Note : Diharapkan untuk membaca ulang part sebelumnya. Karna Ada perubahan alur dan tokoh di part berikutnya yang berhubungan erat dengan part ini
Sweet Blood Red Crystal
Yoonmin
[Yoon/Top x Jim/Bottom]
Part 3 : Wish
Jimin melangkahkan kakinya dengan semangat menuju ke rumah bibinya. Dengan membawa keranjang berisikan kue kering kesukaan bibinya sambil bersenandung kecil dan menyala beberapa orang yang melintas di sekitarnya Jimin terus melangkahkan kakinya ketempat tujuannya.
'bruk'
Pemuda manis ini menjatuhkan keranjang yang dia bawa lantaran terkejut karna mendapati apa yang dia lihat saat sampai di depan pekarangan rumah bibinya. Kaca yg pecah lalu kursi dan meja yg terbalik. Dengan cepat Jimin berlari memasuki rumah bibinya untuk memastikan bahwa bibinya itu baik baik saja.
"Bibi!"
"Bibi! hiks" Jimin mencari bibinya kd seluruh ruangan tapi hasilnya nihil yang dia temukan hanya barang barang yang berserakan dimana mana. Air matanya telah mengalir deras membasahi pipi chubbynya.
'Fiuhhh~'
Angin berhembus kencang menyapu lembut kulit mulus Jimin. Tiba tiba entah datang darimana begitu banyak daun daun berguguran terbang terbawa angin dan mendatangi Jimin.
Sebuah kertas putih ikut terbang bersama dedaunan itu, karna penasaran Jimin memungut kertas itu yang kebetulan berhenti di dekat kakinya.
'34A BlokM, Gangnam' /? :'v
Jimin memiringkan kepalanya imut saat melihat hal yang tertera di kertas itu.
"Bukankah ini kawasan rumahku?"
"Lalu kenapa? Tunggu-" Jimin menatap kertas itu.
"Apakah ini petunjuk? Mungkin saja ketempat ini mereka membawa bibi ku"
Jimin memasukan kertas itu kedalam sakunya dan segera melangkahkan kakinya pergi ke alamat yang tertera di kertas tadi dan meninggalkan rumah mengenaskan itu.
.
.
.
Sementara itu di hutan kebencian, terlihat seorang pemuda yang menyeringai licik dengan posisi duduk yang angkuh sambil memegang sebuah gelas berisikan cairan merah kental lalu meneguknya.
"ahh~ Semuanya baru akan dimulai"
.
.
.
.
Jimin mendongakkan kepalanya keatas menatap sebuah rumah yang menjulang tinggi. Pemuda manis itu melirik nomor yang terdapat di dinding dekat pintu dan juga melihat alamat yang tertera di kertas tadi. Menyamakan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Setelah dipastikan sama, Jimin segera mengetuk pintu rumah itu. Tapi-
'apakah aku harus mengetuk pintu dulu atau langsung mendobrak pintu ini' Jimin menggembungkan pipinya lucu dan menatap nanar pintu yang ada di hadapannya.
'Tapi di film yang aku lihat. Tidak ada orang yang mengetuk pintu rumah para penjahat yang sudah menculik seseorang dan mengatakan apakah kau menculik bibiku? Atau apakah bibiku ada didalam rumah mu karna dia diculik dan aku menemukan sebuah kertas misterius dengan alamat rumah ini yang tertera di kertas misterius itu? Arghh bukankan itu akan membuatku terlihat bodoh' Jimin mengacak surai silvernya frustasi. Matanya tidak sengaja melihat sebuah sapu gagang yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Tanpa berpikir panjang Jimin meraih sapu itu dengan seringaian imut terpasang di wajah manisnya.
'ceklek'
Baru saja berniat untuk mengetuk pintu, tapi pintu itu sudah terlebih dulu dan menampilkan seorang pemuda tinggi dengan sorot mata tajam menatap Jimin tapi hanya dibalas kerjapan mata imut dari pemuda manis itu.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Bugh
Bugh
"Yak! Akh!
"Dimana bibiku hah?! Dimana kau menyembunyikannya! Dasar penculik nakal!"
"Yakk! Apa maksud- akh! Hentikan!"
"Rasakan ini! Rasakan!" Jimin terus memukuli pemuda tinggi itu dengan... Ya sedikit brutal, hanya sedikit hingga membuat tubuh pemuda itu rasanya seperti mau remuk.
"Astaga ada apa ini kenapa- Namjoon! Astaga apa yang kau lakukan hah?! Yak hentikan!" Jin beserta ketiga pemuda lainnya datang karna mendengar keributan dari arah luar jadi mereka berempat memutuskan untuk menge check ke sumber keributan dan yang mereka dapati adalah Namjoon yang dipukuli oleh pemuda manis yang entah datang darimana.
"Kau! Apa yang kau lakukan hah! Kenapa kau memukulinya!" Mata lrmuda bernama Jin itu mengkilat merah hingga membuat pemuda manis dihadapannya terlihat bergetar takut dengan mata yang berkaca kaca dan jangan lupakan pipi chubby yang terlihat memerah itu. Mata Jimin tak sengaja menangkap sosok yang sangat dikenalinya.
Pemuda manis itu dengan mudahnya melewati Jin yang masih menatapnya emosi dan mendekati Yoongi lalu bersembunyi dibalik tubuh pemuda pucat itu hingga mengundang tatapan bingung dari ketiga pemuda yang saat ini ada diruangan ini. Kecuali 1 pemuda bernama Hoseok yang sedari tadi menatap Jimin dengan tatapan yang sulit diartikan.
Yoongi membalikkan tubuhnya menghadap pemuda manis yang sedang terisak pelan sambil menundukan kepala.
Tangannya bergerak membawa pemuda manis itu kedalam dekapannya.
"Jin hyung kau menakutinya" Ucapan dingin dan datar Yoongi membuat suasana ruangan itu terasa mencekam.
"Dia memukuli Namjoon tanpa sebab, bagaimana mungkin aku diam saja. Lagipula... Apa kau mengenalnya?" Jin menatap Yoongi penuh selidik.
"Jiminie... Apa yang membawamu kemari hum? Kenapa kau memukulinya?" Ucapan lembut Yoongi membuat hati Jimin menghangat dan pipi chubbynya merona merah. Jangan lupakan tatapan terkejut ke empat pemuda yang ada disana karna baru kali ini mereka mendengar Yoongi berbicara sehangat dan selembut itu.
"Bibiku Yoongi... Dia diculik dan-"
"Dan kau memukuli Namjoon lalu menuduhnya tanpa bukti begitu?!" Pelukan Jimin ditubuh Yoongi semakin erat saat Jin memotong ucapannya dengan nada tajam dan penekanan diakhir kalimatnya.
"Diamlah hyung" suara datar dan dingin Yoongi kembali terdengar.
"Aku menemukan sebuah kertas dengan alamat yang tertera di kertas itu dan alamatnya malah membawaku kesini, aku kira disini adalah tempat para penculik itu membawa bibiku pergi" Jimin mengeluarkan sebuah kertas yang ada disaku celananya.
Alis pemuda manis itu menaut bingung karna yang dia dapati bukanlah kertas putih dengan alamat yang tertulis disana melainkan kertas hitam kosong.
Yoongi terkejut melihat kertas yang dipegang Jimin. Baru saja pemuda pucat itu ingin membuka suaranya. Tiba tiba Hoseok sudah merebut kertas yang ada ditangan mungil Jimin.
"Darimana kau dapatkan ini" Hoseok menatap Jimin dengan tajam membuat pemuda manis itu terlihat bergetar takut.
"A-aku mendapatkannya di rumah bibiku, sebelumnya tidak seperti itu tapi sebuah kertas putih biasa dengan tulisan alamat yang tertera di sana. Aku tidak tau kenapa bisa berubah seperti itu"
"Jin hyung bisakah kau bawa air" Jin segera melangkahkan kakinya kearah dapur setelah mendengar keinginan Hoseok.
"Yoongi antar dia ke ruang tamu" Yoongi mengantar Jimin ke ruang tamu lalu menyuruh Jimin untuk duduk di sofa. Tetapi karna tidak berhati hati punggung tangan Jimin tergores ujung meja kaca yang ada diruangan itu. Dan hal itu membuat luka ditangan Jimin mengeluarkan darah yang cukup bnyak. Taehyung yang ada di depan pintu bersama Namjoon terlihat memejamkan matanya menikmati aroma manis menggoda itu sama halnya dengan Namjoon yang tak jauh beda dengan Taehyung.
'prang'
Baskom kaca berisikan air yang dibawa Jin terjatuh karna sang pelaku kini terlihat memejamkan mata menikmati aroma manis yang menggiurkan ini. Hingga membuat Jimin dan Yoongi terkejut.
Hoseok yang sedang berjalan di tangga menuju ruang tamu terlihat mematung karna aroma manis menggoda yang menguar di indera penciumannya.
Yoongi terkejut melihat darah yang mengalir ditangan mungil Jimin. Mungkin Yoongi memang sudah terbiasa dengan aroma manis menggoda yang menguar setiap kali Jimin berada didekatnya tapi tidak dengan-
'sret'
Jimin terkejut bukan main ketika dengan cepat Jin dan Namjoon sudah menerjangnya dengan mata yang mengkilat merah dan taring yang tajam.
"Taehyung! Hoseok!" Yoongi sedikit kewalahan untuk menjauhkan tubuh Jin dan Namjoon dari Jimin karna jika sudah seperti ini akan sangat sulit untuk mengendalikan mereka.
Taehyung dan Hoseok segera membantu Yoongi untuk menjauhkan mereka dari pemuda manis itu.
Taehyung memegangi Namjoon dan Hoseok memegangi Jin.
Jin dan Namjoon terlihat membolakan matanya terkejut ketika melihat sesuatu bercahaya melingkari iris mata pemuda manis itu. Sehingga terlihat sangat sangat indah yang terlihat pas dengan wajah manisnya. Taehyung, Hoseok dan Yoongi yang saat itu berada diantara mereka juga terlihat terkejut melihat hal yang sama seperti yang dilihat oleh Jin dan juga Namjoon.
Mata berkaca kaca dengan 6 kristal yang melingkar di masing masing iris mata pemuda manis itu. Membuat kelima pemuda yang ada disana terlihat terpukau. Tanpa sadar kini tak ada lagi mata iris mata merah mrngkilat dan taring tajam yang ditunjukan Namjoon dan Jin.
Perlahan Jin dan juga Namjoon mulai terlihat tenang tidak sebuas tadi.
"Siapa namamu?" Ucapan lembut yang dilontarkan oleh Jin cukup membuat Jimin mulai merasa tenang
"Park Jimin" Jimin mulai berani untuk menatap kelima pemuda itu.
Tiba tiba lampu yang ada di ruangan itu terlihat menembakkan sebuah cahaya yang sangat terang membuat Jimin terkejut melihat gumpalan cahaya yang melayang layang diruangan itu.
Lalu air yang tadi ditumpahkan Jin terlihat kembali seperti semula dan terletak di meja dengan sendirinya. Hal itu cukup membuat Jimin merinding.
"Apakah yang tadi itu hantu?" Jimin menatap takut kelima pemuda yang ada di sekelilingnya.
"Apa kau percaya bahwa hantu itu ada?" Jimin memekik kaget karna tiba-tiba seorang pemuda dengan senyum kotak itu telah ada disampingnya.
"Taehyung? Kau?" Jimin membolakan matanya terkejut melihat Taehyung, sungguh bagaimana dia baru menyadari bahwa Taehyung sedari tadi ada disini.
"Akhirnya kau menyadari keberadaanku Jim"
"Bisa kita hentikan reuni konyol ini?" Mendengar hal itu Taehyung dan Jimin hanya bisa mengusap tengkuknya.
Jin memasukan kertas hitam yang tadi kedalam mangkuk berisikan air. Dan seperti saat itu, kertas yang tadinya berwarna hitam itu kini berwarna merah darah begitu juga dengan airnya tapi sama sekali tidak bau darah pada umumnya. Hanya warnanya saja yang seperti darah. Tak lama setelahnya, air merah itu berubah lagi menjadi bening seperti sedia kala tetapi tidak dengan kertas itu yang terlihat masih berwarna merah. Hal itu membuat ke enam pemuda yang ada disana mengerutkan keningnya bingung.
"Apa maksudnya ini" Hoseok menatap cahaya yang masih melayang layang diantara mereka.
"Cukup lihat dan perhatikan"
Perlahan kertas merah menunjukan sebuah gambar seperti gambar di sebuah komik. Dimana gambar itu terlihat seperti sebuah alur cerita.
Seorang wanita terlihat ketakutan dengan beberapa pemuda berjubah yang ada dihadapannya. Setelahnya kertas itu terlihat kembali menjadi kertas, merah kosong. Ke enam pemuda itu terdiam menatap mangkuk berisikan kertas yang ada dihadapan mereka.
Kemudian kertas itu kembali menunjukan sebuah gambar dimana seorang wanita yang terikat lalu dibawa pergi keluar rumah melewati jendela yang sudah pecah. Lalu kertas itu kembali menjadi kertas kosong.
Ke enam pemuda itu terlihat diam tak mengucapkan sepatah katapun.
'Hiks'
Suara isakkan Jimin membuat ke lima pemuda yang ada disana menoleh ke sumber suara.
'Hiks'
Mereka dapat melihat air mata yang membasahi kedua pipi chubby itu terlihat sedikit berkelip seperti cahaya.
"Sebenarnya siapa mereka hiks? Kenapa mereka menculiknya? Hiks.." Ke lima pemuda itu menatap nanar Jimin yang kini menatap mereka dengan pertanyaan beruntun.
"Mereka mengincarmu dan-"
"Hyung!" Taehyung memotong ucapan Namjoon dan menatap tajam pemuda itu. Membuat Namjoon terlihat jengah.
"Apa lagi? Kelak cepat atau lambat dia akan tau jadi tunggu apa lagi?"
"Biar aku yang menjelaskannya" Kelima pemuda itu kini menoleh ke arah Hoseok yang sedari tadi diam.
"Kau kenal Yoongi dan kau pasti tau siapa Yoongi sebenarnya dan kau juga pasti tau kalau kami semua sama seperti Yoongi" Hoseok terdiam menatap dalam mata indah Jimin yang menampilkan sesuatu yang melingkar indah di iris mata pemuda manis itu.
"Saat ini bangsa kami sedang dalam masalah besar dan didalam dirimu terdapat sesuatu yang menjadi jantung bangsa kami dari turun temurun"
"Dari ramalan yang aku dapatkan hanya seorang pemuda dengan darah manis dan murnilah yang bisa menghentikan perbuatan adikku. Pemuda itu adalah dirimu Park-"
"Apa maksudmu? A-aku.. aku hanya manusia biasa bukan superhero atau pahlawan super lainnya" Jimin menatap ragu Hoseok yang menatapnya dengan memohon.
"Hanya kau yang bisa Jimin, aku mohon.. nasib bangsa kami berada di tanganmu Jimin. Kami juga akan membantumu untuk menyelamatkan bibi mu" Jimin menatap Hoseok yang kini berlutut dihadapannya seperti memohon.
.
.
.
.
Hoseok,Namjoon,Yoongi,Jin,Taehyung dan Jimin kini sedang berada disebuah hutan yang terletak cukup jauh dari komplek perumahan gangnam. Tepat di depan sebuah pohon dimana dulu pohon itulah yang menjadi jalan pintas antara dunia vampire dan dunia manusia yang mereka gunakan dulu.
"Pohon apa ini?" Jimin menatap pohon yang menjulang tinggi dihadapannya. Sesekali pemuda itu berdecak kagum.
"Pohon ini lah yang menjadi dinding ruang dan waktu antara dunia manusia dengan dunia vampire" Ucapan Yoongi membuat Jimin mengerutkan keningnya bingung. Karna ini sama saja seperti pohon biasa.
Hoseok menggerakkan tangannya di pohon itu dan tak lama setelahnya seperti sebuah pintu pohon itu membuka sebuah celah yang cukup besar untuk dimasuki manusia.
Setelah itu satu persatu mereka memasuki celah itu.
.
Hoseok hallucination
"Hyung! coba lihat hasil buruanku kkk~ lebih besar dari tangkapanmu" Seorang pemuda menunjukan serigala yang baru saja sia tangkap kepada pemuda yang lebih tua."Wah hebat sekali Jungkookie, tapi tidak semudah itu kau bisa mengalahkanku haha aku akan menangkap mangsa yang lebih besar dari tangkapanmu""Kalau begitu aku akan menangkap yang jauhh lebih besar lagi Hoseok hyungg"*"Jungkookie tunggu!" Hoseok mengejar Jungkook yang terlihat melompati pepohonan dengan cepat. Emosi yang membara masih mengelilingi jiwa mati Jungkook muda."Apalagi? Hyung sudah mendapatkan semuanya apa itu belum membuat hyung merasa puas?" Jungkook menatap Hoseok penuh emosi. Matanya mengkilat merah menatap Hoseok dengan tajam."Tidak kookie.. dengarkan hyung dulu, ini tidak seperti-""Halah, tidak perlu mengelak hanya untuk menghiburku" Jungkook menyerang Hoseok bertubi tubi lalu membuat sebuah ledakan yang cukup besar untuk meledakkan sebagian hutan itu.
.
.
.
Tbc
makasi uda mampirr :'v
Hae:'' masi inget sama ff ini?'-' aku harap masih yaa hehe
maap klo ada yg typo atau semacamnya sesungguhnya aku hanya manusia biasa:'v
maap karna dah bikin kalian jdi baca ulang di part sebelumnya karna sumpah aku baca part 2 yg sebelumnya itu rada gimana ya aneh aneh sepet pait gitu :" jdi ya aku ubah wkk alasan aku nda update karnaaaa
1. Aku mulai labil sama Yoonmin, aku jarang liat moment mereka trus juga sekarang lebih bnyak MinYoon dripada Yoonmin'-'
2. aku mulai pindah lapak dri Yoonmin ke kookmin sama vmin mueheheh :v di sini keknya bakal lebih bnyak Yoonmin dan buat Vmin/Kookmin bakal aku buat di wattpad jdi kunjungin Chiminiecute :v mari mampir hehe
3. Aku sibuk ujian dan kegiatan jdi ga sempet buat berimajinasi trus lanjut ffnya:'
Uda si itu aja"-" wkwk
hadeh jdi curhat :'
Yaudah lah ya kurang lebihnya mohon dikembalikan hehe
see you~
