In neverland, we have immortal life. But they said neverland is only nonsense. No one belives. But what if neverland is really exist? I mean, what if in this real world, there is some of us that live eternally? They're not vampire. They consider as human. But they indeed have supernatural power. The power that makes they live an immortal life.
They usually called themelves as Immortel
.
.
.
Immortel
NCT
Author : kjsykjkhkdgjjc07
NCT belongs to SM, God, and their family
This story belongs to me
Fantasy, romance, angst
Rated T (Some chapter will be rated as M and I will give the warning before)
.
.
.
Pemuda bersurai hitam itu terbangun sesaat setelah alarm dari ponselnya berbunyi sangat nyaring. Helaan nafas kasar terdengar jelas di pagi yang sunyi. Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di meja kecil di samping tempat tidurnya. Tanpa melihat layar ponselnya, pemuda itu mematikan alarm yang terus berbunyi nyaring. Yang akhirnya berhenti dan membuat keheningan menyelimuti kamarnya. Bahkan cahaya matahari seolah enggan untuk masuk ke dalam kamar itu melalui celah kecil dari tirai yang sedikit tersingkap.
"Kupikir ini sudah kelima kalinya kau mengulur waktu bangunmu. Sudah berapa kali kau menyetel ulang alarm-mu?"
Pemuda bersurai hitam yang hendak menyelimuti tubuhnya kembali dengan selimut tebalnya itu seketika membuka matanya lebar. Pemuda itu sontak terlonjak dan menyibak selimutnya. Iris hitamnya menangkap sosok pemuda lain yang tengah duduk manis di pinggir tempat tidurnya.
"Bagaimana kau bisa masuk kesini?"
Pemuda bersurai hitam lainnya yang masih terduduk santai di pinggir tempat tidur sembari memutar-mutar entah apa di tangannya tersenyum tipis. "Kau lupa apa yang kuceritakan kemarin pagi? Atau semalam? Mengenai kemampuanku?"
Pemuda yang masih terkejut dengan kehadiran sosok lain di kamarnya mengerang pelan.
"Baiklah, Chittaphon-ssi cukup main-mainnya. Berhenti menguntitiku seperti ini." Pemuda itu masih cukup baik untuk mengingat namanya.
"Hei, bukankah sekolahmu mulai jam delapan?"
Pemuda itu tak tahu kenapa sosok yang ia panggil Chittaphon-ssi itu malah mengalihkan pembicaraan. Ia menaikkan satu alisnya dan menatap heran kearah Chittaphon.
"Sekarang sudah jam setengah delapan ngomong-ngomong."
Seketika mata pemuda itu membulat. "Shit." Dan pemuda itu tak menghabiskan waktu lebih lama untuk berdiam diri saja di balik selimutnya. Pemuda itu segera melompat turun dan berlari tergesa-gesa ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
"Tak baik sering mengumpat di usiamu yang masih muda, nak." Namun masih sempat mendengar ucapan Chittaphon. Membuatnya mendesis pelan sebelum melempar tatapan jengah kepada pemuda yang masih duduk manis di pinggir tempat tidurnya.
"Jangan sok tua jika tinggi badanmu saja tak sampai telingaku." Tak lupa menghadiahi sosok yang ia panggil Chittaphon itu dengan bantingan pintu kamar mandinya.
"Aku kan sudah hidup 327 tahun lebih lama dibanding dirimu, anak muda."
.
.
.
Taeyong tak tahu apa yang lebih menyebalkan. Ia yang ketinggalan acara kartun favoritnya di pagi hari –spongebob- atau ia yang kedatangan tamu paling menyebalkan yang menghabiskan sarapan yang ia buat seenaknya.
"Aku tak tahu kau pandai memasak, Yongie. Kalau begini aku akan sering-sering mampir ke rumahmu untuk mencicipi masakanmu."
Taeyong memutar bola matanya. Ia tak bisa melawan Yuta, sosok yang tengah duduk manis di hadapannya di meja makan mini yang berada di dekat dapur. Tak ada cara menghalangi Yuta agar tak datang ke apartmennya. Ia tak bisa mengganti password apartmennya begitu saja. Karena ia sudah mencobanya, tapi nyatanya makhluk paling menyebalkan di dunia itu tetap bisa masuk ke dalam apartmennya.
"Aku bisa mengendalikan apapun dengan pikiranku, Yongie. Membuka kode pintu apartmenmu adalah hal paling mudah yang pernah kulakukan."
Taeyong rasanya ingin melempar pancake yang menjadi menu sarapannya pagi ini ke wajah Yuta saat ia mendengar pemuda itu mengucapkan hal itu dengan santainya.
Dan gara-gara pemuda di hadapannya ini yang enggan pergi dari apartmennya sampai pukul 2 pagi, Taeyong harus kelewatan satu episode spongebob. Awal yang buruk di hari Rabu pagi ini. Padahal masih dua hari menuju weekend dan baru 3 hari weekday yang baru ia lewati, tapi rasanya ini adalah minggu tersial di dalam hidupnya.
"Yongie~ aku haus~"
Taeyong berdecak, "Gerakan saja gelas di rak piring dengan kekuatanmu itu. Kalo bisa sih sekalian buatkan coklat panas untukku."
Yuta tertawa kecil mendengar ucapan Taeyong sebelum mencolek dagunya. Membuat Taeyong berjengit kesal. "Apa-apaan kau?!"
Yuta makin tersenyum lebar. "Kalau kulakukan itu, jangan salahkan aku kalau kau semakin kagum padaku nantinya."
Kagum my ass. Taeyong memutar bola matanya. Ia terlalu sibuk mengumpati Yuta dalam hatinya karena seenaknya menyentuh dagunya tadi. Jika kemarin-kemarin Yuta menyentuhnya, berpegangan tangan, merangkulnya, Taeyong masih bisa mentolerir itu. Tapi jika sudah menyangkut area wajahnya, Taeyong harusnya sudah siap-siap untuk mengasah pisau mumpung mereka berdua berada di dapur.
Duk
Sebuah suara di bawahnya membuat Taeyong menghentikan acara mengumpat Yuta dalam hatinya. Ia menoleh ke bawah dan matanya membulat seketika. Hell, no..
"Tuh kan, sudah kuperingatkan sebelumnya. Kau semakin kagum denganku kan jadinya?"
Selama mengumpati Yuta, Taeyong yakin Yuta masih duduk manis di depannya. Tapi kenapa tiba-tiba sudah ada gelas berisi coklat panas di hadapannya? Dalam waktu kurang dari tiga menit?
Yuta dan kekuatannya yang diluar logika
"Enak sekali jadi dirimu. Bisa bermalas-malasan membuat barang-barang datang kepadamu dengan sendirinya. Aku heran kenapa kau tak kelebihan berat badan. Kukira kerjaanmu hanya tidur-tiduran di depan tv dan tak perlu beranjak dari sana jika membutuhkan sesuatu."
Yuta mendengarkan ucapan Taeyong dengan seksama. Menopang dagunya dengan salah satu telapak tangannya ketika pemuda itu sudah selesai berbicara. "Wow, itu kalimat terpanjangmu yang pernah kudengar."
Pemuda di hadapannya benar-benar membuat Taeyong menumpuk dosa karena terlalu banyak mengumpat. Bahkan ia lebih banyak mengumpat dibanding hari-hari biasanya yang juga dpenuhi dengan mengumpati para fans menyebalkannya.
"Jadi Yongie, kau kan tak ada jadwal kuliah hari ini."
"Aku ada kelas kalkulus siang ini."
"Oh ya? Kupikir Yang ssaem baru saja memberitahu salah satu siswa di kelas kalkulusmu bahwa ia tak bisa datang untuk kuliah siang ini dan akan menggantinya minggu depan di jam yang sama."
Bodohnya Lee Taeyong yang masih saja mencoba berbohong di hadapan Yuta yang tahu segalanya. "Kau pasti mengecek ponselku diam-diam."
"Tak perlu menyentuh ponsel hitammu, Yongie. Aku bisa tahu apapun dengan mudah."
Karena kau immortel. Pasti ia ingin mengatakan itu. Taeyong membuang nafasnya kasar.
"Jadi, bagaimana dengan tawaran kencan di taman pagi ini?"
Mata Taeyong membola. Sialnya Taeyong yang tak memiliki reflek yang cepat untuk mengguyur Yuta dengan coklat panas di hadapannya.
"Bisa tidak sih kau itu pergi dari apartmenku sekarang? Aku harus mengerjakan tugas Algoritma yang harus dikumpulkan besok."
"Oh ayolah Yongie, kau lupa kalau semalam aku sudah mengerjakannya selagi menemanimu memandangi bintang?"
Ingatkan Taeyong kalau pemuda di hadapannya ini, selain menyebalkan tapi juga sangat lancang.
.
.
.
"Hey, bro!" tepukan di pundaknya membuat pemuda bersurai hitam yang sedari tadi berjalan lunglai itu mendongakkan kepalanya. Menatap sosok lain yang tengah tersenyum lebar kearahnya.
"Hey, Lou." Pemuda itu membalasnya dengan sapaan singkat. Sebelum kembali menatap ke bawah dan terus melangkahkan kakinya. Diikuti oleh sosok yang dipanggi Lou itu di sampingnya.
"Kau ini pagi-pagi sudah lemas begitu. Padahal belum mendengar suara si guru killer itu."
Bagaimana tak lemas? Jika mengingat janji bodoh yang baru saja ia buat dengan pemuda bernama Chittaphon itu?
"Shit. Shit. Shit. I'm fucking late!"
"Wow, kiddo. You've already sworn so much today. That's enough, boy."
"Oh, just shut the fuck up! Where's my fucking bag? Shit, I'm forget to pack my books."
"If I'm said that's enough, that's really enough, boy. You should stay still now."
Ia berhenti mengumpat dan berhenti panik sementara ia belum memakai seragamnya dengan benar. Bahkan dasinya belum terpasang dengan benar. Tapi suara penuh penekanan yang keluar dari mulut lawan bicaranya membuatnya diam membatu. Walaupun otaknya berteriak menyuruhnya untuk bergegas karena he's so fucking late, tapi tubuhnya tak bergerak saat sosok yang sedari tadi menjadi lawan bicaranya berjalan mendekat.
"Aku bisa meminta bantuan salah satu temanku untuk memberhentikan waktu hingga kau tak harus terlambat untuk berangkat ke sekolahmu sekarang."
Dahinya mengernyit. "You mean, that's idiot power, what you called them before?"
"Immortel."
"Yeah, what ever. That's what you called immortel can stop the time? What a good joke in this beautiful morning."
Ia yakin harusnya sosok di hadapannya bisa menyadari nada penuh sarkastis yang keluar dari ucapannya.
"Only five minutes left before your lovely school's bell ringing."
Ia melirik jam bekernya yang berdiri manis di meja belajarnya. Shit.
"Okay, maybe this isn't too early to take a good joke. So, can you just tell your friend and fucking stop the time now?"
Sosok di depannya tersenyum tipis. Senyuman yang terlihat seperti seringaian di matanya.
"There's nothing free in this world, kiddo."
Oh.
"Okay, I'll treat you guys later. Just call him already! Only four minutes left!"
Sosok di hadapannya memperlebar seringaian di wajahnya. "Deal. Doyoung, can you stop the time now? This baby wants it so bad."
Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat sesosok pemuda jangkung dengan surai coklat almond yang keluar dari lemari bajunya. Hell, ia tadi barusan membuka lemarinya untuk mengambil seragamnya dan tak ada apapun disana selain baju-bajunya.
"Berhenti berbicara dengan bahasa gibberish, Ten! Aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan!"
Sosok di hadapannya berbicara menggunakan bahasa yang tak asing baginya. Bahasa yang biasanya ibunya gunakan ketika berbiacara dengannya. Hanguk.
"Bisa kau hentikan waktu sekarang, Kim Doyoung yang terhormat? Bocah ini memohon sedari tadi. Dan ia berjanji akan memberikan timbal balik jika kau melakukannya."
Pemuda jangkung itu tampak tak suka dengan cara bicara sosok yang ia panggil Ten. Hey, bukankah Ten itu Chittaphon? Pemuda itu tak pernah memperkenalkan dirinya sebagai Ten padanya.
"Oke, jika ia benar-benar akan memberikan timbal balik."
Pemuda jangkung itu mengangkat tangannya ke udara, lalu menjentikkan jarinya. Jika ini hanya sebuah film sihir yang bodoh, mungkin ia akan tertawa sekencang-kencangnya sekarang. Tapi nyatanya, jarum detik di jam bekernya berhenti bergerak.
Ia buru-buru berlari untuk mencari jam tangannya. Memperhatikan baik-baik jam itu. Jarum detik di jam itu juga berhenti bergerak.
"Wow." Tak ada kata lain yang bisa keluar dari mulutnya sekarang. Jadi, sosok bernama Chittaphon dan temannya itu benar-benar punya kekuatan sihir seperti ini?
"Sekarang, waktunya untuk timbal baliknya, kiddo."
Dan betapa bodohnya ia, yang rela menukar dirinya dengan hanya agar tak terlambat masuk sekolah? Oke, menukar diri terdengar sangat berlebihan. Tapi karena janji bodoh yang ia buat, mau tak mau ia harus ikut sosok bernama Chittaphon itu untuk bertemu dengan komunitas yang ia sebut immortel. Dan itu jauh dari tempatnya berpijak sekarang. Korea Selatan.
Untuk apa ia membela-belakan masuk sekolah hari ini jika nyatanya ia akan diculik ke Negara orang dan bisa tak masuk sekolah berhari-hari lamanya?
.
.
.
"Johnny,"
Pemuda berkacamata yang tengah sibuk dengan buku tebal di hadapannya mengangkat kepalanya saat mendengar suara kursi digeser. Kedua iris coklatnya menangkap sosok bersurai hitam yang membawa buku tebal bersamanya sebelum menaruhnya di meja di hadapannya.
"Untung kau adik tiriku tercinta. Kalau tidak sudah kuapakan kau karena lupa menambahkan hyung setiap memanggilku."
Sosok itu hanya tersenyum tipis sebelum menatap Johnny dengan tatapan serius. Johnny yang tahu bahwa adiknya itu datang untuk urusan yang lebih dari penting melepas kacamata bacanya dan menutup buku yang sedang ia baca.
"Aku sudah membaca semua tentang immortel dari buku yang kau berikan padaku seminggu yang lalu." Adiknya itu mendorong buku tebal yang ia bawa kemari tadi. Membuat pandangan Johnny beralih menatap buku tebal dengan cover yang terlihat usang berwarna coklat tua itu.
"Jadi, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan setelah ini?" Johnny bertanya sembari membuka lembar pertama buku itu. Yang hanya menampilkan tulisan berbunyi immortel pada lembar itu.
"Mencarinya sebelum immortel berhasil membawanya masuk ke dalam komunitasnya kan?"
Johnny tersenyum tipis. Jika dilihat sekilas, senyuman keduanya lah yang membuat mereka terlihat seperti saudara. Meski hanya adik tiri yang hanya memiliki satu gen yang sama dalam darah mereka.
"Mencarinya mungkin akan menjadi tugas termudah bagimu." Johnny membenarkan posisi duduknya. Membiarkan punggungnya menyender pada sandaran kursi di belakangnya. "Tapi mendapatkannya adalah tugas tersulit yang bahkan aku saja tak bisa lakukan."
Sosok di hadapan Johnny tersenyum tipis. Senyuman yang sama persis dengan senyuman yang masih terpasang di wajah kakak tirinya itu. "Maka dari itu tugas itu diberikan padaku, kan? Calon putra kerajaan daemon yang akan menggantikan ayah?"
"Itu karena aku yang menyarankan ayah untuk memberi tugas ini padamu. Kau perlu belajar agar menjadi calon raja kelaknya." Johnny mencondongkan tubuhnya ke arah adiknya. "Karena kau tahu betapa menyebalkannya menjadi seorang raja daemon."
"Wow, hyung. Padahal kukira itu akan seru. Kau bisa menguasai dunia dengan kekuatanmu."
Johnny tertawa. Tawa sarkastik yang jelas dapat ditangkap oleh adiknya. "Mungkin akan menyenangkan jika kau bisa menjadi penguasa. Tapi yang kita bicarakan adalah dunia ini. Dan kau tahu para immortel itu akan melakukan apapun untuk melindungi dunia ini dari tangan daemon seperti kita. Jika kau ingin bersenang-senang secepatnya, kau tahu apa yang harus kau laukan."
Adiknya itu tahu pasti kakaknya itu tak akan memberitahu semuanya tentang bagaimana caranya agar ia lebih cepat mendapatkan tahta raja secepatnya. Johnny sudah menyuruhnya untuk mencari semuanya di perpustakaan. Dan ia sudah mencarinya sejak dua minggu yang lalu. Tapi Johnny menghambat semuanya ketika tiba-tiba seminggu yang lalu Johnny memberikannya buku tentang immortel. Musuh abadi kaum daemon.
"Hyung, apa kau tak bosan hanya menghabiskan waktumu di perpustakaan seperti ini?" yang termuda diantara keduanya menatap bosan rak-rak di sekelilingnya yang dipenuhi oleh buku-buku yang tertata rapih.
"Aku lebih tertarik dengan teori daripada praktik, kau tahu itu dari dulu. Itu lah salah satu alasannya kenapa aku menolak permintaan ayah yang memintaku menjadi penerusnya."
"Ada bagusnya juga sih hyung. Tahta itu kan jadi jatuh ke tanganku."
"Kau lebih pantas mendapatkannya."
"Kau memang yang paling mengertiku, hyung. Haruskah aku bilang aku mencintaimu?"
Johnny memutar bola matanya. "Aku hanya mencintainya. Dan kau tahu itu."
Adiknya memajukan bibirnya. "Sudah seratus tahun lewat loh hyung. Kau belum melupakannya juga."
Johnny tersenyum pahit. "Jika kau pikir immortel adalah makhluk paling berbahaya bagi kita, kurasa manusia lah makhluk paling berbahaya bagiku."
Jika Johnny bisa memilih, mungkin seratus tahun yang lalu, ia tak akan pergi ke dunia manusia dan bertemu dengannya. Sosok yang membuatnya jatuh ke dalam pelukannya dengan mudahnya. Dikelilingi kebahagiaan yang membuatnya tak berhenti tersenyum. Merasakan kehangatan yang berbeda dari bagaimana yang keluarganya berikan. Hanya untuk dihadapkan pada kenyataan bahwa kebahagiaan yang ia dapat hanya sesaat.
Karena ia jatuh cinta pada manusia. Dan artinya ia tak bisa merasakan cintanya itu selamanya. Ia tak bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Karena setiap manusia akan mati pada akhirnya. Tak sepertinya yang seorang daemon, atau musuh abadi mereka, immortel. Akan lebih mudah baginya jika ia jatuh cinta pada salah satu dari immortel. Meskipun terdengar mustahil karena kenyataan yang ia dapat adalah daemon dan immortel tak pernah bersatu.
"Hyung, aku pergi dulu ya. Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Lanjutkan membaca bukunya, hyung. Bye!"
Johnny menatap punggung adiknya yang berjalan menjauh. Sebelum menghela nafasnya panjang. Matanya menangkap buku immortel yang ditinggalkan adiknya bersamanya.
Tampaknya Johnny harus menghentikan bacaan yang ia tadi baca sejenak untuk memulai bacaan baru baginya. Tampaknya ia melewatkan beberapa bagian penting dari buku immortel itu. Bagian penting yang mungkin bisa menjadi kunci bagaimana untuk mendapatkan apa yang daemon butuhkan untuk mengambil alih dunia dari tangan immortel.
.
.
.
Taeyong tak tahu Yuta kekanakan. Bagaimana tidak, pemuda yang mengaku sudah berumur 345 tahun itu asik bermain bola dengan kumpulan bocah berusia 10 tahun di taman. Dari postur tubuh saja para bocah itu jelas kalah telak dengan postur tubuh dewasa Yuta. Dan tampaknya ego Yuta juga tak mau mengalah meski lawannya adalah bocah berusia 10 tahun.
Harusnya Taeyong kabur saja meninggalkan Yuta di taman. Apa-apaan pemuda itu. Setelah mengatakan akan mengajaknya keluar untuk mencari udara segar (setelah Taeyong menolak mengatakan bahwa itu kencan), sekarang pemuda itu asik sendiri dan mengacuhkan Taeyong yang memilih duduk di bawah pohon rindang di dekat lapangan sepak bola.
"Taeyong hyung?"
Taeyong mengalihkan pandangannya dari Yuta yang tengah melakukan selebrasi berlebihannya setelah mencuri bola dari bocah berusia 10 tahun dan menendang cukup kencang ke arah gawang yang dijaga oleh bocah berumur sama yang hampir saja menangis karena bola itu hampir mengenai wajahnya. Tentu tak lupa sebelum menyumpah serapahi Yuta yang tak tahu diri. Walaupun dingin dengan semua orang, Taeyong tetap memiliki sisi lemah terhadap anak-anak.
"Jaehyun?" Taeyong tak sadar bahwa yang memanggilnya itu adalah adik tingkat beda jurusan di kampusnya itu. Adik tingkat yang dua hari lalu duduk di bangku kantin bersamanya.
"Aku tak tahu kau senang ke taman ini hyung."
Taeyong mendesah pelan. Apanya yang suka. Lebih baik aku menonton re-run spongebob di tv daripada duduk disini melihat si Nakamoto bodoh.
"Kau kesini sendiri hyung?"
"Aku kesini-" Taeyong melirik Yuta yang tampaknya masih tak menunjukkan tanda-tanda menyadari kehadirannya. "sendiri. Hanya mencari udara segar." Jaehyun tak perlu tahu ia datang kesini bersama pemuda aneh yang bisa dikatagorikan gila.
Jaehyun tersenyum sebelum terkekeh pelan. Senyuman Jaehyun yang menampilkan lesung pipinya itu kembali menyita perhatian Taeyong. Ia harap ia bisa melihat senyuman itu setiap harinya untuk menenangkannya.
What, apa yang kau pikirkan Lee Taeyong?!
"Kau sendiri? Aku tak melihat siapa-siapa bersamamu."
"Ini tempat favoritku, hyung. Maksudku, di bawah pohon ini. Aku sering kemari untuk menyelesaikan gambarku."
"Gambar?" Taeyong menangkap sebuah sketchbook di tangan Jaehyun. "Kau pandai menggambar?"
Jaehyun lagi-lagi terkekeh pelan. Entah kenapa jantungnya berdebar ketika suara tawa Jaehyun menggema di indera pendengarannya. "Hanya sekedar hobi, hyung. Oh ya, bagaimana kalau aku menggambarmu?"
"Huh?"
"Sebenarnya biasanya aku hanya menggambar sesuai dengan imajinasiku saja. Tapi kalau ada model yang begitu sempurna di dekatmu, kenapa tak dimanfaatkan?"
Pipi Taeyong mendadak panas mendengar ucapan Jaehyun. Apa Jaehyun baru saja menggombalinya? Ah, pasti Taeyong salah tangkap. Iya, pasti itu.
"A-aku harus berpose begitu?"
Jaehyun menggelengkan kepalanya sebelum tersenyum. "Lakukan apapun senyamanmu, hyung. Kau boleh bergerak. Aku tak mau membuatmu kram karena terlalu lama diam melakukan satu gerakan seperti apa yang mereka lakukan di kelas seni."
"Kalau gambarmu jelek jangan harap aku mau berbicara lagi denganmu." Jaehyun tak bisa tersenyum lebih lebar lagi setelah mendengar jawaban Taeyong. Secara tak langsung, kakak tingkatnya ini mengizinkannya untuk menggambar dirinya.
"Deal, hyung."
Taeyong tak bisa terus-menerus menatap mata Jaehyun. Bagaimana kalau Jaehyun menangkap rona merah di wajahnya dan menuangkannya dalam kertas putih di buku sketchbook-nya? Pemuda bersurai coklat itu memilih mengalihkan pandangannya. Dan entah kenapa matanya harus menangkap sosok Yuta di tengah lapangan bola. Tapi rasanya Taeyong harus bersyukur ia mengalihkan pandangannya pada saat yang tepat.
Karena, bagaimana mungkin ia ingin melewatkan kejadian dimana Nakamoto Yuta, pemuda yang mengaku bisa menggerakkan apa saja dengan pikirannya tak bisa menjaga keseimbagannya karena sebuah bola di kakinya dan terjatuh terjerembab di tanah?
Bahkan tanpa sadar Taeyong tertawa. Membuat tulang pipinya berkerja lebih ekstra dibanding membentuk sebuah senyuman seperti dua hari yang lalu saat ia bertemu dengan Jaehyun. Tawa yang terdengar aneh mungkin di telinga orang lain. Mungkin efek karena Taeyong yang sudah lama tak tertawa.
Tapi bagi Jaehyun, Taeyong yang tengah tertawa seperti sekarang adalah objek terindah yang pernah ia temukan. Meski tawanya terkesan kaku, tapi Jaehyun tak melewatkan kesempatan ini untuk mengabadikan momen itu di atas kertas putih yang kini mulai dipenuhi dengan goresan-goresan dari pensilnya.
Taeyong yang tiba-tiba memutar bola matanya karena melihat Yuta yang bertingkah bodoh. Taeyong yang mengumpat pelan saat Yuta menggunakan kekuatannya untuk merebut bola dari kaki bocah yang hanya berumur 10 tahun (Yuta benar-benar seorang pecundang, by : Lee Taeyong). Taeyong yang tertawa saat Yuta melakukan selebrasi bodohnya dengan salto di tengah lapangan dan mendarat tak sempurna hingga bokongnya bertemu dengan kerasnya aspal lapangan. Taeyong yang menggigit bibirnya, menahan dirinya untuk tak tertawa (cukup baginya tertawa dua kali hari ini) ketika melihat bola yang ditendang salah satu bocah itu mengenai wajah Yuta dan membuat pemuda itu terjengkang ke belakang.
Telekinesis, what? Kenapa pemuda telekinesis itu tak mengubah haluan bola ketika tahu bola itu akan mengenainya? Dasar, kadang-kadang pemuda yang penuh percaya diri itu bisa terlihat bodoh seperti ini.
Seketika Taeyong tersadar. Ia kan sedang digambar oleh Jaehyun. Kenapa ia malah banyak bergerak dan mengganti ekspresi wajahnya? Kalau hasilnya jelek bagaimana? Ia tak bisa mengobrol dengan Jaehyun lagi gitu?
Taeyong merutuki dirinya yang mulai berpikiran aneh. Kenapa Jaehyun bisa membuatnya menjadi seperti ini sih?
"Hyung, kau mau melihat hasil menggambarku selama 10 menit?"
Taeyong menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Jaehyun. "Secepat itu?"
Jaehyun yang mendekap sketchbook-nya erat ke dadanya tersenyum sebelum mengangguk cepat.
"Coba perlihatkan."
"Tapi hyung jangan terkejut ya."
Mata Taeyong memicing. "Jung Jaehyun, aku benar-benar tak akan mau berbicara denganmu lagi kalau hasilnya parah."
Jaehyun tertawa kecil sebelum menggerakkan tangannya untuk mengusak surai coklat milik Taeyong. Membuat pemuda yang lebih tua membatu seketika. Panas seketika menjalar ke seluruh tubuhnya hingga ke wajahnya. Taeyong buru-buru menundukkan wajahnya, takut panas yang menyebar itu menyebabkan kedua pipinya merona parah.
"Kurasa setelah ini kau akan terkagum-kagum hyung. Melihat ciptaan Tuhan yang sempurna seperti kau."
Taeyong harus menghentikan Jaehyun sebelum pemuda itu membuatnya lebih parah. Tapi saat Taeyong akan membuka mulutnya, tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya hingga tubuhnya mengikuti arah tarikan itu dan mau tak mau berdiri. Saat ia menoleh, bisa ia lihat Yuta berada di dekatnya dengan wajah yang penuh dengan keringat.
"Yongie~ Aku haus~"
Taeyong memutar bola matanya. Kenapa Yuta selalu muncul dan mengganggunya dan Jaehyun di saat momen yang tak tepat sih?
"Aku tak bawa minum. Beli sana."
"Tapi aku lapar juga. Kau harus menemaniku makan di kedai yang kita lewati saat kemari tadi."
"Aku belum lapar. Pergi saja sendiri."
Yuta mengerang pelan sebelum melirik Jaehyun yang tampaknya kebingungan dengan kedatangan Yuta yang tiba-tiba menarik tangan Taeyong.
"Hyung, kau bilang kau kesini sendiri?"
Sial. Taeyong lupa kalau ia tadi berbohong pada Jaehyun dan tak mengatakan kalau ia kemari bersama Yuta.
"Kau siapa?" Yuta tiba-tiba memotong Taeyong. Membuat Taeyong mendelik sebal kearahnya. Haruskah Taeyong ingatkan kalau Jaehyun adalah pemuda yang ingin Yuta tinju dua hari yang lalu hanya Karena makan bersama Taeyong saat itu? Kenapa ia jadi pura-pura tak tahu begitu.
"Ah, maaf mengganggu kalian berdua. Biarkan aku memperkenalkan diri." Jaehyun berdiri dan membungkukkan badannya sedikit. "Aku Jung Jaehyun, adik tingkat Taeyong hyung di kampus. Yah, meski jurusan kami berbeda. Jung Jaehyun, semester 3 mahasiswa kedokteran di Seoul University."
Jaehyun mengulurkan tangannya kepada Yuta. Yuta menatapnya beberapa saat sebelum menyambutnya ketika Jaehyun sudah hampir menarik kembali tangannya. "Nakamoto Yuta."
Sopan sekali, kau Nakamoto Yuta. Taeyong melirik sebal Yuta. Seolah lupa biasanya ia yang dingin kepada orang bahkan lebih dingin daripada yang Yuta lakukan sekarang.
"Ayo pergi, Yongie." Yuta menarik tangan Taeyong. Tapi pemuda itu tak bergeming dan tetap di tempatnya.
"Yongie." Taeyong cukup terkejut ketika nada bicara Yuta memberat. Bahkan Taeyong tak tahan untuk menatap dua iris hitam milik Yuta yang menatapnya tajam dan buru-buru mengalihkan pandangannya pada Jaehyun. Yang tampak berdiri tak nyaman diantara ia dan Yuta.
"Jaehyun, maaf sepertinya aku harus pergi."
Jaehyun tersenyum paham. Tapi tangannya bergerak untuk merobek satu kertas dari sketchbook miliknya dan menggulung kertas itu. "Bawa ini bersamamu, hyung." Dan memberikannya pada Taeyong.
Taeyong menerimanya dengan cepat karena Yuta sudah menarik tangannya atau lebih tepatnya menyeretnya untuk segera menjauh dari Jaehyun. Taeyong sekali lagi melempar pandangan bersalah pada Jaehyun yang hanya tersenyum maklum. Bahkan masih mau untuk melambaikan tangannya ke arahnya.
"Kau jangan terlalu dekat dengan manusia, Taeyong." Mendengar Yuta berbicara mendadak membuat kekesalan Taeyong yang sempat hilang muncul kembali. Ia segera menghempaskan tangannya agar terlepas dari genggaman Yuta.
"Kau itu apa-apaan sih? Tak senang aku mempunyai teman?"
Yuta menghentikan langkahnya membuat Taeyong ikut menghentikan langkahnya. Yuta membuang nafasnya kasar sebelum memutar tubuh Taeyong agar menatapnya.
"Ingat Taeyong, kau itu immortel. Kita hidup abadi. Kau itu abadi di dunia ini. Tapi tidak dengan manusia. Kalau kau dekat dengan mereka, pada akhirnya kau hanya akan kehilangan mereka."
Taeyong terkejut mendengar ucapan Yuta. Ia yang anggota immortel dan akan hidup abadi. Ia yang tak boleh bergaul dengan manusia karena akan kehilangan mereka.
"Persetan dengan immortel, Nakamoto Yuta! Aku muak dengan omong kosongmu. Dan jangan ikuti aku ataupun muncul di hadapanku lagi setelah ini."
Taeyong menatap tajam kearah Yuta untuk terakhir kalinya sebelum melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Yuta.
Apapun itu immortel, Taeyong tetap benci keabadian. Iya benci kenyataan bahwa ia akan hidup abadi di dunia ini..
.
.
.
TBC
