OSM

Decklaimer :

Member NCT punya Tuhan dan orang tua masing-masing.

Aku cuma orang yang punya cerita ini gak lebih.

Rating : T

Genre : Romance

Pair : HaeYu

By : Lee Haechan. Si cowok ganteng dari semua cowok terganteng.

.

.

Haechan melangkahkan kakinya dengan riang menuju kelas 12 E. Senyum lebar mengembang di wajahnya yang terlihat sangat cerah pagi ini.

Haechan menatap kotak biru tua dengan pita hitam berukuran sedang di tangannya. Senyum di wajahnya semakin melebar.

Jika diingat- ingat, kenakalan bocah setan yang satu ini agak sedikit berkurang entah karena apa. karena jatuh cinta? Oh, tentu saja.

Semua murid kelas 12 yang melihat Haechan hanya dapat menatap pemuda itu dengan pandangan heran.

Pasalnya, biasanya Haechan datang ke wilayah kelas mereka bersama dengan sahabat rasa rivalnya Jeno, hanya untuk menemui Johnny dan menantang pemuda Chicago itu.

Selain Jeno, Johnny ini juga Haechan anggap sebagai rivalnya. Karena apa? Karena Johnny itu sahabat Yuta, Teman sebangku Yuta, dan yang membuat Haechan semakin kesal dengan Johnny adalah karena pemuda tiang Chicago itu selalu berada didekat Yuta dimana pun itu. Iya, dimana pun dan Haechan sangat tidak suka dengan itu.

" Yuta Hyung."

Haechan berlari kearah Yuta yang baru saja ingin keluar kelas.

Yuta mumpung sendiri dan Haechan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas seperti sekarang ini. Berduaan dengan Yuta adalah salah satu impiannya.

" Hyung mau kemana?"

" Mau ke perpustakaan."

" Tumben hyung rajin."

" Jangan meledek ku."

Haechan tertawa, melihat Yuta yang terlihat merajuk sangat menyenangkan.

Yuta yang mendapati Haechan tertawa hanya dapat mendengus kesal. Haechan mau mengejeknya ya? Menyebalkan sekali. Yuta menghentakkan kakinya dan meninggalkan Haechan yang masih tertawa.

Dengusan Yuta bertambah keras. Haechan itu benar-benar sangat menyebalkan seperti kata kata orang-orang.

" Hyung kenapa meninggalkan ku. Aku kan mau ketemu sama Hyung."

" Terserah."

Haechan menggaruk tengkuknya bingung. Kalau Yuta sudah bilang begitu Haechan bisa apa?

Sungguh, kalimat 'terserah' jika diucapkan oleh orang yang disukai magnanya jadi berubah ambigu.

Tapi biar begitu Haechan merasa senang. Reaksi Yuta ini terlihat seperti seorang gadis yang sedang merajuk pada pacarnya. Apakah Yuta terlihat seperti pacarnya sekarang? Haechan tersenyum, hanya membayangkan Yuta menjadi pacarnya saja ia sudah sebahagia ini.

" Kenapa mengikuti ku?"

" Kan aku sudah bilang tadi kalau aku ingin bertemu dengan hyung."

"Terserah."

Huh, kalimat itu lagi. Kenapa Yuta sangat suka sekali mengucapkan kalimat itu jika bersamanya?

Perasaan Haechan saat Yuta bersama Johnny ataupun yang lainnya, ia tidak pernah mengucapkan kalimat sakral itu. Wah, apa ini kode?

Mereka memasuki perpustakaan dengan Haechan yang masih membawa kotak itu. Haechan terus mengikuti Yuta kemanapun Yuta pergi. Mulai dari rak buku kimia sampai rak buku fiksi sekalipun.

Mereka hanya berkeliling sejak tadi. Tapi mereka berhenti begitu sampai di rak khusus komik.

Haechan menatap Yuta datar. Jangan bilang Yuta datang kesini hanya untuk membaca komik? Dan benar saja, Yuta mengambil komik dengan judul Danshi koukousei no nichijou. Haechan baru tahu kalau Yuta ternyata suka komik dengan genre school life komedi tanpa adanya sentuhan romace seperti itu.

Pantas saja, biarpun Yuta cantik begitu ia tidak punya sisi romantis sama sekali. Haechan jadi heran sendiri.

" Jadi?"

" Apa?"

" Untuk apa kita tadi mengelilingi rak buku kimia segala kalau akhirnya di sini juga?"

" Kenapa? Masalah?"

Haechan menggelengkan kepala. Sungguh, berhadapan dengan Yuta yang sedang dalam mode menyebalkan itu sedikit merepotkan.

Kenapa? Karena Yuta itu sangat keras kepala. Tapi Yuta yang seperti inilah yang disukai Haechan. Yuta yang kuat tapi terlihat manis juga cantik disaat bersamaan.

Huh, entah kenapa saat berhadapan dengan Yuta, Haechan merasa menjadi sedikit lebih dewasa. Pikiranya berjalan secara rasional dan tidak ngawur seperti biasanya.

Ternyata benar kata Jeno, Haechan bisa bersikap tenang dan dewasa hanya di dekat Yuta dan itu tumbuh secara natural dan kembali ke sikapnya yang menyebalkan juga secara natural. Intinya Haechan itu suka mencari perhatian Yuta.

" Oh iya aku ada sesuatu untuk hyung."

" Apa?"

Haechan tidak menjawab. Ia lebih memilih diam dan memberikan kotak yang dibawanya sejak tadi pada Yuta.

Yuta menatap Haechan heran, seingat Yuta baru 2 Minggu yang lalu ia ulang tahun dan Haechan juga sudah memberinya kado. Kenapa sekarang memberi Yuta kado lagi?

Yuta menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan segala pikiran buruk yang kini entah kenapa mengaduk isi kepalanya. Jangan salahkan Yuta, kelakuan Haechan yang dari dasarnya tidak benarlah yang membuat Yuta memikirkan sisi negative seperti ini.

" Kenapa kamu memberiku kado? Ulang tahun ku kan sudah lewat."

Haechan terkekeh kecil. Apa Yuta sedang mengintrogasinya? Lihat tatapan matanya! Sungguh lucu. Entah kenapa Yuta terlihat seperti anak kucing yang sedang merajuk saat ini.

Ah, pas sekali. Dan Haechan menyeringai dalam hati.

" Boleh aku buka sekarang?"

" Nanti saja hyung kalau sepi. Hyung baca komik dulu saja!"

" Terus kamu ngapain?"

" Aku? Tentu saja memperhatikan hyung."

" Terserah kamu saja."

Haechan tersenyum. Benar kan, Yuta itu imut sekali seperti kucing yang sedang merajuk. Padahal kalau dalam keadaan normal Yuta itu terlihat seperti bayi singa.

Yuta membaca komik di tangannya dengan tidak fokus. Entah kenapa ia merasa diperhatikan sejak tadi. Yuta menatap Haechan yang ternyata masih menatapnya dengan pandangan...

Tolong jangan melihat Yuta seperti itu Yuta tidak kuat. Kenapa harus selembut itu? Wajah Yuta memerah seketika.

Yuta tidak habis pikir. Bocah berotak bengis dan berandal seperti Haechan, kenapa bisa terlihat sangat tampan?

Apa karena terlalu lama berteman dengan Jeno jadi ketampanan bocah jenius itu menurun pada Haechan? Tidak mungkin. Tampan mereka berbeda.

Jeno terlihat sangat tampan dalam semua waktu. Haechan?

Yuta kembali membaca bukunya dengan tangan yang sedikit bergetar. Pemuda cantik itu terlihat benar-benar gugup rupanya.

" Hyung."

"Apa?"

" Sudah sepi. Hyung boleh membukanya?"

" Eh? Benarkah?"

Haechan menganggukan kepalanya.

Yuta membuka kotak itu dengan semangat, namun wajahnya berubah datar begitu mendapati kotak lain disana. Hal itu terjadi sampai 4 kali, dan Yuta benar-benar mendengus kesal.

Yuta berjanji, jika kotak keempat ini isinya kotak lagi maka Yuta akan menghajar Haechan saat ini juga.

" Eh? Nekomimi?"

Yuta menatap bandu telinga kucing di tangannya dengan heran. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah Haechan dan menatap yang lebih muda dengan tatapan bertanya.

' SIALAN AKU BUTUH KARUNG.'

Haechan berdehem keras. Wajahnya sedikit memerah.

" Itu untuk hyung."

" Kenapa kamu memberiku ini? Kamu tidak salah kotak kan?"

" Tentu saja tidak. Memangnya aku punya kotak lain?"

" Tidak sih tapi kenapa ini?"

Haechan menghela napas pelan. Ia mengambil bando berwarna coklat tua itu dari tangan Yuta dan memakaikannya di kepala Yuta.

" Eh?"

" Begini baru cocok."

Yuta menatap cermin yang diberikan Haechan. Seingat Yuta tidak ada cermin tadi di kotak itu tadi.

" Cantik kan?"

" Siapa yang cantik?"

" Hyung."

Yuta menatap pantulan dirinya dalam cermin berukuran sedang itu. Di sana, terpampang wajah Yuta yang terlihat cantik dan imut disaat bersamaan.

" Cantik sekali kan?"

" Aku tidak cantik."

" Jangan mengelak. Hyung memang cantik."

" Jangan bercanda!"

" Aku tidak pernah bercanda saat bersama Hyung."

Yuta terdiam, benar kata Haechan. Pemuda itu tidak pernah berbuat sesuatu yang aneh saat bersamanya. Jadi Haechan serius bilang Yuta cantik?

Yuta kembali menatap pantulan dirinya di cermin itu, menatap Haechan dan kemudian menatap cermin lagi. Menggemaskan.

" Kamu benar. Aku cantik. Kenapa tidak tampan saja sih?"

" Itu sudah takdirmu hyung. Nanti kalau yang cantik aku kan jadinya aneh."

" Benar juga ya."

Yuta bercermin dan mengeluarkan suara 'wah' berkali-kali. Haechan terkekeh melihat itu. Sepertinya Yuta sangat bangga dengan wajahnya.

" Hyung suka kadonya?"

" Iya. Aku suka, suka sekali. Walaupun ini sedikit lucu tapi aku suka. Terimakasih ya."

" Sama-sama."

Haechan tersenyum. Untung saja tadi Haechan tidak jadi memberikan lingerie pada Yuta. Kalau iya, mungkin suasananya tidak akan seromantis ini.

TBC

Aku rasa ini lebih pantes ke Jeno. Tapi pas ngetik ini kok ya yang muncul Haechan? Niat awal aku ngetik ini emang buat Jeno. Aku gak sempet ngeditnya. Aku lagi demam.:'(

Terimakasih untuk aspartam, JenTaebaby, Kim991, akuikisakjanesopo, Misharu Rin, kirasa, Mifta Jannah, Park Rinhyun-Uchiha, CaraTen, karena sudah mau meriview fuc aku.

Salam sokyu