In neverland, we have immortal life. But they said neverland is only nonsense. No one belives. But what if neverland is really exist? I mean, what if in this real world, there is some of us that live eternally? They're not vampire. They consider as human. But they indeed have supernatural power. The power that makes them live an immortal life.
They usually called themelves as Immortel
.
.
.
Immortel
NCT
Author : kjsykjkhkdgjjc07
NCT belongs to SM, God, and their family
This story belongs to me
Fantasy, romance, angst
Rated T (Some chapter will be rated as M and I will give the warning before)
.
.
.
Ten tersenyum pada dua orang yang berdiri di depan pintu besi yang tertutup dan dipenuhi rantai serta beberapa gembok besar yang mengunci rapat pintu itu.
"Hei, Hansol, Donghyuck." Ten menyapa dua orang itu. Sementara Doyoung yang sedari tadi berdiri di belakang Ten sudah berlari menghampiri salah satu sosok yang berpostur lebih pendek dari yang lain dan menjitak kepala sosok itu.
"Kenapa kau diluar sini, huh? Ini bukan tempat untuk bocah sepertimu!"
Sosok yang baru saja mendapat hadiah berupa jitakan dari Doyoung tentu tak terima dan segera meloloskan diri dari tangan sang kakak yang siap menggapainya kapan saja.
"Oh ayolah hyung, kau tidak seru! Aku bosan berdiam diri di dalam bundaran besi ini."
Bundaran besi. Apa yang ia ucapkan tak sepenuhnya salah. Bangunan besar yang keseluruhannya dilapisi besi itu memang berbentuk seperti sebuah bola raksasa yang dibelah dua.
"Sudahlah Doyoung, aku yang menyuruhnya untuk keluar kok." Akhirnya sosok jangkung berambut blonde yang terdiam sedari tadi angkat bicara.
"Kenapa?" Doyoung melirik sosok jangkung itu meminta pertanggung jawaban. Adiknya yang masih tergolong di bawah umur, dan masih memiliki lingkaran pelindung yang membuatnya tak bisa berada jauh-jauh dari bundaran besi itu, tiba-tiba seenaknya dibawa keluar oleh si sosok jangkung.
"Untuk menyambut teman sebayanya lah. Apa lagi." sosok jangkung itu melirik sosok pemuda yang sedari tadi hanya berdiri di samping Ten dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Woah!"
"Ya Kim Donghyuck!" Doyoung tak bisa meraih tubuh adiknya saat adiknya itu berlari untuk menghampiri sosok yang berdiri penuh kebingungan di samping Ten.
"Woah.. Jadi seperti ini wujud manusia?" sosok itu mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Donghyuck. Makin tak paham kenapa sosok yang dipanggil Donghyuck oleh Doyoung itu seolah baru pertama kali melihat yang seperti dirinya. Padahal jika dilihat-lihat, ia tak ada bedanya dengan Donghyuck sendiri.
"Dia bukan manusia, Donghyuck. Ia akan mulai menjadi bagian dari immortel mulai hari ini." Ten akhirnya kembali membuka suaranya. Ia berjalan untuk berdiri diantara Donghyuck dan sosok yang ia bawa itu.
"Chittaphon-ssi, b-but." Sosok itu hendak berbicara tetapi tangan Ten yang terangkat mengisyaratkannya untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Biar kutunjukkan padamu seperti apa dunia immortel. Setelah itu aku yakin kau tak akan ragu untuk bergabung bersama kami."
Sosok itu mengigit bibir bawahnya. Ia tak tahu harus berapa lama ia disini. Bagaimana jika ibunya kelabakan mencarinya yang tak kunjung kembali dari sekolah?
"Hansol, bisa kau bukakan gerbangnya?"
Sosok jangkung yang berdiri di sebelah Doyoung itu mengangguk singkat sebelum tangannya menyentuh pintu besi itu. Gembok-gembok besar yang mengunci rantai di sekeliling pintu itu seketika terbuka. Rantai-rantai itu bergerak hingga terjatuh ke tanah. Perlahan, pintu besi itu terbuka. Membuat secercah cahaya menyeruak dari balik pintu itu.
"Tutup matamu jika terlalu silau. Dunia manusia terlihat jauh lebih gelap dibanding dunia kami." Donghyuck meraih tangan sosok di sampingnya yang sedari tadi sudah mengalihkan wajahnya saat cahaya itu menusuk matanya. "Aku akan menuntunmu masuk."
Pemuda bersurai hitam itu hanya menganggukkan kepalanya sebelum mengikuti tangan yang menariknya dengan mata yang tertutup. Dalam hatinya ia terus berdoa agar ia tak tersandung rantai besi yang tadi terjatuh di tanah saat berjalan dengan mata tertutup seperti ini.
"Kau boleh membuka matamu sekarang." Donghyuck yang masih menggenggam tangannya sedari tadi berbisik padanya. Membuatnya dengan perlahan membuka matanya.
"Holy shit.." ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat kedua matanya terbuka sempurna.
"Welcome to immortel world, Mark Lee"
.
.
.
"Kukira kau sedang berada di dunia manusia dan bergaul dengan makhluk-makhluk membosankan itu disana."
Sebuah suara mengejutkan Hanbin yang sedari tadi hanya menatap para daemon berlalu lalang. Pemuda yang baru saja mengecat kembali rambutnya menjadi warna hitam itu menoleh untuk menatap si pemilik suara. Meski ia tahu siapa yang tengah berbicara dengannya tanpa melihat si pemilik suara.
"Katakan itu pada Bobby yang senang menggoda para wanita di dunia manusia. Jika kau ikut, mungkin kau akan tergoda dengan para manusia itu seperti Bobby. Atau bahkan meniduri mereka, Junhoe."
Junhoe, sosok itu tersenyum tipis. Ia mendudukkan dirinya di samping Hanbin sebelum tertawa. Tawa yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Hanbin. Tawa khas sahabatnya yang selalu terdengar penuh dengan nada meremehkan.
"Kau kira aku Johnny yang akan dengan mudah terpikat dengan salah satu manusia itu?"
Hanbin memutar bola matanya sebelum mendorong pelan tubuhnya hingga punggungnya bersandar pada dinding besi yang dingin di belakangnya. Sangat bertolak belakang dengan suasana panas yang menyelimuti dunia daemon yang penuh dengan kobaran api dimana-mana.
"Hati-hati jika berbicara tentang putra kerajaan, Junhoe."
Kali ini giliran Junhoe yang memutar bola matanya. "Kupikir berbicara kebenaran tentang sahabatmu sendiri bukan sebuah kesalahan. Lagipula, kita ini daemon, Hanbin. Bukankah kita senang melakukan kesalahan?"
"Ngomong-ngomong, tumben kau tak bersama Jinhwan."
"Ia sibuk membantu Yunhyeong mengurus sesuatu di markas utama. Padahal sudah ada Donghyuk dan Chanwoo disana."
Hanbin mencibir. "Segitu tak relanya ditinggal kekasihmu."
"Sudah kubilang aku dan Jinhwan bukan kekasih."
"Terserah kau saja. Sikap kalian berdua menunjukkan kebalikannya kok."
Junhoe tersenyum tipis sebelum mendekatkan tubuhnya kearah Hanbin. Berbisik di telinga sahabatnya itu. "Kau iri, kan? Bobby-mu mengabaikanmu disini begitu saja sementara ia bersenang-senang di dunia manusia? Atau seperti yang kau bilang, meniduri beberapa perempuan atau bahkan lelaki disana."
Rahang Hanbin mengeras mendengar ucapan Junhoe. Tangannya bahkan sudah bergerak untuk mendorong tubuh Junhoe agar menjauh dari dirinya. Kobaran api mendadak mucul dari dua bola matanya. Menandakan bahwa emosi Hanbin dalam keadaan tak bisa dikontrol.
"Untuk apa mempertahankan hubungan seperti itu? Membohongi diri sendiri? Kau sendiri tahu Bobby hanya bermain-main denganmu."
Tapi tampaknya Junhoe lebih senang jika ia semakin menyulut emosi Hanbin.
"Kau tahu apa, Goo Junhoe.." Hanbin mendesis. Sekuat mungkin menahan amarahnya agar tak meledak dan membakar benda-benda di sekitarnya.
"Aku tahu banyak yang tak kau ketahui, Kim Hanbin." Junhoe tersenyum sinis sebelum menarik Hanbin hingga dada pemuda bersurai merah itu menabrak dada bidang miliknya. "Aku bisa mengajarkanmu untuk membalas dendam. Membuat Bobby balik merasakan apa yang kau rasakan." Dan berbisik pelan di telinga kanan Hanbin.
Hanbin terdiam seketika meski nafasnya masih tersenggal-senggal akibat ia yang masih mencoba mengontrol emosinya.
Ia membalaskan dendamnya pada Bobby? Apakah ia bisa sementara ia masih sangat menyayangi daemon paling brengsek yang pernah ia temui dalam hidupnya itu?
.
.
.
"Kalau aku tahu dunia kalian seperti ini, aku tak akan memandang Chittaphon-ssi dengan tatapan aneh seolah ia orang gila."
Mark, pemuda bersurai hitam itu tengah berdiri di balkon markas utama immortel. Dari atas sini, ia bisa melihat bagaimana para immortel yang berpenampilan layaknya seperti manusia melakukan berbagai macam aktivitas.
"Heol, bahkan kalian menggunakan scooter yang bisa melayang di udara untuk pergi kemana-mana! Apa kau yakin ini masih abad 21?"
Donghyuck yang sedari tadi hanya berdiri di samping Mark, menemani pemuda itu untuk berkeliling dunia immortel tertawa pelan. Namun tetap menarik perhatian Mark yang sekarang menatapnya dengan satu alis yang terangkat.
"Kukira di dunia manusia lebih mengesankan daripada disini."
"Kau bercanda. Di dunia manusia mana ada yang bisa berpindah kemana saja sesukamu hanya dalam kedipan mata? Mana ada yang bisa berada di dua tempat bersamaan seperti Chittaphon-ssi? Dan mana ada yang seperti Doyoung-ssi yang bisa memanipulasi waktu?"
Donghyuck mengulum senyumnya. Betapa polosnya pemuda di sampingnya ini. "Ada kok. Kalau kau melihatnya dengan seksama, banyak immortel yang berkeliaran di duniamu. Termasuk kau."
"Aku benar-benar tak sabar untuk tahu kekuatan apa yang kumiliki. Tapi kurasa aku suka ide tentang berpindah-pindah tempat dalam waktu sekejap."
"Teleportation."
"Seperti yang Hansol-ssi lakukan! Dia begitu keren saat pindah begitu saja dari tangga lantai delapan ke tempat kita menunggunya di lantai satu tadi."
Donghyuck membiarkan Mark larut lebih lama dalam kegiatannya memperhatikan para immortel lain. Dalam hatinya, ia ragu untuk mengatakan sesuatu pada pemuda yang baru ia temui beberapa jam lalu itu.
"Uhm, Mark." setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Donghyuck memutuskan untuk mengatakannya.
"Hmm?" Mark menyahutinya, namun tak melirik sedikit pun ke arah Donghyuck. Membuat pemuda bermarga Kim itu memajukan bibirnya.
"Tenang saja, Mark. Hansol hyung sedang mengurus bagaimana agar kau tetap berada di dunia manusia dan beraktivitas layaknya Mark yang biasanya sementara kau berada disini."
Ucapan Donghyuck kali ini sukses membuat Mark mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang mengaku beberapa bulan lebih muda darinya itu. Mark tak bisa menutupi keterkejutannya. Bahkan ia membiarkan mulutnya terbuka lebar dengan kedua bola matanya yang membentuk lingkaran sempurna saat menatap Donghyuck.
"K-kau.. bisa membaca pikiranku?"
Donghyuck tersenyum lebar. Senyuman yang menunjukkan kebanggaan yang membuncah di dadanya. Akhirnya. Batinnya. Ia sudah menunggu-nunggu saat Mark akan menyadari kemampuannya.
"Kim Donghyuck, mind reader. Kau bisa mengingatnya dari sekarang, Mark."
Mark menelan ludahnya sebelum mengalihkan pandangannya dan berpura-pura kembali memperhatikan para immortel.
"Kau tak perlu takut aku akan membaca semua pikiranmu, Mark. Aku masih tahu privasi seseorang kok."
Shit. Rasanya Mark harus mulai belajar bagaimana mengosongkan pikirannya saat berbicara dengan Donghyuck.
Sudah dua jam lebih Mark berada di dunia immortel. Immortel. Komunitas yang Mark kira hanyalah berisi anak-anak penggemar Harry Potter yang mereka kira nyata. Atau mungkin penggemar film-film science-fiction yang menganggap kekuatan supernatural itu nyata. Namun nyatanya, immortel bukan hanya sekedar komunitas yang memiliki tempat seadanya untuk berkumpul. Immortel memiliki dunia di balik bundaran besi yang terlihat cukup besar. Namun saat kau memasukinya, kau akan dibawa ke dalam dunia yang luasnya bahkan entah berujung dimana. Seperti kau berada dalam duplikat bumi.
Dan bagi Mark, mengetahui banyak immortel yang menggunakan kekuatan mereka saat beraktivitas benar-benar mengesankan. Seperti saat Ten yang menemani Hansol ke lantai delapan untuk melakukan entah apa, sementara Ten tetap ada bersamanya, Donghyuck dan Doyoung mengelilingi lantai dasar markas utama immortel.
Atau seperti Doyoung yang menghentikan waktu saat ia tak sengaja menyenggol sebuah vas besar dan hampir memecahkannya. Tampaknya ia berhutang dua kali pada Doyoung. Mana mungkin Mark memecahkan barang yang terlihat berharga di tempat asing yang ia tak tahu bagaimana dalamnya?
Dan seperti yang baru saja Donghyuck lakukan. Membaca apa yang sedari tadi Mark pikirkan. Meski matanya tertuju pada para immortel yang lalu lalang, tapi pikirannya mengkhawatirkan bagaimana nasibnya di dunia manusia nantinya.
"Mark," tampaknya sering mendengar suara Ten membuat Mark hapal dengan suara pemuda yang selama dua hari menguntitinya itu. Mark segera memutar badannya dan menemukan Ten tengah berdiri di depan pintu balkon tempatnya dan Donghyuck berada.
"bisa ikut aku ke laboratorium Hansol?" Mark hanya mengangguk saat Ten mengisyaratkannya langsung untuk mengikutinya. Namun ia menghentikan langkahnya yang baru berjalan beberapa langkah saat sadar Donghyuck tak ikut di sampingnya.
"Kau tak ikut?" Mark bertanya pada Donghyuck yang entah sejak kapan memajukan bibirnya.
"Ten hyung menyuruhku untuk kembali ke sekolah."
Mark mengerjapkan matanya. Berpikir keras kenapa ia tak mendengar Ten mengucapkan apa-apa pada Donghyuck. Sebelum merutuki betapa bodohnya dirinya yang melupakan sesuatu. Namun tampaknya Donghyuck mendahuluinya untuk mentertawakan kebodohannya.
"Aku kan menyuruhmu untuk mengingatnya baik-baik, Mark Lee."
Mark meringis kecil sebelum membalikkan badannya. Mempercepat langkahnya saat sadar Ten sudah cukup jauh di depannya. Ia benar-benar harus hati-hati jika berada di dekat Donghyuck. Kalau Donghyuck tahu rahasia terbesarnya –seperti ia yang menyukai Pikachu, bagaimana?
Mark memilih untuk melupakan kebodohannya sesaat saat ia mengikuti Ten memasuki sebuah ruangan kaca yang berisi tabung-tabung dan beberapa cairan warna-warni di dalamnya. Mark tahu persis jika di dunia manusia, ia sedang berada di laboratorium Kimia.
"Mark, minumlah ini." Ia terkejut saat Hansol tiba-tiba muncul di hadapannya. Tak sadar bahwa pemuda blonde di hadapannya ini baru saja berteleportasi dari tempatnya berdiri di sisi paling kanan laboratorium untuk berdiri di depannya.
Mark menatap botol berisi cairan berwarna ungu di tangan Hansol. Dahinya mengernyit. Melihat warnanya saja sudah membuat Mark bisa menebak seperti apa rasanya.
"Tak seburuk yang kau kira, kok. Minumlah." Dengan ragu Mark mengambil botol di tangan Hansol. Ia melirik Ten sekilas yang hanya menatapnya dalam diam. Dan saat ia beralih menatap pada Hansol, senyuman dari pemuda jangkung itu membuat Mark yakin bahwa minuman di tangannya aman. Entahlah, Hansol yang tersenyum bisa membuatnya yakin bahwa pemuda itu tak mungkin membahayakannya.
Mark menenggak cairan dalam botol kaca yang Hansol berikan. Lidahnya tak mengecap rasa apa-apa saat cairan itu melewatinya dan masuk ke kerongkongannya. Bahkan saat cairan itu habis, ia tak bisa mengecap rasa apapun dari cairan itu. Bahkan ia merasa seolah tak memasukkan apa-apa ke dalam mulutnya. Tapi botol di tangannya sudah kosong.
Tiba-tiba tubuhnya terasa aneh. Hansol dan Ten yang berdiri di hadapannya terlihat berbayang ketika penglihatannya mendadak buram. Bahkan ia melihat ada dua Hansol dan Ten di hadapannya. Kalau itu Ten, Mark tidak akan bertanya-tanya. Tapi kalau Hansol, ia tak tahu Hansol bisa membagi dua tubuhnya seperti yang Ten lakukan.
"Lihatlah ke sampingmu, Mark."
Mark mengerjapkan matanya sesaat ketika akhirnya kembali melihat satu Hansol dan satu Ten di depannya. Ia pun mengikuti perintah Hansol untuk melihat ke sampingnya.
"Holy shit.." Mark tampaknya tak bisa menghilangkan kebiasaan mengumpatnya meski Ten sudah memperingatkannya berkali-kali. Tapi bagaimana kau tak mengumpat ketika melihat ada sosok lain yang berdiri di hadapanmu sekarang, dan sosok itu mengenakan pakaian yang sama, sepatu yang sama, bahkan ekspresi yang sama denganmu?
"Kalian tak bilang aku punya kemampuan seperti Chittaphon-ssi?!" membagi dirinya menjadi dua.
Terdengar suara Hansol yang tertawa. "Bukan, Mark. Kau tak memiliki kemampuan bilocation. Tidak permanen, mungkin. Karena cairan yang kau minum tadi lah yang membuatmu memiliki kemampuan bilocation secara sementara."
Alis Mark terangkat saat ia menatap pemuda blonde di depannya. "Jadi?"
"Yang di hadapanmu akan dibawa Ten ke duniamu. Maksudku, dunia manusia. Ia akan menjadi dirimu, beraktivitas layaknya seperti kau yang biasa dan tak menimbulkan kecurigaan siapa pun karena kau yang mendadak hilang. Doyoung akan bantu memutar waktu untuk kembali ke waktu dimana Ten membawamu kemari. Dan kau tak perlu khawatir, karena duplikatmu ini lah yang akan menggantikanmu selama kau berada disini dan mempelajari banyak hal yang tak kau ketahui."
Mark tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya membiarkan mulutnya terbuka lebar saat Ten dan 'ia yang lain' berjalan menjauh darinya dan Hansol.
"Nah Mark, kurasa kau harus ikut denganku untuk mengurus segala kebutuhanmu disini."
Karena terlalu bingung, Mark menurut saja saat Hansol menarik tangannya. Beruntung pemuda jangkung itu menuntunnya. Rasanya Mark tak bisa berjalan dengan benar setelah begitu banyak kejadian yang diluar nalarnya terjadi di depan matanya dalam waktu kurang dari tiga jam.
.
.
.
Taeyong terbangun saat merasakan cahaya matahari yang masuk melalui tirai kamarnya menusuk matanya. Ia mengerang pelan. Seingatnya malam tadi ia sudah menutup rapat tirainya. Kenapa cahaya matahari masih bisa masuk ke dalam kamarnya?
Sialan, pasti kerjaan si Nakamoto itu. Taeyong menyibakkan selimutnya dengan kasar dan menatap jengah ke arah jendela. Seperti yang ia lakukan kemarin, atau dua hari yang lalu setiap pagi saat ia menemukan Yuta yang mengganggu tidurnya di pagi hari.
Namun tatapan jengah itu berubah seketika menjadi tatapan bingung saat ia tak menemukan siapa pun di dekat jendelanya. Padahal tirainya terbuka sedikit yang membuat cahaya matahari membangunkan tidur tampannya itu. Biasanya ia akan menemukan Yuta tengah tersenyum bodoh ke arahnya dan ia yang menghadiahi lembaran boneka spongebob kesayangannya ke arah pemuda itu.
"Jangan bilang kalau ia sudah lancang mengacak-ngacak apartmenku." Taeyong segera melompat turun dari tempat tidurnya ketika pemikiran tentang Yuta yang berkeliaran di apartemennya muncul di benaknya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika pemuda itu seenaknya berkeliaran di apartemennya apalagi menyentuh dapur tercintanya. Atau mungkin mencuri beberapa makanan darurat yang ia simpan. Ia akan benar-benar membunuh Yuta kalau ia berani menyentuh stok makanannya. Tak peduli dengan Yuta yang mengatakan bahwa ia makhluk immortel yang hidup abadi.
Taeyong keluar dari kamarnya dan mengecek ruang tengah adalah hal pertama yang ia lakukan. Ia ingat bagaimana Yuta kemarin dengan seenaknya tiduran di sofanya dengan tv yang menyala pada volume maksimal saat ditinggal mandi olehnya. Membuat tetangga apartemennya datang dan menegurnya karena terlalu berisik di pagi hari.
Ia sedikit bernafas lega saat tak menemukan sosok Yuta disana. Segera ia melangkahkan kakinya ke dapur. Setengah berharap pemuda itu tak menginjakkan kakinya ke sana. Ia tak suka melihat apartemennya berantakan, terutama bagian dapur. Tempat favoritnya dibanding kamar dengan kasur empuknya yang nyaman.
Lagi, Taeyong bernafas lega saat tak menemukan sosok pemuda berambut coklat itu disana. Namun otaknya memberitahunya untuk tak merasa lega begitu saja. Bagaimana kalau Yuta bersembunyi di kamar mandi? Dua hari yang lalu Yuta pernah mengikutinya ke kamar mandi dan mendapat hadiah lemparan botol shampoo beserta conditioner kesayangan milik Taeyong.
"Aneh, kenapa ia tak ada dimana-mana?" Taeyong sudah membuka lebar pintu kamar mandi namun Yuta juga tak ada disana. Membuat Taeyong menutup kembali pintu kamar mandinya sebelum berjalan ke dapur.
Taeyong menarik salah satu kursi di meja makan untuk kemudian mendudukinya. Ia menopang dagunya dengan salah satu tangannya sementara tangan yang lain sibuk mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja makan.
Yuta tak ada di apartmennya hari ini. Tapi kenapa?
Taeyong menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mengusir pemikiran itu segera. "Aku kan yang menyuruhnya untuk tak menggangguku lagi. Kenapa aku bisa lupa?"
Ia bahkan menampar pipinya cukup kencang untuk menyadarkan dirinya. Ia baru saja memikirkan Yuta. Dan itu benar-benar bukan seperti seorang Lee Taeyong. Taeyong menggigit bibirnya sebelum dengan ragu-ragu beranjak dari kursi yang ia duduki untuk membuka kulkasnya dan mulai memasak untuk sarapannya pagi ini.
Mungkin karena perutnya lapar ia jadi berpikiran yang tidak-tidak.
.
.
.
Jalanan kota Seoul itu terlihat senggang untuk hari Kamis yang harusnya masih menjadi hari sibuk kerja di kota itu. Terlebih ini masih sangat pagi, dimana harusnya para pelajar dan pekerja kantoran berlalu lalang untuk pergi ke sekolah atau tempat kerja. Tapi pagi ini, jalanan terlihat lenggang. Bahkan terlalu lenggang di kota yang super sibuk seperti Seoul.
Hanya terlihat satu pemuda yang berjalan di trotoar di pinggir jalan. Pemuda dengan hoodie hitam yang dikenakan hingga menutupi hampir sebagian wajahnya, dengan balutan ripped jeans yang dikenakan terlalu bawah sehingga terlihat seperti ia tengah memakai celana yang kedodoran. Sepatu hitamnya bersol cukup tinggi, dan tebal. Membuatnya akan terlihat cukup mencolok jika ia berjalan di tengah keramaian penduduk Seoul. Sayangnya, tak ada yang berada di jalan saat itu selain dirinya.
Atau mungkin tidak.
Pemuda itu menghentikan langkahnya saat merasakan ada langkah kaki lain tak jauh di belakangnya. Seharusnya ia tak harus berhenti hanya karena mendengar suara langkah kaki karena bukan hanya ia yang memiliki hak untuk berjalan di trotoar saat ini. Namun, aura yang menembus permukaan kulitnya meski tertutupi oleh hoodie kebesaran serta ripped jeans kedodoran miliknya membuatnya membalikkan tubuhnya.
Sekitar sepuluh meter di depannya, sekarang berdiri sesosok pemuda dengan rambut merah menyala dan menggunakan pakaian serba hitam dari atas hingga bawah yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Pemuda itu memasang sebuah senyuman kecil –seringaian, saat pemuda ber-hoodie menatapnya tepat di kedua iris matanya.
"Seperti bukan dirimu yang membuat jalanan sepi di pagi hari seperti ini." Pemuda bersurai merah menyala itu melangkah mendekati pemuda ber-hoodie yang masih terdiam di tempatnya semula. Hingga ia berdiri di jarak yang kurang dari satu meter di hadapan pemuda ber-hoodie itu.
"Seperti bukan dirimu terlihat berjalan-jalan santai disini." Pemuda ber-hoodie itu menyahutinya, mengulangi ucapan pemuda bersurai merah menyala itu. Membuat seringaian di wajah pemuda itu semakin melebar.
"Kupikir kau akan membuat kecelakaan beruntun di jalanan ini untuk melampiaskan amarahmu." Pemuda bersurai merah itu bersender pada salah satu tiang listrik di dekatnya. Tangannya terlipat di depan dadanya dan matanya memandang lurus pada satu-satunya lawan bicara yang berdiri di depannya.
"Harusnya kau tak menampakkan dirimu di depanku setelah kejadian semalam, brengsek." Secara tiba-tiba, pemuda ber-hoodie mencengkram kaos hitam panjang yang digunakan si pemuda bersurai merah. Mendekatkan wajahnya ke arah wajah si surai merah.
"Apa yang kulakukan semalam tak sebanding dengan hal-hal bodoh yang kau lakukan di dunia ini, Bobby Kim." Meski dicengkram cukup kuat oleh pemuda yang ia panggil Bobby Kim itu, ia tetap menatap lurus ke arah dua iris hitam yang berada di hadapannya. Tatapan yang terlihat biasa saja, namun menusuk tepat ke pusat dua iris hitam itu.
"Berhenti berbicara seolah kau tahu aku sebanyak itu." Bobby menggertakkan giginya. Dengan kasar ia melepaskan cengkramannya pada si pemuda bersurai merah hingga pemuda itu terhuyung ke belakang dan membentur tiang listrik di belakangnya.
Alih-alih meringis kesakitan, pemuda itu malah tertawa. Tawa sinis yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Bobby.
"Lalu, apa menggoda milik para immortel itu menjadi satu-satunya cara untuk kau melarikan diri?"
"Aku tak melarikan diri, brengsek." Rahang Bobby mengeras. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Merebut bagian putra kerajaan yang sebentar lagi akan naik tahta menjadi raja kita untuk mengambil hati sang raja dan membersihkan dirinya dari hal-hal memalukan yang pernah ia lakukan? Cih, kau sebut itu apa?"
Bobby tak bisa menahan amarahnya lagi, "Jangan bertingkah laku seperti kau yang paling benar, brengsek!" dan sebuah tinjuan keras mendarat di wajah tampan si surai merah. Bahkan membuat darah segar mengalir di sudut bibirnya.
Sayangnya, bibir itu masih enggan untuk melepaskan seringaiannya. "Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi memang aku lah yang paling benar." Sebelum si pemilik meludah di hadapan Bobby, dan membuat asap mengelilingi tubuhnya sebelum menghilang dari hadapan Bobby.
"Sialan!"
Meninggalkan Bobby yang hanya bisa mengumpat di tengah jalanan yang kembali kosong tanpa ada siapapun kecuali dirinya.
.
.
.
Taeyong berjalan menusuri lorong kampusnya setelah menyelesaikan kelas Algoritmanya. Mengacuhkan beberapa mahasiswa yang menyapanya sepanjang lorong. Juga mengabaikan tatapan-tatapan yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi.
Seperti biasa.
"Taeyong hyung!" langkahnya terhenti ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Kejadian yang sangat langka dimana seorang Lee Taeyong mau berhenti ketika ada yang memanggilnya.
Taeyong membiarkan dua bola matanya mencari sosok si pemilik suara. Namun, ia sudah memeriksa ke bagian lorong-lorong gedung ataupun di lapangan atau dimana pun di jarak pandang yang bisa ditangkap oleh matanya, tapi ia tak menemukan si pemilik suara.
"Disini hyung! Di atas!"
Taeyong, yang baru seperempat jalan untuk menyebrangi lapangan segera mendongakkan kepalanya. Dua bola matanya menangkap sosok Jaehyun yang tengah duduk di pinggir gedung di atasnya. Seketika matanya membola.
Apa anak itu gila?
"Ya! Apa yang kau lakukan disana?! Kalau kau terjatuh bagaimana?!" Taeyong berteriak agar suaranya sampai pada Jaehyun. Kejadian langka kedua. Membuat Lee Taeyong berteriak sementara mengeluarkan suara saja sangat jarang.
"Tenang saja hyung! Ayo kemari!"
Ia naik ke atap gedung dengan total tujuh lantai? Tolong anggap Taeyong gila.
"Diam disana dan jangan kemana-mana!" tapi nyatanya Taeyong tetap menggerakkan kakinya untuk kembali menapaki kakinya di lantai gedung kampusnya sebelum mencari lift untuk naik ke lantai enam. Lalu melanjutkannya untuk menaiki satu tangga menuju atap gedung.
Saat Taeyong membuka pintu yang menghubungkan lantai tujuh dengan atap gedung, Taeyong bernafas lega saat melihat Jaehyun sudah menjauh dari pinggir atap dan berdiri tak jauh dari hadapannya dengan senyuman khas yang melekat di wajahnya.
Taeyong mempercepat langkahnya untuk menghampiri Jaehyun sebelum menggerakkan tangannya untuk memukul kepala Jaehyun dengan buku Algoritma di tangannya.
"Auw! Sakit hyung…" Jaehyun meringis, tentu saja. Siapa yang tidak kesakitan jika kepalamu baru saja dihantam dengan buku setebal lebih dari 200 halaman?
"Kau tak ada kerjaan lain selain membuang nyawamu percuma dengan duduk di pinggir atap gedung seperti itu, hah?!"
Jaehyun yang masih mengusap-ngusap kepalanya yang malang karena menjadi sasaran empuk buku tebal Taeyong memajukan bibirnya. "Kau seperti kekasihku saja, hyung. Mengkhawatirkanku secara berlebihan."
Taeyong merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya sesaat setelah ia mendengar Jaehyun mengucapkan hal itu. Perasaan aneh yang membuatnya mengigit bibir bawahnya. "Kekasihmu posesif dong. Bagus itu. Soalnya kan ia punya kekasih sebodohmu."
Tangan Jaehyun berhenti mengusap kepalanya dan ia tak lagi ber-pout ria. Ia menatap Taeyong sesaat untuk mencerna kalimatnya dengan kedua mata yang mengerjap perlahan. Sebelum melepaskan tawa kencang yang bisa merusak gendang telinga Taeyong.
"Kenapa tertawa?" Taeyong menatap Jaehyun dengan raut bingung. Namun ia tanpa sadar memajukan bibirnya karena merasa Jaehyun mentertawakannya. Yang tentu saja iya, Jaehyun mentertawakannya. "Kau mentertawakanku ya?"
Jaehyun sebenarnya masih ingin tertawa lebih lama lagi. Namun melihat Taeyong yang tiba-tiba membalikkan badannya membuatnya menghentikan tawanya sebelum bergegas mengejar Taeyong yang siap-siap untuk turun dari atap dengan menghalangi jalannya menuju pintu atap.
"Aigoo, Yongie hyung menggemaskan~" Tapi bukannya langsung minta maaf, Jaehyun malah seenaknya menggerakkan tangannya untuk mengacak-ngacak surai coklat almond milik Taeyong.
"Ya! Rambutku Jung Jaehyun!"
Jaehyun terkekeh sebentar sebelum menarik tangan Taeyong untuk mengikutinya dan duduk di tengah-tengah atap gedung.
"Kau tadi mengungkit-ngungkit soal kekasih. Makanya aku tertawa, hyung." Akhirnya setelah puas melihat wajah kesal Taeyong –yang terlihat menggemaskan, Jaehyun mau menjelaskan alasan kenapa ia tertawa begitu kencang tadi.
"Itu tak menjawab pertanyaanku, Jung Jaehyun. Kenapa kau tertawa hanya karena aku mengungkit soal kekasihmu? Apa karena kekasihmu sebenarnya tak posesif seperti yang kukatakan dan malah cuek padamu? Kalau begitu bagus lah. Orang sepertimu harus sering-sering dicueki."
Taeyong yang kini melipat kedua tangannya di depan dadanya memubuat Jaehyun memekik tertahan. Oh Tuhan, sadarkah pemuda di sampingnya itu bahwa ia begitu menggemaskan?
"Bukan hyung, bukan. Aku bukan tertawa karena itu. Kau menyinggung soal kekasih, padahal aku tak punya kekasih sama sekali. Yang kumaksud itu, kau sudah seperti kekasihku hyung. Biasanya kan seorang kekasih akan khawatir berlebihan pada pasangannya."
Pemuda berusia 22 tahun itu mencoba mencerna baik-baik ucapan Jaehyun. Butuh waktu setidaknya lima belas detik agar otaknya dapat mencerna semua ucapan Jaehyun sebelum memberikan reaksi yang membuat Jaehyun menangkap rona merah di kedua pipinya.
"Hyung, berhenti bertingkah laku menggemaskan seperti ini atau aku tak bisa menahan diriku lagi untuk memelukmu."
Kedua bola mata Taeyong membulat sempurna ketika mendengar ucapan Jaehyun. Sebelum tangannya bergerak untuk memukul –kali ini apapun kecuali kepala Jaehyun, dengan buku Algoritma super tebalnya dan membiarkan Jaehyun berteriak kesakitan.
Ini sudah kesekian kalinya Jaehyun menyebutnya menggemaskan, dan Taeyong tak bisa membiarkan hal itu.
Setelah puas menyiksa Jaehyun, dan setelah melewatkan beberapa menit untuk larut dalam keheningan yang sengaja mereka biarkan tercipta di antara keduanya, akhirnya Taeyong menoleh ke arah Jaehyun setelah pemuda yang lebih muda darinya itu menyentuhnya dengan sesuatu -yang Taeyong tahu bukan tangan Jaehyun, yang ternyata adalah sebuah kertas yang digulung.
"Ini apa?" tanya Taeyong yang belum menggerakkan tangannya untuk menerima kertas itu.
"Lihat saja sendiri, hyung." Jaehyun menjawabnya dan memasang sebuah senyuman lebar yang menampilkan lesung pipinya. Taeyong memutar bola matanya sebelum mengambil gulungan kertas itu dari Jaehyun.
Ada sebuah pita merah di tengahnya. Jemari Taeyong meraih ujung pita itu dan membukanya. Sebelum membuka perlahan gulungan kertas itu.
Di kertas putih itu ada gambar dirinya, yang tengah tersenyum dan menampilkan deretan giginya. Ia yang tengah terduduk di atas rerumputan mengenakan stelan kaos panjang dengan celana selutut dan beanie di kepalanya. Matanya melengkung dan membuatnya hampir tak bisa melihat dua iris hitamnya.
Taeyong tak bisa berkata apa-apa selain membiarkan mulutnya terbuka sedikit selama menatap potret dirinya itu. Sebelum beralih untuk menatap Jaehyun. "Aku tak tahu kenapa kau memilih mengambil jurusan kedokteran saat kau tampaknya lebih berbakat menjadi seorang seniman." Senyuman yang ditampilkan Taeyong membuat Jaehyun kembali menarik otot pipinya untuk membuat sebuah senyuman lagi.
"Kadang apa yang kita inginkan tak sejalan dengan orangtua kita. Aku hanya ingin membahagiakan mereka, hyung. Tapi setelah menjalaninya aku merasa nyaman kok."
Taeyong mengangguk pelan sebelum menggulung kertasnya. Ia menundukkan wajahnya meresapi ucapan Jaehyun. Jaehyun yang rela memilih jalan yang tak ia suka hanya untuk membahagiakan orangtuanya, lalu bagaimana dengannya, yang bahkan tak tahu bagaimana caranya membahagiakan orangtuanya?
"Terima kasih, Jae."
Jaehyun menatap Taeyong sesaat sebelum mengernyitkan dahinya. "Untuk?"
"Gambarmu, bodoh. Apalagi? Aku belum mengucapkannya sejak kau memberikan gambarmu kemarin."
Jaehyun tertawa sesaat mendengar ucapan Taeyong sebelum, "Jadi, aku boleh meminta nomormu agar aku bisa memberikan gambarku padamu kapan saja?"
"Kau mencoba untuk memodusiku?"
Jaehyun mengangkat bahunya. "Entahlah hyung. Tapi kalau hyung yang memintanya sih aku dengan senang hati akan melakukannya."
Taeyong pikir mungkin ini efek musim panas makanya tubuhnya sering terasa panas tiba-tiba. Ya, pasti karena ini musim panas.
.
.
.
Ten memandangi Mark dari kejauhan saat yang lebih muda asik mengobrol dengan Donghyuck di lorong sekolah. Sebuah senyuman muncul di wajahnya.
"Baguslah kalau Donghyuck bisa membuatnya nyaman berada disini." Ten berujar, lebih tepatnya pada dirinya sendiri. Sebelum melompat turun dari pohon tempatnya mengamati Mark. Ia membiarkan kakinya melangkah meninggalkan area sekolah.
Tadi pagi, setelah pergi menemui deity bersama Hansol dan Doyoung, ketiganya diberikan penghargaan kecil karena telah berhasil membawa Mark dan mengurusi semua masalahnya dari mulai mengurusi 'Mark dunia' dan segala urusan Mark untuk memulai hari-harinya sebagai immortel termasuk mengurusi berkas-berkas Mark agar ia bisa masuk ke sekolah immortel secepatnya. Dan sebuah pesan juga deity sampaikan pada mereka, agar membantu Yuta untuk membawa Taeyong bergabung secepatnya ke dalam komunitas mereka.
Dan Ten sudah menyerahkannya pada dirinya yang lain untuk mengurusi sahabatnya yang tak pernah bosan menyusahkannya itu.
"Jadi, apa Nakamoto-san sudah menyerah untuk mengejar cinta sejatinya di dunia manusia sana?"
Mungkin Yuta menyesal telah memilih taman di belakang markas utama immortel untuk beristirahat sejenak dengan membaringkan tubuhnya di tengah-tengah rumput yang hijau.
Cinta sejati? Ingin tertawa rasanya saat Ten mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya. Tapi kenyataannya, itu lah yang Yuta katakan padanya dua hari yang lalu. Tentang bagaimana ia telah menemukan cinta sejatinya dan ia yang tak akan melepaskannya begitu saja. Lee Taeyong.
"Aku hanya membiarkannya beristirahat sejenak. Kalau ia nanti tiba-tiba terlalu tergila-gila padaku karena terlalu sering bertemu denganku kan gawat."
Jangan salahkan Ten jika tangannya gatal untuk memukul kepala sahabatnya itu.
"Ya! Kau ini kenapa senang sekali menyiksaku sih?!"
Ten memutar bola matanya. "Kau kira aku tak ada di dekat kalian saat Taeyong menyuruhmu untuk berhenti mengganggunya dan muncul di hadapannya?"
Karena khawatir sahabatnya itu tak bisa melaksanakan misi utamanya untuk mengajak Taeyong masuk ke komunitasnya, Ten sempat mengikuti keduanya di dunia manusia. Sebenarnya Ten ingin mengejek sahabatnya yang cemburu hanya karena melihat Taeyong dekat dengan manusia tampan bernama Jaehyun sampai-sampai mengeluarkan sebuah pernyataan yang tak masuk akal.
"Ingat Taeyong, kau itu immortel. Kita hidup abadi. Kau itu abadi di dunia ini. Tapi tidak dengan manusia. Kalau kau dekat dengan mereka, pada akhirnya kau hanya akan kehilangan mereka."
Terlalu posesif untuk ukuran seseorang yang bukan siapa-siapanya Taeyong.
"Aku tak menyerah begitu saja, ya. Kau saja yang tak tahu aku sudah mengikuti Taeyong tanpa sepengetahuannya sejak tadi pagi."
Ten mengangkat satu alisnya. "Lalu, kenapa kau disini sekarang? Katanya sedang menjaga Taeyong dari jauh." Ten sengaja menekankan kata menjaga Taeyong dari jauh untuk mengejek sahabatnya itu.
"Hanya membiarkan ia menghabiskan waktunya bersama manusia bernama Jung Jaehyun itu."
Ten memutar bola matanya lagi sebelum mendorong kepala Yuta, kali ini dengan pelan. "Kau cemburu, bodoh."
"Bukan cemburu, Chittaphon yang terhormat. Aku hanya memberi kesempatan pada manusia bernama Jung Jaehyun itu untuk menikmati kebersamaannya bersama Taeyong sebelum aku membuat Taeyong menjadi immortel."
Ten ikut merebahan tubuhnya di samping Yuta dengan tangan yang menjadi bantal bagi kepalanya. "Aku tahu apa maksudmu. Kau tak ingin Taeyong jatuh cinta pada Jaehyun kan?"
"Siapa yang bilang Taeyong akan jatuh cinta pada manusia itu?"
Rasanya ingin Ten menyadarkan sahabatnya itu kalau ia yang tak terus-menerus mengawasi Taeyong saat bersama Yuta saja tahu, Taeyong lebih nyaman saat bersama siapa. Meskipun Yuta sahabatnya, tapi bukan berarti ia harus berbohong pada Yuta kalau Taeyong jatuh cinta padanya kan, bukan Jaehyun?
"Maksudmu baik kok. Kau tak ingin Taeyong terluka jika jatuh cinta padanya."
"Sudah kubilang Taeyong tak jatuh cinta pada Jaehyun."
"Terserahmulah." Ten tampaknya sedang malas menanggapi Yuta. Ia memilih menutup kedua matanya daripada menanggapi Yuta yang memang memiliki sifat keras kepala yang sulit dilawan.
Ketika keheningan menyambut keduanya, Yuta memilih menatap langit-langit yang menghampar luas jauh di atasnya. Dalam pikirannya terngiang-ngiang ucapan Ten. Mengenai kemungkinan Taeyong yang jatuh cinta pada Jaehyun.
Yuta ingin mengelak, namun pada kenyataannya ia memang cemburu saat melihat sikap Taeyong saat bersama dengan Jaehyun dibanding saat bersama dengannya. Padahal ia yang lebih dulu bertemu dengan Taeyong. Tapi Jaehyun, yang entah bagaimana bisa mengubah sikap Taeyong semudah membalikkan telapak tangan, bisa kapan saja merebut Taeyong darinya.
Bukan hanya merebut, jika Jaehyun benar-benar berhasil membuat Taeyong jatuh cinta padanya, pemuda itu bisa menyakiti Taeyong. Dan Yuta sudah berjanji, ia tak akan membiarkan siapa pun menyakiti Taeyong. Ia sudah berjanji, sejak pertama kali deity memperlihatkan sosok Taeyong padanya untuk selalu melindunginya.
Karena sekali lagi, mereka immortel. Jatuh cinta pada manusia hanya akan membuat mereka merasakan sakit yang lebih parah daripada tertembak peluru berturut-turut sekalipun.
.
.
.
TBC
