In neverland, we have immortal life. But they said neverland is only nonsense. No one belives. But what if neverland is really exist? I mean, what if in this real world, there is some of us that live eternally? They're not vampire. They consider as human. But they indeed have supernatural power. The power that makes them live an immortal life.

They usually called themelves as Immortel

.

.

.

Immortel

NCT

Author : kjsykjkhkdgjjc07

NCT belongs to SM, God, and their family

This story belongs to me

Fantasy, romance, angst

Rated T (Some chapter will be rated as M and I will give the warning before)

.

.

.

"Hei Hyuck,"

Donghyuck hanya tersenyum tipis. Sedikit menggeser tubuhnya agar Mark bisa menempati sisi kosong di sampingnya.

"aku mencarimu di seluruh kamar ternyata kau disini. Hebat juga ya Hansol-hyung, markas kembali seperti semula saat aku datang kemari seolah-olah kemarin tak terjadi apa-apa."

Tak terjadi apa-apa ya?

Mark mungkin tak punya kemampuan Donghyuck. Dan Mark juga tak mencuri salah satu ramuan mind-reading dari laboratorium Hansol. Tapi Mark bisa membaca apa yang ada di pikiran Donghyuck.

"Doyoung-hyung baik-baik saja. Kau percaya Hansol-hyung kan?"

Jika dulu di Kanada Mark tak terbiasa dengan segala bentuk skinship, disini ia harus mulai membiasakan dirinya. Seperti mengontrol detak jantungnya yang mendadak berpacu cepat setiap Donghyuck melakukannya?

Mengabaikan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul itu, Mark merengkuh pundak Donghyuck. Membuat pundaknya senyaman mungkin sebagai tempat sandaran Donghyuck sekarang.

"Kalau ternyata baik-baik saja, kenapa Hansol-hyung, Yuta-hyung bahkan Ten-hyung yang blak-blakan menyembunyikannya? Kenapa aku tak boleh melihat Doyoung-hyung?"

Mark menelan ludahnya kasar. Sebenarnya ia tak tahu pasti dimana keberadaan kakak dari teman barunya ini. Ia juga ragu untuk meyakinkan Donghyuck jika Doyoung tak kenapa-napa. Karena dirinya sendiri tak yakin, apakah Doyoung baik-baik saja?

"Pasti Doyoung-hyung terluka begitu parah sehingga aku tak boleh melihatnya."

Sesuatu yang membasahi bajunya itu membuat Mark dengan cepat menoleh ke samping. Hatinya mencelos. Donghyuck yang selama ini ia lihat selalu memasang senyum jahilnya. Donghyuck yang selama ini tak berhenti berbicara. Donghyuck yang senang berakting imut. Yang ada di hadapannya sekarang hanya lah Donghyuck yang terlihat rapuh dengan air mata yang entah sejak kapan mengalir di wajahnya. Sejak semalam, tak ada lagi Kim Donghyuck si mood maker.

"Kalau aku tak bisa melihat Doyoung-hyung lagi bagaimana?"

Bodoh. Bukankah Donghyuck tahu pasti kalau immortel tidak bisa mati? Tapi Mark sendiri tidak yakin. Benarkah immortel tidak bisa mati? Mark sendiri tak pernah melihat bagaimana immortel sekarat dengan mata kepalanya. Ia hanya membaca semua itu dari buku kan?

"Ssssttt…"

Tak ada yang bisa Mark lakukan selain merengkuh tubuh Donghyuck yang terasa ringkih. Membawa bocah itu ke dalam pelukannya, berusaha menenangkannya. Berusaha memberitahunya bahwa Donghyuck tidak sendiri. Ada ia kan yang akan selalu berada di samping Donghyuck?

"Percaya pada para hyung. Percaya padaku, oke?"

Ah, Mark tiba-tiba merindukan seseorang. Apa kabar hyung-nya di Kanada sana? Apakah ia tengah bertengkar dengan 'kembaran'nya di rumahnya? Atau 'kembaran'nya tengah mengganggu hyung-nya itu?

"Doyoung-hyung pasti segera kembali, Donghyuck."

.

.

.

Taeyong tak bisa berkata apa-apa dan hanya memasang wajah terkejutnya (yang kemungkinan terlihat sangat bodoh) di depan Yuta. Pemuda yang selama beberapa hari ini hilang jejaknya.

"Kau.. darimana saja?"

Kekehan pemuda itu.. kenapa tak ada keinginan lagi dalam diri Taeyong untuk menimpuk Yuta saat pemuda itu tertawa seperti itu? Bukannya dulu Taeyong selalu berusaha meraih apapun benda di dekatnya untuk menimpuk pemuda itu?

Bukannya kau yang mengusirnya Lee Taeyong?

Taeyong hanya bisa merutuki betapa bodohnya dirinya. Ini pasti efek karena dirinya masih demam. Iya, makanya dia terlihat seperti orang bodoh.

"Kau tak mempersilahkan tamumu untuk masuk?"

"Biasanya kau juga akan nyelonong masuk tanpa dipersilahkan."

"Jadi aku boleh masuk nih?"

Mungkin mengundang Yuta untuk masuk ke dalam tak buruk. Hitung-hitung jaga-jaga kalau hantu kemarin muncul lagi. Lagipula Yuta bisa menemaninya sampai Jaehyun datang lalu Taeyong tinggal mengusirnya lagi.

Tanpa menjawab pertanyaan Yuta yang terakhir, Taeyong menggeser tubuhnya sedikit. Memberi celah yang cukup agar Yuta bisa melewati pintu.

"Kau semalaman tidur di sofa?"

Taeyong yang mengikuti pemuda itu dari belakang hanya mengangkat bahunya. Sebelum melipat selimut yang masih terbentang di atas sofa agar Yuta bisa duduk disana.

"Menurutmu?"

Karena terlalu sibuk melipat selimut tebal bermotif sponge kuning miliknya, Taeyong jadi tak bisa mengantisipasi saat tangan Yuta bergerak menyentuh keningnya. Telapak tangan yang dingin itu mengalirkan sengatan listrik yang membuat Taeyong berhenti dan tak melanjutkan apa yang tengah ia lakukan.

"Tubuhmu sedikit panas."

Kedua bola mata Taeyong tanpa sengaja bertemu dengan iris abu-abu milik Yuta. Sejak awal, Taeyong curiga apakah pemuda Jepang itu menggunakan softlens atau bola matanya memang berwarna seperti itu. Tapi Taeyong tak pernah sadar, bahwa dua iris abu-abu itu cukup indah dipandang dari jarak yang sedekat ini.

"S-sudah lebih baik. A-aku sudah banyak istirahat kemarin dan minum obat."

Kenapa Taeyong jadi terbata begini?

"Syukurlah."

Senyuman itu.. bukan seperti senyuman-senyuman menyebalkan khas Yuta yang selalu membuat Taeyong ingin menjambak rambutnya.

"Yuta, maaf soal apa yang kuucapkan tempo lalu."

"Hmm?"

Taeyong menggigit bibir bawahnya. "Saat aku mengatakan aku tak ingin bertemu denganmu lagi."

Yuta tentu terkejut. Sangat jelas terlihat dari air mukanya. Tapi hanya beberapa saat, karena sebuah senyuman lembut kembali menghiasi wajahnya.

"Tak apa. Kita harus berpisah beberapa saat agar timbul rasa kangen untuk bertemu kan?"

Yuta kembali dalam mode menggodanya. Tapi Taeyong memilih untuk menanggapinya dengan sebuah tawa kecil. Sukses membuat Yuta terkejut untuk kedua kalinya.

Sebenarnya, Taeyong kenapa?

"Jadi, apa kau kangen padaku sehingga kau datang ke apartemenku pagi-pagi begini?"

Tiga kali. Yuta sudah terkejut tiga kali dalam kurun waktu lima menit saja.

"Bagaimana tidak kangen? Aku tak melihatmu begitu lama, Taeyong."

Bohong. Padahal kemarin pagi Yuta masih berada di apartemen ini sebelum Hansol menariknya ke dunia immortel. Ah, iya, Yuta jadi ingat apa tujuan utamanya ia memunculkan dirinya lagi di hadapan Taeyong.

"Hei, apa kau benar tidak apa-apa? Demammu benar-benar sudah turun kan? Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Lee Taeyong, jangan bilang kau belum makan apa-apa dan meminum obatmu?!"

Taeyong mengibaskan tangannya di depan wajah Yuta. Mencoba mengusir hawa panas yang tiba-tiba saja muncul di sekitar wajahnya. "Serius. Kenapa kau kemari. Kau benar-benar tega menggangguku yang sedang sakit?"

"Aku akan menceritakannya setelah kau makan dan minum obatmu."

Yuta sudah siap menarik tangan Taeyong agar mengikutinya ke dapur, tapi Taeyong lebih dulu menahannya agar Yuta duduk kembali.

"Kalau aku makan sekarang dan minum obat nanti aku mengantuk. Ceritakan dulu baru aku makan dan minum obat."

Sejak dulu Yuta tak pernah mendengarkan Taeyong. tapi kenapa anak itu menurut sekarang?

"Baiklah. Ini akan sedikit memakan waktu yang lama. Tapi kau serius ingin mendengarkannya kan?"

Taeyong mengangguk cepat. Kalau itu bisa membunuh waktu dan membuat Taeyong lupa kalau apartemennya berhantu, kenapa tidak?

"Ini soal duniaku."

Tubuh Taeyong menengang. Jangan bilang Yuta masih bersikukuh dengan teori immortel gilanya itu?

"Taeyong, kumohon. Dengarkan aku dulu sampai aku selesai. Kau berjanji ingin mendengarkan ceritaku, kan?"

Taeyong memang tak pernah suka dengan Yuta yang bercerita tentang dunia immortel-nya. Bagaimana dunia itu tak masuk di akal pikiran Taeyong sama sekali. Tapi Taeyong tak pernah mendengar Yuta memohon padanya. Dan entah apa yang membuat Taeyong mengatupkan bibirnya rapat. Mungkin ia harus menunggu sampai Yuta selesai menceritakan semuanya.

"Terima kasih, Taeyong."

Yuta tersenyum lega. Tapi hatinya mendadak bergemuruh. Jika dulu ia bisa mengatakan apapun pada Taeyong tentang immortel tanpa henti, tanpa peduli pemuda manis di hadapannya ini menganggapnya gila, entah kenapa sekarang ia was-was. Ia bahkan harus meyakinkan dirinya, menghela nafasnya berkali-kali sampai meraih salah satu tangan Taeyong untuk digenggamnya agar bisa menenangkan dirinya.

Apa yang Yuta takutkan? Penolakan kah? Bukankah selama ini Yuta selalu ditolak oleh Taeyong?

"Yuta, kau baik-baik saja?"

"Eum. Hanya sedikit.."

Yuta memejamkan matanya sesaat. Ia harus mengatakannya. Sekarang, atau ia tak akan pernah bisa membawa Taeyong ke dunianya selamanya.

"Taeyong, immortel hampir mendekati kehancuran."

Dahi Taeyong mengernyit. "Maksudmu?"

"Duniaku. Diserang oleh beberapa daemon dan akan ada serangan lainnya yang jauh lebih hebat dari yang kemarin."

Taeyong tak mengerti. "Daemon itu siapa?"

Ah, benar. Yuta merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia susah payah menjelaskannya kalau ia bisa langsung menunjukkannya pada Taeyong.

"Kau akan mengerti jika kau melihatnya sendiri."

"Yuta, jangan bercanda. Aku sama sekali tak mengerti apa maksu-"

Belum selesai Taeyong berbicara, tangan Yuta membekap mulutnya. Entah apa itu, mungkin semacam kloroform yang membuatnya diserang kantuk seketika.

"Yuta.."

"Maaf, Taeyong."

Akan lebih mudah jika Yuta membuat Taeyong tak sadarkan diri seperti ini. Pemuda itu membaringkan tubuh kurus Taeyong di sofa secara perlahan. Kemudian ia berlutut di samping pemuda itu. Tangannya sekali lagi mencari tangan Taeyong untuk digenggamnya.

"Aku menyayangimu, Taeyong."

.

"Cih, aku menyayangimu Taeyong? kupikir ini drama picisan yang biasa kulihat di drama-drama manusia."

"Setidaknya kisah cinta Yuta jauh lebih baik dibandingkan kisah cinta menyedihkanmu."

Sosok yang berdiri tak jauh dari tempat Yuta dan Taeyong berada, memutar badannya malas.

"Aku sedang tak ingin menanggapi immortel. Kau tahu, aku bisa saja menyerang Yuta tapi kenapa kau malah menunjukkan dirimu seperti ini? Seperti minta diserang?"

Sosok itu berjalan mendekati sosok lain yang berani menginterupsinya. Berdecih kesal disaat ia melihat sosok di hadapannya menyerigai.

"Kau mencoba merebut bagian putra raja, ternyata? Untuk apa, Kim Jiwon? Untuk membersihkan namamu di hadapan raja daemon? Bukankah sebentar lagi rajamu diganti? Seharusnya kau tak merebut apa yang menjadi milik raja selanjutnya kalau ingin membersihkan reputasi kotormu itu."

"Sialan.."

Splash!

Bola api yang ia arahkan ke sosok di depannya hanya melewati angin begitu saja dan berakhir membakar gorden merah di kamar itu.

"Daripada merusak alur drama picisan yang kau lihat tadi, kenapa tak mencoba memperbaiki alur cerita drama kehidupanmu sendiri?"

Runtutan bola api lagi-lagi hanya terlempar percuma dan merusak beberapa dinding di kamar Taeyong.

"Hhh.. beruntungnya Taeyong tak akan melihat kamarnya hangus setelah ini."

"Apa maksudmu, sialan?!"

"Kupikir para daemon begitu pintar. Ah, kurasa daemon yang benar-benar pintar hanya Johnny Seo, bukan? Si putra kebanggaan raja yang memilih mundur dari kursi kerajaan dan membiarkan adik ingusannya mengambil tahta selanjutnya?"

"Berhenti banyak omong kau Chittaphon!"

Ten, sosok itu hanya tersenyum, kali ini senyum merendahkan.

"Jangan berisik, Bobby. Kau ingin Yuta mendengarmu? Atau bahkan Taeyong terbangun dan melihatmu? Ia pasti akan sangat ketakutan ketika melihatmu. Tak apa sih, itu akan mempermudah kami untuk membawanya ke dunia immortel."

Jiwon menarik kerah baju Ten. Membuat tubuh kecil yang sangat tak sebanding dengan tubuh besarnya terangkat tak menyentuh tanah.

"Berhenti bermain-main, Jiwon. Kau tak seharusnya bermain-main di dunia manusia. Bukankah devil trinity membutuhkanmu?"

"Jangan berbicara seolah kau tahu semuanya tentangku, brengsek!"

"Kalau ternyata aku tahu? Seperti kau yang ternyata kekasih Kim Hanbin? Salah satu daemon terbodoh yang sekarang tengah kesakitan setengah mati di neraka tempatmu berada? Yang sekarang tengah berada di pelukan Goo Junhoe mengerang kesakitan."

"Apa maksudmu?!"

Ten tertawa sarkas. "Tanyakan itu pada teman-teman bodohmu yang berusaha menerobos gerbang immortel."

Secara kasar genggaman di kerah Ten terlepas. Membuat tubuh kecil itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Sekali lagi, sebuah seringaian muncul di wajahnya ketika melihat kobaran api terlihat di depannya sebelum menyisakan abu seiring tersisanya ia di kamar sendirian.

"Kupikir sudah cukup bermain-mainnya dengan para immortel. Kalian tak pernah tahu siapa yang akan kalian hadapi nantinya."

.

.

.

Jaehyun mengusak wajahnya kasar.

"Bagaimana bisa?"

"Sudah kubilang, brengsek. Bocah itu sangat kuat."

Tangannya mengepal.

"Maksudku bagaimana bisa kau dengan bodohnya memanggilku hanya untuk urusan sepele seperti ini?!"

Sosok yang sedari tadi terduduk di samping pembaringan itu bangkit. Sebelum suara baku tinju terdengar di ruangan itu.

"Kau bilang apa?! SEPELE?! INI KIM HANBIN BODOH!"

BUAGH!

"AKU TAK PEDULI! MAU ITU KIM HANBIN ATAU ITU KAU! ATAU BAHKAN JOHNNY SEKALIPUN! KARENA KAU AKU MENINGGALKAN TAEYONG SENDIRIAN DISAAT PARA IMMORTEL ITU BISA MENGAMBILNYA KAPAN SAJA!"

BUAGH!

Sosok jangkung yang sedari tadi juga berada di ruangan itu hanya terdiam dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Matanya tak lepas dari sosok yang terluka cukup parah dan tengah berbaring di satu-satunya kasur di ruangan itu.

"Yoonoh, berhenti."

Dan saat si sosok jangkung mulai jengah dengan suara gaduh yang ditimbulkan keduanya, akhirnya ia buka suara. Hanya dengan dua kata itu, keduanya sama-sama berhenti.

Jaehyun menatap penuh benci sosok yang berada di bawahnya sebelum bangkit untuk berdiri dan berjalan mendekati sosok jangkung di sudut ruangan.

"Aku akan kembali ke dunia manusia. Urus bocah brengsek itu. Dan beritahu pada Bobby untuk tak pernah muncul dari hadapanku karena berani menyentuh Taeyong."

Jaehyun menatap sosok jangkung yang bahkan tak sama sekali balas menatapnya saat ia berujar. Peduli apa Jaehyun? Yang penting ia harus kembali ke apartemen Taeyong sekarang.

"Percuma, Yoonoh."

Langkah kaki Jaehyun terhenti dengan nada dingin yang entah sudah berapa lama tak pernah ia dengar. Tapi bukannya takut, Jaehyun malah membalikkan tubuhnya dengan seringaian di wajahnya.

"Wow, akhirnya kau muncul juga Seo Youngho? Lama tak berjumpa."

Sosok jangkung itu menegakkan tubuhnya.

"Kita ganti strategi kita. Hentikan drama menggelikan yang kau lakukan di dunia manusia selama beberapa hari ini. Jika immortel ingin bermain kotor, biarkan kita bermain lebih kotor lagi."

Rasanya lebih menyenangkan melihat kakak tirinya itu dalam keadaan seperti ini. Dingin dan menakutkan. Ini lah salah satu alasan ia lebih menyukai Seo Youngho dibandingkan Johnny Seo. Karena Seo Youngho lah bagian dari daemon, bukan Johnny Seo.

"Oke. Aku juga ingin berkenalan dengan bocah yang hampir membunuh Kim Hanbin."

Dengan tatapan sinis ia melirik sosok yang ia pukuli tadi sudah berada di sisi Hanbin, memunggungi keduanya.

"Dan Junhoe, kukira kau berkencan dengan Jinhwan."

Meski Junhoe memunggunginya, Jaehyun tahu pasti kalau Junhoe tengah tersenyum menyeringai sekarang.

"Kupikir kita sahabat. Kenapa kau tak benar-benar tahu siapa yang kucintai?"

Bukankah menyenangkan? Disaat melihat persahabatanmu terpecah belah hanya karena kebodohan yang mereka perbuat sendiri? Oh, Jaehyun tak bisa lebih senang daripada ini.

.

.

.

Taeil tersenyum saat melihat sosok itu tiba-tiba muncul begitu saja. Tanpa suara, dan sudah berdiri di hadapannya sekarang.

"Aku membawakan obat-obatan yang kau butuhkan."

"Terima kasih, Han. Aku memang dapat mempercayaimu."

Hansol, sosok itu tersenyum sebelum berjalan mendekati ranjang tempat Doyoung berbaring. Luka-luka bekas lilitan tali memang terlihat jelas di beberapa bagian tubuh Doyoung. Tapi tak ada luka berarti lainnya. Melihat fisik Doyoung yang tak terlalu parah membuat Hansol semakin takut.

"Aku hampir putus asa setiap Doyoung mengerang kesakitan dalam tidurnya."

Hansol menatap Taeil yang mulai mengoleskan cairan yang baru saja ia berikan ke seluruh bekas lilitan tali di tubuh Doyoung.

"Kutukan yang Jinhwan keluarkan sangat menyiksanya, Sol. Bahkan lebih daripada saat Junhoe menyiksanya."

Hansol selalu membenci daemon. Sangat. Tapi ia tak akan pernah bisa membenci Taeil. Tidak saat ia selalu bisa menemukan tatapan penuh kelembutan ketika Taeil menatap Doyoung. Para daemon yang tak berhati, kasar, tak pernah ia temui pada diri Taeil. Tidak setidaknya ketika ia melihat ada Doyoung bersamanya.

"Bagaimana Donghyuck?"

Hansol membantu Taeil untuk meminumkan obat pada Doyoung yang masih tak sadarkan diri entah sampai kapan. Mungkin obat yang ia bawa tidak bisa sepenuhnya mengusir kutukan yang diberikan Jinhwan pada alam bawah sadar Doyoung. Tapi paling tidak itu bisa sedikit meredakan rasa sakit yang Doyoung rasakan.

"Ia sangat terpukul begitu tahu kakaknya menghilang begitu saja."

"Maafkan aku, Han."

"Para daemon itu egois kan? Kau tetap lah daemon, Taeil. Aku memaklumi hal itu."

Taeil tersenyum tipis sebelum menatap wajah Doyoung dan merapihkan sedikit surai yang menutupi keningnya.

"Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan Doyoung lagi dalam keadaannya yang seperti ini."

Kini Hansol yang merasa bersalah. Ia lah salah satu alasan kenapa Taeil tidak bisa bertemu dengan Doyoung. Semenjak ia membangun lingkaran pelindung Taeil tak bisa menyelinap ke dunia immortel untuk sekedar menatap wajah pemuda Kim yang sekarang terbaring lemah di hadapannya.

"Aku tak bisa lama-lama disini, Taeil." Hansol beranjak. Ia tak ingin mengganggu waktu pasangan ini. Sudah cukup ia memisahkan keduanya cukup lama beberapa waktu lalu.

"Tolong sampaikan perasaan bersalahku pada Donghyuck. Bagaimana pun itu caranya, Hansol."

Hansol tersenyum sebelum mengusak kepala Doyoung pelan. "Aku pergi Dongyoungie~ Taeil akan menjagamu dan ada Mark yang akan menjaga Donghyuck. Tidurlah dengan tenang sampai kau akan bosan untuk sekedar memejamkan matamu lagi, ttoki."

Untuk terakhir kali, Hansol menatap Taeil.

"Berhenti merasa bersalah. Kau juga berhak bertemu dengannya. Doyoung menyayangimu, seperti ia menyayangi kita semua."

Taeil mengangguk pelan. Sebelum mengiringi kepergian Hansol dengan tatapannya sampai sosok itu menghilang dari ruangan itu.

Tak ada salahnya untuk saling mencintai meskipun itu adalah sebuah kesalahan, bukan?

.

.

.

Taeyong terbangun di sebuah tempat yang sangat asing. Kepalanya terasa berat. Dan tidak ada seorang pun di sekitarnya. Bukankah ia tadi bersama Yuta? Di apartemennya?

"Mark! Donghyuck!"

Sebuah suara yang tak asing untuk Taeyong membuatnya menoleh. Disana rupanya Yuta. Tapi kenapa ia berlari seperti itu? Dan siapa yang berada di sampingnya?

"Yuta! Ini dimana?! Kenapa kau membawaku kesini?!"

Taeyong memanggil Yuta. Namun percuma, karena Yuta malah terus berlari semakin menjauh dari Taeyong. tak mau ditinggal sendiri di tempat yang asing baginya, Taeyong ikut berlari mengejar Yuta. Taeyong menyesal tak pernah memperhatikan pelajaran olahraga secara benar sewaktu sekolah dulu.

"Ya! Nakamoto!"

Percuma. Yuta tetap berlari seolah tak mendengarnya sama sekali. Apa-apaan pemuda itu? Setelah membawanya kemari malah mengacuhkannya seperti itu.

"Ji! Lihat pusaran angin itu!"

Taeyong yang hampir kehabisan nafas akhirnya bisa sedikit lega karena Yuta dan siapapun itu yang disampingnya berhenti berlari. Tapi hanya sebentar, dan Taeyong hanya bisa mengerang saat keduanya berlari kembali.

"Ya! Bakamoto!"

Dan keduanya benar-benar berhenti berlari ketika mereka tiba di dekat pusaran angin. Heol. Tempat macam apa ini? Dan kenapa saat ada tornado di depan mata begitu mereka diam saja?!

"Yuta!"

"Apa, Ji?! Di dalam sana pasti ada para daemon bersama Donghyuck dan Mark!"

Daemon? Bukankah Yuta tadi menyebut nama itu di apartemennya?

"Ya, Yuta tak lucu main-mainnya! Bawa aku kembali ke apartemen dan biarkan aku makan dan minum obatku!"

Taeyong berjalan mendekati Yuta, mengulurkan tangannya untuk menarik tangan pemuda itu. Tapi tangannya hanya menembus tubuh Yuta begitu saja.

"A-apa?"

Sebelum Taeyong bisa mencerna apa yang tengah terjadi tubuhnya seolah ditarik ke dalam pusaran angin. Membuat Taeyong berteriak sekencangnya dan menutup kedua matanya erat-erat. Berharap ketika ia membukanya ia sudah kembali di dalam apartemennya.

"Wow, reaksimu cepat juga, bocah baru. Kupikir keturunan manusia lambat-lambat."

Suara lain yang bukan terdengar seperti suara Yuta ataupun seseorang di samping Yuta tadi akhirnya membuat Taeyong mau tak mau membuka matanya.

Apa ini? Di dalam pusaran angin terlihat seperti biasa saja? Ada tanah untuk berpijak. Dan kenyataan bahwa dirinya tidak tengah berputar-putar di dalam pusaran angin membuat kepala Taeyong pusing mendadak.

Terlebih saat ia melihat sosok dengan dandanan yang sama persis dengan hantu yang ia lihat di kamarnya kemarin.

Kenapa Yuta malah membawanya ke tempat para hantu menyeramkan itu sih?!

"Jadi Bin, daripada diam saja, kenapa tak kau coba lampiaskan amarahmu pada dua bocah ingusan ini?"

Huh? Dua bocah ingusan?

Mata Taeyong mencari sosok lain selain dua hantu bertampang menyeramkan dengan salah satunya berambut merah menyala. Bingo! Ia menemukan dua sosok yang terlihat lebih manusiawi daripada dua hantu itu. Taeyong harap mereka manusia.

"Permisi, maaf mengganggu. Tadi teman gilaku membawaku kesini dan aku tak tahu ini dimana. Bisakah kau memberitahu jalan agar aku bisa kembali ke apartemenku? Dan.. Dan tolong usir dua hantu itu. Mereka mungkin terlihat sedikit lebih baik daripada yang kulihat di kamar kemarin. Tapi mereka juga menyeramkan sih."

"Sudah puas mengobrolnya? Salam perpisahan, mungkin? Akan kuberikan waktu sepuluh detik. Sepuluh.. Sembilan.. delapan.."

Hei, kenapa hantu itu malah menghitung mundur?

"Kalian bisa mendengarku kan?"

"Mark.."

Taeyong ingin menangis saja rasanya.

"Tujuh.. enam.."

"Jangan hiraukan Junhoe. Maksudku, yang rambut merah itu. Daemon yang mengincarmu adalah yang sedari tadi tak melakukan apapun."

"Kalian mendengarku kan? Tolong katakan iya. Aku masih ingin bertemu dengan bocah menyebalkan bernama Jung Jaehyun karena sup buatannya sungguh enak.."

"Lima.. empat.."

"Mark, maaf.."

"Tiga.. dua.."

"Ini bukan salahmu. Bisa kau membantuku untuk memberitahu apa yang akan daemon itu lakukan?"

Oke, cukup Taeyong diacuhkan. Ia akan pergi saja dari sini. Kalau ia tak kenapa-napa dan masuk ke dalam pusaran ini dengan baik-baik saja, berarti ia bisa keluar tanpa lecet sedikit pun di tubuhnya.

"Satu. Waktumu habis, bocah. Binnie, apa yang kau tunggu lagi?"

"Hanbin akan menyerangmu dari dekat. Dia akan muncul tiba-tiba di belakangmu, dan menyerangmu."

"Donghyuck, berlari lah. Menjauh dari sini. Aku akan mengurus daemon bernama Hanbin itu."

"Hei, kenapa berlari?! Siapa namamu? Donghyuck? Donghyuck-ssi tunggu aku!"

Taeyong berusaha mengejar sosok yang ia duga Donghyuck yang berlari secara tiba-tiba.

"Mau kabur kemana, bocah Kim? Mau mengadu pada kakakmu yang lemah itu? Ck, padahal tampaknya temanku yang lain sudah mewakiliku untuk membuat kakakmu itu merasakan apa yang ia rasakan beberapa tahun lalu. Atau lebih buruk, mungkin?"

"Apa yang kau lakukan pada Doyoung hyung?!"

Taeyong berhenti ketika sosok bernama Donghyuck itu berhenti. Dan apa tadi? Nama baru lagi? Siapa pula itu Doyoung. Kepala Taeyong benar-benar pusing sekarang.

"Mark!"

Taeyong terkejut saat tiba-tiba tubuh salah satu dari sosok yang ia ajak berbicara itu terlempar di udara.

"Urusi urusanmu denganku dulu, bocah! Biarkan ini menjadi duel satu lawan satu."

"Mark, hati-hati! Ia akan menyerangmu dengan api!"

A-api?!

"Berisik bocah!"

Taeyong menjerit tertahan saat melihat api yang bergerak cepat menuju Donghyuck. Tapi bagaikan melihat adegan film action yang pernah ia tonton, Mark (mungkin itu namanya) tiba-tiba menerjang tubuh Donghyuck sehingga api itu tak mengenai siapapun.

"Donghyuck, maafkan aku. Jangan berpencar, dan tetap di belakangku." Mark memegang pundak Donghyuck erat-erat. Membantu pemuda itu untuk berdiri.

"Mark, hidungmu.."

"Tetap di belakangku."

Apakah film action yang ia tonton berganti menjadi film roman picisan?

"Woah.. kau ingin dua lawan satu rupanya? Sayang sekali.. Binnie hanya mau berurusan denganmu, bocah sok pahlawan. Biarkan aku melawan bocah Kim itu. Keturunan Kim harus diberi pelajaran, karena hanya menjadi immortel yang lemah tak bisa melindungi bumi ini selamanya."

"Immortel?! Apa kau baru saja menyebut immortel? Kau tahu tentang immortel? Teman gilaku selalu menyebut nama itu dan sekarang ia membawaku kesini! Aku tahu kau hantu, tapi bisakah kau menolongku untuk kembali ke duniaku?!"

Mungkin Taeyong sudah gila.

"Mark, jangan terpancing emosi oleh ucapan Junhoe. Hanbin akan menyerangmu lagi."

"Mark, angin ini hanya untuk mengecohmu. Lima puluh meter dari arah kirimu, disana Hanbin berada."

Karena setelahnya yang ia lihat adalah jauh lebih parah daripada film action yang pernah ia tonton selama ini.

Ketika kakinya sudah lemas seolah tak kuat lagi untuk menopang berat badannya sendiri, tubuhnya kembali tertarik. Dan ketika Taeyong membuka matanya kali ini, ia sudah berada di sebuah ruangan yang hancur tak berbentuk.

Dan apa yang ia lihat di depan matanya begitu tak bisa dicerna dengan baik oleh otaknya? Disana, di tengah tangga, empat orang, ralat, tiga orang berdandan seperti hantu di kamarnya kemarin dan satu orang biasa tengah bertengkar. Tapi pantaskah Taeyong menyebutnya mereka berempat hanya bertengkar?

Disaat api, tubuh terpental, dan benda-benda melayang terpampang jelas di depan matanya. Dan sejak kapan satu-satunya orang biasa dari keempat sosok itu berubah jadi dua?!

"Kim Dongyoung!"

Suara di belakangnya membaut Taeyong memutar badannya. Matanya membulat. Kenapa banyak sekali hantu disini sih?! Kenapa si bakamoto itu membawanya ke dalam markas hantu?!

Oke, Taeyong tahu ia sangat amat takut dengan yang namanya hantu. Tapi apakah benar ia bisa diam saja saat melihat sosok yang terlihat seperti sekarat itu dibawa begitu saja oleh hantu itu? Mau diapakan lagi olehnya? Bukankah sosok itu sudah terlihat sekarat, kenapa tak dibiarkan saja sampai meninggal?

Meninggal.. Taeyong tak mau ia selanjutnya yang mengalami hal itu.

Tidak.. tidak.. ti-

"TIDAAAKKK!"

"Taeyong?"

Suara Yuta membuat Taeyong ingin menangis. Kalau ia bertemu dengan Yuta itu artinya ia bisa kembali ke apartemennya kan? Dan untung lah Yuta sudah tak mengabaikannya lagi.

"Taeyong? Hei, hei, tenanglah. Ambil nafas dalam-dalam.. hembuskan.."

Taeyong begitu lega ketika ia bisa melihat iris abu-abu itu sedekat ini lagi. Apalagi merasakan genggaman tangan Yuta pada kedua sisi pundaknya.

"Yuta.. bawa aku kembali.."

Yuta menghela nafasnya dan memilih untuk menarik Taeyong ke dalam pelukannya. Aroma maskulin yang menyerbak indera penciumannya. Taeyong tak pernah berada sedekat ini dengan Yuta. Ia tak pernah tahu bahwa aroma tubuh Yuta bisa menenangkannya.

"Itu hanya ilusi, Taeyong. semua yang kau lihat tadi hanya kejadian masa lalu yang sudah terjadi. Kau bersamaku sekarang. Kau bisa lihat sekelilingmu."

Yuta merenggangkan pelukannya, memberi ruang pada Taeyong untuk mengedarkan pandangannya.

Meja itu. Vas bunga itu. Lukisan itu. Semuanya hanya benda-benda yang ada di ruang tamu Taeyong.

"Yu-Yuta. Tempat apa itu?"

Kali ini kedua tangan Yuta beralih untuk menangkup wajah Taeyong.

"Itu duniaku. Kau lihat betapa kacaunya kan? Itu hanya sebagian kecil, Taeyongie. Para daemon itu, mereka bukan hanya ingin menghancurkan duniaku. Tapi juga dunia ini, tempatmu dilahirkan. Dunia manusia."

Taeyong menggigit bibir bawahnya.

"Aku pernah bilang bahwa kau immortel terkuat kan?"

Taeyong mengangguk pelan.

"Bahkan lebih kuat dariku?"

Sekali lagi ia mengangguk.

"Hanya kau yang bisa menyelamatkan duniaku dan dunia ini."

"Tapi.."

"Kau lihat bocah bernama Mark tadi?"

Bocah yang tadi secara anarkis menyerang salah satu hantu itu?

"Dia adalah partner-mu."

"Partner?"

"Immortel terkuat kedua setelahmu. Yang akan membantumu untuk menyelamatkan duniaku dan dunia ini. Dan perlu kau tahu, ia juga berasal dari dunia yang sama sepertimu. Dunia manusia."

Taeyong menatap dalam-dalam iris abu milik Yuta. Mencari kilatan jahil disana seperti setiap saat Yuta membual atau menggodanya. Tapi tak ada sama sekali disana. Yuta benar-benar serius dengan semuanya.

"Aku tak pernah setakut ini, Yuta.."

Ya, Taeyong tak pernah merasakan dirinya setakut ini. Tidak saat ibu dan ayahnya bercerai. Tidak saat ia tak bisa lagi bermain bersama adik kecilnya. Tidak saat ayahnya memilih tinggal di luar negeri dan hanya menghidupi kehidupannya tanpa pernah bertemu dengannya lagi sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak saat sudah hampir lima tahun Taeyong tinggal sendirian di apartemen sebesar ini.

"Ada aku bersamamu, Taeyong. Ada aku bersamamu."

Yuta kembali merengkuh tubuh Taeyong erat. Membiarkan aroma tubuh Yuta mengganggu indera penciuman Taeyong dan membuat tubuhnya tenang.

"Kalau seandainya aku menyetujui untuk ikut denganmu, berjanji jangan pernah mengabaikanku seperti kau tadi mengabaikanku disana."

Yuta terkekeh, perasaan lega membuncah di hatinya membuatnya memeluk Taeyong semakin erat.

"Tak akan. Hanya ada orang-orang baik yang akan kau temui disana, Taeyong."

Biarkan Taeyong tenang sejenak dalam pelukan Yuta. Biarkan ia memikirkan sebaiknya bagaimana. Tetap di dunia dan menjalani hidupnya seperti biasa, atau ikut bersama Yuta dengan rasa ketakutan yang menghantui namun bisa menyelamatkan dunianya.

Harusnya Taeyong tak peduli. Toh nanti ia akan mati juga, tak masalah kan jika dunianya hancur?

Tapi bukankah Yuta pernah mengatakan bahwa ia seorang immortel? Immortel terkuat? Immortel yang akan hidup abadi?

Jadi haruskah ia hidup terus menerus di dunia manusia secara immortal dan tak kunjung mati?

Mungkin Yuta benar. Ia seharusnya tak mengenal Jaehyun lebih dalam. Jika begini, salah satu alasan Taeyong tak ingin pergi adalah Jaehyun.

Haruskah Taeyong menunggu Jaehyun sampai kembali agar Jaehyun bisa menahannya untuk pergi? Atau mengikuti kata hatinya yang gila dan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Jaehyun?

.

.

.

"Siapkan pesta penyambutan, Ji."

Hansol yang tengah memasukan sesuatu ke dalam tabung mendidih di laboratoriumnya melirik Ten sekilas.

"Menguntiti Yuta lagi?"

"Hanya memastikan agar si bodoh itu tak melakukan hal-hal bodoh lainnya."

Hansol melepas jas labnya sebelum berjalan mendekati Ten yang terduduk manis di salah satu kursi disana.

"Usulku bagus juga kan?"

Hansol tersenyum tipis. "Jauh lebih dari sempurna, Ten."

"Kau tak akan pernah menyangka ide memberikan penglihatan semacam itu pada Taeyong keluar dari otak kecilku ini."

"Yah, dan kita harus segera menyiapkan pesta penyambutan besar-besaran untuk anggota baru kita lagi."

Langkah kaki Hansol yang hendak keluar dari laboratorium terhenti ketika Ten menahan tangannya.

"Bagaimana keadaan Doyoung?"

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya ada suara ramuan yang mendidih disana.

"Apa.. Apa Taeil merawatnya dengan baik?"

Hansol menggigit bibir bawahnya. "Sangat. Kau bisa percayakan semuanya pada Taeil."

Hansol tak pernah menduga ketika ia membalikkan tubuhnya senyuman tulus Ten lah yang ia lihat.

"Syukurlah kalau begitu.."

Hansol tak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tersenyum.

"Jadi? Kenapa kita tak membagi berita bahagia ini pada Donghyuck dan Mark?"

Ten tertawa pelan sebelum menarik tangan Hansol untuk mencari dua anggota termuda mereka itu.

.

.

.

TBC

.

.

Thanks yang masih ingat sama ff ini dan masih mau ngerespon meski diupload ulang TT aku cayang kalian cemuaaaa *muah* Maaf yah, bang jahe kesannya maksa banget pas identitasnya kebongkar XD But, I can't help it. Aku mendadak gak dapet ide mau gimana ngebongkar identitas bang Jahe. Lagian udah pada tahu kebanyakan kalo Jahe itu daemon, hehe. Next chap, tunggu Seo Youngho muncul HUEHEHEHE. Love Yaaa~