Sweet Blood Red Crystal
Part 2 : Begin. (Revisi)
Hoseok menatap sendu figura yang tertempel manis di dinding kamarnya. Matanya menatap nanar salah satu pemuda yang tersenyum bahagia di figura itu.
'maafkan aku..'
'ku harap kita bisa seperti dulu..'
.
.
.
.
Ini sudah kesekian kalinya Jimin menggerutu kesal dan membuang nafas kasar. Sudah 2 jam lebih Jimin menunggu di halte ini tapi tak ada satu pun bus yang datang. menyebalkan.
Karna terlalu lama menunggu, Jimin memutuskan untuk berjalan kaki untuk pulang. Untung lah jarak dari halte ke rumah Jimin tidak terlalu jauh jadi Jimin tidak harus berakhir dengan kaki yang rasanya mau lepas.
Jimin kembali menggerutu kesal saat mendapati jalanan yang dia lewati ini terasa sangat sepi dan gelap, tak ada satupun orang yang melewati jalan ini.
Disepanjang perjalanan Jimin merasa bahwa bukan hanya dirinya yang melewati jalanan sepi ini tetapi setiap kali dia menoleh ke belakang atau sekitarnya tak ada siapapun disini. Jimin mempercepat langkahnya saat semakin merasa bahwa orang yang mengikutinya itu semakin mendekat ke arahnya. Lalu Secara tiba tiba tubuh Jimin terdorong cukup jauh ke belakang dan angin malam yang dingin mulai berhembus kencang.
"A-akh.." Jimin meringis sakit karna dorongan kuat yang menghantam tubuhnya secara tiba tiba. Jimin sangat terkejut saat mendapati beberapa pemuda asing dengan raut wajah sangar menghadang di depannya.
"S-siapa kalian?" Jimin merangkak mundur saat salah satu pemuda yang di hadapannya ini mulai mendekat ke arah Jimin.
"Kau terlihat enak" Pemuda itu dengan cepat sudah berada sangat dekat di hadapan Jimin dan mulai mengendusi leher Jimin hingga membuat pemuda manis itu merinding ketakutan. Lalu beberapa pemuda lain yang ada di sana mulai ikut mendekat dan berusaha mengikatkan tali di tangan Jimin tapi sedikit sulit karna Jimin mulai berontak.
"J-jangan-"
"4 lawan 1. Pengecut sekali. cih" Sebuah suara menghentikan pergerakan keempat pemuda sangar itu.
Dalam hati Jimin bersyukur karna masih bisa berharap pertolongan kepada seseorang.
"Mengganggu sekali" Secara tiba tiba keempat pemuda sangar itu terdorong sangat kuat ke belakang. Dan dengan gerakan yang terlampau cepat pemuda yang baru datang itu menghajar mereka habis habisan.
"Mengganggu? itu adalah hobiku" Pemuda tadi terlihat menaik turunkan alisnya di hadapan keempat pemuda sangar itu yang terlihat mengenaskan lalu menghilang dan menjadi abu.
'bagaimana mereka bisa ada disini' melihat hal itu, raut pemuda tadi berubah menjadi datar.
Pemuda itu menoleh kearah Jimin yang meringkuk ketakutan. Dia mendekati Jimin dengan perlahan berusaha untuk tidak menakuti pemuda manis itu. Baru beberapa langkah pemuda itu mendekati Jimin. Jimin sudah terlebih dulu berjalan cepat menjauhi pemuda itu.
"Aku rasa rumahmu bukan di arah sana" Pemuda itu mengusap tengkuknya canggung. Jimin menghentikan langkahnya dan merutuki tingkah bodohnya. Lalu dengan cepat Jimin berbalik arah dan berjalan cepat menjauhi pemuda itu.
"Namaku Taehyung, jika kau ingin tau dan aku bukan orang jahat seperti mereka jadi tenang saja" Pemuda itu mensejajarkan langkahnya dengan langkah cepat Jimin lalu menunjukan cengiran kotaknya yang ramah kepada Jimin membuat pemuda manis itu bernafas lega lalu tersenyum
"Aku Jimin. Park Jimin" Jimin membalasnya dengan senyuman manis.
"Baumu enak hhh.."
"Apa maksudmu?" Jimin memiringkan kepala imut, dia tidak mengerti dengan ucapan Taehyung.
"Lupakan saja, aku hanya bergurau. Ehm.. Ada urusan apa kau dengan keempat pria tadi?" Taehyung menatap Jimin dengan raut wajah serius berbeda dengan raut bodoh yang sedari tadi Taehyung berikan kepada Jimin.
"Aku tidak mengenal mereka, mereka menghadangku begitu saja dan.. bagaimana kau melakukan hal itu?" Jimin menatap Taehyung gugup karna Taehyung juga sedang menatapnya tajam dan dalam.
"Ngomong-ngomong aku tinggal di sebrang rumahmu, bagaimana jika besok kita bermain game di rumahku? aku punya banyak video game yang seru" Taehyung menatap Jimin dengan semangat. Berusaha mengalihkan perhatian pemuda manis itu. Sungguh? ku pikir rumah itu kosong, karna aku tidak pernah melihat siapapun ada dirumah itu"
"Buktinya aku tinggal disana, 'keluarga' kami memang sedikit tertutup jadi kami keluar rumah hanya saat kami menginginkannya. Jadi bagaimana? kau mau main dirumahku tidak?"
"Baiklah, besok aku akan kerumahmu" Jimin tersenyum menerima ajakan Taehyung. Pemuda tinggi itu terkejut saat melihat sesuatu yang bercahaya berada di iris mata Jimin, membuatnya terlihat Indah bagi siapapun yang melihatnya. 'aku menemukannya..' Tak lama setelahnya Taehyung tersenyum tulus membalas senyuman manis Jimin.
.
.
.
.
Dihutan kebencian tepatnya disebuah istana yang bernuansa gelap, terlihat seorang pemuda yang memperhatikan cermin dihadapannya dengan raut marah yang tertahan.
Dari cermin itulah sang pangeran dapat mematai dan melihat apapun yang dia inginkan.
Dan barusaja dia melihat Vampire yang di perintahkannya saat itu untuk datang ke dunia yang di datangi kakaknya lalu membawa pemuda manis itu padanya. Mati dengan mudah ditangan pemuda bernama Taehyung itu.
"Cih. Tidak berguna" Sang pangeran berdecih meremehkan melihat apa yg baru saja dia lihat melalui cermin itu.
Terlihat sang pangeran tidak kehabisan akal. Dia kembali memanggil beberapa anak buahnya lalu membisikkan sesuatu kepada mereka yang tentu saja takkan di bantah oleh mereka.
Setelah anak buahnya melesat pergi, terlihat sebuah seringaian licik di wajah tampannya.
.
.
.
Setelah sampai dirumah, Jimin menghempaskan dirinya dengan nyaman diranjang kesayangannya. Jimin sudah mengantuk tapi matanya sangat sulit untuk terpejam. Pikirannya melayang memikirkan kejadian yang tadi dia alami saat di perjalanan pulang.
Saat mengingat hal itu Jimin jadi teringat Yoongi, biasanya pemuda itu akan datang ke kamarnya jam 11 tetapi ini sudah lewat dari jam 11 dan pemuda itu belum juga datang.
Setelah kejadian malam itu, dimana Yoongi ketauan berada di kamar Jimin lalu Yoongi yang dengan kurang ajarnya mencuri first kiss Jimin. Keduanya menjadi dekat dan Yoongi lebih sering datang ke kamar Jimin tidak hanya malam hari.
Tapi ada satu hal yang sebenarnya mmembuat Jimin bingung dengan kedekatan mereka. Yoongi selalu datang tiba tiba dan menghilang tiba tiba. Bahkan Jimin tidak tau kemana arah Yoongi pulang setelah meninggalkan kamarnya. Tapi Jimin selalu lupa untuk menanyakan hal itu.
Jimin bangkit dari tidurnya lalu melangkahkan kakinya ke balkon kamarnya. Jimin merasa gelisah entah karna alasan apa dia tidak yakin, rasanya malam ini dan malam sebelumnya terasa berbeda dan tidak semenyenangkan malam sebelumnya. Mungkin karna malam sebelumnya ada Yoongi yang menemaninya.
Jimin mematai langit malam penuh Bintang yang terpapar di atasnya. Karna terlalu serius menikmati langit malam, pemuda manis itu sampai tidak menyadari ada seorang pemuda berdiri dibelakangnya dan menatapnya dari belakang.
Jimin merasa ada sepasang lengan melingkar dipinggangnya, dari aroma tubuh orang itupun Jimin sudah tau siapa yang sedang memeluknya saat ini. Jimin tidak merasa terganggu dengan semua perlakuan Yoongi, Jimin merasa gugup dan nyaman setiap kali Yoongi memperlakukannya dengan lembut. Pipi chubbynya akan merona merah dan jantungnya akan berdetak kencang.
"Sedang apa hm? disini dingin.." Jimin mengusap lengan Yoongi yang melingkar dipinggangnya, Wajahnya memerah saat menyadari jarak wajahnya dan wajah Yoongi sangat dekat.
"Ehm.. hanya ingin melihat Bintang, Langit di malam ini terlihat Indah" Mata Jimin berbinar menatap langit di atasnya, Yoongi ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang dimaksud Jimin.
Yoongi membalik tubuh Jimin menghadapnya lalu melingkarkan tangan mungil Jimin ke leher pemuda pucat itu lalu tangan Yoongi memeluk pinggang Jimin dengan erat.
"A-apa yang-"
"Tutup matamu" Jimin memiringkan kepalanya dengan imut karna tidak mengerti dengan ucapan Yoongi membuat Yoongi jadi gemas sendiri dengan tingkah menggemaskan Jimin.
Karna Jimin tidak menutup matanya, Yoongi mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin yang membuat pemuda manis itu spontan menutup matanya dengan erat.
Saat Jimin menutup matanya, Yoongi memeluk tubuh Jimin erat lalu melompat keatas atap rumah Jimin.
Yoongi mendudukan dirinya disana lalu mendudukan Jimin diatas pangkuannya.
Yoongi terkekeh kecil melihat Jimin yang masih menutup matanya dengan erat. Yoongi mendekatkan lagi wajahnya dengan wajah manis Jimin, lidahnya terulur lalu menjilat bibir menggoda Jimin secara perlahan. Jimin yang merasakan hal itu dengan perlahan membuka matanya.
Jimin merasa tempat ini tidak seperti balkon kamarnya, karna angin malam lebih leluasa menyapu lembut kulitnya dan Jimin semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Yoongi lalu menenggelamkan kepalanya di dada Yoongi. Tangan Yoongi bergerak mengusap surai Jimin dengan sayang.
"Ini dimana? kenapa rasanya dingin sekali?"
"Atap rumahmu"
"Ohh atap"
satu detik
dua detik
tiga detik
Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Yoongi dengan raut wajah terkejut yang sangat menggemaskan, membuat Yoongi terbahak lalu mencubiti pipi chubby itu dengan gemas.
"B-bagaimana kau melakukannya.." Jimin tidak peduli dengan wajah bodohnya yang saat ini dia tunjukan, ini sungguh tidak masuk akal, bagaimana mungkin secepat itu mereka sudah berada di atap rumah Jimin.
"Lihatlah keatas" Jimin mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat pemandangan Indah yang terpapar diatasnya. Langit malam dengan Bintang yang bertabur luas berada diatas kepalanya. Dan hal itu cukup untuk membuat Jimin melupakan pertanyaannya tadi.
Senyum manis dan mata berbinar itu tak lepas dari wajah manis Jimin. Bahkan Yoongi lebih tertarik dengan wajah manis Jimin yang ada dihadapannya daripada pemandangan yang ada diatasnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Yoongi.. bagaimana kau melakukan ini?" Yoongi kini menatap Jimin dengan tajam dan serius, membuat Jimin seketika gugup karna tatapan itu.
"Kupikir ini sudah saatnya kau tau.. aku seorang Vampire dan mudah untukku melakukan itu" Jimin membeku diatas pangkuan Yoongi, Jimin sangat terkejut mendengar pengakuan Yoongi.
"J-jangan bercanda.. ini tidak lucu" Jimin membulatkan matanya saat Yoongi mulai menunjukan taringnya yang tajam dan iris matanya yang berwarna biru terang. Jimin mulai ketakutan dan berusaha untuk bangkit dari pangkuan Yoongi saat merasa tangan Yoongi mulai semakin erat memeluknya.
"Kau takut?" Saat berhasil lepas dari cengkraman Yoongi, Jimin menggelengkan kepalanya dan merangkak mundur menjauhi Yoongi yang kini mendekatinya.
"T-tidak. A-aku tidak takut" keringat dingin sudah membasahi pelipis Jimin, tubuhnya masih bergerak mundur menjauhi Yoongi dan berhenti diujung atap.
"Aku bisa saja membunuhmu Jiminie" Yoongi menatap Jimin dengan tajam dan masih bergerak untuk mendekati Jimin
"T-tidak Yoongi.. K-kau tidak bisa melakukan itu padaku hiks.." Jimin memejamkan matanya erat dan air mata yang sedari tadi terbendung di kelopak matanya mulai jatuh dan mengalir di pipi chubbynya.
"Aku memang tidak bisa melakukan itu.. tidak akan pernah bisa" Yoongi berujar lirih di telinga Jimin, membuat pemuda manis ini terkejut mendengar itu. Jimin merasa jantungnya berdetak kencang lebih kencang dari yang sebelumnya karna jarak wajahnya dengan wajah Yoongi sangat dekat dan itu membuatnya gugup.
Yoongi menangkup wajah manis Jimin yang memerah lalu menatapnya lembut. Tak ada lagi taring yang tajam, tak ada lagi tatapan yang mematikan, tak ada lagi iris mata yang berwarna biru, yang ada hanya senyuman Indah dan tatapan hangat.
Yoongi mendekatkan wajahnya dengan wajah Jimin dan mendaratkan bibirnya di bibir menggoda Jimin. Melumatnya lembut penuh Kasih sayang membuat Jimin terbuai dan mulai mengikuti permainan Yoongi.
Setelah 2 menit Yoongi melepas ciumannya dan menatap Jimin dengan tatapan hangat. Tangannya bergerak mengusap dengan sayang surai halus milik Jimin membuat pemuda manis itu membuka matanya lalu menatap sayu wajah tampan Yoongi.
"Akan ada banyak hal yang datang padamu.. entah itu bahaya atau semacamnya dan.. ah sudahlah lupakan saja" Jimin hanya diam sambil memiringkan kepalanya bingung karna dia sama sekali tidak mengerti apa yg dimaksud oleh pemuda pucat itu.
"Apa maksudmu? Bahaya apa?" Yoongi menatap lekat iris mata Jimin. Membuat Jimin semakin merasa bingung.
"Kau akan tau nanti"
Keheningan kini menyelimuti keduanya hingga Yoongi mengangkat tubuh Jimin ke pangkuannya, membuat Jimin memekik kaget karna tindakan tiba tiba Yoongi. Yoongi mendekap tubuh Jimin ke dalam dekapannya.
"Jangan terlalu dipikirkan tentang ucapan ku yang tadi" Jimin hnya bergumam merespon ucapan Yoongi sambil menyandarkan kepalanya di dada Yoongi, mencoba untuk mencari posisi yang nyaman.
"Kau tidak pulang?" Jimin mendongakkan kepalanya menatap wajah Yoongi dengan jarak yang sangat dekat membuat rona merah menghiasi pipi chubbynya.
"Kau ingin aku pulang hm?"
"Asalkan besok kau datang lagi... ku mohon.." Jimin menatap Yoongi dengan puppy eyes nya yang menggemaskan berharap Yoongi besok akan datang lagi jika dia pulang sekarang
"Tentu besok aku akan datang lagi" Yoongi mengecup telinga Jimin yang memerah berkali kali membuat pemuda manis ini terkekeh geli karna perlakuannya.
"Kalau begitu pulanglah" Jimin bangkit dari pangkuan Yoongi sama halnya dengan Yoongi yang kini mulai bangkit.
"hhh baiklah.. aku akan merindukanmu" Yoongi mengecup pipi chubby Jimin lalu melompat turun dari atap dan mendarat di pekarangan rumah Jimin. Yoongi tersenyum lebar dari bawah sesekali melambaikan tangannya ke arah Jimin yang masih berada diatas sana. Jimin membalas lambaian tangan Yoongi dengan semangat.
satu detik
dua detik
tiga detik
"YAKK MIN YOONGI! BAGAIMANAA AKU TURUN!" Yoongi terbahak saat mendengar lengkingan tajam dari Jimin dari atas sana. Jimin menghentakkan kakinya kesal karna Yoongi meninggalkannya sendirian di atas atap ini kawan kawan. Jimin tidak bisa seperti Yoongi yang dengan mudahnya lompat naik turun dari atap ke bawah atau sebaliknya. menyebalkan.
"Lompatlah, aku akan menangkapmu" Jimin mundur ke belakang dan menggelengkan kepalanya saat mendengar teriakan Yoongi.
"Aku berjanji akan menangkapmu"
"Aku takut.. hiks" Dengan cepat Yoongi melompat lagi ke atap dan memeluk Jimin dengan erat. Mengucapkan kata maaf berkali kali karna telah membuat pemuda manis ini menangis.
Yoongi memeluk tubuh Jimin lalu melompat turun kebawah dan mendarat di balkon kamar Jimin seperti sebelumnya.
"menyebalkan" Jimin memukul pelan dada Yoongi membuat pemuda itu terkekeh geli.
Yoongi membaringkan tubuh Jimin di ranjang lalu melangkah untuk menutup kembali pintu balkon kamar pemuda manis ini.
Yoongi berjalan menuju ranjang Jimin dan membaringkan tubuhnya di samping Jimin yang terlihat merajuk kesal dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya seperti kepompong.
"Aku minta maaf.. kau yang menyuruhku pulang tadi.." Mendengar ucapan lirih Yoongi, Jimin membuka selimutnya dan memiringkan tubuhnya menghadap Yoongi lalu memeluk erat tubuh Yoongi dan menenggelamkan kepalanya di dada Yoongi.
"selamat malam" Yoongi membalas pelukan Jimin lalu tangannya bergerak mengusap lembut surai halus milik Jimin.
Jimin tersenyum manis dalam tidurnya dan semakin menyamankan dirinya di dalam pelukan Yoongi.
.
.
Prang!
Bugh!
"S-siapa kalian?" Terlihat seorang wanita paruh baya yang meringkuk ketakutan mencoba untuk menjauhi beberapa pria asing yang menyusup ke rumahnya.
Dengan taring yang tajam dan iris mata yang merah menyala. Beberapa pria asing itu terus mendekati wanita paruh baya itu. Dengan cepat mereka mengikat wanita itu dan membawanya pergi melewati jendela besar yang telah pecah
meninggalkan rumah itu dengan barang yang berserakan lalu pintu yang rusak.
Setelah mereka pergi, lampu diruangan itu terlihat mati sekejap lalu menembakkan sebuah cahaya yang cukup terang.
.
.
.
Tbc
makasih udah mampir wkwkk jangan bosen ya sama ff ini apapun yang terjadi sama tokohnya nanti :'v sungguh ini hanya sebuah hiburan.. :'
Maap klo ada yang typo atau semacamnya :'v sesungguhnya aku hanya manusia biasa :'v
Maap juga klo harus ngerepotin buat minta kalian baca ulang:" ini baru aku update hik kira" udh berapa lama yaa'-' gatau lah, alasan ku ga update" karna ehm aku cukup labil dan ragu sama Yoonmin, karna sekarang kyanya lebih bnyak MinYoon ketimbang Yoonmin trus juga aku jarang liat moment mereka :" tp ini bakal aku lanjutin terus kok hehe jan bosen oke :"
see you
