My Deadline!
Cast: Kaisoo, Yunjae and maybe other (GS)
Typo melayang kemana-mana, OOC, efek keabsurd(an) cerita tanggung sendiri and once again this is genderswitch I've warn you
DLDR
Chap 3
"Kudengar ada satu kamar yang kosong, Yeol?" laki-laki bertelinga peri itu masih fokus dengan es kopinya. Jongin diam mengamati kegiatan Chanyeol yang entah sejak kapan telah menempelkan bibirnya diujung gelas tanpa mengangkatnya sementara kedua tangannya diletakkan di atas meja kayu halus bercat cokelat.
"Yeol!"
"Iya aku mendengarmu, Jongin." Katanya kalem setelah Jongin memukul pelan meja di depannya. Chanyeol menyudahi kegiatan seruput-es-kopi-dengan-khidmat dan memandang kearah Jongin yang duduk tepat di depan kursinya. Sedangkan Jongin hanya memandang malas lalu mengalihkan pandangan ke kaca café seakan pemandangan diluar lebih menyenangkan daripada memandang Chanyeol, tentu saja.
"Wae? Kenapa kau bertanya seakan kau akan pindah keatas café ini?" tanya Chanyeol sambil menunjuk-nunjuk ke atas café, tepat dimana kamar Jaejonng berada.
"Kamar yang kosong ada di atas? Di atas café ini?"
Chanyeol mengangguk dengan suara seruputan kopinya yang kandas. Matahari sore yang makin bergeser ke barat membuat bias-bias cahaya pada helai rambut pria jangkung itu. Pantulan cahaya sialan. Kenapa ia dapat dengan mudah membuat si telinga peri terlihat makin tampan?
"Tak lama lagi Jaejoong nuna akan menikah, setelah pindah ke Jepang tentu saja kamarnya kosong. Mungkin Kyungsoo akan kesepian setelahnya atau mungkin ia akan membuat tenda di dalam café." Si telinga peri mengendikkan bahunya acuh pada ocehan tak jelasnya.
Jongin melongo tak paham.
"Jaejoong unni adalah wanita cantik yang ada di pintu masuk café." sela Baekhyun yang tengah menghampiri mereka berdua dengan tangan kanan memegang satu cup es kopi milik Chanyeol, ia nambah ngomong-ngomong.
Jongin menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk. Benar saja, ada wanita cantik bertubuh jenjang yang sedang mendorong pintu café sehingga menimbulkan bunyi 'klining' yang khas. Setelah wanita yang dipanggil Jaejoong itu masuk, tak lama kemudian ada sosok pria gagah dengan jas hitam menyusul. Jongin penasaran bagaimana Tuhan bisa mempertemukan dua insan 'sempurna' seperti mereka berdua. Meski Jaejoong hanya memakai sliper rumahan biasa, ia tetap terlihat anggun minus rambut cepol tingginya yang berantakan.
Serius deh, apa rambut cepol tinggi berantakan harus menjadi syarat utama bagi wanita yang masuk café ini? Jongin daritadi melihat sekitar empat orang wanita mondar-mandir di café dan hampir semuanya mengikat rambutnya begitu.
"Miseok mana?" Jaejoong melongok ke balik meja kasir. Yunho yang bediri di belakang tubuh Jaejoong kemudian menepuk pundak wanita itu dan menunjuk ke arah tiga makhluk di sudut café yang sedang sibuk sendiri. Jongin dengan ponselnya, Chanyeol tengah meletakkan sedotan di cup barunya dan Baekhyun yang kini melambai ceria pada Jaejoong.
Baekhyun menyempatkan menepuk kepala Chanyeol sekilas lalu berlalu ke tempat Jaejoong dan Yunho berdiri. "Nona Kim yang nona cari mungkin sedang berada di dapurnya. Perlu kupanggilkan?"
Jaejoong menggeleng. "Suruh dia naik ke kamarku." Lalu ia berbalik badan dan mendorong tubuh Yunho keluar café sambil melambai pada Chanyeol dan Jongin, mungkin hanya pada Chanyeol.
"Minnie unni! Jaejoong unni mencarimu!" teriakan Baekhyun membuat perhatian Chanyeol dan Jongin pecah.
"Teriakannya luar biasa." Ucap Jongin pelan.
"Terkadang aku ingin membawa penyumpal telinga saat bersamanya." Timpal Chanyeol sambil berbisik, takut-takut jika obrolannya dan Jongin didengar Baekhyun. Jongin dan Chanyeol kembali terlibat percakapan santai.
Kyungsoo baru saja selesai memilah-milah jemurannya yang telah kering. Kata-kata terima kasih bahkan ciuman-ciuman kecil ia hadiahi pada pipi Minseok. Wanita mungil itu sukses menyelamatkan seluruh pakaiannya dari hujan tadi siang. Kalau tidak begitu mungkin ia akan berbaju tidur saat ke kampus.
Selesai melipat pakaian dan meletakkannya dengan rapi dalam lemari kemudian gadis itu beralih ke kasur.
Bruk!
Tubuh mungil itu sukses terhempas di kasur. Kyungsoo tidak bergerak selama beberapa detik dengan posisi tubuh telungkup dan kepala yang tenggelam di bantal. Kakinya digoyang-goyangkan ke sembarang arah. Seperti teringat sesuatu, badan Kyungsoo dengan cepat berbalik dan duduk di atas kasurnya. Ia masih memasang wajah berpikir—keningnya mengkerut hingga alis tebalnya menukik tajam.
"Sampahku!" gadis itu berteriak dan melompat dari kasur lalu berlari ke dapur. Tepat di sebelah lemari es.
Sampahnya dari tiga hari yang lalu. Entah jadi apa flatnya jika sampah-sampah itu ia biarkan lebih lama. Ia yakin berantakannya akan menyaingi tempat pembuangan akhir. Jadi demi keberlangsungan hidupnya yang lebih sehat, Kyungsoo segera mengemasi tong sampahnya kemudian mengikatnya dengan sempurna sebelum ia turun ke bawah.
Kyungsoo berusaha menyeimbangkan langkahnya menuju pintu keluar sambil menenteng plastik hitam tebal yang berisi sampahnya. Sambil sesekali memperhatikan sekitarnya, kalau-kalau ada sampah kecil yang terlewat. Fokusnya pindah ke meja makan dan tak sengaja menatap layar laptop. Wajahnya ia dekatkan ke layar tersebut kemudian keningnya berkerut.
Kantong sampah yang sejak tadi ia pegang diturunkan ke lantai sambil disanggah oleh tungkai kurusnya. Tangannya menari-nari di atas laptop, dalam sekali ketikan pada tombol 'enter' dan beberapa detik kemudian keningnya sukses kembali berkerut lebih parah. Matanya menatap miris layar laptop sedangkan pundaknya terasa lemas.
Ia ingin menelan laptopnya saat itu juga.
Membuang sampah ternyata lebih lama dari yang ia bayangkan. Kakek Park memanggilnya saat tangannya menyentuh pegangan tangga. Wajah ramah orangtua itu mengingatkan Kyungsoo akan kakeknya yang telah meninggal. Ia tau tak bisa menolak saat tangannya diseret masuk menuju ruang makan.
Di sana nenek Park telah menunggu sambil menyiapkan sup rumput laut.
"Ulang tahun siapa hari ini?" ia duduk dan mencomot satu potong kimchi segar, favoritnya dari dulu. Wanita tua di hadapannya menatap tajam saat gadis itu membersihkan tangannya dengan cara menempelkan satu persatu jari kurusnya pada jaket abu-abu yang ia pakai.
Kyungsoo menampilkan cengirannya. Ia tau akan dapat ceramah nanti.
"Bukan apa-apa, aku hanya sedang ingin sup rumput laut." ternyata kakek favoritnya itu menjawab dan sukses menyelamatkan telinga Kyungsoo dari ceramah soal kebersihan dan etika makan dari istrinya.
Satu jempol ia hadiahkan untuk kakek Park.
Acara makan malam dadakan berlanjut dengan perbincangan mereka bertiga yang semakin seru. Kegiatan seperti ini sangat dirindukan oleh Kyungsoo, terlebih karena kakek dan neneknya dari kedua belah orangtuanya telah meninggal sewaktu Kyungsoo kecil. Ia bisa tertawa bebas bahkan ikut bersendawa bersama kakek Park. Kyungsoo dapat merasakan kasih sayang dari kedua orangtua tersebut.
"Aaah aku kenyang sekali!" ujar Kyungsoo sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sesekali ia mengelus perut dan menimpali pembicaraan nenek Park yang masih melanjutkan makannya dengan tenang.
Kadang Kyungsoo berpikir kalau tingkahnya lama-lama sama seperti ajhussi-ajhussi saja.
"Pulanglah gadis muda, istirahatkan tubuhmu." kakek Park menyentuh pundaknya. Kyungsoo tersenyum dan mengangguk.
Kyungsoo bangkit dari kursinya sambil kembali mencomot kimchi. Tapi nenek park sudah berjalan lebih dulu ke dapur, ia aman kali ini. Gadis muda itu mengikuti langkah nenek Park pelan-pelan, setelah sampai di dapur dengan segera ia memeluk tubuh hangat wanita itu.
"Gomawo, halmeoni." bisik Kyungsoo sambil mengeratkan pelukannya.
Ia dapat merasakan sentuhan lembut pada tangannya. Nenek Park masih mengusap tangannya dan tersenyum pada Kyungsoo. "Istirahatlah yang baik, jangan terlalu banyak meminum kopi Minseok, ne?"
Kyungsoo mengangguk kemudian bergegas pulang dengan berlari kecil menuju kakek Park yang masih di ruang makan dan melakukan high five dengannya. Setelah itu ia benar-benar pulang.
Blam!
"Huaaaaaaah! Aaaaaaah!"
Kyungsoo diam beberapa saat. "Berteriak tidak cukup untuk melepas stres." Kyungsoo berjalan menuju meja makan dimana seluruh perkakas menulisnya berada. Laptopnya masih menyala dengan jendela pemberitahuan email di dalamnya.
Perutnya memang sudah kenyang, tapi begitu kembali melihat peralatannya masih berserakan dan pesan dari editornya itu, seakan makanan yang barusan disantapnya tidak memiliki efek apa-apa. Akhirnya langkah lunglai Kyungsoo memutuskan untuk menuju ke arah dapur mungil yang menyalurkan udara malam yang baru saja turun. Kyungsoo belum menutup jendela kamarnya sejak sore, sejak insiden jemurannya tadi yang ternyata telah diangkat oleh Minseok.
Gelas kosong, piring kotor, ceret air yang masih tergeletak di atas kompor menjadi perhatian Kyungsoo selanjutnya. Napas kasarnya terdengar beserta kedua tangannya yang bertengger di pinggang. "Ayo selesaikan semua ini dan pergi tidur Do Kyungsoo." bagaikan seorang instruktur yoga, tangannya bergerak naik turun seperti memberi instruksi mengatur napas.
Setelah berjuang mati-matian hampir beberapa minggu demi bab tiga sialan yang menguras waktu tidur dan makannya, beberapa jam yang lalu editor kesayangannya mengirim email balasan yang hingga kini belum ditutupnya.
—minumlah kopi lebih banyak, kupikir alur ceritamu kali ini cukup memusingkan dan terlalu bertele-tele. Pikirkan bagaimana akhirnya tanpa memperpanjang kalimatmu sayang. ^^—
Persetan dengan semua ocehanmu nenek sihir!
Kyungsoo tau editor baru itu tak pernah benar-benar ramah padanya. Mata dibalik kaca tebal itu cukup licik. Pemiliknya seperti punya beribu cara untuk menyusahkan Kyungsoo saat gadis itu mulai menyeduh tehnya.
Duk! Duk duk duk!
"Jika aku tak salah dengar pasti bebek itu yang bertamu." alih-alih meneruskan cuci piring, langkah Kyungsoo justru menuju ke pintu depan untuk membuka pintu. Dan Baekhyun berdiri di sana bersama Chanyeol dan Jongin di belakangnya. Jongin tersenyum sebentar, kelihatan sekali laki-laki itu ditarik paksa.
"Aku akan menginap!" seru Baekhyun dambil mengangkat sebungkus plastik putih yang berisi makanan ringan dan sejenisnya. Wanita yang berlagak seperti remaja puber itu kemudian menerobos ke dalam flat Kyungsoo dengan asal meninggalkan Chanyeol dan Jongin. Kyungsoo menatap Chanyeol lemah kemudian menempelkan badannya ke pintu. "Masuklah kalian berdua."
"Kamarku hanya ada satu, kalian tidak berniat menginap kan?" tanya Kyungsoo pada kedua tamu laki-lakinya. Kyungsoo masih memiliki sebuah matras cukup besar dan tebal jika Jongin atau Chanyeol atau keduanya berniat menginap. Ia merasa tak perlu canggung lagi dengan keberadaan Jongin, toh ada Chanyeol yang harusnya bertanggung jawab terhadap keberadaan dokter itu di flatnya.
Tapi mereka berdua tidak berniat menginap bukan?
"Tidak tidak, mereka berdua harus pulang. Chanyeol harus menemani Jongin tugas di luar kota besok." suara Baekhyun menginterupsi dari dapur.
Kyungsoo mengalihkan padangannya pada Chanyeol dan Jongin yang sedang melepas jas. Oh, baiklah jadi hanyadia sendiri yang masih jobless di sini. Sekonyol dan secacat apapun Chanyeol, pria bertelinga lebar itu telah menduduki posisi asisten dosen dan asisten tetap laboratorium kampus mereka. Baekhyun menjadi karyawan tetap di cafe milik Minseok dan Jongin...dia dokter. Dokter muda yang terlatih dan memiliki lembar mata uang won bahkan mungkin dollar cukup banyak di rekening pribadinya.
Hanya orang buta yang tak dapat melihat betapa luwesnya tiap gerakan Jongin, penampilannya rapi beda jauh dengan Chanyeol, kemana-mana menggunakan jas, dan yang terpenting adalah setiap pria itu lewat ia akan menyisakan udara segar beraroma citrus. Entahlah, menurut Kyungsoo terlalu repot untuk membedakan aroma citrus atau aroma pengepel lantai rumah sakit tempat Jongin bekerja, yang jelas wangi pria itu menyenangkan.
"Jong kemarikan bantal itu." sudut mata lebarnya menangkap gerakan Chanyeol yang sedang merebahkan tubuhnya pada sofa.
Kyungsoo buru-buru menghampiri tiang listrik itu dan menepuk-nepuk tubuhnya. "Ya! Kau bilang tidak akan menginap di sini!"
"Aw aw! Kyung!" Chanyeol sedikit kewalahan meneriman pukulan pedas Kyungsoo. Ia kemudian duduk menghadap Jongin yang berada di sofa. Jongin mengendikkan bahu tanda tak peduli. Laki-laki rapi itu belum mengatakan satu katapun sejak masuk flat Kyungsoo.
"Sebentar saja, aku hanya merebahkan tubuh." rayu Chanyeol dengan mata yang dibuat-buat. Kyungsoo mual melihatnya.
"Sebentar saja! Jika kau tertidur di tempatku akan kuseret kau keluar." ancam Kyungsoo garang kemudian melanjutkan kegiatannya mencuci piring. Baekhyun dan Jongin yang sedari tadi sibuk memperhatikan keduanya hanya terkekeh geli.
Jongin diam-diam mengamati tiap sudut flat Kyungsoo. Cukup rapi meski di beberapa tempat sangat berantakan, seperti meja makan. Meja persegi itu dipenuhi kertas-kertas, buku-buku yang sepertinya novel, laptop dan alat elektronik lainnya, cangkir, dan satu plastik penuh cemilan yang dibawa Baekhyun. Sisa kekacauan lainnya berada di wastafel dan Kyungsoo tengah berdiri mengerjakan tugas hariannya.
"Jongin kemarilah, ayo makan." Baekhyun membuka plastik yang dibawanya tadi dan mengeluarkan seluruh isinya. Jongin menyampirkan jas rapinya di sandaran sofa dan menghampiri Baekhyun yang sedang memperhatikan sesuatu pada laptop Kyungsoo. Gadis itu mengerutkan dahi dengan alisnya yang dicukur rapi melengkung aneh.
"Aku serius menawarimu bantuan untuk membunuh editor barumu itu Kyung." desahan Baekhyun mencuri atensi Chanyeol pada minuman kaleng di hadapannya dan mengikuti gadis itu menuju laptop Kyungsoo. Kyungsoo bergeming dari wastafelnya.
"Aku juga akan membantumu Kyung." Chanyeol kini kembali pada minuman kalengnya setelah membaca sesuatu di laptop Kyungsoo dan dihadiahi tatapan 'siapa yang akan kalian bunuh?' dari Jongin.
Chanyeol yang baru akan menjawab tatapan Jongin terpotong lebih dulu oleh ucapan Baekhyun. "Editor pengganti itu sungguh keterlaluan. Apa dia tidak tahu perjuanganmu menyelesaikan bab 3 itu? Kau harus protes pada atasannya!"
"Kalian serius ingin membunuh orang?" kalimat pertama sejak Jongin menginjakkan kaki di flat Kyungsoo langsung dihadiahi tatapan sinis Baekhyun. Beri tepuk tangan meriah pada laki-laki berkulit cokelat menawan ini.
"Ya dan jika perlu aku akan menguliti penyihir jahat bermata empat itu hidup-hidup!" jawaban Baekhyun nyatanya menimbulkan pertanyaan baru di kepala Jongin. Haruskah ia mulai menelpon polisi dan melaporkan ketiga orang ini? Membuat laporan tentang 'perencanaan pembunuhan' termasuk laporan yang mungkin saja akan cepat ditindaklanjuti.
Kursi di hadapan Jongin begeser kemudian terlihat wajah lesu Kyungsoo dibaliknya. Gadis itu mengusap kasar wajahnya hingga rambutnya terikut menjadi lebih berantakan dari sebelumnya.
"Nona Kim, editor penggantiku itu menyuruhku untuk merevisi bab 3 novel yang telah kukerjakan selama tiga bulan dalam waktu satu minggu." jelas Kyungsoo sambil menatap Jongin, sepertinya gadis itu menangkap wajah kebingungan Jongin sejak tadi.
"Kenapa tidak meminta waktu yang lebih lama lagi?" tanya Jongin. Baekhyun justru tertawa hingga kursinya bergeser kebelakang.
"Kau memang ditakdirkan untuk menjadi dokter sejati Jong." Baekhyun mengambil napas singkat sebelum melanjutkan. Jongin benar-benar tak tau kejadian apa saja yang dapat terjadi sebelum buku-buku mahal itu tersebar di toko buku. "Mulut Kyungsoo bahkan telah berbusa untuk merayu wanita ular sepertinya." kini giliran Jongin melebarkan retinanya.
"Kenapa dia tidak memberikanmu waktu lebih lama?" Jongin beralih langsung ke Kyungsoo. Gadis itu masih meratapi layar laptopnya. Entah mau diapakannya naskah yang telah jadi itu. Dia juga bingung harus menjawab pertanyaan Jongin barusan.
"Wanita bernama Nona Kim itu manusia jadi-jadian. Dia sendiri bahkan jarang pulang padahal hanya bertugas sebagai editor pengganti bagi Kyungsoo." Chanyeol menyela dari seberang dan Baekhyun turut mendukung perkataannya. "Dia berlagak sebagai karyawan teladan. Iih menyebalkan sekali pokoknya." tangan Baekhyun menunjukkan gestur mengibas-ngibas di pundaknya. Tanda ia benar-benar kesal hanya dengan membayangkan tingkah laku editor pengganti itu.
"Biar kuselesaikan besok saja." putus Kyungsoo. Jongin mengangguk kalem sedangkan Chanyeol dan Baekhyun seketika bersorak girang. Mereka mendapat lampu hijau untuk berpesta 'kecil-kecilan' di flat gadis bermata bulat itu malam ini.
Kyungsoo tak akan pernah menolak jika dua manusia kelebihan energi itu berkunjung ke flatnya, bahkan jika mereka berhasil memporak-porandakan tempatnya sekalipun Kyungsoo hanya akan menceramahi mereka sambil mengawasi keduanya mondar-mandir merapikan flatnya.
Jongin yang diseret paksa oleh Chanyeol dan Baekhyun pun turut menikmati 'pesta' dadakan mereka di dalam flat Kyungsoo. Sesekali ia turut menimpali lelucon aneh yang dilontarkan oleh Chanyeol atau bahkan sedikit berdiskusi dengan Kyungsoo tentang berbagai hal. Kyungsoo sebenarnya gadis yang cukup ceria dan berdiskusi dengannya merupakan suatu kegiatan yang mengasyikkan, hanya saja lingkar hitam di bawah matanya membuat gadis itu menjelma menjadi gadis 'menyeramkan'. Mungkin karena Kyungsoo terlalu lelah belakangan ini.
"Sudah berapa lama kau menulis?" Kyungsoo mengerutkan dahinya kemudian menggelung asal rambutnya ke atas. Sedikit gerah dengan rambutnya sejak tadi.
"Hmm..mungkin sekitar tiga tahun. Ah! Empat tahun, ya aku mulai menulis secara 'profesional' sejak masuk kuliah empat tahun yang lalu." jawabnya sambil memberi penekanan pada kata profesional dengan gerakan tangan. "Tapi jauh sebelum itu aku memang sering menulis dimanapun aku suka sampai pada dokumen penting milik ayah." lanjutnya sambil terkekeh kecil.
Baekhyun menimpali sesekali dengan kata-kata 'gadis kaya' atau apapun itu. Kyungsoo segera memukuli gadis itu dengan bantal sofa hingga Baekyhun berteriak sekaligus tertawa sambil berkata ampun berulang kali.
Jongin hanya tertawa kecil melihat interaksi dua gadis di depannya sedangkan Chanyeol sudah terbahak-bahak sejak tadi. Perang bantal itu berhenti beberapa menit kemudian dengan Baekhyun yang masih terkikik kecil.
Kyungsoo membenahi letak rambutnya yang kian berantakan. Kepalanya menoleh ke arah jam dinding di belakang Jongin. "Sudah jam sebelas, kalian tidak pulang?"
Jongin langsung menatap Kyungsoo. Tatapannya seperti anak anjing dan Kyungsoo tidak tega menatapnya. "E-eh aku tidak bermaksud mengusir kalian, hanya saja tadi Baekhyun mengatakan kalau kau harus pergi keluar kota besok dengan Chanyeol." Kyungsoo menjelaskan perkataannya gelagapan.
Chanyeol mengikuti arah tatapan Kyungsoo tadi. "Benar sekali, sebaiknya kita segera pulang Jong." kata Chanyeol sambil menepuk pundak Jongin.
Dokter muda itu segera mengemasi barang-barangnya yang hanya sebuah jas abu-abu dan membantu Kyungsoo serta Baekhyun mengumpulkan sampah sisa makanan mereka. Jongin bahkan membantu Kyungsoo mengangkat gelas-gelas sisa minuman ke dapur.
"Terima kasih banyak Jongin-ssi." ucap Kyungsoo setelah Jongin membantunya berkemas.
"Santai saja, panggil saja aku seperti kau memanggil Chanyeol dan Baekhyun. Kita sekarang berteman?" kata Jongin sambil menjulurkan tangan pada Kyungsoo, mengajak gadis itu bersalaman. Kyungsoo diam sebentar kemudian segera membalas jabatan tangan Jongin sambil tersenyum.
"Kita berteman." ucapnya geli. Kemudian jongin dan Kyungsoo tertawa, menertawai tingkah mereka yang mirip dengan anak kecil yang berkelahi kemudian berbaikan. Jongin berjalan mendahului Kyungsoo ke arah pintu keluar, berniat mengajak Chanyeol pulang namun langkahnya terhenti saat melihat ruang makan Kyungsoo telah kosong. Kyungsoo segera menghampiri Jongin yang berdiri dekat meja makannya.
"Ada apa?"
"Kemana dua bocah gila itu?" tanya Jongin sambil menatap ruang makan dengan tatapan datar. Kyungsoo mengikuti arah mata Jongin lalu tertawa. Laki-laki rapi ini, ternyata bisa juga dia mengumpat.
"Mereka pasti sudah keluar saat kita membereskan gelas tadi. Ayo kuantar kau keluar juga." ajak Kyungsoo pada Jongin yang masih berdiri di dekat meja makan.
"Di luar pasti dingin, sebaiknya kau tinggal saja." tolak Jongin halus saat melihat gadis itu sedang memakai jaket abunya.
Gadis dengan cepolnya yang kembali berantakan itu menggeleng. "Tidak apa, lagipula ada Baekhyun di bawah. Aku bisa naik kembali dengannya nanti." gadis itu menaikkan tudung jaketnya sembarangan. "Ayo!"
Jadilah kedua orang yang baru saja 'berteman' itu berjalan keluar flat Kyungsoo. Jongin menunggu Kyungsoo mengunci pintu sambil mengamati suasana di luar flat dan juga jalanan di bawah. Cafe milik Minseok sepertinya sedang bersiap-siap untuk tutup.
"Come on boy." kata Kyungsoo sambil menghampiri Jongin yang telah berdiri di ujung tangga. Pria itu tampak masih mengamati jalanan hingga Kyungsoo berdiri di sampingnya. "Berniat pindah kemari?" gurau Kyungsoo pada Jongin.
Pria itu menampilkan senyumnya. "Jika harga sewanya lebih menjanjikan dibandingkan satu gelas kopi milik Minseok nuna, kupastikan besok barang-barangku telah mengisi satu kamar kosong di sini." balas Jongin membuat Kyungsoo tertawa terbahak.
"Aku tidak bisa menjanjikan hal itu, tuan." Kyungsoo masih tertawa hingga Jongin kembali bicara.
"Aku serius berniat pindah kemari." sela Jongin sambil tetap memperhatikan jalan yang mulai sepi dengan gaya bicaranya yang kembali serius.
Kyungsoo terdiam dan menatap Jongin seolah-olah ia telah mengatakan bahwa monyet jantan dapat melahirkan.
"Yah, setidaknya sampai wanita cantik di depan kamarmu benar-benar pindah ke Jepang. Flat ini cukup strategis dan waktu bekerjaku akan lebih efisien jika aku pindah kemari." laki-laki itu tersenyum santai. Mereka telah sampai di bawah dan melihat Chanyeol sedang membantu Minseok mengangkat sebuah papan di depan cafe.
Kyungsoo menoleh pada Jongin yang masih berjalan tenang di sampingnya. "Kau serius ingin pindah kemari?" dan bertanya kembali dengan nada memastikan. Jongin mengangguk kalem.
"Belum sepenuhnya yakin, aku harus mengurus beberapa hal dulu semacam meminta izin pada ibuku dan menandatangani perbaikan apartemenku yang sekarang." jawab Jongin terkekeh sambil melambaikan tangan pada Minseok yang menyadari kehadiran Jongin dan Kyungsoo.
"Oh lihatlah siapa yang mendapat teman baru." gemas Baekhyun melihat Kyungsoo dan Jongin berjalan bersebelahan. Kyungsoo segera berjalan mendahului Jongin beberapa langkah dan menghampiri Baekhyun. Setelahnya ia terlihat berbisik-bisik dengan wanita mungil cerewet itu.
"Jinjja? Waaah ide bagus! Kyungsoo tidak perlu repot-repot turun ke kamarku tiap malam." ternyata ada wanita lain yang mendengarkan bisik-bisik Kyungsoo dan Baekhyun. Yap, Minseok mendengar dengan jelas apa yang dua gadis tadi bicarakan. "Kuucapkan selamat datang di flat sederhana kami, tuan pelanggan setiaku." kata Minseok sambil mengedipkan matanya pada Jongin yang hanya tertawa sebagai balasannya.
"Ya ya terima kasih ucapan selamat datangnya, dokter muda ini harus segera pulang karena besok pagi ia memiliki jadwal yang padat. Permisi nona-nona." Chanyeol muncul dari dalam cafe sambil mencoba mendorong Jongin masuk ke dalam mobil. Baekhyun menepuk pundak Chanyeol sekilas dan Kyungsoo melambai pada dua pria yang kini telah duduk dengan nyaman dalam mobil.
Jongin membalas lambaian Kyungsoo dan mengangguk pada Minseok yang masih berdiri di sana. Setelahnya mobil berjalan pelan hingga berbelok ke kiri.
Baekhyun dan Kyungsoo berhigh-five ria kemudian berpelukan. Minseok hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua gadis di sebelahnya ini. "Hati-hati, bisa-bisa nanti kau justru jatuh cinta pada tetangga flatmu sendiri Nona Do." nasihatnya sambil lalu. Dua gadis yang masih berpelukan itu kemudian diam dan saling berpandangan.
"Eeeeii, tidak mungkin aku bisa secepat itu jatuh cinta dengan tetangga baruku, lagipula kami baru kenal." ia sukses mendapat raut wajah mengejek dari Baekhyun. "Yang penting aku akan mendapat tetangga baruuu!" Kyungsoo bersorak girang seakan melupakan bahwa barusan Minseok dan Baekhyun meledeknya.
Sejujurnya setelah Jaejoong mengatakan kalau ia akan segera menikah dan pindah ke Jepang, Kyungsoo khawatir bukan main. Sejak pertama pindah ke flat ini, Kyungsoo cukup bergantung pada Jaejoong. Ia bahkan seperti memiliki dua flat sekaligus di gedung ini karena sudah biasa keluar masuk flat Jaejoong. Namun bukan soal ketergantungannya pada Jaejoong yang selama ini ia pikirkan. "Bagaimana nanti jika tetangga baruku seorang pria mesum atau bahkan mungkin saja seorang pengutil atau mungkin seorang pembunuh yang buron." ia bahkan berkata demikian pada semua orang di flat termasuk pada Jaejoong sendiri. Sedangkan Jaejoong hanya dapat memasang wajah tak percaya sekaligus iba pada Kyungsoo.
Jaejoong telah menganggap Kyungsoo bahkan Baekhyun dan Chanyeol seperti adiknya sendiri. Trio ajaib itu yang menemaninya saat sedang ribut dengan Yunho dan Minseok yang menghidangkan secangkir latte hangat di cafe. Ia ingin tetap tinggal tapi mana mungkin ia harus tinggal terpisah dengan Yunho setelah menikah nanti.
Kyungsoo berjalan riang menuju flatnya bersebelahan dengan Baekhyun seolah-olah lupa dengan deadline tulisannya. Ia benar-benar lupa sebenarnya sampai Baekhyun berkata, "Ngomong-ngomong tulisanmu belum beres nona penulis." dengan santai dan tersenyum.
Kebahagiaan sesaat Kyungsoo menguap seketika.
tbc (lagi tanpa waktu yang ditentukan)
makin ngaco dan makin lama apdet dan malah lupa ngelanjutin ceritanya Kaisoo/huft/akhir kata terima kasih sudah membaca, mereview, membaca tanpa review, melike(?) dan mendukung fic nggak jelas ini
sampai ketemu di chapter depan
MUACH!
