In neverland, we have immortal life. But they said neverland is only nonsense. No one belives. But what if neverland is really exist? I mean, what if in this real world, there is some of us that live eternally? They're not vampire. They consider as human. But they indeed have supernatural power. The power that makes them live an immortal life.

They usually called themelves as Immortel

.

.

.

Immortel

NCT

Author : kjsykjkhkdgjjc07

NCT belongs to SM, God, and their family

This story belongs to me

Fantasy, romance, angst

Rated T (Some chapter will be rated as M and I will give the warning before)

.

.

.

From : Jaehyun

Hyung, aku sudah di depan. Jangan lama2 dandannya. Udh cantik kok ;))

Rasanya Taeyong ingin berteriak dan menimpuk Jaehyun dengan barang-barang yang ada di rumahnya setelah selesai membaca pesan dari Jaehyun. Kenapa?

Pertama, pemuda itu bilang sepuluh menit yang lalu ia masih asik tiduran di tempat tidurnya. Kedua, Bagaimana Jaehyun bisa tahu kalau sedari tadi Taeyong bolak-balik mengganti baju yang ia kenakan dan mematut dirinya di depan cermin berulang kali? Dan ketiga, Jaehyun benar-benar ingin cari mati dengan menyebut dirinya cantik.

Taeyong tak peduli lagi dengan penampilannya. Ia bahkan tak memperdulikan pakaian-pakaian yang berserakan di atas kasur dan lantai kamarnya. Pemuda bersurai coklat itu juga tak menghabiskan waktunya dengan berdiri di depan cermin lama-lama lagi. Ia segera bergegas untuk keluar dari kamarnya dan berlari kecil menuju pintu apartment-nya.

Taeyong sudah menyiapkan sumpah serapah yang akan ia keluarkan begitu ia membuka pintu di hadapannya. Bahkan ia belum memakai satu sepatunya alih-alih ia bisa menimpuk Jaehyun dengan sepatu berwarna putih itu. Tapi nyatanya sepatu itu tak jadi melayang lepas dari tangan si pemilik ketika Taeyong membuka pintu apartment-nya. Dan mulutnya yang terbuka juga tak mengeluarkan sumpah serapah yang menguap entah hilang kemana dari benaknya.

Itu semua karena sosok Jaehyun yang berdiri di depan pintu apartment-nya sembari memasang senyuman khasnya. Pemuda yang lebih muda itu mengenakan stelan kaos kebesaran berwarna putih bergaris hitam yang memperlihatkan tulang selangkanya. Bagian depan itu dimasukkan ke dalam celana ripped jeans yang ia kenakan. Sepatu putih dengan model yang sama seperti yang berada di tangan Taeyong menjadi akhir dari fashion sederhana Jung Jaehyun namun bisa membuat Lee Taeyong kehilangan kata-katanya.

"Hyung, sepatumu.." senyuman Jaehyun lenyap saat melihat tangan Taeyong yang masih berhenti di udara dengan sepatu sejenis dengan miliknya di tangannya. Hanya sesaat, karena sebuat seringaian menggantikan senyuman itu. "Kau sengaja memperlihatkan sepatumu seperti itu karena kita memiliki sepatu yang sama, ya? Seperti barang couple yang sering dipakai pasangan-pasangan muda saat berkencan?"

Tampaknya merupakan kesalahan besar bagi Jaehyun untuk berujar seperti barusan. Karena, sepatu di tangan Taeyong tak bertahan lama di tangan pemiliknya sebelum terlempar di udara dan hampir mengenai wajah Jaehyun. Yang untungnya pemuda bermarga Jung itu dengan cepat menghindar.

"Woah, hyung! Kau hampir merusak wajah tampanku!"

Taeyong hanya memutar bola matanya sebelum keluar dari apartment-nya dan menutup pintu di belakangnya. Setelah memastikan pintunya terkunci, Taeyong segera mencari sepatu malangnya yang harus terlempar hanya karena si pemilik salah tingkah dengan ucapan Jaehyun. Lihat saja rona merah yang diam-diam betah berlama-lama di kedua pipi miliknya.

Tapi ia tak kunjung menemukan sepatu putih itu.

"Karena hyung hampir merusak wajah tampanku tak akan kuberikan sepatumu."

Kedua mata Taeyong membola saat melihat benda yang ia cari ada di tangan Jaehyun. Apalagi ketika Jaehyun mulai berlari menjauh darinya dengan masih membawa sepatu putih miliknya di tangannya.

"Ya! Jung Jaehyun kembalikan sepatuku!"

Kemana adik tingkat Taeyong yang terlihat baik-baik seminggu yang lalu itu? Kenapa adik tingkatnya itu berubah menjadi pemuda yang suka menjahilinya sepanjang waktu? Kalau begini tak ada bedanya dong Jung Jaehyun dengan Nakamoto Yuta. Sama-sama hobi menggodanya.

Taeyong menggigit bibir bawahnya. Yuta.. Ia sudah tak melihat pemuda itu selama beberapa hari. Pemuda yang mengaku-ngaku anggota immortel itu tak menunjukkan batang hidungnya lagi di hadapan Taeyong setelah Taeyong menyuruhnya untuk berhenti mengganggunya. Apakah itu artinya Yuta sudah menyerah untuk mengajaknya masuk ke komunitas yang ia bangga-banggakan itu –immortel?

"Hyung! Kenapa tak mengejarku?" Jaehyun, yang berteriak dari kejauhan menyadarkan Taeyong yang sempat melamun tanpa sadar. Seketika Taeyong sadar kalau Jaehyun sudah berada cukup jauh dari tempatnya berdiri.

"Kau pikir ini film india apa main kejar-kejaran?" Taeyong berujar sinis sebelum tak lupa untuk memutar bola matanya. Mau tak mau ia berjalan dengan satu kaki tanpa alas hanya untuk merebut kembali sepatunya. Setidaknya Jaehyun tak kabur membawa sepatunya lagi kali ini dan diam dengan manis di tempatnya.

"Kembalikan sepatuku." Taeyong mengulurkan tangannya untuk merebut sepatu di tangan Jaehyun ketika ia sudah berada di depan Jaehyun. Sialnya Jaehyun malah menjauhkan sepatu itu dari jangkauannya dengan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

Sialan dirinya dan tubuh pendekya.

"Jaehyun!" Taeyong berusaha merebut sepatu itu namun meskipun ia sudah berjinjit agar bisa menggapai sepatu di tangan Jaehyun, tetap saja tinggi badannya tak bisa mengalahkan tinggi Jaehyun yang malah semakin menjauhkan sepatu itu darinya.

"Kalau kau tak segera mengembalikan sepatuku hari keburu semakin panas dan aku tak akan mau keluar denganmu!" pilihan terakhir Taeyong adalah mengancam sosok di hadapannya itu. Dan tampaknya mempan karena Jaehyun tak lagi mengangkat sepatunya ke udara.

"Oke, hyung aku kalah. Aku akan mengembalikan sepatumu."

Akhirnya. Taeyong sudah siap untuk merebut sepatunya dari tangan Jaehyun, namun pemuda di hadapannya tiba-tiba berjongkok di depannya dan melepaskan simpul sepatu yang sedari tadi mereka berdua perebutkan itu.

"Apa yang kau laku-"

Taeyong tak sampai menyelesaikan kalimatnya karena Jaehyun tiba-tiba menaruh sepatu itu di depan kaki Taeyong yang polos tanpa alas kaki.

"Pakailah hyung."

Meski tak mengerti kenapa Jaehyun melakukan hal yang baru saja ia lakukan itu, Taeyong tetap menggerakkan kakinya untuk memakai sepatu itu.

Meski mulai menyebalkan, Jung Jaehyun tetap selalu berhasil membuat Taeyong terpana. Bukan hanya membantu Taeyong mengenakan sepatu miliknya –yang tentunya bisa ia kenakan sendiri, tapi Jaehyun juga mengikatkan tali sepatu itu membentuk sebuah simpul yang sama setelah sebelumnya ia lepaskan.

Taeyong hanya menggigit bibir bawahnya saat menatap punggung Jaehyun ketika pemuda itu masih berjongkok mengikatkan tali sepatunya. Mencoba menguasai dirinya yang merasa aneh saat sesuatu di dalam tubuhnya membuat debaran asing yang Taeyong tak pernah rasakan sebelumnya.

Jung Jaehyun dengan segala kesempurnaannya..

.

.

.

Mark menghela nafasnya untuk ke sekian kalinya. Tapi untuk kali ini, kepalanya tak bisa terus untuk terangkat maka ia biarkan kepalanya itu terjatuh diatas buku tebal yang terbuka. Rasanya kepalanya siap untuk pecah kapan saja.

"Kau payah, masa begitu saja sudah menyerah." Tak perlu bagi Mark untuk mengangkat kepalanya sekedar untuk menatap si pemilik suara. Siapa lagi yang selalu setia menemaninya ketika belajar di perpustakaan.

"Hansol hyung~ ayolah~ berhenti menyiksaku.." Aegyo. Mungkin otaknya yang sedang korslet membuat tubuhnya bergerak otomatis untuk melakukan sebuah gerakan imut yang ditujukan pada pemuda yang baru saja menggeser kursi di sampingnya untuk duduk disana.

"Kau bilang kau ingin segera tahu apa kekuatanmu."

Mark memajukan bibirnya. "Tapi gak gini juga caranya hyung.."

Hansol terkekeh melihat Mark yang merengut. Membuatnya sadar bahwa pemuda dengan wajah tampan dan tubuh cukup tinggi di sampingnya ini masih remaja dan belum menginjak usia dewasa.

Sudah lima hari Mark berada di dunia immortel. Dan sudah dua hari ini Mark terjebak di dalam perpustakaan sepanjang hari. Padahal ia kira akan menyenangkan masuk sekolah hanya tiga hari dan setelahnya libur musim panas menyambutnya. Tapi kenyataannya, Hansol malah menyeretnya ke sebuah gedung dengan bangunan yang terlihat megah dari luar, namun membuat Mark ingin muntah ketika melihat isinya.

Dari segala macam hal yang ia benci selama di dunia, Mark paling benci dengan perpustakaan. Ia benar-benar anti dengan ruangan luas yang penuh dengan buku-buku tebal yang melihatnya saja sudah membuat kepalanya sakit.

Harusnya Mark bisa kabur dari Hansol dengan meminta bantuan Donghyuck. Teman barunya di dunia immortel itu sangat pintar mengelabui hyung-hyungnya. Tapi ada sesuatu yang menahan Mark untuk kabur dari wilayah pengawasan Hansol.

Karena ia harus menemukan sendiri apa kekuatan supernatural yang ia miliki.

Kejam, karena ia pikir setelah Ten mengejar-ngejarnya untuk mengajaknya bergabung, ia akan dilayani sebagai anggota special. Namun, nyatanya sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat. Meski Mark sedikit tertantang, terlebih saat Ten menantangnya untuk menemukan apa sebenarnya kekuatannya sebelum esok tiba.

Deadline yang Ten berikan hanya dua hari.

Dan rasanya Mark ingin menyerah saja dan bersiap-siap untuk berhenti mengumpat selama sebulan penuh sesuai dengan janji yang ia buat dengan Ten. Jika Mark tak bisa menemukan kekuatannya dalam waktu dua hari, Mark tak boleh mengumpat selama sebulan. In English nor Korean.

Ia pikir meminta bantuan immortel pintar seperti Hansol bisa membuatnya cepat menemukan kekuatannya. Tapi nyatanya, Hansol terlalu banyak menjejalinya buku dan membuatnya membenci pemuda blonde itu seketika.

"Hyung, tolong beritahu aku sedikit clue. Kau kan pasti sudah membaca semua buku-buku ini berulang kali sepanjang 345 tahun hidupmu."

Mata bulat Hansol menatap Mark iba. Sebenarnya Hansol, Ten dan Doyoung memang ditugaskan untuk membimbing Mark menemukan kekuatannya. Tapi, deity tak pernah menyuruh mereka membuat Mark untuk mencarinya sendiri. Ini semua karena Ten yang mengusulkan ide itu pada mereka bertiga dan berakhir dengan keputusan sepihak dari yang paling muda dari ketiganya.

"Oke, hanya sedikit ya."

Ucapan Hansol membuat tubuh Mark yang sebelumnya loyo tak bersemangat menjadi tegak seketika. "Iya hyung!" dan terlalu bersemangat menyahuti ucapan Hansol hingga tanpa sadar ia membuat hujan lokal yang mengenail wajah Hansol.

"Aku akan menunjukkan siapa partnermu. Kau sudah membaca buku tentang Partner Immortel yang kuberikan padamu kemarin kan?"

Mark ingat sekali ia berhasil menyelesaikan buku setebal 527 halaman itu saat malam tiba. Buku-buku itu hanya menjelaskan tentang kekuatan-kekuatan para immortel dan mencantumkan bahwa dua immortel yang berpartner akan memiliki kekuatan tujuh kali lipat dibanding kekuatannya seorang diri. Dan Mark tak ingat bahwa buku itu menyebutkan kekuatan ini berpartner dengan siapa, atau apalah itu.

"Tapi hyung-"

"Dan ada hal yang lebih penting yang perlu kau ketahui, Mark." ucapan Hansol membuat Mark kembali menutup mulutnya rapat dan membatalkan dirinya untuk protes. Ia menunggu dengan sabar kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir Hansol.

"Partnermu bisa dibilang immortel terhebat di dunia ini."

Oke, Hansol berhasil membuat antuisias Mark naik hanya dengan mendengar kalimat itu. Itu terdengar sangat keren di telinga Mark. Ia berpartner dengan immortel terhebat, holy shit.

"Dan usianya juga masih tergolong muda, bukan seperti aku, Ten, ataupun Doyoung yang sudah berumur ratusan tahun. Dan ia juga berasal dari duniamu."

Wow.

"Hyung, sumpah, ini terdengar seperti film science-fiction yang tanpa sengaja pernah kutonton bersama hyungku di dunia manusia!"

Hansol tersenyum maklum. Mark masih berada di usia yang sangat belia, dan ia baru di dunia immortel. Wajar baginya jika semua yang berhubungan dengan dunia ini terdengar begitu menakjubkan.

"Sayangnya, ia sendiri belum yakin bahwa immortel itu ada."

"What?!"

Tampaknya Hansol harus menceritakan semuanya dari awal. Sejak deity mengutus Yuta dan Ten untuk mengambil dua manusia yang akan bergabung dengan kelompoknya.

"Kau siap untuk dongeng panjang sebelum tidurmu, Mark?"

Harusnya Mark bisa menahan dirinya untuk tak memutar bola matanya. Karena Ten sudah mewanti-wantinya untuk berhenti melakukan hal itu. Apalagi pada mereka yang usianya ratusan tahun lebih tua darinya. Namun, tetap saja Mark tak bisa menahan dirinya untuk melakukannya.

"Hyung, ini masih siang dan aku sudah berhenti tidur siang sejak aku kelas 2 SMP."

Hansol menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawanya yang hampir keluar. Meski di perpustakaan hanya ada mereka berdua, tapi sebagai penjaga perpustakaan tentu Hansol menjunjung tinggi peraturan yang ada disana.

"Oke, oke. Siapkan dirimu saja karena ini akan sangat panjang."

Harusnya Mark membawa bantal dari kamarnya kemari.

.

.

.

Taeyong dan Jaehyun akhirnya tiba di taman hiburan outdoor yang sudah menjadi rekomendasi Jaehyun sejak dua hari yang lalu untuk mengawali liburan musim panas mereka. Yang tentunya sudah ditolak berulang kali oleh Taeyong karena ia bukan tipe orang yang bisa menikmati wahana-wahana yang ada di taman hiburan. Namun dengan sedikit paksaan –dan aegyo, akhirnya Taeyong menyetujui tempat rekomendasi Jaehyun.

"Hyung, ayo naik Viking!" mata Taeyong sukses membulat sempurna ketika Jaehyun, yang tanpa menunggu jawaban darinya segera menarik tangannya untuk mengikuti dirinya yang berlari menuju sebuah wahana perahu raksasa yang berada tak jauh dari tempat mereka sebelumnya berdiri.

Viking benar-benar bukan ide yang baik untuk mengawali liburan musim panas bagi Taeyong.

Dan sialnya lagi, Jaehyun memilih tempat duduk paling belakang. Area yang harusnya wajib dihindari oleh orang seperti Taeyong.

"Jae," Taeyong tanpa sadar memegang ujung kaos Jaehyun. Membuat pemuda itu menoleh ke arah Taeyong, sebelum tersenyum.

"Kalau hyung takut, kau bisa memelukku."

Ucapan Jaehyun membuat Taeyong segera melepaskan genggamannya pada ujung kaos Jaehyun, dan menggerakkan tangannya itu untuk memukul pundak Jaehyun keras.

Disaat Taeyong berpura-pura tak mendengar Jaehyun meringis, saat itu lah perahu yang mereka naiki mulai bergerak.

"Aaaaah! Jaehyun perahunya bergerak!"

Dan Lee Taeyong baru saja berteriak dengan sangat tidak jantan saat perahu itu baru mengayun pelan.

"Hyung mau taruhan tidak?"

Taeyong yang terlalu sibuk memegang erat pengaman yang menempel pada perutnya itu bahkan tak bisa menyimak dengan benar ucapan Jaehyun.

"Kalau hyung memelukku saat perahu ini berayun lebih tinggi lagi, kau harus mau kupakaikan hairband Minnie mouse di toko souvenir."

Taeyong mendelik. "Siapa juga sih yang mau memelukmu? Lupakan. Kau tak akan melihatku memakai benda bodoh seperti itu."

Lee Taeyong harus belajar untuk tidak berkata bullshit setelah ini.

"JAEHYUN SURUH MEREKA HENTIKAN PERAHU INI!"

Ini akan menjadi momen bersejarah saat kau melihat Taeyong mengeluarkan suara lengkingan tingginya –yang benar-benar tidak jantan, dan memeluk Jaehyun begitu erat seolah ia akan terlempar ke udara jika ia tak berpegangan seerat mungkin pada tubuh Jaehyun.

Dan biarkan Jung Jaehyun mengabadikan momen ini dengan melingkarkan tangannya di pinggang Taeyong, semakin mendekatkan tubuh yang lebih tua ke arahnya.

Bahkan perahu itu belum benar-benar berayun hingga sudut seratus delapan puluh derajat.

"Mohon maaf kepada para pengunjung, atas kesalahan teknis Viking tidak bisa dioperasikan secara maksimal. Kami akan membuatnya berhenti sebentar lagi."

Suara yang tiba-tiba terdengar melalui intercom itu membuat Taeyong bisa bernafas lega. Karena perahu yang tak bergerak sampai sudut seratus delapan puluh derajat itu mulai berayun lebih rendah dan lebih rendah.

Taeyong harus berterima kasih pada apapun yang menyebabkan kesalahan teknis mendadak itu.

Perahu raksasa itu perlahan bergerak semakin lambat sebelum benar-benar berhenti. Terdengar beberapa protes yang keluar dari orang-orang yang masih berada di atas perahu karena Viking tidak beroperasi secara maksimal. Tak sedikit juga yang bernafas lega karena tak jadi kehilangan jantungnya lebih lama di dalam wahana ini.

Jangan tanyakan Taeyong masuk ke bagian yang mana.

"Hyung, kajja." Jaehyun secara tiba-tiba meraih tangan Taeyong dan mengajaknya segera turun dari wahana Viking. Sementara Taeyong, seperti anak bebek betapa menurutnya ia mengikuti Jaehyun dari belakang tanpa bertanya ke wahana menyeramkan apa lagi Jaehyun akan membawanya.

"Toko souvenir?" Taeyong menatap bingung bangunan sedang di depannya.

"Kau kalah taruhan, hyung."

Dahi Taeyong mengernyit, sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah Jaehyun. "Maksudmu?"

"Kau memelukku hyung, tadi. Bahkan kau memelukku seolah-olah kau bisa meremukkan tulang-tulangku."

Sungguh hiperbola. Mana mungkin tubuh Taeyong yang sekurus itu bisa meremukkan tubuh Jaehyun yang jauh lebih berisi darinya?

"Bahkan kau berteriak seperti seorang gadis yang hampir diperkosa ketika perahu itu berayun semakin tinggi."

kedua mata Taeyong membola. Otaknya mengingat semuanya. Rentetan kejadian memalukan yang ia lakukan saat berada di perahu raksasa itu.

"Aku tak pernah mendengarmu berteriak sekencang itu, hyung."

Taeyong tak bisa membiarkan Jaehyun terus mempermalukannya seperti ini. Dan Taeyong juga tak bisa membiarkan Jaehyun menangkap semburat merah yang mulai menyeruak di kedua pipi tirus Taeyong. Maka, pemuda bersurai coklat itu memilih untuk masuk ke dalam toko souvenir di depannya meninggalkan Jaehyun.

Sebenarnya, selain bukan fans fanatik dari taman hiburan, Taeyong juga jauh dari kata penggemar barang-barang imut. Namun salah tingkahnya malah menuntun kakinya untuk memasuki daerah barang-barang itu.

Taeyong terdiam di tengah-tengah barang-barang imut yang terpampang di sekelilingnya. Otaknya mendadak kosong dan tak bisa memberikan perintah pada tubuhnya untuk melakukan sesuatu. Sampai ia merasakan sesuatu dikenakan di kepalanya, baru otaknya kembali berjalan dengan semestinya.

"Tuh kan, hairband Minnie mouse-nya sangat cocok dikenakan olehmu, hyung." Suara Jaehyun terdengar di belakangnya. Dan saat tubuhnya belum bisa menterjemahkan dengan benar perintah dari otaknya, Jaehyun sudah menuntun tubuhnya untuk berdiri di depan sebuah cermin kecil yang ada di salah satu dinding toko itu.

Di hadapan Taeyong sekarang, ada sesosok pemuda yang tak Taeyong kenal mengenakan bando dengan kuping Minnie mouse di atasnya. Sungguh, siapa pun yang tengah Taeyong lihat, ia tak akan mengakui bahwa itu dirinya.

"How cute."

Taeyong tahu ini masih awal musim panas. Tapi Taeyong tak akan menduga cuaca musim panas bisa membuat tubuhnya sepanas ini.

Jaehyun lagi-lagi dengan seenaknya menarik tangan Taeyong. Kali ini mereka berdua menuju meja kasir.

"Hyung, lepas sebentar hairband-nya ya. Setelah ini kau boleh mengenakannya sepuasmu." Jaehyun yang bermaksud menggoda Taeyong, tersenyum lebar saat melihat kedua mata Taeyong mengerjap menggemaskan. Bahkan setelah Jaehyun melepaskan hairband dari kepala Taeyong.

Mereka berdua harus menunggu antrian yang tersisa tiga orang lagi untuk membayar. Dan Jaehyun sudah menaruh hairband Minnie mouse itu di meja kasir untuk dihitung nantinya oleh penjaga kasir.

"Hyung, kau pernah bilang kalau kau sangat suka eskrim kan?"

Taeyong yang sedari tadi membunuh waktu menunggunya dengan menatap ujung sepatunya mengangkat kepalanya untuk bertatapan dengan Jaehyun. Hanya beberapa saat sebelum ia mengalihkannya ke arah antrian di depannya.

"Kau mau membelikanku?"

Jaehyun mengulum senyumnya. "Apapun untukmu, hyung. Anggap saja itu sebagai hadiah karena kau sudah mau lama-lama berdandan untuk bertemu denganku hari ini."

Taeyong menatap Jaehyun dengan tatapan yang ia harap bisa membunuh pemuda di hadapannya itu saat itu juga. "Aku tak dandan, ya. Ngapain juga dandan Cuma buat ketemu dengan kau?"

Jaehyun tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum lagi. memilih tak menanggapi ucapan Taeyong dan hanya menikmati semburat merah yang lagi-lagi mengganggu si pemilik wajah.

Setelah tiba giliran mereka, si penjaga kasir menanyakan barang apa yang akan mereka bayar. "Hairband Minnie mouse." Jaehyun menjawab penjaga kasir itu dengan senyuman sopan yang ia berikan secara percuma pada si kasir perempuan itu.

Si penjaga kasir menyuruh Jaehyun dan Taeyong untuk menunggu sebentar sementara ia tampaknya kebingungan mencari benda yang disebutkan Jaehyun. Sebelum si penjaga kasir itu berujar, "Apa Tuan sudah menaruh benda yang Tuan akan beli di meja ini?"

Jaehyun mengangguk. "Aku menaruhnya saat masih mengantri tadi. Apa barangnya tidak ada?"

Si penjaga kasir menggelengkan kepalanya. "Biar saya cek dulu, Tuan. Atau Tuan mau saya ambilkan barang yang baru?"

"Ah, tolong kalau begitu."

Jaehyun dan Taeyong harus menunggu beberapa saat lagi ketika si penjaga kasir keluar dari belakang meja kasir dan berjalan menuju area dimana Jaehyun menemukan hairband Minnie mouse itu.

Namun si penjaga kasir kembali dengan tangan kosong setelah beberapa saat. "Maaf Tuan, tapi tampaknya hairband yang Tuan maksud sudah tidak memiliki stok."

Taeyong mengira mungkin keberuntungan sedang berpihak padanya. Entahlah. Meski aneh karena jelas-jelas ia tadi melihat Jaehyun menaruh hairband itu di meja kasir, dan nyatanya hairband itu tak ada di meja kasir.

Setelah berada di dalam toko souvenir sepuluh menit lebih lama, akhirnya Jaehyun memilih dua buah gantungan kunci spongebob sebagai ganti hairband Minnie mouse yang mendadak hilang itu.

"Kau bisa menggunakannya sebagai kunci kamarmu, hyung." Jaehyun memberikan satu gantungan kunci spongebob pada Taeyong. Sementara ia memasangkan gantungan kunci yang lain pada kunci mobilnya.

"Kurasa gantungan ini jauh lebih baik daripada hairband yang kau pilih tadi." Taeyong menatap lekat-lekat karakter kartun berwarna kuning di tangannya itu. Yes, apapun akan Taeyong lakukan demi menukar hairband Minnie dengan gantungan kunci spongebob.

"Padahal aku ingin melihatmu mengenakan hairband itu, hyung.." nada bicara Jaehyun yang terdengar berbeda itu berhasil membuat Taeyong mengalihkan perhatiannya dari idolanya (re:Spongebob). Jaehyun tengah memajukan bibirnya, tampak masih kesal dan tak terima karena hairband yang ia taruh itu tiba-tiba hilang begitu saja.

"Kau bilang akan mentraktirku eskrim." Mengalihkan pembicaraan dari misteri-hilangnya-hairband-minnie-mouse itu lah yang terpenting sekarang. Karena, gawat kan kalo Jaehyun tiba-tiba berubah pikiran dan kembali ke toko souvenir itu untuk mengambil hairband karakter lain untuk dipakaikan ke kepala Taeyong. Kalau ada hairband dengan karakter spongebob, mungkin Taeyong akan mengenakannya dengan senang hati.

"Oh iya. Kedai eskrimnya disana, hyung. Kajja."

Biarkan lah Taeyong membiarkan tubuhnya ditarik kemana saja oleh Jaehyun hari ini.

.

.

.

Sebenarnya Ten harusnya menemani Doyoung dan Donghyuck untuk menyiapkan pesta kejutan untuk Mark. Dan harusnya juga, ia menarik pemuda Nakamoto di sampingnya ini untuk ikut mempersiapkan pesta kejutan itu. Tapi nyatanya, ia harus terjebak bersama pemuda Jepang bodoh itu di dalam sebuah ruangan gelap dengan bau-bau menyengat dimana-mana.

Hihihihi..

Tubuh Ten tersentak kecil saat mendengar suara itu dari dekatnya. Secara perlahan ia merapatkan tubuhnya dengan tubuh Yuta.

"Yuta, bisa kau gunakan kekuatanmu untuk menjauhkan apa saja yang bisa muncul kapan saja darimana saja di depan kita?"

Meski gelap, tapi Ten yakin menangkap Yuta tengah memutar bola matanya sekarang.

"Dasar penakut. Bukankah wujud asli para daemon lebih menyeramkan daripada hantu bohongan disini?"

Harusnya Ten tak membawa dirinya yang asli untuk menemani si Nakamoto bodoh. Ia harusnya membiarkan dirinya yang asli menyiapkan pesta kejutan bersama sahabatnya tercinta Doyoung dan adiknya Donghyuck. Harusnya ia sempat mencuri ramuan teleportation dari laboratorium Hansol agar ia bisa berteleportasi keluar rumah hantu ini saat hantu-hantu itu muncul.

Tolong jangan ingatkan berapa banyak daemon yang sudah pernah ia lawan. Dan jangan ingatkan Ten kalau para daemon itu memiliki wujud asli yang kemungkinan jauh lebih menyeramkan daripada sosok hantu jadi-jadian yang bersembunyi di ruang gelap ini dan bisa muncul kapan saja. Karena, tetap saja ia tak pernah menyukai ide untuk masuk ke rumah hantu sejak dua tahun yang lalu saat Doyoung menantangnya memasuki salah satu rumah hantu di taman hiburan ketika mereka berempat menikmati liburan musim panas di dunia manusia.

"BOO!"

"Uwaaaahh! Yutaaaaaa!"

Dan kini giliran Yuta yang merutuki dirinya. Harusnya ia menyumbat telinganya sebelum masuk ke rumah hantu ini bersama Ten.

Jika kita mundur ke beberapa waktu lalu, saat dimana Ten berhasil membiarkan Yuta kabur dari tugasnya mendekor ruangan untuk pesta kejutan nanti malam. Saat keduanya malah berakhir berada di sebuah taman hiburan di dunia manusia.

Hanya karena Ten tergiur dengan betapa manisnya gula kapas yang selalu ada di setiap taman hiburan.

Singkat cerita, Yuta pergi ke taman bermain setelah tahu bahwa Taeyong dan Jaehyun pergi kesini dengan mengikuti mobil Jaehyun yang meninggalkan basement apartemen Taeyong. Dan Ten baru menyadari, menjaga seseorang dari kejauhan lebih sulit dibanding kau menjaganya saat ia berada di sampingmu.

Tapi, mungkin mudah buat Yuta dan sulit untuk Ten yang harus mengikuti kemana saja pemuda Jepang itu pergi.

Ten bahkan rasanya ingin mencekik Yuta sekarang juga. Ia yang meminta Yuta untuk mengeluarkan kekuatan telekinesisnya di dalam rumah hantu mendapat tolakan mentah-mentah. Sementara Yuta, sudah lebih dari lima kali Yuta menggunakan kekuatannya untuk mengganggu Taeyong dan Jaehyun.

Menghentikan gerak wahana Viking, memindahkan hairband Minnie mouse yang tersisa satu di toko souvenir dari meja kasir ke salah satu tas pembeli sebelum Jaehyun, menjatuhkan eskrim greentea flavor milik Jaehyun saat pemuda itu bahkan belum menjilat sedikit pun eskrim miliknya, membuat Jaehyun tersandung dengan melepaskan tali sepatunya, dan masih banyak lagi hal yang melibatkan kekuatan telekinesis Yuta yang pemuda Jepang itu lakukan untuk menyiksa Jaehyun.

"Uwaaaaahhh! Jaehyun!"

Tambahkan satu lagi ke daftar panjang sebelumnya. Yuta yang membuat salah satu hantu itu jatuh ke belakang cukup keras hanya karena menyentuh pundak Taeyong. Atau mungkin karena Yuta tak ingin melihat bagaimana lengan Jaehyun melingkar di tubuh Taeyong seperti itu.

"Aish, harusnya aku membuat Jaehyun terpental saja."

Seketika Ten melupakan ketakutannya tentang mereka yang berada di dalam rumah hantu.

Nakamoto Yuta dan segala keidiotannya.

.

.

.

Mark berjalan sendirian di lorong lantai delapan markas utama immortel. Ia masih tak bisa melepaskan pikirannya dari ucapan Hansol tadi siang.

"Partnermu memiliki kekuatan yang bisa mengambil energi lawannya. Ia bahkan bisa membuat lawannya benar-benar tak berdaya jika ia mengambil seluruh energinya. Dan Ia juga memiliki kemampuan yang bisa mengambil kekuatan orang lain yang dalam arti lain, ia memiliki semua kemampuan yang dimiliki para immortel."

Memiliki partner yang merupakan immortel terkuat memang membuat Mark terkagum-kagum pada awalnya. Tapi mendengar kemampuan yang partnernya itu miliki begitu hebat, Mark justru merasa takut sekarang. Takut jika ia tak pantas untuk mengimbangi immortel sehebat partnernya.

Mark terlalu larut tentang berbagai asumsi mengenai partnernya. Sehingga ia lupa kalau sekarang sudah lewat dari tengah malam. Dan itu artinya, waktu yang diberikan Ten untuk mencaritahu kekuatannya sudah habis. Mark sengaja berjalan-jalan di lorong seperti ini agar ia memperlama Ten untuk menemukannya.

Salahkan ia yang tumbuh di wilayah Barat dimana mengumpat itu merupakan bahasa sehari-hari mereka.

Sampai sekarang, Mark tak tahu apa kemampuannya.

"Mark!"

Langkah kaki Mark terhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia sedikit bernafas lega karena ia tahu itu suara Donghyuck, bukan Ten.

"Kau ngapain jalan-jalan di lorong tengah malam begini?" Mark menoleh ke arah Donghyuck yang sudah berjalan di sampingnya. Tersenyum tipis saat sadar bahwa Donghyuck berjalan dengan piyama biru dengan motif kelinci besar di bagian depan bajunya dan kepala-kepala kelinci di seluruh permukaan celananya. Tanpa bertanya Mark tahu itu adalah pemberian dari Doyoung.

"Iya, kau benar. Doyoung hyung memberikan piyama menggelikan ini saat ulang tahunku tahun lalu. Bukan hanya satu, Mark. tapi berlusin-lusin piyama dengan jenis yang sama ada di kamarku."

Meski kamarnya dan Donghyuck berseberangan, Mark tak pernah masuk ke kamar yang lebih muda. Selalu Donghyuck yang mampir ke kamarnya.

"Donghyuck, bagaimana kau tahu kalau kau seorang mind reader?"

Donghyuck tampak berpikir sebentar, terlihat dari gesture tangannya yang memegang dagunya.

"Seingatku, saat usiaku tujuh tahun, aku tak sengaja berhasil menebak kado ulang tahun yang diberikan appaku. Saat itu aku mendengar sesuatu seperti suara appaku mengatakan, 'Kau pasti akan menyukai robot edisi terbaru ini.'. Dan setelah itu, aku mulai sering mendengar suara-suara dari pikiran orang lain."

"Kau keren."

Donghyuck mengangkat satu alisnya, "Menurutmu begitu? Kau tak tahu saja bagaimana sulitnya mengatasi berbagai suara-suara dari pikiran banyak orang yang berada bersamamu sekaligus yang terdengar secara bersamaan."

"Tapi Hansol hyung bilang semua kekuatan memiliki kekurangan juga."

"Yah, kau bisa menganggap itu kekurangan dari kekuatanku. Aku belum bisa mengendalikan suara-suara itu sehingga masih sulit bagiku untuk memfokuskan diriku untuk membaca satu pikiran dari berbagai banyak pikiran di sekelilingku."

Hansol juga mengatakan pada Mark, dibalik kemudahannya berteleportasi kemana saja, Hansol terkadang tanpa sadar berteleportasi ke tempat lain dalam tidurnya hanya karena ia bermimpi berada di tempat itu. Dan tentu itu mengganggu tidur tampannya.

"Hey, ada tidak satu orang yang pikirannya sulit untuk kau baca?"

"Doyoung hyung. Aku tak bisa membaca pikirannya semudah itu. Mungkin karena selalu bersamaku, ia bisa dengan mudah menghalangi pikirannya untuk dibaca olehku. Entahlah bagaimana. Mengosongkan pikiranmu, mungkin?"

Wajar sih, Doyoung kan orang yang paling tahu tentang Donghyuck. Tentu Doyoung bisa dengan mudah mengelabui Donghyuck.

"Aku lapar.."

Mark menatap Donghyuck yang tengah memajukan bibirnya dan memegang perutnya dengan kedua tangannya.

"Mengambil jatah snack tengah malam kita?" Mark menunjuk pintu yang menghubungkan dengan ruang makan dengan arah bola matanya. Membuat Donghyuck segera tersenyum lebar.

"Cepat! Aku sudahh lapar!"

Donghyuck menarik tangan Mark untuk berjalan lebih cepat mendekati pintu menuju ruang makan itu. Pintu besar yang tertutup rapat itu dibuka dengan susah payah oleh Donghyuck karena sebelah tangannya masih memegang tangan Mark. Maka Mark berinisiatif untuk membantu Donghyuk dengan meminjamkan tangannya untuk ikut membuka pintu itu.

Saat pintu berhasil terbuka cukup lebar..

"Saengil chukka hamnida! Saengil chukka hamnida! Saranghaneun uri Markeu~ Saengil chukka hamnida~"

Di depan meja makan panjang yang berada di ruang makan, berdiri Ten, Hansol, Doyoung, Yuta, dan beberapa immortel dari kelas barunya di dunia immortel dan kue raksasa yang diletakkan di tengah-tengah meja.

Mark mengerjapkan kedua matanya, tak sadar Donghyuck sudah berlari meninggalkannya dan bergabung dengan yang lain untuk berdiri di dekat kue raksasa dengan tulisan Mark Lee di pinggirnya.

Bahkan Mark tak sempat memperhatikan sekeliling ruangan yang sudah di dekor penuh dengan balon-balon di langit-langit.

Mark terlalu terkejut. Karena ia sendiri lupa, kalau ini sudah berganti hari. Dari hari Senin menjadi hari Selasa. Dan itu artinya, hari ini tepat tanggal 2 Agustus. 17 tahun yang lalu, Mark lahir di dunia manusia. Dan selama kurang dari 17 tahun hidupnya itu, Mark tak pernah menyangka akan tergabung dalam kelompok immortel yang memiliki kekuatan supernatural yang ia sendiri tak pernah bayangkan ada itu.

"Kesini, Mark! Cepat tiup lilinmu!" Doyoung mengayunkan tangannya, menyuruh Mark untuk mendekat ke tempat yang lain berdiri.

Mark, dengan langkah pelan dan kedua mata yang masih membulat sempurna karena terkejut perlahan mendekat ke arah yang lain.

"Jangan lupa untuk ucapkan harapanmu di dalam hatimu."

Ucapan Yuta disambut Mark dengan anggukan. Sebelum pemuda yang genap berusia 17 tahun itu menutup kedua matanya, dengan tangan yang bertautan satu sama lain.

Semoga aku bisa tahu apa kekuatanku. Secepatnya.

Fiuuhhh

Mark meniup lilin-lilin di atas permukaan kuenya. Sebelum tepuk tangan dari orang-orang di sekelilingnya terdengar.

"Apa harapanmu, Mark?" Ten bersuara, sementara Hansol sibuk memarahi Yuta yang mulai mencolek krim kuenya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sementara Doyoung dan Donghyuck sibuk menyiapkan piring-piring kecil untuk tempat kue yang akan dipotong Mark itu.

"Rahasia dong hyung. Kalau kuberitahu ngapain juga mengucapkannya dalam hati."

Mark mengucapkannya begitu santai, seolah lupa kalau dari tadi ia menghindari untuk bertemu dengan Ten.

Mark tak menangkap Donghyuck yang berjalan mendekati Ten sebelum berbisik pada pemuda Thailand itu. Dan Mark juga tak menangkap seringaian yang muncul di wajah Ten. Karena Mark terlalu sibuk dengan Doyoung yang menarik tangannya dan menyuruhnya untuk memotong kuenya.

"Mark,"

"Hmm?" Mark tak bisa menoleh ke arah Ten karena ia tengah memotong kue sekarang. Bahaya kalau kuenya disajikan dengan potongan yang jelek.

"Selamat. Mulai hari ini kau adalah seorang Adoptive memory."

Ruangan yang sempat sepi itu kali ini dipenuhi oleh teriakan Doyoung. Yang meneriaki Mark karena dengan seenaknya menjatuhkan kue potongan pertamanya ke lantai.

.

.

.

TBC