berdiri memesankan makanan sahabat bebeknya itu.
Baekhyun telah asik dengan dunianya sendiri sambil sesekali mencomot makanan ringan milik Kyungsoo yang dibiarkan diatas meja lantaran pemiliknya sibuk meratapi layar laptop dengan kening berkerut. Kyungsoo kebih baik membiarkan Baekhyun begitu daripada ia tak selesai merevisi karena Bekhyun ribut merecoki dirinya. Bahkan setelah makanan gadis mungil bersuara cempreng itu datang, Kyungsoo masih tak peduli bahwa snacknya sudah habis.
"Oh!"
Sialan benar bebek peking depannya ini. Sumpit ramyeonnya mengacung tak tentu arah dan mulutnya telah membulat sempurna. Tak tahukah ia bahwa wajah Kyungsoo terkena cipratan kuah ramyeon?
"Aish!" gusar Kyungsoo sambil mengelap wajah agungnya. "Jongin sunbae!" bebek peking ini kembali rusuh. Kyungsoo mengikuti arah pandangannya kearah samping dan menemukan laki-laki bersetelan abu-abu dengan rambut rapi tengah melambai pada mereka—atau mungkin hanya pada Baekhyun. "Pacarmu?"
"Salah satu sahabat Chanyeol." Kyungsoo mengangguk paham, bukan tak mungkin si tiang listrik Seoul itu memiliki kenalan atau sahabat karib dari kalangan anak kedokteran. Koneksinya terlalu banyak. "Sunbae ayo bergabung dengan kami." ajak Baekhyun pada laki-laki yang baru Kyungsoo ketahui namanya itu.
"Kenapa pakai diajak kesini? Biarkan saja dia makan sendiri, kau mau menyuapinya eoh?" komentar Kyungsoo saat melihat Baekhyun masih saja melambai-lambai tak jelas pada Jongin.
Terdengar langkah kaki mendekat kearah mereka. "Mungkin lain kali saja, aku sudah makan duluan tadi." Baekhyun terlihat memajukan bibirnya beberapa senti.
"Oh, sunbae perkenalkan ini sahabatku Kyungsoo." kata Baekhyun cepat seakan ia lupa akan sesuatu. Kyungsoo menghela napas kasarnya, "Do Kyungsoo imnida."
Jongin tersenyum sebentar sebelum membalas jabatan tangan Kyungsoo yang mengacung didepannya. "Kim Jongin, apa kau satu fakultas dengan Baekhyun?" tanya Jongin, itu basa-basi Kyungsoo tahu.
"Kami selalu bersama bahkan dari sebelum kami lahir. Sepertinya takdir selalu memasangkan kami." sahut Baekhyun dan Kyungsoo hanya mengangguk sambil tersenyum aneh yang anehnya disambut anggukan paham Jongin. Sepertinya Jongin mulai terkena dampak tak sehat akibat bersahabat terlalu lama dengan Chanyeol—dan Baekhyun otomatis.
"Ja, sepertinya aku harus pamit lebih dulu, sampai jumpa lagi." Jongin menunduk singkat sebelum benar-benar pergi dari kantin.
"Kau tidak pernah bilang Chanyeol memiliki sahabat yang cukup waras seperti tadi." Kyungsoo yang membuka pembicaraan setelah Jongin pergi. Baekhyun mengendikkan bahu tanda tak peduli. "Dia yang tak waras, bisa-bisanya bertahan memiliki sahabat macam Chanyeol."
"Kalian berkelahi?" tanya Kyungsoo heran.
"Siapa?"
"Kau dan Chanyeol. Apa kalian berkelahi saat ia menjemputmu dari cafe?" tanya Kyungsoo sekali lagi.
Baekhyun menggeleng. "Tidak. Wae?"
"Kau mengatakan Jongin tak waras memiliki sahabat macam Chanyeol? Kau telah mengakui kalau pacarmu itu gila?"
"Yak! Kami tidak berpacaran!" elak Baekhyun.
"Cih, katakan itu sepuluh kali didepan bokongmu sendiri." ia tinggalkan Baekhyun yang mencibir parah untuk kembali fokus pada laptopnya. Sedikit lagi dan ia selesai untuk bab revisi.
Telah lima kali editor setianya menggempur Kyungsoo dengan panggilan yang ia biarkan tak terjawab di ponsel semenjak ia duduk di kantin. Palingan hanya panggilan untuk segera mempercepat daya ketik dan berpikirnya untuk meringkaskan bab revisi. Demi Tuhan, Kyungsoo tahu hal itu! Dan ia benci jika seseorang terlalu berlebihan mengingatkannya akan hal yang sama berkali-kali. Jika bukan karena tak ada orang lain yang bisa menjadi editornya di kantor penerbit, mungkin saja Nona Lee itu sudah ia kebiri jauh-jauh hari. Kyungsoo tak tahan gaya cerewetnya yang kurang lebih dengan Baekhyun.
"Ayo kita kembali ke café. Aku hanya punya waktu dua jam membolos sebelum Minseok unni menggantungku di pintu café karena terlalu lama menemanimu di kampus." Baekhyun mengelap ujung bibirnya anggun menggunakan tisu toilet yang Kyungsoo bawa. "Aku yakin ummamu tak akan kembali lagi ke flat setelah Minseok unni membungkuskannya beberapa makanan café."
"Wanita itu dan hobinya meminta makanan gratis." nada sarkatis sekaligus mengejek terdengar dari bicaranya.
"Dan itu semua juga mengalir dalam darahmu yang rakus." sahut Baekhyun santai. Kyungsoo mendelik. "Tunggu sebentar lagi, aku sedang mengirim email."
Baekhyun mengangguk kembali menunggui Kyungsoo yang berkutat dengan email. Baekhyun ingat betul saat sebelum makan siang tadi tiba-tiba ponselnya berdering dan nama Kyungsoo muncul disana.
Flashback
"Selamat datang!" sapa Baekhyun ceria pada pelanggan yang masuk ke café. Siang ini belum banyak pelanggan yang datang, mungkin karena bukan hari kerja jadi saat mendekati jam makan siang begini café masih cukup sepi. Dengan kesempatan itulah Baekhyun bisa bersantai sambil merapikan lembaran uang won yang ada dalam mesin kasir.
Drrrt drrrt drrrt
"Yoboseyo…" Baekhyun langsung menyahut panggilan pada ponselnya tanpa melihat nama pemanggil. 'Baek, kau harus menolongku segera. Mintalah ijin pada Minseok unni untuk keluar sebentar, minta jemput Chanyeol dan suruh ia mengantarmu ke kampus sekarang!'
Klik. Sambungan terputus.
Mata Baekhyun berkedip beberapa kali tanda otaknya sedang mencerna kata-kata ditelpon barusan. Setelahnya ia menoleh pada Minseok yang berada dibalik mesin kopi. "Unni..."
Minseok menghela napas sebentar. "Pergilah, kuberi waktu dua jam tak lebih tak kurang. Cepat panggil Chanyeol kemari dan pastikan Kyungsoo telah berada di kampus saat kau sampai. Biar kuurus ummanya." jawab Minseok sambil membungkuskan beberapa pastry dari etalase untuk Nyonya Do.
Begitulah kisah singkat bagaimana Baekhyun bisa sampai dengan selamat di kampusnya. Setelah telpon ditutup dan mengantongi ijin dari Minseok, ia segera menelpon Chanyeol yang hari itu juga free. "Cepat jemput aku di café dan antarkan aku segera ke kampus. Sekarang!" cecarnya pada Chanyeol lewat telpon tanpa membiarkan lelaki jangkung itu membalas ucapannya karena Baekhyun buru-buru menutup telpon.
Baekhyun telah berdiri menunggu di depan café saat Chanyeol datang dengan tergesa-gesa, "Berlari?" tanya Baekhyun heran. Chanyeol menggeleng sambil memperlihatkan postur tubuh kelelahan dengan mengayunkan tangan didepan wajah Baekhyun ke kiri dan kanan kemudian meunjuk-nunjuk ujung jalan di belakangnya.
"Diujung jalan. Cepat. Hosh hosh.."
"Mwo?" bebek mungil didepan Chanyeol sungguh tak paham apa yang ia dengar barusan. Chanyeol dengan napas tersengal-sengal berusaha menjelaskan mobilnya yang ia parkir diujung jalan karena tak kebagian lahan parkir atau sekedar tempat berhenti sejenak untuk menjemput Baekhyun di depan café. Bukan masalah sesungguhnya parkir diujung jalan, namun karena Baekhyun berpesan untuk sesegera mungkin sampai di café, ia menginjak pedal gas lebih kuat dari biasanya dan langsung berlari turun dari mobil untuk menghampiri Baekhyun yang saat itu telah berdiri didepan café.
Chanyeol takut Baekhyun akan memberondonginya dengan ocehan pedas karena terlalu lama datang. Karena bagaimanapun saat Baekhyun menelponnya tadi ia sedang sibuk bersama game di playsation miliknya.
Tak tahan dengan wajah konyol yang dipasang Baekhyun, laki-laki jangkung tersebut langsung menarik tangan mungil bebek itu dan menyeretnya ke arah mobil. "Kenapa buru-buru sekali, sih?" tanya Baekhyun seakan kembali dari mode 'mari-memasang-wajah-konyolnya'.
"Kau bilang tadi aku harus cepat-cepat menjemputmu?"
Baekhyun melongo. Ia sentak dengan perlahan tangan panjang Chanyeol dan menghentikan langkah mereka yang tinggal beberapa langkah dari mobil Chanyeol. Tanpa banyak bicara segera ia sodorkan sebuah gelas dengan lambang café Minseok pada Chanyeol.
"Minumlah, maaf membuatmu terburu-buru." ujar Baekhyun lembut sembari meraih tangan Chanyeol yang tak kunjung menyambut gelas yang ia sodorkan. Tanpa basa-basi Chanyeol segera menenggak isi gelas karton tersebut hingga tersisa es batunya saja kemudian kembali menyerahkan gelas kosong tersebut ke tangan Baekhyun yang masih kalem menunggunya selesai minum. "Kaja." Chanyeol kembali mengaitkan tangan mereka sambil berjalan kearah mobil. Kali ini dengan lebih santai.
Tanpa disadarinya Baekhyun tersenyum dibelakang sambil memperhatikan tangan mereka berdua.
Flashback off
Kyungsoo menghirup napas dan membuangnya secara perlahan. Kegiatan yang ia pertahankan semenjak lima menit yang lalu.
Ia dan Baekhyun telah kembali dari kampus, kini ia tengah mencoba menenangkan diri dengan membuat minuman hangat. Sedikit mengingat kembali bagaimana harinya yang tenang harus berubah berantakan saat ummanya mengirim sms tadi siang. Untung semuanya dapat terkendali tanpa Kyungsoo sampai harus menggundulkan rambut panjangnya.
Suasana sore yang teduh terbingkai di jendela dapur mungilnya. Sambil menunggu air mendidih ia kembali menggerakkan tubuh ke kiri ke kanan dan sesekali mengangkat tangannya keatas hingga kaosnya ikut terangkat. Suasana seperti ini memang setimpal dengan hari beratnya. Suasana yang menenangkan ditemani secangkir teh hangat dan beberapa cemilan. Sempurna!
Karena air rebusannya belum juga menampakkan tanda-tanda mendidih, Kyungsoo mulai berpikir bahwa ia memasak terlalu banyak air. "Harusnya aku kurangi sedikit tadi." desahnya kecewa menatap ceret mungilnya belum juga berbunyi riuh tanda mendidih. Kembali menghilangkan kebosanan, ia berputar mengelilingi flat mungilnya yang telah tertata rapi sambil membuka seluruh jendelanya. Jendela dapur menjadi bagian terakhir yang dibuka, favoritnya setelah jendela kamar.
Omong-omong jendela, kenapa jendela dapurnya basah? Bahkan ada sedikit sisa aroma hujan disela ia menarik napas. "Apa tadi hujan, ya?"
Apa mungkin saat ia berada di kampus bersama Baekhyun tadi sempat hujan di sekitar flatnya? Kalau begitu pasti hujannya deras sekali sampai menyisakan genangan kecil di jalan. Kalau begitu—
"JEMURANKU!"
—jemurannya apa kabar?
Jongin POV
"Terima kasih, Baek." gadis mungil dibalik meja kasir tersebut hanya mengendikkan bahu sambil memasang wajah cerianya seperti biasa. Senyum tak dapat kutahan melihat wajah polosnya itu, mengingatkanku pada keponakanku yang masih bayi.
"Oh, kau datang lagi sore ini?" tegur wanita mungil yang baru saja keluar dari dapur café. Aku mengangguk dan membungkukkan badan. Memberi tanda hormat tak ada salahnya bahkan jika hampir tiap hari aku berkunjung ke café ini. "Annyeonghaseyo, nuna." tegurku sambil tetap tersenyum.
"Annyeong, duduklah. Sepertinya kau lelah sekali hari ini, aku akan memberimu beberapa potong roti. Tunggu sebentar." Ujarnya sambil memilih beberapa kudapan lezat dari etalase café. Aku hanya diam memperhatikan bagaimana tangannya memilah-milah kudapan tersebut. Mana bisa aku menolaknya, tentu saja.
Setelah beberapa waktu wanita itu memilih-milih kudapan akhirnya ia kembali kehadapanku yang masih berdiri dekat meja kasir sambil membawa piring kecil yang menguarkan aroma lezat samar-samar. "Ja! Bayarlah saat kau memesan sesuatu yang berbeda atau membawa teman kencan kemari." ujarnya jenaka sambil mengedipkan sebelah mata hamsternya. Aku tergelak nyaring.
Setelah mengucapkan terima kasih aku segera melangkah ke sisi café. Beberapa bangku dari pintu masuk. Sore ini harus dihabiskan dengan bersantai penuh setelah beberapa jam yang lalu kuhabiskan di rumah sakit mengurus beberapa pasien operasi yang menjadi tanggung jawabku. Baru saja kopi mengaliri tenggorokanku, ponselku bergetar pelan. Satu pesan masuk.
"Siapa lagi yang berani mengganggu waktu santaiku." kubuka pesan tersebut sambil memperhatikan ujung lengan kemejaku yang berwarna kemerahan. Sepertinya ada darah salah satu darah pasien yang sedikit menempel di lenganku.
Setelah membaca sebentar isi pesan, segera kumatikan ponsel pintar tersebut sebelum kulesakkan ia dalam-dalam di kantong celana. Zitao nuna adalah satu-satunya manusia yang berani mengganggu waktu santaiku—juga pasangan bulenya, Kris hyung. Bisa-bisanya ia kembali menyuruhku untuk menggantikan jadwal mengajarnya di kampus minggu depan. Apa tak ada salah satu asistennya yang berbakat menjadi dosen?! Demi Tuhan, aku ini dokter bedah bukan dosen kampus.
Brak!
Klining. . .
Kuedarkan pandangan untuk melihat tersangka penggebrak pintu café barusan. Untung saja tak ada pelanggan lain selain aku dan pria tinggi yang barusan masuk dibelakang tersangka penggebrak pintu café. "Chanyeol?" tanyaku pelan memastikan pada laki-laki barusan. Ia menoleh dan memasang wajah terkejutnya yang khas. Mata melebar dan senyum lebar tanpa malu menyembunyikan gigi serinya yang rapi. Ekspresi milik Chanyeol seorang.
"Jong! Sedang apa kau disini?" tanya Chanyeol tanpa bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya sambil menghampiriku. Ia lalu memelukku singkat tapi mataku tak bisa lepas dari seseorang yang berjalan ribut di depan Chanyeol tadi.
"Kau datang bersamanya?" kening Chanyeol mengerut tanda tak mengerti, ia mengikuti arah mataku. "Oh, Kyungsoo, aku berpapasan dengannya di depan café kemudian dia membanting pintu café." Chanyeol memperlihatkan ekspresi bergidiknya yang lucu. "Kyungsoo sudah biasa begitu disini, kalau kau pelanggan baru disini biasakan, ya?" lanjut Chanyeol menepuk pelan pundakku.
"Kyungsoo.." gumamku pelan. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu dari Baekhyun atau Chanyeol sebelumnya.
Sampai aku melihat wajah bulat dan ikat rambut khas itu barulah aku tersadar kalau kami bertemu di kantin kampus siang tadi bersama Baekhyun. Iya, itu Kyungsoo yang tadi siang. Gayanya masih sama seperti tadi siang, hanya kini telah berganti bawahan celana basket yang menutupi hampir separuh kakinya dan sandal jepit hitam membalut kaki putihnya.
"Minseok unni mana, Baek?" tanyanya riuh pada Baekhyun. Baekhyun yang ditanyai hanya memandang Kyungsoo aneh tapi tetap mengarahkan telunjuknya ke dapur café dimana tempat Minseok nuna berada. Kemudian gadis bercepol asal tadi kembali ribut memanggil-manggil Minseok nuna.
"Unni! Unni! Un—"
Minseok nuna keluar dari dapur café dengan mata melotot dan tangan di pinggang. "Jemuranku! Jemuranku!" Kyungsoo masih berujar heboh saat Minseok nuna berdiri didepannya dipisahkan meja kasir.
"Tadi hujan, apa kau yang mengangkat jemuranku? Kupikir jemuranku basah, ternyata lebih parah dari itu jemuranku hilang!"
"Didepan kamarku ada keranjang, pilihlah sendiri—ya! Kyungsoo!" Kyungsoo terlanjur berlari lagi keluar café sembari melambaikan tangannya.
"Dasar manusia ajaib."
Chanyeol mengambil tempat duduk didepanku, tangannya membawa sebuah nampan berisi latte dan waffle. Kepalanya bergeleng-geleng sambil berdecak pelan.
"Siapa? Kyungsoo?"
Chanyeol mengangguk, "Yup! Dia akan berubah menjadi aneh saat pekerjaannya mendekati deadline seperti saat ini. Setahuku bahkan ia sempat tak mandi hingga tiga hari dan hanya berdiam di depan laptop, kecuali saat makan atau urusan kamar kecil." waffle hangat itu dipotong Chanyeol menjadi dua dan menimbulkan kepulan asap kecil yang beraroma menyenangkan.
"Pekerjaan?"
"Kyungsoo penulis lepas di salah satu penerbit. Ia akan mengambil pekerjaan jika ia sedang dalam waktu luang saja." Lelaki jangkung ini meneguk latte sebentar. "Dia sangat selektif memilih tema tulisannya, meski terkadang justru itu yang membuatnya pusing sendiri." lanjutnya.
"Bukankah ia berada di fakultas yang sama denganmu?" tanyaku semakin penasaran. Chanyeol mengangguk lagi. "Dia bahkan selalu berada di kelas yang sama denganku saat kuliah."
Aku mengangguk-angguk entah untuk apa. "Jong.."
"Hm?"
"Kuingatkan padamu, jangan pernah terjerat dengan pesona Kyungsoo meski ia menarik perhatianmu. Jangan pernah! Kau bisa ketularan virus anehnya! Kuingatkan padamu!" nasihat Chanyeol dengan suara yang dibuat serendah mungkin.
"Eeeii, seperti kau tidak aneh saja!" kami tergelak riuh.
Pesona Kyungsoo? Apa mungkin pesona gadis itu berupa ikatan rambut tak rapi, pakaian asal dan kebesaran, juga wajah tanpa gairah yang tadi siang kulihat di kantin? Mengingatnya saja mebuatku tersenyum-senyum sendiri. Kuperhatikan Chanyeol yang masih asyik dengan latte dan wafflenya.
"Ngomong-ngomong Yeol, apa kau kemari menjemput pacarmu?" tanyaku sambil menunjuk gadis mungil di balik meja kasir—Baekhyun.
Chanyeol tersedak hebat setelahnya.
tbc
maap ya baru apdet lagi. jujur semenjak semester baru ini jarang kepikiran lanjut nulis *laporan numpuk coy!*
jadi ya begitulah...praktikum juga numpuk dengan jumlah sks yg gk manusiawi T.T
well, ada yg nunggu apdet ff ini? /kagak ada woooy!/ oke seenggaknya saya udh berusaha teteeeup mikirin kelanjutan cerita absurd ini
pertanyaan, protes atau apapun silahkan dikotak ripiuh ajah. gk mau ngeripiuh? gk masalah, saya mah baik orangnya~ /asah golok/ paipaaai
SARANGHAJA!
