In neverland, we have immortal life. But they said neverland is only nonsense. No one belives. But what if neverland is really exist? I mean, what if in this real world, there is some of us that live eternally? They're not vampire. They consider as human. But they indeed have supernatural power. The power that makes them live an immortal life.

They usually called themelves as Immortel

.

.

.

Immortel

NCT

Author : kjsykjkhkdgjjc07

NCT belongs to SM, God, and their family

This story belongs to me

Fantasy, romance, angst

Rated T (Some chapter will be rated as M and I will give the warning before)

.

.

.

"Hyung harusnya bilang kalau kau terkena summer cold. Aku kan tak harus capek-capek mengantri di kedai eskrim yang baru buka hanya untuk membawakanmu eskrim ini. Eh, kau malah tak bisa memakannya."

Taeyong tak berhenti cemberut. Menatap sedih ke arah dua baskom es krim yang ada di meja makan.

"Aku mana tahu kalau kau mau main kesini."

Terdengar helaan nafas Jaehyun yang sekarang beranjak untuk duduk di sampingnya. Taeyong bisa merasakan punggung tangan Jaehyun menempel pada dahinya.

"Suhu tubuhmu cukup tinggi. Istirahatlah di kamar. Aku akan membuatkan sesuatu untuk hyung."

"Maksudmu kau memasak?"

Jaehyun menautkan alisnya, menatap Taeyong tak mengerti. "Memangnya apalagi hyung?"

"Aku tak suka ada yang mengacak-ngacak dapurku."

Taeyong pikir Jaehyun akan memutar bola matanya mendengar ucapannya barusan. Tapi nyatanya pemuda itu malah menggerakkan tangannya untuk mengacak surai coklat miliknya.

"Kau meragukanku, hyung?"

Tanpa sadar Taeyong mengangkat bahunya. "Ya, siapa tahu. Selama kau berkunjung disini aku selalu menyuguhkanmu makanan."

Dua lesung pipi yang dalam itu terpampang di wajah tampan Jaehyun. "Tidurlah, hyung. Kau akan terbangun dengan sendirinya ketika menyium aroma masakanku."

"Maksudmu kembali ke kamarku?"

Lagi, Taeyong melontarkan pertanyaan yang terdengar lucu di telinga Jaehyun. "Alam bawah sadarmu pasti mengambil alih dirimu, hyung. Sedari tadi kau melontarkan pertanyaan yang tak penting. Memangnya kau mau tidur dimana? Di ruang tamu?"

Taeyong memajukan bibirnya. "Lebih baik daripada harus bertemu dengan hantu itu." Dan bergumam dengan pelan. Tapi sayangnya Jaehyun menangkap gumaman pelan Taeyong itu.

"Hantu apa hyung?"

"Kalau kuceritakan kau pasti tak percaya."

Ketika melihat Jaehyun tertawa kecil, Taeyong ingin sekali menimpuk wajah pemuda di sampingnya itu. Oh tidak, siapa Jaehyun mentertawakannya?

"Benar kan, demam membuatmu berhalusinasi."

"Aku tidak berhalusinasi!"

"Tidak ada hantu di dunia ini, hyung. Jika memang ada, mereka tak akan menampakkan diri mereka di siang bolong seperti ini."

"Pokoknya aku benar-benar melihatnya, Jae!"

Jaehyun hendak tertawa, kali ini lebih kencang. Tapi tatapan tajam tertuju padanya.

"Berhenti tertawa atau kuusir kau dari apartemenku."

Jaehyun berusaha keras untuk menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya.

"Kau harus istirahat, hyung." Akhirnya, setelah berhasil menguasai dirinya Jaehyun kembali berujar.

"Aku bisa beristirahat disini."

"Tidak nyaman, hyung. Yang ada punggungmu akan terasa sakit semua ketika bangun."

"Aku tak mau ke kamar, Jae. Tidak untuk sekarang."

Kedua tangan Jaehyun terangkat ke udara, tanda menyerah. "Oke, terserah hyung. Jangan salahkan aku jika punggungmu terasa sakit nantinya. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu dulu."

Jaehyun hendak beranjak, tapi tangan Taeyong menahannya. Membuat Jaehyun mau tak mau kembali menatap mata bulat milik Taeyong itu. Yang sudah menatapnya dengan tatapan memohon.

"Baiklah, penakut. Ayo kita ke dapur."

Dan Jaehyun berakhir memasak di siang hari dengan Taeyong menemaninya. Taeyong tertidur, dengan kepala bertumpu pada tangannya di atas meja makan. Mungkin lebih parah dibanding ia harus tidur di ruang tamu. Tapi untuk saat ini, Taeyong tak mau ditinggal sendirian. Untuk berjaga-jaga siapa tahu sosok itu akan muncul lagi nantinya.

Sebenarnya Taeyong sekalian ingin mengawasi Jaehyun agar tak mengacak-ngacak dapurnya. Namun kenyataannya, ia malah tertidur dan lupa untuk mengawasi Jaehyun.

"Kau sangat mengundang untuk dipeluk, hyung. Hampir saja aku kehilangan kendali saat melihatmu merajuk tadi." Jaehyun berbisik, tentu setelah yakin Taeyong benar-benar terlelap.

.

.

.

Yuta menatap tak percaya isi markas utama mereka. Begitu hancur, tak berbentuk. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ia semakin panik ketika melihat keadaan markas mereka. Ia sudah sangat panik saat ia mendengar suara Ten. Dan ia hanya bisa berharap sahabatnya itu bisa bertahan lebih lama selama ia kesini.

Yuta berlari ke lantai atas, entah kenapa. Ia merasa bahwa Ten ada disana. Yuta tak pernah tahu instingnya bisa sekuat seperti sekarang ini.

"Ten!"

Kakinya tak berhenti menaiki tangga melingkar itu. Keadaan markas sangat parah. Lebih parah dibanding kejadian beberapa waktu lalu saat para daemon menyusup. Ini memang bukan pertama kalinya para daemon itu menyusup ke markas dan menghancurkannya. Sebenarnya tak masalah, karena dengan alat-alat di laboratorium Hansol semuanya akan kembali seperti semula dalam waktu singkat. Yang menjadi masalah adalah dimana Ten dan Doyoung yang seharusnya ada di markas sekarang?

"Chittaphon!"

Yuta sudah berteriak frustasi ketika ia tak menemukan sosok sahabatnya itu dimana pun.

"Kim Dongyoung!"

Langkah kakinya bahkan lebih frustasi dibanding raut wajahnya sekarang.

"Sialan!"

Di saat genting seperti ini Yuta dengan bodohnya malah tersandung patahan kayu di lantai. Jika Ten ada disini, ia sudah mentertawai Yuta habis-habisan.

Tunggu! Bicara mentertawai Yuta, kenapa Yuta mendengar suara yang tak asing baginya tak jauh di belakangnya?

"Kau sangat tidak keren, Nakamoto. Kalau Taeyong melihatmu hancur sudah reputasimu di matanya."

Kedua bola mata Yuta membola. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya. Hanya sepuluh meter di belakangnya, Ten berdiri tegap dengan tawa mengejek terpampang jelas di wajahnya.

"Kau.." Yuta berjalan mendekati Ten sembari meneliti setiap inci tubuh sahabatnya itu. Baju yang Ten kenakan memang dalam keadaan yang cukup mengenaskan dengan bekas bakaran dimana-mana, tapi tak ada luka yang berarti di tubuh Ten. Hanya goresan yang terlihat di wajahnya dan darah kering di sudut bibirnya.

"sialan."

Kali ini Yuta mengumpat, tapi dengan senyum lega yang terpampang di wajahnya. "Kuharap para daemon itu membunuhmu."

Yuta tahu ucapannya bodoh. Mana mungkin immortel bisa mati? Lihat saja bagaimana Ten memutar bola matanya sebelum menoyor kepala pemuda keturunan Jepang itu.

"Balik lagi ke bangku sekolah bersama Mark dan Donghyuck sana!"

Yuta meringis. "Ngomong-ngomong, mana Doyoung?"

Tubuh pemuda yang lebih kecil darinya itu menegang seketika mendengar nama salah satu sahabat mereka yang lain. "Sial," dan mengumpat sebelum berlari ke lantai paling atas, dimana seharusnya Doyoung berada.

"Ten?!"

Yuta yang tak mengerti kenapa Ten lari begitu saja dengan cepat mengikuti langkah pemuda Thailand itu. Baru saja Yuta bernafas lega saat melihat Ten baik-baik saja, sekarang kenyataan apa lagi yang harus ia terima? Nasib Donghyuck dan Mark saja belum pasti, lalu sekarang Doyoung?

"Daemon sialan itu.. Aku akan membalasnya!"

.

.

.

Jaehyun mengusak surai coklat milik Taeyong perlahan, setelah menepuk pipi pemuda itu tak mempan, karena Taeyong tak kunjung bangun.

"Eung.."

Akhirnya.

Setelah menghabiskan lebih dari lima menit hanya untuk membangunkan kakak tingkatnya itu, akhirnya dua bola mata hazel itu terbuka. Mengerjap sesaat untuk menyesuaikan cahaya yang membuat kepala Taeyong pusing.

"Makanannya sudah siap, hyung. Dan kau tak perlu khawatir. Aku tak mengacaukan dapurmu."

Dengan enggan Taeyong menegakkan tubuhnya. Sebenarnya ia malas untuk makan. Perutnya saja mual saat aroma masakan memasuki indera penciumannya. Tapi tubuhnya bisa makin parah kalau ia tak makan. Sudah berapa lama perutnya dibiarkan kosong?

Jaehyun menaruh sup yang tampaknya lezat tapi sama sekali tak menggugah selera Taeyong.

"Tenang hyung, aku tak menaruh apapun ke dalam supnya."

Taeyong mengerang sebelum menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Oooh, hyung kode mau disuapin ya? Bilang dong dari tadi, hyung."

Sebelum Jaehyun meraih sendok untuk menyuapi Taeyong, tangan Taeyong bergerak lebih dulu untuk meraih sendoknya.

"Aku bisa makan sendiri."

Tak baik mentertawakan orang sakit. Tapi bagaimana Jaehyun tak ingin tertawa, saat sifat tsundere kakak tingkatnya kambuh dan memaksakan dirinya makan sendiri sementara sendok di tangannya sedari tadi terus bergetar?

"Sini, hyung."

Tak peduli dengan tatapan Taeyong yang hendak memprotesnya, Jaehyun merebut sendok di tangan Taeyong dan mulai menyuapi Taeyong. Meski yang lebih tua memberikan tatapan tajam dan tak kunjung membuka mulutnya, pada akhirnya makanan itu berhasil masuk ke dalam mulut Taeyong.

"Setelah ini kau harus minum obat dan istirahat di kamar."

Mendengar kata kamar membuat tubuh Taeyong menegang. Oh, jangan lagi.

"Kutemani, hyung."

Helaan nafas lega lolos dari bibir Taeyong. Tapi debaran jantungnya mendadak berpacu cepat. Wajahnya juga terasa panas.

Ah, sepertinya aku benar-benar butuh istirahat.

.

.

.

Yuta melipat dadanya, menatap Hansol tajam, meminta penjelasan lebih.

"Maksudmu apa salah satu daemon membawa kabur Doyoung dan kau menyuruh kita untuk tak menyusulnya?!" lain dengan Yuta, tampaknya Ten tak bisa menahan emosinya. Mendengar ucapan Hansol beberapa waktu yang lalu, Ten merasa tak terima. Meskipun ia dan Doyoung sering bertengkar, sama halnya seperti Yuta, Doyoung tetap lah sahabat dan keluarganya yang akan selalu ia lindungi.

"Ada banyak hal yang tak kalian tahu tentang Doyoung."

Braaakk!

"Karena itu cepat beritahu dan jangan bertele-tele Ji!"

Jujur, Yuta tak pernah melihat Ten semarah ini. Tapi Ten tak salah, Yuta juga ingin meninju wajah Hansol yang tampak tenang berdiri di hadapannya. Hanya saja ia mencoba menjaga emosinya, takut Mark dan Donghyuck yang berada di ruang sebelah mendengar mereka.

Sekembalinya Hansol yang membawa Mark dan Donghyuck ke markas, Hansol memang menyuruh Mark untuk menenangkan Donghyuck di kamarnya. Sementara mereka bertiga disini, di perpustakaan pribadi Hansol untuk berbicara enam mata.

"Kenapa Doyoung tak bisa menghubungi Donghyuck sebelumnya untuk mengetahui keberadaan Donghyuck?"

Yuta mengernyitkan dahinya. Kenapa malah balik bertanya?

"Karena Donghyuck menghalanginya. Bukankah itu sudah jelas?"

Hansol menggeleng pelan. "Harusnya Doyoung yang menceritakan semuanya, bukan aku. Sejujurnya, saat Doyoung mengatakan ibunya hamil adiknya, yang ia maksud bukan ibu kandungnya. Melainkan bibinya yang tak lain adalah adik dari ibunya."

"Bukankah marga Donghyuck.."

"Keluarga Doyoung mengangkat Donghyuck menjadi anak mereka saat ibu kandung Donghyuck memutuskan untuk tinggal di dunia manusia selamanya. Ia tak ingin tinggal di dunia immortel hanya untuk dihantui kehadiran mantan suaminya."

"Ibu Donghyuck manusia?"

"Bukan, ia immortel, sama seperti kita. Hanya saja ia memilih untuk tidak kembali lagi kesini dan hidup abadi di dunia manusia."

Jujur, Yuta sangat tak menyangka hal ini. Selama ini Doyoung dan Donghyuck benar-benar terlihat seperti saudara kandung yang sering bertengkar namun saling menyayangi. Yuta bahkan kadang iri dengan keduanya saat sedang bercengkrama.

"Kenapa.. kenapa Doyoung tak pernah cerita?"

Yuta menoleh kea rah Ten. Pemuda itu menatap kosong lurus ke depannya. Pasti merasa terkhianati setelah selama ini Doyoung menutupi kebohongannya.

"Menjaga perasaan Donghyuck. Donghyuck tak suka saat nama ibunya disebut. Anak itu memiliki trauma yang cukup besar. Meski mereka bukan saudara kandung, tapi mereka tetap memiliki hubungan darah. Hal yang tak wajar bagi immortel bisa berkomunikasi jika mereka bukan partner ataupun saudara kandung. Tapi ikatan batin antara Doyoung dan Donghyuck yang kuat lah yang bisa membuat hal itu terjadi. Sayangnya, tidak setiap saat mereka bisa berkomunikasi seperti itu."'

"Lalu? Mengenai dimana Doyoung berada sekarang?"

"Jangan bilang kalau daemon itu juga memiliki hubungan darah denngan Doyoung?"

Gelengan kepala dari Hansol membuat keduanya menghela nafas lega.

"Bukan hubungan darah yang Doyoung miliki dengan daemon yang membawanya pergi. Tapi hubungan yang bahkan tak bisa kalian lihat secara kasat mata tetapi bisa kalian rasakan."

"Maksudmu?"

"Apa yang tak selalu bisa kalian lihat secara gamblang tapi bisa kalian rasakan?"

Oh tidak.. "Daemon itu.." suaranya seolah tercekat di tenggorokannya. Yuta mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sesaat sebelum melanjutkan ucapannya setelah merasa Ten menuntut jawaban secepatnya. "kekasih Doyoung?"

Mungkin yang Ten dengar dari mulut Yuta jauh lebih mengejutkan dibanding apa yang Hansol ucapkan sebelumnya.

.

.

.

Taeyong merasakan pusing di kepalanya sedikit mereda saat ia membuka matanya untuk kesekian kalinya hari itu. Berkat sup dan obat yang akhirnya masuk ke dalam percernaannya.

"Hyung sudah bangun?"

Taeyong menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar mandinya, dimana Jaehyun keluar dengan rambut basah dan handuk di bahunya. Untungnya Jaehyun sudah berpakaian lengkap. Kalau tidak jangan salahkan Taeyong jika koleksi boneka spongebob miliknya berterbangan kea rah Jaehyun.

"Kau mandi?"

"Tubuhku berkeringat, hyung. Gara-gara kau mematikan pendingin ruangannya. Salahmu kan tak mau kupeluk dan memilih untuk tidur tanpa pendingin ruangan."

Taeyong menendang kaki Jaehyun yang seenaknya naik ke tempat tidurnya. Tak peduli pemuda itu meringis saat tubuhnya mendarat di lantai keras kamarnya.

"Kau ini beneran sakit atau tidak sih?! Kuat sekali nendangnya."

Tak memperdulikan ucapan Jaehyun, Taeyong menyibakkan selimutnya dan berjalan keluar kamar.

"Hyung mau kemana?!"

Taeyong membalikkan badannya dan menatap Jaehyun sekilas. Sebelum menutup pintu kamarnya dengan bantingan.

"Sedang sakit bukannya jadi kucing manis malah jadi anjing galak."

"Aku mendengarnya Jung Jaehyun!"

Jaehyun hanya bisa meringis sebelum memilih berdiri dari posisi terjatuhnya. Namun saat kakinya hampir melangkah keluar kamar Taeyong, ponsel di saku celananya bergetar.

Melihat nama yang tertera di layarnya membuat dahi Jaehyun mengernyit.

"Ya?"

"Jaehyun! Aku membutuhkanmu!"

"Kau tak pernah membutuhkanku."

"Aku serius! Kau harus kemari sekarang!"

"Katakan dulu kenapa kau tiba-tiba menggangguku. Bukannya kau selalu mengganggu si-"

"Cepat bodoh! Atau kau mau aku muncul di hadapan Taeyong dan membuatnya membencimu selamanya?"

Jaehyun mengerang.

"Lima menit."

Jaehyun mengakhiri panggilan itu sebelum berjalan cepat keluar kamar. Menghampiri Taeyong yang sedang menggonta-ganti channel di layar persegi panjang di depannya.

"Hyung, aku tadi sudah menghangatkan supnya. Kau bisa makan sendiri kan?"

Taeyong melirik Jaehyun sekilas. "Aku bukan anak kecil, Jung."

"Bagus. Kalau begitu tak apa jika aku pulang sekarang kan?"

"Pulanglah."

"Aku janji akan kemari lagi besok pagi. Jangan lupa minum obatmu."

Taeyong tak merespon saat tangan besar Jaehyun mengacak surai coklatnya. Bahkan Taeyong tak melirik Jaehyun sekilas pun saat si jangkung keluar dari apartemennya.

Kepergian Jaehyun membuat suasana apartemennya mendadak hening. Taeyong melirik sekelilingnya. Ia lupa kalau tadi siang ia baru saja memohon pada Jaehyun untuk tak meninggalkannya karena sewaktu-waktu hantu menyeramkan yang mengganggunya bisa muncul kapan saja.

Dengan cepat ia meraih ponselnya yang entah sejak kapan tergeletak di meja depannya. Dengan kecepatan kilat ia mengetikkan pesan untuk Jaehyun.

To : Jae-pig

Cepat kembali, bodoh. Kalau hantu itu muncul tiba2 bagaimana?!

Tapi sampai tengah malam, tak ada balasan dari Jaehyun.

.

.

.

Sedari tadi Ten hanya diam, tak mengeluarkan suara sedikit pun bahkan saat Hansol mengobati luka-luka di sekujur tubuh Ten. Yuta sadar kenapa sahabatnya bertingkah seperti itu. Jujur, ia juga merasa dikhianati oleh Doyoung. Kenapa Doyoung hanya menceritakan semuanya pada Hansol, tapi tidak dengannya dan Ten?

Yuta paham kalau Hansol adalah partner dari Doyoung. Tapi mereka berempat sudah bersama-sama saat masih duduk di bangku sekolah dasar bahkan sampai usia mereka yang 300 tahun lebih. Jadi Doyoung menganggap mereka selama ini apa?

"Jadi, bagaimana caranya kita melindungi Mark?"

Yuta dan Hansol sama terkejutnya, tak menduga Ten akhirnya membuka mulutnya juga.

"Kita tidak perlu melindungi Mark. Mark lah yang akan melindungi kita."

Ten membuang nafasnya kasar. "Mark memang hebat bisa mengalahkan Hanbin sampai membuatnya terluka parah. Bahkan membuat Junhoe pergi begitu saja tanpa membalas apa yang sudah Mark perbuat pada Hanbin. Tapi kau lupa itu hanya dua daemon dari devil trinity. Tapi kalau putra raja daemon yang sebentar lagi kau bilang akan diangkat menjadi raja itu yang menyerang?"

Beda dengan sebelumnya, Ten tampaknya lebih bisa menguasai emosinya setelah sedari tadi hanya diam sementara Hansol memberitahukan apa saja yang ia dan Ten belum ketahui.

"Kurasa hanya satu jawabannya. Kita harus membawa Taeyong kemari."

Yuta mendesah pelan. "Mustahil, Ji! Aku saja kesusahan membujuknya!"

"Kalau dengan cara halus tak bisa ada yang namanya memaksa, kan?"

"Culik saja Taeyong dan bawa ia kemari."

"Jangan!" Yuta melompat dari kursi yang ia duduki. "Taeyong akan benar-benar membenciku jika kita menculiknya kesini!"

"Nakamoto dan cinta bodohnya itu."

Yuta tak memperdulikan ucapan Ten. Ia punya usul yang jauh lebih baik daripada menculik Taeyong dan membawanya ke dunia immortel.

"Suruh Mark yang membujuk Taeyong! kau bilang Mark adik kandungnya kan?"

Tapi tampaknya Hansol yang kali ini tidak setuju dengan usul Yuta.

"Sudah kubilang kan, Taeyong dan Mark mungkin tak mengingat satu sama lain. Orang tuanya berpisah saat keduanya masih sangat kecil. Dan Mark mungkin lupa kalau ia pernah punya kakak laki-laki dari Korea, bukan kakaknya yang sekarang berada di Kanada."

"Tapi mereka itu immortel terkuat, Ji. Pada akhirnya mereka berdua harus mengingat satu sama lain agar bisa melindungi kita semua kan?"

Hansol menghela nafasnya sebelum menyenderkan punggungnya pada sandaran kursinya.

"Deity memintaku untuk tidak memberitahu keduanya bahwa mereka mempunyai hubungan darah."

Kalau sudah membawa nama deity, Yuta hanya bisa mengerang dan membanting tubuhnya di kursi kayu yang keras.

"Culik calon kekasihmu itu kesini, bakamoto. Tunggu apa lagi?"

Yuta melirik Ten sinis. Ternyata Ten yang ia kira akan berada di pihaknya malah memihak pada Hansol yang sebelumnya ia bentak-bentak itu.

"Tapi Taeyong sedang sakit."

"Kau lupa aku bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit?"

Rasanya Yuta ingin melemparkan barang-barang di sekitarnya ke wajah Ten dan Hansol sekarang juga.

.

.

.

Mark menatap Donghyuck yang tertidur pulas di balik selimut tebal itu. Setelah sedari tadi kedua kelopak mata bocah itu terus terbuka, dan bibir bocah itu terus bertanya pada Mark tentang keadaan Doyoung, akhirnya bocah itu tertidur pulas juga di kasur Hansol.

Ya, karena serangan para makhluk yang Donghyuck sebut daemon itu menghancurkan sebagian besar markas utama, termasuk kamarnya dan Donghyuck, mau tak mau Mark dan Donghyuck harus mengungsi sampai Hansol menyelesaikan semua kerusakan di markas.

Apa yang terjadi hari ini membuat kepala Mark sakit. Semua gambaran tentang hal-hal fiksi yang selama ini hanya pernah Mark lihat di layar, kali ini ia mengalaminya sendiri. Bahkan dirinya, yang entah bagaimana bergerak sendiri saat itu bisa melakukan hal-hal yang tentu diluar akal pikirannya.

Jika bertanya apakah Mark takut? Siapa yang tidak takut jika kau seperti di ujung ajalmu dan bertarung melawan makhluk entah apa pastinya yang menyerangmu dengan api yang berkobar? Mark takut setengah mati, bahkan sampai ia berada di dalam markas pun ia tidak merasa aman. Bagaimana pun markas juga hancur karena serangan makhluk itu.

Tapi jika bertanya apakah Mark menyesal telah menerima tawaran Ten untuk datang ke dunia penuh fiksi yang benar-benar belum Mark pahami sama sekali, maka Mark mungkin akan memilih untuk tidak menjawabnya.

Ia mungkin menyesal, tapi melihat bagaimana ia baru saja menyelamatkan dirinya dan Donghyuck dari dua makhluk bernama daemon membuat Mark harus berpikir dua kali untuk menyesal.

Kalau nyatanya memang ia dibutuhkan disini, dan ia menyesal lalu meminta Ten untuk mengembalikannya ke dunianya, bagaimana dengan Donghyuck? Sementara bocah itu tak mau melepaskan tangannya sejak Hansol membawa mereka kembali ke markas. Bagaimana dengan Hansol, yang mengatakan bahwa ia berharap banyak padanya untuk menyelamatkan tak hanya para immortel tapi juga para manusia? Lalu bagaimana dengan partner immortel-nya? Tak mungkin ia kembali ke dunia manusia tanpa bertemu dengan immortel terkuat itu kan?

"Mark?"

Tubuh Mark terlonjak keget saat mendengar suara Hansol di belakangnya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya, menatap sosok yang memiliki jarak umur 300 tahun lebih dengannya.

"Kau mengejutkanku, hyung."

Sosok itu tersenyum. Sebuah senyum hangat yang bisa menenangkan perasaan gelisah Mark untuk sesaat.

"Kau tidak tidur?"

Kini Hansol ikut duduk di pinggir tempat tidur bersamanya. Tangannya bergerak untuk mengusak surai hitam milik Donghyuck perlahan, agar tak membangunkan bocah itu.

"Aku sedang menjaga Donghyuck, hyung."

Hansol menatap Mark lembut. "Biar hyung yang menjaga kalian berdua. Kau pasti sangat lelah setelah apa yang terjadi padamu dan Donghyuck. Hyung yang akan terjaga dan menjaga kalian."

Hati Mark menghangat. Ucapan Hansol terdengar seperti seorang kakak yang berjanji untuk melindungi adiknya. Bahkan Mark tak pernah mendengar ucapan itu terucap dari kakaknya sendiri. Kakaknya itu terlalu cuek, sibuk dengan pekerjaannya dan terlalu sering mengabaikan Mark.

"Tidurlah, Mark." Kali ini Hansol mendorong pelan tubuh Mark agar ia ikut berbaring di sebelah Donghyuck. Donghyuck bergerak sedikit dalam tidurnya saat Hansol mengatur posisi selimut agar benda tebal itu menyelimuti dua tubuh sekaligus.

"Selamat malam, Mark.." Hansol mengusak rambut Mark sekilas sebelum berjalan keluar kamar.

Sepeninggalan Hansol, Mark tetap terjaga dengan mata yang tertuju pada langit-langit kamarnya. Kehangatan ini.. meski tak sehangat seperti saat ia berkumpul bersama keluarganya di Kanada, tapi kehangatan ini lah yang memberatkan hatinya untuk berpikir meninggalkan tempat ini.

.

.

.

Taeyong terbangun saat mendengar suara bel pintu apartemennya. Tubuhnya otomatis melompat dari sofa yang berubah menjadi tempat tidurnya karena Taeyong terlalu takut untuk menetap di kamarnya dalam waktu yang lama. Masih dengan langkah gontai, Taeyong berjalan menghampiri pintu apartemennya. Menyiapkan sumpah serapah untuk Jaehyun, yang bahkan tak membalas pesannya semalam.

"Ya Jung Jaehyun siapa yang menyuruhmu untuk kesini pagi pagi begi- Yuta?!"

.

.

TBC

Haihaihai~ siapa yang masih ingat sama fic ini? Aku udah pernah cerita kan kalo akunku yang kjsykjkhgjjc07 gak bisa dibuka? Dan akhirnya aku numpang di akun bbykon? Berhubung lagi libur kuliah, aku memutuskan buat ngelunasin utang-utang fic-ku yang numpuk satu persatu. Dimulai dari yang ini nih, fic awal aku tentang NCT yang gak selese-selese stuck disitu aja -_- Oh ya, alurnya emang terkesan lambat banget tapi aku janji chapter depan udah masuk ke inti ceritanya, hehe.

Kalian gak masalah kan kalo aku repost ff ini di akun siniii? Gak masalah buat ngebaca semua ulang takutnya lupa gimana jalan ceritanya, hehe. Keep supporting NCT guuuyyss~