In neverland, we have immortal life. But they said neverland is only nonsense. No one belives. But what if neverland is really exist? I mean, what if in this real world, there is some of us that live eternally? They're not vampire. They consider as human. But they indeed have supernatural power. The power that makes them live an immortal life.

They usually called themelves as Immortel

.

.

.

Immortel

NCT

Author : kjsykjkhkdgjjc07

NCT belongs to SM, God, and their family

This story belongs to me

Fantasy, romance, angst

Rated T (Some chapter will be rated as M and I will give the warning before)

.

.

.

"Kadang terlalu larut dalam buku-buku itu membuatmu terlihat seperti seorang idiot."

Sebuah suara yang menginterupsi Johnny yang tengah menghabiskan waktu senggangnya seperti hari-hari biasanya itu membuat putra sulung kerajaan daemon itu mengangkat wajahnya dan menatap si pemilik suara.

"Kupikir ini pertama kalinya kau mengataiku idiot dalam 345 tahun." Johnny menutup bukunya ketika melihat sosok Taeil, sosok yang lahir bersama-sama dan tumbuh bersama di dunia daemon. Sosok yang menjadi sahabat terlama yang ia miliki.

Taeil, sosok blonde itu hanya tersenyum tipis sebelum merebut buku yang tadi dipegang Johnny dan menatap sampul buku itu. "Immortel? Sejak kapan kau tertarik untuk mendalami tentang musuh bebuyutan kita? Bukankah kau tak pernah sekalipun ikut dalam pertarungan melawan immortel sepanjang hidupmu?"

Johnny menghela nafasnya. Ia tahu sahabatnya itu akan bertanya demikian ketika melihat judul buku yang ia baca. "Sudah dengar kalau adikku sedang dalam misi untuk turun ke dunia manusia kan?"

"Tentang merebut salah satu manusia yang akan diubah menjadi immortel oleh para immortel itu?"

"Sebenarnya bukan hanya satu. Ada dua manusia yang akan diubah menjadi immortel dalam waktu dekat ini. Tapi kudengar salah satu dari mereka sudah berhasil diubah menjadi seorang immortel sehingga fokus adikku itu hanya tertuju pada satu manusia lagi. Lagipula, yang satu ini adalah kunci utama para immortel. Bisa dibilang, ia akan menjadi immortel terkuat dan akan menjadi saingan yang tak bisa ditandingi bahkan oleh ayahku sekalipun."

Taeil mencerna ucapan Johnny beberapa saat sebelum kembali bersuara, "Maksudmu, adikmu itu diperintahkan untuk menculik manusia calon immortel no 1 itu agar mencegahnya menjadi seorang immortel?"

Johnny tiba-tiba menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah garis lengkung yang tipis. "Daripada dibilang mencegahnya untuk menjadi seorang immortel, yang akan adikku lakukan adalah mengubahnya menjadi daemon no 1."

Taeil tak bisa mencegah dirinya untuk terkejut. "Hei, tak pernah ada dalam sejarah keturunan daemon yang berasal dari manusia kan?"

"Memang tak ada. Tapi manusia ini bisa mengubah sejarah daemon kapan saja. Bukan hanya daemon, tapi juga sejarah immortel."

Ucapan Johnny membuat kedua bola mata Taeil bergerak tak nyaman. Otaknya sibuk mencerna baik-baik ucapan sahabatnya itu. Rasanya aneh, jika daemon no 1 bukan dimiliki oleh seorang putra kerajaan. Johnny, yang seharusnya bisa menjadi daemon no 1 menolak mentah-mentah posisi itu. Dan saat Taeil mengira adik tiri Johnny lah yang akan mengambil posisi itu, nyatanya adiknya itu malah mengambil manusia untuk diubah menjadi daemon no 1.

"Kalian.. maksudku kita, para daemon, tak berpikir untuk menggunakannya seperti budak, kan?"

Pertanyaan yang keluar dari bibir Taeil mendapat jawaban yang sangat tak ia ingin lihat dari Johnny. Sebuah seringaian kecil itu muncul di wajah pemuda bersurai coklat almond itu. "Bukankah daemon senang memperbudak manusia?"

Taeil menelan ludahnya bulat-bulat. Tampaknya ada sesuatu yang mengubah pemikiran Johnny setelah membaca buku tentang para immortel itu.

Dan Taeil hanya bisa berharap Johnny tak membangunkan sosok daemon yang masih tertidur di dalam dirinya. Jika sosok itu terbangun, tak akan ada Johnny, yang ada hanya Youngho, sosok menyeramkan yang bahkan tak Taeil kenali sebagai sahabatnya itu..

.

.

.

Mark tak tahu berlatih menjadi seorang immortel akan sesulit ini. Terlebih ketika kau sudah mengetahui apa kekuatan yang kau miliki. Dalam hati ia tak berhenti merutuki Hansol, yang pernah mengatakan bahwa sebenarnya kekuatanmu akan muncul secara natural untuk pertama kali kau menggunakannya. Jadi, harusnya Mark hanya perlu menunggu saja sampai kekuatannya itu muncul sendiri, kan?

"Kalau kau berpikiran seperti itu terus kau tak akan bisa mengalahkan Ten hyung. Bukankah kau pernah berjanji pada dirimu sendiri kalau kau akan mengalahkan Ten hyung yang selalu memamerkan kekuatannya padamu?"

Tubuh Mark tersentak saat Donghyuck mengejutkannya dengan tiba-tiba duduk di sampingnya. Memutar bola matanya saat sadar yang lebih muda darinya itu selalu senang sekali mengejutkannya dan membaca pikirannya seenaknya.

"Habisnya kau terlalu mudah dibaca. Mengundang sekali untuk immortel yang memiliki kemampuan sepertiku membaca pikiranmu."

Mark hanya memajukan bibirnya mendengar jawaban Donghyuck yang secara tidak langsung menyindirnya sebagai seorang yang lugu. Seperti yang Yuta selalu katakan ketika melihatnya. Oke, Mark tahu ia hanya anak bau kencur jika dibandingkan dengan Yuta, Ten, Doyoung atau Hansol yang hidup 328 tahun lebih lama darinya. Tapi terlihat lugu di depan Donghyuck yang bahkan lebih muda darinya beberapa bulan itu tentu membuat harga dirinya seperti diinjak-injak.

"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Bagaimana kalau kita pergi ke bioskop saja? Menonton film baru disana. Aku bosan ditinggal oleh Doyoung hyung yang sibuk akhir-akhir ini."

Benar juga kata Donghyuck. Lagipula tak ada Hansol yang sedang mengawasinya sekarang. Itu artinya ia bisa kabur dari pelatihan immortel-nya dan bersenang-senang bersama Donghyuck.

"Dan makan diluar? Katamu banyak makanan yang jauh lebih enak daripada di markas. Kau harus membawaku ke tempat-tempat itu!"

"Deal."

Mark segera beranjak untuk berdiri dan menarik tangan Donghyuck agar mengikutinya segera. Mendadak lupa bahwa seharusnya Donghyuck yang menuntunnya, karena, tahu apa Mark soal dunia immortel? Ia saja masih sering tersasar saat berada di markas utama immortel yang dipenuhi banyak pintu dan membuatnya pusing melewati lorong panjang yang tak ada habisnya itu.

Tapi Donghyuck membiarkan Mark yang menuntunnya dan berjalan di depannya. Agar ia punya bahan ledekan ketika nanti Mark sadar kalau mereka tersesat. Jangan beritahu Mark kalau Donghyuck senang sekali menggoda yang lebih tua karena menurutnya, ia senang melihat wajah Mark yang kesal ketika ia menggodanya.

Anggap saja Donghyuck menemukan target 'bully' yang baru setelah Doyoung mulai sibuk dengan misi baru yang diberikan deity padanya dan immortel hyung yang lainnya itu.

.

.

.

Junhoe, pemuda bersurai merah nyala itu tersenyum sinis setelah mendengar cerita panjang Hanbin. Yang berakhir dengan pemuda yang lebih tua itu melampiaskan amarahnya pada pohon yang ada di dekatnya dengan membakarnya hingga hangus.

"Kau mau kubakar juga? Jangan memasang senyum seperti itu Goo Junhoe!"

Junhoe mengangkat kedua tangannya, seolah mengisyaratkan ia menyerah. Namun kenyataannya ia malah memperburuk suasana hati Hanbin. "Bakar saja. Aku kan abadi, tidak seperti pohon itu. Cinta membuatmu semakin terlihat seperti idiot."

Kedua tangan Hanbin meremas rambutnya kasar. Ia tak tahu kenapa dari sekian banyak sahabat yang ia miliki, jika ada masalah dengan Bobby sosok brengsek di sebelahnya lah yang menjadi tempat curhatnya. Meski ia tahu, menceritakan semuanya pada Junhoe sama saja menambah masalah yang ia punya.

Hanbin menghempaskan tubuhnya di samping Junhoe, diatas tanah yang terasa panas di punggungnya. Menutup kedua matanya mencoba mengontrol emosinya. Hanbin adalah daemon yang paling sulit untuk mengontrol emosinya. Terutama amarah.

"Kalau dia bersenang-senang disana kenapa kau tak bersenang-senang juga?"

Hanbin menulikan telinganya. Tak mau membiarkan setiap kata yang keluar dari bibir Junhoe masuk ke telinganya.

"Dia mengacaukan dunia manusia. Kenapa kau tak mengacaukan dunia immortel?"

Mendengar kata immortel membuat kedua kelopak matanya terbuka kembali. Seringaian khas daemon yang lebih muda darinya itu menyambutnya.

"Kudengar ada immortel baru disana. Kurasa kita bisa mengetes kemampuannya. Sedikit memberi peringatan tentang betapa bahayanya daemon untuknya."

Hanbin memang mendengar kalau immortel baru saja mendapat anggota baru. Bukan dari kelahiran bayi immortel yang baru, atau bukan dari anak kecil yang baru menyadari kemampuannya apa. Tapi dari salah satu penghuni dunia manusia, dunia yang paling Hanbin benci keberadaannya.

"Kau juga bisa membalaskan dendammu pada para manusia itu."

Hanbin tak bisa lebih dari setuju lagi dengan usul Junhoe.

.

.

.

Yuta tak tahu kenapa ia harus bersembunyi seperti ini dari Taeyong selama beberapa hari belakangan ini. Menyelinap ke rumahnya hanya untuk memandangi wajah polos pemuda itu saat tertidur, lalu pergi ketika ia membangunkan Taeyong dengan membuka tirai kamarnya secara sengaja. Menunggu Taeyong untuk keluar rumahnya dan mengikuti kemana pun Taeyong pergi. Atau jika pemuda itu memutuskan untuk berdiam di rumah saja, maka Yuta akan menemukan cara untuk berada di dalam rumah Taeyong tanpa sepengetahuan si pemilik.

Bermain kucing-kucingan dengan Taeyong hanya membuatnya frustasi.

Bagaimana tidak, jika ia hanya bisa menatap pemuda itu dari jarak yang cukup jauh tanpa bisa menatapnya dari jarak yang lebih dekat? Tidak bisa menggoda pemuda itu disaat pemuda itu tampak bosan dan membuatnya kesal. Atau menyentuh kulit Taeyong yang selalu berhasil mengalirkan aliran listrik ke seluruh tubuhnya.

Ia merindukan Taeyong, meski setiap hari ia selalu melihatnya.

Dan dirinya ragu, apakah Taeyong juga merindukannya?

Hari ini Taeyong memutuskan untuk menghabiskan liburannya di dalam rumah. Membuat Yuta menghela nafas lega karena itu artinya tak ada bocah menyebalkan yang memiliki wajah sok tampan bernama Jung Jaehyun itu. Oke, Yuta mengakui Jaehyun memang tampan dan errr.. seksi. Tapi tetap saja ia merasa dirinya masih jauh lebih tampan dari Jaehyun.

Yuta bersembunyi di dapur ketika Taeyong keluar dari kamarnya dan langsung berjalan menuju ruang tengah. Ia bisa mendengar suara kaki Taeyong yang memelan dan mengira kalau pemuda itu memang berjalan ke ruang tengah. Mungkin menonton TV. Jika perhatian Taeyong tersita pada TV, dan posisi sofa yang berada di ruang TV membelakangi dapur, Yuta bisa keluar dari tempat persembunyiannya dan memperhatikan Taeyong dari jarak aman.

Menjadi penyelinap di rumah Taeyong selama beberapa hari, mudah bagi Yuta untuk menebaknya dengan benar. Meski hanya melihat surai coklat Taeyong dari tempatnya berdiri sekarang, sudut bibirnya sudah terangkat membentuk lengkungan tipis. Yuta juga harus bersusah payah untuk menahan dirinya agar tak menggerakkan tangannya untuk menyentuh surai coklat itu. Mengusaknya perlahan, menunggu protes keluar dari bibir Taeyong.

Yuta sendiri masih tak mengerti alasan kenapa dirinya memilih mengawasi Taeyong dari kejauhan.

Apa karena Taeyong meneriakinya untuk tak mengganggunya lagi? Yuta rasa itu memang salah satunya. Namun ada hal lain yang menahan Yuta terlalu frontal untuk mendekati Taeyong. Persetan dengan deity yang selalu menanyakan progress tentang perekrutan Taeyong sebagai anggota immortel. Juga dengan Doyoung yang selalu menceramahinya karena tak sepintar Ten yang dengan mudahnya merekrut Mark di hari keduanya bertemu dengan Mark. sementara ia? Sudah dua minggu dan ia tak menunjukkan tanda-tanda Taeyong mau menyutujui perekrutan ini.

Lagipula Taeyong dan Mark sangat berbeda. Mark masih dalam masa peralihannya menuju dewasa. Sangat mudah mempengaruhi bocah itu. Sementara Taeyong? Mendengar masa lalu yang diceritakan deity tentang dirinya saja membuat Yuta langsung berpikir untuk selalu melindunginya.

Ah.

Mungkin Yuta takut jika ia terus gencar mendekati Taeyong dan mengajak pemuda itu bergabung dengan immortel, ia tak bisa melindungi Taeyong seperti yang ia inginkan. Kekuatannya tak ada apa-apanya dibanding dengan kekuatan yang bisa Taeyong miliki jika ia menjadi seorang immortel. Immortel terkuat membuat Yuta takut Taeyong akan mendapatkan banyak bahaya ketika ia menyandang titel itu. Dan apa lah Yuta yang tak bisa melindunginya jika kekuatannya tak seberapa dibanding kekuatan Taeyong?

Immortel memang makhluk abadi. Jika mereka terluka, atau bahkan nyaris terbunuh, immortel bisa mengobati luka separah apapun itu. Tapi butuh waktu yang tidak sedikit dan sakit yang luar biasa yang akan dirasakan immortel dalam masa pengobatan yang mereka sebut dengan Healing. Kalau Taeyong menjadi anggota immortel dan menjadi sasaran musuh sepanjang masa mereka daemon, Yuta benar-benar takut ia tak bisa melindungi Taeyong. Bahkan Yuta takut jika para daemon itu sudah mengetahui kalau immortel akan mempunyai dua anggota baru, para daemon itu akan menyerang Taeyong dan Mark. Terlebih jika Johnny, atau yang ia ketahui masih daemon terkuat turun tangan.

Mungkin Yuta tak pernah melihat seperti apa wujud Johnny. Bukan hanya Johnny, putra sulung kerajaan daemon. Yuta tak pernah menghadapi daemon yang memiliki keturunan kerajaan. Tapi Yuta tahu tentang tradisi daemon no 1 yang selalu diturunkan pada keturunan kerajaan.

Apalah ia yang hanya immortel berkekuatan telekinesis ingin melindungi Taeyong dari daemon terkuat itu?

"Uhuk!"

Yuta tersadar dari lamunannya ketika mendengar Taeyong terbatuk. Bukan hanya sekali, tapi rentetan batuk terus terdengar menemani bunyi TV yang sedang menyala. Ingin rasanya Yuta mengambilkan segelas air hangat lalu menyuruh Taeyong untuk meminumnya. Ia gemas, ketika Taeyong terbatuk terus-menerus tapi pemuda itu tak punya inisiatif untuk mengambil air dan melegakan tenggorokannya.

"Ah, harusnya aku tiduran saja di kamar.."

Jangan tanya betapa terkejutnya Yuta ketika mendengar suara Taeyong yang terdengar lemah dan serak. Merutuki dirinya setelahnya karena sebelumnya ia memang menyadari bibir Taeyong pucat saat pemuda itu masih tidur tadi. Kenapa ia tak kepikiran kalau pemuda itu sakit?

Yuta panik. Ia ingin membuatkan Taeyong sesuatu sebelum Taeyong kembali tidur. Karena dari bangun tidur tadi Taeyong belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya. Bahkan semalam, Taeyong hanya menaruh makanan take away yang ia bawa tanpa menyentuhnya membuat bungkusan itu masih utuh diatas meja.

Tapi bagaimana caranya Yuta memaksa Taeyong untuk makan? Tanpa mengejutkan Taeyong kalau sedari tadi ia ada di dalam rumah bersamanya?

Klontang!

Bunyi barang jatuh dari dapur menyita perhatian Taeyong yang sedang memijit kepalanya yang terasa berat sekali. Bahkan ia sempat berpikir bahwa dirinya berhalusinasi karena ia mulai merasa bahwa benda-benda di sekelilingnya bergerak memutarinya.

Taeyong sendiri tak tahu apa yang menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari sofa yang empuk dan mengabaikan kepalanya yang benar-benar terasa berat hanya untuk mengecek dapur kesayangannya. Sedikit bersusah payah bahkan harus berpegangan pada dinding agar tubuhnya tak hilang keseimbangan.

Yang Taeyong temukan adalah panci yang biasa ia gantung di dinding dapur sudah tergeletak di lantai.

"Yuta?"

Entah kenapa nama pemuda itu yang langsung muncul di benak Taeyong. Taeyong yakin panci itu tak mungkin bergerak sendiri dan terjatuh. Posisi panci itu digantung sedikit menjorok ke dalam pada gantungannya, mustahil untuk panci itu sampai ke lantai kecuali ada orang yang menjatuhkannya.

Dan nama pemuda yang sempat mengganggunya beberapa waktu yang lalu lah yang terlintas di benak Taeyong.

Tapi melihat kondisi dapur Taeyong yang kosong membuat Taeyong menelan mentah-mentah pemikiran bahwa Yuta lah yang menjatuhkan pancinya. Apa mungkin terjadi gempa? Buktinya Taeyong juga sempat merasa benda-benda di sekitarnya berputar yang ia kira karena pusing yang mendera kepalanya.

Apapun itu, Taeyong segera mengenyahkan segala pemikirannya dan berjalan untuk mengambil panci itu. Menggantungkannya lagi ke tempatnya semula. Ia hanya ingin cepat-cepat kembali ke kamar dan istirahat.

Menonton TV saat kau mendadak terkena summer cold adalah ide yang sangat buruk. Bahkan Taeyong sama sekali tak bernafsu ketika melihat bungkusan makanan yang semalam ia bawa di meja makan. Padahal perutnya belum diisi dari semalam. Meski perutnya berteriak minta diisi, otak Taeyong lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dan kembali ke kamarnya.

Ceklek!

Suara pintu yang ditutup itu menjadi sinyal bagi Yuta untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Yuta bisa bernafas lega setelah tadi mendadak terkena serangan jantung saat Taeyong memanggil namanya. Yang untungnya pemuda itu tak penasaran lebih lanjut dan mencarinya. Karena kalau Taeyong mencarinya dan menemukannya yang bersembunyi di kolong meja makan, bisa mati berdiri ia.

Tapi Yuta masih harus berpikir keras mencari cara agar makanan di meja makan itu berpindah ke dalam perut Taeyong dan memberikannya obat agar setidaknya membuat pemuda itu merasa baikan.

Karena rencana pertamanya memancing Taeyong untuk pergi ke dapur dengan menjatuhkan panci gagal total. Makanan itu tetap tak disentuh oleh Taeyong.

.

.

.

Mark tak tahu kabur dari markas utama akan semenyenangkan ini. Selama seminggu lebih Mark tinggal di dunia immortel, baru kali ini Mark bisa bergerak leluasa di luar markas. Ia bahkan bisa melihat lebih banyak immortel lagi dengan berbagai macam kekuatannya. Dan jangan lupakan tentang makanan-makanan yang biasa Mark temui di dunia manusia yang juga terjajal di dunia immortel. Dengan sedikit perbedaan dalam variasi penyajiannya.

Bahkan Mark tak sadar ia dan Donghyuck sudah mampir ke tiga kedai makanan. Mark baru menyadari saat tubuhnya sulit bergerak karena kekenyangan. Oh tidak, tubuh atletisnya mendadak rusak karena nafsu makannya yang berlebihan.

"Kau kan berjanji untuk pergi ke bioskop, kenapa malah mengajak kita ke kedai ini sih? Ini sudah kedai ketiga tau."

Mark meringis mendengar ucapan Donghyuck. "Kenapa kau baru protes ketika makananmu habis, Donghyuck-ssi."

Donghyuck memutar bola matanya sebelum menyenderkan punggungnya pada senderan kursi dan tangan yang memegangi perutnya. Setelah merengek ia ingin pergi ke bioskop. Dan Mark menenangkannya bahwa ia janji setelah beristirahat selama beberapa saat disini tujuan mereka selanjutnya adalah bioskop.

"Memangnya apa yang ditayangkan di bioskop disini?"

"Kami biasanya mengkopi film-film yang biasa ditayangkan di dunia manusia."

"Bukan hanya dari Korea kan?"

"Ada dari benuamu berasal juga, kok. Film Hollywood malah terhitung lebih banyak jumlahnya setauku."

"Ugh, aku bahkan lupa kapan terakhir kali pergi ke bioskop saat di Kanada."

Donghyuck tertawa kecil sebelum tiba-tiba berdiri lalu menarik tangan Mark. "Sepertinya kau tidak sabar untuk menginjakkan kakimu di bioskop. Kujamin, bioskop disini jauh lebih menyenangkan daripada bioskop di dunia manusia."

Meski perutnya masih terasa sakit karena terlalu banyak makan, melihat senyum antusias di wajah Donghyuck membuat Mark tak membantah dan mengikuti kemana yang lebih muda menarik tubuhnya.

Tapi baru beberapa langkah keduanya keluar dari kedai terakhir yang mereka kunjungi, langkah kaki Donghyuck tiba-tiba berhenti. Dan Mark merasakan tangan Donghyuck mendingin di dalam genggamannya.

"Ada apa?"

"Mereka datang."

Mark terkejut ketika melihat bola mata Donghyuck bergerak tak nyaman. Melihat ke sekelilingnya dengan was-was. Terlebih ketika Donghyuck mempererat genggaman tangannya dengan menautkan jemari mereka.

"Mereka?"

"Sedang membicarakan kami, bocah?"

Bukan Donghyuck yang menjawabnya, melainkan suara dari arah lain yang membuat Mark dan Donghyuck memutar tubuh mereka. Dua pemuda yang satu bersurai merah nyala dan yatu bersurai hitam legam tengah menatap mereka dengan tatapan tajam dengan seringaian di wajah mereka.

Dan tubuh Mark baru bereaksi saat ia merasakan suasana di sekelilingnya mendadak berubah menjadi panas.

Mark tak tahu siapa dua pemuda yang muncul di hadapannya. Tapi melihat dari penampilannya, kulit pucat dan lingkar hitam di matanya membuat Mark menebak bahwa keduanya bukan immortel. Dan Donghyuck tak akan sepanik ini jika yang muncul di hadapan mereka hanya lah immortel.

"Jadi Donghyuckie yang manis, bisa menyingkir sebentar dari hadapan teman barumu itu? Jangan khawatir, kami hanya ingin memperkenalkan diri pada si pendatang baru."

Mark terkejut dengan ucapan pemuda yang berambut merah. Sementara matanya berusaha menghindari tatapan pemuda yang sedari tadi hanya diam dan menatap tajam ke arahnya. Dan Mark dibuat lebih terkejut lagi saat Donghyuck maju ke depannya, mencoba menyembunyikan Mark di belakang punggungnya. Mengabaikan postur tinggi mereka dimana Mark yang lebih mendominasi.

"Kubilang menyingkir, bocah Kim.." nada bicara yang dalam dan penuh penekanan itu tak menggoyahkan Donghyuck untuk menyingkir dari hadapan Mark.

"Kau ini tak bisa diberitahu dengan ucapan rupanya? Baiklah, jangan salahkan jika apa yang kulakukan akan membuatmu mengadu pada kakakmu yang cerewet itu."

Mark tidak bisa mencerna apa yang terjadi di hadapannya dengan cepat. Tapi kedua matanya membulat sempurna ketika pemuda bersurai merah mengeluarkan api dari tangannya. Mark tak tahu ada immortel pengendali api disini. Semakin meyakinkan Mark bahwa keduanya bukan berasal dari dunia immortel.

Memikirkan keduanya berasal darimana tak penting sekarang. Karena api yang sosok itu keluarkan sudah bergerak dengan cepat ke arah mereka.

Bukan, tapi ke arah Donghyuck.

.

.

.

Yuta berhasil masuk ke dalam kamar Taeyong tanpa membangunkan pemuda itu. Tanpa membawa makanan di tangannya atau bahkan obat. Ia hanya ingin melihat bagaimana pemuda itu tertidur dan memastikan bahwa pemuda itu tak sakit cukup parah.

Dengan sangat perlahan, Yuta berjalan mendekati tempat tidur Taeyong. Pemuda itu menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut bermotif spongebob. Menyisakan kepalanya yang tak ikut tertutupi.

Tangan Yuta ragu-ragu bergerak untuk menyentuh dahi Taeyong setelah memastikan pemuda itu lelap dalam tidurnya.

Panas. Yuta tak langsung mengangkat tangannya setelah menyentuh dahi Taeyong. Tangannya malah bergerak untuk mengusak surai coklat milik Taeyong perlahan. Berusaha sepelan mungkin agar tak membangunkan Taeyong.

Taeyong benar-benar sakit. Suhu tubuhnya sangat panas, membuat Yuta langsung mengambil kesimpulan kalau Taeyong tengah demam tinggi. Dan ia harus melakukan sesuatu untuk merawat Taeyong yang sakit.

Yuta bimbang selama beberapa saat di samping tempat tidur Taeyong. Hanya berlutut di samping tempat tidurnya dan menatap tubuh Taeyong yang tampak menggigil dalam tidurnya. Membuat Yuta benar-benar ingin melingkarkan tangannya di tubuh kurus Taeyong dan membagi hangat tubuhnya agar Taeyong tak kedinginan.

Yuta menggigit bibir bawahnya. Keputusannya sudah bulat. Masa bodo dengan permainan kucing-kucingan yang selama ini ia lakukan bersama Taeyong. Urusan Taeyong terbangun dan menemukan Yuta berada di sampingnya adalah urusan belakang. Yuta benar-benar ingin memeluk sosok itu sekarang.

Saat Yuta akan naik ke atas tempat tidur Taeyong, ada tarikan yang membuat tubuhnya itu menjauh dari tempat tidur itu. Bukan hanya itu, bahkan membuatnya tiba-tiba kehilangan pemandangan Taeyong yang tengah tertidur.

Suasana kamar Taeyong mendadak berganti menjadi pepohonan yang terbakar dimana-mana. Membutuhkan waktu 3 detik untuk menyadarkan Yuta apa yang baru saja terjadi.

Benar, saat ia menoleh ke sampingnya, ia menemukan Hansol tengah berdiri dengan wajah paniknya.

Hansol baru saja membawanya berteleportasi kembali ke dunia immortel. Disaat ia hampir saja memeluk Taeyong.

"Mark dan Donghyuck dalam bahaya. Markas utama juga dikepung oleh empat daemon. Dua daemon lainnya tengah mengejar Donghyuck dan Mark. Kita harus mencari keduanya karena tak satu pun dari mereka pernah melawan daemon."

Mata Yuta membelalak seketika. Bagaimana para daemon itu bisa masuk ke dunia mereka dan membuat kekacauan seperti ini? Bukankah barrier yang dibuat Hansol setidaknya bisa menahan pada daemon itu untuk masuk kesini?

"Mereka merusak barrier yang kubuat entah bagaimana caranya. Cepat, kita harus mencari Mark dan Donghyuck!"

Yuta tak pernah melihat Hansol sepanik ini. Sahabatnya itu punya pembawaan yang tenang. Mungkin ini pertama kalinya bagi Yuta melihat Hansol panik saat berhadapan dengan daemon.

"Doyoung tak bisa membaca keberadaan Donghyuck?"

Hanya yang memiliki ikatan darah yang bisa membaca keberadaan immortel lainnya. Daripada Yuta, harusnya Hansol membawa Doyoung bersamanya. Yuta bisa membantu melawan para daemon yang masuk ke dalam markas.

"Itu lah masalahnya. Sejak daemon itu menerobos markas, Doyoung sudah berusaha mencari keberadaan Donghyuck. Namun tidak ada hasilnya."

Yuta menelan ludahnya kasar. Jika kau tak bisa membaca keberadaan immortel, hanya dua kemungkinan. Immortel itu tak membiarkanmu membacanya, atau immortel itu sedang dalam keadaan sekarat.

Kemungkinan terakhir membuat Yuta segera menarik tangan Hansol. Lupakan tentang teleportasi Hansol. Mereka harus berlari mengelilingi dunia immortel untuk secepatnya menemukan keduanya. Tak mungkin keduanya berada terlalu jauh dari markas.

.

.

.

Johnny memperhatikan Taeil yang sedari tadi mondar-mandir di hadapannya. Berulang kali membuang nafasnya kasar. Bola matanya juga bergerak tak nyaman.

"Aku pusing melihatmu mondar-mandir seperti itu." Akhirnya Johnny bersuara. Membuat kaki Taeil terhenti. Sebelum daemon bersurai blonde itu berjalan mendekat ke arah Johnny.

"Johnny, aku tahu aku harusnya menemanimu bertemu dengan ayahmu nanti. Tapi-"

"Kau ada keperluan penting mendadak?"

Hanya melihat dari ekspresi di wajah Taeil sudah membuat Johnny mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Tanpa perlu mendengar jawaban keluar dari bibir Taeil.

"Pergilah."

Kedua bola mata Taeil membulat sempurna. Membuat Johnny mengeluarkan sebuah tawa paksa, mencoba meyakinkan Taeil bahwa ia tak apa jika ditinggal. "Aku akan bilang pada ayah kalau kau sedang mengacaukan dunia immortel. Seperti yang Junhoe dan yang lainnya lakukan sekarang. Ayah akan senang mendengarmu ikut terlibat dalam hal seperti itu."

"Apa benar tak apa?"

Johnny mengangguk. "Pergilah. Daripada kau membuatku pusing melihatmu yang panik seperti itu."

Taeil tersenyum kecil mendengar penuturan Johnny sebelum mengucapkan sebuah pamitan singkat dan menghilang dari hadapan Johnny.

"Kenapa kau belum mengatakan yang sebenarnya padaku dan menyembunyikannya selama ini? Aku itu apa? Sahabat terbaikmu?"

Johnny hanya tersenyum tipis memandangi ruang kosong tempat Taeil berada tadi.

.

.

.

Ten dan Doyoung kewalahan menghadapi empat daemon sekaligus yang menerobos masuk ke dalam markas. Bahkan mereka berdua tak bisa memancing empat daemon itu untuk bertarung di luar markas. Menyebabkan kerusakan parah di beberapa tempat di dalam markas.

"Kupikir kau bisa menghentikan waktu? Kenapa tak menghentikannya sekarang, Kim Dongyoung-ssi?"

"Aaarrrgggghhhh!"

Doyoung mengerang kesakitan saat tubuhnya terlilit oleh tali yang dikelilingi oleh api di seluruh bagiannya. Membuat tubuhnya itu terjatuh di lantai dan menimbulkan bunyi yang keras.

Tak hanya tubuhnya, kepalanya juga merasakan sakit yang luar biasa saat salah satu daemon menghalanginya untuk menggunakan kekuatannya. Ini lah yang selalu membuat Doyoung merasa tak berguna sebagai pengendali waktu. Ia tak bisa menggunakannya jika sedang bertempur melawan para daemon.

"Dua lawan dua. Seperti yang kau minta. Tapi jika kau sudah terbaring tak berdaya seperti ini bagaimana kalau kubiarkan sahabatmu itu melawan kami berempat sekaligus?"

Ten. Doyoung hendak mengeluarkan suaranya namun sebuah tali mendadak melilit lehernya membuat nafasnya tersedak.

"Sayang ya, immortel yang tak berguna seperti dirimu juga hidup abadi. Jadi, nikmati penyiksaanmu sebelum kami melakukan hal yang sama pada sahabatmu itu juga."

Doyoung hanya bisa mendengar suara derap langkah yang menjauh darinya. Ia bahkan tak sanggup untuk membuka kedua matanya. Kekuatannya benar-benar tak berguna sekarang. Ia yang kehabisan nafas karena tercekik, dan tubuhnya yang benar-benar tak bisa bergerak sedikitpun. Meskipun kekuatannya sudah tak dihalangi oleh daemon itu, tetap saja ia tak bisa menggunakannya ketika ia tak bisa fokus dengan keadaan tubuhnya yang melemah.

Donghyuck.. Selamatkan Donghyuck, Hansol..

Doyoung hanya berharap pesannya itu sampai kepada Hansol, partner-nya yang ia harap berhasil membawa Yuta dan menemukan Donghyuck dan Mark sekarang. Sementara ia terus meminta maaf pada Ten karena tidak bisa membantunya saat kesadarannya perlahan menghilang.

"Dongyoung!"

Kenapa sekarat seperti ini membuatmu berhalusinasi? Bagaimana mungkin ia bisa mendengar suaranya?

"Taeil.."

.

.

.

Taeyong membuka kelopak matanya yang terasa berat saat ia merasa tubuhnya benar-benar menggigil. Namun ketika matanya sudah terbuka, aura panas lah yang menyentuh kulitnya. Aneh. Bukankah orang yang sedang demam harusnya merasa dingin sementara kulitmu terasa panas jika disentuh orang lain?

Dengan susah payah Taeyong beranjak untuk duduk di tempat tidurnya. Kepalanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia kira tidur bisa membuat tubuhnya membaik.

"Bangun dari tidur cantikmu, sleeping beauty?"

Tubuh Taeyong tersentak saat mendengar suara lain di kamarnya. Matanya segera terarah ke sumber suara.

Bola mata Taeyong membulat sempurna.

.

.

.

TBC