OSM

Decklaimer :

Member NCT punya Tuhan dan orang tua masing-masing.

Aku cuma orang yang punya cerita ini gak lebih.

Rating : T

Genre : Romance

Pair : JohnYu

" Mau jadi modelku?"

" Eh?"

.

.

" Yuta, tolong tatap kameranya."

Yuta mengangguk patuh begitu mendengar instruksi dari Johnny. Tanpa sadar, pemuda manis itu menggigit bibir bawahnya gugup. Ini adalah pertama kalinya Yuta menjadi model. Sebelum ini, berfoto dengan orang lain kecuali orang tuanya adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh Yuta. Yuta itu sedikit tertutup soalnya. Yuta sebenarnya orang yang menyenangkan kok, tapi karena rasa malunya yang tinggi Yuta jadi seperti ini.

" Nah, seperti itu. Kumohon bertahan sebentar."

Yuta mengangguk lagi, serius ia tidak mau membantah Johnny. Wajah pemuda yang sedang memotretnya itu terlihat menyeramkan menurut Yuta, bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Yuta benar-benar tidak bisa fokus dengan betapa tampannya wajah Johnny, Yuta terlalu takut.

Masih ingat kan? Johnny tiba-tiba jatuh dari atas pohon dan setelah itu menawari Yuta menjadi model? Dan bodohnya sekali Yuta menerima tawaran mendadak itu karena Yuta takut dengan Johnny. Oh, jangan lupakan rasa bersalahnya yang sebenarnya tak berdasar, seperti mengagetkan Johnny hingga membuat pemuda tampan itu terjatuh. Alasan Yuta takut Johnny karena Yuta takut Johnny marah padanya.

" Sempurna."

Johnny menatap hasil jepretan kameranya dengan senyum mengembang. Ia menatap potret diri dari Yuta yang membuat kekagumannya semakin meningkat.

Sungguh, Johnny hanya memberi Yuta kaos putih polos yang memang sedikit lebih besar dari tubuh mungilnya, celana jins selutut dan sepatu kets biru dongker. Dengan sedikit pulasan make up yang menambah tingkat kemanisannya.

Johnny sebenarnya sangsi sendiri dengan pemikiran otaknya, sampai sekarang ia masih berpikir kalau Yuta memang perempuan dilihat dari semua faktor apapun terutama dari fisiknya.

" Johnny hyung."

" Iya. Ada apa?"

" Aku mau ke toilet dulu. Emm, apa boleh?"

Johnny tertawa, sungguh pemuda di depanya ini sangat menggemaskan. Johnny tidak bisa berhenti tersenyum melihat tingkah polah Yuta yang kini menunduk dengan wajah memerah malu. Memangnya ijin ke toilet sebentar salah ya? Pikir Yuta.

" Tidak boleh ya?"

" Kamu lucu sekali sih."

Yuta mengucurkan bibirnya kesal. Yuta itu tidak suka dipanggil lucu, imut dan semacamnya. Jadi maklumi saja kalau ia kesal.

" Boleh kok."

" Sungguh?"

Johnny hanya mengangguk. Ia terus menatap Yuta yang kini pergi meninggalkannya, berbelok kekanan arah toilet berada.

Johnny menghela napas keras, entah kenapa keinginan untuk memeluk tubuh mungil Yuta semakin meningkat. Johnny menggelengkan kepalanya, ia tidak mau pikiran negative seperti Maria Ozawa dan Shora Aoi muncul kembali. Johnny sudah cukup menderita dengan pikiran mesumnya itu. Johnny berjanji akan menahan diri jika di depan Yuta. Johnny tidak mau otak Yuta tercemari olehnya, terutama dengan otak berat dan tabiat buruknya.

Johnny mendudukkan tubuhnya di sofa yang memang tersedia di ruangan itu. Johnny tersenyum, memiliki studio sendiri ternyata tidak buruk. Ia bahkan tidak menyesal telah keluar dari pekerjaan lamanya. Yah, keinginan Johnny memang tidak bisa diganggu gugat seperti sekarang ini misalnya. Lagipua dari awal Johnny memang sudah bisa menghasilkan uang sendiri tanpa perlu bekerja di tempat lain. Seperti sekarang ini misalnya.

" John?"

Johnny menoleh keasal suara. Di depan pintu sana, berdiri pemuda tinggi berbadan tegap, berkuit putih dan jangan lupakan wajahnya yang sangat tampan. Dia Oh Sehun, teman seperjuangan Johnny di tempat kerjanya yang lama. Heran, Sehun sangat tampan tapi kenapa tidak memilih jadi model saja? Kenapa juga Sehun harus jadi photografer? Apa ini karena kebiasaan Sehun yang suka sekali memotret orang-orang manis yang ditemuinya? Sial, Johnny sepertinya harus menjauhkan Yuta dari Sehun setelah ini.

" Kenapa tempatnya jauh sekali sih? Kamu sengaja ya supaya aku jarang datang kemari?"

" Memang."

" Entah kenapa aku ingin menghajarmu." Kata Sehun jujur. Well, semua orang yang melihat Johnny pasti akan berkata seperti itu.

" Dimana model baru yang kamu ceritakan kemarin? Dia sudah pulang?"

" Belum kok."

" Terus?"

" Nanti dia juga kesini. Tapi hyung nanti jangan heboh loh."."

" Maksudmu apaan? Kamu pikir aku anak kecil sampai seheboh itu?"

Johnny tidak menjawab, ia lebih memilih untuk menatap kameranya kembali. Mengabaikan Sehun yang menunjukkan ekspresi datarnya. Sialan sekali Johnny, Sehun itu tamu di sini. Sehun janji, jika model baru yang dibicarakan Johnny kemarin jauh dari ekspektasinya maka ia akan menghajar Johnny sampai babak belur. Benar-benar babak belur.

Mengerjai orang yang lebih dewasa itu illegal kan di korea? Di Negara lain juga. Ya, walaupun jarak umur mereka cuma satu tahun tapi tetap saja Sehun lebih tua dari Johnny. Jadi Sehun berhak menghajar Johnny jika pemuda Chicago itu berbohong. Cukup simple kan alibinya nanti jika ia ditangkap polisi karena membuat Johnny mati? Tapi sepertinya Johnny tidak akan mati hanya dengan pukulan Sehun.

" Johnny hyung. Eh?"

Yuta yang baru datang menatap Sehun dengan bingung. Seingat Yuta tadi tidak ada pemuda lain selain ia dan Johnny di sini. Apa pemuda tinggi dan putih itu teman Johnny? Dilihat dari tampangnya sepertinya iya.

" Anyeonghaseo."

Yuta membungkukkan tubuhnya sesaat guna menyapa Sehun yang masih saja menatap Yuta dengan datar. Tapi perhatikan matanya, disitu terlihat lain. Berbeda sekali dengan wajah datarnya yang terlihat menyebalkan di mata Johnny saat ini. Mata Sehun terihat berbinar.

Johnny agak menyesal juga mengundang Sehun datang kesini jika akhirnya seperti ini juga. Jangan bilang Sehun terpesona? Sialan, Johnny tidak mau punya saingan baru. Cukup Johnny saja tidak dengan yang lain. Karena Yuta hanya miik Johnny seorang. Posesive? Memang dari dasarnya Johnny seperti itu. Sama kamrenya saja Johnny seprotektif itu apaagi dngan Yuta?

" Oh Sehun. Panggil aku hyung. Siapa namamu?"

" Nakamoto Yuta. Salam kenal hyung."

Sehun tersenyum, pemuda di depannya ini sangat ramah dan manis. Berbeda sekali dengan Johnny yang terlihat menyebalkan dan mesum. Sebenarnya Johnny memang menyebalkan. Sehun heran, di mana Johnny bisa menemukan pemuda semanis Yuta? Johnny tidak menculiknya kan? Sehun tidak berniat menghina, salahkan saja wajah Johnny yang terlihat seperti seorang penculik saat ini. Setiap bersama Johnny, entah kenapa Sehun selalu berpikiran aneh cenderung kearah kriminal.

" Dapat dari mana John?"

" Hah?"

Johnny menatap Sehun aneh. Apa maksud Sehun dengan dapat dari mana? Sebenarnya yang dibicarakan Sehun itu apa sih? Sungguh, Johnny gagal paham sekarang.

" Bicara yang jelas dong jangan ambigu begitu." Kata Johnny. Yuta bahkan merespon ucapan Johnny dengan anggukan kepala dan menatap Sehun heran. Johnny saja bingung dengan maksud Sehun apalagi Yuta?

Sehun menghela napas, mendapat dua serangan dari dua orang sekaligus memang merepotkan. Walaupun efeknya berbeda sih. Tatapan Johnny membuat keinginan Sehun ingin menghajarnya semakin meningkat berkai-kali lipat, sedangkan tatapan Yuta membuat Sehun ingin mencubiti pipi pemuda manis itu. Oh tidak, Sehun dilanda kegalauan tidak mendasar sekarang.

" Dia."

Sehun menunjuk hidung Yuta dengan seenaknya, kelakuannya itu mengundang kernyitan aneh di wajah Yuta.

" Kamu dapat dia dari mana?"

" Oh."

" Aku bertanya padamu Chicago, jangan mengelak."

" Memang kenapa?"

" Aku ingin pergi ketempatmu saat menemukan dia. Siapa tahu aku bisa dapat yang lebih lucu lagi dari ini?"

Johnny menatap Sehun datar. Jadi yang Sehun maksud itu Johnny memukan Yuta dimana? Apa Sehun pikir Yuta itu anak kucing yang bisa dipungut sesuka hatinya begitu? Sebenarnya Sehun itu mau mencari orang semacam Yuta atau mencari kucing sih? Terlebih lagi, kenapa gaya bahasa Sehun menjadi aneh begitu? Sehun tidak lapar kan? Biasanya orang lapar kalau bicara akan sangat aneh seperti Sehun saat ini. Apa Johnny harus ke mini toko di depan studionya dan membelikan snick*rs untuk Sehun? Tapi sayang, Johnny sedang malas keluar, lagipula kenapa Johnny harus beli snick*rs? Sehun kan bisa beli sendiri nanti.

Johnny menatap Sehun dan Yuta secara bergantian. Johnny tahu kok, sangat tahu malah. Berhadapan dengan Yuta secara langsung itu memang menimbulkan efek samping seperti yang dialami Sehun saat ini. Bolehkah Johnny menyebutnya Yuta sindrom?

" Taman hyung."

" Bicara yang jelas dong!"

" Aku nemukan Yuta di taman."

Sehun memegang dagunya selagi berpikir. Ia bahkan menghampiri Yuta yang kini tengah meniup poninya bosan. Maklum, Johnny dan Sehun sejak tadi membicarakan suatu hal yang tidak terlalu Yuta mengerti jadi Yuta lebih memilih diam saja.

" Yuta-kun."

" Nde?"

Sehun melirik Johnny sesaat, kemudian mendekatkan wajahnya dengan telinga Yuta.

" Aku ingin bertanya boleh?"

Yuta menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia bingung mau menjawab apa, jadi Yuta lebih memilih mengangguk saja. Alasan yang lain karena Yuta takut dengan tatapan Johnny saat ini. Sangat menusuk, tapi anehnya itu ditujukan pada Sehun bukan untuknya.

" Kalau kamu sudah bosan dengan orang itu bilang saja padaku. Ini nomorku, kamu bisa menghubungiku kapan saja. Mengerti?"

Yuta mengangguk, kemudian menatap kartu nama di tangannya dengan aneh, ia menatap Sehun dengan aneh pula. Jadi sebenarnya, maksud Sehun itu apa? Sehun minta Yuta telpon setiap hari begitu?

" Hyung. Setelah ini tidak usah datang lagi ya."

" Eh? Memang kenapa?"

" Pokoknya tidak usah datang."

" Tidak mau aku kan mau ketemu Yuta."

" Mana bisa begitu? Aku pemilik tempat ini jangan membantah."

" Jangan lupa aku lebih tua darimu jadi jangan lupa bicara yang sopan padaku."

" Anu hyungdeul…"

" Untuk apa aku sopan padamu jika begini jadinya?"

" Anu hyu.."

" Kamu tidak berhak melarangku Chicago."

" Aku pemilik tempat ini."

" Masa bodoh."

" BISA DIEM GAK SIH?"

Kedua pemuda tiang itu menatap Yuta dengan pandangan terkejut. Yuta kenapa berteriak begitu? Apa Yuta tadi marah? Tapi kenapa? Memangnya mereka bedua salah apa sih sampai Yuta harus semurka itu? Yang lebih penting lagi kenapa marahnya lucu sekali sih? Lihat wajahnya yang memerah itu, benar- benar menggemaskan.

GREBB

" Eh?"

" LUCU SEKALI YA TUHAN"

" SIALAN AKU DIABETES MENDADAK."

Johnny memeluk tubuh Yuta dengan erat. Sedangkan Sehun mencubiti pipi Yuta dengan gemas. Yuta tidak bisa melepaskan diri, pelukan Johnny terlalu erat. Apa Yuta pasrah saja diperlakukan seperti anak kecil seperti sekarang ini? Apa Yuta selucu itu sampai kedua pemuda tinggi ini tidak bisa menahan diri? Jadi apa yang harus Yuta lakukan sekarang? Merengek? Tidak mungkin, biarpun Yuta lucu pemuda manis itu tetap punya harga diri. Jadi Yuta memutuskan diam saja sampai kedua pemuda tiang itu lelah sendiri.

TBC

setelah ini aku bener-bener gak bisa update cepet. mulai minggu depan aku udah mulai fokus sama mapel UN. ah matematika -_-

Terimakasih buat Yuta Noona, Yuyu arxlnn, Misharu Rin, Miftah Jannah, MyNameX, Park RinHyun-Uchiha