OSM
Decklaimer :
Member NCT punya Tuhan dan orang tua masing-masing.
Aku cuma orang yang punya cerita ini gak lebih.
Rating : T
Genre : Romance. Fluff.
Pair : TenYu
…
' Tunggu saja hyung. Satu bulan lagi kamu hanya sedaguku.'
.
" Jangan dekat-dekat aku!"
" Memangnya kenapa hyung?"
" Pokoknya jangan dekat-dekat!"
" Kalau ku tidak mau?"
" Terserah kamu saja dasar menyebalkan."
Ten tersenyum senang, Yuta terlihat imut sekali. Ten mengikuti langkah Yuta yang kini berjalan ke luar dorm. Sebenarnya hari ini adalah jadwal Ten dan Yuta membeli persediaan makanan mereka untuk satu minggu kedepan.
Isi kulkas mereka benar-benar terlihat mengenaskan saat mereka berdua mengeceknya tadi. Benar-benar kosong, hanya ada satu botol kaca berwarna hijau menggelikan dengan tulisan JANGAN SENTUH tertera di sana, jika saja tulisan itu tidak mengunakan huruf kapital maka sudah dipastikan akan mereka berdua ambil tadi. Dilihat dari tulisannya sepertinya botol mencurigakan dengan warna menggelikan itu tentu saja milik Johnny Seo . Tidak heran juga sih.
" Kenapa mengikutiku?"
" Aku tidak mengikutimu. Jangan terlalu percaya diri hyung. Nanti kalau jatuh sakit loh."
" Terus kenapa sekarang kamu ada disini? Aku tidak ingin melihatmu."
" Kamu lupa hyung?" Tanya ten.
Yuta menatap Ten heran, apa maksud Ten dengan lupa? Apa Ten sedang mengejek Yuta pikun sekarang? Hey biarpun Yuta lebih tua dari Ten, Yuta tidak sepikun itu kok. Pendengarannya masih berjalan dengan sangat normal. Yuta mendengus, sepertinya Ten benar-benar sedang mengejeknya.
" Sekarang kan jadwalku belanja juga hyung."
' Menyebalkan.' Pikir Yuta sebal.
Yuta melangkahkan kakinya lebih cepat, ia berniat meninggalkan Ten. Kalau Ten hilang kan salah satu dari sekian banyaknya orang yang mengganggunya akan berkurang. Kenapa begitu? Yuta selalu merasa kalau Ten itu orang yang sangat menyebalkan. Pemuda Thailand itu suka sekali menggodanya, mengerjainya dan suka mengikutinya kemanapun Yuta pergi. Sungguh, Ten mengikuti Yuta kemanapun, apa perlu Yuta tekankan sekai lagi?
Pernah waktu itu saat latihan dance tepatnya, Yuta meminta izin sebentar ke toilet untuk buang air kecil. Dan apa yang Ten lakukan? Pemuda Thailand itu mengikuti Yuta bahkan merengek pada Yuta untuk membiarkannya masuk kedalam bilik yang sama dengan Yuta. Tentu saja Yuta menolak, mana mau ia mengumbar asetnya begitu saja di depan orang lain terutama pada orang seperti Ten? Tidak akan, Yuta tidak akan pernah melakukan itu, terlalu memalukan.
Pemuda Thailand itu memang sangat gila, ia bahkan tidak menyerah dan tetep menunggui Yuta tepat di depan pintu bilik toilet yang Yuta masuki. Pemuda Thailand itu bahkan dengan sangat kurang ajarnya menempelkan telinganya di pintu, menguping kegiatan yang Yuta lakukan. Benar sekali, Ten tidak mengintip tapi menguping. Saat Yuta bertanya kenapa Ten melakukan hal memalukan seperti itu, Ten justru menjawab…
" Kamu tahu hyung? Suara buang air kecilmu itu seperti suara air terjun di surga." Dan setelah itu Yuta benar-benar tidak tahan untuk tidak menghajar pemuda yang setahun lebih muda darinya itu. Salahkan Ten yang terlalu kurang ajar.
Yuta menghela napas sesaat, ia sangat bersyukur mengikuti kelas judo saat masih kecil dulu. Kemampuan bela dirinya itu sangat berguna disaat-saat tidak menguntungkan. Yuta bisa menghajar Ten kapanpun pemuda Jepang itu mau.
" Tanganmu bagus sekali hyung."
" Memang."
" Sangat kecil."
" Aku tahu."
" Lentik."
" Jangan dibahas!"
" Cantik seperti tangan perempuan."
Langkah Yuta terhenti, ia menatap Ten dengan pandangan datar, benar-benar datar. Bahkan tatapan Yuta kali ini lebih datar dari tatapan mata Taeyong.
Ten bersiul dalam hati, mungkin ia memang sudah gila sampai menganggap Yuta terlihat seperti malaikat sekarang. Apa malaikat ada yang berekspresi datar seperti Yuta sekarang? Ten berkedip pelan, sepertinya ia sudah gila.
" Pulang sana!" Yuta menghentakkan kakinya dan melangkahkan kakinya memasuki pintu supermarket dan meninggalkan Ten yang saat ini sedang terkekeh kecil.
Ten mengambil ponsel di saku celananya, ia tidak berniat untuk menghidupkan ponselnya. Ia hanya berniat melihat bagaimana pantulan dirinya saat ini di layar datar itu, mengamati wajahnya dan memuji betapa tampannya dirinya.
Ten sangat yakin, hari ini Yuta tidak mau dekat-dekat dengannya karena ia terlihat sangat tampan. Mungkin saja Yuta merasa minder karena pemuda itu punya wajah yang sangat cantik dan manis, tidak tampan seperti dirinya.
Well, benar kata member NCT yang lain. Ten adalah salah satu member dengan tingkat kepercayaan diri ketiga tertinggi setelah Haechan dan Johnny. Mengerikan, tingkat kenarsisannya benar-benar sudah tidak bisa ditoleransi lagi walaupun tidak separah dua orang yang disebutkan barusan.
" Seperti biasa aku terlihat tampan."
Ten menyeringai sesaat, ia melangkahkan kakinya kedalam supermarket untuk menyusul Yuta. Sekaligus menyebarkan pheromonnya kepada pemuda Jepang yang sangat digilainya itu.
' Saatnya menjerat mangsa.' Batin Ten gila.
Ten tertawa saat ia melihat Yuta sedang berdiri di tengah koridor sekarang, mengabaikan pengunjung lain yang menatap pemuda manis itu dengan aneh. Sepertinya Yuta bingung diantara ingin membeli ayam atau daging sapi. Ten bisa berpikir seperti itu karena Yuta memang berdiri di tempat penjualan daging. Ten segera menghampiri Yuta, dan menepuk bahu pemuda Jepang itu pelan.
Yuta terkejut, ia menatap Ten dengan mata membulat lucu. Namun setelah itu Yuta menghela napas lega, dan tersenyum lebar begitu Ten ada disampingnya, ia merasa tenang entah karena apa. Jujur saja, Yuta itu orangnya kikuk jika sudah berurusan dengan bahan makanan apalagi yang mentah seperti yang akan mereka beli sekarang ini.
" Kenapa berhenti hyung? Kita harus belanja ingat?"
" Emm Ten, menurutmu apa yang harus kita beli? Ayam atau sapi? Apa kita beli ayam saja? Kamu kan tidak bisa makan daging sapi. Aku tidak mau kamu makan sayur saja sedangkan yang lain makan daging."
" Hyung sangat mengerti aku ya?"
" Jawab yang benar dasar bodoh!"
" Hahaha baiklah, seperti yang hyung katakan. Sepertinya ayam pilihan yang tepat."
Yuta tersenyum lebar, ia bahkan langsung menuju stand ayam dan meminta paman penjual untuk menimbangnya. Sedangkan Ten? Apa yang Ten lakukan?
Pemuda itu masih berdiri dengan tubuh kaku dan tatapan yang sulit diartikan. Demi celana dalam pink milik Taeil, mendapat serangan berupa healing smile dari orang secantik Yuta itu mempunyai efek samping yang sangat mengerikan. Seperti jantung yang berdetak hingga sepuluh kali lipat, Ten tidak terlalu yakin dengan kecepatan detak jantungnya tapi Ten yakin jantungnya selalu bermasalah saat ia bersama Yuta. Efek samping yang lain adalah, keinginan untuk memiliki dan mencium pemuda manis itu semakin meningkat. Ten tidak percaya, pesona Yuta itu seperti lubang hitam yang menghisapnya terlalu jauh kedalam, dan membuatnya kesulitan untuk keluar dari pesona pemuda manis itu.
" Ten? Kenapa sejak tadi hanya berdiri disini? Kamu tidak membantuku." Kata Yuta dengan bibir mengerucut lucu. Tentu saja Yuta kesal dengan Ten saat ini, pemuda tampan itu sejak tadi melamun hingga tidak menyadari kalau Yuta sudah menyelesaikan belanjaannya seorang diri tanpa bantuan Ten sedikitpun. Bagaimana Ten membantu? Kerjaannya saja cuma melamun.
" Ayo pulang!"
Ten tersenyum dan mengngguk patuh, ia bahkan meraih beberapa kantong belanjaan yang dibawa Yuta. Mencoba terlihat gentle di depan pemuda manis itu.
Yuta tersenyum dengan sikap Ten, pemuda Thailand itu terkadang sangat menyebalkan. Tapi disatu sisi ia sangat menyukai kepedulian Ten yang tinggi seperti sekarang ini.
Yuta tidak tahu saja, Ten melakukan semua ini memang punya tujuan tertentu. Mana mau Ten membantu member yang lain kalau hanya dengan mendapat perhatian Yuta saja Ten sudah cukup?
Mungkin saja kalau system pencernaan manusia bisa bekerja tanpa perlu memakan makanan, mungkin saja Ten akan benar-benar kenyang hanya dengan melihat wajah Yuta. Sungguh, Ten tidak perlu makan, melihat wajah Yuta saja sudah cukup. Tapi membeli bahan makanan bersama Yuta itu tidak salah kan?
" Hyung tadi kenapa menghindariku?"
" Aku tidak menghindarimu kok."
" Terus? Tidak mau didekatku dan mengusirku tadi hyung sebut apa?"
" Sungguh aku tidak menghindarimu Ten."
" Bohong."
" Serius."
" Kalau tidak mau jujur nanti suki aku culik loh. Suki akan aku berikan pada Sooman sajangnim loh."
" J-jangan dong a-aku mohon."
Ten tersenyum lebar, melihat wajah panik Yuta itu terlihat sangat menyegarkan. Yuta terlalu lucu untuk tidak digoda. Apalagi kalau pipi putih itu bersemu merah. Ah, menyenangkan sekali.
Oh tunggu dulu. Apa pemuda Jepang itu sedang beraegyo sekarang? Oh my god, ini serangan kedua dari Yuta setelah senyum mautnya tadi. Ten lupa kalau Yuta itu raja aegyonya NCT. Ten butuh tisu.
" Jawab saja kenapa hyung menghindariku?"
" H-habisnya…"
" Habisnya?"
" K-kamu tiba-tiba jadi t-tinggi begitu sih. Aku kan jadi m-malu jika berdiri di sampingmu."
" AHAHAHAHAHAHAHA YA AMPUN HYUNG KAMU LUCU SEKALI SIH. NANTI AKU CULIK NIH."
" Jangan tertawa!"
Yuta cemberut, ia menghentakkan kakinya dan meninggalkan Ten begitu saja. Yuta kesal, sangat kesal. Entah kenapa ia ingin menendang orang sekarang. Apa Yuta harus menendang Ten? Atau memaksa Ten untuk memberinya susu peninggi badan juga? Yuta kan tidak mau terlihat pendek jika berdiri disamping orang yang dulunya jauh lebih pendek darinya.
TBC
Cocok gak kalau di fic ini cast utamanya si ten? Ten gak terlalu anu kan? :'v
Btw Suki itu udah pernah aku muncuin di cerita originalnya OSM yang chapnya Doyoung.
Aku akan mencoba untuk tetap focus ke main pairnya. Aku tahu disini masih banyak typo, jadi mohon bantuannya ya kakak dan adik :D
Btw makasih buat MyNameX, kira san, JenTababy, CaraTen, Yuyu arxlnn, Kim991, Miftah Jannah, Misharu Rin, Park RinHyun-Uchiha, Yuta noona.
